Rumah Kayu Minimalis Dengan Modern Architecture
Mungkin bila kita mendenga rumah yang terbuat dari kayu. pasti yang terbesit di pikiran anda adalah rumah yang kumuh, kurang menarik dan jauh dari kesan modern. akan tetapi mulai sekarang adna mesti meralat pemikiran anda seperti itu, mengapa demikian? karena sekarang ini sudah ada rumah minimalis yang tidak kalah menarik dan bagusnya denga nrumah minimalis kebanyakannya. rumah minimalis kayu ini akan membuat anda kagum setelah melihatnya. oleh karena itu anda mesti mengenal dahulu rumah minimalis modern yang terbuat dari kayu.
Rumah minimalis yang terbuat dari kayu tersebut adalah Rumah Kayu Minimalis Dengan Modern Architecture. dimana rumah miinimalis tersebut cermin dari Sebuah model yang mengesankan dari arsitektur modern di Manhattan Beach, di barat daya Los Angeles, California. Rumah Kayu Minimalis kontemporer ini merupakan solusi untuk anda yang mempunyai cukup status situs tanah agar hal tersebut dapat merangsang pemikiran anda, rumah minimalis ini mempunyai lingkaran 420 meter yang kecil persegi, sehingga harus diubah menjadi tempat tinggal kontemporer. rumah minimalis yang terbuat dari kayu ini adalah Sebuah desain taman minimalis kecil di tengah rencana lantai, diapit oleh ruang anak-anak di satu sisi dan kamar tidur utama di sisi lain. dan rumah minimalis ini Dirancang oleh Rockefeller yang berasal California studio Arsitek Partners. desain rumah minimalis ini juga menampilkan peracikan dinding putih panas dan perkenalan hutan menandai diri dari rumah-rumah tetangga. Rumah minimalis ini merupakan Kediaman tiga tingkat menangkap posisi Samudra, meningkatkan pesona modern.
menarik bukan? semoga dengan adanya referensi mengenai rumah minimalis kayu tersebut akan semakin memperkaya informasi anda mengenai rumah minimalis. dan pastinya segala sesuatu itu bisa disulap menjadi sesuatu yang baru dan inovatif asalkan kita mau membuka pikiran kita mengenai hal-hal yang baru. atau boelh juga disebut inspirasi, dan tak lupa juga jangan melupakan prinsip rumah minimalis itu sendiri. dan pada akhirnya anda akan merasakan sesuatu yang yang berbeda dari desain rumah minimalis lainnya, karena anda mau tampil beda dengan hal yang menarik. selamat mencoba….
Incoming search terms:
biaya membangun rumah kayu (22);biaya membuat rumah kayu (20);harga rumah kayu kelapa (13);biaya pembuatan rumah kayu (10);harga rumah kayu modern (9);model rumah jepang modern (7);desain rumah kayu murah (6);biaya pembuatan rumah jepang (5);contoh rumah dari kayu kelapa (3);renovasi rumah kayu type 36 (3);biaya buat rumah kayu sederhana (3);contoh rumah kayu minimalis murah (3);Perencanaan pembangunan rumah sederhana modern tipe 90 pagar kayu (3);biaya rumah kayu sederhana (2);perencanaan pembuatan rumah kayu (2);Rumah kayu kecil indah (2);harga rumah kayu minimalis modern (2);desain rumah kayu jepang modern (2);perincian biaya membuat rumah kayu (2);bikin tingkat dari kayu (2);rumah kayu kelapa (2);biaya rumah kayu (2);rincian biaya renovasi rumah (2);jual kayu untuk bangun rumah (2);rumah kayu tingkat modern (2);rumah kayu sederhana dengan budget murah (2);kontruksi rumah kayu sederhana (1);modal pembuatan rumah kayu sederhana (1);lantai kayu pabrikasi (1);membangun rumah dengan kayu kelapa (1);membangun rumah kayu 2 kamar (1);Membangun rumah kayu mungil (1);modal buat rumah kayu sederhana (1);membuat rumah kayu sederhana dan murah (1);Memek istriku sempit banget si eunhyuk oppa yadong (1);model rumah murah dari kayu (1);rumahsimples (1);rumah kayu kelapa murah (1);rumah kayu kelapa harga terjangkau (1);rumah kayu kelapa harga (1);www rumah kayu sederhana (1);Pak Cho@rockefeller edu (1);rincian biaya dalam membangun ruangan 2 x 3 tingkat (1);rab membuat rumah kayu (1);rumah kayu kelapa minimalis (1);Pengrajin rumah kayu modern (1);pelan rumah kayu kecil (1);web kayu minimalis (1);kelebihan kayu rumah minimalis (1);jyp ngentot suzy ahh mmh (1);contoh rumah kayu kecil (1);contoh rumah dengan lantai kayu pabrikasi (1);buat rumah sederhana dari kayu (1);Biaya pembuatan Rumah kayu yang modern (1);biaya pembuatan rumah kayu minimalis modern (1);biaya membuat rumah kayu minimalis modern (1);biaya membuat rumah dari kayu (1);biaya buat rumah kayu sederhana modern (1);biaya banguna rumah kayu (1);biaya bangun rumah kecil tingkat 2013 (1);berapa harga rumah kayu modern (1);berapa budget pembuatan rumah kayu (1);belajar membuat denah rumah kayu (1);bagaimana merenovasi rumah kayu (1);contoh rumah kayu murah sederhana (1);dana buat rumah papan minimalis (1);hyohyuk seks horny yadong (1);harga rumah kayu yg murah kmr tdr 2 (1);harga rumah kayu tingkat 2 (1);harga rumah kayu sederhana (1);harga rumah kayu mungil (1);erenovasi rumah dengan kayu (1);harga rumah kayu kelapa 2013 (1);harga renovasi rumah kayu (1);harga pembuatan rumah jepang (1);harga kayu untuk membuat rumah (1);Harga kayu kelapa 2013 (1);harga bangun rumah kayu (1);ganbatte rumah kayu minimalis (1);design rumah kontemporer minimalis (1);arsitek rumah kayu kelapa (1);Videos

Telantarkan Pasien, Jokowi Ancam Rumah Sakit - Nakal
MA Berencana Bangun Gedung 15 Lantai
(PENDEDAHAN): Tip Kewangan Irfan Khairi, Bangun semula selepas Raya HMM, TV1
Warga Tanah Tinggi Tagih Janji Jokowi Bangun Rumah Deret
Arif, Bangun Jembatan Demi 'Sekolahkan' Anak Bangsa
JEPEN BEHUMA - RS. DAYAKU RAJA (KOTA BANGUN) KALTIM
Gebrakan Jokowi Mendapat Apresiasi Dari Jusuf Kalla Jokowi Akan Bangun Masjid Raya Baru
Tren Bangun Rumah Mini di California Dunia Kita Ep. Desain Ramah Lingkungan
Tokek Mampir ke Amerika Dunia Kita Ep. Rancang Bangun, Arsitektur & ...
Koleksi Seni Rancang Bangun di National Building Museum Dunia Kita #525 Ep. Rancang Bangun, ...
| Nurul Jannah bangun+rumah 's link Berikut adalah antara testimoni2 yang saya share dari biz partner yang akan ditambah dari semasa ke semasa untuk pengetahuan anda di luar sana bagaimana produk ini dapat membantu orang ramai menjauhi dari penyakit pelbagai masalah kesihatan yang biasa2 hinggalah ke peringkat yang agak kronik!!! Ada antara testimoni yg dapat saya dikongsikan di sini diperolehi secara langsung,testimoni pesakit dari rakan2 bisnes yg turut sama terlibat, namun tidak dapat diceritakan kesemuanya...keseronokan kami berkongsi rasa antara pengamal mahupun pesakit yg telah sembuh dgn ALPHA LIPID LIFELINE....melihat mereka gembira kerana bebas dari belenggu penyakit...ALHAMDULILLAH!!! "BEBASKAN DIRI ANDA DAN KELUARGA ANDA DARI DIBELENGGU MASALAH KESIHATAN" >>> STRESS,HAID TIDAK TERATUR,SARAF2 ROSAK Testimoni Dari Miri -testimoni dari Puan M(maaf tak ingat nama) beliau mengalami pelbagai simptom spt stress (sehingga dirujuk kepada pakar psikiatri), haid tidak teraturs, kencing manis, saraf-saraf rosak sehingga sukar berjalan dan tidak boleh tidur dan juga. Beliau disarankan makan pelbagai ubat sehingga 15 biji ubat setiap hari! Alhamdulillah setelah cuba Alpha Lipid beliau kini dah pulih dan sihat! Tak perlu makan ubat yang begitu banyak, Sekarang tidur lena, dan semua penyakit stabil! insyaAllah hujung minggu ini beliau akan ke KL untuk melancong sambil berjumpa anaknya yang belajar di KL. Alhamdulillah! beliau menitiskan air mata ketika memberikan testimoni, memang terharu kerana kini beliau dah jumpa penawarnya! >>> RESDUNG,ENDOMETRIOSIS,AMENORRHEA,KETUMBUHAN & SAKIT PUAN Dr. Aida bt Esa seorang doktor pakar sakit puan (O&G)dari sebuah hospital swasta di Miri menyatakan bahawa beliau menggunakan produk ini untuk mengurangkan masalah resdung dan masalah alergi di kalangan ahli keluarganya dan dirinya sendiri. Alhamdulillah jika sebelum ini setiap hari beliau mudah kena resdung dan kini bebas dari masalah tersebut, begitu juga anak-anaknya. oleh kerana beliau dah yakin dengan produk Alpha Lipid, beliau menyarankan pesakit-pesakit beliau menggunakan produk ini. Ada yang mengalami masalah haid yang tidak teratur, ketumbuhan (cyst), amenorrhea (tiada haid langsung), dan juga kes endometriosis (sakit sewaktu datang haid), semua masalah sakit puan/wanita ini berjaya dikurangkan oleh pemakanan semulajadi Alpha Lipid! Mungkin kolostrum mengandungi growth factor yang membantu menstabilkan hormon dalam badan wanita dan membantu mengembalikan sistem normal peredaran hormon wanita. So wanita-wanita amat disarankan ambil pemakanan semulajadi kolostrum Alpha Lipid ini! >>> TESTIMONI PAKAR KAJI PENYAKIT/SEBAGAI ANTIBODI Dr. Norris Naim, seorang lagi doktor pakar kaji penyakit dari Kuala Lumpur (yg berkunjung ke Miri bersama kami) menyatakan pemakanan spt kolostrum ini membantu tubuh badan kita dari segi membenteng/menghalang datangnya penyakit yang mungkin menyerang tubuh badan kita suatu hari nanti. beliau memberikan satu analogi/metafor sebegini : "Ibarat rumah kediaman kita, perlu ada grill, perlu ada pintu, perlu ada alarm, untuk menghalang pencuri/penjahat memasuki rumah kita, seperti itulah juga pemakanan kolostrum Alpha Lipid ini, ia memagarkan diri kita dari serangan pelbagai penyakit yang mungkin menimpa kita suatu hari nanti." So jika anda mengamalkan Alpha Lipid, insyaAllah tubuh badan anda ibarat dipagari dari segala penyakit yang mungkin melanda anda. Ia bukanlah satu jaminan bahawa penyakit TIDAK akan datang menyerang, tetapi sekurang-kurangnya penyakit sukar menjangkiti kita atau susah lah sikit nak kena sakit, spt juga tiada jaminan bahawa pencuri tidak akan masuk ke rumah kita, tapi at least jika ada gril, pintu dikunci, ada alarm or kamera, sukarlah sikit pencuri nak masuk. >>> DENGUE FEVER “I was diagnosed with dengue fever on August 10, 2001 and my platelet count upon hospitalisation was 86 and dropped to 70 the next morning. I decided to take 1000mg of colostrum 3 times daily. By the morning of the 3rd day the platelet count had risen to 88 and my fever had subsided. The next morning my platelet count showed 124 and I was discharged from the hospital in the afternoon. Upon reaching home I went through the notes on colostrum and found 3 words platelets derived factor? From that day I took 6 colostrum vege capsules 3 times a day and about 4 - 5 litres of drinking water. Three weeks later my platelet count was 228 and I was officially cleared on 28 August 2001. Currently, besides other health supplements, I take 4 colostrum capsules twice a day and at night I take 10 colostrum tablets together with a glass of milk (instead of drinking coffee).” Loh Mun Hong Singapore >>>SAKIT PARU2,DISLEKSIA DLL 5th-March-2010..Adzhar bin Md Isa Said... Lapuran kesihatan dari Dr,... emak .saya 68thn semakin baik dari sakit paru;paru.Anak yg mengalami diseleksia pun sudah ok.Anak kecil 5thn tak berdengkur lagi semasa tidur disebabkan bloking dimana sebelum ini pernah diminta oleh Dr.ENT (sleep apnea) utk buat pembedahan utk besarkan salur pernafasan sudah tak perlu lagi...alhamdulillah.Tiada yg lebih baik dari anugerah ALLAH...Colostrum. Cubalah >>> STROK SURVIVOR 21 November 2007~Pakcik Tabir 75 thn, Meru Klang- diserang Strok Pakcik Tabir telah diserang strok/angin ahmar kerana tekanan darah terlalu tinggi dan juga masalah tahap kolestrol tinggi. Beliau dimasukkan ke wad di hospital Klang. setelah berminggu di sana, doktor mengatakan tiada harapan sembuh kepada beliau. maka terpksalah beliau dikembalikan ke rumah Beliau lumpuh dan hanya boleh berbaring di atas tilam, tidak boleh memakan makanan sendiri, pakai adult diapers, tidak boleh duduk tegak. Isteri beliau Kak Mas, telah mencuba pelbagai cara utk memulihkan keadaan suaminya dan telah membelanjakan beribu ringgit (termasuk makan herba, gamat dll) Jika menurut doktor, tiada harapan sembuh langsung 3 minggu lepas, Puan Zainab (sila telefon dan tanya Puan Zainab 0163174083 Jika anda tak percaya) dari Meru telah mengesyorkan beliau mencuba Alpha Lipid Lifeline untuk membantu memulihkan keadaan Pak Tabir. Alhamdulillah setelah 5 hari mencuba minum Alpha Lipid setiap pagi setiap hari, Pakcik Tabir sudah boleh menggerakkan tangannya, sudah boleh senyum, boleh menggerakkan kaki kanannya (lumpuh sebelah kanan) Sekarang setelah hampir 3 minggu lebih meminum Alpha Lipid Lifeline, beliau sudah boleh bangun dan duduk di atas kerusi, seperti gambar yang kami ambil di atas. AJAIB sekali! Kini pakcik tabir sudah mampu menelan nasi,badan tambah lebih berisi dan beliau sudah boleh bercakap serba sedikit Alhamdulillah dgn izin Allah, bahan semulajadi dan berkhasiat kolostrum Alpha Lipid mampu membantu memulihkan semula saraf2 dan kerosakan sel-sel di otak yang cedera akibat strok. Anda tidak percaya? Wallahua'alam....kita berusaha tanpa putus asa, Hanya Allah s.w.t yang menentukannya >>> ALZHEIMER/LUPA INGATAN April 2010~Temubual oleh biz partner kami En.Wan Hamidi di BP KK,semasa sesi berkongsi pengalaman pengguna, ada seorang tampil ke hadapan menceritakan pengalaman suaminya yang dah berusia dan sering lupa (simptom Alzheimer), beliau menceritakan bahawa setelah suaminnya menggunakan Alpha Lipid Lifeline selama 2 bulan, ingatan suaminya pulih kembali normal. Jika dulu suaminya sukar ingat nama cucu-cucunya, sekarang dah boleh ingat semula. Pada pemahaman saya, ini mungkin kerana dalam produk kolostrum Alpha Lipid Lifeline mengandungi beberapa zat-zat dan komponen utama yang diperlukan oleh sel-sel otak/minda kita. Antaranya ialah GD3/gangliosida, dan fosfolipid. Bayangkan jika kita ambil Alpha Lipid Lifeline setiap hari sebagai supplement kesihatan, insyaAllah kita boleh mencegah kerosakan sel-sel otak kita dan insyaAllah lambatlah kita jadi nyanyuk... >>> LEMAH & TIDAK BOLEH BERJALAN AKIBAT PELBAGAI PENYAKIT KRONIK April 2010~Puan Mellody dr Sabah ditemubual oleh our biz parter Wan Hamidi, beliau membeli 3tin Alpha Lipid Lifeline dari saya. Katanya, asalnya bapa beliau yg lemah dah tak boleh berjalan akibat pelbagai penyakit kronik, apabila mencuba Alpha Lipid selama 2 bulan ,bapa beliau dah boleh berjalan!! Syukur!!. Di samping itu, oleh kerana ayahnya dah lama mengambil ubat, akibat dari itu, kesan sampingan ubat seperti kulit kering dan badan penuh toksik, alhamdulillah setelah minum Alpha Lipid, kulitnya tampak kembali normal, dan more supple dan soft. Dia berkata pada saya, biasanya dia mencuba pelbagai produk yang dijual oleh syarikat jualan langsung,tapi yang ini beliau kata memang "miracle". itu yang beliau kata kepada saya. Saya seperti biasa, be a good listener...tak perlu bercakap banyak...biar pelanggan sendiri yg bercakap... Memang Produk World Class!! ~Wan Hamidi Wan Sulaiman~ Pharmacist/Wellness Consultant >>> MASALAH KULIT SENSITIF Sudah 20 tahun, Puan Suhaila mengalami masalah kulit yang sensitif. Beliau tidak boleh memegang langsung makanan laut apatah lagi untuk memakannya. Namun setelah menggunakan Alpha Lipid, kini beliau telah boleh menikmati masakan makanan laut yang diminatinya iaitu Tomyam. Tiada lagi rasa sedih bila melihat orang lain makan makanan laut. >>> ALERGIK,ASTMA & ALAHAN LAKTOSA Antara anak kecil yg dapat manfaatnya... >>>STROKE wajah bekas seorang pesakit stroke yg pernah menderita sakit dr tahun 1993 lagi... Saya mengalami sakit uraf dari bahagian pinggang ke bawah pada bahagian kiri semenjak 1993.Disebabkan maslaah itu,saya tidak boleh berdiri atau berjalan seperti orang biasa.Saya terpaksa duduk setiap kali melangkah beberapa tapak.Keadaan ini membebankan diri aya dan keluarga. Sudah banyak kaedah perubatan dicuba bagi mengatasi penyakit saya ini dari perubatan moden hinggalah cara kampong.Namun tiada satu pun yang dapat memberikan perubahan. Pada tahun lalu,penyakit yang saya alami menjadi semakin teruk.Badan saya "mati" sebelah kiri sementara mulut pula menjadi herot.Saya tidak sanggup lagi menanggung penderitaan tersebut.Apatah lagi melihat keluarga terpaksa bersusah payah menyediakan segala kelengkapan dan menjaga saya. Melalui pemeriksana di hospital,saya disahkan menghidap penyakit angin ahmar. Saya seperti disambar petir sewaktu mendengar kenyataan yang mengejutkan itu.Mujurlah ada ahli keluarga yang tidak pernah jemu memberikan sokongan kepada saya. Doktor yang merawat tidak mampu memberikan sebarang harapan.Seperti biasa,saya terpaksa bergantung kepada kaedah perubatan kampung.Setiap minggu saya berulang alik dari KL ke Melaka bagi menemui seorang pengamal perubatan tradisionalyang didakwa mampu merawa penyakit angin ahmar.Bagaimanapun,setelah banyak wang dilaburkan untuk menampung kos perubatan dan perjalanan,penyakit saya masih tidak menunjukkan sebarang perubahan positif . Akhirnya pada bulan puasa tahun lepas,saya diperkenalkan dengan ALPHA LIPID dan bercadang untuk mencuba 1 tin.Saya mengambilnya pada waktu bersahur dan sekli lagi sewaktu berbuka puasa. Setelah habis 1 tin ALPHA LIPID,badan sebelah kiri yang sebelum ini lumpuh sudah boleh digerakkan semula.Lebih menggembirakan,badan terasa ringan dan lebih bertenaga.Ketika menyambut hari raya saya sudah boleh memandu semula kereta. Selepas itu saya mula mengamalkan ALPHA LIPID dan menyertai perniagaan ini bagi membantu orang2 lain yang senasib dengan saya.Hasilnya,bukan sahaja sayamendapat tubuh badan yang sihat malah kini mempunyai pendapatan lumayan. Jika tidak menghidapi penyakit tersebut,mungkin saya tidak mengenali ALPHA LIPID dan tidak akan mendapat pendapaan lumayan sebegini.Saya benar2 BERSYUKUR!!! Haji Yusuf Abdul Wahab,70 Kelana Jaya,Selangor (Rujukan SELEKSI 1 MAc 2009) lihat selepas amalkan Alpha lipid..Pakcik Kelana yg semakin hebat berbisnes sambil minum2 aje... p/s:segak bergaya menerima terima cash beribu2 dalam uncang...ROYALTI Ke-3 ! >>> G6PD,KUATKAN ANTIBODI,DEMAM,H1N1 & BATUK TEGAR Anak ibu AYYUB SOLIHIN seorang pengidap G6PD sejak bayi..mudah2an Abg Long kuat antibodi utk pertahanan diri setelah kami berusaha berikan suplement berkualiti tinggi..dan tidak lagi mudah sakit macam sewaktu dahulu!!! Pengalaman diri sendiri juga yang sememangnya dulu2"macam dan asyik batuk tegar" sebelum bertemu produk ini tidak dapat disangkal lagi(bayangkan kalau dah batuk...2 minggu nak baik tu sedia maklum dah...itu pun belum tentu lagik kalau teruk boleh cecah sebulan...dengan ubat kinik dah telan habis..batuk belum pulih..ngantuk aje yg lebih!).Dalam sebulan,2 mesti punya batuk berpanjangan yang tak tahan tuh...segala urat perut mencengkam kalau dah teruk...terbatuk2..bagai nak terkeluar segala isi perut!!! Alhamdulillah memang ketara perubahan yg dirasai dah lebih 7 bulan jadi pengamal susu ALPHA LIPID...sejak jadikan ia amalan breakfast drink...tak sempat batuk nak terjadi...bila sahaja ada tanda nak batuk...iaitu bila tekak mula rasa sakit.... ...memang cepat2 cari shaker...bancuh..shake2 susu...dan minum dulu sebelum batuk terjadi...begitu cepat proses penyembuhannya...demam juga dah lama tak merasa...yg bestnya masalah kurang lawas juga dpt diatasi tak kusangka2....yg ni paling sengsara actually...stressed sgt2!!! Baru2 ini juga kebimbangan bertandang iaitu minggu lepas Abg Long mula punyai tanda batuk2,selesema,sesak nafas,sakit kepala cuma satu tidak demam...takutnya masa itu ramai budak2 di sekolah dah merebak tanda2 penyakit H1N1...apa lagi ibu ikhtiarkan dengan menambahkan skop ALPHA LIPID..satu gelas belah pagi yang biasa ambil sebelum ke sekolah KAFA..AMBIK LAGI SEBELUM KE SEKOLAH PETANG...TAMBAH LAGI satu gelas lagi belah malam sebelum tidur...mujur tidak sempat nak demam....ke klinik pun bawa juga untuk rawatan lanjut....musim2 begini sangat bimbang dan khuatir naluri keibuanku...lagi2 dia pengidap G6PD...sememangnya pertahanan badan dia yang yang amat lemah ibu perhatikan dari kecil(dia mudah terkena batuk atau selesema kalau kurang jaga kebersihan diri lagi la, kalau main2 tak cuci bersih)cuma doktor kata ada sedikit kahak kat paru2....nasib baik takde apa2...Alhamdulillah cuma 1 hari tak sekolah... padahal dapat cuti 2 hari...hari kedua siap nyanyi2 dalam bilik air tu..tanda dah sihatlah untuk kembali ke sekolah!!! Untuk makluman hari ini dah cukup dan masuk tin ke-11(darablah dgn Rm150=Rm1650) dalam masa 7 bulan kami sekeluarga amalkan dan memang seperti menjadi kewajipan kena minum pagi2...kena prihatin sediakan stok utk utk famili supaya jangan terputus bekalan...lebihkan lagi2 di musim wabak H1N1 ini...bahaya takde perlindungan dari dalam...sanggup tolak dulu keperluan yg kurang penting demi ALPHA LIPID LIFELINE....kira esok buka tin baru!!! -11 Ogos 2009- ~Pengamal/Pengedar: Hasira(013-6406625)~ >>>BUASIR/SEMBELIT/MASALAH USUS Cegah ia sebelum parah...langkah pertama adalah elakkan dari sembelit!!! En. Rozaini yang telah lama menderita penyakit buasir berkongsi testimoni beliau setelah mengamalkan Alpha Lipid LifeLine. Beliau menderita penyakit buasir sejak tahun 2003 sehingga tahun 2008 sehingga pada awal tahun 2008 buasir beliau terpaksa dibedah buang. Setelah dari pembedahan tersebut, pendarahan sering keluar dan beliau telah mencuba berbagai cara dan rawatan termasukkan pemakanan kesihatan. Namun setelah isteri beliau mengesyorkan agar beliau mencuba produk Alpha Lipid LifeLine ini, dalam tempoh seminggu pengambilan produk Alpha Lipid LifeLine dengan izin Dia Yang Maha Pengasih, pendarahan tersebut telah berhenti. Kini beliau telah boleh menikmati makanan kegemaran beliau seperti makanan pedas, daging dan lain2 lagi. Semoga perkongsian beliau ini dapat memberi harapan kepada mereka yang senasib dengan beliau untuk kembali sihat, insyallah. p/s:direkomenkan sangat2 dari pengalaman diri terutama untuk anda yang pernah melalui proses melahirkan anak mudah mengalami sembelit diakhir kandungan atau dalam pantang...ALPHA LIPID penyelesaian terbaik kerana kolostrumnya telah terbukti mampu memusnahkan virus, bakteria, kulat dan parasit didalam perut dan usus. Tahukah anda, penyakit yang dihidapi setiap manusia adalah berpunca daripada diri sendiri yakni USUS. Berpunca dari cara pengambilan makanan dan cara memanfaatkan tenaga yang terhasil dari pemakanan itu sendiri. Hampir 80% punca jangkitan adalah bermula dari sistem pencernaan. Jadi,kunci kepada faktor pencegahan untuk kesihatan yang baik seharusnya bermula dari perut dan usus iaitu dengan mengambil kolostrum setiap hari. >>> GOUT/KENCING MANIS beginilah rupa orang sengsara gout...takuttt kan! Rasanya lama betul saya tak update blog nih. Maklumlah sibuk dengan kerja, tapi bisness tetap jalan. hari minggu lepas husband saya datang ke putrajaya ( maklum la kami ni pjj ). Banyk repeat order yang diterima daripada customer di JB. ada cerita menarik yang di bawa oleh suami. Mak mertua saya dan besannya yang menghidap kencing manis memang dah mengamalkan alpha lipid sebelum saya join bisness ni lagi. Ini kisah ipar duai saya yang memang tak nak pandang lah produk kesihatan nih. Biasa lah jangan marah kalau saya kata, mentaliti orang melayu memang begitu ( termasuk la saya di satu ketika dahulu ). Kita ni bila dah sakit barulah nak cari ubat. Istilah mencegah lebih baik dari mengubati tu memang tak ada lah dalam hidup kita nih. Kalau ada pun tak sampai 50%. Nak dijadikan cerita abang kepada adik ipar saya diserang gout sehingga tak boleh bangun. Seminggu jugak lah dia mengalami kebas di badan. mak beliau yang memang mengamalkan alphalipid ni bagi lah beliau cuba minum sebagai usaha nak pulihkan anaknya yang terlantar. Alhamdulillah tak sampai seminggu dengan kuasa Allah beliau kembali sihat dan boleh berjalan. Terus dia call husband and order 2 tin alpha lipid. Supplement yang dulunya nampak mahal seolah seolah sangat murah dibandingkan dengan derita yang terpaksa dihadapi ketika diserang penyakit. So, tepuk dada tanya selera. Keberkesanan produk ini memang telah terbukti. Nantikan testimoni terbaru juga daripada sahabat suami yang menghidap gout dan jiran mak mertua yang lumpuh >>> DARAH TINGGI/TB/GOUT ,BUASIR,KENCING MANIS(BERANGKAI2 PENYAKIT) Sudah menguji tahap tekanan darah anda??? Testimoni ajaib dan kisah pengorbanan seorang isteri terhadap suaminya... Encik Idris dan isterinya Puan Suria yang berasal dari Tg Karang. Setahun yang lepas Encik Idris disahkan mengidap penyakit darah tinggi, kencing manis, gout, buasir dan yang paling teruk ialah penyakit TB. Setiap hari Encik Idris terpaksa menelan lebih kurang 14 biji pil bagi membantu mengurangkan sakit. Keadaan ini menyebabkan beliau sering terlantar sakit, hinggakan terpaksa memakai lampin pakai buang. Malah berat badan beliau dari 115kg telah turun ke 50kg sahaja. Isteri beliau lah yang menguruskan segala-galanya. Duit perubatan sebulan sahaja hampir RM2000 sedangkan hanya isterinya sahaja yang bekerja. Mana nak tanggung 4 orang anak lagi. Memang berat penderitaan keluarga ini.Namun segala-nya mula berubah 7 minggu yang lalu apabila ditemukan dengan Alpha Lipid. Perubahan mendadak selepas 3 hari ialah kaki Encik Idris tidak lagi bengkak setelah beliau cuba makan udang dan sambal ikan bilis. Dalam masa seminggu banyak perubahan mendadak dan yang paling membuatkan beliau bersyukur ialah doktor telah mengesahkan beliau telah bebas dari penyakit TB, alhamdulillah. Isteri beliau juga tanpa malu bercerita bahawa luka buasir suaminya telah kering seolah2 tak pernah kena penyakit ini. Berat badan beliau dari 50kg telah naik ke 66kg.Tanpa ragu-ragu Puan Suria nak beli 3 tin, tapi menyedari ini peluang untuk mengumpul semula pendapatan, beliau sanggup menggadai barang-barang kemasnya untuk terus membeli 30 tin. Bagi beliau, apa guna ada barang kemas tapi hidup susah.Hari pertama beliau telah mampu menjual 15tin dan 4 hari kemudian baki 15 tin telah habis dijual. Sehingga malam tadi sebanyak 62 tin telah beliau jual sendiri. Ramai yang membeli adalah terdiri dari rakan-rakan yang tahu keadaan Encik Idris sebelum ini. Tapi bila melihat sendiri Encik Idris telah pulih sepenuhnya, mereka pun tanpa ragu-ragu terus mencuba Alpha Lipid ini.Begitulah pengorbanan seorang isteri. Kita lelaki tak tahu la sanggup ke tak jaga isteri kita kalau sakit macam tu. Mula-mula Allah uji dengan sakit, kemudian di uji lagi dengan masalah kewangan. Namun berkat kesabaran suami isteri ini, sakit itu telah pulih dan mereka mula menikmati rezeki yang diberi. Syabas Puan Suria dan Encik Idris. Semoga akan terus berjaya dalam bisnes ini.Saya kongsikan ini supaya anda boleh tahu bahawa andainya anda merasakan diri anda susah, tapi ketahuilah di luar sana ada orang yang lebih susah. Tapi mereka bersabar dan bangkit dari kesusahan itu. Semangat beginilah yang patut kita contohi.Tunggu apa lagi....Mulakan langkah anda hari ini. kasih isteri pada sang suami....bolehkah anda??? >>> KANSER PAYUDARA,CERGAS & BERTENAGA En.Samsudin hadir memberi testimoni di BP ALPHA LIPID...dikendalikan oleh our biz partner..En.Khairul! Manakala En Samsudin, seorang pegawai maintenance technician di mana beliau dikehendaki membuat job site 16 kali sehari termasuk bulan puasa. Beliau collapse dan terpaksa membatalkan puasa kerana tidak tahan dengan kepenatan yang dialami. Sejak 3 bulan lepas iaitu semenjak mengambil alpha lipid, beliau bukan sahaja bertenaga semasa menjalankan tugas di job site sebanyak 16 kali malahan boleh berpuasa dan qada puasa yang ditinggalkan dahulu. Beliau juga maklumkan bahawa ibu beliau disahkan menghidap kanser payu dara dan pembedahan membuang sebahagian payu dara telah dijalankan. Walaubagaimanapun masih terdapat saki baki sel kanser dan selepas meminum alpha lipid selama 2 minggu, doktor mengesahkan saki baki kanser telah hilang sepenuhnya. Subhanallah. Bagi yang berada diluar sana, anda tak perlu ragu tentang produk ini. Apa yang anda perlu buat, cuba minum dan jadikan sarapan pagi anda supaya anda dan keluarga kekal sihat dan dijauhi penyakit. p/s:Begitulah kekuatan produk ini dengan ikhtiar yg kita buat bersungguh2....janganlah ada pula yg minum setin mahukan result terbaik...saya menasihatkan anda cuba sekurang2nya 3 tin...namun dgn keizinan DIA jua kita pohon setelah kita berusaha mencari penawar yang terbaik...tapi dari segi fakta khasiatnya tidak dapat disangkal lagi kenapa ia dapat membantu proses pemulihan pelbagai penyakit dari yg biasa hinggalah kepada pesakit kronik telah mendapat manfaatnya...sememangnya badan kita smekain tua semakin mmerlukan nutrisi yg baik.jika yang baik kita sedikan utk keperluan badab alhamdulillah...moga kesihatan berpanjangan!!! p/s;Untuk penerangan detail ttg produk,keahlian sila hubungi saya atau pengedar berdaftar kami!! Best Regards: ~Consultant Al JANNAH Rich Beauty~ |
| Leini Irawan bangun+rumah 's link Terkejut akan suara handphone yang tidak ada putus-putusnya, aku tersentak bangun, saat melihat kearah jam dinding di kamar, astaga!!! Sudah siang! Kuraih handphoneku dan kulihat ada beberapa miss call, oh, my mother call me. Segera ku telpon kembali, terdengar suara mama yang tersengal-sengal, jelas sekali kalau mama sedang emosi. "Ada apa ma? Kok nafasnya sampai begitu?" Terdengar mama mengatakan, "Cepat kesini sekarang juga! Mama sudah tidak tahan lagi tinggal disini, bawa mobil yang besar biar bisa mengangkut semua barang-barang mama, cepat, sekarang juga! Mama tunggu sekarang, jangan nunggu besok, sekarang mama mau beresi barang-barang dulu." Lalu mama menutup telpon. Aku yang baru saja bangun tidur, lola, alias loading lambat, lalu kupejamkan mataku dan memikirkan apa yang harus kulakukan. Pertama, cari mobil besar buat angkut barang-barang mama. Lalu... hey, kenapa dengan mama? Segera mama ku telpon lagi, terdengar nada tersambung, dan.. "Hallo? Bagaimana? Mama bisa dijemput sekarang? Mama sudah tidak diinginkan di rumah ini. Mama sedih, jadi orangtua sudah tidak dihargai anak, habis harga diri mama diusir-usir begini..." suara mama tidak lagi tersengal seperti pertama telpon tadi. Lalu aku bertanya, "Ada apa sih sebenarnya ma? Masa sih mama diusir lagi?" Namun, jawaban mama sungguh tak kusangka, "Tadi pagi kakakmu bertengkar dengan suaminya, mama tidak tahu apa penyebabnya, tapi yang aneh, namamu disebut-sebut, sampai-sampai kakakmu mengatakan akan menamparmu kalau ketemu denganmu, justru seharusnya mama yang tanya kamu, ada apa kamu dengan kakakmu itu? Mama dituduh mengadu domba antara kamu dengan dia, apa mama sudah gila? Disini anak, disana anak, masa mama sebagai orang tua mengadu domba anak sendiri? Mama memang sakit, tapi mama belum gila. Kalung pemberian mama dikembalikan, dan sekarang kakakmu itu minggat dari rumah, apa artinya itu? Kalau bukan mama diusir lagi dari sini, belum juga hilang rasa sakithati waktu dihari kasih sayang mama diusir, kakakmu sengaja melakukan semua ini supaya mama tidak tinggal dengannya lagi, ternyata selama ini dia hanya bersandiwara, dia tidak pernah suka mama tinggal di rumahnya, jangankan mengurusi mama, memperhatikan makan mama saja tidak! Apalagi menggantikan pampers mama, mana dia mau? Mama minta tolong pembantunya saja, mama dimarahi." Kujawab, "Nanti kalau mama tinggal disini, apa mereka yang disana tidak marah atau tersinggung? Mama mau tinggal dirumahku yang sempit?" Tetapi jawaban mama sungguh melegakan, "Tidak jadi masalah, yang penting mama bahagia." Sedih, marah, kecewa, sakithati, semua bercampur aduk saat itu, kenapa ada anak yang tega sama orangtuanya seperti itu, tapi kusadari, kakakku itu juga manusia biasa, yang tidak sempurna. Dan diantara semua rasa itu, terselip rasa bahagia dalam hatiku saat mama mengatakan "yang penting mama bahagia". Itu artinya mama merasa bahagia tinggal denganku, walaupun keadaanku bertolakbelakang dengan keadaan kakakku itu. Terimakasih ma, akupun "bahagia" mama mau tinggal denganku, dengan segala keterbatasanku. Akankah bahagiaku menjadi kecewamu, kakakku? Terimalah semua buah atas perbuatanmu itu. Dan kuucapkan terimakasih pula untukmu, kakakku, jika sikapmu tidak seperti itu, mungkin adikmu ini tidak bisa merasakan "bahagia" menjadi anak yang menemani mama di masa tuanya. Sudah jangan bersandiwara lagi, pura-pura minggat, untuk cari perhatian? Hiduplah dengan koloni anak-anakmu yang kau suruh memusuhiku, aku hanya bisa prihatin atas kekerdilan jiwamu. Kekayaan yang kau miliki saat ini membuatmu lupa bahwa dirimu lahir dari rahim ibu, bukan dari batang pohon! <<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<@@@@>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> |
| Keno Rizandi bangun+rumah 's link Rasanya nyamansekali. Melihatbunga-bunga matahari yang berjejer begitu rapih dan bergoyang mengikuti lambaian angin siang itu. Bunga yang indah dan senantiasa akan melihat kepada sang mentari membuatnya merasakan teriknya siang itu membakar kulitnya. Hari itu hari perpisahan. Bersama menyatakan perasaan. Bersama menangis dalam kepedihan. Bersama bergandengan tangan. Hingga kedua tangan tak mampu untuk saling berjabat, diantara kita memisahkannya. Berlari menjauhi seorang yang diam terpaku pada tempatnya dan melihat dengan lurus punggung kecil dengan rambut merah muda panjang yang bergerak liar. Menghampiri seorang pemuda bersurai merah darah dan memeluknya dengan erat. Pemandangan yang sudah amat lama dalam ingatan yang terbelenggu. Terus berputar bagai video butut yang tak pernah rusak. Hembusan angin yang kencang membuat tersadar. Bahwa mimpi yang sama terus berulang bahkan setelah lima tahun. Lima tahun… . . Kita tidak tahu bagaimana nantinya kita ke depannya. Kita pernah bersama. Kita pernah berpisah. Kita pernah terluka. Kita pernah bersuka. Tapi, Tuhan menginginkan takdir kita begini, maka aku akan… . . U CHAPTER 19 . Kurousa Hime . All characters © Masashi Kishimoto . OOC, rumit, alur lambat, typo(s) no edited, Italic untuk flashback, nama yang diberi BOLD akan menjadi sudut pandang orang tersebut. . SasuSakuGaa . . . Enjoy reading minna! White Flame, ok! . Uchiha Sasuke Lagi. Pagi yang sama akhir-akhir ini selalu terulang. Bunga tidur atau lebih tepatnya kenangan yang terus mendekam selama lima tahun lamanya itu kembali muncul. Bagai suatu nasib yang memaksa untuk diingat. Entah apa yang Tuhan rencanakan, kenapa ingatan yang menyedihkan itu terulang kembali. Lima tahun bukanlah waktu yang lama dan juga bukanlah waktu yang singkat. Menjadi pribadi yang berbeda. Bertumbuh dengan pesat. Perubahan sikap. Cara berpikir yang dewasa. Kupikir selama lima tahun itu pastilah ada yang berubah. Hanya satu yang tidak berubah. Cinta. Perasaan yang kupendam selama lima tahun yang bernama cinta mampu bersanding denganku. Padahal dulu tak pernah terpikirkan akan seperti ini. Kupikir itu hanyalah cerita konyol yang sering difilmkan, ternyata cinta yang terpendam selama lima tahun mampu membuat ku mengakui kehadirannya. Ku buka celah gorden berwarna biru pudar dan seketika sinar matahari menyeruak masuk melalui kaca jendela. Menyipitkan mata hingga kedua mata ini mulai terbiasa akan sinar yang menghangatkan tersebut. Melihat dunia luar dimana Konoha yang lima tahun telah berubah dengan pesat menjadi kota yang sangat sibuk. Selama lima tahun pertumbuhan fisikku terus meningkat. Lebih tinggi disbanding saat-saat labil dahulu. Pikiranpun tak akan sekanak-kanakan seperti dulu. Manusia pasti berubah seperti layaknya aku. Tapi, hanya satu orang yang kupikir tidak akan berubah sama sekali, yaitu sahabat priaku. Pagi ini kembali ku tatap pigura usang―jujur saja saat lima tahun lalu, pigura itu tidak pernah ku keluarkan. Sebuah pigura yang berisi potretanaku bersama dengan gadis ah, mungkin wanita yang aku cintai hingga lima tahun terombang-ambing. Selalu setiap pagi paling tidak akan ku sapa pigura itu. Menggumamkan namanya meski tidak akan pernah ada yang menyahut. "Ohayou, Sakura…" . . . Setelah perjumpaan terakhir dengan Sakura di padang bunga matahari, mereka berdua menghilang dari sekolah. Bukan menghilang karena aneh-aneh, tetapi mereka berdua memang kembali ke asal dimana mereka berada, yaitu Suna. Pertukaran Siswa sudah berakhir saat itu juga maka hubunganku dengan orang yang kucintai otomatis tidak mendapat kemajuan ataupun suatu komunikasi yang berarti. Sebenarnya setelah lulus dari sekolah, mereka mengirimkan sebuah undangan. Undangan yang mampu membuatku goyah dan ingin rasanya terjun dari tempatku berdiri. Kedengarannya memang berlebihan tapi, apa kau tidak merasakan kesedihan bila kau mendapatkan sebuah surat undangan yang menyatakan bahwa orang yang kau cintai akan bertunangan dengan orang selain kau? Ha! Menyakitkan sekali bukan? Kupikir tidak akan ada harapan lagi setelah itu. Kupikir untuk apalagi memendam cinta yang jelas-jelas sudah bertepuk sebelah tangan. Tapi, kenapa Tuhan tidak menghilangkan juga perasaan cinta untukku kepadanya? Kenapa? Apa karena aku tidak bisa melupakannya Tuhan? Apakah aku tidak boleh melupakannya Tuhan? Atau ini kah karma-Mu karena aku pernah mencampakkannya Tuhan? Rasany gila! Aku tidak pernah membayangkan bahwa Sakura dulunya juga seperti ini. Bertepuk sebelah tangan beberapa tahun lamanya bahkan jelas memaksa orang yang ia cintai untuk mencintainya. Tapi, bukankah dahulu Sakura seharusnya lebih bahagia meski cintanya bertepuk sebelah tangan tapi aku selalu berada di dalam jangkauannya? Bagaimana denganku? Sakura selama tiga tahun tidak berada dalam jangkauanku. Memikirkannya saja sudah gila, tapi Tuhan lebih gila lagi untuk menentukan nasibku. Dua tahun terakhir Sakura datang kembali ke Konoha. Pindah sekolah menuju universitas ternama di sini tetapi bersama dengan pasangan hidupnya Sabaku Gaara. Yang mengesalkan adalah Sabaku Gaara adalah tunangan dari Haruno atau Akasuna Sakura. . . . "Hari ini cuacanya sama buruknya ya seperti kemarin?" tegur seorang wanita yang berada dalam ruangan kerjaku yang tak cukup besar. Ku tadahkan wajahku untuk melihat wanita itu. "Hn," "Padahal cuaca pagi tadi ceraaaaah sekali tapi tiba-tiba saja mendung begini. Ah, musim gugur ternyata memang sebentar lagi, bukan?" terus wanita berambut merah darah itu tetap berceloteh dalam ruangan yang sunyi. Aku hanya mengiyakan dalam hati saja tak berminat untuk merespon ucapannya karena aku tahu diapun tidak akan tersinggung jikalau hanya dia saja yang berbicara. Wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerjaku adalah Uzumaki Karin. Kerabat jauh dari sahabat priaku dan juga dia lebih tua dua tahun dariku. Seorang wanita cerdas yang mendapat posisi sebagai tangan kananku yang baru saja memulai kerja di perusahan cabang milik keluarga Uchiha. Setengah tahun lulus dari sekolah membuatku tidak menjadi seorang yang sombong. Belum lagi posisi atau jabatan dan sebagainya yang dengan mudah kudapatkan itu bukan karena suatu kebetulan atau memang telah diatur dalam saja kita harus bekerja dari yang terbawah hingga yang tertinggi. Aku hanyalah kepala dari kelompok bagian perencanaan dan penerimaan dalam perusahaan cabang Uchiha yang kecil ini. Untuk menjadi seorang direktur atau manajer dalam perusahaan sendiri tidaklah mudah. "Hei, Tuan Muda hari ini membosankan sekali," gerutunya masih saja berkoar. "Masih ada beberapa program dalam perusahaan yang harus kita periksa dan…," Karena Karin menggantungkan kalimatnya, kutatap ia dengan pandangan bertanya, "Dan apa?" "Tadi Uchiha-sama meminta kau untuk datang dalam rapat gabungan untuk mendiskusikan perusahaan baru yang akan bergabung bersama kita menanamkan sahamnya." Karin memberikan beberapa lembar kertas yang berisi data profil perusahaan yang ia maksudkan. Cukup terkejut dengan apa yang kubaca siapa yang akan mulai bergabung dengan salah satu bagian dari Uchiha Corp. Sabaku Corp yaitu perusahaan yang baru saja dibangun oleh eksekutif muda yang jenius hanya dalam waktu tiga tahun perusahaannya sudah berkembang pesat. Perusahaan yang bernaung dalam masalah pangan terbesar di Suna ingin bergabung dengan cabang pangan Uchiha Corp? Aku tersenyum sinis. Dia memang jenius dan sangat cepat untuk bertindak. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa kami akan bertemu kembali dalam dunia bisnis. Bersaing kembali. Tapi, sesuatu perasaan buruk melewatiku. Sabaku Gaara, kenapa memanggil namanya rasanya begitu kasihan? . . . "Temeeeeeeeeeeeee~" suara yang berisik itu langsung merusak hariku menjadi lebih buruk sama dengan cuaca terburuk yang berada di luar Konoha. Aku bisa mengira pemilik suara itu siapa. Sahabat sedari kecil yang tidak akan pernah bisa berubah kelakuannya dari zaman bocah mengoek-oek hingga kini berbicara layaknya orang hebat. Uzumaki Naruto si biang kerok hariku dan dia tidak akan pernah bisa lepas dariku. Seperti protozoa. Yaks. Sengaja aku tidak menghiraukannya karena aku tahu dia pasti akan berusaha mendekat ke arahku dengan wajah anehnya. Memajukan bibirnya hingga beberapa senti seperti monyet. Langkah besar yang bergema dalam ruanganku akibat sepatunya itu terdengar menghampiriku. Masih berkutat dengan beberapa dokumen tanpa memedulikan Naruto, kulihat dari bayangan yang timbul dia menggeserkan tubuhnya ke samping. "Hei, aku punya kejutan, Lho, untukmu!" Naruto menyilangkan kedua tangannya di belakang kepalanya. "Lihat dulu!" karena tak sabar dengan responku akhirnya Naruto menggebrak mejaku dengan keras. Mau tak mau akupun memandangnya dengan kesal. Berisap mengeluarkan segala unek-unek karena dia selalu saja datang ke kantorku tanpa tahu bahwa situasinya sedang sibuk. Tapi, hal yang tidak kuduga adalah saat melihat siapa yang berada di belakang Naruto. Seorang wanita dengan kemeja polo berwarna putih dengan garis merah muda memanjang dipadu dengan celana bahan berwarna hitam dan juga sepatu wedges-nya yang berwarna merah dengan pita kecil. Dan yang paling kurindukan dari sosok yang beada di belakang Naruto itu dalah rambut merah mudanya yang dikuncir kuda. Akasuna Sakura, sahabatku sedang berada di dalam ruanganku dengan senyum simpulnya yang sellau manis. "Haloooo, Sasuke!" sapanya riang, rambutnya bergerak sesuai dengan anggukan kepalanya. Matanya menyipit kala senyumnya begitu terkembang dengan lebar. Dengan gugup aku menganggukan kepala dan berusaha untuk tidak terlihat bodoh di depannya tapi aku tahu Naruto diam-diam terkikik geli melihat ekspresi wajahku yang bersemu. Dua, tiga, lima bukan waktu yang singkat. Sakura selalu datang di saat yang tidak tepat dan selalu membawa kejutan. Bukan perasaan senang saat bertemu dengannya melainkan perasaan kehilangan saat melihat senyumnya yang begitu bahagia saat melihatku. Perasaan seperti ini sama seperti dua tahun yang lalu saat Sakura— "Pasti kau membawa kejutan selain itu bukan?" tanyaku pelan namun cukup terdengar oleh keduanya. Cengiran Naruto perlahan lenyap, kemudian digantikan dengan senyuman yang memperlihatkan deretan-deretan giginya yang putih dan rapih. "Sakura-chan akan memberikanmu sesuatu," Naruto kemudian membaringkan tubuhnya di sofa tak jauh dari tempatnya berdiri. Sakura masih tersenyum simpul dan berjalan menuju kursi yang berada di depanku. "Ne, maaf baru menemuimu pada saat seperti ini," "Hn," gumamku pelan. Kucoba untuk tidak memikirkan apa kemungkinan terburuk akan kudengar. Sakura mendorong sebuah surat tebal berwarna merah. Mau tidak mau bayangan surat tebal itu selalu tertangkap oleh pandanganku. Tanpa melihat apa isi surat itupun aku tahu itu apa. "Tolong hadir dalam pernikahanku, ya?" . . . Kupikir, tiga-lima tahun lalu itu tidak akan merubah kita. Ternyata suatu takdir merubahnya. Menamparnya dengan jelas. . . . Naruto menggoreskan jemarinya di lantai marmer yang dingin. Beberapa menit setelah Sakura pergi meninggalkan ruanganku keadaan hening menyelimuti. Cuaca yang mendung semakin membuatku merasa tidak nyaman. Buram. Segalanya menjadi buram. Ini lebih menyakitkan ketimbang aku mendapatkan undangan pertunangannya dibanding dengan undangan pernikahannya. Sakura akan menikah dengan Gaara seminggu dari sekarang. Tsk. "Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Naruto yang ternyata sudah berada di belakang kursi kerjaku. Kedua lengannya ia lipat di atas kepala kursi. Aku diam menerawang pemandangan luar Konoha yang siap akan runtuk mengeluarkan beberapa butiran air. "Tak baik ku kira." Naruto hanya menggumam pelan. Sepertinya dia juga merasakan sedikitnya kesedihan yang menguar dari tubuhku. Beberapa tumpukan dokumen-dokumen yang tingal separuh lagi kuselesaikan kubiarkan saja di atas meja bersama surat undangan merah tersebut. Surat undangan itu tidak akan pernah aku buka. Bahkan menyentuhnyapun aku ragu. Bilang saja aku labil atau apa, mana ada seorang pria yang sangat melankolis sepertiku sekarang ini. Tapi, tahukah bagaimana perasaan seorang pria lebih sangat hancur ketika kehilangan orang yang dicintainya. Aku bisa saja terjun dari gedung. Aku bisa saja menyayat nadiku. Aku bisa saja menabrakan diri. Aku bisa apa saja untuk membuatku bisa mati. Tapi, aku tidak bisa melakukan apapun untuk emnghilangkan rasa cinta ini untuk Sakura. "Bagiku ini seperti déjà vu," ucap Naruto pelan. Tak peduli kesopanan ia duduk di atas meja kerjaku yang tidak dihalangi oleh beberapa kertas. "Dulu saat Sakura akan pergi dari Konoha aku melihatnya begitu tersiksa. Dulu juga aku pernah mengalaminya saat melihat Sakura yang selalu memandangmu dengan cinta. Dulu juga aku pernah sakit saat Hinata tersenyum hanya untukmu. Dulu penuh dengan kesakitan." Naruto menggerakan-gerakan kakinya pelan. Umurnya yang sudah beranjak 23 tahun tetap saja terlihat seperti bocah. Dia mengambil salah satu permen kopi yang berada dalam mangkuk bening di samping penaku. "Kau tahu Sasuke, saat kau sadar kau begitu sangat mencintai seseorang kau akan begitu sakit. Saking sakitnya kau pasti tidak akan mampu utuk melihat siapa lagi. Tapi, percayalah Sasuke ada saatnya kau harus berhenti. Sakura sudah bukan dalam jangkauanmu lagi. Coba untuk melupakannya." Aku menggeleng pelan. Sulit. Hal yang sulit. Terlalu banyak benang kusut yang sangat sulit untuk diluruskan kembali. Begitu pula dnegan perasaanku. Aku bukanlah orang yang dengan mudah ingin melepaskan begitu saja apa yang sangat kuinginkan. "Tidak bisa. Aku tidak bisa!" "Sasuke! Sadarlah sekarang!" Naruto begitu keras menepuk kedua pundakku hingga ku meringis. "Kau sudah begitu banyak menderita. Aku tahu apa yang kau rasakan. Kau sama seperti Sakura dulu. Tapi cobalah Sasuke!" Aku menepis dengan gusar kedua tangannya yang bertengger di bahuku. "Aku tahu tapi aku tidak mau!" ku tatap Naruto dengan pandangan sebal. Naruto mendesah pasrah melihatku yang keras kepala. "Aaaaah~ Sudahlah. Percuma menasihatimu, kawan. Toh, aku akan selalu berada di pihakmu." Suasana yang tadinya sempat mencair kini kembali menjadi lunak kembali. Naruto memang bukanlah orang yang suka dalam ketegangan dan kuakui sahabatku yang paling terbaik memanglah hanyalah dia seorang. "Terima kasih, Dobe," ucapku tulus. . . . Malam harinya di kedai sushi yang tidak terlalu cukup besar di pinggir jalan dan cukup ramai, aku bersama Naruto menumpang makan malam di sana setelah beberapa konflik pemilihan tempat makan. Dimana Naruto pasti akan menarikku menuju kedai Paman Teuchi untuk makan ramen terus tanpa bosan. Sedikit terpaksa mala mini kami berniat untuk mabuk tapi yang ada sake yang kami pesan baru dua teguk saja kami minum tanpa berniat untuk meneguknya kembali. Karena kami terlibat dalam percakapan alot mengenai bisnis kemudian menyerempet pada Sakura. "Aku merasakan firasat buruk kembali," suatu ketika saat aku melahap sushi salmon Naruto membuka mulutnya dan dengan wajah yang serius itu mengorek-korek beberapa telur ikan di atas sushi. "Apa maksudmu?" tanyaku sembari mengernyitkan alis. Sejak dulu firasat Naruto selalalu terbukti benar. Tidak pernah tidak meleset biasanya kalau Naruto merasakan sebuah firasat dia akan melakukan tindakan aneh yang biasanya jarang dia lakukan. "Sebenarnya aku bertemu dengan Sakura bukan karena kebetulan," ia memakan sushi yang tersisa satu di dalam cawan kecil itu. "aku datang menemuinya tiba-tiba tanpa tahu apa alasanku menemuinya. Seharian itu aku bersama dengan Sakura." "Mungkin hanya firasat kecil saja. Mungkin kau hanya iri karena Sakura akan menikah sedang kau belum." Naruto memberengutkan bibirnya. "Tapi, serius, lho, Teme! Waktu aku mengantar Sakura ke bandara menuju Suna beberapa tahun lalu aku pun merasakan hal serupa. Aku menemani Sakura sarapan bahkan bangun pagi, lho!" "Kau terlalu berlebihan," kelitku. "Hah, dasar kau ini. Tapi, kuharap memang begitu. Semoga saja Sakura-chan tidak apa-apa, ya." Ya, semoga dia tidak apa-apa. Semoga Sakura selalu bahagia walau tidak denganku. . . . Kalau Tuhan memang baik, maka takdir kita pasti tidak kusut . . . Hari ini cuaca masih sama. Kemungkinan bahkan lebih buruk dari tiga hari yang lalu. Kali ini angin sudah begitu besar dan sangat menusuk siapa saja yang bersiap untuk keluar rumah. Bahkan dalam suasana kantorpun, angin masih ada dalam ruangan rapat yang cukup besar itu. Bosan. Tentu bosan. Sasuke sebenarnya ingin sekali menguap lebar-lebar tapi jelas tidak akan pernah ada Uchiha berperilaku seperti itu. Terdengarnya buruk saja, tapi memang karena Uchiha memiliki etika yang sangat tinggi di mata masyarakat. Sasuke kini sedang duduk bosan. Rasanya omongan-omongan orangtua yang hanya berbicara masalah peningkatan saham di luar dan masalah kontrak baru dengan Sabaku Corp., Sasuke sebenarnya dari tadi juga melihat gerak-gerik Sabaku Gaara yang sekarang. Pembawaannya tenang bagai air jernih. Matanya awas melihat siapa saja yang berbicara kepadanya. Gaara hanya ditemani oleh wanita yang lebih tua dua tahun darinya yang diketahui adalah kakak perempuannya. Sedang Sasuke berada di sisi ayahnya mendnegarkan dari jarak ujung bertemu dengan ujung. Sasuke hanya akan berkomentar seadanya, toh manifestasi yang bisa didapatkan jika melakukan kontrak dengan Gaara cukup menggiurkan. Jadi tidak perlu berbasa-basi lagi bukan? Akhirnya rapat aneh yang membuang tenaga dan waktu itu berakhir setelah tiga setengah jam lamanya. Sasuke sengaja keluar paling terakhir karena dia merasakan gerak-gerik mata Gaara yang memintanya untuk menunggu di luar. Rasanya Sasuke seperti seorang gay saja, entah karena apa. "Apa kau punya waktu untuk makan siang denganku?" Tanya Gaara seusai dia berada di luar dan berjalan paling belakang bersama Sasuke. "Memang bukan lagi jam makan siang." Sasuke memutar otak. Dia sedang bosan dan butuh beberapa asupan kafein maka dia hanya memberikan jawaban anggukan saja dan Gaara hanya menurut mengikuti Sasuke yang berjalan keluar gedung menuju salah sebuah café kecil di samping perkantoran. Setelah memesan beberapa kopi hitam keduanya masih saling diam. Menatap ada apa gerangan dan apa yang akan dibicarakan. Posisi keduanya sama-sama tidak relaks sama sekali. "Sejak dulu kau memang tidak berubah, ya, Sasuke?" akhirnya Gaara membuka suaranya kemudian ia melonggarkan dasi merah darahnya dan bersandar pada kursi yang empuk. "Hn." Tanggapnya pelan. Tak lama pesanan keduanya datang. Pada seruputan pertama kopi hitam itu Sasuke melihat Gaara dengan aneh. Rasanya Gaara seperti pudar. Atau memang pandangannya saja yang memudar? Ah, nampaknya ia kelelahan ya? "Sebenarnya aku tidak tahu mau membicarakan apa denganmu." Kekeh Gaara, pemuda itu memang terkekeh tapi wajahnya tetap datar tapi tentu saja berbeda dengan saat di ruangan rapat tadi datarnya. Sasuke mengerutkan keningnya gusar. Jadi percuma aku bertemu dengannya? Tsk, malas sekali, gerutu Sasuke. "Kalau boleh tahu, aku pernah dengar kalian membuat janji saat masih kecil," Sasuke mengerutkan alisnya semakin dalam. Apa sih yang diomongkannya? Gerutunya sebal. "Janji di padang rumput matahari itu." Oh, Sasuke akhirnya paham. Ternyata Gaara penasaran hanya karena itu. Itu sudah lama sekali. "Untuk apa kau tahu?" "Tidak, tidak, aku hanya penasaran saja. Sakura selalu menyukai tempat itu bahkan setelah kami pindah ke Suna. Dia tidak menceritakan apapun selain tempat itu adalah tempat bersejarah untuk persahabatan kalian bertiga." Menimbang sebentar akhirnya Sasuke membuka suaranya untuk bercerita mengenai asal muasal Padang Matahari yang Naruto temukan. Memang aneh sekali kalau Sasuke yang bercerita seperti pasangan gay saja mereka ini. Berbicara saling bertatap, tapi Gaara sama sekali tidak risih bahkan senyuman mengejek tidak ada dalam ekspresinya yang ada Sasukelah yang merasa risih dan cukup aneh mengingat dia bisa sedikit akrab dengan Gaara. "Janji yang kami ucapkan itu…, — Aku berjanji bahwa aku akan menyayangi Sakura selamanya. Bersama dalam suka dan duka. Kita akan bersama hingga kematian menjemput kita. Itu adalah sepenggal janji antara aku, Sakura, dan Naruto. Mungkin memang ada beberapa kata yang aneh atau mengganjal tapi seingatku seperti itu." Sasuke tersenyum kecil mengingat dulu betapa polosnya mereka. Di tengah padang bunga matahari yang luas, ketiganya saling memeluk bahu masing-masing kemudian tertawa lepas sembari berjumpalitan di udara. Benar-benar sebuah kenangan manis yang tidak akan pernah terlupakan bahkan saat umur menginjak 23 tahun untuk ketiganya. Gaara terdiam. Memandang dasar cangkir yang menghitam sisa kopi hitamnya kemudian mata yang hamper seerupa dengan Sakura itu memangdang kedua iris oniks yang menawan milik Sasuke dengan lembut. Entah karena apa. "Sasuke maukah kau berjanji padaku juga?" Tanya Gaara dengan suara yang lirih. Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Maskudmu?" tak mengerti, Sasuke memicing pada Gaara. Tiba-tiba Gaara bangkit dari duduknya. Menaruh selembar ribuan di atas meja tanpa memedulikan ekspresi wajah Sasuke yang tidak biasa dia lihat. Berbalik dengan cepat namun langkahnya terhenti ketika Sasuke memanggilnya. "Apa maksudmu Sabaku Gaara?" ulang Sasuke dengan tajam. Dia masih penasaran rupanya. Gaara menolehkan kepalanya ke samping sehingga yang terlihat hanyalah sudut bibirnya yang terangkat ke atas, "Berjanjilah kepadaku sama seperti kau membuat janji dengan Sakura. Aku ingin kau menjaganya." Sasuke diam terpaku berusaha mencerna setiap inci kata dari Gaara. Melihat punggung Gaara yang sudah menjauh keluar dari café, Sasuke semakin tidak paham dengan jalan pikiran pria yang akan menikah dengan Sakura itu. Ada apa sebenarnya? Kenapa Gaara meminta Sasuke untuk menjaga Sakura? Perasaan tidak enak apakah ini yang menyelimutinya? . . . Sabaku Gaara baru saja tiba di kediamannya pada menjelang malam. Apartemen yang sudah di tempatinya selama tiga tahun itu amat sepi saat dia berada di genkan. Tidak ada suara televise yang biasanya terdengar hingga genkan, Gaara mengernyit heran. Apa malam ini tunangannya tidak datang ke mari? Melangkahkan kaki dengan pelan, saat ia tengah berada di ruang televise untuk menaruh tas kantornya, Gaara mendengar suara mixer dari arah dapur. Tersenyum simpul ia melangkahkan kakinya menuju dapur. Bersandar pada bingkai pintu penghubung antara dapur dan ruang televise, Gaara dapat melihat tunangannya itu tengah serius dengan pekerjaannya. Tangan kirinya mengangkat buku tipis yang terpampang dengan jelas gambar cake dan tangannya sibuk memegang mixer. Sungguh hanya dengan melihat postur tunangannya ini saja perasaan bahagianya sudah menyeruak hingga menyempitkan hatinya. Teramat bahagia dengan keadaan yang sudah dijalaninya selama ini namun sebuah keraguan menyergapnya akhir-akhir ini terutama setelah Sakura meminta ia untuk menikah lebih cepat. Memang mereka berdua akan menikah kalau kontrak kerja sama Sabaku Corp. sudah berhasil untuk sebulan ke depan barulah mereka akan melangsungkan pernikahan tapi rencananya dirubah besar oleh tunangannya itu. Tunangannya ingin segera menikah, alasannya belum diketahui karena dia akan memberitahukannya setelah pernikahan mereka selesai. Jelas Gaara penasaran maka dari itu dia akan mengabulkan permintaan tunangannya itu. Tersenyum simpul dengan langkah pelan-pelan bermaksud untuk mengangetkan tunangannya itu. Kedua lengan yang kekar memeluk pinggang tunangannya. Gadis atau wanita itu bukan main terkejutnya. Gaara membenamkan wajahnya di bahu mungil Akasuna Sakura itu. Menyesap aroma pakaian dan parfum yang menyatu, Sakura hanya terkekeh pelan. Tangannya perlahan mengelus helaian merah darah Gaara dengan lembut. "Okaeri," ucapnya pelan. Gaara hanya mengangguk menyebabkan bahunya tertusuk oleh dagu lancip tunangannya itu. "Sakura…," Sakura menjawabnya dengan gumaman masih menyukai untuk melakukan usapan lembut di rambut Gaara. "Aku pernah bilang kan, aku akan melakukan apapun yang kau inginkan, karena apapun yang kau inginkan adalah keinginanku juga. Apa kau benar akan menikah denganku?" Gaara melepaskan pelukannya pada Sakura dan memandang Sakura dengan lurus. Tatapannya menyiratkan keraguan namun kepercayaan diri tetap ada di sana. Sakura menaruh telapak tangannya di pipi kiri Gaara. "Aku benar-benar ingin menikah denganmu. Menjalani kehidupan yang bahagia bersamamu tidak dengan yang lain. Hanya kau, Gaara-kun." Ujarnya tegas. "Tapi… jika nanti ada suatu saat dimana aku tidak bisa berada di sisimu, menemanimu, dan aku tidak bisa… membahagiakanmu maka aku rela untuk melepaskanmu," Kedua mata Sakura membeliak, mulutnya terbuka, "Gaara-kun…," "Asal kau bahagia Sakura, aku pun bahagia. Sungguh. Kebahagiaanmu adalah hal yang kupentingkan saat ini. Sebelum kita menikah, aku ingin kau menetapkan hatimu hanya untukku. Aku ingin yang terbaik untukmu." Gaara mengelus punggung tangan Sakura yang masih bertengger di pipinya. Menutup kedua matanya dan meresapkan bagaimana kehangatan yang Sakura salurkan untuknya. "Aku sangat mencintaimu." Sakura memeluk Gaara erat tiba-tiba. Menenggelamkan badannya yang lebih kecil pada tubuh besar Gaara. Menyesap segala kehangatan dan keharuman dari orang terkasihnya. "Aku juga sangat mencintaimu." Lirih begitu lirih Sakura menjawabnya. Entah kenapa air matanya turun tiba-tiba. Gaara sendiri tidak tahu mengapa dia sangat ingin memeluk Sakura dengan erat. Berharap dengan memeluknya seerat mungkin Sakura tidak akan lepas darinya. Bahkan dengan situasi apapun. Entah kenapa Gaara merasa dia akan kehilangan Sakura. Entah kenapa… ada perasaan bahwa dia tidak bisa mendapatkan Sakura. . . . Pagi menjelang datang kembali. Dengan cuaca yang tidak akan bosannya sama seperti sebelum-sebelumnya. Sepertinya kondisi cuaca Konoha seminggu penuh tidak akan pernah tersinari matahari. Selalu saja mendung. Menghitam bagai sebuah lubang besar di langit. Malas itu yang pria tampan dan kharismatik itu rasakan pagi ini. Pikirannya langsung tertuju pada tanggal hari ini yang membuat moodnya sangat jelek sekali . Dia tidak menyalahkan apapun sebenarnya hanya saja yang dia rasakan itu adalah bahwa besok hari dimana teman sejak kecilnya itu akan melakukan ikrar sehidup semati dengan orang selain dirinya—mengingat saat masih kecil mereka berdua sering melakukan permainan seperti itu tapi kali ini bukanlah suatu permainan. Sekali hentak, Sasuke langsung mengguyur tubuhnya dengan air yang dingin. Dihiraukannya rasa dingin yang cepat menjalar di sekujur tubuhnya. Sasuke hanya tidak ingin menelan kenyataan yang sangat pahit tersebut. Seusai mandi dengan hanya mengandalkan celana pendek dan badan yang toples, Sasuke menuju dapurnya. Mengambil sebotol air mineral ukuran besar dan menegaknya sembari berjalan menuju ruang televise. Tangannya memencet tombol merah pada remote dan tampilan breaking news langsung menggema dalam apartemen yang cukup luas dan di tempatinya sendiri. Sasuke melihat seorang pembawa berita yang ia kenalnya itu adalah salah seorang sahabat kakaknya saat masa kuliah. Rambut biru tuanya ia sanggul ke belakang, sangat cantik. Ia membawakan berita dengan sangat serius meski begitu wajah cantiknya tetap saja terlihat. "Dalam kecelakaan mobil ini didapatkan hasil satu orang tewas, dan dua orang lagi dalam kondisi kritis. Diketahui bahwa yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas ini adalah anak bungsu dari Grup Sabaku, yaitu Sabaku Gaara," ucap Konan dengan latar belakang sebuah mobil sedan hitam yang rusak parah tak jauh dari mobil sedan hitam tersebut terdapat mobil berwarna merah metalik yang hanya cacat di bagian depannya. Sasuke tersedak minumannya sendiri kala mendengar nama Sabaku Gaara. Matanya membeliak tak percaya. Dengan segera diperbesar volume suara televisinya, dia sunggu tidak menyangka bahwa pendengarannya menjadi buruk akhir-akhir ini. "Dalam kecelakaan ini dua orang korban lainnya yang dilarikan ke Rumah Sakit di sekitar pinggiran Konoha adalah Akasuna Sakura usia 23 tahun dan Hayate Gekko 29 tahun. Akasuna Sakura adalah salah seorang korban yang bersama Sabaku Gaara yang mobilnya ditabrak hingga terpental oleh Hayate Gekko. Sabaku Gaara tewas di tempat, saat ditemukan ia tengah melindungi yang diketahui oleh public Akasuna Sakura ini adalah tunangannya." Tanpa babibu lagi, Sasuke melesat menuju kamarnya. Memakai pakaiannya entah apa itu tanpa memedulikan televise yang masih menyala ia melesat keluar dari apartemennya menuju ke mana Sakura dirawat. Ini buruk. Sangat buruk. Sabaku Gaara telah meninggalkan dunia ini tanpa Sakura. Di satu hari sebelum menjelang pernikahan mereka esok hari. Sungguh begitukah Tuhan mempermainkan takdir Sakura? Astaga Sakura… Bagaimana dengan keadaan Sakura? Sasuke sungguh berharap tidak akan terjadi apapun dengan Sakura. Tidak boleh terjadi hal yang lebih buruk dari kematian Gaara. Dia belum siap menerima kemungkinan terburuk. Dia tidak akan rela jika Sakura tidak lagi menampakan keberadaannya dalam dunia yang sama dengannya. "Sakura… Sakura semoga kau baik-baik saja. Gaara, tolong jangan bawa Sakura pergi dariku." . . . Sasuke hampir gila. Selama dua jam terjebak dalam kemacetan karena jauhnya pinggiran kota Konoha dan perbatasan desa. Belum lagi dengan bodohnya Sasuke tidak menanyakan dimana letak pastinya Rumah Sakit dimana korban kecelakaan dirawat. Akhirnya tiga jam Sasuke harus berputar mencari lokasi Rumah Sakit karena di sana ada tiga Rumah Sakit yang dekat di sana. Dan entah kenapa hari itu Sasuke sangat bodoh tidak memanfaatkan fasilitas teknologi yang ia punya. Total dari hasil pencariannya adalah enam jam, yaitu sampai hari sudah menjelang pukul 3 sore Sasuke bisa menemukan Rumah Sakit dimana Sakura dirawat intensif. Segera saja Sasuke melesat menuju ruang rawat Sakura lagipula Sakura juga baru saja keluar dari ruang gawat darurat karena mengalami patah tulang pada kedua kakinya dan bahunya. Melihat Sakura yang lebam di sana-sini membuat Sasuke tersayat hatinya. Begitu gampangnya Sakura terluka padahal beberapa hari lalu ia melihat Sakura dengan kondisi terbaiknya. Padahal kemarin Gaara baru saja mengobrol dengannya tapi kini Gaara sudah harus hilang dari bumi ini. Menyatu dengan abu-abu yang lainnya dalam tanah. Seorang perawat masuk ke dalam ruang rawat Sakura, dia akan memeriksa infuse yang tadinya diloloskan menajdi perdetik satuannya. "Anda kerabat pasien?" tanyanya pelan melihat Sasuke yang begitu serius memandnagi Sakura. Sebenarnya perawat itu sangat tertarik dengan ketampanan Sasuke namun menjadi iba melihat ekspresi kesedihan yang terpampang dengan jelas. Sasuke hanya mengangguk. Sang perawat menaruh medical recordnya di dada. "Nona Sakura mengalami patah tulang di kaki dan dislokasi bahu. Menurut saksi mata tubuhnya dilindungi oleh Tuan Gaara yang tewas di tempat karena terhimpit badan mobil sehingga gagal napas. Dan bayi—" "Bayi?!" nada tinggi Sasuke membuat pasien itu tersentak. Mata oniks yang setajam elang itu emngintimidasi sang perawat. "Be-benar, Nona Sakura dikabarkan tengah mengandung tiga minggu maka tadi saat berada di ruang gawat darurat bayinya meninggal dan akhirnya terjadi pendarahan cukup hebat. Maka dari itu kondisi Nona Sakura masih dalam keadaan koma." Sasuke tidak begitu lagi mendengar dengan jelas apa-apa saja yang diucapkan perawat tersebut. Bahkan Gaara masih melindungi Sakura hingga ajalnya menjemput dan apakah Gaara tahu Sakura tengah hamil? Dan bagaimana saat Sakura tersadar bahwa Gaara dan bayinya tidak ada di sisinya lagi? . . . Sakura tetap tidak sadar sejak peristiwa naas tersebut. Bahkan salah satu korban yaitu Hayate Gekko sudah sadar dan segera ditindak lanjuti dengan masalah kecelakaan yang menewaskan Gaara tersebut. Sehari setelah kecelakaan itu, keluarga Sabaku segera melangsungkan upacara pemakaman. Sasuke menghadiri upacara itu bersama dengan Naruto yang sama terpukulnya dengan kepergian Gaara. Karena Sakura belum kunjung sadar, Sakura tidak bisa melihat Gaara untuk terakhir kalinya. Perasaan bersalah dan kesedihan masih menyelimuti Sasuke. Tidak akan pernah bisa hilang. Kondisi Sakura memang sudah membaik luka-luka kecilnya hanya saja untuk rehabilitasi patah tulang dan dislokasinya belum bsia dilakukan karena Sakura dalam keadaan tidak sadar. Sasuke tidak dapat membayangkan bagaimana nantinya Sakura saat dia tersadar orang yang sangat dicintainya tidak ada lagi. Kalau bisa, Sasuke ingin sekali menggantikan penderitaan Sakura. Bukannya sok pahlawan atau apa tapi siapapun pasti menginginkan orang yang dicintai bahagia selamanya meski tidak dengan dirinya. Pastilah kehilangan Gaara akan berakibat sangat fatal pada kondisi Sakura. Selama tiga hari ini Sasuke tidak datang ke kantornya. Keluarganyapun tahu mengenai kondisi Sakura. Sakura sengaja dipindahkan ke Rumah Sakit utama agar mendapat perawatan yang lebih baik dan memang agar Sasuke tidak capek untuk datang menjaga terus menerus. Dua kali Naruto datang untuk menemani Sasuke pula. Kakak Sakura juga menemani Sasuke untuk menjaga Sakura. Teman-teman lama Sakura yang memang sangat dekat dengan Sakura datang salah satunya Kyuubi. Wanita yang tidak lagi tinggal di Jepang itu segera terbang untuk emlihat kondisi Sakura dan menghadiri pemakaman Gaara. Kyuubi menjerit menahan pilu mungkin sebagai pengganti Sakura. Sebenarnya kondisi Sasuke juga tidak bisa dikatakan baik karena ia begitu mengkhawatirkan Sakura. Setiap saat Sasuke tidak pernah lepas untuk menggenggam tangan Sakura yang dingin. Keluarga Akasuna pun begitu terpukul dengan kondisi putri angkat mereka. Entah kenapa Sasuke tidak sabar untuk menunggu Sakura membuka matanya. Sasuke dengan sabar menanti dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak meninggalkan Sakura dan lebih mencintainya apapun Sakura tanggapi nanti. "Aku mencintaimu." Bisik Sasuke sembari mengecup punggung tangan Sakura yang pucat itu. Berharap dengan mantra-mantra ajaib itu Sakura dapat membuka matanya kembali dan membalas segala kesungguhan hati yang dimiliki Sasuke. . . . Menjelang hari ke empat, Sasuke baru saja keluar untuk membeli kopi di kantin Rumah Sakit ketika dirasa pergerakan tangan Sakura ada. Kelopak mata yang perlahan membuka itu mengerjap beberapa kali. Sasuke dengan perasaan haru segera memanggil perawat dan dokter yang baru saja melintasi kamar rawat Sakura. Dia sungguh bahagia akhirnya Sakura telah sadar kembali. . . . "Dimana Gaara-kun?" tubuh-tubuh yang berada dalam ruangan rawat itu menegang seketika. Keluarga Akasuna yang berada di ruangan itu segera mengganti topic lain. Begitu ketara dengan jelas sekali mereka membunyikan seuatu dari Sakura. Sasuke yang berada di sudut ruangan mengepalkan tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memucat. "Dimana Gaara-kun, Okaa-san?" lagi pertanyaan itu berulang kali ini ibu angkat Sakuralah yang dituju. Gelagapan sosok wanita yang sudah ahmpir mendekati angka lima puluh itu mengeratkan pelukannya pada suaminya. Tidak tahu harus menjawab apa karena sanga kakak yang biasanya selalu Sakura andalakan masih dalam perjalanan. Kedua orang tua Sakura tidak bisa menahan berita pahit kalau-kalau mereka akan menyampaikannya. Akhirnya Sasuke maju mendekati ranjang Sakura. Mengelus kepalanya dengan lembut dan tersenyum, "Gaara baik-baik saja." Dengan ucapan Sasuke itu Sakura percaya saja. Maka ia bungkam untuk bertanya kembali. Kedua orangtua Sakura menatap Sasuked engan pandangan heran dan Sasuke hanya membuang wajahnya pelan tidak ingin berkomentar apapun kembali mengenai ucapannya. Setelah Akasuna Sasori datang dan sedikit berbasa-basi dengan Sakura dan keluarganya, Sasori segera menarik keluar Sasuke. Menyenderkan tubuhnya pada dinding Rumah Sakit yang bercat putih, Sasori memandang Sasuke dengan tajam. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya dengan nada datar. "Apanya?" Sasuke tak mengerti untuk apa ia dikeluarkan dari kamar rawat Sakura. Menghela nafas dan kedua mata sewarna musim gugur itu menatap sinis Sasuke, "Kau tahu bukan kenyataan itu tidak bisa kau sembunyikan terus. Sakura lambat-lambat akan tahu dengan kondisi Gaara yang sekarang. Lebih baik kita memberitahunya dengan segera." "Tapi, aku tidak ingin Sakura tersiksa!" "Bagaimanapun pada akhirnya dia akan tersiksa Sasuke!" Sasori meremas bahu Sasuke gusar. "Kau tidak bisa hanya memandang dari posisimu saja." Dan Sasuke hanya menggeletukkan giginya dengan kesal. Sakit dan pedih. . . . Sakura kini sendirian dalm ruangannya. Kedua orangtuanya sedang kembali ke apartemen Sakura membawakan beberapa barang yang Sakura inginkan untuk tinggal bersamanya selama perawatan. Sedang kakaknya masih harus menemui Itachi untuk makan malam bersama beberapa calon investor. Dan sisanya Sasuke katanya ingin berjalan-jalan sejenak. Sakura mengelus perutnya yang rata. Dia ingat di dalam perutnya terdapat nyawa kecil. Ah, Sakura jadi tidak sabar ingin bertemu dengan Gaara, tapi sudah setengah harian dia menunggu Gaara tak kunjung datang menemuinya. Sebegitu sibuknyakah calon suaminya itu? Perawat datang untuk melakukan pengecekan kembali tekanan darah Sakura dan akan melepaskan perban di bahu Sakura yang dislokasi sudah tidak nyeri kembali dan menggantinya dengan kain elastis. "Sepertinya bahuku mendadak sakit saat dibeginikan," Sakura memcoba menggerakan bahunya ke arah dorsofleksi tapi seperti ada tahanan. "Bisakah obatku diganti untuk ibu hamil?" Sang perawat cukup terkejut ketika Sakura meminta obatnya diganti dengan obat yang aman bagi ibu hamil. "Maksud anda? Anda tidak sedang hamil sekarang nona." Sakura terkejut bukan main. "Apa maksudnya? Aku memiliki bayi!" Sakura tetap mengotot. "Anda keguguran nona. Pendarahan hebat karena kecelakaan tersebut yang menyebabkan anda keguguran. Apakah nona tidak tahu hal ini?" Tanya si perawat dengan wajah bingung. "Tidak… Tidak! Aku masih memiliki bayi!" bentak Sakura pada perawat tersebut. Si perawat mulai gelagapan karena Sakura membentaknya. "Tapi, dokter yang menangani anda yang berkata itu seperti saya. Anda sudah tidak hamil lagi." Tiba-tiba saja Sakura menjerit histeris. Perawat yang tak bisa mengendalikan Sakura hanya bisa meminta pertolongan siapa saja yang lewat. Kebutulan Sasuke sudaha kembali dari jalan-jalannya dan terkejut mendapati Sakura tengah menjambak-jambakan rambutnya dengan brutal dan berteriak seperti orang kesetanan. "Ada apa ini?" Tanya Sasuke sama paniknya. Perawat itu bernafas lega mendapati Sasuke ada bersamanya. "Tolong tenangkan nona Sakura dahulu, aku akan memanggil dokter. Jangan sampai ia melukai lukanya sendiri." Segera perawat tersebut meninggalkan mereka. Panik dan cemas Sasuke tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi namun dengan cepat ia mengerti. Sakura meneriakan bayinya berarti tadi perawat tersebut sudah memberitahukan satu dari dua kenyataan yang tidak ingin Sakura ketahui. Melepaskan kedua lengan Sakura yang masih menjambak rambut merah mudanya, Sasuke terus menenangkan Sakura namun nihil hasilnya tidak ada dan perawat yang memanggil dokter terasa begitu lama Sasuke rasakan. "Sakura! Sakura tenanglah, hei!" panggil Sasuke dengan nada yang lebih tinggi. "Tidaaaak! Bayikuuuu! Gaara-kuuuuun!" jeritnya. "Sakura! Tenanglah!" tak tahan dengan apa yang Sakura alami, Sasuke manarik paksa wajah Sakura agar melihat tepat menuju matanya. "Kau tahu Sakura, aku tidak bisa lagi emnyembunyikan ini. Benar bayimu sudah tidak ada!" sakura menitikan air matanya deras. Tidak ada lagi jeritan namun yang tergantikan isakan yang keras. "Dan satu lagi Sakura! Dengar baik-baik! Gaara sudah tiada!" Mata Sakura membelalak lebar. "TIDAAAAAAAAAAAAAK! GAARA! GAARAAAAAA!" Sakura semakin berteriak histeris diselingi dengan derasnya air mata. Teriakan kepiluan menusuk sanubari Sasuke. Dengan upaya memeluk Sakura, Sasuke harap Sakura tidak akan menjerit kembali tapi yang ada Sakura memberontak dalam pelukan tersebut. Memukul-mukul punggung Sasuke dengan keras tidak tahu betapa sakitnya pukulan Sakura pada Sasuke tapi tidak akan pernah sebanding dengan sakitnya perasaan Sakura yang telah kehilangan dua orang yang dicintainya. "TIDAAAAAAAAAK GAARAAAAAAAAAAAA!" Tetesan air mata tak luput jatuh juga dari pelupuk mata Sasuke. Menahan sakit karena pukulan dan perasaan Sakura membuatnya kebas. Sasuke tetap berbisik di telinga Sakura. Memnaggil namanya dengan lembut dan sabar hingga teriakan Sakura cukup mereda. "LEPASKAN AKU SASUKE! AKU INGIN GAARA DAN BAYIKU!" Sasuke menggeleng pelan, "Tidak Sakura. Mereka sudah tidak ada." "SIALAAAAAAAN! MEREKA ADA! KALIAN PENIPU! GAARA DAN BAYIKU MASIH HIDUP! AKU INGIN GAARAAAAAAAA!" "SAKURA! SAKURA! SAKURA!" Bersamaan terus Sakura dan Sasuke mengucapkan hal tersebut tidak bosannya. Geram dan sakit diterima Sasuke dengan lapang. Dia mengerti betul kondisi Sakura sedang dalam bawahnya. "Sakura! Masih ada aku di sini! Cobalah untuk melihatku! Aaku mencintaimu! Sangat, sangat, sangat!" Sakura semakin berontak. "Kalau kau begitu mencintai gaara, lihatlah aku sebagainya! Lihatlah aku sebagai pengganti Gaara! Aku rela asalkan aku berada di sisimu!" Dan jeritan kepiluan tetap terdengar. Kepedihan dan kesedihan. Jeritan kepiluan. Tangisan. Selamanya… Sasuke akan melakukan apapun. Meski harus merubah dirinya menjadi seperti Gaara asalkan Sakura mau untuk melihat dan tersenyum kembali kepadanya. Apapun, apapun akan kulakukan untukmu, Sakura… . . . To be continue |
| Keno Rizandi bangun+rumah 's link Gadis berambut merah muda itu segera mendorong tubuh yang lebih besar darinya―tubuh seorang pemuda yang sedang terisak sembari memeluknya―dengan kasar. Melihat wajah terluka pemuda tersebut dan sedikit pantulan jejak air mata membuat gadis berambut merah muda itu serba salah. Raut wajah yang terluka, bingung, dan kesal sulit sekali ia ekspresikan di sana. Membuang wajahnya sedikit merunduk, gadis itu bergumam, "Meskipun ingatan ini kembali…," gadis itu menghentikan sejenak, "tak lantas maka akupun akan kembali padamu. Itu… tidak akan, Sasuke-kun." Dan segera gadis itu pergi meninggalkan tempatnya. Meninggalkan pemuda yang dulu pernah dicintai gadis itu diam terpaku di tempatnya. Wajah kekecewaan jelas tampak di wajah sempurnanya. Menggigit bibir bawahnya dan berdecak, "Kuso!" dengan lirihnya. Tak disangka seorang pemuda lain yang menyaksikan dua orang yang tak begitu jauh dari tempatnya berdiri, memandang gadis berambut merah muda yang sedang berlari memunggunginya dengan pandangan terluka dan penuh kesedihan seakan memang punggung gadisnya itu akan menjauhinya. Sabaku Gaara merasa ia sudah tidak bisa berbuat lebih. . . . MU CHAPTER 18 . Kurrousa Hime . All characters © Masashi Kishimoto . OOC, School theme, rumit, alur lambat, typo(s) no edited, Italic untuk flashback, nama yang diberi BOLD akan menjadi sudut pandang orang tersebut. . SasuSakuGaa, HinaNaruFemKyuu . . . Enjoy reading minna! White Flame, ok! . "Kuharap… Ini adalah kisah kita, bukan kisah aku dan dia di masa lalu…" . . . Setelah festivl sekolah selesai, dua minggu menuju ujian adalah hari-hari neraka bagi sebagian besar murid-murid Konoha Gakuen. Mungkin tradisi yang sudah lama adanya ini harus diganti jadwalnya tahun depan yaitu menjadi bersusah-susah dahulu lantas bersenang-senang kemudian, bukannya bersenang-senang dahulu baru bersusah-susah kemudian. Ujian semester ganjil adalah ujian yang paling terasa sulit dikarenakan bila lolos ujian tanpa ada nilai merah satupun maka kau akan terbebas dari sekolah musim panas. Lagipula musim panas adalah musim liburan yang paling menyenangkan dan sangat ditunggu-tunggu. Terutama bagi kelas yang memenangkan lomba dalam festival kemarin tidak diperbolehkan ada satupun murid di kelasnya mendapatkan kelas musim panas bila ingin berlibur bersama. Belum lagi bagi sebagian murid pertukaran pelajar yang ada di Konoha Gakuen, ini adalah ujian penentuan bagaimana kulaitas belajar-mengajar di sekolah seelit Konoha Gakuen dan juga akan menjadi perpisahan bagi murid pertukaran pelajar. Waktu 3 bulan bagaikan cepat untuk bersekolah di Konoha ini bagi Sakura dan bagi Gaara tentu sangat lambat mengingat ia adalah pertukaran pelajar yang sibuk mengurus keperluan ini-itu dan juga karena rivalnya berada dalam satu sekolah dengannya. Omong-omong tentang kedua murid pertukaran pelajar itu sedikit ada yang aneh dengan keduanya. Semenjak festival berakhir Sabaku Gaara seperti berusaha untuk menjauh dari kekasihnya sendiri Akasuna Sakura. Sakura sendiri tidak mengerti dengan keadaan kekasihnya yang aneh itu belakangan ini, walau berada dalam satu atap Gaara kerap kali berusaha menghindarinya. Tak tahan dengan kelakuan aneh kekasihnya ini, Sakura berniat membicarakannya. Maka diam-diam dia memasuki kamar kekasihnya yang sedang mandi. Dengan harapan masuk diam-diam seperti ini, Sakura yakin Gaara mau berbicara dengannya. Saat Gaara memasuki kamarnya setelah selesai mandi, dia terlonjak kaget mendapati Sakura yang sedang duduk di atas kasurnya dengan melipat kedua kakinya dan kepalanya ditumpu oleh kedua lututnya. "Kau mengagetkanku saja," desah Gaara setelah pacu jantungnya kembali normal. "Ada apa?" tanyanya selembut mungkin walau terdengar pada indra Sakura sebagai suara yang dingin. "Kenapa kau menghindariku?" Tanya balik Sakura dengan suara bergetar. Gaara diam mematung. Tak bisa menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan Sakura. Dilangkahkan kakinya menuju kasurnya dan duduk di samping kekasihnya. Menyenderkan rambut-rambut merahnya yang masih basah pada bahu kecil Sakura. "Rambutmu masih basah, Gaara-kun," Sakura segera mengambil handuk kecil yang berada di tangan Gaara dan menggosokannya pada rambut Gaara. Dengan patuh Gaara hanya bisa diam ketika rambutnyya dikeringkan oleh Sakura. Gaara tersenyum miris, "Aku tidak menghindarimu," ujarnya pelan. "Aku hanya belum siap." Sakura menaikan alisnya bingung. "Apanya yang belum siap?" "Sakura…," panggil Gaara, Sakura menjawabnya dengan gumaman. "Ingatanmu sudah kembali bukan?" Seketika gesekan handuk dengan rambut merah darah Gaara terhenti tiba-tiba. Gaara paham dengan keterjutan Sakura. Hatinya kembali sakit tiba-tiba. Dipejamkan matanya kuat-kuat karena mulai terasa pedas. "A-apa yang kau bicarakan Gaara-kun?" Tanya Sakura dengan suara yang bergetar. Sungguh Gaara benci mendengar suara Sakura yang seperti ini. "Sudahlah Sakura," Gaara menepis tangan Sakura yang hendak melanjutkan kembali menghanduki Gaara. Gaara hendak bangkit dari kasur namun segera Sakura meraih lengannya degan kuat. "Kau bilang akan mempertahankanku bukan?" Sakura cukup berteriak saat mengatakan itu. Wajahnya sudah berkaca-kaca menatap Gaara. "Kau bilang tidak masalah jika ingatan ini kembali bahkan harus mensyukurinya! Tapi kenapa kau―" "Karena aku takut ditinggalkan olehmu!" sela Gaara sembari mendorong tubuh Sakura hingga terjatuh di kasurnya. Gaara menjepit Sakura dengan posisi kedua tangannya sebagai tumpuan di kedua belah sisi. "Walau bibirku berkata seperti itu tapi hatiku berkata lain!" wajah Gaara yang dilihat oleh Sakura seperti orang kesakitan. Sakura yakin, selama ini Gaara sangat merasa sesak saat menjadi kekasihnya. Benar. Ingatan Sakura sudah kembali sejak mendengar dentingan piano Sasuke. Segala kenangan yang ingin dilupakannya kembali begitu saja tanpa kendali. Dia juga mengingat betul bagaimana dia menganggap Gaara sebagai sosok Sasuke di dalamnya. Gaara yang menemaninya dalam keadaan hilang ingatan begitu tulus dan lembut memperlakukannya. Sungguh tidak ada suatu kebohongan dan keterpaksaan dalam diri Gaara dalam menjadi peran kekasih Sakura. Justru Sakuralah yang merasa tersiksa. Membawa Gaara dalam ingatan palsunya dan kepura-puraan. Bahkan hingga ia sungguh jatuh cinta kepada sosok Gaara yang selalu menemaninya. Tidak lagi dengan sosok Sasuke yang sudah lama ia cintai. Sosok Gaara begitu berbeda dengan Sasuke walaupun sedikit memiliki kesamaan. Tetapi, jelas Gaara berbeda dengan Sasuke. Gaara adalah orang yang sakura cintai kini. "Maaf…," Sakura mengelus pipi kiri Gaara dengan lembut. Menghapus air mata yang baru turun dari sebelah matanya. Air mata yang sama-sama mengalir pada Sakura dan Gaara. "Aku tidak pernah bermaksud untuk memanfaatkanmu, Gaara-kun." Lirih Sakura. "Dimanfaatkanpun tak apa…," gumam Gaara. "sebab akupun mencintaimu." Sakura merasakan hatinya berdebar kencang. Wajahnya sudah memanas dan air matanya meleleh langsung. Bahagia. Rasanya begitu bahagia mendengar perasaan kita bersambut. Tidak lagi bertepuk sebelah tangan. Tidak akan ada lagi kesakitan dalam mencintai seseorang. "Aku juga… mencintaimu," isak Sakura. Gaara terkejut mendegarnya. "meskipun awalnya aku melihatmu sebagai Sasuke… Tapi, entah sejak kapan sosoknya sudah tergantikan olehmu. Aku mencintaimu bukan sebagai Sasuke tetapi sebagai Sabaku Gaara." Dengan segera Gaara memeluk sakura yang berada di bawahnya. Memeluknya dengan sangat erat bahkan kalau bisa Sakura akan dipeluknya terus-menerus. "Aku juga mencintaimu," keduanya terisak pelan. Entah jalan apa yang sudah dilewati oleh keduanya. Yang jelas kini perasaan mereka telah bersambut meski mungkin ada keraguan dalam hati pada salah satunya namun asalkan yakin mereka berdua pasti akan bersama selamanya. Walau awalnya menyakitkan bagi keduanya yang saling berpura-pura dalam mencintai maka kepura-puraan itu akan membuahkan suatu hasil. Hasil yang adil bagi keduanya. . . . "Jika kau tak mencintaiku, pura-puralah mencintaiku. Sampai…, ―Sampai kau lupa jika kau sedang berpura-pura." . . . Tiga hari setelah ujian selesai, nilai-nilai peringkat segera diumumkan di papan tulis besar yang berada di lantai sesuai dengan angkatan masing-masing. Itu adalah pemberitahuan peringkat yang masuk dalam 50 besar dari seluruh total murid-murid dalam angkatan tersebut. Tak disangka ada beberapa hal yang menggemparkan Konoha Gakuen pagi ini. Uzumaki Naruto yang dengan santainya datang ke ruang kelas melihat keributan di koridor sekolah lantai dua penasaran. Dengan berdesak-desakan akhirnya dia bisa melihat apa yang sedang diributkan di depan papan pengumuman tersebut. Peringkat kedua tahun ini ternyata diraih oleh dua orang. Bukan hal yang biasa memang namun nama yang ada di kertas putih tebal itulah yang mengagetkan. Uchiha Sasuke turun dari peringkat pertama tahun kemarin menjadi peringkat kedua bersama dengan si murid pertukaran pelajar. Tak disangka memang ternyata murid pertukaran pelajar mampu meraih peringkat tinggi di luar kurikulum sekolah asal mereka. Peringkat kedua ditandai oleh Uchiha Sasuke dan Sabaku Gaara. Diikuti dengan beberapa nama urutan ketiga yang Naruto kenal betul memang sudah pintar sejak dahulu, yaitu Akasuna Sakura dan peringkat satunya cukup miris hanya berbeda satu angka saja dari Sasuke dan Gaara adalah Nara Shikamaru. Naruto jelas bangga mendapati nama teman-temannya berada dalam peringkat atas. Dia turut senang meskipun mungkin dia tidak berguna sama sekali untuk membantu temannya yang pintar itu. Lain lagi dengan Hyuuga HInata yang biasanya lolos dalam sepuuh besar kini turun menjadi peringkat 16. Dia sudah menelan ludah kuat-kuat, sepertinya akan mendapat ceramah panjang dari sang ayah karena peringkatnya turun. Mari kita lihat bagaimana dengan peringkat Naruto? Dia tidak perlu mencari-cari susah payah namanya karena pastilah dia berada dalam peringkat 20 paling akhir. Tapi, dicari-cari namanyapun tak ada. Jangan-jangan― "Namamu ada di peringkat 52 Naruto-kun!" jerit Hinata tak bisa menahan luapan senang. Orang-orang yang melihat pengumuman lantas melihat pada Hinata yang diketahui oleh satu angkatan mereka sebagai putri malu dan kini dia menjerit kegirangan? Naruto yang namanya dipanggil malu. Belum lagi beberapa anak laki-laki yang sering bermain dengan Naruto meledekknya karena kali ini dia masuk dalam peringkat atas tidak lagi di bawah. Ini sebuh keajaiban karena Naruto belajar keras untuk ujian ini bersama Gaara―karena Gaara masih sering datang mengunjungi homestay di rumah Naruto dan belajar bersama untuk akhir semester ini. Sebelum beranjak dari papan pengumuman yang kian padat, sebuah tangan mungil nan halus menahan pergelangan tangan tan Naruto. Melihat siapa yang menahannya membuat Naruto menahan nafasnya. Hyuuga Hinata dengan wajah bersemu kemarahan dan sorot mata yang tegas meminta Naruto untuk mengikutinya. . . . Bila menyukai seseorang kejarlah hingga tidak ada lagi jarak diantara kalian . . . Liburan musim panas tinggal menunggu hari. Kelas yang ramai membuat Uchiha Sasuke tidak malas untuk beranjak pergi dari kursinya dan juga terlalu malas berada di dalam kelas yang bising. Diliriknya bangku Shikamaru, dia pasti sudah mengungsi, decih Sasuke sebal. Diliriknya lagi bangku Naruto sahabatnya yang berisik itu, bangkunya kosong dan Sasuke memang belum bertemu dengannya pagi ini. Kemana dia? Penasaran Sasuke keluar kelas. Niatnya ingin berjalan-jalan mencari tempat tidak bising sekaligus mencari Naruto. Namun percakapan seseorang di dekat tangga utara membuatnya menghentikan langkahnya. Dia kenal betul suara siapa ini karena suara yang ini selalu menemaninya dalam jangka waktu yang cukup panjang. Dilihatnya gadis berambut merah muda tengah bersender pada bahu seorang pemuda berambut merah darah. Geram. Tentu saja geram. Melihat gadis yang disukai tengah bersama orang yang kau benci. Mengepalkan tangan mencoba untuk tidak tersulut emosi semudah itu. Dan Sasuke jujur saja tidak berniat menguping pembicaraan mereka hanya saja karena pensaran karena kedua orang itu berbicara sembari berbisik. "Aku belum menjelaskan pada Kyuu," ucap Sakura dengan suara manja tapi terdengar lirih. "Aku takut dia tidak akan menerimaku." Sungguh Sasuke tidak tahu mereka dalam posisi seperti apa dan bagaimana. Kalau si panda itu menyentuh Sakura dia akan langsung menghajarnya secepat kilat. Omong-omong apa yang dimaksud Sakura barusan? "Tentang ingatanmu… yang sudah kembali? Tenang sa―" "Ingatanmu sudah kembali?!" Tanya Sasuke seketika dengan suara datar dan dalam. Sebenarnya dia ingin melakukannya dengan menjerit namun itu kelihatan bukan dirinya sekali dan akhirnya yang keluar dari mulutnya hanya suara datar dan muka datar yang tampan. "Kau―Kau menguping?" tuding Sakura geram. Dia langsung terbangun dari posisi duduknya. "Aku tidak menguping." tegasnya lagi. "Aku hanya ingin tahu kebenarannya! Beri tahu aku Sakura kalau memang ingatanmu telah kembali!" Gaara menengahi keduanya yang tampak saling adu melotot. "Jaga mulutmu Sasuke. Ini tidak ada hubungannya sama sekali denganmu. Pergi!" Sasuke mencengkram kerah seragam Gaara hingga wajah keduanya saling berdekatan. "Tidak ada hubungannya katamu?! Tentu saja ada aku adalah orang yang dicin―" "Hentikan!" Sakura memukul lengan Sasuke dan Sasuke segera meepas cengkramannya pada Gaara. "Benar apa kata Gaara-kun, Sasuke! Semuanya sudah tidak ada hubungannya lagi denganmu!" Sasuke menggemeletukkan giginya kasar. Ditariknya Sakura hingga mendekat padanya lalu mencium bibirnya dengan kasar. Sungguh Sakura tida menyangka akan dicium oleh Sasuke dengan cara kasar pula, kalut lalu didorongnya tubuh Sasuke paksa. Memandang Sasuke dengan penuh kebencian dari hijau pohon miliknya. Gaara saking terkejutnya tidak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Begitu cepat dan menusuk melihat orang yang kau sukai dicium tepat di depan matamu. Segera Gaara melayangkan sebuah pukulan namun Sasuke begitu cepat dapat menghindari dari pukulan Gaara. "Aku tidak akan membiarkanmu melupakanku lagi Sakura! Kau mencintaiku bukan?" sorot mata Sasuke begitu tajam seperti mengebor kedua mata Sakura hingga ke dasar hatinya. Dan Sakura begitu kalut mendapati kenyataan yang baru dirasakannya. Begitu melihat Sasuke rasa yang dulu kini bangkit namun di sisi lain dia ingin berada dalam dekapan hangat Gaara. Mengapa kini bercabang Sakura? . . . "Ada apa Hinata?" Tanya Naruto bingung mendapati dirinya bersama Hinata berada di dalam sebuah taman yang sepi dalam lingkungan sekolah. Jujur Naruto sangat gugup karena dia hanya berduaan saja dengan Hinata. Hinata masih malu-malu tidak berani untuk menengok dimana Naruto tengah menatap punggungnya. Padahal ia sendiri yang emminta Naruto untuk emngikutinya masuk ke dalam taman sekolah ini tapi kenapa dia menjadi takut sekali untuk memulainya? "Be-begini…," Hinata meremas jari jemarinya hingga memutih. "Kalau berbicara tatap mata lawanmu Hinata!" Naruto membalikan tubuh Hinata untuk menghadapnya. Wajah Hinata telah bersemu kemerahan. Dilihatnya dagu lancip milik Naruto. Kemudian naik hingga menemukan bibirnya yang seksi sedikit terbuka dan hidung mancungnya oke sekali dan terakhir bola mata yang menghanyutkan seperti melihat awan yang berarak. Belum sampai dua menit Hinata sudah jatuh pingsan. "Lho?! HINATA?! HEEEEIIIII?!" Dan Naruto pun ditinggal pingsan oleh Hinata. . . . Sasuke termenung di dalam pekarangan rumahnya yang asri dipenuhi bibit bunga-bunga yang mulai bermekaran penuh. Tatapannya sama sekali tidak tertuju pada tanaman-tanaman kesayangan Ibunya itu. Pandangan kosong yang tengah memikirkan seorang gadis. Baru kali ini Sasuke memikirkan Sakura sedemikian dalamnya. Padahal dahulu saat masih kecil Sasuke tidak perlu takut untuk merasa Sakura akan meninggalkannya tapi dulu dan sekarang itu lain lagi ceritanya. Dulu dia memang belum merasakan getaran di dadanya pada Sakura tapi kini getaran hebat dirasakannya belum lagi seorang rival yang berat datang menyainginya. Suatu saat harus ada yang rela melepaskan Sakura untuk bisa berbahagia. Jelas prinsip Sasuke sejak masih kecil hingga sekarang tidak pernah goyah. Apa yang sudah ditentukan olehnya maka dia harus mendapatkannya, meskipun itu hal yang mustahil sekalipun. Tapi, perasaan seseorang bukanlah suatu hal yang mustahil bukan? Dia bisa saja membuat Sakura jatuh cinta kembali padanya tapi hambatan yang ada sekarang adalah, perasaan Sakura yang bercabang. Tidak lagi seperti Sakura yang selalu menuju Sasuke satu arah. Kini Sakura harus benar-benar memilih. Siapapun pantas mendapatkan yang terbaik dan Sasuke menganggap bahwa dirinyalah yang terbaik untuk berada di sisi Sakura. Dia hanya perlu mendepak Gaara pergi dan Sakura akan tinggal bersamanya di Konoha tapi, bagaimana kalau Sakura memilih Gaara? Dia tidak akan di Konoha lagi dan Sasuke tidak tahan jika tidak melihat Sakura. Dia sungguh tidak mau melepaskan Sakura. "Apa yang kau pikirkan?" sebuah suara berat mengagetkan Uchiha bungsu ini. Belum lagi wajah kakaknya yang keriput penuh senyum itu tepat di wajahnya dengan menyeramkan. "Kau mengagetkanku saja!" desis Sasuke sebal. Dieluskannya pelan dadanya yang berdebar kencang akibat terkejut. "Aku tidak berpikir apa-apa!" "Ah~ Kau berbohong padaku, Sasuke!" Itachi―seorang kakak yang tampan rupawan dan begitu sayang adik mencubit gemas kedua pipi Sasuke. "Tsk! Lepaskan!" ronta Sasuke. Mikoto yang melihat keakraban kedua anaknya di sore hari hanya terkekeh melihat tingkah lucu mereka. Padahal keduanya sudah lagi bukan dikategorikan sebagai anak keecil namun sedang menjadi remaja tanggung. Itachi mau tak mau melepaskan cubitannya dan duduk di samping kanan Sasuke. "Apa yang kau pikirkan itu mengenai percintaan?" Sasuke mengelus pipinya yang memerah karena sakit dicubit oleh Itachi. "Huh, sok tahu!" Itachi terkekeh geli, "Ceritakan saja masalahmu ototou, siapa tahu aku punya solusinya bukan?" Ragu. Sasuke menatap kakaknya ragu. Seperti ada udang dibalik batu, tingkah baik Itachi ini kurang meyakinkannya untuk sekedar curhat. Tapi karena sudah dipaksa oleh senyuman maut Itachi, mau tak mau Sasuke akhirnya curhat juga. Sekian lama mendengar kasus curhatan Sasuke, Itachi baru menemukan solusinya dengan berbagai gaya norak yang membuat Sasuke ingin memuntahkan semua isi lambungnya. "Kau tahu Sasuke?" Sasuke menggeleng dengan wajah polosnya, sehingga lucu, "Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Orang yang mempunyai rasa cinta kepada orang lain dan bukan diri kita itu adalah haknya. Kita tidak bisa seenaknya menyuruh orang tersebut menjadi milik kita sepepnuhnya. Itu justru akan membuatnya semakin tersakiti perlahan. Cinta itu memang rumit betul. Tidak ada rumus matematika, kimia maupun fisika yang serumit cinta. Karena cinta itu sebuah anugerah yang suci. Kita pasti akan lebih berbaghagia bila cinta suci itu adalah milik kita seorang tidak lagi milik sepihak saja. Cinta itu seperti mata uang koin. Ada sisi negative maka akan ada sisi positive. Cinta itu hal yang paling buruk yang tidak mau orang-orang rasakan. Begitu sebaliknya cinta itu begitu emnghangatkan hingga melupakan diri orang di sekeliling kita. Cinta itu buruk. Kebencian, keirian, kedengkian, dan kesombongan. Dalam cinta begitu banyak makna berjuta kata tergantung dari mana sisi orang tersebut. Dan lagi hal yang paling membuat orang merasa takut adalah melepaskan cintamu untuk orang lain agar melihatnya berbahagia. Bullshit memang kita selalu bilang lebih baik dia bersama dia saja. Kebahagiaan orang yang disayang jauh lebih penting keadaan sendiri. Memang banyak orang yang bilang itu omong kosong tapi bagiku itu sama sekali bukan angina kosong. Melepaskan orang yang kau cintai sama dengan kau berada dalam puncak tertinggi gunung. Itu adalah hal yang paling rumit dalam cinta. Kalau kamu yang mana Sasuke?" Tanya Itachi seusai menceritakan pengalaman yang panjang lebar kepada adik semata wayanya. "Entahlah, tapi," Sasuke tersenyum tulus pada saudaranya itu, "terima kasih karena Nii-san sudah mau mendegarkan curhatku." "Kuharap keputusanmu itu tidak akan menyakiti dirimu sendiri kemudian hari." . . . Sakura termenung dalam ruang tamu rumahnya. Televisi yang menyala sama sekali tidak ia tonton. Memeluk sebuah boneka domba yang lucu dan posisi tidur berbaring miring ia lakukan kini di sebuah sofa empuk dan panjang. Rasanya kepalanya begitu berdenyut tiap kali mencoba mengingatnya untuk menyelam ingatan masa lalunya. Sebenarnya rasa sakit itu bukan karena kondisinya yang sakit. Lebih tepatnya yang sakit itu kondisi psikisnya bukan yang berasal dari saraf-sarafnya. Menghela nafas panjang dan menenggelamkan kepalanya dalam leher si boneka domba semakin membuat Sakura pusing bukan main. Hingga bunyi bel berdenting beberaa kali. Dengan ogah-ogahan Sakura segera membukakan pintu. "Kyuu? Ino?" kedua gadis itu hanya nyengir tanpa dosa melihat ekspresi keterjutan Sakura. "Aku mau curhat!" Kyuu langsung menerobos masuk tanpa tahu malu padahal Sakura belum sama sekali mempersilahkannya. Yamanaka Ino segera duduk di sofa untuk satu orang tak jauh dari posisi Kyuubi. "Dasar preman," Ino meleletkan lidahnya pada Kyuubi dan dibalasnya cepat dengan menggunakan bantal empuk milik sofa. Tak terelakan perang bantal di ruang tamu membuat Sakura si pemilik rumah geram mendapati ruang tamunya berantakan penuh dengan berbagai kapas-kapas putih yang berserakan. Dan Sakura ternyata ikut meramaikan perang bantal dadakan tersebut. "Sebenarnya kalian ada apa kemari, heh?" Tanya Sakura merebbahkan dirinya di lantai yang sudah berserakan dengan kapas-kapas yang keluar dari bantal. "Aku hanya mengantar Kyuu saja," ucap Ino disela acara mengetik di ponselnya. "Aku―Aku akan berkencan dengan Naruto," ucap Kyuubi dengan wajah yang sempurna merah padam. Ino dan Sakura saling berpandangan penuh kejut. "Serius? Asiiiiiiik dooooong!" keduanya kemudian melambai-lambai diudara seperi menggerakan pompom. "Tapi, aku merasa ini tidak benar…," nada suara Kyuu menjadi lemah, Ino menatap Kyuubi dengan prihatin. "Aku sudah ditolak oleh Naruto." "Apa? Si bodoh itu?! Ya ampun dia menyia-nyiakan orang baik sepertimu Kyuu!" Kyuubi tersenyum miring. "Tidak apa, Sakura. Rasanya lega luar biasa bisa menyamaikan perasaan yang menyesakkan dada ini tapi bagaimanapun jawabannya aku merasa puas karena tidak salah dalam memilih orang yang kusukai. Aku justru beruntung karena Narutolah orang pertama yang kusukai. Meski akhirnya ditolak aku tidak menyesalinya." Ino dan Sakura sama-sama takjub dengan apa yang baru saja Kyuubi ucapkan. Keduanya terkikik geli tanpa tahu raut kebingungan Kyuubi makin menjadi saja. "Kau sudah bertambah dewasa, ya Kyuu?" "Apa maksudmu, hah?!" Dan ketiganya tertawa bersamaan meskipun sama sekali tidak ada yang lucu unttuk ditertawakan. Kebersamaan seperti ini tidak akan ada lagi nantinya. Karena baik Kyuubi maupun Sakura sebagai murid pertukaran pelajar harus segera kembali ke asal sekolah mereka. Sudah satu semester mereka berada dalam program study ini dan rasanya rindu sudah membuncah pada ketiganya. "Aku juga ingin jujur pada kalian…," Sakura memandangi lawan bicaranya satu-satu. Menghela nafas panjang dan membuangnya barulah berkata, "Ingatanku sudah kembali." Ino segera bangun dan mengguncang-guncangkan tubuh Sakura dengan kencang. "Serius?! Ah, Sakura! AKhirnya kamu mengingatnya kembali!" Kyuubi memandang Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. "Bagaimana dengan Gaara?" "Dia sudah tahu," Sakura mengambil sebuah kapas dan merobeknya hingga terpisah satu sama lain. "Aku kejam sekali memanfaatkan Gaara-kun untuk kepentinganku sendiri." "Kalau kau tahu itu, apakah kau akan melepaskan Gaara?" nada bicara Kyuubi sudah tidak seramah tadi, jikalau menyangkut masalah keluarga Sabaku reaksi Kyuubi selalu saja berlebihan. "Aku tidak tahu." "Kau―" "Tenanglah Sakura," Ino mengelus puncak rambut merah muda Sakura dengan sabar. "Pikirkanlah baik-baik. Buka hatimu bukan matamu. Siapa yang ingin kau tuju untuk berjalan berdampingan bersamamu?" Keheningan melanda. Sakura menatap kedua temannya dengan serius. Kyuubi mendesah pasrah dan akhirnya tersenyum maklum begitu pula dengan Ino. Kedtiga tangan mereka saling bertautan dan diremas kuat oleh Sakura. "Terima kasih, aku senang mempunyai teman seperti kalian," . . . Sabaku Gaara baru saja keluar dari kantor kepala sekolah saat dilihatnya seorang pemuda tegap setinggi dirinya lebih sedikit tengah bersender di bingkai jendela dan kedua lengannya terlipat di depan dada. Pandangan matanya tepat menuju Gaara yang saat itu baru menutup pintu ganda tersebut. Keduanya sama-sama memandang penuh kebencian. Segera Gaara mengalihkan pandangannya, ia merasa kalah kalau ditatap lama-lama oleh oniks kelam Sasuke. Sasuke tidak lagi bersender pada bingkai jendela. Kedua tangannya langsung masuk ke dalam saku celaana bahannya. "Apa maumu?" Tanya Gaara langsung. Sasuke diam sejenak. "Apa kau menyukai Sakura?" Gaara mendengus, "Ibaratkan saja aku ada dalam posisi Sakura yang dulu mengejarmu. Aku jauh sudah lama menyukainya dari pada kau." "Tapi seorang pemenang cinta bukan berarti yang sudah lama mencintai rang tersebut. Perasaan manusia itu cepat berubah." "Berlaku juga untuk Sakura," balik Gaara. Senyum sinis terukir jelas di bibir tipis Gaara. Dia senang melihat Sasuke kalah. "Kau tidak mengerti bagaimana perasaan kami yang sudah lama memendam perasaan pada orang yang kita cintai. Menyakitkan." "Aku di sini bukan untuk mendegar curhatmu." ketusnya kemudian berjalan selangkah mendekati Gaara. "Bisakah kau melepaskan Sakura untukku?" "Kau memohon, eh?" sindir Gaara, wajah Sasuke langsung masam seketika. "Sasuke…," Gaara menepuk pundak Sasuke dan berbisik pelan, "yang menentukan adalah Sakura. Siapa yang mendapatkannya maka kau harus merelakannya. Menelan pahit-pahit rasa cinta yang sudah tumbuh kuat untuk melepaskannya." . . . Pemuda bersurai merah darah itu termenung dalam kamarnya di kediaman Haruno. Lusa dia―yang juga berarti Sakura yang menjadi murid pertukaran pelajar harus segera meninggalkan Konoha. Tadi siang ia sudah menandatangani beberapa dokumen sebagai peresmian murid pertukaran pelajar Konoha-Suna. Gaara mendensah kecewa. Pikirannya selalu tak tenang. Dia takut kalau Sakura akan meninggalkannya. Kembali tinggal di Konoha dan hubungan mereka akan sama buruknya ketika masih kecil. Tidak akan pernah bertemu lagi. Perasaan cinta yang awalnya hanya kagum kepada Sakura perlahan tumbuh menjadi cinta. Akar cinta yang sulit untuk dilepaskan karena begitu kuat dan lama. Apa hal itu juga berlaku pada Sakura? Tentu. Tentu saja. Tapi perasaan orang mana ada yang tahu bukan? Dan Gaara harap Sakura tidak akan meninggalkannya walau kemungkinannya 50 banding 50. Menjadi orang yang dimanfaatkan sungguh menyiksa namun itulah satu-satunya cara yang Gaara manfaatkan juga untuk berada di sisi Sakura. Sasuke tidak boleh memiliki Sakura kembali. Dia yang bodoh telah menyia-nyiakan Sakura dahulu jadi untuk apa Sakura kembali padanya? Gaara tertawa miris dalam hati. Cinta tidak ada yang tahu. Dasar bodoh. Ketukan pintu dua kali langsung menyadarkan Gaara, dibukanya pelan dan menemukan sosok gadis berambut merah muda yang membuatnya tidak nyaman akhir-akhir ini. Ingin Gaara bersikap manis di depannya tapi tidak bisa selama Sakura belum menentukan salah satu diantara dirinya dan Sasuke, walau waktu itu Sakura peranh bilang mencintainya, siapa tahu itu hanya ucapan spontan bukan? "Ada apa?" suara datar Gaara membuat Sakura gentar. Tidak biasanya bukan Gaara bersikap seperti ini padanya? "Aku… Aku mencoba untuk memutuskan siapa orang yang benar-benar ingin berada di sisiku," Gaara memandang Sakura sedikit iba. Pastilah perasaan yang paling menyesakkan adalah Sakura sendiri. Harus memilih dan tersesat di dalam masa lalu dan masa kini. "Tapi," Gaara menatap Sakura penasaran. "Kalau kamu bisa menemukanku aku tidak akan ragu lagi untuk memilihmu." "Maksudnya… Apa?" "Nah, selamat malam Gaara-kun! Kau harus menemukanku besok, untuk mendapatkan seseorang yang kau sukai kau harus mengejarnya betul?" Dan Sakura menutup pintu kamar Gaara dengan senyuman misteriusnya. Gaara masih mematung dalam diam. Maksudnya… Aku harus mencarinya begitu? Heh, itu bukankah mudah sakura? gumam Gaara dalam hati. . . . Pagi ini entah kenapa bunyi bel berdentang di kediaman Uchiha. Menunggu dengan sabar anak gadis tersebut menunggu di depan pagar rumah yang selalu ia kunjungi dahulu. Pintu bercat cokelat muda itu terbuka dan menampilkan sosok paruh baya yang keibuan. "Sakura-chan!" seru wanita itu ketika si tamu Akasuna Sakura memberikan senyum manisnya. "Pagi sekali, Nak." Uchiha Mikoto membuka pagar rumahnya dan mempersilahkan Sakura masuk. "Ohayou, Mikoto-baasan," sapa Sakura mengikuti langkah Mikoto yang masuk ke dalam rumah. "Maaf merepotkan," Mikoto tertawa pelan, "Tidak apa-apa. Kau sudah makan? Kita sarapan bersama, ya?" Sakura hanya mengangguk semangat. Perasaan senang dan rindu memenuhi pikirannya. Kehangatan keluarga Uchiha dan juga Uzumaki membuatnya bersyukur masih bisa menerima kasih sayang dari keempat orang tua tersebut. Meski Sakura tak sering bermain di rumah Naruto, Kedua orangtua Naruto selalu mengunjungi rumahnya walau sekedar berbasa-basi sakura amat senang. Begitu pula dengan orangtua Sasuke, yang karena lebih dekat dengan rumah Sakura kadang Sakura selalu ikut makan bersama dalam satu meja di keluarga tersebut. Belum lagi kakak Sasuke yang baik hati. Meski begitu kali ini Sakura sudah emndapatkan kata keluarga lagi. Keluarga Akasuna. Keluarga yang sangat hangat dan paling pengertian kepada dirinya. Ayah dan Ibu. Walau tak pernah berjumpa mereka tetap hangat. Dan lagi anak tunggal mereka Akasuna Sasori sangat menyayanginya dan sudah menganggap Sakura sebagai adiknya. Sungguh Sakura bersyukur karena telah hilang ingatan. Pernah terbesit apa Sakura terus saja berpura-pura seperti ini tapi dia tidak tega. Maka sudah diputuskan. Ingatan yang lalu tidak akan pernah menghambatnya untuk terus maju dan mendapatkan kebahagian lebih dari ini. Dia harus mensyukurinya dan harus segera menghentikan masa lalunya. Maka dari itu ia berada di rumah Sasuke ini. "Wah, ada Sakura-chan!" seruang riang terdengar dari belakang telinga Sakura saat ia baru saja membantu Mikoto untuk menata piring. "Ohayou!" Sakura tersnyum melihat Uchiha Itachi yang sudah basah oleh peluhnya, terlihat jelas ia sehabis olahraga bersama dengan pria paruh baya di belakangnya yang berwajah tegas mirip dengan Itachi. "Ohayou Itachi-nii dan Fugaku-ojiisan," sapa Sakura hormat. Uchiha Fugaku sang kepala keluarga hanya tersenyum simpul sebagai jawaban sapaan Sakura. "Nii-san kau tidak merapihkan sepatumu di genka dengan benar tahu!" cerocos Sasuke kencang tidak menyadari adanya kehadiran anak gadis di rumahnya. Dan Sasuke sempat terlonjak karena Sakura dan Itachi tertawa bersama di dapur. "Sa-Sakura?" gagapnya. Sekarang sasuke bukanlah idola sekolah yang sering dielu-elukan di sekolah mereka. Sasuke yang dilihatnya ini tampak seperti tukang kayu. Handuk kecil yang melingkar di kedua bahunya, kaos putih polos yang sudah basah oleh keringat, celana training panjang yang kedodoran dan juga rambut lepek yang tidak melawan gravitasi. "Hai, Sasuke!" Sakura menahan geli saat melihat mulut Sasuke ternyata melongo juga. "Aduh, aduh anak Ibu bau keringat semua, ya? Sekarang kalian semua anak laki-laki di sini segera mandi dan sarapan sudah ibu siapkan bersama Sakura." Mikoto mendorong ketiga laki-laki yang berada di dapur. Dengan ogah-ogahan mereka semua menyeretkan kakinya. Sasuke melihat Sakura dari sudut matanya yang tengah membantu Ibunya memasak di dapur. Sungguh pemandangan yang dulunya biasa Sasuke lihat ini terulang kembali namun dengan perasaan berbeda. Dia rindu. Sangat rindu Sakura yang seperti ini datang ke rumahnya dan berakrab ria dengan ibunya. Apakah masih bisa meliatnya seperti itu nanti? . . . Gaara mengetuk pintu kamar Sakura tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Dibukanya pintu kamar Sakura. Kosong tidak ada yang menempati. Belum lagi kasur yang sudah rapih dan mendingin menandakan Sakura pergi sudah lama. Matanya mengedar pada secarik kertas berwarna kuning terang dengan tulisan berwarna biru tua. Cari aku jika kau bisa Dimana gesekan angina terdengar Awan-awan membayang dipermukaan Sebuah bulatan hijau menjadi tokoh utama dibalik birunya keindahan Tak luput sinar-sinar yang menyejukan bergoyang ke sana ke mari Tidak mengerti Tuan jenius? Aku harap kau menemukanku Dan Gaara segera melesat menuju tempat yang memungkinkan yang dimaksud oleh Sakura. . . . "Rasanya rindu!" Sakura membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Menghirup udara yang sangat segar dan juga pemandangan yang sangat indah di depannya. Bersama dengan Sasuke yang kini ketampanannya kembali sempurna, Sakura berjalan-jalan di tengah hamparan padang bunga matahari. Dulu mereka bertiga, Sakura-Sasuke-dan Naruto selalu bermain di sini ketika pulang sekolah. Padang bunga matahari yang tak jauh dari taman rusa milik keluarga Nara. Sasuke merasa senang melihat Sakura rasanya kembali seperti dulu. Berbeda saat pertemuan di Suna―Sakura yang di sana sungguh lemah dan tidak ada manisnya dibanding Sakura yang ia lihat sekarang. "Kenapa ke mari?" Tanya Sasuke ketika jarak antara Sakura yang tadinya dekat kini menjauh dan sudah tertutup oleh beberapa tangkai bunga matahari yang panjang. Sakura tersenyum penuh arti, "Aku sudah memutuskan lagi," memainkan tangkai bunga matahari, Sasuke tahu dimana keberadaan Sakura dan menghampirinya. "Kali ini aku akan mempertegasnya. Tidak lagi seperti saat aku memintamu putus dan memilih Hinata." Sasuke memeluk Sakura kencang. Dagunya berada tepat di puncak rambut merah muda Sakura. Wajah Sakura sendiri tepat di dada bidang Sasuke dan dapat sakura sadari detak jantung Sasuke terdengar kencang dalam indranya. Apa dulu Sasuke memiliki debaran seperti ini? Kenapa baru sekarang? lirih Sakura dalam hatinya. "Kumohon jangan berbicara apapun dulu," Sasuke semakin mendekap Sakura. "Aku ingin seperti ini walau hanya sebentar saja." perasaan tidak enak segera menggelayuti Sasuke. Dia sudah berprasangka kalau memang nantinya akan berakhir. Ragu. Sakura akhirnya membalas pelukan Sasuke. Di padang bunga matahariinilah dulu Sasuke dan Sakura saling berjanji kembali. Memainkan peran sepasang pengantin dengan Naruto sebagai pendetanya. Kenangan lama itu samar terihat di sudut mata Sakura. . "Aku tidak mau menjadi pendeta! Aku yang akan menjadi suami Sakura-chan!" kesal Naruto. Wajahnya tertekuk merasa tidak adil dengan kedua sahabatnya yang dengan seenaknya menentukan ia menjadi pedneta. "Sudahlah Naruto nanti aku akan gentian menjadi pengantinmu. Atau Sasuke-kun yang akan menjadi pengantinmu?" kekeh Sakura kecil. "Tidak mau!" berbarengan Sasuke dan Naruto berucap. "Ayolah kita mulai!" Sakura menarik-narik baju kedua sahabatnya itu. "Naruto ayo!" Mau tidak mau Naruto menuruti apa kata orang yang disukainya itu. Tangan kanan Sakura menggenggam bunga mattahari yang dipetik oleh Naruto. Sedang tangan kirinya digenggam oleh Sasuke. Sakura melihat Sasuke dengan malu-malu. "Mana ucapan janjimu Sasuke?" Tanya Naruto masih dengan suara ketusnya. "Aku berjanji bahwa aku akan menyayangi Sakura selamanya. Bersama dalam suka dan duka. Kita akan bersama hingga kematian menjemput kita." asal Sasuke memang asal. Tapi saat mengucapkan janji itu dia dengan tegas menatap Sakura. "Aku juga! Kita akan bersama sampai kematian menjemput kita. Itu janji seumur hidup kita!" sela Naruto dan sakura cemberut. Itu kan janji pernikahan kenapa naruto ikut-ikutan, sih? gerutunya sebal. Tapi melihat kesungguhan pada pancaran awan Naruto, Sakura jadi malu. "Janji seumur hidup! Kita akan bersama selamanya, ya!" Di tengah padang bunga matahari yang bergoyang. Musim panas beberapa tahun lalu. Janji masa kecil itu akan selalu teringat sampai kapanpun. . "Kita… memang akan bersama selamanya," lirih Sakura, diremasnya kaus biru tua Sasuke. "Tapi, kata bersama itu bukan berarti aku akan berdiri di sisimu. Gomen…," tetesan air mata jatuh menuruni pipi mulus Sakura. Kepalan tangan Sasuke mengeras. Matanya berkaca-kaca. Sedih. Pahit. Baru kali ini dia merasa sesak luar biasa. Padahal sebegini dekatnya dengan orang yang dicintai tapi tidak bisa memiliki. "Meski kita saling mencintai?" bisik Sasuke dekat telinga Sakura. "… Ya…," Sakura semakin mengeratkan pelukannya. "Aku mencintaimu. Maaf…," "Aku juga… Mencintaimu…," memisahkan jarak di antara mereka. Sasuke menatap emerald basah milik sakura. Mendekatkan bibirnya pada bibir Sakura yang masih terisak. Ciuman terakhir yang akan Sasuke berikan kepada Sakura. Ciuman lembut, dalam, dan kesedihan. "Selamat tinggal, Sakura…" . . . Gaara menatap pedih kedua sosok yang tengah bergandengan tangan tanpa berbicara sepatah katapun. Benarkah ia benar datang ke sini? Benarkah jika dia kemari maka Sakura akan memilihnya? benarkah? Sakura berlari menghampiri Gaara―menerjang pemuda berambut merah darah itu dan memeluknya erat. Gaara melihat sorot kekecewaan terpancar jelas pada Sasuke. Jadi bagaimana? "Aku memilihmu. Aku mencintaimu." bisik Sakura dalam dekapan Gaara. Gaara jelas bukan main perasaan bahagia terlukis. Namun di satu sisi dia ragu, benar cinta Sakura tulus untuknya atau apa? Ah, tak ambil peduli yang terpenting adalah mereka bersama. Gaara jelas harus membahagiakan Sakura apapun itu. "Aku juga mencintaimu,," bisiknya lembut. "Tolong jaga dia untukku." Sasuke berlalu meninggalkan kedua tapi kemudian berhenti sebentar. "Kali ini aku yang melepasmu, Sakura…" dan bisikan Sasuke membuat Sakura semakin meneteskan air matanya. "Selamat tinggal." . . . T B C |
| Ferry bangun+rumah 's link Suatu cerita yang indah: Seorang Kakek hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky (Amerika) dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Alkitab di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya. Suatu hari sang cucu nya bertanya, " Kakek! Aku mencoba untuk membaca Alkitab seperti yang kakek lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Alkitab?" Dengan tenang sang Kakek dengan mengambil keranjang tempat arang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, " Bawa keranjang ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air." Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya. Kakek tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi," Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. Sang kakek berkata, "Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang arang itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup," maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakeknya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah. Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, " Lihat Kek, percuma!" " Jadi kamu pikir percuma?" Jawab kakek. Kakek berkata, " Lihatlah keranjangnya. " Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu TELAH BERUBAH dari keranjang arang yang tua kotor dan kini BERSIH LUAR DAN DALAM. "Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu MEMBACA ALKITAB. Kamu TIDAK BISA MEMAHAMI atau INGAT segalanya, tetapi KETIKA kamu MEMBACANYA LAGI, kamu AKAN BERUBAH, luar dalam. Itu adalah KARUNIA dari ALLAH di dalam hidup kita." Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang. Sepenggal kata mutiara: "Teman yang baik adalah seseorang yang dapat berkata BENAR kepada kita, dan bukan orang yang selalu MEMBENAR-BENARKAN perkataan kita, tanpa memberi NASIHAT dan KOREKSI" Nah teman-teman, jadilah BERKAT bagi yang lain, dan TEMAN YANG SEJATI. "Amsal 17 : 17" Salam |
| Cerita Rainbow Warna Warni bangun+rumah 's link By: Otsu Kanzasky Note: bagi yang tidak suka cerita ber-genre fantasy mending ga baca ^ ^) *** Siulan riang yang berasal dari dapur mengurai suasana sepi di dalam rumah yang dimana sang pemiliknya belum juga datang meski jam dinding sudah menunjukkan pukul 22.35 malam. Suara dentingan benda logam yang membentur kecil cangkir kaca terdengar hingga ke Ruang Tengah, dimana TV di biarkan menyala selagi yang menontonnya sedang sibuk mengaduk kopi di dapur. Setelah selesai Zero meletakkan sendok teh yang di pakainya untuk mengaduk kopi ke bak cuci piring, lalu membawa cangkirnya ke depan. Tepat saat acara yang di tontonnya kembali di mulai setelah beberapa menit commercial break. Zero meletakkan cangkir kopinya di meja kaca di depan sofa dan meraih remote TV, menambah volume benda elektronik itu. Sebuah tayangan musik malam yang di format seperti radio menjadi pilihan Zero untuk mengusir rasa bosan. Tayangan itu merupakan tayangan ulang, dan tidak hanya memutar PV musisi lokal namun juga artis Luar Negri. Sudut bibir seksi Zero tertarik saat sang presenter memutar PV Eugene, dan cengirannya berubah menjadi senyuman saat dimana Shouta berada dalam frame. Senyuman bangga terukir jelas di bibirnya, meski Shouta tidak banyak mendapat jatah frame, entah kenapa tersirat sesuatu dari sorot matanya, yang kini bergerak, menggeser objek pengelihatannya pada sebuah pigura yang berukuran lebih besar dari pigura yang lain yang terpajang di atas lemari laci hiasan, bersama foto-foto dan pernak-pernik lainnya. Zero memaku pandangannya pada pigura tersebut, dimana membingkai sebuah foto usang yang masih terlihat cukup jelas. Mengabadikan seorang bayi mungil berkulit kemerahan yang terlelap. Setelah puas memandangi foto tersebut, Zero kembali mengarahkan matanya pada layar TV seraya mengambil cangkir kopinya, ia tiup perlahan lalu menyesapnya sedikit-sedikit. Cklek. Suara pintu terbuka, mengalihkan perhatian Zero yang langsung menoleh kearah pintu sambil meminum kopinya. “Kami pulang” suara Shouta terdengar lelah. “Selamat datang, malam sekali pulangnya” sambut Zero seraya meletakkan cangkir kopinya ke meja. Shouta menaruh kantong plastik yang dibawanya ke meja lalu melepas tas selempangnya yang ia letakkan begitu saja ke sofa, kemudian menghempaskan tubuhnya di sebelah Zero. “Capek” eluh Shouta, memandang datar ke layar TV. “Ayo naik” ajak Gin yang kini berdiri di samping kiri sofa. “Sebentar, ada yang mau aku tanyakan pada Zero” kata Shouta, duduk dengan benar dan memiringkan tubuhnya menghadap sang Werewolf. Zero menaikkan satu alisnya. “Soal apa?” “ ‘kan bisa besok, ini sudah malam Shou” bujuk Gin agak kesal. Karena memang ia tidak suka jika pemuda manis itu menjadi dekat dengan 'musuh bebuyutannya'. Shouta menengok ke belakang punggungnya. “5 menit saja, ok?” tawar Shouta. Gin berdecak malas. Mau tak mau Gin harus menunggu, dan ia memilih duduk di sofa single dengan wajah jutek. Shouta kembali menghadap Zero yang sudah menunggu. “Apa tadi kau keluar?” tanya Shouta, yang langsung membuat Zero mengernyit. “Tidak, aku tidak kemana pun” jawab Zero heran. “Sungguh?” “Aku akan celaka seandainya aku bohong. Memangnya ada apa?” “Tadi waktu di jalan saat akan makan malam, aku melihatmu di pinggir jalan” Zero tertawa kecil, lalu menggelengkan kepalanya. “Ku rasa kamu hanya terlalu capai Shou, atau mungkin ada yang kamu pikirkan tentang ku?” Shouta mengangguk samar, Zero berdeham kecil. “Ok, apa itu?” tanyanya. “Sebenarnya...” “Ok, ini sudah 5 menit” sela Gin bangkit berdiri dan mengambil tas Shouta. “Kenapa kau tidak memintaku untuk menghancurkan segelmu?” tanya Shouta, mengabaikan peringatan Gin. Zero tersenyum miring. “Tidak perlu meminta, pasti kamu akan melakukannya ‘kan?” ucapnya santai. “Shou” panggil Gin, menarik tangan kiri Shouta. “Kalau ku hancurkan segel itu sekarang?” Shouta terpaksa bangkit berdiri karena Gin menarik tangannya. “Kamu tidak akan melakukannya” “Kenapa?” “Karena belum waktunya” Zero tersenyum tipis. Ada sesuatu yang di sembunyikan Zero, Shouta yakin itu. Tapi karena Gin sudah menyeretanya kearah tangga, ia terpaksa harus menunda rasa penasarannya. Tepat pada undakan anak tangga ke 5, Shouta berhenti dan berbalik. “Ramen itu untukmu, kau belum makan ‘kan?” kata Shouta memastikan. Zero tersenyum lebar. “Kamu tahu kalau aku sangat lapar, terima kasih” ucap Zero senang, meraih kantung plastik yang berada di meja. “Aku tidur dulu, malam” pamit Shouta. Zero menengok. “Mimpi indah” kata Zero tersenyum tipis. Gin mendengus kesal, agak kasar ia mendorong Shouta agar kembali naik. “AH IYA, TERIMA KASIH SUDAH MENGUSIR VAMPIRE BARU ITU DARI RUMAH INI!” teriak Zero karena Shouta sudah menghilang dari tangga bersama Gin. Ya memang, saat di dalam mini van Shouta memilih untuk menghancurkan segel Kei, karena ia tidak mau saat ia pulang mendapati rumahnya hancur. Cukup 1 Vampire saja yang selalu ribut dengan 'seekor' Werewolf. “Jangan terlalu akrab dengan anjing itu” ujar Gin sembari menutup pintu kamar. Shouta yang sedang membuka baju pun menengok. “Berapa kali aku bilang kalau Zero itu bukan―” “Bukan anjing, aku tahu itu. Tapi aku tidak suka melihatnya yang sok akrab denganmu” potong Gin, melepas tas selempang Shouta yang di bawanya dan meletakkannya di atas meja komputer. “Zero ‘kan baik, jadi jangan membawa permusuhan kalian sebagai alasan, ok?” Shouta mengambil singlet hitamnya yang di tergantung pada hanger yang di gantungkan di depan lemari, tapi saat ia melepas singlet dari hanger, sepasang lengan melingkari pinggangnya. Shouta menengok ke balik pundak kanannya, merasakan kecupan ringan yang bertubi-tubi di punggungnya lalu kecupan itu merambat ke pundaknya. “Aku harus bekerja keras menghilangkan bau anjing itu dari tubuhmu” ujar Gin, sibuk mengecup leher Shouta. Shouta tidak mencegah Gin, saat kedua tangan yang berada di perutnya mulai nakal merambah dada dan menyelusup ke dalam celana jeansnya. ☆☆☆ “Bagus ‘kan?” kata Ray, memamerkan t-shirt yang di pakainya pada Marie yang sekembalinya dari toilet. Gadis manis itu hanya mengangkat satu alisnya seraya duduk, memperhatikan Ray yang sibuk memamerkan t-shirtnya, yang entah ia dapatkan darimana. Setahu Marie, lead guitar bandnya itu mendapat t-shirt yang katanya ia dapat dari bingkisan fans. “Ngomong-ngomong Ken-san kemana?” tanya Marie celingukan. “Beli kopi katanya” jawab Ray, masih sibuk memperhatikan t-shirt yang di kenakannya. “Gin-san?” Kali ini Ray menengok pada Marie, tampak tengah mengingat-ngingat kemana sang bassist tadi berpamitan. “Katanya tadi ketemuan sama orang” sahutnya kemudian. Marie memutar kepalanya ke samping kirinya, melihat pada sosok Shouta yang tertidur di atas sofa panjang. Sudah 20 menit berlangsung, sesi istirahat saat rekaman, pemuda manis itu terlelap sangat cepat. Untungnya baik Marie atau band mate-nya yang lain dan juga Peter, tidak melihat tanda merah yang ada di lehernya. Meski mark tersebut tergolong kecil, tapi warna merahnya cukup menonjol dan terletak agak ke dalam ceruk lehernya. Apalagi posisi tidurnya yang miring dengan rambut di bagian leher yang tersibak ke belakang saat ini, memungkinkan Marie atau Ray dapat melihat mark itu. Wajar saja Shouta sampai tertidur lelap saat ini, sudah 4 hari Eugene menginap di studio rekaman untuk menyelesaikan rekaman album. Yah, proses recording memang memakan banyak waktu. Dan rona lelah tak hanya di tunjukkan Shouta, Ray yang saat ini tiduran di sofa dan menyibukkan diri dengan PSP-nya juga sudah beberapa kali menguap dalam 25 menit ini, lalu Marie yang memilih untuk mendengarkan musik melewati earphone yang terhubung pada iPod-nya. Keheningan di ruang tunggu khusus itu membuat kedua remaja yang masih terjaga mulai terbuai untuk memejamkan mata, menyusul Shouta yang sudah lebih dulu melalang buana di alam mimpi. Untuk sepersekian detik, pintu ruang tunggu tersebut dibuka. Ken yang pertama masuk, tampak memperhatikan ketiga band mate-nya yang terlelap di sofa, dan Peter yang berada di belakang menyuruh pemuda itu untuk segera masuk. Ken meletakkan sebuah kantong plastik sedang yang berisi berbagai macam minuman, lalu Peter yang meletakkan kantong plastik berisi bento yang baru di belinya dari supermarket terdekat. “Oi Ray, bangun bangun” Ken mengguncang-ngguncang pelan pundak Ray, yang saat ini tertidur dengan PSP di atas dada dan dalam kondisi menyala. Tidak butuh waktu lama untuk membangunkan pemuda itu, kemudian Marie dan yang terakhir Shouta. “Ada apa?” tanya Marie sambil mengucek mata dan suara khas bangun tidur. “Ayo makan, sudah jam 12 siang nih” kata Ken, duduk di samping Shouta yang terduduk dengan mata sipit. “Gin mana?” tanya Shouta memandang ke seluruh ruangan. “Dia tadi keluar, tapi barusan menelponku katanya sebentar lagi sampai” kata Peter, sibuk mengeluarkan bento dari kantong plastik. Shouta menggaruk rambutnya yang tidak gatal, menghadap pada bento yang di bagikan Peter. Namun suara keras pintu yang dibuka, mengagetkan kelima orang yang hendak menyantap makan siang masing-masing. “Darimana saja?” tanya Peter, memperhatikan Gin yang menutup pintu kembali dan berjalan kearah sofa. “Ada kepentingan tadi, aku tidak telat ‘kan?” ucap Gin memastikan, dan duduk di sofa single yang kosong. “Baru mau makan, nih” Peter menyodorkan kotak bento pada Gin. Pemuda berkulit pucat itu menerimanya, sempat menatap Shouta yang dengan khidmat menikmati makan siangnya. Entah apa yang di pikirkannya saat seulas senyum tipis terukir di bibirnya. ☆☆☆ “Nah, pulang juga” celetuk Zero, ketika muncul dari dapur―yang berhadapan dengan ruang tengah―melihat Shouta yang sudah seminggu tidak menginjakkan kaki di rumah tersebut. “Aku cuma mau mengganti baju, setelah itu berangkat lagi” kata Shouta sambil lalu, menuju kearah tangga. Sementara Gin masuk ke dalam dapur. Zero menengok dan memperhatikan gerak-gerik pemuda itu. “Apa tidak salah? Kamu sudah seminggu tidak pulang” ujar Zero, mendekati tangga dan melihat pada punggung Shouta yang menjauh. Pemuda mungil itu berhenti melangkah setelah menaiki anak tangga terakhir, ia berbalik menghadap Zero yang ada di bawah tangga. “Mungkin aku dan Gin akan jarang pulang sebelum proses rekaman selesai” ujarnya. “Lalu aku harus sendirian di rumah ini?” Gin yang baru keluar dari dapur dengan membawa minuman kaleng pun menyahut. “Manja” cibirnya, berlalu menuju sofa. Zero yang mendengar hal itu memilih untuk tidak meladeni sang Vampire. “Kalau semisal bahan makanannya habis, telepon Gin saja karena aku tidak pernah membawa ponsel. Aku ganti baju dulu” Shouta mempercepat langkahnya, membuka pintu kamar dan langsung menuju lemari pakaian. Tanpa harus bingung memilih baju, ia melepas jumper abu-abu dan t-shirt V neck putih yang di kenakannya, dan mengambil sweater tipis putih bergaris hitam berlengan panjang, saking panjangnya sampai melewati panjang tangannya, lalu di padu dengan jaket hitam tanpa lengan, kemudian mengganti blue jeans-nya dengan jeans pendek selutut. Shouta mengganti pakaiannya dengan cepat, karena tidak banyak waktu yang di berikan Peter untuk pulang, begitu pula untuk ketiga anggota band yang lain. Ia kembali menutup lemari pakaiannya, dan saat ia membalikkan badan tak sengaja matanya menangkap Merry Go Round yang terpajang di atas meja lampu. Shouta sadar sudah hampir 2 minggu dirinya tidak menyalakan mainan itu. Ada perasaan sedih saat ia melihat pada hiasan kuda yang saat ini hanya tersisa 2 kuda. Namun Shouta tidak berlama-lama memandangi mainan klasik itu, ia berbalik dan beranjak keluar kamar. Tepat saat pintu kamar sudah di tutup, secara misterius Merry Go Round tersebut menyala, menyuarakan dentingan piano yang lembut di temani 2 hiasan kuda yang berputar. Seolah tengah menghibur diri dan memanggil sang pemilik. 【to be continue】 |
| Rivhan Uluputty Mrt |
| IcHan' K'Jene PontO' bangun+rumah 's link Anakku... Bagaimana kabarmu, apakah kamu baik-baik saja? Di rumah, ibumu juga sehat. Sekarang ini aku sedang memandangi cermin dan fotomu. Tiba-tiba aku menjadi sadar bahwa aku sudah mulai tua. Kerut merut di wajahku sudah semakin banyak dan aku tidak cekatan lagi seperti dulu. Aku sering iri padamu yang selalu ceria, riang, aktif dan penuh dinamika. Akupun pernah mengalami seperti itu dulu. Anakku... Ketika menikah dengan ayahmu, aku tidak pernah membayangkan akan mempunyai anak seperti kamu. Sungguh, aku bangga padamu. Setelah engkau besar kini, aku baru sadar betapa kecilnya aku ini, betapa tidak berartinya aku. Engkau lahir dan tumbuh semata-mata karena mukjizat dan rahmat Tuhan belaka. Tak kuingkari memang akulah yang mengandungmu selama sembilan bulan. Saat itu aku selalu gelisah menanti kelahiranmu. Aku selalu menjaga diriku agar bayi di perutku, yaitu kamu, sehat. Dengan susah payah dan sakit kulahirkan engkau. Aku termasuk beruntung karena tidak harus meninggal untuk melahirkanmu. Aku sampai menitikkan air mata bahagia saat mendengar tangis pertamamu yang lucu. Engkau ini darah dan dagingku sendiri; engkau tumbuh dari bagian tubuhku namun engkau lahir keluar sebagai manusia yang baru sama sekali. Dalam beberapa hal kamu memang mirip aku tetapi selebihnya engkau sungguh baru. Sejak kecil kurawat engkau dengan sangat hati-hati dan penuh kasih; engkau lebih kuperhatikan dari pada apapun yang pernah kumiliki. Kusuapi dan kususui engkau dengan air yang mengalir dari dadaku sendiri. Bila engkau menangis kugendong dan kuhibur. Kuberi engkau pakaian dan sepatu dan topi yang cocok untukmu. Tak lupa kubelikan juga mainan yang kau gemari; mobil-mobilan atau boneka-boneka yang lucu. Engkau masih ingat masa kecilmu, kan? Setiap pagi dan sore kumandikan engkau. Bila kau ngompol atau e’ek di celana atau di popok, dengan sabar kubersihkan dan kuganti dengan yang baru. Paling sedihlah aku, bila kamu sakit. Memang engkau waktu itu hanya makhluk kecil yang tidak berdaya, yang bisa saja kubuang ke kotak sampah atau ke selokan kalau aku mau. Tapi aku cinta padamu, engkau bagian dari hidupku sendiri. Maka kurawat engkau sungguh-sungguh, kubawa engkau ke dokter, kuusahakan agar kau mendapat vaksinasi dan makanan bergizi. Anakku... Pada waktu masih kecil dulu, kamu sering rewel, ngambeg bila tidak diberi uang jajan, atau sulit bila disuruh mandi. Kau ingat betapa manjanya kamu. Setiap kali kau lari ke pangkuanku bila engkau bertengkar dengan kakakmu, bila dimarahi ayah, atau bila dinakali teman-temanmu. Aku menjadi saksi untuk masa kecilmu yang manja, sehingga aku tak sempat lagi mengurus diri atau pergi sesuka hati. Kini engkau sudah dewasa... Aku bangga padamu, engkau harapanku. Namun aku sering sedih melihat kelakuanmu; kala engkau bermalas-malasan untuk bangun, kala bermain seharian tak tahu waktu. Hampir-hampir aku menangis bila kuingat betapa sulitnya menyuruhmu belajar, mengerjakan PR, atau mengingatkanmu untuk tidak membolos. Sepertinya kau tidak tahu bahwa ini semua demi kamu sendiri. Sungguh aku tidak bermaksud mau menyengsarakanmu dengan aturan-aturanku. Aku ingin engkau bahagia, bisa hidup pantas di tengah-tengah dunia yang penuh dengan persaingan ini. Kamu harus pandai supaya tidak mati tertelan jamanmu nanti. Anakku... Betapa sedihnya aku, ketika aku kau tuduh orang tua kolot, orang tua yang tidak mengikuti jaman, atau orang tua kampungan. Aku ingin dipahami bahwa kalau kusuruh kau bergaul tidak sembarangan, berpakaian yang pantas dan mau menghargai orang lain, adalah sungguh-sungguh supaya kamu menjadi manusia yang bermoral, bukan begajulan yang menghancurkan hidupnya dengan mau hidup sebebas-bebasnya. Kau lihat betapa banyak teman sebayamu yang sudah harus berhenti sekolah untuk mengasuh anak, betapa banyak teman seusiamu jatuh pada obat bius dan pornografi. Anakku, aku tahu engkaupun tidak ingin menjadi seperti itu. Sungguh kalau aku keras dalam hal ini karena aku tahu betapa halusnya bujukan setan dan betapa beratnya hidup yang tidak tegas terhadap yang jahat. Aku ingin kau pun memahami itu. Hatiku akan hancur bila sikapmu selalu melawan aku, bila kau selalu menganggap dirimu benar sendiri. Setiap malam aku berdoa untukmu, tak sekejap pun engkau hilang dari hidupku. Bila aku sedang memasak di dapur, yang kubayangkan adalah kepuasan makanmu dan juga kesehatan tubuhmu. Bila aku ikut membantu bekerja, yang kuinginkan engkau tidak terhambat karena biaya. Bila kubenahi kamarmu yang selalu berantakan yang kuinginkan agar kau krasan di rumah. Bila kubelikan kau baju-baju yang modis, aku ingin kau tidak malu pada teman-temanmu. Dan bila aku merawat kesehatan tubuhku sendiri, aku hanya ingin agar aku dapat lebih lama lagi mendampingi dan menyerahkan hidup kepadamu. Sekarang ini kamu sudah dewasa, banyak hal sudah dapat kau lakukan sendiri. Lambat laun akan terasa bahwa hidupmu memang menjadi tanggung jawabmu sendiri; tidak ada seorangpun yang dapat menggantikannya termasuk ibumu ini. Mohon jangan kecewakan aku dengan sikap keras kepalamu yang kekanak-kanakkan itu. Aku tidak cemburu kalau kamu sekarang sudah melebihi aku dalam segalanya. Aku malah bangga karena Tuhan sudah berkenan membiarkan aku ikut menyaksikan pembentukkan hidupmu. Seperti sebatang lilin, hidupku sudah meleleh habis… dan sebentar lagi pasti akan padam… untuk menerangi hidupmu, anakku. Kini engkau sendiri sudah mulai menyala, lebih terang dari yang kupunya. Anakku... Kalau engkau memang sulit menerima aku yang sering rewel, kolot atau lamban ini, aku mohon paling tidak kamu mau menghormati ayahmu. Sepanjang hari setiap hari selama bertahun-tahun dia bekerja keras untukmu, hingga tubuhnya lemah, hingga kulitnya kerut merut tertimpa banyak penderitaan. Cintanya padamu membuatnya tidak malu untuk bekerja di tempat-tempat yang kotor, membuatnya tahan duduk berjam-jam menangani tugas-tugas yang membosankan, dan membuatnya setia menjagai kita semua.Dia juga hanya ingin agar kita ini berbahagia. Anakku... Jangan sia-siakan cintanya. Jarang sekali dia mengeluh kala menghadapi beratnya beban kehidupan, tugas-tugas berat dan tuntutan anak-anaknya. Di hadapan kita, dia selalu tersenyum dan tertawa gembira. Kadang-kadang aku merasa kasihan kepadanya kalau dia tidak bisa pulang seharian, kalau tubuhnya yang sudah kecapaian itu harus dipaksa untuk bekerja lagi. Saya sendiri sering merasa bersalah karena rasanya hanya memperlakukan ayah seperti kuda beban atau sapi perahan. Kita bisa beli ini itu, bisa pergi ke sana kemari atau bermain-main dengan santai di rumah, sementara itu dia hanya puas dengan secangkir kopi dan baju yang itu itu saja, dia juga tidak mempunyai banyak waktu untuk bersantai-santai seperti kita. Sungguh anakku, aku mohon hormatilah ayahmu. Akhirnya... Sebagai orang tuamu aku minta maaf kalau selama ini aku kadang-kadang egois, menuntut terlalu berlebihan, kolot dan keras terhadapmu. Maafkan aku bila aku kurang mengerti kebutuhan-kebutuhan dan dunia mudamu. Kadang aku masih menganggapmu seperti anak-anak yang harus kuatur segalanya agar tidak keliru. Maafkan aku anakku, yang membuat banyak kesalahan atau malah menyengsarakanmu, yang tidak dapat mencintai dengan cara yang cocok dengan keinginanmu. Kata maaf darimu adalah hadiah yang paling kutunggu. Anakku... Aku sudah kangen kamu. Ingin rasanya kubisikkan aku sayang kamu. Hanya peluk ciumku untukmu. IBU-MU |
| Korean Fan Fictions YAOI EXO Only bangun+rumah 's link Tittle : Key (SequelWedding Gift) Author :@AlysaDracorn (ganti nickname) Cast : Oh Se Hun, Oh(Xi) Lu Han Lenght :Oneshot Genre : Romance(Maybe'-')a Rate : M (Mature) Warning : YAOI a.k.a Boys Love, LEMON kurang asem, SMUT, LIME,YADONG, bahasa berantakan, typo(s), gaje, tidak sesuai EYD, alur kecepetan,judul gak nyambung. Disclaimer : Cast not mine. But this fanfiction mine.Kris mine too #plakk A/N : Annyeong '-')/ bawa Sequel Wedding Gift nih.Fanficnya author bikin lemon tapi demi apapun ini kurang asem. Ini fanfic NCpertama /.\ sih. Keep RCL ne. No PlagiatNo Silent ReadersNo Bashing Chara ~('-' Happy Reading '-')~ --------------- KEY -------------- Author POV Sang mentari sudah menampakan wujudnya. Memberikan sebuah kehangatan pada dunia pagi ini melalui sinarnya. Semilir angin musim gugur ikut memberi suasana tenang nan damai pagi ini. Di sebuah rumah, tepatnya bagian dapur terlihat seorang namja cantik tengah mondar-mandir kebingungan. Kesana kemari berulang kali membuka laci disetiap lemari dapur. Wajahnya tampak rungsang/? dan mengigit bagian bawah bibirnya, tapi terlihat imut #=.=. Entah apa yang dicarinya, sampai ia melemparkan alat-alat yang ada didapur. ''Ck, dimana selainya?'' tanya namja cantik itu entah pada siapa. Dan ternyata aksinya itu berhasil membangunkan seorang namja tampan yang tadinya sedang asyik meringkuk dibawah selimut terbangun. Perlahan membuka matanya dan membangunkan dirinya. Beranjak duduk membetulkan posisinya. Mengucek imut mata sipitnya, perlahan dia bangun berdiri dan menuju ke dapur. Instingnya mengatakan suara berisik itu berasal dari dapur. Dan benar dugaannya, dia melihat namja cantik miliknya tengah kebingungan dan hampir mengahancurkan dapur rumah mereka. Namja cantik itu terlihat menyerah dan akhirnya hanya berdiri lesu disamping meja sambil menggerutu kecil. ''Bukankah aku menyimpannya di kulkas kemarin ? Kenapa sekarang tidak ada ? Hahh.. Sehunnie takkan bisa sarapan pagi ini'' sesal namja cantik itu.Namja tampan yang sedari memperhatikan tingkahnya tersenyum kecil. Melangkah tanpa suara ke arah namja cantik itu. Dan... GREB Namja tampan a.k.a Oh Se Hun itu memeluk namja cantik a.k.a Lu Han dari belakang. ''Apa yang kau cari baby ?'' tanya Sehun sambil menyelipkan kepalanya dipersilangan leher 'istrinya'. ''Emm.. Aku mencari selai cokelat Sehunnie'' jawab Luhan sambil menggigit bibir bawahnya. ''Hanya selai cokelat ? Kenapa kau begitu kerepotan baby ?'' tanya Sehun lagi sembari bibirnya bergerak nakal menciumi bibir Luhan. Luhan yang kegelian akibat ulah Sehun memutar badannya berhadapan dengan wajah Sehun. Memberikan death glare yang tak mempan sama sekali bagi Sehun. ''Ck, geli ! Bukankah kau takkan bisa memakan roti tanpa selai cokelat ? Dan parahnya hanya roti yang tersisa. Aku takut kau tak mau sarapan Sehunnie'' jawab Luhan lesu sambil mempoutkan bibirnya imut. Sehun terkikik geli dan mencium bibir Luhan sekilas. ''Gwenchana baby. Sekarang, kau cukup duduk manis didepanku'' Luhan menuruti kata-kata Sehun. Duduk dihadapan Sehun sambil menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Bibirnya masih dipoutkan imut. Awalnya, Sehun makan dengan tenang sarapannya itu. Tapi, tak asik jika tak menggoda 'istrinya' pagi ini. ''Baby, rotinya kurang manis. Coba kau tersenyum sedikit'' pinta Sehun. Luhan memiringkan kepalanya imut. Sedikit berpikir mungkin. ''Tersenyum ? Emm.. Baiklah Emm ^^'' Luhan menarik bibirnya keatas membentuk sebuah senyuman termanis untuk suami tercintanya. Dan sebenarnya itu hanyalah akal-akalan Sehun agar bisa memandangi wajah cantik nan manis 'istrinya' itu. ''Nah, dengan begini roti yang kumakan serasa lebih manis'' goda Sehun. Blush Pipi Luhan merona merah, selalu begini jika suami pervertnya itu menggodanya. Sehun melanjutkan melenyapkan (?) roti sarapan yang sempat tertunda tadi. Namun, baru dua gigitan Sehun kembali menunda sarapannya. Dengan alibi yang masih sama seperti tadi. ''Ck ! Ada apa dengan roti ini ? Kenapa masih kurang manis ?'' tanya Sehun sambil sedikit berkoar-koar #=.=. ''Tentu saja tak manis suamiku. Kau bahkan tak memakai sedikitpun selai di rotimu'' jawab Luhan sambil bersweat drop ria. Sehun menghela napas berpura-pura kesal. Tangannya bergerak mengambil sepotong roti yang masih tersisa banyak dipiring sarapannya. Berjalan menuju arah Luhan. Berhenti tepat dihadapan Luhan dan sekarang muka mereka hanya berjarak 10 cm. Sehun menguyah rotinya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan. Mendaratkan bibirnya yang bagai permen kapas itu ke bibir Luhan. Mencium dan melumat bibir Luhan sedikit menuntut sambil mengirimkan roti yang dikunyahnya melalui ciuman panas mereka. Luhan sempat protes karena tanpa seijinnya Sehun mentransfer (?) makananya dengan cara seaneh ini. Mencoba mendorong tubuh Sehun tapi dia lupa kalau Sehun jauh lebih kuat darinya. Dan tentu saja Sehun tak melepaskannya. Hanya kebutuhan pasokan udaralah yang mengakhiri ciuman itu. ''Kau gila Sehunnie'' ucap Luhan sambil menghirup udara secara kasar. Sehun tak menggubris ucapan Luhan dan malah asyik menjilati sisa roti yang ada di sudut bibir Luhan. Setelah puas, Sehun menyudahi aksinya itu dan beralih tersenyum gaje #=.= pada Luhan. ''Hehe, bukankah rasa rotinya lebih manis istriku ? Aku rasa aku tak membutuhkan selai cokelat lagi. Bahkan tadi lebih manis dari selai cokelat'' ucap Sehun sambil mengacak-acak rambut Luhan. ''Ya ! Shireo !'' protes Luhan sambil menggetok imut (?) kepala Sehun. Dan sekarang terjadilah aksi saling kejar antara dua namja pengantin baru itu. -SKIP- Seminggu yang lalu, Sehun dan Luhan berencana berbulan madu ke Pulau Jeju. Sekarang, mereka sedang menikmati pemandangan sore di pantai Jeju. ''Waah.. Indah sekali pantainya, perasaanku menjadi tenang dan damai'' kagum Luhan sambil membentangkan tangannya dan menghirup dalam-dalam udara pantai. ''Kau berlebihan baby'' ucap Sehun meledek. ''Ya ! Inikan pengalaman pertamaku ke pulau ini. Kau lupa ? Aku ini import China jadi belum tahu Jeju Island itu seperti apa'' oceh Luhan panjang lebar pada Sehun. Sehun hanya bersweat drop ria mendengar ucapan Luhan tapi tak mengurungkan niatnya untuk terus meledek Luhan. ''Aku tahu kau import Arab baby'' ledek Sehun sambil menoel dagu Luhan. ''China ! Bukan Arab Sehunnie'' ''Arab !'' ucap Sehun masih bersikeras meledek Luhan dan berlari kecil di pantai menghindari kejaran Luhan. ''Sudah ku bilang Chinaaaa ! Awas kau Oh Se Hunn !'' ''Kau takkan bisa menangkapku baby'' teriak Sehun yang kini jaraknya lebih jauh dari Luhan. ''Kesini kau Oh Se Hunnnn !!!'' Luhan terus mencoba mengejar Sehun yang semakin jauh itu. Dan pada akhirnya dua namja itu saling berkejaran ditengah indahnya langit sore. Setelah puas bermain dipantai, Sehun dan Luhan memutuskan untuk pulang ke hotel tempat mereka menginap. Sampai dikamar mereka segera mandi untuk menghilangkan bau badan dan keringat hasil bermain tadi. Luhan selesai mandi dan berniat mengganti bajunya. Disaat akan membuka lemari, tak disangka lemari itu ternyata terkunci. Luhan kembali menyibukkan diri mondar-mandir mencari kunci itu. Merogoh saku jaketnya, menyusupkan tangannya kelongan kasur, membuka tutup laci yang ada, tapi kunci itu tak kunjung ditemukannya. Sudah beberapa menit dia mencarinya tapi tetap tak ketemu. Alhasil, Luhan memutuskan untuk mengganti pakaiannya dengan kemeja putih kebesaran milik Sehun yang tergeletak di kasur. Suara decitan pintu kamar mandi membuat Luhan menengok ke arah sumber suara tersebut yang ternyata berasal dari Sehun. Seketika itu pipi Luhan langsung merona merah. Bagaimana tidak ? Sekarang dia melihat Sehun hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Tubuh toplessnya yang masih menyisakan air terlihat sangat seksi. Jangan lupakan rambutnya yang basah itu. Bayangan malam pertama dengan Sehun kembali terputar di otaknya. Luhan segera menutup mukanya yang merona dan membalikan tubuhnya berlawanan arah dengan Sehun. Tak jauh berbeda dengan Luhan, Sehun juga tengah berfantasi liar melihat Luhan yang sekarang hanya mengenakan kemeja putih polos dengan dua kancing teratas terbuka. Kaki Luhan yang jenjang terekspos sempurna walau sekarang dia dalam posisi jongkok. Sehun mendekati Luhan yang tengah menguabrik-abrik (?) bagian bawah meja. ''Sedang apa baby ?'' DUG ! Suara Sehun berhasil membuat Luhan terkejut dan kepalanya mencium meja diatasnya. Luhan sedikit merintih kesakitan dan berdiri perlahan. ''Kau membuatku kaget'' keluh Luhan sambil mempoutkan bibirnya. ''Hehe, mianhe. Apa yang kau lakukan ?'' ''Aku mencari kunci lemari. Apa kau melihatnya ? Jika tak ku temukan aku hanya bisa mengenakan pakaian ini'' jawab Luhan sambil menarik-narik ujung bajunya. ''Ohh kunci.. Aku tak melihatnya'' bohong Sehun. Author yakin Sehun menyembunyikan kunci tersebut agar lebih mudah this and that sama Luhan #ngekk #dibekep Sehun. ''Ehem baby, kau tak perlu mencarinya lagi'' ucap Sehun. ''Wae ? Apa kau menemukannya ?'' ''Tidak, tapi bukankah malam ini pun kau tak membutuhkan pakaian ?'' jawab Sehun seduktif tepat ditelinga Luhan. ''Apa maksudmu ?'' Bukannya menjawab pertanyaan Luhan, Sehun langsung mencium bibir Luhan. Luhan yang sempat kaget dan terdiam kini membalas ciuman itu. Ikut terbuai dengan suasana panas yang diciptakan Sehun. Sehun menggigit bibir bawah Luhan meminta akses menuju goa hangatnya. Luhan yang mengerti maksud Sehun membuka bibirnya dan mengalungkan tangannya di leher Sehun. Sehun mengabsen deretan gigi Luhan dan mengajak lidah Luhan bermain dengan lidahnya. Erangan mereka menambah suasana menjadi tambah panas. Hingga kebutuhan pasokan udara melepaskan ciuman mereka. ''Ini maksudku baby, kau sangat seksi malam ini. Saranghae'' jelas Sehun lalu kembali mencium bibir Luhan. Ciumannya beralih ke leher jenjang Luhan yang putih polos. GigitHisapJilat Sehun membuat tanda kepemilikannya tepat di titik sensitive Luhan. Membuat Luhan mengerang nikmat. ''Ahh..ah..nado..sa ah ranghae'' desah Luhan susah payah karena Sehun semakin gencar menikmati lehernya. Tangan Sehun yang tadinya menganggur beralih menyusup ke dalam kemeja Luhan. Mencari dua tonjolan imut #=.= milik Luhannya. Sehun merasa terganggu dengan kemeja Luhan dan segera melepaskannya hingga Luhan kini full naked. Sehun melangkah mundur untuk menikmati pemandangan indah yang hanya bisa dilihat olehnya. Memandang Luhan dengan ekspresi lapar #=.=. ''Jangan pandang aku seperti itu'' ucap Luhan canggung sambil menutupi bagian bawah tubuhnya yang memang tak mengenakan underwear. 'Damn ! Xi Luhan kau sangat seksi' batin Sehun. ''Jangan ditutupi baby, tubuhmu sangatlah indah'' puji Sehun yang seketika itu Luhan langsung salah tingkah #=.=. Sehun yang sudah tidak tahan lagi segera menggendong Luhan menuju ranjang mereka. ''Kita lanjutkan disini baby'' ucap Sehun yang langsung menindih tubuh Luhan dan kembali menikmati nipple Luhan. Nipple kiri Luhan ia plintir dan remas dengan tangan kanannya. Sedang yang kanan ia hisap dengan sedikit kasar. Memberikan rasa sakit sekaligus nikmat bagi Luhan. ''Akh ! Ahh..ahh..emmh'' Puas menikmati nipple Luhan, Sehun turun ke selangkangan Luhan. Menemukan junior Luhan yang lebih kecil dari miliknya telah menegang sempurna dengan cairan pre-cum di ujungnya. Sehun mendekatkan wajahnya ke junior Luhan. Otak pervertnya kembali mendorongnya untuk menggoda Luhan. Ditiupnya junior Luhan hingga Luhan mendesah kecil. ''Ahh... Don't tease me Sehunnie'' ''Memohonlah baby'' kata Sehun sambil terkikik kecil. ''Suck me Sehunniee ohh please suck me Sehunnie'' mohon Luhan sambil meremas nipplenya. ''As your wish baby'' Sehun mulai mengocok junior Luhan dengan tempo lambat. Tapi lama kelamaan kecepatannya semakin bertambah. ''Ahh..ahh..ahhh..mmhh'' Sehun memasukan junior Luhan ke dalam mulutnya, mengulumnya seperti lolipop. Kepalanya maju-mandur mengimbangi kulumannya. Pipinya makin tirus akibat hisapannya yang kuat. Sedang Luhan mendesah hebat sambil meremas sexy rambut Sehun. ''Ahhh..Ahhh..Ahhh deeperr sehunnie ahh..ahh'' Sehun merasakan junior Luhan berkedut-kedut didalam mulutnya. ''Ahh..I'm cumm sehunnieee'' Cairan Luhan tumpah dimulut Sehun tak tanggung-tanggung Sehun menelan semua cairan Luhan. Menyisakannya sedikit dimulutnya dan mencium bibir Luhan membagi cairan Luhan sendiri. ''Sekarang giliranmu baby'' perintah Sehun sambil melepaskan handuk yang melilit dipinggangnya. Slash Handuk itu terlepas dan terlihatlah junior Sehun yang lebih besar dari milik Luhan sudah menegang sempurna. ''Lakukan baby'' Luhan mengganti posisinya hingga kini mukanya tepat berhadapan dengan junior Sehun. Mengocok junior Sehun dengan ritme sedang, kemudian dia masukkan kedalam mulutnya. Junior Sehun hanya muat setengah saja didalam mulutnya. Sedang setengahnya lagi dia mainkan dengan tangannya. Entah setan apa yang memasuki Luhan, tanpa disuruh Luhan memainkan twins ball Sehun. Membuat Sehun mengerang nikmat. ''Ahhh.. Yeahhhh.. Like thatt Luhannie..ahh'' Lidah Luhan ikut memanjakan junior Sehun dimulutnya, menghasilkan sensasi tersendiri untuk Sehun. ''Ahh..kau pintar Lu..ahhh ahhh..uhh'' Luhan mempercepat kulumannya merasakan junior Sehun yang berkedut-kedut. Tapi tiba-tiba Sehun menarik juniornya dari mulut Luhan dan mendapat protes dari Luhan karena mengganggu keasyikannya #=.=. ''Calm baby, aku ingin mengeluarkannya di dalammu'' kata Sehun sambil mengerlingkan sebelah matanya. Membuat Luhan kembali salah tingkah. ''Kau siap baby ? Kita akan masuk gerakan inti'' tanya Sehun meminta kepastian Luhan ._.) Luhan mengangguk kecil malu-malu mengiyakan pertanyaan Sehun. Sehun mengangkat sebelah kaki Luhan kepundaknya. Membuat hole Luhan terekspos jelas. Mengarahkan juniornya ke hole Luhan yang sebelumnya sudah diolesi lotion. Sehun tidak melakukan penetrasi karena menurutnya itu terlalu lama. Dan.. JLEB ! ''Akh ! Appo Sehunnie appo ! Akh !'' teriak Luhan kesakitan karena junior Sehun langsung masuk kedalam hole Luhan yang ketat itu. Air mata Luhan menetes membuktikan kalau holenya memang sangat sakit. Tangannya mencengkram keras sprei kasurnya. ''Sstt.. Jika kulakukan pelan-pelan akan tambah sakit Lu'' ucap Sehun sambil mencium pipi Luhan. ''Tapi ini sangat sakit Sehunnie'' kata Luhan sesenggukan. ''Mianhe, tahanlah sebentar'' ucap Sehun menenangkan Luhan sambil menghisap nipple Luhan, membuat Luhan sedikit kehilangan rasa sakitnya. Setelah beberapa menit membiasakan junior Sehun didalam holenya, Luhan menggerakan sedikit pinggulnya. ''Move.. Sehunnie'' Sehun yang sudah mendapat izin dari Luhan, segera menarik juniornya hingga tersisa ujungnya. Dan dengan satu tusukan Sehun berhasil mengenai sweet spot Luhan. ''Ahhh ! Theree sehunniee ahhh..'' desah Luhan. Sehun menyeringai kecil telah menemukan sweet spot LUhan. Sehun menusukan juniornya dengan sedikit kasar dan brutal. Tangan Sehun mulai bergerak nakal ke junior Luhan yang sempat terabaikan, mengocoknya seirama dengan tusukannya di hole Luhan. ''Ahhh..Huunn..ahhh...ahhhh...uhhh..deeperr..'' racau Luhan. Rasa sakitnya tadi berubah menjadi rasa nikmat yang bertubi-tubi. ''Uhhh..ahh..you're so..tighttt luuu ahhh'' racau Sehun sambil terus memaju-mundurkan pinggulnya yang sukses mengenai sweet spot Luhan berkali-kali. ''Ahh... I'm wanna cumm..uhhh'' Luhan kembali memuntahkan cairannya. Tubuhnya semakin lemas sekarang. Tapi suaminya belum juga sampai. ''Ahh..aku lelah hunnie'' ''Sebentar baby aku belum sampai'' ucap Sehun kemudian membalikan tubuh Luhan menjadi menungging tanpa melepaskan juniornya dari hole Luhan. Gerakannya memberi sensasi tersendiri bagi Sehun, juniornya serasa semakin dijepit oleh hole Luhan. ''Ahh'' desah keduanya. Posisi seperti ini akan lebih nikmat, batin Sehun. Sehun mulai kembali mengin-outkan juniornya dalam hole sempit Luhan. Desahan terus meluncur dari bibir mereka. ''Ahhh...ahh..uhh...emmh.. Hunn..deeperr..ahh'' ''Hannn...kauu sempitt sekalihh..ahh..ahh'' ''Hunn.. I'm cummm againn ahh'' ''Togetherr lu..'' ''LUHAN/SEHUN'' Keduanya klimaks bersama menyebutkan nama satu nama lain. Cairan Sehun ia keluarkan dalam hole Luhan beberapa tetes mengalir keluar dari hole Luhan tak kuat menampung cairan Sehun. Sehun mengeluarkan juniornya dan jatuh terbaring disamping Luhan. Mengambil selimut untuk menutupi tubuh Luhan dan mencium kening Luhan. ''Istirahatlah baby, saranghae'' Luhan yang memang sangat lelah kini sudah tertidur pulas dalam dekapan Sehun. Keesokan harinya.. ''Eunghhh'' Luhan melenguh pelan merasakan hangatnya sinar matahari yang menyeruak masuk melalui jendela kamar hotelnya. Menoleh kesampingnya dan mendapatkan Sehun masih tertidur pulas. Luhan merasakan sakit dan perih dibagian holenya akibat kegiatannya semalam. Lalu dia berjalan tertatih menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya. Di kamar mandi, dia menemukan sebuah jaket mantel tergantung dibalik pintu.Luhan merogoh saku jaket mantel tersebut. Entah insting seorang uke atau memang ia ingin tahu apa yang ada dalam saku mantel itu. Benda keras, padat, tipis itulah deskripsinya pada sebuah benda yang ada ditangan Luhan. Setelah berpikir cukup lama *Lola* #digaplok Luhan, Luhan menyadari kalau itu adalah kunci lemari yang dicarinya kemarin. Selain itu, dia juga menemukan gantungan handphone boneka rusa yang sudah pasti milik Sehun. Otaknya kembali berpikir. ''Oh.. Ya ampun jadi dia yang yang menyembunyikannya OH SEEE HUUUUNNN !!!'' Dan berakhirlah fanfic gaje ini dengan penutup lengkingan suara Luhan dan dengkuran tidur Oh SeHun. --------------- KEY --------------- --------------- FIN --------------- Gahhh selesai juga (/.\) *tumpengan* Kurang asem ? Gak ngefeel ? Ancur ? Ane tau itu tapi tetep RCL ne '-')~ Gak RCL ane kirim ke zamban ^^)V Terimakasih yang udah RCL Regards, @AlysaDracorn Posted by : -Hyora |
| Reneezme Intan Cullen bangun+rumah 's link Author : sung jie riem aka eonnie evil aka bloody rose Cast. : Yunjae Yoosuminkyu Oc : baca ndiri wkwkkwkkwkw Rated : T Genre : romance , little angst Warning : ooc , typo dll + authornya gaje Hello readers welcome to my FF , ni FF respost karena permintaan lumayan banyak orang , coz dulu cast ичα beda , ada yang req untuk dijadikan FF yunjae maka ane kabulin nyahahhahahahahhaha.. #abaikan author ичα gila , Oke gak usah banyak basa basi yuk let's goooo.. ---------------------- Jaejoong pov Tanpa ba bi bu aku langsung mulai membersihkan Ruangan , sambil membersihkan sambil mengeluarkan omelan untuk si beruang besar itu. benar2 kurang ajar itu Direktur nyebelin !!! sambil menahan bau sampah aku terus membersihkan dan sedikit demi sedikit ruangan itu kembali bersih dan wangi .. ( Ya iyalah orang aku pake super pel ) aku mengedarkan pandangan sekeliling ruangan .. benar2 sudah bersih , aku bernafas lega .. aku pun mulai memasak di dapur ..ya walau aku sebel sama Direktur ku satu itu, tapi aku melihat isi kulkas nya makanan tak sehat semua .. aku berencana memasakan sayur untuknya . tanpa aku sadari si yunho sudah pulang ,dengan mengendap2 dia masuk ke kamarnya, jejak2 penuh lumpur dari sepatunya tercetak jelas di lantai .. dia sengaja melakukan hal itu .. ketika aku meletakan sayur yang sudah jadi di meja ..aku melihat jejak2 tak beradap, dengan kesal aku membanting panci bekas kupakai masak .. lalu mengetuk pintu kamarnya .. " HEY BUKA PINTUNYA !! " bentak ku kesal " Apaan sich berisik .. " kata Yunho sambil membuka pintu malas2 san seakan2 dia baru bangun tidur " Jangan akting !! barusan Direktur masuk kenapa gak lepas sepatu ?? " tanyaku masih kesal " Dasar Phaboo .. mana ada dari tadi aku disini .. " kata yunho mengeles perkataan ku .. aku menyipitkan mataku .. tanda tidak percaya, aku diam saja melihat wajahnya ..dia sepertinya jengah ditatap olehku .. lalu dengan sedetik ekpresinya diganti menjadi ekspresi senyum sinisnya .. " Heh disini aku majikanmu ya .. hormat dikit kenapa !!! " bentaknya kepadaku " Oh ya .. kamu itu benar2 kasihan ya .. sudah jadi OB dikantor .. sekarang jadi pengurus rumah .. kau butuh uang berapa sich ??? aku bisa memberikanmu uang ..sehingga kau tidak seperti namja miskin kaya gitu .. " lanjut yunho dengan pandangan mencemooh.. PLAKKKK ! sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi yunho .. aku benar2 sakit hati mendengar omonganya .. walaupun dia adalah Direktur aku tetap tidak terima .. !! " ASAL KAMU TAHU YA .. WALAU AKU ADALAH OB DAN KERJAAN KU CUMA MEMBERSIHKAN TOILET ATO RUANGAN YANG KOTOR ..AKU BANGGA DENGAN PEKERJAAN KU INI ..DAN WALAUPUN KAMU DIREKTUR DAN MEMPUNYAI BANYAK UANG .. JANGAN PERNAH BERKATA SEPERTI ITU !! AKU CUMA PUNYA HARGA DIRI ,, JANGAN PERNAH MEREBUTNYA DARIKU !!! UANGMU 200RB WON AKAN SEGERA KUKEMBALIKAN !! ARRA !! " Bentaku sambil marah2 .. setelah berkata seperti itu aku mengambil tas ku dan keluar dengan membanting pintu apartemenya .. 0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 " Hah ! kau menampar Direktur ?? Ucap yoochun kaget mendengar ceritaku .. aku mengangguk sedih memikir kejadian tadi .. " kau bisa di pecat loh jae .. " kata yoochun cemas .. aku hanya mengangguk lemah .. benar2 ga mau mikirin akibat kejadian tadi .. tanpa sadar aku menitikan air mata ,yoochun menatap ku prihatin .. lalu dia merangkul pundaku .. "kamu sudah berjuang dengan gigih ya " kata yoochun lirih .. tangisku langsung jebol mendengar perkataan nya ..dalam hati aku benar2 menginginkan kata2 itu dari seseorang yang mengerti aku dan perjuanganku selama ini.. tak perlu ucapan terima kasih .. tapi cukup kata itu membuat ku tersentuh " Tenanglah ..jika itu terjadi aku akan membantumu ... " kata yoochun menenangkanku .. " Kau mau kuantar pulang ??? " tanya yoochun lembut .. aku hanya menggeleng kan kepala .. " ya sudah .. hati2 pulangnya .. " kata yoochun sambil beranjak dari duduknya " gumawoo yoochun kau benar sahabat yang baik banget " kataku sambil tersenyum padanya .. setelah melambaikan tangan aku bergegas pulang ke rumahku .. memang ga jauh sich, tapi jalanan cukup sepi .. sepertinya aku di awasi seseorang .. aku mulai mempercepat jalanku Tiba2 tangan sedingin es meraih bahuku .. ketika aku berbalik dan hendak menjerit .. tapi malah aku tertegun melihat siapa yang menghentikan langkahku .. " Direktur ... " kata ku terbata2.. aku melihat Mata si Evil tampak sayu .. " Kau meninggalkan jaketmu .. hawa SeouL sangat dingin ..bagaimana kau bisa tahan tanpa jaket / syal ? dasar phaboo !! " .. katanya sambil menyampirkan jaketku di bahuku " Kau menungguku ?? lihat tanganmu sampai dingin seperti ini .. " aku melihat tangan yunho pucat seperti tidak dialiri darah " Kau pasti malah lupa membawa jaketmu .. malah mengejarku ,dasar yang phaboo siapa !! " aku tersenyum kecil melihat Direktur super aneh satu ini .. kadang kelakuan nya benar2 menyebalkan,tapi kadang2 seperti anak2 ..polos dan menggemaskan .aku melihat telinganya mulai memerah ..aku sering melihat dia seperti itu .. tapi aku hanya diam tak berani bertanya setelah aku sampai ke rumahku .. dia berbalik pergi tanpa mengatakan apa2, aku hanya bisa melihat sosoknya yang perlahan2 mulai mejauh 0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 "Tunggu jae " suara bening khas junsu memanggilku di koridor " Nde,Direktur .. " kataku sambil membungkuk hormat " Dengar2 kau adalah Pengurus Rumah yunho ?? " tanya junsu.. nadanya benar2 seperti es .. beda seperti biasanya " Nee. Direktur .. waeyoo ?? " tanyaku penasaran.. " Bisa kau berhenti ?? dan berhenti dekat dengan yunho ?? " tanya junsu ..aku terbelalak heran dengan perintah yang menurut ku ga masuk akal .. " waeyoo Direktur ?? " tanyaku tambah ingin tahu " Tidak ada alasan.. aku tidak suka melihatmu dengan nya .. dan percayalah takdirmu dan yunho berbeda .. dia tidak seperti yang kamu pikirkan .."kata junsu Dingin " Bukan urusan Direktur ,yang majikanku dia bukan direktur .. jadi tolong jangan menyuruhku berhenti .. " kataku tegas " aku akan memberi berapapun yang kamu minta !! .. asal kamu segera tinggalkan yunho " kata junsu kehabisan akal " ANDWEE !! .. mianne .. aku tidak bisa .. " kataku sambil pergi meninggalkan junsu " Takdir yunho terlalu berat untukmu .. berhentilah selagi bisa .. " kata junsu sendu .. "Aku tak percaya takdir !! " kataku .. sambil pergi meninggalkan junsu yang masih tertunduk lesu .. seakan senyumnya menghilang entah kemana .. 0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 Junsu pov FLASH BACK : " Aku akan menembaknya .. " ..Kata yunho sambil tersenyum .. " JINJA .. sapa yang mau kau tembak ?? " Tanyaku tak senang " Si jaejoong sapa lagi .. dia namja cantik yang unik ,aku suka ..lagipula dia pasti bisa menerimaku apa adanya .. " kata yunho senang " Aniya .. jangan yunho .. kau tau akibat perkataan mu kan ?? " Aku benar2 kawathir.. " Tenang .. dia tak akan tahu ... " jawab yunho yakin .. " Terserah kau lah " jawabku lirih " Tenang lah suie gak usah cemas .. aku akan berhati2 jangan sampai dia tahu apa yang terjadi padaku .. " kata yunho dengan mata berbinar2 .. " Tapi jika hal itu sampai terjadi .. segera hubungi aku ..atau segera check up oke .. " .. kataku mengingatkan .. " Nee.. gumawoo junsu .. You the best friend .. " kata yunho sambil menampilkan senyum lebarnya .. FLASH BACK end Aku duduk termenung di ruangan kantor.. Tiba2 ada ide menyeruak .. Kuambil ponselku kutekan nomor yang sangat kuhapal " Yobuseyo .. ajumma .. ini junsu ... Nee yunho baik2 saja .. begini ajumma ..sepertinya yunho sedang jatuh cinta dengan seseorang .. tapi dia belum tau tentang yunho .." (.....) " bagaimana ini ajumma yunho sangat menyukai namja itu .. Nee.. .. annyeong ajumma .. " Klik.. suara ponsel dimatikan .. Aku hanya menghela napas sambil melihat layar ponselku " Mianne yunho .. aku tidak mau kau disakiti oleh siapapun lagi seperti dulu2 .. dimana mereka tidak bisa menerima masa lalumu .. kau sudah seperti sodara bagiku .. aku tidak ingin kau disakiti lagi .. " 000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 Yunho pov " Umma .. mengertilah ..aku benar2 mencintainya .. aku tak peduli dia siapa .. dan juga dia berasal dari keluarga mana ,yunho yakin dia bisa menerima semua masa lalu yunho umma "aku berusaha menjelaskan ke pada Umma umma tiba2 datang dari Kanada .. dan langsung bertanya perihal aku ingin menembak seorang namja.. " Apa kau Tau ..selama ini Umma sudah cukup melihat para Mantan2 mu datang dan pergi dan menyakitimu..mereka tidak bisa melihatmu apa adanya ..tidak bisa menerima mu tapi selalu menghabiskan uangmu .. itu yang kau harapkan yunho!" Bentak umma sambil mengelus dada .. " Tapi umma... " sangah ku " TIDAK ADA TAPI2 UMMA TIDAK AKAN SETUJU KAMU MAU MENJALIN HUBUNGAN SAMA DIA .. !!" " Umma ..semua orang ga seperti yang umma bayangin .. !! kumohon percaya lah pada yunho umma .. " kata ku seraya memohon2 .. " APA KAMU BISA JAMIN DIA BISA MENERIMA PENYAKITMU ITU ??? APA BISA ??? " teriak Umma yunho dengan Histeris .. " Setiap umma melihatmu berjuang untuk bertahan hidup umma sudah memantapkan hati .. tapi umma sama sekali tidak rela orang2 itu menyakitimu .. umma benar2 tidak rela .. " tangis Umma jebol.. Aku melihat umma yang menangis menjadi tidak tega .. lalu aku pun merangkul umma dan menenangkanya .. " Kenapa Anak Umma setampan dirimu mendapat penyakit seperti itu .. kenapa yunho anaku .. Ya Tuhan .. ?? " seru Umma disela isak tangisnya .. " Sudahlah umma aku sudah pasrah .. berhenti menangis oke .. love you umma .. saranghae ~ .." kata ku sambil memeluk tubuh ummanya yang bergetar dipelukanku 0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 curhat author : Hwaaaaaaaaaaaaaaaaaa pengen nangis sumpah .. mau dilanjutin author sudah tidak bisa .. mata dah panas banget .. author jadi mikirin kalo kejadian itu sampai terjadi pada diri author .. cukup sampai disini dulu .. minta RCL nya ya ..penting banget .. gumawoo ~ sampai jumpa di Part IV to be continew |
| Grasella C' Meiz bangun+rumah 's link Bab Tiga Sejak pagi buta, Richard duduk termangu menatap langit yang masih gelap diberanda rumahnya. Berkali- kali ia menghela nafas cukup berat. Bayangan dalam ingatannya kembali pada saat Nancy mengatakan bahwa sepupunya itu bisu. Sulit dipercaya, gumamnya kecil lalu kembali menghela nafas. Dari arah belakang, Ferdi yang baru saja bangun menyusulnya dengan penampilan yang cukup berantakan. Ia duduk tepat disamping Richard sambil sesekali menguap untuk menahan kantuk yang masih saja menyerangnya. Richard segera memalingkan wajah lalu menutup hidungnya rapat dengan telapak tangan kanannya. ‘ apa yang kau lakukan disini’ suaranya terdengar parau dan terputus- putus karena diselingi uapan kantuk. Richard menggeserkan duduknya memberi jarak. ‘ apa yang kau lakukan disini, pergi ke kamar mandi dan sikat gigimu’ seru Richard yang terdengar kurang jelas karena mulutnya yang ditutup. Ferdi merengut kesal mendengarnya namun juga cepat beranjak. Baiklah, baiklah. Sepuluh menit kemudian. Aku sudah mandi, jadi jangan protes apapun lagi.’ Tukas Ferdi yang tiba- tiba muncul sambil menyiumi ketiaknya untuk membuktikan bahwa ia benar- benar telah melaksanakan tugasnya. ‘ apa yang kau lakukan dan apa yang sedang kau fikirkan?’ Ferdi langsung menghujani Richard dengan dua pertanyaan sekaligus ketika ia baru saja menghenyakkan pantatnya. Richard hanya melirik sekilas ketika Ferdi kembali mengambil tempat duduk disampingnya. Ia tak menanggapi satu pun pertanyaan yang diajukan. Ferdi menghela nafas lalu kembali ia beranjak dari duduknya dan berlari menuju dapur. lagi- lagi Richard hanya melirik. Tak menunggu waktu lama dari kepergian Ferdi. Kini ia kembali dengan membawa dua cangkir besar kopi. Ia menyodorkan satu cangkir pada Richard penuh dengan senyuman begitu sampai dihadapannya. ‘ Thanks mom’ ledek Richard sejenak sebelum menyeruput kopi miliknya. Ferdi mendengus. ‘ aku bukan ibumu” ujarnya kemudian dan Richard tersenyum simpul mendengarnya. ‘ lantas, apa kau istriku?’ ledeknya kembali yang membuat Ferdi berkali- kali mendengus kesal. Richard tertawa kecil lalu menepuk pelan punggung sahabatnya itu. ‘ baiklah, baiklah, aku akan diam’ sambung Richard yang kembali menyeruput kopinya. Mereka saling terdiam beberapa saat dengan pikiran masing- masing dan serentak menghela nafas. Ferdi melirik Richard yang terlihat lebih banyak diam sejak kemarin. Ia berusaha menerka- nerka apa yang sedang difikirkan Richard, namun gagal. Ia tak bisa membaca jalan pikiran Richard. ‘ apa yang sedang kau fikirkan?’ pertanyaan Ferdi terlalu biasa untuk bisa membuat Richard kaget. Ferdi mengerutkan dahinya. Ini diluar kebiasaan, Richard bukanlah tipe orang yang suka kaget untuk pertanyaan yang sepele, gumam Ferdi didalam hati. ia menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan pertanyaannya. Ada apa denganmu? Richard menjadi kikuk dan terlihat seperti orang yang sedang bingung mencari alasan. Ferdi tetap menanti Richard mau bicara padanya tentang apa yang difikirkannya. Ia hendak menggeserkan duduk disaat Richard mengeluarkan sedikit suaranya. ‘ Nancy. Sepupunya. Benarkah dia bisu?’ ucapnya terbata- bata. Ferdi menatap serius dan memasang telinga untuk mendengar kalimat selanjutnya. ‘ sulit untuk dipercaya jika dia memang bisu’ lanjut Richard yang membuat Ferdi semakin penasaran. Apakah itu masuk akal? Tanya Richard yang kemudian menoleh pada Ferdi yang ada disampingnya. Ferdi mencebikkan bibirnya sembari mengangkat bahunya. ‘ entahlah, mungkin saja itu benar. Memangnya kenapa? Kau menyukainya?’ tanya Ferdi kembali yang membuat Richard mati gaya dengan menggelengkan kepalanya. ‘ apa yang sedang kau bicarakan? Mana mungkin’ sahut Richard cepat yang menyangkal dugaan Ferdi. Ia menarik nafas cukup dalam dan mengalihkan perhatiannya pada hal lain sedangkan Ferdi berdehem ria menggoda Richard yang telah memalingkan wajahnya. ‘ aku hanya penasaran dan lihat ini’ tukas Richard menunjukkan ponselnya yang berbunyi. Ferdi mengangguk mengerti dan Richard beranjak dari tempat duduknya menjauhi Ferdi. Ia menjawab panggilan masuk itu dan.. Halo Natalie. **** Nancy tengah bersiap- siap dikamarnya. Sudah tiga hari mereka berdiam dikamar tanpa melakukan aktifitas apapun dan hari ini Nancy telah menjadwalkan untuk mengelilingi kota Adelaide. Liana setuju dengan rencananya, namun sejak tadi Nancy tak juga melihat batang hidung gadis itu keluar dari kamarnya. Nancy mengapit tas kecilnya yang bertali dilengan dan menggenggam erat ponsel berwarna pink ditangan kanannya lalu keluar dari kamar. Ia terlihat santai dimusim panas ini dengan memadukan t-shirt putih, hot pants hitam dan flat shoes. Kemudian ia melangkah mendekati pintu kamar Liana lalu mengetuknya. ‘ Liana, kau sudah siap?’ tanya Nancy dari balik pintu, namun ia tak mendapatkan jawaban. Ia mengetuk sekali lagi dan tetap tak mendapat sahutan dari dalam. ‘ astaga. Liana kan tak bisa bicara. Bagaimana bisa ia menyahut. Dasar bodoh’ Nancy mengutuk dirinya yang lupa tentang fakta Liana yang tak bisa bicara. Cepat ia meraih gagang pintu lalu membukanya. Liana. panggil Nancy pelan. Kamarnya kosong. Liana tidak ditempat. Nancy mencari keseluruh ruangan dan tak menemukan sosok Liana dimana pun. Ia mulai panik lalu cepat ia menghubungi ponsel Liana. Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif. Nancy bertambah panik. Ia mengulangi panggilan dan hasilnya tetap sama. Liana tak mengaktifkan ponselnya. Liana, dimana kau? Ucapnya pelan yang terus mencoba untuk menghubungi Liana. Nancy merasa frustasi. Haruskah ia menghubungi paman Wilson dan mengatakan bahwa Liana menghilang?, tapi itu tidak mungkin. Ia bisa membuat masalah jika melakukannya. ‘ ini tidak benar’, gumam Nancy. Ia mengecek semua barang Liana yang ada dikamar dan semua ada. Semua barang Liana masih ada di kamarnya. Lantas kemana Liana pergi sendirian? **** Berjalan kaki dari hotel menuju pantai barat seorang diri. Liana memandangi langit biru cerah dengan hembusan angin yang pelan meniupkan setiap helai rambutnya yang panjang. Ia melarikan diri dari Nancy. Bukan, lebih tepatnya ia ingin mendinginkan kepalanya yang sempat terbanting keras mengingat buruknya mimpi yang selalu datang dan menghantuinya disetiap malamnya selama empat belas tahun. Disepanjang jalan ia menemui banyak orang yang tersenyum ramah dan juga ada beberapa yang memandangnya aneh. Mungkin itu karena ia yang santai berjalan menikmati terik matahari sendirian. Liana menapaki aspal dan menatap bayangannya yang tiba- tiba berubah menjadi tiga. Ia terlonjak kaget dan bergeser kesamping. Ia mendapati seorang pria yang kini berjalan seirama dengannya. Richard, Ferdi. Liana menyebut nama itu dalam hati dengan ekspresi bingung. Bagaimana bisa dia ada disini? Hai. Sapa Ferdi pada akhirnya disertai senyuman yang sedikit aneh. Liana berusaha tersenyum dengan dahinya yang berlipat penuh tanya. ‘ dunia itu sangat sempit sehingga kita bisa bertemu disini. apa kabar?’ ujar Ferdi yang membuka pembicaran terlebih dahulu dengan mengulurkan tangannya. ‘ kau masih ingat aku kan? Ferdi, dan ini Richard, temanku’ lanjut Ferdi kemudian dengan cengiran kuda pada senyumannya. Liana hanya menyambut uluran tangan tanpa bicara sedikitpun. Setelah itu ia pun berlalu dari hadapan dua pria asing yang baru dikenalnya. Ferdi dan Richard bergantian memandang setelah Liana pergi meninggalkan mereka begitu saja. Mereka menghela nafas bersamaan. Gadis yang aneh. ‘ Bagaimana bisa ia jalan sendirian ditempat yang asing tanpa memerlukan bantuan kita’ tukas Ferdi yang merasa kesal karena kepergian Liana. Kemudian Richard menepuk punggung Ferdi, ‘ dia itu bisu, bukan buta. Kenapa dia perlu bantuan kita’. Ferdi mengangguk seakan paham. ‘ benar juga. Tapi setidaknya ia juga butuh kita untuk teman bicara, atau sebagai penunjuk jalan.’ Ucapnya mantap namun Richard kembali menepuk punggungnya. Ada apa? Seru Ferdi yang berteriak merasa kesakitan. ‘ dia tidak butuh teman bicara karena dia itu bisu. Lagi pula, apa kau bisa bahasa isyarat?’ tanya Richard serius diselang- selang langkah mereka menyusuri jalan. Ferdi menggeleng cepat tanpa perlu berfikir. Ia memang tak bisa bahasa isyarat. Tapi setidaknya ia mengerti apa yang kita bicarakan, pikir Ferdi tanpa menyuarakannya. ‘ bagaimana jika dia juga tuli. Tidakkah kau tahu jika orang bisu identik juga dengan tuli’ tukas Richard yang semakin membuat Ferdi terpojok untuk bicara tentang Liana. ferdi mendesah lalu menatap langit. ‘ ah, malang sekali gadis itu. Cantik memang, tapi kalau bisu dan juga tuli. Apa gunanya dia? Apa ada pria yang mau berkencan dengannya?’ ujar Ferdi yang kemudian mengambil langkah besar dan melanjutkan jalannya yang sempat terhenti sebelum Richard kembali memukulnya. Ferdi salah. Kali ini tidak, Richard tak melakukan apapun. Ia terpaku menatap langit ditempatnya berdiri. Pelan ia menyebutkan nama Liana dan membiarkannya mengambang diudara. Ia menarik nafas panjang sebelum kembali melangkah. Namun cepat langkahnya terhenti ketika seseorang berteriak memanggil namanya. Ia menoleh kebelakang dan mendapati seorang gadis cantik berpenampilan modis tengah melambaikan tangan ke arahnya sembari tersenyum dari seberang jalan. Richard ikut melambaikan tangan dan tersenyum. Richard menanti ditempatnya dan gadis cantik itu berlari kearahnya dengan mengenakan sepatu hak tinggi sepuluh senti. Ia sedikit tercengang melihatnya sebelum gadis itu cepat memeluknya. Richard. Gadis ini terlihat senang memanggil namanya. Richard membalas pelukan. Hai, Natalie. **** Nancy menghubungi Jack dan bicara dengan nada yang cukup panik untuk menyatakan bahwa Liana menghilang. Apa maksudmu dengan menghilang? Tanya Jack yang berada diseberang telepon. Nancy tak segera menjawab. Ia berusaha mengatur nafasnya agar suasana tak berubah dramatis. ‘ dia tak ada dikamarnya. Tapi barang- barangnya masih ada. Mungkinkah ia diculik? Tukas Nancy menyebutkan dugaannya. Ia memang seorang yang paranoid. Ia panik seperti ini karena dulu ia pernah mengalaminya. Sewaktu mereka masih berusia dua belas tahun. Ia dan Liana bermain ditaman. Mereka bermain petak umpet. Nancy mendapat jatah untuk berjaga sedangkan Liana bersembunyi. Nancy tak bisa menemukan keberadaan Liana hingga permainan berakhir. Liana tak menampakkan dirinya hingga satu minggu. Kabar yang ia dengar Liana diculik dan ia tak bisa berteriak begitu penculik menyergapnya dari belakang. Liana ditemukan polisi disebuah rumah tua yang tak lagi berpenghuni disisi lain kota New York dalam keadaan pingsan. Ia yang menjadi teman bermain saat itu menjadi penyebab menghilangnya Liana karena membiarkannya bersembunyi tanpa pengawasan. Nancy memberontak dan semenjak itu hubungannya dengan Liana merenggang. Kini, peristiwa itu terulang lagi dan Liana hilang saat berada dibawah pengawasannya. Apa yang harus ia lakukan.? Hey, nancy.’ Panggil Jack yang membuyarkan lamunannya. Nancy menggumam pelan. Rasa takut dalam dirinya kembali tumbuh. Ia takut disalahkan lagi oleh keluarganya karena tak pandai melindungi Liana. Nancy menangis terisak dan Jack hanya terdiam. ‘ hey, jangan seperti ini. Liana itu sudah besar. Dia pasti sedang berada disuatu tempat. Kau jangan khawatir, dia pasti kembali. Dengarkan aku Nancy. Jangan katakan pada ayahku tentang ini. kau harus cari semua kemungkinan. Namun jika Liana tak dapat ditemukan juga. Segera hubungi polisi. Mengerti?’ penjelasan Jack cukup panjang lebar untuk bisa dimengerti. Nancy mengangguk walau Jack tentu tak bisa melihatnya. ‘ Aku akan mencarinya’ ujar Nancy sebelum memutuskan panggilan dengan Jack. Ia terduduk lemas disudut ruangan. Ia menangis sesegukan dan sebuah panggilan kembali masuk pada ponselnya. Ferdi. Nama itu tertera dilayar ponsel dan Nancy menjawabnya tanpa ada semangat. Hey, dimana? Kenapa tidak pergi bersama Liana? Nancy mendongakkan kepalanya yang semula tertunduk setelah mendengar Ferdi menyebut nama Liana. ‘ kau tahu dimana Liana?’ tanya Nancy dengan penuh harapan. Ferdi mengiyakan dan Nancy tersenyum lega. Dimana dia? **** Menyempatkan diri untuk bersantai tak ada salahnya. Menikmati teriknya matahari dibawah teduhnya sebuah kafe. Liana terlihat fokus menulis buku yang dibawanya sejak tiba dan menduduki salah satu kursi tanpa menyentuh minumannya sedikitpun, kemudian segera ia mengeluarkan ponselnya yang mati lalu menghidupkannya kembali. 20 panggilan tak terjawab. Nancy, Jack. Liana tersenyum geli membayangkan betapa kalang kabutnya mereka berdua mencari dirinya. Ia hanya memiliki waktu lima menit untuk ponselnya sebelum meletaknya kembali di atas meja. Liana kembali menulis dan tiba- tiba kursi yang ada didepannya diduduki seorang pria yang tak ia kenal. Liana mendongakkan wajahnya untuk melihat orang yang ada dihadapannya. Seorang pria, tinggi dan .... tampan. Liana memandang pria yang tengah tersenyum kepadanya tanpa berkedip sedikitpun. Andaikan ia bisa bicara, sudah pasti ia akan bicara terbata- bata karena saking gugupnya. ‘ Bolehkah saya duduk disini?’. Liana kembali terpaku. Suaranya terdengar begitu tepat untuk melengkapi kesempurnaan dirinya. Cepat ia mengangguk dan mengisyaratkan untuk duduk dengan tangannya. ‘ aku Julyan’ ujarnya memperkenalkan diri. Liana hendak menyebutkan namanya, namun cepat ia tersadar akan kondisinya yang tak bisa bicara. Ia merasa minder, segera ia menarik diri setelah membereskan bukunya yang ada dimeja dan memasukkannya kedalam tas. Liana beranjak pergi meninggalkan pria yang bernama Julyan itu dengan kebingungan. Hey, mau kemana? **** Musim panas memang musim yang benar- benar ‘ panas’. Semua tahu arti pandangan Ferdi dan Richard saat melihat beberapa wanita berbadan gemuk memaksa diri dengan mengenakan pakaian yang cukup ketat. Mereka berdua cekikikan dalam mulut yang tertutup rapat oleh telapak tangan. Natalie, gadis berparas cantik dan juga seksi ini hanya tersenyum mencibir melihat tingkah dua pria aneh disampingnya. ‘ hentikan lelucon kalian. Biarkan mereka berekspresi’ cara bicara Natalie memang terdengar seperti seseorang yang tengah membela seseorang yang tengah tertindas dan dua pria aneh disampingnya semakin cekikikan dengan seyum yang sedikit meremehkan. Natalie melipat kedua tangannya didada dan mengangkat bahu, ‘ aku pergi dulu’ pamitnya sebelum berlalu dari hadapan Richard dan juga Ferdi. Namun cepat Richard menahan lengannya. Mau kemana?. Natalie tak menjawab. Dari sudut matanya ia melirik pria ini penuh arti. ‘ aku akan kembali ke Sidney’ jawabnya singkat sembari perlahan melepaskan cengkeraman tangan Richard pada lengannya yang kurus. Natalie kembali berjalan dan Richard kembali menahannya. Ferdi yang menjadi saksi hidup diantara mereka hanya berdehem. Ia berusaha mengalihkan perhatian dengan isyarat ‘ ada hal penting yang harus kita saksikan’. Ferdi mengangkat dagunya dan menunjukkan sisi lain jalan. Dari kanan tampak Liana memegangi tas tangannya dan berjalan menunduk lemah. Sedangkan dari kiri tampak Nancy yang berjalan terburu- buru. ‘ akan terjadi sesuatu yang dramatis disini’ senyum Ferdi penuh arti. Richard dan Natalie mundur selangkah memperhatikan mereka sebagai pihak penonton yang berada dikursi tengah. Mereka bertiga bersandar pada mobil sport biru langit yang cukup menyilaukan jika saja mereka tidak parkir dibawah pohon. Liana. Nancy berteriak memanggil gadis yang berada dilain arah dengannya. Liana refleks mendongakkan kepalanya dan mendapati Nancy telah berdiri dihadapannya dan, PLAK. Liana memegangi pipinya yang berubah merah bekas tangan Nancy yang melekat serentak dengan teriakan histeris beberapa orang yang ada disekitar mereka. Ouuu... Liana kaget bukan main mendapati tamparan keras pada pipinya tanpa alasan yang jelas. Liana menggerakkan tangan berupa bahasa isyarat untuk membentuk beberapa kalimat namun Nancy cepat mengibaskan tangannya. Nafasnya yang terdengar memburu terlihat dari gerakan bahunya yang naik turun dengan cepat. ‘ jangan bicara. Dengarkan saja aku. Kau tahu, kau membuat semua orang khawatir dengan,..’ Kalimat Nancy terputus ketika tatapannya berpindah seiring Liana yang berlalu dari hadapannya. Nancy teriak histeris, ‘ dengarkan aku Liana’. Tetapi sia- sia. Liana tak lagi mau menghiraukan keberadaan Nancy. Ia terus berjalan tanpa memperdulikan banyak pasang mata yang tengah memperhatikan langkahnya sambil berbisik- bisik. Richard cs termangu ditempat setelah menyaksikannya. Ferdi berdecak kagum akan tindakan Nancy yang sedikit dibilang ‘ brutal’. Richard mengiringi langkah Liana dengan pandangan matanya. Sedangkan Natalie, gadis ini tak terlalu peduli. Itu bukan urusannya **** Liana kembali ke hotel namun tak kembali ke kamarnya. Setelah membeli beberapa makanan dimini market ia mengunjungi hotel sebelah yang memiliki pier. Ia berjalan hingga ujung pier yang menghantarkannya pada hamparan laut biru luas yang dihiasi cahaya eloknya keemasan matahari terbenam. Tiupan angin laut serta merta membelai rambutnya yang terurai. Ia memang sengaja membiarkan rambutnya acak- acakan. Sesekali ia mendesah kesal mengingat kejadian saat Nancy menamparnya didepan orang ramai siang tadi. Apa salahnya? ‘ jangan pernah berfikir unuk bunuh diri. Tidak baik untuk gadis cantik sepertimu’ Liana tersentak kaget melihat ada bayangan lain yang tengah bicara kepadanya. Ia membalikkan ke badan. Sinar sunset yang cukup menyilaukan menutupi wajah orang yang ada dihadapannya dan membuatnya kesulitan untuk bisa mengenali. Siapa? Bisiknya dalam hati. Raut wajahnya tampak menyeringai dengan mata yang disipitkan. Liana berusaha menutupi matanya dan samar- samar ia melihat senyum yang pernah ia lihat beberapa waktu yang lalu. Seakan tahu apa yang sedang difikirkan orang itu bergeser kesamping dan membuat bayangan keemasan matahari menghilang dari wajahnya. ‘ aku Julyan, kau masih ingat?’ Liana mengerutkan dahi memikirkan nama yang pernah didengarnya . Julyan?. Oh, dia. Pria kafe siang tadi. Liana mengangguk mengerti akan ingatannya tentang pria yang benama Julyan. Setelah itu ia membalikkan badan, memunggungi Julyan dan bertingkah seolah tidak terjadi apa- apa. Julyan tersenyum lebar. Ia menyimpan tangannya yang sempat terulur lalu berdiri disamping kanan gadis yang cukup misterius baginya. ‘ siapa namamu?’ tanyanya dengan senyum manis yang tetap mengembang diwajah tampannya. Ia melirik gadis yang ada disampingnya karena tak mendapatkan jawaban. Gadis itu, Liana. Ia mengambil ponsel dari tasnya. Lama ia mengotak- atik namun tak dapat menemukannya. Liana panik, kemudain ia duduk dilantai pier lalu mengeluarkan satu per satu semua isi tasnya. Tidak ada, kemana ponselku? pikir Liana dalam hati. Ia terduduk lemas dengan kenyataan terbaru yang dihadapinya. Sempurna, tanpa ponsel ia akan jadi gembel sejati dinegeri orang. Bagaimana ini. Julyan. Yang sedari tadi menanti jawaban yang tak kunjung didapatnya kini ikut serta duduk dilantai pier. Tak peduli bagaimana tanggapan orang. Liana? Panggil Julyan hati- hati. Liana mendongakkan kepalanya yang sempat tertunduk. Ia menatap lesu orang yang ada dihadapannya dengan sejuta pertanyaan yang melayang dikepalanya. Bagaimana dia bisa tahu namaku? Ini. Julyan menyerahkan sebuah benda yang mirip dengan ponselnya. Liana mengerutkan dahi. Ia memang kehilangan ponsel, tapi bukan berarti dia harus menerima ponsel pemberian orang lain. Tapi, tunggu dulu. Bukankah, Liana cepat meraih ponsel yang berada ditangan julyan. Ia memperhatikan dengan seksama dan.. benar saja. Ini memang ponselnya. Ada stiker dengan gambar hati berwarna hijau. Ia tersenyum sesaat lalu senyum itu hilang berganti dengan dengusan kesal dan tatapan menuduhketika melihat julyan. Tak ingin disalahkan lebih lanjut. Julyan berinisiatif untuk bicara terlebih dahulu. ‘ tenang, jangan salah paham. Ponselmu ketinggalan dimeja saat dikafe tadi. Aku memungutnya, aku memanggilmu, tapi kau tak menghiraukannya. Aku mengikutimu untuk mengembalikan ini secepatnya. Tapi sepertinya tadi ada masalah. So, aku tunggu waktu yang tepat untuk melihatmu diatas pier ini’ jelas julyan cukup panjang lebar diiringi senyum kaku. Akan rumit sekali jika ia sempat salah bicara. Liana mendesah. Ia menatap ponselnya untuk beberapa saat sebelum mengetik sebuah pesan singkat dan menunjukkannya pada julyan. Terima kasih, julyan. Aku liana. Maaf atas kekacauan yang kau lihat demi mengembalikan ponselku. sekali lagi terima kasih. Dan,jangan ajak aku bicara lagi. Maaf, aku bisu. Julyan membacanya lalu bibirnya membulat membentuk sebuah huru ‘ o’. Ia menyerahkan kembali ponsel liana dan tersenyum kikuk lalu mengangguk. Tidak apa- apa. Kemudian mereka berdua berpandangan untuk beberapa saat dan hal itu cepat berlalu ketika seseorang meneriakkan matahari terbenam. Lihat. Mataharinya akan tenggelam. **** I’m sorry jack. Aku tak bermaksud seperti itu.aku hanya. Tut.. tut.. tut... Sambungan telepon terputus. Nancy terduduk lemas disofa setelah menceritakan kepada jack insiden saat ia menampar liana. Ingin tahu apa reaksi Jack?. Tentu saja marah. Nancy mengacak rambutnya. Ia memperhatikan jam dinding yang telah menunjukkan pukul sepuluh malam dan liana belum juga menampakkan batang hidungnya. Arrrggghhh. Nancy berteriak kencang hingga suaranya memenuhi ruangan dan membuat semua orang bergidik saat mendengarnya. Sial. **** Richard dan Ferdi kembali berjalan bersama dibibir pantai pada malam hari. Mereka masih terlihat ‘ akrab’ seperti hari kemarin. Hanya saja kali ini mereka saling merangkul. Lama mereka berjalan hingga berhenti pada hotel yang disinggahi oleh nancy dan juga liana. Ferdi menunjuk pintu masuk hotel dan menemukan sosok yang ia kenal. Bukankah itu liana? **** Julyan mengantarkan lian kembali ke hotel setelah makan malam bersama disebuah resto kecil dipinggir pantai. Mereka jalan beriringan dan sepanjang waktu, mereka menghabiskannya dengan lebih banyak diam. Liana tak berniat untuk melakukan obrolan bisunya malam ini. Julyan berhenti dan membiarkan liana berdiri didepan pintu hotel.. ia menggaruk kepalanya yang tak gatal sebelum mengeluarkan sebuah ponsel. Ia ingin mengucapkan selamat malam namun tak tahu bagaimana caranya. Liana membalikkan badan sesaat, lalu melambaikan tangannya dan tersenyum manis. Julyan menyambutnya dengan senang. Kemudian ia berdiri, menekan sejumlah nomor dan melekatkan ponselnya pada telinganya. Disisi lain. Liana memeriksa ponselnya yang berbunyi. Ada nomor baru yang tersambung pada ponselnya. Liana mengangkatnya dan seseorang bicara. Selamat malam, liana. **** |
| Rama Ezyandino Jamdo bangun+rumah 's link Beralih ke ruangan belakang. Alfa : "kak maya..!" menghentikan langkahnya. Maya menoleh pada Alfa. Alfa : "aku ingin melihatnya." Maya : "jangan, kita harus sembunyi. Papa suruh kita sembunyi." Alfa : "aku takut papa sama mama kenapa-napa." Alfa mengintip lewat dinding pembatas ruang tengah dan dapur. Tubuhnya berada di balik dinding. Hanya sebelah dari kepalanya terlihat mengintip. Terpaksa Maya ikut mengintip, sementara Nando ia sembunyikan di balik punggungnya. Bertubi-tubi pukulan dan tendangan mengarah ke Inspektur Dhan. Semuanya tidak ada yg kena. Bahkan Dhan berhasil melayangkan tinjunya ke wajah Eko. "aa.." eko terjejer ke belakang. Namun kemudian Dhan tak sempat mengelak tendangan Yon. Kaki Yon mendarat di perutnya. Dhan terjatuh. Mya : "aw.. Papa..!" berteriak. Secepat mungkin Dhan bangkit dan membalas. 'BUK' kening Yon di tinju oleh Dhan. Yon : "aaah.. Kurang ajar." berikut Dhan menendang Devi, wanita itu jatuh ke atas meja. "Bruk." Devi segera bangkit dan kembali menyerang, Eko juga. Dan 4 orang lainnya juga menyerang Dhan. Alfa : "kak, lawan papa banyak sekali. Kasian papa." menatap iba. Maya : "tenang, papa pasti bisa mengalahkan mereka semua, papa kita kan jagoan. Ayo kita berdo'a supaya papa menang." Mya berjalan menuju ke Telfon. Dia lansung mengangkat gagang telfon. Yon melihatnya dan lansung menembak Mya. Seketika terdengar teriakan Mya, saat peluru menembus bahu belakangnya. Mya lansung jatuh di lantai. Dhan : "mama !!" terkejut. Alfa, maya : "mamaaa...!!??" Alfa hendak berlari ke depan, tapi Maya memegangnya. Maya : "fa.. Jangan..!" Alfa : "kak.. Mama kak..!!" mulai nangis. Nando : "mama kenapa?" Dhan jadi lengah mendengar suara teriakan istrinya. Akibat kelengahan itu, dia terkena pukulan lawan-lawannya. Inspektur Dhan roboh, jatuh di lantai. Alfa : "papa...!?" Yon : "hahahaaa.." menginjak kepala Dhan. Yon : "Inspektur Dhan.. Kenapa..? Bukankah kau ingin menangkap ku ! Ini aku, ayo tangkap.. Ayo tangkap aku. Hahahaaa...!" 'Paaank' Yon menendang kepala Dhan. Menyaksikan hal itu, Alfa sangat marah, emosinya naik. Tubuh alfa bergetar dan mengeluarkan keringat. Dia ingin berlari kesana, lalu menghajar orang yg telah menyakiti ayahnya. Namun Maya memegang kuat tubuh Alfa. Maya : "kau tetap disini." Alfa : "tapi kak, aku ingin menolong ayah." terisak. Maya : "jangan.." menggeleng. Maya : "jangan sia-sia kan hidupmu. Jika kamu kesana, kamu akan mati. Cepat pergi, selamatkan dirimu dan adik kita. Untuk melawan dia, kamu harus jadi lebih kuat dari pada sekarang. Bukankah kamu ingin menjadi orang paling hebat di dunia, kamu harus wujudkan itu." Alfa : "tapi kak..." Maya : "pergilah.. Cepat pergi.. Bawa Nando pergi. Kalian anak laki-laki, kalian pasti bisa mencari kehidupan diluar sana." sambil nangis. Alfa : "kak..." sedu sedan. Maya : "pergilah.. Pergi, bawa Nando..!" Selesai berkata maya lalu berlari kearah Yon. Maya : "papaaa..." teriak sambil nangis. Yon masih tertawa melihat Inspektur Dhan yg sudah tak berdaya. Lalu mengacungkan pistol ke kepala Dhan. Yon : "haahahaa.. Tamatlah riwayatmu Inspektur Dhan." dan, pistol di tangan Yon memuntahkan pelurnya, tepat di kepala Dhan. Maya : "papaaa... Tidaaaak." setelah itu, Yon menembak Maya. Tepat mengenai jantungnya. Gadis itu jatuh tertungkup di lantai, bersimbah darah. Alfa menyaksikan itu, sambil meratap. Dia pun ingin berlari kesana, tapi apa yg tadi diucapkan oleh Maya terngiang kembali di telinganya. "untuk melawannya, kamu harus jadi lebih kuat dari sekarang." "pergi.. Bawa Nando !" Alfa hanya bisa menangis, lalu membalikkan badan. Ia lihat Nando pun tersedu dibelakangnya. 'Dor'. Ledakan pistol kembali terdengar. Mya yg masih mempunyai sisa Nafasnya, menembak ke arah Yon. Namun mengenai salah seorang anak buah Yon. Yon balas menembak, membuat Mya harus menyusul Suami dan anak gadisnya. Yon : "periksa semua ruangan di rumah ini." menyuruh anak buahnya. Yon : "Bunuh siapa saja yg kalian temui, pasti masih ada orang. Setahuku, dia memiliki 3 anak. Cari ke 2 anak laki-lakinya." anak buah Yon, segera memeriksa ruangan rumah itu. Eko : "kami tidak menemukan ada orang lagi bos !" Yon : "sial, kemana ke dua anak laki-lakinya..?, cari sampai ketemu." ... Sudah hampir Dini Hari. Terlihat Alfa, duduk bersandar pada tembok sebuah gedung. Nando telah tertidur lelap dipangkuannya. Kedua anak itu sangat letih. "papa...mama...kak maya..." berlahan kata itu terucap dari bibir Alfa. Dia masih menangis. Kejadian tadi masih menari-nari di pelupuk matanya. Tak bisa hilang dari ingatan. Alfa : "Yon..! Aku tidak akan pernah melupakan nama itu..!!, suatu hari nanti.. Aku akan membalas semuanyaaa...!!" kalimat terakhir, diucapkan dengan sangat keras. ( Habis ) ... |
| Rin Izthar bangun+rumah 's link TALSS (Takoru Another Life Side Story) Rey's journey "special event" part 1 "a stray cat meet a master" pagi menyambutku dari kesunyian malam, sang mentari pagi dengan jahilnya mengusik tidurku yang nyenyak. seakan mengisengi-ku untuk segera bangun untuk melanjutkan perjalanan. namaku Ray, Ray Heartnet. aku salah seorang yang selamat dari perang perang besar yang menimpa negri tempatku tinggal yaitu "Plama". aku mencari seorang pria bernama Jafar, seorang Asasins yang membunuh orang yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri yaitu Alicia. ah aku lupa, aku masih terbaring lemah dalam keadaan luka parah sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan. aku di rawat di sebuah rumah dekat pinggiran singai yang terletak di dalam lembah bernama "mangolia", sudah hampir sebulan aku disini. "ah sudah bangun rupanya kamu ray, ini aku bawakan roti dan semangkuk sup hangat, setelah kamu makan aku akan mengganti perbanmu" aku lalu bangun dari tempat tidurku untuk menuruti ucapannya. ah aku lupa memperkenalkan siapa ia, ia bernama Emilia Serafhimia. aku tidak tahu ia siapa dan kenapa dia mau merawatku. "terima kasih makanannya, emilia." kataku "nah, sekarang sini biar aku ganti perbanmu" cetusnya sambil membalik badanku dan membuka perban yang melilit di badanku ini. "sudah hampir sembuh ya, tidak ada masalah dengan jahitannya, aku rasa sudah tidak harus di perban lagi" terangnya. "benarkah?" tanyaku. "iya, paling kamu harus bisa menyembuhkan staminamu agar bisa kembali seperti semula" katanya sambil tersenyum sembari membersihkan badanku dengan lap basah hangat yang sudah disiapkannya. "emilia" "ya?" "kenapa kamu menolongku?" tanyaku. aku selalu menanyakan ini setiap pagi saat ia membersihkan lukaku. "memangnya perlu alasan?" jawabnya. ya, dia hanya menjawab hal itu. tidak pernah memberitahuku secara pasti kenapa dia mau berbuat seperti ini. "terima kasih, kalau tidak ada kamu. mungkin aku sidah mati sekarang" kataku. "kamu itu ya terima kasih terus yang diomongin sebulan ini, aku bosen tahu" candanya tapi juga sedikit bernada serius. "ini aku kembalikan" ia menyerahkan sebuah benda yang dibungkus oleh kain putih itu kepadaku. "keliahatannya sudah saatnya aku mengembalikan ini" setelah menyerahkan benda ini, emilia mencium pipiku kemudian beranjak dari tempat duduknya sembari membawa pergi ember dan perban yang digunakannya untuk membersihkanku. aku kemudian membuka kain itu dan meletakannya di samping tempat tidur. benda itu adalah sebuah "Cross Bow" berwarna hitam keemasan yang terbuat dari logam asing bernama orihalcon, nama senjata itu "Hades". aku mendapatkan senjata ini sewaktu masih jadi pasukan anggota pembunuh "Chronos". aku mengkhianati organisasi itu untuk memburu Jafar, sehingga diburu untuk dibunuh agar rahasia organisasi tersebut tidak bocor. tapi tampaknya aku harus melupakan dendamku terhadap Jafar, karena sepertinya aku sudah menemukan rumah untuk pulang. Ray Heartnet sang kucing liar, sekarang sudah tidak ada lagi. ada seseorang yang harus kujaga, seseorang yang sudah menyelamatkanku Emilia Serafhimia adalah majikan baruku. bersambung.... oke, gua curhat gambaran tokoh: Ray Heartnet : Emilia Serafhimia: cross bow "HADES" Jafar: apa itu TAKORU ANOTHER LIFE SIDE STORY? pertama kali dibuat Fajar Adi Permana untuk cerita intern Takoru aja, kemudian karakter Ray sendiri tumbuh besar di masa depan setelah event TALSS yang sebenarnya. |
| Yaoi fanfiction all about korean Almost EXO bangun+rumah 's link TITTLE : I GOT A BOY MAIN PAIR : Park Chanyeol,Byun Baekhyun,Wu Yi Fan OTHER CAST : Do Kyungsoo,Kim Jongin,Kris,Kim Joon Myeon,Luhan,Oh Sehun and other. AUTHOR : ^_Ver Lee_^ Desclaimer : EXO milik Tuhan dan keluarganya sendiri :p Rate : T Genre : mengikuti cerita , tentuin sendiri deh :D Ide ff ini murni dari otak Author, tidak menjiplak siapapun,oke?!! Summary : Menikah dengan seorang namja adalah suatu hal mustahil yang tidak pernah terfikirkan sedikitpun didalam otakku, tapi jika namja itu adalah kamu , bisakah aku menolaknya?! . . “Appa dan Eomma yang keterlaluan , kenapa menjodohkanku dengan seorang namja ?? apa yeoja masih kurang banyak didunia ini,eoh?” “Pokoknya kau harus menikah dengan salah satu anak Sehun dan Luhan, Park Chanyeol ! ini tidak main-main” . . “Aigoo..sombong sekali , hei kau ingat baik-baik perkataanku,okay? Aku samasekali tidak tertarik padamu atau pernikahan ini , jadi,..kau jangan salah sangka padaku” “Aku tahu. Jadi..bisakah kau keluar?” CHAPTER 1 . . “Cih..kenapa juga harus aku yang menjadi calon suamimu” ucapan terakhir itu mengiringi suara debuman pintu yang cukup memekakan telinga. BLAM ! CKLEK. Namja bermata bulat itu menolehkan kepalanya saat mendengar pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok namja manis yang masih memakai kaos v-neck berwarna putih. Sepertinya namja itu memang baru selesai mandi dilihat dari baju santai yang ia kenakan. “Baekhyun Hyung , kenapa kau mandi lama sekali eoh?” tanya namja bermata bulat yang masih duduk didepan kaca rias. “Mianhae ,Kyungie. Hyung memang sengaja mandi dua kali , hehe” Baekhyun tertawa kecil melihat dongsaeng nya itu yang mengerucutkan bibirnya sebal. “Cepatlah bersiap-siap , semuanya sudah hampir dimulai. Kau pemeran utamanya malah masih belum apa-apa” namja bermata bulat itu beranjak dari duduknya dan menyeret Baekhyun lalu mendudukkan hyungnya didepan kaca rias. “Aku akan merias mu,Baekkie Hyung” “Baiklah ! ” Baekhyun tersenyum tipis. . . Kedua pintu besar nan lebar itu terbuka perlahan-lahan. Semua mata para hadirin langsung mengarah pada pintu besar yang perlahan-lahan menampilkan sosok namja mungil dan sangat manis dengan mahkota diatas kepalanya. Namja manis itu berjalan anggun menuju altar pernikahan didampingi sang appa yang memang masih sangat muda untuk seukuran appa pada umumnya. Senyum tipis bak snow white seakan menyihir mata siapapun untuk tak hentinya menggumamkan sesuatu penuh takjub pada sosok ciptaan Tuhan yang memang sangatlah cantik walau ia seorang namja. Berbeda dengan pandangan penuh takjub dari para hadirin, kedua mata seorang namja tinggi yang sudah berdiri diatas altar justru membulat sempurna. Raut wajah bingung sangat kentara pada namja tampan itu, hingga ketika sang namja manis sudah tiba didepan nya, namja tampan itu tak merespon apapun yang harusnya meraih tangan pengantin nya dari tangan sang appa. “Chanyeol-ah” panggil sang appa lirih. Chanyeol langsung tersadar dari kebingungan nya dan langsung meraih tangan sang namja mungil nan manis itu dari tangan sang appa. “Kau..pengantinku?” tanya Chanyeol pada namja manis itu ketika sang appa sudah berjalan menjauh. “Ne. Waeyo?” namja manis itu memiringkan kepalanya bingung. “A-ani , apa benar kau seorang namja? Bukan apa-apa ! tapi kau..sangat cantik” Chanyeol tidak bohong. Pengantin nya itu memang benar-benar manis dan cantik untuk seukuran namja , tapi..bukan itu yang ia bingungkan sejak tadi. “Terima kasih, tapi kau harus ingat , aku seorang namja dan kau tak menyukaiku , bukan?” namja manis itu tersenyum lembut tapi justru itu adalah seperti sebuah tohokan cukup keras untuk Chanyeol. Lidah namja tampan itu seakan kelu mendadak. “Tidak. Aku menyukaimu , Baekhyun. Maaf soal sikapku kemarin” “Sudahlah , aku..maaf ..tidak akan pernah mempercayai ucapanmu” Pernyataan pendek yang berhasil membuat Chanyeol bungkam dan merasakan dadanya mendadak sesak. . . . “Chanyeol ! Irreona” Kedua mata itu terbuka secara perlahan tanpa melakukan gerakan tubuh apapun khas seorang yang baru bangun tidur. Sosok namja yang masih sedikit asing itulah yang ia lihat pertama kali selain eomma setelah membuka kedua mata dipagi hari. “Baekhyun?” Dan ternyata ini bukanlah mimpi panjang yang ia yakini. Baekhyun benar-benar nyata , dan ia telah menikahi secara sah namja manis yang masih berdiri dihadapan nya kini. “Kau kecewa mengetahui aku ini bukan mimpi panjangmu semalam?” raut wajah namja manis itu datar tapi hebatnya semua pertanyaan itu selalu tepat tanpa meleset sedikitpun. “A-apa yang kau bicarakan,Baekhyun!” “Sudahlah ! cepat mandi dan sarapan , kau harus kerja, benar kan?!” Chanyeol mengangguk masih dengan wajah seperti-ketahuan mencuri-. Baekhyun membalikkan badan nya hendak pergi ketika sebuah suara menghentikan langkahnya “Baekhyun,chakkaman !” dan namja mungil itu berhenti tanpa membalikkan badan nya. “Kenapa..dandananmu seperti itu?” “Wae? Adakah yang salah? Atau kurang rapi?” Baekhyun sontak membalikkan tubuh mungilnya dan menundukkan kepala,berusaha menemukan sesuatu yang salah pada penampilan nya. Sepatu berwarna hitam dan terikat rapi seperti peraturan sekolahnya, celana panjang berwarna biru yang sudah disetrika nya hingga halus, seragam sekolah beserta jas dan juga dasi sudah dipakainya tanpa kusut sedikitpun, kancing seragam bagian paling atas pun sudah ia satukan, tak ada ujung seragam yang keluar dari celana yang sudah ia pasang ikat pinggang, lalu apa yang .. “Aah..iya ! aku belum menyisir rambutku dengan rapi. Terimakasih” “Bukan itu yang aku maksud ! Kau berpenampilan serapi itu apa tidak sedikit risih?” “Apa maksudmu aku berpenampilan culun? Tidak. Aku tidak merasa risih sedikitpun, ini memang diriku setiap harinya ketika bersekolah” “Aah..begitu” Chanyeol mengangguk-anggukkan kepalanya paham dengan maksud Baekhyun. ‘Jadi..Baekhyun itu namja yang tidak sedikitpun risih dengan penampilan kuno? Baiklah aku akan mengenali Baekhyun mulai dari ini’ “Wae? Kau ..pasti tidak menyukainya?” “Kali ini tebakanmu salah,Baekhyun. Aku..menyukai penampilanmu” Baekhyun mengerutkan kening melihat Chanyeol yang mendadak tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi. Hanya sesaat , setelah itu Baekhyun kembali membalikkan badan dan melangkahkan kedua kakinya menuju kamar. Sementara itu, Chanyeol mulai beranjak berdiri dari sofa panjang tempat tidurnya semalam. Merenggangkan kedua tangan nya keatas sembari menguap lebar dan mulai berjalan kearah kamar mandi yang memang berada dikamar. Ketika mengambil handuk yang sengaja ia letakkan pada almari, Chanyeol melihat sosok Baekhyun yang sudah berpenampilan rapi dengan rambut yang ditarik kebelakang dan sebuah kacamata bundar yang bertengger dihidung mancungnya. “Kenapa memakai kacamata? Apa kau mins?” “Tidak. Aku hanya merasa nyaman, makanya aku suka memakai kacamata ini” Jadi..Baekhyun menyukai sesuatu yang menurutnya nyaman? “Oh,begitu.” “Chanyeol, setelah selesai mandi, cepatlah ke meja makan,ne” Chanyeol mengangguk kemudian berjalan menuju kamar mandi disudut kamar. Hanya sepuluh menit waktu yang dibutuhkan namja tinggi itu untuk berkutat dengan membersihkan tubuhnya, terbukti kedua mata Baekhyun menangkap sosok tinggi itu sudah berjalan menuju kearahnya-lebih tepat yaitu meja makan- dengan sudah berpakaian rapi, mengenakan kemeja biru dengan bawahan berwarna hitam disertai ikat pinggang. Rambut hitamnya tertata rapi dengan sedikit ia tarik kebelakang meninggalkan sebagian kecil rambut samping kanan-kiri nya. Jas coklat tampak ditenteng pada tangan kanan nya. “Apa kau tidak mengenakan dasi?” “Eoh? Dasiku didalam tas, sampai di kantor, temanku akan memasangkan nya” jawab Chanyeol sembari menarik kursi lalu duduk didepan Baekhyun. “Wah..apa kau yang membuat sarapan?” Kedua mata Chanyeol berbinar kagum lalu menatap namja manis didepan nya. “Kau tidak akan percaya kalau aku mengatakan Byun Byun yang memasaknya,bukan?” jari lentik Baekhyun mengarah kelantai yang menampilkan seekor kucing persia berwarna emas keputih-putihan yang sedang tidur dengan lelap. Chanyeol yang sempat melihat sang kucing bobok imut akibat arahan jemari Baekhyun hanya bisa menahan nafas kesalnya. Padahal Baekhyun hanya perlu bilang “iya, aku yang memasaknya” sudah cukup, kenapa harus membawa-bawa nama Byun Byun? Unik sekali jawaban namja manis ini. Dengan gerakan cepat , Chanyeol menenggelamkan sendok pada mangkuk yang berisi sup lalu mengangkut nya dan memasukkan cairan cup beserta sayuran itu kemulut. Lidahnya merasakan , tak lama setelah itu bibirnya membentuk sebuah lengkungan tipis keatas kemudian berkata “Ini..lumayan. Maksudku..enak sekali, Baekhyun” “Aku rasa aku tidak membutuhkan komentarmu. Kalau memang kau suka, makanlah, kalau tidak, kau buang juga tidak masalah” Chanyeol menghentikan pergerakan nya kemudian menatap Baekhyun “Ini benar-benar enak, aku samasekali tidak berbohong” “Dan aku juga samasekali tidak mempercayai ucapanmu. Kau masih ingat perkataanku semalam kan?” “Kenapa kau.. tidak mau mempercayai ucapanku?” “Kurasa, kau bisa menanyakan pada dirimu sendiri kenapa aku berkata seperti itu” “Apa mengenai Kyungsoo? Kau mendengar pembicaraanku dengan adikmu itu menjelang resepsi pernikahan kita?” “Itu benar sih. Hei..bagaimana seorang namja bisa memutar balikkan kata-katanya tak lebih dari satu jam? Kau mengatakan pada Kyungsoo bahwa kau tidak menyukaiku dan tidak mengharapkan pernikahan ini , lalu saat aku berada di altar , kau bilang, kau menyukaiku. Sebenarnya , bagian mana dari dua kata-kata berbeda darimu itu yang dapat aku pegang?” Untuk kesekian kalinya , Chanyeol merasa lidahnya terasa kelu. Ludah seakan menghambat pita suara yang berada di kerongkongan nya untuk keluar. Bukan hanya itu , otaknya pun seakan berhenti bekerja, tak ada kata-kata yang muncul dipikiran nya satu pun. Ada-apa sebenarnya dengan dirinya saat ini? Tapi faktanya memang dirinya sendiri pun tidak mengatahui sebuah alasan yang masuk akal. Kecuali..dorongan hati , dan tawa Baekhyun meledak mendengar jawaban klise dari mulutnya beberapa detik yang lalu. “Dorongan hati katamu? Apa sekarang kau mencoba untuk menjadi peran dalam sebuah telenovela?” “Ani ! Aku yakin..kau berbeda Baekhyun. Saat melihatmu berjalan menuju altar, semua kebencianku terhadap pernikahan ini menghilang begitu saja. Sungguh..aku baru merasakan kejadian ini untuk pertama kalinya. Saat hatiku secara drastis berubah, dari benci menjadi sesuatu yang menyenangkan dalam hitungan jam, ini benar-benar pertama buatku” Tepukan tangan dari Baekhyun seketika membuat Chanyeol yang sedari tadi menunduk langsung mendongak begitu saja. Senyuman tipis campur remeh terpantri jelas pada wajah manis namja bermarga Byun itu. “Kau cocok sekali menjadi tokoh utama pria dalam sebuah telenovela. Kata-katamu tadi sangat lah manis ,kau tahu?” Chanyeol menggertakkan giginya kuat-kuat mendengar penuturan remeh dari sosok manis yang masih duduk didepan nya kini, tangan kirinya mengepal menahan gejolak emosi yang mungkin bisa meledak saat ini juga. Mendengar semua perkataan Baekhyun , entah kenapa membuat sesuatu didalam tubuhnya merasa aneh dan sangatlah nyeri. Kenapa hanya Baekhyun yang mempunyai perkataan lebih menyakitkan daripada eomma yang mengomelinya setiap hari ataupun didikan ayahnya yang begitu keras? Kenapa harus Baekhyun yang mengenalkan sebuah luka yang belum pernah ia dapat? “Aku tahu kau tersinggung dengan kata-kataku , mianhae. Tapi itulah aku kalau kau mau mengenal sosok Baekhyun lebih dalam” Baekhyun beranjak duduk dari kursinya dan melenggang pergi meninggalkan Chanyeol yang masih terdiam kaku menetralkan semua gejolak aneh yang baru pertama kali ia rasakan seumur hidupnya. “Berdirilah, akan kupasangkan dasi untukmu” Namja mungil itu kembali dengan sebuah dasi merah berada ditangan nya. Chanyeol menoleh, menatap Baekhyun yang hanya memandangnya dengan ekspresi datar seperti biasa. Tanpa berkata apapun , namja tinggi itu berdiri hingga kepala Baekhyun hanya sebatas leher nya dan dengan lihai jemari lentik itu menari-nari membuat simpul dasi yang rapi. Tangan Chanyeol dengan cepat menarik tangan mungil Baekhyun yang hendak turun setelah selesai membuat simpul dasi pada lehernya, namja manis itu mendongak dengan tatapan bingung. “Kita berangkat bersama. Kajja” . . . “Tao-ah , aku boleh pinjam tugas matematikamu?” “Tentu saja,Ge ! Ini ” sosok namja bermata panda menyerahkan buku bersampul kearah Baekhyun yang memang baru saja tiba dikelas. “Gomawo” “Cheonma, eh..tunggu ! ada yang aneh dari Gege pagi ini” Baekhyun mengerutkan keningnya sedangkan namja bermata panda itu semakin intens menatapnya. “Tidak biasanya Gege lupa mengerjakan tugas ? ” “Oh itu ! Hah..aku sedikit lelah setelah resepsi pernikahan , jadi melupakan tugas matematika dan langsung tidur” “OMO ! Kau tidak mengerjakan tugas matematika karena lelah melakukan ‘itu’ dengan Chanyeol Hyu..AUWW” jitakan keras tentu saja langsung mendarat tanpa persiapan pada kepala seorang namja berkulit hitam yang mendadak muncul pada perbincangan Tao-Baekhyun. Siapa lagi yang menjitak kepalanya selain Baekhyun? Tao tidak mungkin karena ia terlalu kasihan untuk mendaratkan jarinya pada kepala namja seperti Jongin dan saking polosnya ia juga sedikit terkejut mendapati Jongin yang mendadak kena jitak di pagi hari oleh Gege kesayangan nya. Apa salah Jongin sehingga Baekhyun menjitaknya? Tentu saja ia samasekali tidak mengerti arti kata ‘itu’ yang baru saja diucapkan oleh Jongin. Intinya , anak bernama Huang Zi Tao ini sangatlah polos. “Jangan berbicara yang tidak tidak, Kkamjong!” “Wae? Wajar kan jika kalian melakukan ‘itu’? kalian sudah sah , yang tidak wajar itu kalau kalian belum melakukan nya” “Pikiranmu mesum sekali padahal kau lebih muda dari adikku. Kami tidak melakukan ‘itu’ semalam” “Eh?” “Sudahlah jangan urusi rumah tanggaku, sebenarnya ada apa kau mendadak muncul kemari?” “Aaa itu, Baekhyun Hyung ! apa kau tau makanan kesukaan Kyungsoo? Aku akan menyatakan cinta pada adikmu , kau harus mendukungku ne!” “MWOO?” . . . . Songsaenim sudah meninggalkan kelas beberapa detik yang lalu. Saat ini diruang kelas hanya tersisa sosok namja mungil berwajah manis yang tengah merapikan buku-buku tebal untuk kemudian dimasukkan kedalam tas berwarna hitam miliknya. Menyatukan kedua reseleting untuk menutupnya lalu meraih salah satu pegangan yang biasa ia kalungkan pada kedua bahu sempit itu. Hingga ia merasakan sesuatu bergetar disaku seragam nya ketika hendak beranjak keluar kelas. Sebuah pesan singkat rupanya. FROM : PARK CHANYEOL SUBJECT : AKU SUDAH BERADA DIDEPAN SEKOLAH. Baekhyun tidak berniat membalas. Ia justru semakin cepat melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Ponsel nya bergetar lagi sebelum ia sampai dan sebuah pesan singkat lagi-lagi memenuhi layar ponsel itu. Saat Baekhyun akan membukanya , tiba-tiba.. BRUKK..PRAKK..!! Ponsel dalam genggaman Baekhyun terlepas dan langsung mendarat pada permukaan lantai yang keras. Saat itu juga ponsel Baekhyun yang semula menyala terang kini mendadak langsung padam seiring benturan keras pada permukaan lantai. “Akh..mianhae..jeongmal” suara berat seseorang sempat Baekhyun tangkap walau ia saat ini tengah berjongkok memungut ponsel naas miliknya yang kemungkinan besar adalah dalam keadaan rusak. Baekhyun buru-buru berdiri kembali dan tersenyum tipis pada sosok orang bersuara berat itu”Gwenchana. Aku yang kurang hati-hati” “Tetap saja , aku benar-benar merasa bersalah membuat ponselmu mati. Hei..coba nyalakan, apa masih bisa?” dan Baekhyun menuruti perintah orang itu. Ditekannya tombol power sekali , masih tidak nyala. Dua kali..tetap gelap. “Ternyata memang rusak. Mianhaeyo, jeongmal mianhae. Begini saja, ponselmu berikan padaku , biar aku service” “Ah..tidak usah. Biar aku yang menservice nya sendiri” “Tidak bisa, aku yang merusaknya dan aku benar-benar merasa bersalah , please?” “Benar tidak merepotkanmu?” “Tentu saja tidak. Kemarikan ponselmu” Dan Baekhyun akhirnya mengalah, ia menyodorkan ponsel miliknya pada sosok namja tinggi itu yang ia akui memang sangat tampan. Hei..apa namja ini siswa baru? Tapi tidak mungkin. Wajahnya bukan dari golongan siswa dan..dia juga tidak memakai seragam yang sama sepertinya. . . . Chanyeol mengedarkan pandangan nya kearah pintu gerbang yang memang masih banyak siswa-siswi keluar dari sana mengingat baru beberapa menit jam sekolah berbunyi sangat keras hingga terdengar sampai keluar gerbang. Namja tinggi itu menyenderkan tubuhnya pada mobil yang terparkir tepat dibelakangnya, sembari terus saja memandangi laju detik jam yang melingkar pada pergelangan tangan nya. Ini sudah lima belas menit sejak ia mengirimkan sebuah pesan singkat pada istrinya itu, dan yang ditunggu masih belum menampakkan batang hidung. Chanyeol berinisiatif menghubungi Baekhyun dan yang dapat didengar oleh telinganya adalah jawaban dari operator yang menandakan ponsel Baekhyun sedang tidak aktif. Hei..tidak aktif ? bukankah beberapa menit yang lalu ia mengirimkan sebuah pesan singkat kepada nomor yang sama lalu terkirim? Lalu..kenapa sekarang tidak aktif ? sungguh mengherankan. Ketika ia berniat menghubungi Baekhyun untuk kedua kalinya , kedua mata Chanyeol menangkap sosok namja bertubuh mungil dengan kacamata bundar dan penampilan yang sangat rapi alias culun baru saja keluar dari gerbang. Ya! Itu Baekhyun nya ! “BAEK..”Chanyeol menghentikan teriakan nya ketika melihat Baekhyun tidak berjalan sendiri. Ada seorang namja dengan tinggi hampir sama menyerupai tingginya juga sedang berjalan disamping Baekhyun dan sesekali terlihat mereka berdua tengah mengobrol, sepertinya cukup akrab. Chanyeol sontak membulatkan kedua mata ketika tak berapa lama ia seperti mengenali sosok namja tinggi itu. “WU YI FAN ? Namja itu..rupanya ada disini ! BRENGSEKK!!” Dengan emosi yang tidak dapat terkontrol lagi , kedua kaki panjang Chanyeol dengan cepat bergerak menuju objek yang ditangkap kedua matanya saat ini. Wajah tampan Chanyeol sukses merah padam menahan amarah saat dilihatnya tangan namja tinggi itu berada diatas kepala Baekhyun seperti hendak mengelusnya. “JANGAN SEKALI-KALI MENYENTUHNYA ,WU YI FAN !” TBC*dikeroyok readers Aku buat pendek dulu ne , nunggu respon ff ini layak lanjut atau enggak. Ini ff yang aku buat teaser nya dua hari yang lalu, masih inget??*kagaakk -.-. RCL jika kalian menginginkan ff ini layak lanjut , tapi kayaknya ini terlalu gaje ya readers?? Mian..kalo banyak kekurangan. Min Ver Lee mau hiatus soalnya mau UAS , kalo banyak yg RCL , Mimin usahain chapt 2 nya nongol hari minggu, otte?? |
| Khaerul Falah bangun+rumah 's link Bagaimana membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah? Nomor satu, hidupkan tuh yang namanya shalat dengan bener. Udah pas apa belum. Maksudnya bagaimana? Iya, sudah shalat tepat waktu belum? Berjamaah atau tidak? Menghidupkan shalat sunnah apa enggak? Kalau koreksian ini berhenti dijawaban, "enggak", mendingan ini dulu diberesin. Jangan melangkah ke yang lain dulu. Kita beresin yang wajib dulu, baru dah kalau ini sudah beres, pasti semuanya bener. Karena memang shalat nomor satu. "Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman, 'hendaklah mereka mendirikan shalat...'" Nomor satu kalau keluarga mau sakinah, mawaddah, wa rahmah, hidupkan tuh yang namanya shalat dengan bener. Omong kosong kalau rumah yang dibangun tapi ahli rumahnya ini tidak menjadi orang-orang yang ahli shalat. Atau shalat tapi melalaikan shalatnya. Kita berdoa kepada Allah, semoga bukan hanya rumah tangga kita yang bahagia. Tapi juga rumah tangga anak mantu kita, cucu kita barangkali yang sudah berumah tangga, kita doakan mudah-mudahan rumah tangganya menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Maka semoga Allah menjadikan rumah tangga kita seperti rumah tangganya Nabi Yusuf dan Zulaikha. Seperti rumah tangganya Nabiyullah Adam dan Hawa. Dan seperti rumah tangganya Nabi Muhammad Saw dengan Khadijah al-Kubra. Aamiinn ya Rabbal'alamiin... --------------------------------------------------------------- Sponsor : Dengan ini, kami memberikan jalan kepada Bapak/Ibu yang ingin hidupnya berkah, tontonan yang dapat mengajarkan anak dan keluarganya menjadi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan menonton Film Omar Ibnu Khattab 30 Episode. Kisahnya lengkap berdasarkan hadis-hadis shahih. Klik Link di bawah ini : Jual Beli DVD Omar Ibn Khattab - 30 Episode Cukup dengan harga Rp 130.000 + Ongkos kirim yang sudah "murah", Sekaligus Anda mendapatkan bonus Mp3 Tausiyah dan Murottal Ust Yusuf Mansur. Uang segitu ga ada apa-apanya dibandingkan kalo Allah sudah Ridha sama kita. Buruan tunggu apalagi. Info pembelian : 08994412241 / invite Pin BB : 22582264 |
Powered by WordPress SEO Tools















