Rumah Minimalis Modern Dengan Kombinasi Batu Alam Dan Kayu

Rumah Minimalis Modern Dengan Kombinasi Batu Alam Dan Kayu

Rumah Minimalis Modern
Rumah Minimalis sudah tak asing lagi bagi sebagian orang, rumah minimalis sekarang sudah banyak dipilih oleh banyak orang, selain efesiensi bahan, dan juga dipilih karena rumah minimalis dapat menghemat uang dalam proses pembangunannya. rumah minimalis menawarkan kesan yang sederhana dan simple akan tetapi rumah minimalis  menimbulkan juga kesan yang modern. dan juga rumah minimalis menwarkan kenyamanan bagi peenghuninya, diman desain rumah yang simple akan memudahkan untuk menanam tanaman favorit anda. sehingga sedikit banyaknya akan membuat anda meras betah dn nyaman dengan hunian anda tersebut.
Berikut Contoh jenis rumah minimalis dari sekian banyak jenis rumah minimalis yaitu  Rumah Minimalis Modern dengan Kombinasi Batu Alam dan Kayu. kemudian desain rumah minimalis modern tersebut dilengkapi dengan exterior batu alam dan ditambah perpaduan interior kayu . sehingga pada akhirnya  Rumah minimalis modern akan terkesan Alami dan Contemporer . kemudian ditambah  Bentuk rumah yang kotak dan sangat sederhana akan membuat rumah menjadi Terlihat simpel dari luar , serta pembuatan arena garasi yang cukup 2 mobil dan halaman yang di bikin hamparan rumput alami.Ornamen bebatuan juga menambah kesan alami dimana terdapat pada interior untuk menambah alami suasana didalam rumah minimalis modern ini.
Untuk lantai,  Lantai yang terbuat  dari kayu sehingga akan membuat  interior terkesan klasik dan menarik , untuk meja makan terbuat juga dari kayu, tujuannya adalah menimbulkan ide untuk membikin suasana lebih klasik .untuk tempat santai akan dibuat tak jauh berbeda dari sebelumnya, dan hal tersebut adalah tempat santai yang menyenangkan dengan kolam renang yang tidak begitu besar dengan pinggiran kayu menambah suasana makin alami dan segar. serta sebagai pelengkap sempurnanya sebuah rumah minimalis adalah dibangunnya Taman di dalam rumah minimalis modern dengan hamparan rumput segar dan hijau.
Dengan ini anda akan semakin tertarik bukan untuk memilih rumah minimalis sebagai hunian anda dan keluarga anda. selamat mencoba

Incoming search terms:

rumah minimalis modern (683);batu alam minimalis (114);batu alam rumah minimalis (63);rumah modern 2012 (63);rumah batu alam minimalis (46);rumah minimalis batu alam (46);model tiang rumah minimalis (42);model batu alam terbaru (39);desain rumah minimalis dengan batu alam (33);rumah batu alam (33);MODEL DINDING BATU ALAM TERBARU 2013 (28);gambar tiang rumah minimalis (28);rumah minimalis dengan batu alam (26);rumah minimalis alami (24);Kombinasi batu alam (24);batu alam terbaru (22);model tiang minimalis (22);rumah pakai batu alam (22);model2 pagar iexterior rumah type 45 (21);foto rumah minimalis modern (19);contoh rumah dengan batu alam (19);contoh rumah batu alam (18);gambar profil tiang rumah (18);exterior rumah tingkat (18);tiang rumah minimalis (18);tiang rumah modern (16);batu alam untuk tiang rumah (16);batu alam untuk tiang (14);gambar rumah pakai batu alam (14);desain garasi tampak depan (12);gambar rumah batu alam (11);gambar perpaduan garasi dan rumah (11);tiang pagar minimalis (11);biaya buat rumah kayu (10);gambar model motif halaman depan rumah minimalis (10);bentuk tiang rumah minimalis (9);model pagar batu alam (8);gambar dinding rumah batu alam (5);bentuk2 batu alam (5);gambar tiang rumah modern (5);gambar model tiang rumah minimalis (5);motip rumah minimalis (5);tampak depan rumah dengan batu alam (5);tiang profil dalam (4);www fropil rumah com (4);rumah kombinasi batu alam (4);rumah tampak depan dengan batu alam (4);gambar rumah minimalis terbuat dari kayu (4);desain depan rumah dengan batu alam (4);bentuk depan rmh minimalis yg pake tiang (4);desain tiang rumah (4);model rumah yang pakai batu alam (4);gambar taman yg munggil dari batu alam didalam rumah (3);cara membuat motif batu alam (3);gambar interior batu alam (3);jenis batu alam terbaru (3);Gambar2 batu alam (3);model alam terbaru (3);gambar rumah batu alam yang terbagus dan minimalis model terbaru (3);model garasi mobil sederhana (3);model pagar perpaduan tembok dengan besi (3);gambar tiangrumah mewah tingkat dua (3);model rumah pakai batu alam (3);gambar rumah minimalis menggunakan batu alam tampak depan (3);model pagar kombinasi kayu (3);gambar rumah batu dan kayu (3);tiang batu alam (3);www kombinasi rumah com (3);tampak depan rumah tingkat sederhana (3);rumah minimalis kombinasi batu alam (3);motip tralis pagar rumah (3);tempelan batu alam (2);profil tiang rumah minimalis (2);rumah batu campur kayu (2);pilar pagar minimalis terbaru (2);tiang pagar batu buat (2);tiang minimalis (2);tiang rumah minimalis yang keren (2);tiang atau pilar dengan kombinasi batu alam (2);rumah dan kolam renang minimalis (2);pintu pagar kombinasi kayu (2);pasangan batu alam (2);pagar klasik unik kombinasi kayu (2);tiang rumah batu alam (2);tiang propil rumah (2);rumah minimalis mungil dua lantai yg mengunakan ornament batu alam (2);pemasangan batu tempel pada dinding rumah (2);PILAR PAGAR RUMAH MOTIF BATU (2);ragam model benteng rumah (2);contoh halaman depan  menggunakan batu alam minimalis (2);foto tiang rumah (2);galery rumah muka batu alam terbaru com (2);contoh tiang rumah depan (2);cara buat profil pada tiang pagar rumah (2);design tiang rumah (2);gambar2 propilan tiang ruma minimalis (2);macam desain rumah type 36 pake batu alam (2);macam - macam gambar tiang rumah (2);model garasi luar (2);contoh profil tiang rumah minimalis 2013 (2);gambar batu batuan pada dinding rumah minimalis (2);lantai batu kacang (2);gambar tiang modern (2);model tiang rumah minmalis (2);gambar pemandangan alam com (2);kombinasi batu alam untuk rumah minimalis (2);batu alam untuk rumah minimalis tampak depan (2);model rumah dengan hiasan batu alam (2);Model rumah yg memakai batu alam (2);model rumah campur kayu (2);Gbr batu kacang (2);contoh batu alam untuk garasi (2);contoh gambar garasi mobil (2);gambar rumah dengan garasi (2);gambar garasi mobil minimalis (2);gambar rumah dinding batu alam (2);images batu alam pada dinding luar rumah (2);contoh batu alam untuk ornamen rumah mungil (2);gambar batu alam untuk interior (2);hiasandindingalami (1);gambarumah minimalis modern kombinasi batualam (1);jenis batu alam buat dinding (1);halaman depan pakai kayu (1);grasi rumah tingkat modern (1);garasi mobil design dari kayu (1);garasi tiang kayu (1);gambarcontoh lantai dgn batu alam (1);garasi mobil alami (1);grasi minimalis (1);garasi dg ornamen kayu (1);halaman dengan batu kacang (1);jenis batu alam untuk tiang (1);gambarrumahklasik (1);gambar rumah pakai batu gilang (1);gambar rumah minimalis pake batu tempel (1);gambar rumah minimalis dengan dinding batu batuan (1);gambar rumah klasik dan full ornamen (1);gambar rumah minimalis campur kelasik (1);gambar rumah minimalis 2 lantai tampak depan dengan pilar depannya (1);Gambar rumah kombinasi klasik dan modern (1);gambar rumah klasik campur minimalis (1);gambar rumah kayu kombinasi beton (1);gambar rumah dinding batu klasik luar negeri (1);gambar rumah dinding batu (1);model tiang rumah batu alam (1);gambar rumh tiang batu alam (1);gambar2 rumah mewah minimal tingkat dilengkapi pagar gerbang (1);gambar2 mal fropil rumah (1);gambar tiang rumah tampak depan (1);gambar tiang rumah pake batu alam (1);gambar tiang rumah minimalis modern (1);gambar tiang rumah batu alam (1);gambar tiang profil rumah klasik (1);gambar tiang depan rumah pakai batu alam (1);gambar tembok garasi (1);gambar tembok depan garasi (1);gambar tampak depan rumah bertingkat (1);gambar rumah dengan batu alam di depan (1);motif rumah minimalis (1);model rumah modern yang pake tiang luas (1);model rumah minimalis tampak dpn dengan batu alam (1);model rumah minimalis perpaduan tembok dan kayu (1);model rumah minimalis pakai garasi (1);model rumah kamar maju ke depan dengan satu tiang (1);model rumah batu terbaru (1);model rumah batu hias (1);model rumah batu alam (1);MODEL RUMA BATU (1);model ram raman kayu minimalis (1);model propilan (1);model pilar minimalis tempel batu alam (1);model pagar rumah dg hiasan batu alam timbul tenggelam (1);aneka gambar tiang exterior rumah model klasik modern (1);model pagar batu alam kombinasi besi (1);model rumah pakai batu alam lantai 1 tampak depan (1);model rumah tampak depan perpaduan btu alam (1);motif pasangan batu alam (1);motif garasi kayu (1);motif cet depan rumah (1);motif batu kacang warna (1);motif batu alam untuk hiasan tembok (1);motif batu alam untuk garasi (1);motif batu alam rumah minimalis (1);motif batu alam kombinasi (1);Motif baru rumah pake gambar (1);modell dinding luar tempel (1);model-model profil dinding rumah minimalis satu lantai terlihat dari samping (1);model tiang tembok dengan batu alam (1);model tiang rmh minimalis (1);model tiang klasik (1);Model Tiang batu pagar minimalis (1);model model rumah batu terbaru (1);MODEL MODEL BATU ALAM (1);model lantai halaman rumah batu hias (1);lantai grasi minimalis (1);lantai garasi motif (1);lantai garasi mobil minimalis (1);kombinasi warna rumah minimalis dengan batu alam (1);kombinasi warna ekterior rumah (1);kombinasi rumah dgn batu alam (1);kombinasi rumah dengan batu alam (1);kombinasi kayu dan batu alam (1);kombinasi dinding kayu (1);kombinasi batu alam modern minimalis (1);kombinasi batu (1);koleksi foto propilan tiang (1);Keistimewaan rumah berdesain batu dan kayu (1);jenis batu minimalis untuk garasi (1);jenis batu alam untuk tiang rumah (1);model garasi mobil dan pagar kayu moderen (1);macam macam motif mal profilan (1);model lantai dg koral sikat (1);model kombinasi batu alam (1);model kanopi jendela besi hollow (1);model gerbang perpaduan minimalis dan modern (1);model gambar garasi batu sikat (1);model depan rumah batu alam (1);model dan motif batu alam unruk tiang rumah (1);model batu tempel untuk rumah tinggal (1);minimalis alami (1);membuat profilan tiang rumah (1);membuat halaman batu alam (1);macam-macam tiang rumah (1);macam-macam gambar rumah yg depannya pake batu alam (1);macam mal profilan (1);macam macam motif tiang rumah (1);jenis batu alam untuk tiang depan rumah (1);Gambar rumah dengan 4 tiang tampak depan (1);desain rumah dr bag depan tipe 1 lantai dg motif garis (1);contoh motif profil pada tiang rumah (1);contoh kombinasi batu alam dan kayu (1);contoh halaman rumah lantai batu alam (1);contoh garasi rumah tampak depan (1);contoh garasi dari batu alam (1);contoh gambar tiang terbuat dari batu kali (1);contoh gambar rumah minimalis pakai batu alam (1);contoh gambar profil rumah depan garasi (1);contoh gambar penerapan batu alam pada teras rumah berbentuk kolonial moder (1);contoh gambar motif batu koral untuk halaman (1);contoh gambar batu alam untuk lantai halaman (1);contoh gambar batu alam eksterior dinding (1);contoh foto rumah pakai batu alam (1);contoh dinding dan kolam dg batu alam (1);contoh bentuk tiang rumah depan minimalis (1);contoh batu untuk tiang rumah minimalis (1);contoh profil hiasan dinding rumah (1);contoh profil tiang pintu (1);desain pekarangan rumah dari batu kacang (1);desain pagar batu teplek (1);desain garasi mobil dari kayu (1);desain depan rumah pakai batu alam (1);desain batuan halaman luar rumah (1);desain batu alam untuk tempelan dinding garasi (1);desai rumah minimalis dengan bahan kayu dan tembok (1);danding tiang garasi batu alam (1);contoh2 rumah kayu dan minimalis (1);contoh2 ruko tampak depan type minimalis modern (1);contoh tiang rumah minimalis batu alam (1);contoh tiang pagar minimalis (1);contoh tembok batu alam (1);contoh rumah terbaru batu alam (1);contoh rumah dinding kayu (1);contoh renovasi tembok depan (1);contoh batu alam buat tiang rumah minimalis (1);contoh batu alam buat di halaman (1);batu hias rumah modern (1);batu hias dalam tampak rumah model minimalis (1);batu batuan untuk depsn rumsh (1);batu batuan halaman rumah (1);batu alm terbaru (1);batu alam untuk dinding garasi (1);batu alam u tembok depan (1);batu alam terkini (1);batu alam tempel di tiang (1);batu alam rumah mewah (1);batu alam model terbaru (1);batu alam minimalis untuk dinding (1);batu alam hiasan tembok (1);batu alam exterior rumah (1);batu alam dinding rumah (1);batu alam campur (1);batu hias tembok di dalam rumah (1);batu hias tiang (1);conto rumah pakai batu alam (1);conth gambar model propil an tuk depan rumah atau tiang (1);caramembuat combinasi cet rumah (1);cara pembuatan propil rumah (1);Cara membuat motif pilar pagar atas (1);BIAYA PEMBUATAN PROFILAN RUMAH (1);biaya pasang batu alam garasi (1);bentuk tiang minimalis batu alam unik (1);bentuk tembok minimalis sederhana (1);bentuk tangga rumah bertingkat dari kayu (1);bentuk batu alam untuk depan rumah (1);batuan buat taman minimalis (1);batu teplek (1);batu minimalis (1);batu kacang dihalaman (1);batu hias untuk halaman (1);aneka ragam batu alam untuk hiasan di tembok (1);gambar rumah beton campur kayu (1);gambar lantai garasi mobil (1);gambar lantai dari batu alam (1);gambar hiasan kayu pada garasi (1);gambar garasi mobil dari kayu (1);gambar garasi dan pagar batu alam yg sederhana menarik (1);gambar garasi batu alam pilar (1);gambar foto pagar minimalis perpaduan batu alam (1);gambar dinding rumah dengan batu alam (1);gambar dinding pagar batu alam kombinasi profil (1);gambar desain pagar rumah u/garasi mobil (1);gambar dan jenis garasi mobil dirumah (1);gambar batu2 alam yg bt rumah (1);gambar batu untuk dinding tembok halaman depan (1);gambar batu alam untuk tiang (1);gambar batu alam untuk pagar (1);gambar batu alam tempel dinding (1);gambar lantai halaman rumah dari batu alam (1);gambar model rumah dengan batu alam (1);gambar rumah batu klasik (1);gambar rumah batu alam tempel (1);gambar rumah 2lantai minimalis depan pakai batu alam (1);gambar ru ah dengan batu alam (1);gambar propilan dinding (1);gambar propil tiang rumah (1);gambar propil rumah (1);gambar profil dinding batu alam (1);gambar profil batu alam (1);gambar pintu kotak batu alam (1);gambar perpaduan cet (1);gambar pager motif (1);gambar pagar rumah minimalis dengan ornamen batu alam (1);GAMBAR PAGAR MINIMALIS KOMBINASI BATU ALAM (1);gambar pagar kombinasi batu alam moderent (1);gambar motip propilan (1);gambar batu alam tempel (1);gambar batu alam breksi (1);exterior rumah bertingkat (1);exterior garasi minimalis (1);ekterior rumah minimalis (1);ekterior rumah batu alam (1);eksterior garasi rumah (1);dinding tiang garasi batu alam gambar (1);dinding rumah dengan batu alam dan garasi (1);dinding kombinasi batu kayu (1);dinding depan rumah memakai batu alam (1);dinding batu hias (1);design tiang rumah moden (1);design rumah pake batu alam (1);design batu kacang rumah (1);desain taman mini depan rumah hiasan batuan alam (1);desain rumah pakai batu alam (1);desain rumah memakai batu alam (1);finsing tembok batu alam kayu (1);foto batu koleksi batu alam rumah moderen (1);gamabar rumah minimalis depan dengan batu alam (1);galeri model2 renovasi pagar besi rumah sederhana (1);Fropil depan rumah (1);foto2 jenis rumah (1);foto taman depan dengan kombinasi batu alam (1);Foto rumah pakai batu alam (1);Foto rumah dinding Kayu modern (1);Foto Rumah dengan ornamen kayu (1);foto rumah darh kayu klasik minimalis (1);foto pilar pagar klasik (1);foto motip rumah tipe36 model terbaru (1);foto model tiang garasi (1);foto garasi rumah sederhana (1);foto garasi mobil sederhana (1);foto foto garasi mobil sederhana (1);foto depan rmh pake hiasan batu alam (1);DESAIN RUMAH KOTAK MINIMALIS TERBARU (1);tampak depan rumah bertingkat minimalis (1);rumah tembok dan kayu minimalis (1);rumah tampakdepan batu alam (1);rumah sederhana tipa 36 tiang satu (1);rumah satu lantai yang pakai pilar (1);rumah tingkat minimalis sederhana dari perpaduan batu tela dan kayu (1);rumah tingkat modern dengan motif profil (1);rumah tingkat motif batu tempel (1);rumah tipe 45 yang memakai batu alam (1);rumah tipe kombinasi pics (1);rumah unik tampak depan batu alam (1);taman batu alam dpan rumah (1);Sketsa ruko dan gambar pilar tampak depan (1);rumah yang pake batu alam (1);taman depan rumh pirar batu tmpet (1);tampak depan rumah dgn hiasan batu alam (1);tipe batuan untuk rumah (1);upah pasang batu alam3 (1);www aneka gambar denah rumah sederhana dr papan (1);www foto macam macam bentuk batu alam com (1);www foto tiang pagar rumah com (1);www gambar kombinasi rumah beton & kayu com (1);www gambar model propilan beton com (1);www gambar2 alami (1);www gbr rmh dg batu alam (1);www jenis-jenis pagar rumah com (1);tiang rumah profil (1);www profilrumah com (1);tampak tiang depan rumah minimalis luar negeri (1);tampak depan rumah minimalis 2 lantai pakai batu (1);tampak depan rumah minimalis sederhana (1);tiang profil rumah (1);tampak depan rumahpakai batu alam (1);tangga rumah minimalis modern (1);tehnik pembuatan taman minimalis batu alam you tube (1);www gambar batu alam com (1);tempelan batu alam minimalis (1);tempelan batu pada dinding dalam rumah (1);tiang propil dalam rumah (1);www jenis-jenis pintu pagar rumah (1);rumah perpaduan minimalis klasik (1);motif tempelan paras minimalis (1);pasangan batu minimalis (1);pembuat kayu eksterior rumah (1);perpaduan horden merah cat tembok (1);perpaduan lantai halaman depan rumah antara rumput dan batu alam (1);perpaduan rumah kayu dan beton (1);photo tiang rumah minimalis (1);photos pagar batu alam (1);poto rumah batu tempel (1);profilan batu alam (1);profilan tiang rumah (1);PROPIL ALAM INDAH COM (1);propil pilar gerbang rumah (1);pagar rumah kombinasi kayu (1);PAGAR RUMAH BETON/BATU MINIMALIS (1);motif tiang rumah (1);motip koral sikat (1);motip lantai kayu (1);motip pagar halaman dg bahan kayu (1);Motip rumah depan (1);motip rumah sederhana (1);Mulyadi Abu Hanifah (1);ornamen batu garasi (1);ornamen kayu minimalis (1);pagar kayu kombinasi rumah minimalis (1);pagar pake batu alam (1);pagar rumah batu tempel (1);propil rumah minimalis (1);propil tiang pagar minimalis (1);Propil tiang rumah (1);rumah minimalis motif batu alam (1);rumah minimalis pakai garasi (1);rumah minimalis pakai tiang didepan (1);rumah minimalis pake batu alam 2013 (1);rumah minimalis sederhana pakai batu alam (1);rumah minimalis tampak depan pakai batu alam (1);rumah minimalis yg banyak di pasang batu alam (1);rumah model baru dengan batu alam (1);Rumah model pake batu alam (1);rumah modern tiang besar (1);rumah perpaduan batu (1);rumah perpaduan kayu dan beton (1);rumah minimalis modern batu alam (1);rumah minimalis memakai garasi (1);propilan beton (1);ragam renopasi rumah depan (1);rmah mnimalis kmbinasi batu alam nmpak depan (1);rmh minimalis tempelan batu alam (1);ruko pakai dinding batu alam (1);rumah batu alam modern (1);rumah dari kayu kombinasi tembok (1);rumah dengan hiasan batu alam (1);rumah indonesia batu alami (1);rumah klasik batu bata (1);rumah kombinasi tembok dan kayu (1);rumah minimalis dengan hiasan dinding batu alam (1);rumah perpaduan minimalis dengan klasik (1);

Twitter

ApepSyahrull Fri, 24 May 2013 10:46:46 +0000
Bangun tidur| cuci muka|pake seragam sekolah| buka pintu rumah| tetangga: kamana a magrib magrib……?? :D
megasucilaa Fri, 24 May 2013 10:45:03 +0000
Didepan rumah ada tukang baso, mau beli tp mls banget bangun! U.u
clouisaphil Fri, 24 May 2013 10:44:50 +0000
@ArivanyMN ga mau! ente bangun rumah di depan rumah aku;;)
ozradioaceh Fri, 24 May 2013 10:44:05 +0000
Sangking getolnya kejar setoran utk bangun rumah impiannya, Citra Scholastika belom kepikiran buat pacaran loh OZzers #Bando
isdiasdewifebri Fri, 24 May 2013 10:43:18 +0000
RT @NoteLucu: Lagi ngapain bro? | Bangun rumah bro | Pasangin alarm aja bro, biar rumahnya bisa bangun on time | -___-" KOPLOK!
vanyajessica Fri, 24 May 2013 10:43:13 +0000
Bangun tidur dan shocked ngeliat papa udah depan pintu rumah... The best friday ever! {}
carolineTRMS Fri, 24 May 2013 10:41:55 +0000
@sandrameilinia kan ga jadi bangun rumah nya :-p
novambarita Fri, 24 May 2013 10:41:42 +0000
@trisatyamartha gadak kawanku loh, awak bangun kosong rumah huhuhu T_T
DS_Edogawa Fri, 24 May 2013 10:41:11 +0000
RT @olivialuffin: balik lena kat rumah 2 minggu lepas tu baru bangun.
citicawah Fri, 24 May 2013 10:40:36 +0000
@damnitsben weh weh , tadi pagi I dah bangun lah . Then mandi semua kemas rumah tak tahu nak buat apa I tidur balik . Haa
reginaginana Fri, 24 May 2013 10:40:20 +0000
Iya ngerampok makanan RT @Adityaa37: ya gin gpp tadi da udah ke rumah kamu RT @reginaginana: Adit aku dirumah hehe baru bangun, aku ga punya
pangesti_ Fri, 24 May 2013 10:40:04 +0000
@rezabaonk weh lumayan dong kang.. dipungut bs buat bangun rumah ;))
hasnanurulQ Fri, 24 May 2013 10:39:14 +0000
RT @viviiKIDIW: Bangun tidur langsung » beres" rumah » mandi (=|
firmanysah_f Fri, 24 May 2013 10:37:55 +0000
dah kalau lo gak ikut gapapa kan ? wkwk RT@indahandev bangun-bangun rumah rame-_-"
indahandev Fri, 24 May 2013 10:36:48 +0000
bangun-bangun rumah rame-_-"

Videos

Facebook

Dwi Black


bangun+rumah 's link
Suasana malam minggu ramai memang banyaknya orang yang hadir membuat Rony pemuda yang memang sedang berjojing ria membuatnya gerah, pengunjung bar banyak yang membawa pasangan, Rony tidak sendiri dia datang dengan Igor yang tengah asyik berjojing dengan seorang wanita yang juga pengunjung diskotik Shinta.   "Hai, boleh aku duduk?!" suara wanita menyapa.   Rony menoleh tersentak dari perhatiannya pada Igor.   "Please..?" balasnya mempersilahkan wanita itu duduk disebelahnya. "Sendiri?" sapa wanita itu yang memang agak teler mungkin karena terlalu banyak menenggak minuman keras. "Akh nggak? bareng temanku, tuh" tunjuk Rony pada Igor yang saat itu sedang mendekatinya. "Hai Ron.. Kenalin dong" sergah Igor. "Boleh juga boncegan lo.." bisik Igor pada Rony. "Gila lo.. gue aja belum kenal" "Ron..?! Kenalin Vira.." "Vira.." kata wanita itu sambil mejulurkan tangannya. "Rony..?!" balas Rony. "Ron sorry nich aku bakal jalan duluan sama Vira, disini terlalu ramai" "Terus gue gimana?" Tanya Rony. "Lo disini aja dulu?! Motor gue yang bawa, mana kontaknya?" "Dasar gila lo, nich?!" Maki Rony.   Kini hanya tinggal Rony dengan wanita itu didalam diskotik Shinta yang malah tambah ramai ketika hari menjelang tengah malam.   "Ron.?!" Rony menoleh,"Ya..?" "Boleh aku minta tolong anterin pulang?" Pinta wanita itu pada Rony sambil menyerahkan kunci kontak.   Tanpa menjawab dipapahnya wanita itu pergi meninggalkan ruangan diskotik Shinta. Mobil yang dikendarai Rony menuju kawasan perumahan Lippo yang memang telah ditunjuk wanita itu.   "Nich cewek kayaknya Tante-Tante?" Bathin Rony setelah memperhatikan wajah wanita itu yang kelihatan mencerminkan usianya kira-kira 35-an. Sepanjang perjalanan Rony memperhatikan wanita yang tertidur disebelahnya. Pakaiannya yang hanya menutupi sebagian tubuhnya sehingga jelas sekali terlihat buah toketnya yang putih dan gede terus ke bagian bawah yang hanya memakai rok span sehingga jelas terlihat sangat mulus dan sangat seksi. Tiba tiba pikiran joroknya mulai merambah ditambah lagi jalan tol menuju Lippo sepi dan gelap. Tangan Rony mulai meraba paha, disingkapnya rok mini merah itu kini terlihat jelas CD wanita itu.   "Gila merah juga?" Ucapnya lirih takut tuh Tante bangun.   Kini tangan jahilnya mulai ke atas menuju bukit kembar yang nongol gede.   "Busyet mantep banget nich?" Remasan kecil tidak membuat Tante ini bangun pikirnya. "Sial lagi asyik sudah sampai?!" Gerutu Rony sambil melepas remasan kecil pada payudara Tante itu terlihat pintu tol 500 meter lagi. Mungkin karena cahaya lampu pintu tol sang Tante terlihat bangun sambil membersihkan matanya. "Dimana ini?" "Mau masuk perumahan Tan?" Jawab Rony. "Belok kiri no.13" tunjuk Tante itu rumahnya. "Ok" Rony mengiyakan.   Rumah kawasan Lippo memang terkenal mewah gerbang rumah berwarna biru itu terbuka setelah dari dalam mobil Tante itu memencet remot pagar begitu juga pintu garasi, mobil lancer langsung meluncur masuk ke dalam garasi.   "Mari Tan.." bermaksud memapah Tante itu. "Ah nggak usah pusingnya agak mendingan kok" tolak Tante itu halus. "Ayo masuk" ajaknya sambil menuju pintu rumah didalam garasi.   Jalannya yang anggun membuat Rony menelan air ludah. Pantat gede Tante itu goyang kanan kiri mengikuti irama kakinya yang panjang dan mulus.   "Silahkan duduk..?!" mempersilahkan Rony duduk. "Tanks Tante?" balas Rony. "Oh ya siapa namamu tadi?" tanya Tante itu sambil pergi ke arah ruangan lain. "Rony" balas Rony sedikit berteriak agar terdengar.   Tante Susi membawakan dua gelas bir sambil duduk disebelah Rony rapat sekali membuat Rony agak keki.   "Silahkan minum?" sambil menyerahkan segelas bir kaleng. "Tanks Tan.."   Ditenggaknya bir itu bukannya haus tapi menahan gejolak birahi melihat paha putih mulus dan buah dada yang menantang.   "Santai aja? Haus ya?" "Lumayan?!" balas Rony memerah. "Oh ya.. Panggil aku Susi" Tante Susi memperkenalkan namanya. "Tante Susi tinggal sendiri?" Mencoba Rony untuk ngobrol. "Jangan panggil Tante Susi donk, Tante aja, apa Susi aja" "Tante dech.." Rony memastikan. "Sudah tua ya?" balas Tante Susi. "Tapi Tante kelihatan masih cantik.." sambil matanya terus memeperhatikan buah dada tante Susi yang menggantung indah. "Makasih" tersipu Tante Susi dipuji seperti itu. "Oh ya Tante tinggal dengan siapa?" Tanya Rony penasaran. "Aku tinggal ama suamiku, dia lagi berlayar 2 bulan sekali dia pulang sudah 2 minggu dia berangkat berlayar.." jelas Tante Susi. "Oh begitu ya..?" berarti dia kesepian nich bathin Rony. "Kamu sudah punya pacar?" Tante Susi bertanya sambil menarik tangan Rony ke atas pahanya yang putih itu. "Belum Tan..?!" jawab Rony menarik tangannya mencoba malu-malu kucing. "Kenapa? kok malu?! Apa aku harus tidur lagi biar kamu enggak malu dan leluasa mengelus-elusku" "Maksud Tante?" bertanya heran Rony. "Aku tahu yang kamu lakukan sepanjang perjalanan tadi, aku diam karena kupikir kamu kan sudah tolongin aku boleh donk sebagai tanda terimakasih" "Jadi ni Tante juga keenakan toh, sial deg-deg an juga gue, gue kira dia tahu bakal marah eh malah seneng, aman sekarang dong, asyiik?" Bathin Rony.   Sekarang Rony bebas melakukan gerakannya karena sudah tahu Tante Susi senang diperlakukan seperti itu. Tangan Rony mulai meraba paha Tante Susi.   "Kulit Tante halus sekali..?!" bisik Rony ke telinga Tante Susi disertai jilatan halus membuat Tante Susi menggelinjang geli. "Oh ya? Terusin dong ke atas Ron..?" pinta Tante Susi manja.   Tangan Rony masuk ke dalam celana dalam Tante Susi.   "Okh kamu ahli sekali Ron?" tangan Tante Susi mulai menjalar ke arah celana Rony dan mulai menelanjangi Rony dengan ganas. "Tenang Tan?" "Tanganmu itu yang membuat aku engga' tahan okh.. Okh" kembali Tante Susi mengerang kenikmatan.   Kini Rony sudah telanjang di pegangnya peler millik Rony yang lumayan besar.   "Gede juga punyamu" ucap Tante Susi sambil mulai mengulum peler Rony Rony hanya bisa mendesah kenikmatan ketika pelernya amblas ke dalam mulut Tante Susi. "Okh Tante okh.. Okh" sambil meremas rambut Tante Susi. "Telanjangi aku Ron" pinta Tante Susi setelah puas mengulum peler Rony.   Rony mulai melakukannya hingga telanjang polos sudah Tante Susi, jelas terlihat bukit berumput hitam lebat dan sepasang payudara yang gede. Rony merebahkan tubuh bugil itu diatas kursi.   "Regangin pahamu Tan" pinta Rony.   Mulai ia menjilati vagina Tante Susi yang merah mungkin karena jarang di pake.   "Oh bulu jembut Tante lebat banget.." "Tapi ok kan..?" "Mantep Tan" ujar Rony sambil menyingkap bulu lebat itu dan mulai memainkan lidahnya dibibir vagina Tante Susi. "Ukh.. Ukh.. Ukh hebat terus jilat terus Ron okh.. Enak.. Enak"   Menggelinjang eggak karuan Tante Susi menahan birahi yang mulai merambah urat-urat pembuluh darahnya. Sementara tangan Rony asyik meremas payudara Tante Susi yang gede.   "Remas Ron remas yang kenceng ukh.. ukh.." sambil matanya merem melek. Terlihat jelas oleh Rony vagina Tante lisa kembang kempis karena kenikmatan.   "Ron masukin donk, masukin Ron.. Ukh"   Sedikit dibungkukkan tubuh roni sambil mulai mengarahkan batang pelernya ke arah vagina Tante Susi yang sudah becek karena jilatan lembut lidah Rony. Perlahan tapi pasti peler Rony mulai merambah masuk ke dalam vagina Tante Susi.   "Okh.." desah Tante Susi keenakan.   Pantat Rony bergerak maju mundur.   "Okh.. Enak Ron okh.." merem melek Tante Susi dibuatnya. "Okh.. Okh.. Goyang terus" pinta Tante Susi masih keenakan.   Rony pun merasakan kenikmatan teramat sangat pelernya terasa ada yang menyedot halus dan nikmat ditambah desahan Tante Susi yang sangat merangsang urat syarafnya menegang.   "Okh Tan empuk juga memekmu Tan okh.. Okh" sambil terus pantatnya maju mundur mengoyak vagina Tante Susi yang sudah basah banget.   Mulut Tante Susi yang mendesah seksi itu disambar Rony hingga keduanya saling berciumn liar, tangan Rony pun tidak tinggal diam remasan liar menimpa payudara Tante Susi yang sudah keras. Cukup lama perbuatan cabul diatas sofa itu berlangsung dengan sengit dengan teriakan Tante Susi yang tak tahan akan peler Rony yang beraksi. Hingga..   "Tan.. Pindah ke lantai yu?" ajak Rony. "Terserah, asal jangan dilepas ya? Habis enak banget sih.."   Peler Rony masih menancap tegang di vagina Tante Susi, diangkatnya tubuh bugil Tante Susi lalu merebahkannya diatas lantai yang berpermadani halus itu. Keringat mengucur deras kenikmatan enggak terbendung gerakan maju mundur Rony yang kadang diselingi putaran pelernya membuat Tante Susi merem melek menahan gairah yang mungkin sangat diharapkannya malam itu.   "Ron gantian ya?" pinta Tante Susi ganti posisi.   Mereka berguling separo sehingga sekarang posisi Tante Susi berada di atas menindih tubuh Rony.   "Ron gimana kalau goyang gini" tawar Tante Susi sambil mengoyang pantatnya yang padat berisi. "Gila Tan.. Enaak banget terus tan ukh.. Ukh.." sambil tangannya terus meremas payudara yang sekarang lebih menantang karena menggantung indah dan mantap. "Oh Ron aku sudah tidak kuat Ron.. Okh.. Ron.. Okh.. Ron.. Okh" "Tahan sebentar Tan.. Aku jagu sudah mau sampai okh.. Okh" erangan Rony menahan goyangan Tante Susi yang semakin liar. "Okh.. Okh.. Aku keluar.. Okh.. Okh.."   Dengan cepat dicabut memeknya lalu disodorkan ke arah wajah Rony.   "Okh.. Hisap Ron.. Okh" pinta Tante Susi sambil tangannya mengocok kencang peler Rony yang saat itu sedang di ujung banget.   Dengan jilatan ganas dihisapnya vagina Tante Susi beserta cairan yang keluar dari dalam vagina itu Tante Susi terlihat sangat menikmati jilatan itu. Serr.. air mani vagina Tante Susi muncrat ke wajah Rony.   "Okh.. Okh.." erangan Tante Susi sambil terus membenamkan memeknya ke wajah Rony. "Okh Ron kamu luar biasa" puji Tante Susi atas kehebatan Rony melayaninya.   Rony duduk di sofa kembali sementara pelernya masih menegang tangguh, dengan penuh pengertian Tante Susi mengocok peler Rony yang sudah tegang.   "Okh.. enggak lama Tan.. Okh.."   Crot.. Crot.. Dari peler Rony keluar cairan putih kental yang langsung dengan sigap Tante Susi memasukkan peler Rony ke dalam mulutnya.   "Akh.. Okh.." Rony tersenyum puas begitu juga Tante Susi yang memang malam itu sangat mendambakan memeknya mengeluarkan cairan kenikmatan ditemani lelaki perkasa seperti Rony.   Keduanya lalu beranjak kekamar tidur Tante Susi, setelah Tante Susi mengajak Rony ke kamarnya untuk istirahat sejenak dengan harapan Rony dapat melanjutkan kembali memuaskan nafsu birahinya.   Mampukah Rony..?   TAMAT
Dwi Black


bangun+rumah 's link
Membesar dalam keluarga yang mewah memang saat yang mengembirakan, apa sahaja yang diimpikan pasti menjadi kenyataan. Wang ringgit mengalir seperti air di teresan. Barang-barang yang berharga dari luar dan dalam negeri menjadi mainan di badanku, dari segi pakaian, kasut dan sebagainya sudah tidak daya untuk aku senaraikan namanya.   Namun hanya satu yang sukar untuk aku rapati walaupun dibayar dengan ribuan ringgit di campakkan ke ribanya sekalipun terlalu sukar untuk aku mendapatkannya. Kasih sayang.. Satu ungkapan yang mudah namun terlalu sukar untuk aku merasai harga sebuah kasih sayang dari Papa dan Mama. Apa yang mereka tahu hanyalah, dengan lambakan wang ringgit, aku akan merasa bahagia. Setiap hari Papa dan Mama akan hilang pada awal pagi dan pulangnya sehingga lewat malam, kadang-kadang tidak pulang sampai seminggu lamanya. Selama ini aku hanya dibelai dan diberikan kasih sayang hanyalah dari orang gajiku.   Kak Esah merupakan orang ketiga yang menjaga aku, selepas orang gaji lamaku berhenti. Selepas kematian suaminya, Kak Esah terpaksa mencari nafkah sendiri bagi meneruskan hidupnya. Hasil perkahwinan dengan suaminya Kak Esah telah dikurniakan 2 orang cahaya mata, Hairul Amri 8 tahun dan Atikah 13 tahun. Melihatkan kesusahannya, Papaku telah mengizinkannya untuk tinggal di rumahku.   Kak Esah tidaklah terlalu tua, umurnya baru mencecah 37 tahun. Melihat pada bentuk badannya yang cantik dan mempunyai payudara yang agak besar pasti orang menjangka umurnya sekitar 30 tahun. Segala urusan makan dan minumku Kak Esah yang menguruskannya. Tugas Kak Esah agak mudah kerana di rumahku hanya tinggal adik bungsuku yang baru berumur 5 tahun. Apabila kami semua keluar bekerja, tinggallah Kak Esah dengan adikku sahaja di rumah sementara anak-anaknya telah keluar bersekolah.   Suatu pagi, bangun dari tidur terasa badanku begitu sakit urat sarafnya dan kepalaku terasa begitu berat bagaikan ada batu yang menghempapnya. Aku gagahkan badanku keluar dari bilik mencari Mamaku dengan alasan dapatlah ia menghantar aku ke klinik.   "Maa.. Maa.." jeritanku memecahkan kesunyian pagi. "Ada apa Zack? Mamamu tiada kerana pagi-pagi lagi ia sudah keluar" celah Kak Esah. "Papa mana kak, sunyi aje rumah ni?" tanyaku sambil melilau mataku mencari sesuatu. "Papamu tak balik semalam kerana ada kerja luar, 2 hari lagi baru balik dan Haiqal mengikut Mamanya keluar pagi tadi, katanya mahu membeli barang." jelas Kak Esah.   Kepalaku terasa berdenyut-denyut dan daya imbanganku kian pudar, badanku terhoyong-hayang mencari kerusi. Namun tidak sempat sampai, aku terasa badanku rebah ke lantai. Mujurlah Kak Esah sempat menyambutku namun aku sudah tidak berdaya lagi untuk membuka mata.   Sedar-sedar terasa begitu sejuk seluruh badanku, hawa dingin dari alat penghawa dingin kurasakan terus meresap ke kulitku. Aku lihat diriku sudah berada di atas tilam di dalam bilikku kembali. Namun aku merasakan seperti ada benda merayap-rayap di kakiku. Aku cuba mengangkat kepala untuk melihat, tersentak dengan itu juga aku menyandar kembali. Aku mengeluh perlahan, mahu tidak tersentak bila melihat tubuhku tanpa seurat benang dan Kak Esah sedang asyik menjilat-jilat pehaku dan tangannya terus mengusap-ngusap batangku yang masih terkulai layu.   Aku lihat Kak Esah seperti seekor singa yang kehausan, habis seluruh batangku di kolumnya. Melihatkan tubuh Kak Esah yang dari tadinya telah menanggalkan seluruh pakaiannya, nafsuku mula teransang memandang dua buah betik yang tergantung pejal di dadanya. Begitu juga dengan bulu jembutnya yang menumbuh halus, menampakkan lubang cipapnya yang tembam.   "Ehemm.. Arghh.." tidak dapat aku menahan kesedapan.   Kak Esah masih memain-mainkan lidahnya ke lubang kencingku dan sesekali ia menjilat dan mengulum biji telurku. Terasa sesak nafasku menahan kenikmatan bila batangku di masukkan terus ke dalam mulutnya.   Cloopp.. Claapp batang berbunyi.   Daripada bawah Kak Esah terus menaikkan lidahnya menjilat pusatku dan terus ke puting tetekku yang semakin mengeras bila giginya menggigit manja putingku. Badanku terasa hangat bila payudaranya bergesel lembut di badanku. Pening di kepalaku semakin hilang bila di kerjakan Kak Esah. Aku sudah tidak tahan lagi bila dikerjakan sebegini namun niatku terbantut untuk bangun bila kurasakan tanganku diikat pada penjuru katilku. Aku lihat Kak Esah hanya tersenyum manja menampakkan barisan gigi putihnya yang tersusun rapi.   "Kak, tak bestlah macam ni" aku melepaskan keluhan.   Namun Kak Esah tidak menjawap sebaliknya ia terus merangkul bibirku bertaut rapat dengan bibirnya. Aku tidak mampu bersuara sebaliknya terus memain-mainkan lidahku di mulutnya.   "Hebat juga penangan janda sorang ni" kata aku di dalam hati, mungkn lepaskan geram kerana lama sudah tak dapat.   Kak Esah kemudiannya menjilat terus leherku dan terus memasukkan lidahnya ke lubang telingaku. Gerakannya membuatkan aku tidak tahan kegelian apabila ia terus memain-mainkan lidahnya di lubang telingaku. Kemudian ia jilat kembali batangku sebelum ia menekan masuk batangku ke lubang cipapnya. Terasa sendat lubang vaginanya, bila kepala takukku mula mengelinap masuk lubang cipapnya, mungkin kerana sudah agak lama tidak servis membuatkan lubangnya seperti anak dara rasanya. Teringat aku akan cipap Julia yang padat sama seperti cipap Kak Esah sewaktu aku menikmatinya sewaktu di pulau dahulu.   "Arghh sakitnya.. Sedapnya" rengekan Kak Esah bila batangku yang besar menusuki lubang cipapnya. "Arggh.. Urghh" aku juga menahan kenikmatan. "Wah.. Besar dan panjang batangmu.. Tak sama dengan batang arwah pakcikmu dulu" luahan Kak Esah antara jelas dan tak jelas.   Semakin lama semakin laju Kak Esah turun dan naik di atas badanku bila terasa minyak pelincirnya sudah mula beroperasi, terasa semakin longgar lubang vaginanya. Senak juga terasa perutku bila punggung Kak Esah mendarat terus memasukkan seluruh batangku. Kak Esah terus memainkan peranannya dan sesekali ia mencium rakus bibirku.   Aku turut membantu Kak Esah dengan mengangkat turun dan naik punggungku bagi merapatkan batangku ke dalam cipapnya. Aku sudah tidak tertahan lagi dikerjakan oleh janda seorang ni. Aku rasakan ada cairan hangat mengalir keluar di batangku dan satu hentakkan kuat menyenakkan perutku. Kak Esah mengejang kepuasan setelah sampai klimaknya. Namun batangku masih mencapai kepuasan yang sebenar, masih jauh lagi untukku sampai penamatnya.   Aku cuba menanggalkan ikatan tanganku dengan mulut dan akhirnya telerai jua ikatan yang menyeksakan batinku itu. Aku lihat Kak Esah masih lagi terlentang kepuasan dan aku tidak melepaskan peluang yang ada di depan mataku. Kini giliranku pula untuk memainkan peranan. Aku mencium kembali bibirnya yang masih kelembapan dan meramas-ramas lembut payudaranya.   "Ehemm.. Erghh" Kak Esah mengerang kegelian bila lidahku mula memain-mainkan cipapnya.   Aku lihat bibir mulut bawahnya masih penuh dengan lender-lendir pejal yang masih bertakung di lubang cipapnya. Aku terus merasai madu dari lubang vagina Kak Esah sehingga kian kering airnya aku menjilatnya. Lidahku terus menjilat dan memain-mainkan biji kelentitnya, terangkat-rangkat punggungnya menahan kelazatan dan kegelian. Melihatkan Kak Esah yang telah hilang kelesuan, aku tanpa menunggu lama terus melancarkan serangan terhadap cipapnya.   Aku tarik sedikit bahagian kaki terjuntai ke lantai dan ku kangkangkan pehanya agar memudahkan pelayaranku. Aku halakan kepala takukku ke lubangnya dan terasa kemutan Kak Esah masih lagi bertenaga menelan batangku. Tidak sukar untuk ku teluskan lubang vaginanya kerana salurannya masih licin terkena simbahan lava dari lubang keramatnya. Aku menekan habis batangku terus ke dalam lubangnya sehingga rapat telurku ke cipap Kak Esah.   "Arghh.. Ughh.. Sedapnya, lagi Zack.. Laju lagi.." Kak Esah mengangkat-ngangkat punggungnya mengikut rentakku.   Kini aku tonggengkan pula punggungnya dan Kak Esah hanya menurut sahaja kehendakku. Aku benamkan lagi batangku ke cipapnya, aku uli-uli punggungnya yang pejal itu. Aku sorong, aku tarik, aku goyang-goyangkan batangku di dalam lubangnya hingga terasa dinding-dinding mengena kepala takukku.   Cloopp.. Claapp berbunyi lubang cipapnya menahan asakanku.   "Zack, akak sudah nak sampai ni" aku terasa batangku berdenyut-denyut menahan kemutan Kak Esah. "Sekajap lagi kak, saya pun sudah nak klimaks ni, kita sama-sama sampai ke perhentian". "Cepat sikit, akak sudah tak tahan ni" rayu Kak Esah menahan asakkanku. "Nak tembak kat mana ni kak?" aku meminta kepastian. "Di dalam sahaja.. Akak sudah lama tak cuci dalam tu" "Arghh.. Urghh.." Croott.. Croott.. beberapa das tembakkanku tepat pada sasaran. "Kau memang hebat Zack, tidak pernah aku merasai kenikmatan yang begitu sedap" mulutnya terus menyatu dengan bibirku.   Terasa air hangat mengalir keluar di batangku dan aku masih membiarkan batang terus layu di dalam lubang dalam vaginanya. Aku terus lena dipangkuan Kak Esah. Namun Kak Esah segera bangun membersihkan dirinya sebelum Mama dan adikku pulang. Aku segera menelefon pejabatku bahawa aku tidak dapat hadir kerana kurang sihat. Segera aku bangun dari katil bila melihat Kak Esah masih berada di dalam bilik air.   Aku memeluk tubuh Kak Esah dari belakang dan meramas-ramas payudaranya, Kak Esah merenggek kesedapan. Aku mengambil sabun dan membantu mengabunkan seluruh tubuhnya. Bermula dari badan kemudian aku turun ke bawah, namun tanganku behenti di lubuk kenikmatannya dan memain-mainkan jariku ke dalam pusarnya. Kak Esah sudah tidak tahan terus menangkap batangku dan memasukkan ke dalam lubang cipapnya. Aku juga perlu segera menghabiskan pelayaranku dengan segera kerana takut Mama dan adikku akan segera pulang. Setelah hampir setengah jam bertukar-tukar posisi, akhirnya aku segera melepaskan segala lavaku ke dalam mulut Kak Esah.   Crott.. Croott.. Arghh.. tangan Kak Esah terus memain-mainkan batangku ke dalam mulutnya.   Habis licin dijilatnya batangku. Semenjak hari itu, aku kini menjadi suami kedua kepada Kak Esah dan kami akan melakukannya bila ada peluang yang terhidang. Rahsiaku bersama Kak Esah terus tersimpan rapi hingga Kak Esah berhenti dari rumahku kerana pulang ke kampung menjaga ibunya yang sedang sakit dan tempat Kak Esah kini telah diambil oleh orang gaji baruku yang berasal dari Indonesia. Ning Arti juga boleh tahan pukulan seksnya, mahu tercabut batangku bila ia menyepit dan mengedut batang di dalam cipapnya.   Tamat
Dwi Black


bangun+rumah 's link
Sebenarnya ayah saya asli orang Indonesia dan ibu juga, tapi dari cerita yang saya dapatkan dari kelurga, bahwa ibu saya pernah kerja di USA atau di Houston sebagai pembantu rumah tangga. Waktu itu ada pamilik yang tinggal di Huston memerlukan seorang pembantu untuk mengurusi anaknya. Pendek cerita ibu saya sudah 2 tahun di Huston mendapat masalah, dimana dia pernah diperkosa sama orang Bule di sana, dan karena sudah trauma dengan kejadian yang menimpanya, maka dia minta pulang ke Indonesia.   Sesampainya di Indonesia dia langsung mendapatkan jodoh, yaitu ayah saya sekarang, dan ternyata ibu saya telah hamil dengan orang Bule yang pernah memperkosanya. Itulah pendek cerita mengenai latar belakang saya, kenapa saya jadi keturunan indo.   Okey sorry terlalu panjang pendahuluannya, kita langsung saja ke ceritanya. Kejadian ini bermula dimana saya memiliki pacar yang sangat cemburu dan sayang sama saya, maka saya dianjurkan mengontrak rumah di rumah tantenya yang tentunya berdekatan dengan rumahnya. Saya bekerja di salah satu perusahaan Asing yang berkecimpung di Akuntan Public yang terkenal dan ternama, maka saya mendapatkan uang yang secukupnya untuk membiayai adik saya 5 orang yang sedang kuliah di Jakarta. Dan untung saja 3 orang masuk UI dan 2 orang masuk IPB, maka dengan mudah saya bayar uang semesterannya. Sedangkan saya sendiri hanya membutuhkan uang makan dan ongkos, dimana saya tinggal di kawasan Bogor yang terkenal dengan hujannya.   Setelah dua tahun saya mengontrak di rumah yang sampai sekarang juga masih saya tempati, terjadilah kejadian ini. Dimana waktu itu kelima adik saya pulang kampung karena liburan panjang ke Kalimantan, sedangkan saya yang kerja tidak dapat pulang kampung dengan mereka, maka tinggallah saya seorang diri di Jakarta. Waktu itu tepat hari Sabtu, dimana Om Boyke atau suami Tante Linda ini biasanya kerja pada hari Sabtu, maklum dia adalah pegawai swasta dan sering juga ke lapangan dimana dia bekerja di perminyakan di lepas pantai. Jadi waktu itu Om Boyke ke lapangan dan tinggallah Tante Linda sendirian di rumah.   Tante Linda telah menikah, tetapi sudah lama tidak mendapatkan anak hampir sudah 8 tahun, dan hal itu menjadi pertanyaan siapa yang salah, Tante Linda apa Om Boyke. Okey waktu itu tepatnya malam Sabtu hujan di Bogor begitu derasnya yang dapat menggoda diri untuk bermalas-malas. Secara otomatis saya langsung masuk kamar tidur dan langsung tergeletak.   Tiba-tiba Tante Linda memanggil, "Jach... Jach... Jach... tolong dong..!"     Saya menyahut panggilannya, "Ada apaan Tante..?"     "Ini lho.. rumah Tante bocor, tolong dong diperbaiki..!"     Lalu saya ambil inisiatif mencarikan plastik untuk dipakai sementara supaya hujannya tidak terlalu deras masuk rumah. 10 menitan saya mengerjakannya, setelah itu telah teratasi kebocoran rumah Tante Linda.Kemudian saya merapikan pakaian saya dan sambil duduk di kursi ruang makan.     Terus Tante Linda menawarkan saya minum kopi, "Nih.., biar hangat..!"     Karena saya basah kuyup semua waktu memperbaiki atap rumahnya yang bocor.     Saya jawab, "Okelah boleh juga, tapi saya ganti baju dulu ke rumah.." sambil saya melangkah ke rumah samping.     Saya mengontrak rumah petak Tante Linda persis di samping rumahnya.   Tidak berapa lama saya kembali ke rumah Tante Linda dengan mengenakan celana pendek tanpa celana dalam. Sejenak saya terhenyak menyaksikan pemandangan di depan mata, rupanya disaat saya pergi mandi dan ganti baju tadi, Tante Linda juga rupanya mandi dan telah ganti baju tidur yang seksi dan sangat menggiurkan. Tapi saya berusaha membuang pikiran kotor dari otak saya. Tante Linda menawarkan saya duduk sambil melangkah ke dapur mengambilkan kopi kesenangan saya. Selang beberapa lama, Tante Linda sudah kembali dengan secngkir kopi di tangannya.   Sewaktu Tante Linda meletakkan gelas ke meja persis di depan saya, tidak sengaja terlihat belahan buah dada yang begitu sangat menggiurkan, dan dapat merangsang saya seketika. Entah setan apa yang telah hinggap pada diri saya. Untuk menghindarkan yang tidak-tidak, maka dengan cepat saya berusaha secepat mungkin membuang jauh-jauh pikiran kotor yang sedang melanda diri saya.   Tante Linda memulai pembicaraan, "Giman Jach..? Udah hilang dinginnya, sorry ya kamu udah saya reporin beresin genteng Tante."     "Ah... nggak apa-apa lagi Tante, namanya juga tetangga, apalagi saya kan ngontrak di rumah Tante, dan kebetulan Om tidak ada jadi apa salahnya menolong orang yang memerlukan pertolongan kita." kata saya mencoba memberikan penjelasan.     "Omong-omong Jach, adik-adik kamu pada kemana semua..? Biasanya kan udah pada pulag kuliah jam segini,"     "Rupanya Tante Linda tidak tau ya, kan tadi siang khan udah pada berangkat ke Kalimantan berlibur 2 bulan di sana."     "Oh... jadi kamu sendiri dong di rumah..?"     "Iya Tante.." jawab saya dengan santai.   Terus saya tanya, "Tante juga sendiri ya..? Biasanya ada si Mbok.., dimana Tante?"     "Itu dia Jach, dia tadi sore minta pulang ke Bandung lihat cucunya baru lahir, jadi dia minta ijin 1 minggu. Kebetulan Om kamu tidak di rumah, jadi tidak terlalu repot. Saya kasih aja dia pulang ke rumah anaknya di Bandung." jelasnya.   Saya lihat jam dinding menunjukkan sudah jam 23.00 wib malam, tapi rasa ngantuk belum juga ada. Saya lihat Tante Linda sudah mulai menguap, tapi saya tidak hiraukan karena kebetulan Film di televisi pada saat itu lagi seru, dan tumben-tumbennya malam Sabtu enak siarannya, biasanya juga tidak. Tante Linda tidak kedengaran lagi suaranya, dan rupanya dia sudah ketiduran di sofa dengan kondisi pada saat itu dia tepat satu sofa dengan saya persis di samping saya.   Sudah setengah jam lebih kurang Tante Linda ketiduran, waktu itu sudah menunjukkan pukul 23.35.     "Aduh gimana ini, saya mau pulang tapi Tante Linda sedang ketiduran, mau pamitan gimana ya..?" kata saya dalam hati.     Tiba-tiba saya melihat pemandangan yang tidak pernah saya lihat. Dimana Tante Linda dengan posisi mengangkat kaki ke sofa sebelah dan agak selonjoran sedang ketiduran, dengan otomatis dasternya tersikap dan terlihat warna celananya yang krem dengan godaan yang ada di depan mata. Hal ini membuat iman saya sedikit goyang, tapi biar begitu saya tetap berusaha menenangkan pikiran saya.   Akhirnya, dari pada saya semakin lama disini semaking tidak terkendali, lebih baik saya bangunkan Tante Linda biar saya permisi pulang. Akhirnya saya beranikan diri untuk membangunkan Tante Linda untuk pulang. Dengan sedikit grogi saya pegang pundaknya.     "Tan... Tan..."     Dengan bermalas-malas Tante Linda mulai terbangun. Karena saya dengan posisi duduk persis di sampingnya, otomatis Tante Linda menyandar ke bahu saya. Dengan perasaan yang sangat kikuk, tidak ada lagi yang dapat saya lakukan. Dengan usaha sekali lagi saya bangunkan Tante Linda.     "Tan... Tan..."   Walaupun sudah dengan mengelus tangannya, Tante Linda bukannya bangun, bahkan sekarang tangannya tepat di atas paha saya.     "Aduh gimana ini..?" gumam saya dalam hati, "Gimana nantinya ini..?"     Entah setan apa yang telah hinggap, akhirnya tanpa disadari saya sudah berani membelai rambutnya dan mengelus bahunya. Belum puas dengan bahunya, dengan sedikit hati-hati saya elus badannya dari belakang dengan sedikit menyenggol buah dadanya. Aduh.., adik saya langsung lancang depan. Dengan tegangan tinggi, nafsu sudah kepalang naik, dan dengan sedikit keberanian yang tinggi, saya dekatkan bibir saya ke bibirnya. Tercium sejenak bau harum mulutnya.   Pelan-pelan saya tempelkan dengan gemetaran bibir saya, tapi anehnya Tante Linda tidak bereaksi apa-apa, entah menolak atau menerima. Dengan sedikit keberanian lagi, saya julurkan lidah ke dalam mulutnya. Dengan sedikit mendesah, Tante Linda mengagetkan saya. Dia terbangun, tapi entah kenapa bukannya saya ketakutan malah keluar pujian.     "Tante Linda cantik udah ngantuk ya..? Mmuahhh..!" saya kecup bibirnya dengan lembut.     Tanpa saya sadari, saya sudah memegang buah dadanya pada ciuman ketiga.   Tante Linda membalas ciuman saya dengan lembut. Dia sudah pakar soal bagaimana cara ciuman yang nikmat, yaitu dengan merangkul leher saya dia menciumi langit-langit mulut saya. 10 menit kami saling berciuman, dan sekarang saya sudah mengelus-elus buah dadanya yang sekal.     "Ahk... ahk..!" dengan sedikit tergesa-gesa Tante Linda sudah menarik celana saya yang tanpa celana dalam, dan dengan cepat dia menciumi kepala penis saya.     "Ahkk... ah..!" nikmatnya tidak tergambarkan, "Ahkkk..!"   Saya pun tidak mau kalah, saya singkapkan dasternya yang tipis ke atas. Alangkah terkejutnya saya, rupanya Tante Linda sudah tidak mengenakan apa-apa lagi di balik dasternya. Dengan agak agresif saya ciumi gunung vaginanya, terus mencari klistorisnya.     "Akh... akh... hus..!" desahnya.     Tante Linda sudah terangsang, terlihat dari vaginanya yang membasah. Saya harus membangkitkan nafsu saya lebih tinggi lagi.   30 menit sudah kami pemanasan, dan sekarang kami sudah berbugil ria tanpa sehelai benang pun yang lengket di badan kami. Tanpa saya perintah, Tante Linda merenggangkan pahanya lebar-lebar, dan langsung saya ambil posisi berjongkok tepat dekat kemaluannya. Dengan sedikit gemetaran, saya arahkan batang kemaluan saya dengan mengelus-elus di bibir vaginanya.     "Akh... husss... ahk..!" sedikit demi sedikit sudah masuk kepala penis saya.     "Akh... akh..!" dengan sedikit dorongan, "Bless... sss..!" masuk semuanya batang kejantanan saya.   Setelah saya diamkan semenit, secara langsung Tante Linda menggoyang-goyang pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Tanpa diperintah lagi, saya maju-mundurkan batang kemaluan saya.     "Akh... uh... terus Sayang.., kenapa tidak dari dulu kamu puasin Tante..? Akh... blesset... plup... kcok... ckock... plup... blesset.. akh.. aduh Tante mau keluar nih..!"     "Tunggu Tante, saya juga udah mau datang..!"     Dengan sedikit hentakan, saya maju-mundurkan kembali batang kemaluan saya.   Sudah 15 menit kami saling berlomba ke bukit kenikmatan, kepala penis saya sudah mulai terasa gatal, dan Tante Linda teriak, "Akh..!"     Bersamaan kami meledak, "Crot... crot... crot..!" begitu banyak mani saya muncrat di dalam kandungannya.     Badan saya langsung lemas, kami terkulai di karpet ruang tamu.   Tante Linda kemudian mengajak saya ke kamar tamu. Sesampainya disana Tante Linda langsung mengemut batang kemaluan saya, entah kenapa penis saya belum mati dari tegangnya sehabis mencapai klimaks tadi. Langsung Tante Linda mengakanginya, mengarahkan kepala penis saya ke bibir vaginanya.     "Akh... husss..!" seperti kepedasan Tante Linda dengan liarnya menggoyang-goyangkan pinggulnya.     "Blesset... crup... crup... clup... cloppp..!" suara kemaluannya ketika dimasuki berulang-ulang dengan penis saya.   30 menit kami saling mengadu, entah sudah berapa kali Tante Linda orgasme. Tiba saatnya lahar panas mau keluar.     "Crot.., crot..!" meskipun sudah memuncratkan lahar panas, tidak lepas-lepasnya Tante Linda masih menggoyang pantatnya dengan teriakan kencang, "Akh..!"     Kemudian Tante tertidur di dada saya, kami menikmati sisa-sisa kenikmatan dengan batang kejantanan saya masih berada di dalam vaginanya dengan posisi miring karena pegal. Dengan posisi dia di atas, seakan-akan Tante Linda tidak mau melepaskan penis saya dari dalam vaginanya. Begitulah malam itu kami habiskan sampai 3 kali bersetubuh.   Jam 5 pagi saya ngumpat-umpat masuk ke rumah saya di sebelah, dan tertidur akibat kelelahan satu malam kerja berat. Begitulah kami melakukan hampir setiap malam sampai Om itu pulang dari kerjanya. Dan sepulangnya adik saya dari Kalimantan, kami tidak dapat lagi dengan leluasa bercinta. Begitulah kami hanya melakukan satu kali. Dalam dua hari itu pun kami lakukan dengan menyelinap ke dapurnya. Kebetulan dapurnya yang ada jendela itu berketepatan dengan kamar mandi kami di rumah sebelahnya.   3 bulan kemudian Tante Linda hamil dan sangat senang. Semua keluarganya memestakan anak yang mereka tunggu-tunggu 8 1/2 tahun. Tapi entah kenapa, Tante Linda tidak pernah mengatakan apa-apa mengenai kadungannya, dan kami masih melakukan kebutuhan kami.   TAMAT   0  0  0  3 
Maria Khlentia Niranthi


bangun+rumah 's link
“To the one who showed me Moonlight... thank you...” Prolog ADA sesuatu yang ingin kukatakan padamu sejak dulu. Sampai sekarang aku belum mengatakannya karena... yah, karena berbagai alasan. Dan alasan utamanya adalah karena aku takut. Kalau aku mengatakannya, reaksi apa yang akan kauberikan? Apakah kau akan menerima pengakuanku? Apakah kau akan percaya padaku? Apakah kau masih akan menatapku seperti ini? Tersenyum padaku seperti ini? Atau apakah justru kau akan menjauh dariku? Meninggalkanku? Tapi aku tahu aku harus mengatakannya padamu. Aku tidak mungkin menyimpannya selamanya. Entah bagaimana reaksimu nanti setelah mendengarnya, aku hanya berharap satu hal padamu. Jangan pergi dariku. Tetaplah di sisiku. Bab Satu Seoul, Korea Selatan “AKHIRNYA kaujawab juga teleponmu. Aku sudah mencoba menghubungimu berkali-kali selama tiga hari terakhir.” Kata-kata itu menerjang gendang telinga Danny Jo bahkan sebelum ia sempat berkata “Halo”. Ia bahkan juga belum sempat benar-benar menempelkan ponselnya ke telinga. Mengenali suara sahabatnya di ujung sana, Danny tertawa dan berkata, “Jung Tae-Woo, aku tahu kau rindu padaku, tapi tolong kecilkan sedikit suaramu. Aku tidak mau orang-orang yang ada di dekatmu berpikir kita pacaran atau semacamnya. Kau mungkin sudah terbiasa dengan gosip gay1, tapi aku tidak.” Jung Tae-Woo tertawa hambar. “Lucu sekali,” katanya datar. Danny berdiri menghadap kaca jendela besar di kantor itu, menatap jalanan Apgujeong-dong di bawah sana. Jalanan cukup ramai, orang-orang dalam balutan jaket tebal beraneka warna berjalan di sepanjang trotoar dan mobil-mobil berseliweran di jalan raya. Pemandangan yang sangat biasa. Pemandangan seharihari yang sering kali diabaikan kebanyakan orang. Namun Danny menyukainya. Ia suka mengamati keadaan di sekitarnya, setiap pejalan kaki dan setiap mobil yang lewat. “Sebenarnya aku tahu kau meneleponku,” kata danny ringan, “dan aku minta maaf karena tidak sempat membalas teleponmu. Kau sendiri penyanyi terkenal, jadi kau tentu tahu bagaimana rasanya saat jadwal kerjamu begitu padat sampai kau bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain. Aku harus berangkat ke London minggu depan, jadi semua pekerjaanku di sini harus selesai sebelum itu.” “Aku tahu kau mau pergi ke London,” sela Tae-Woo. “Karena itulah aku meneleponmu. Aku butuh bantuan.” “Tentu,” sahut Danny tanpa ragu, “katakan saja.” “Aku ingin kau tampil dalam video musikku.” “Video musikmu?” 1 Baca Summer In Seoul “Syutingnya akan dilakukan di London. Kau tahu siapa yang sudah setuju menjadi sutradaranya?” Tanpa menunggu jawaban, Tae-Woo melanjutkan, “Bobby Shin. Dan karena aku tahu kau akan pergi ke London untuk bekerja dengannya, kupikir kami tidak perlu mencari model pria lagi. Kau model pria yang sempurna. Bagaimana menurutmu?” Danny mendesah, pura-pura pasrah. “Apakah aku punya pilihan lain?” “Tidak,” kata Tae-Woo sambil tertawa. “Oke. Berarti kita sudah sepakat. Oh ya, Danny, asal kau tahu, wajahmu tidak akan terlihat sepanjang video musik itu. Hanya model wanitanya yang akan disorot.” Alis Danny terangkat. “Apa? Kenapa?” “Secara pribadi, menurutku kau terlalu tampan untuk video musikku,” gurau Jung Tae-Woo. “Tapi tenanglah, walaupun hanya punggungmu atau bagian belakang kepalamu yang terlihat, seluruh Korea akan tahu bahwa Danny Jo yang membintangi video musik Jung Tae-Woo. Kalau kau keberatan, silakan bicarakan dengan Sutradara Shin. Dia yan gmembuat konsep video musiknya.” Danny kembali mendesah berlebihan, namun mulutnya tersenyum. “Jung Tae- Woo, aku ini orang sibuk, baik di sini maupun di London nanti. Jadi katakan padaku, kenapa aku harus meluangkan waktuku yang berharga untuk tampil dalam video musikmu kalau wajahku tidak akan terlihat?” Mengabaikan pertanyaan Danny, Jung Tae-Woo malah balas bertanya, “Sibuk? Maksudmu sibuk pacaran?” Lalu ia terkekeh. “Kapan kau akan mengenalkan pacarmu kepadaku?” Alis Danny terangkat heran. “Apa maksudmu? Pacar apa?” “Gadis yang kulihat keluar dari restoran di Gangnam bersamamu kemarin malam. Apakah gaids itu yang membuatmu sibuk akhir-akhir ini?” Mata Danny menyipit begitu teringat kejadian kemarin malam. Dan beberapa kejadian sebelum kejadian kemarin malam. “Dia bukan pacarku.” “Oh, yang benar saja.” “Dia... bukan... pacarku,” ulang Danny, menekankan seitap kata. “Lagi pula apa-apaan ini? Kau sudah beralih profesi menjadi wartawan atau apa?” Jung Tae-Woo tertawa. “Hei, aku hanya bertanya.” Saat itu pintu kantor terbuka dan Danny berbalik. Matanya terarah pada wanita bertubuh langsing dan berambut pendek yang berdiri di ambang pintu dan yang menatap Danny dengan alis terangkat. Danny yakin kakak perempuannya heran ia muncul di sini tanpa pemberitahuan. Ia mengangkat sebelah tangan, tanpa suara menyapa kakaknya, dan tersenyum singkat, senyum yang sudah membuat banyak gadis penggemarnya luluh lantak. “Aku harus pergi sekarang. Nanti kita bicara lagi,” kata Danny di ponsel. Tanpa menunggu jawaban Tae-Woo ia menutup ponsel, menjejalkan benda itu ke saku celana jinsnya, lalu berpaling ke arah kakaknya. “Nuna2 harus bicara dengan Ibu,” katanya langsung tanpa basa-basi. Anna Jo, yang sedang melepaskan topi, menghentikan gerakannya dan menatap adiknya dengan heran, lalu tersenyum. “Selamat pagi juga, adikku sayang,” katanya sambil menyisir rambutnya yang berpotongan modis dengan jari. “Dan apa yang harus kubicarakan dengan Ibu?” Anna tiga tahun lebih tua daripada Danny. Wajah kedua kakak beradik itu tidak mirip, tetapi mereka sama-sama memiliki wajah menarik yang disukai para fotografer, sama-sama memiliki bentuk tubuh jangkung dan ramping yang disukai para perancang busana, sama-sama memiliki kepandaian berbicara yang membuat mereka disenangi orang-orang yang bekerja sama dengan mereka. Semua itulah yang menjadikan mereka model terkenal. Dulu Anna Jo adalah model fashion yang menghabiskan waktunya berjalan di atas catwalk di seluruh penjuru dunia. Namun sejak lima tahun lalu ia mulai dikenal sebagai perancang busana dan butik-butiknya kini tersebar di Seoul dan Tokyo. Danny mengerang dan menjatuhkan dirinya di kursi berlengan di depan meja kerja kakaknya. “Nuna, aku benar-benar harus bicara dengan Ibu,” katanya lagi, kali ini dengan suara yang terdengar tertekan. “Ibu tidak bisa terus berusaha menjodohkan aku dengan anak perempuan sahabatnya, atau saudara perempuan kenalannya, atau—seperti yang terjadi kemarin malam—keponakan perempuan orang yang baru dikenalnya di salon! Ini sudah kelewatan. Kenapa tiba-tiba saja Ibu begitu bersemangat ingin menjodohkan aku? Dan asal Nuna tahu, akhir-akhir aku sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk main-main.” Kalau kakaknya lebih dikenal sebagai model catwalk, maka Danny lebih dikenal sebagai model iklan. Wajahnya sering terpampang di majalah-majalah dan iklan televisi. Menurut survei salah satu majalah remaja populer, Danny Jo adalah salah satu bintang iklan paling diminati di Korea Selatan, walaupun akhir-akhir ini ia mulai memfokuskan diri pada impiannya yang lain, yaitu menjadi sutradara video musik. Anna tersenyum lebar dan memeriksa surat-surat yang diletakkan sekretarisnya dengan rapi di atas meja kerja. “Kurasa kencan buta yang diatur Ibu untukmu kemarin malam tidak berjalan mulus? Kau tidak suka gadis itu?” Danny mencondongkan badan ke depan, wajahnya serius. “Apakah Nuna percaya kalau kubilang gadis itu baru lulus SMA?” Mata Anna melebar menatap adiknya, lalu tertawa terbahak-bahak. “Astaga, Ibu benar-benar sudah kelewatan kali ini.” Danny mendesah berat dan bersandar ke kursinya kembali. “Apa yang Ibu rencanakan? Kenapa Ibu ingin aku segera menikah? Aku tidak mengerti. Nuna harus membantuku menyadarkan Ibu. Kalau tidak, aku bisa gila.” “Kenapa bukan kau sendiri yang bicara dengan Ibu?” “Aku sudah mencobanya, tapi Ibu tidak mau mendengarkanku,” sahut Danny. “Ibu beralasan bahwa dia hanya ingin membantu, karena aku terlalu sibuk bekerja sampai tidak sempat bersosialisasi. Katanya siapa tahu di antara gadis-gadis yang dikenalkannya kepadaku itu ada yang cocok untukku. Katanya dia hanya bermaksud baik dan aku seharusnya menghargai usahanya.” Danny terdiam, lalu menatap kakaknya dengan mata disipitkan. “Jangan-jangan Nuna dulu menikah juga karena dijodohkan Ibu?” “Jo In-Ho, jangan sampai kakak iparmu mendengar itu,” Anna Jo memperingatkan sambil tertawa. “Dia sangat gencar mengejarku dulu.” Danny tersenyum masam. “Aku tahu.” Anna Jo memandang adiknya yang sedang tertekan itu dengan perasaan geli bercampur kasihan. “Setelah tiga kali mencoba dan gagal, kurasa Ibu akan menyerah.” Danny menggeleng cepat. “Oh, kurasa tidak. Kemarin Ibu bertanya padaku wanita seperti apa yang kusuka. Untuk memudahkannya mencari wanita yang tepat untukku, begitu katanya. Aku yakin dia masih belum menyerah.” “Lalu apa yang kaukatakan padanya?” Kali ini Danny tersenyum kecil. “Kukatakan padanya kami akan melanjutkan pembicaraan itu setelah aku kembali dari London.” Anna mengangkat alis. “Oh, kau jadi pergi ke London?” Danny memang pernah bercerita pada kakaknya bahwa ia akan pergi ke London untuk bekerja dengan Bobby Shin, salah seorang sutradara video musik terkenal di Korea. Walaupun Sutradara Shin sudah menetap di London bersama keluarganya, kadang-kadang ia masih aktif bekerja di Korea. Danny sudah beberapa kali bekerja sama dengan Sutradara Shin dalam pembuatan video musik dan ia snagat mengagumi pria yang lebih tua itu. Sekarang Danny kembali ditawari oleh Sutradara Shin sendiri untuk bekerja sama dengannya di London. Bukan sebagai model, tetapi sebagai asisten sutradara. Danny tidak mungkin melepaskan kesempatan sebesar itu. “Aku akan berangkat minggu depan,” kata Danny. “Ibu pasti uring-uringan,” kata Anna smabil tersenyum kecil dan menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. “Dia tidak pernah merasa tenang kalau kau pergi ke luar negeri. Apalagi kali ini kau akan bekerja dengan Sutradara Shin. Kau pasti akan cukup lama tinggal di sana. Kau sudah memberitahu Ibu tentang ini?” Danny tersenyum lebar. “Oh, ya. Ibu mengeluh panjang-lebar dan terdengar sangat kecewa. Tapi tidak apa-apa. Yang penting aku bisa melarikan diri darinya untuk sementara.” * * * London, Inggris Satu minggu kemudian Naomi Ishida membuka matanya yang terasa berat, lalu ia mengangkat tangan menutupi mata dan mengerang pelan. Sinar matahari yang menembus jendela kamar tidur menyilaukan matanya. Ia menguap lebar sambil merenggangkan lengan dan kaki dengan posisi yang masih terbaring di tempat tidur. Lalu ia memaksa diri berguling turun dari tempat tidur, berjalan dengan langkah diseretseret ke meja tulis di depan jendela untuk mematikan lampu meja yang masih menyala dan memandang ke luar jendela. Tidak biasanya langit kota London terlihat cerah. Sepertinya musim semi yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Naomi membuka jendela dan menarik napas dalamdalam, mengisi paru-paru dan seluruh tubuhnya yang masih lemas dengan semangat musim semi. Tetapi karena udara masih terasa dingin, Naomi cepat-cepat menutup jendela dan menggosok-gosok kedua tangannya. Tiba-tiba matanya terarah ke jam kecil di atas meja dan ia pun terkesiap. “Oh, dear,” erangnya. Ia berlari ke pintu kamar tidur dan membukanya dengan satu sentakan cepat, mengagetkan kedua teman satu flatnya yang sedang duduk mengobrol di dapur, tepat di luar kamar tidurnya. “Apa? Apa yang terjadi?” Gadis bertubuh jangkung, berkacamata, dan berambut merah panjang, yang sedang mengenggam cangkir kopi dengan kedua tangan, menatap Naomi dengan alis terangkat heran. Walaupun penampilannya pagi ini lebih mirip penghuni panti rehabilitasi— piama bergaris-garis, jubah kebesaran, rambut acak-acakan, dan wajah mengantuk—Julie Humphrey yang lebih muda daripada Naomi sebenarnya adalah putri seorang pengusaha kaya yang lebih memilih mengejar mimpinya menjadi aktris panggung daripada masuk universitas. Dan selama beberapa tahun ini ia memang sering tampil di atas panggung pertunjukan di West End, meskipun hanya mendapat peran-peran kecil. “Aku terlambat...,” kata Naomi panik sambil berlari ke kamar mandi di samping dapur. “Aku punya jadwal syuting video musik hari ini dan aku terlambat.” Julie mengibaskan sebelah tangannya dan berkata, “Kau terlalu berlebihan, Naomi. Kau tidak pernah terlambat. Paling-paling kau hanya terlambat bangun sepuluh menit. Dan aku tahu kau pulang ke rumah larut malam kemarin. Kau berhak bangun lebih siang.” Ia kembali menyesap kopinya dan mendesah muram. “Aku kasihan pada orang-orang seperti kita bertiga yang tetap harus bekerja di hari Sabtu yang indah ini.” Naomi menyerukan sesuatu yang tidak bisa dipahami dari kamar mandi karena ia sedang sibuk menggosok gigi. “Hei, Sayang, kau mau wafel ala Chris dengan selai apel buatan sendiri?” tanya laki-laki bertubuh tinggi, ramping, dan berambut hitam yang duduk di hadapan Julie. “Kau tahu benar selai apel buatanku bisa membuatmu merasa seperti di melayang di angkasa.” Christopher Scott, yang aslinya berasal dari Edinburg, Skotlandia, berprofesi sebagai koki di salah satu restoran terkenal di Soho, walaupun ketika pertama kali bertemu dengannya, Naomi merasa Chris lebih mirip preman karena tato naga dan ular yang ada di sepanjang lengan kanannya. Meskipun begitu Naomi harus mengakui bahwa ia belum pernah bertemu preman yang memiliki mata seperti Chris. Mata biru yang benar-benar biru, mata yang bisa membuat wanita mana pun yang ditatapnya mendadak tidak bisa berpikir apa-apa. Tetapi sayangnya, Chris tidak tertarik pada wanita. Naomi kembali menyerukan serentet kata-kata yang tidak jelas artinya. Chris menoleh ke arah Julie. “Apa katanya?” Julie mengangkat bahu. “Mungkin dia tidak mau melayang di angkasa?” Tepat pada saat itu pintu kamar mandi terbuka dengan suara keras dan Naomi melesat kembali ke kamar tidurnya, disusul dengan suara pintu lemari dibuka dengan gaduh dan gantungan-gantungan baju berjatuhan ke lantai. “Tolong jangan panik, Sayang,” seru Chris tempat duduknya di dapur. “Kau bisa melukai dirimu sendiri di dalam sana kalau kau membabi-buta seperti itu.” Kemudian terdengar bunyi gedebuk keras, disusul suara Naomi yang berseru, “Aku tidak jatuh! Tenang. Aku tidak jatuh. Aku baik-baik saja.” Kedua temannya berpandangan dan mengangkat bahu. Beberapa menit kemudian Naomi muncul kembali dari balik pintu kamar tidurnya. Ia sudah berpakaian lengkap sampai ke sepatu bot dan topinya. “Ngomong-ngomong,” kata Julie, “kau akan tampil di video musik siapa?” Naomi mengangkat bahu. “Penyanyi dari Korea. Aku tidak kenal,” katanya sambil mengibaskan tangan tidak peduli. “Yang membuatku tertarik adalah konsep video musiknya. Mereka membuatnya seperti film pendek.” Julie menoleh menatap Naomi, mata hijaunya bersinar cerah. “Apakah ceritanya romantis?” tanyanya, lalu mendesah senang. “Aku suka cerita romantis.” Naomi mendesah tidak sabar. “Kurasa ceritanya tentang seorang pria yang diam-diam jatuh cinta pada seorang wanita. Selalu mengawasinya dari jauh. Diamdiam selalu membantu wanita itu tanpa pernah menunjukkan siapa dirinya. Kirakira seperti itu,” sahutnya. “Hmm... Bukankah itu romantis sekali?” desah Julie dan menatap Chris. Yang ditatap mengangguk setuju. “Kurasa agak menakutkan,” gerutu Naomi. “Coba pikir, diam-diam mengawasi si wanita dari jauh, diam-diam membantunya tanpa menunjukkan wajah. Memangnya itu tidak terdengar seperti orang sakit jiwa?” “Astaga,” gumam Chris sambil menggeleng-geleng. “Kuharap sutradara video musik ini tidak menyesal sudah memilihmu. Seharusnya kau menjadi bintang film horor.” Naomi tersenyum dan mendorong bahu Chris dengan main-main. “Baiklah, Teman-teman, aku pergi dulu.” “Kau yakin kau tidak mau makan sepotong wafel ala Chris dengan selai apel ini?” tanya Chris sambil menyodorkan piring penuh wafel. “Kau tahu sarapan adalah makanan paling penting dalam sehari. Kau sudah cukup kurus sekarang. Jangan sampai kau berubah menjadi tulang berjalan seperti orang yang duduk di depanku ini.” “Ya Tuhan, lihat siapa yang bicara,” kata Julie sambil memutar bola matanya. “Koki paling kerempeng sedunia.” Chris tersenyum lebar. “Tubuhku memang tidak bisa gemuk walaupun aku makan banyak. Sedangkan kalian berdua kurus kering karena tidak makan.” “Model memang seharusnya kurus,” gumam Naomi sambil merogoh-rogoh tasnya yang besar, memastikan semua barang pentingnya sudah ada di dalam. Dompet. Kunci. Ponsel. “Apa?” tanya Chris, tidak mendengar apa yang digumamkan Naomi tadi. “Tidak apa-apa.” Naomi menatap temannya dan tersenyum lebar. Ia tidak mungkin mengulangi ucapannya. Ia tidak berani. Chris pasti akan mulai menceramahinya dan ia tidak punya waktu mendengar omelan itu saat ini. “Aku ingin sekali mencoba wafelmu, tapi ini keadaan darurat,” kata Naomi cepat. “Aku benar-benar tidak sempat sarapan. Sekarang sudah jam...,” ia melirik jam tangannya dan terkesiap, “...oh, dear. Sepertinya aku harus berlari sepanjang jalan sampai ke stasiun. Dah, Teman-teman!” Tanpa menunggu balasan teman-temannya, Naomi berlari menuruni tangga dari flat mereka di lantai dua dan keluar ke jalan. Ia melirik jam tangannya sekali lagi. O-oh. Ya, ia sudah pasti harus berlari ke stasiun kereta. Ia tidak mungkin sempat mendongak menatap langit biru dan menikmati udara musim semi. Semua itu harus menunggu. Sudah hampir tiga tahun berlalu sejak ia pertama kali tiba di London dan sejak ia pindah ke sini ia sudah tinggal bersama Julie dan Chris di Hampstead yang terletak di pinggiran kota London. Flat yang ditempatinya bersama Jlie dan Chris berada tepat di atas Robin‟s Nest, sebuah pub tradisional Irlandia yang sudah berdiri sejak zaman dulu. Walaupun kadang-kadang suara-suara dari pub bisa terdengar sampai ke kamar tidur kalau jendelanya dibuka, Naomi tidak keberatan. Berbeda dengan kebanyakan orang, ia tidak terlalu nyaman dengan suasana sepi. Flat yang mereka tempati tidak terlalu besar, namun cukup untuk mereka bertiga. Tempat itu memiliki tiga kamar tidur—satu kamar tidur utama yang berukuran lebih besar dan dua kamar tidur yang lebih kecil—satu kamar mandi, dapur sempit dengan jendela yang menghadap ke perkarangan samping gedung sebelah, dan ruang duduk kecil dengan jendela menghadap ke bagian depan gedung. Julie menempati kamar tidur utama karena dialah yang pertama kali menempati flat ini sebelum ia mengajak Chris berbagi flat dengannya. Lalu pada musim panas lebih dua tahun lalu Naomi ikut bergabung. Naomi tidak pernah suka tinggal sendiri. Sepanjang hidupnya ia tidak pernah sendiri. Saudara kembarnya, Keiko, selalu ada bersamanya sampai ketika Naomi memutuskan untuk pindah dari Tokyo. Kadang-kadang ia mengkhawatirkan Keiko karena saudara kembarnya itu juga tidak terbiasa sendirian. Tetapi mengingat mereka memiliki tetangga-tetangga yang sangat baik di Tokyo dan setelah membaca e-mail dari Keiko yang melibatkan seorang tetangga baru di gedung apartemen mereka3, Naomi merasa ia tidak perlu mengkhawatirkan Keiko lagi. Empat puluh lima menit kemudian, Naomi sudah tiba di lokasi syuting untuk hari itu dan sudah duduk di dalam tenda sementara yang didirikan di salah satu sudut Hyde Park, salah satu taman paling terkenal di London, di dekat Serpentine Lake. Naomi memandang berkeliling dan merasa seolah-olah dalam semalam bagian kecil taman itu sudah diserbu oleh sekumpulan orang Korea. Di sekitarnya terlihat para staf produksi yang sibuk dengan tugas mereka masing-masing, berjalan cepat dari satu tempat ke tempat lain, mengangkut sesuatu, memasang sesuatu, dan saling berseru dalam bahasa asing yang sama sekali tidak bisa dipahami Naomi. Naomi juga baru menyadari bahwa selain Bobby Shin, alias si sutradara video musik, yang sudah pernah ditemuinya pada saat wawancara awal dan penata rias yang bertanggung jawab atas penampilan Naomi dari ujung kepala sampai ujung kaki, tidak ada staf produksi lain di sana yang bisa berbahasa Inggris. Tetapi pekerjaan Naomi sering menuntutnya bepergian ke luar negeri dan bekerja sama dengan orang-orang asing yang tidak bisa berbahasa Inggris dengan fasih, jadi ia merasa ia bisa mengatasi sedikit hambatan komunikasi ini. “Ini tehmu.” Naomi menoleh dan melihat penata riasnya—yang memperkenalkan diri sebagai Yoon—mengulurkan secangkir teh harum yang mengepul. Senyum Naomi mengembang. Saat itu ia baru teringat ia belum sarapan dan perutnya tiba-tiba berbunyi pelan. Ia menerima teh itu, menyesapnya, lalu mendesah senang ketika kehangatan teh itu menjalari tenggorokan, dada, dan tangannya. “Kau juga lapar?” tanya Yoon dengan bahasa Inggris yang masih dihiasi logat Korea. “Mau makan ini?” Naomi menatap sekotak donat yang disodorkan ke depan wajahnya. Gemuruh di perutnya semakin keras. “Terima kasih banyak. Kau benar-benar penyelamatku,” katanya sambil mengambil sepotong donat berselimut cokelat. Seorang model memang seharusnya kurus, tetapi seorang model tidak seharusnya mati kelaparan. 3 Baca Winter in Tokyo Penata riasnya yang sangat ramah itu meletakkan kotak donat di meja di depan Naomi, membuat Naomi bertanya-tanya apakah ia boleh mengambil sepotong lagi kalau ternyata ia masih belum kenyang. “Ngomong-ngomong, kau sudah pernah bertemu dengan lawan mainmu di video musik ini?” tanya Yoon ketika ia mulai menggulung rambut Naomi dengan rol-rol besar. Naomi mengalihkan pandangan dari kotak donat dan menatap wajah Yoon yang bulat di cermin. “Belum. Aku belum pernah bertemu dengannya. Aku bahkan belum tahu namanya,” sahutnya dan kembali menyesap tehnya yang enak sekali. Mata Yoon yang sipit langsung berbinar-binar. “Jo In-Ho,” katanya singkat. Ketika melihat Naomi yang menatapnya dengan pandangan bertanya, ia melanjutkan, “Lawan mainmu. Namanya Jo In-Ho. Tapi dia lebih dikenal dengan nama Danny Jo.” Naomi berhenti mengunyah donatnya. Yoon memandang berkeliling. “Di mana dia ya? Tadi aku sempat bertemu dengannya.” Ia mendesah dan kebmali menggulung rambut Naomi. “Mungkin kau tidak tahu, tapi dia sangat terkenal di Korea. Sering membintangi iklan dan video musik.” Karena Naomi tidak berkata apa-apa, Yoon menambahkan, “Tidak perlu khawatir. Dia sangat baik. Oh, dan dia juga tampan. Benar-benar tampan. Kalau kau melihatnya nanti, aku yakin kau akan jatuh pingsan.” Naomi masih diam. Hanya menunduk menatap teh kental yang mengepul di dalam cangkir gelasnya. Mendadak saja kehangatan yang dirasakannya tadi menguap begitu saja. Tiba-tiba Yoon menepuk-nepuk pundaknya. “Hei, lihat. Itu dia!” bisik Yoon dengan nada mendesak. Kepala Naomi berputar pelan dan matanya langsung menangkap sosok laki-laki berjaket abu-abu dan bertopi putih yang berdiri di luar tenda. Laki-laki itu melepaskan topi dan menyapa orang-orang yang mengelilinginya dengan senyum lebar, berjabat tangan dan membungkuk kepada beberapa orang. “Ups! Hati-hati. Tehmu bisa tumpah.” Naomi mengerjap kaget dan menyadari bahwa cangkir kertas yang dipegangnya sudah hampir terlepas dari pegangan. “Oh, dear. Maaf,” gumamnya pelan. “Nah, kubilang juga apa?” kata Yoon sambil menepuk pundak Naomi lagi dan tersenyum penuh kemenangan. “Kau memang terliaht hampir jatuh pingsan.” Naomi memalingkah wajah dan menatap cermin. Namun ia masih bisa melihat bayangan Danny Jo di sana. Tepat pada saat ia melihat Yoon berbalik dan mengangkat sebelah tangannya yang memegang sisir, lalu berseru, “Hei, Danny!” Naomi membeku. Oh, tidak... Danny menoleh ke arah mereka. Ke arah Naomi. Sedetik mata mereka bertemu di cermin. Mata laki-laki itu seolah-olah menatap lurus ke mata Naomi. Hanya sedetik, sebelum Naomi buru-buru mengalihkan pandangan, menatap Yoon yang tersenyum lebar padanya di cermin. “Dia ke sini,” kata Yoon. “Akan kuperkenalkan kau padanya.” Naomi tidak bisa bernapas. Ia mencengkeram lengan kursinya erat-erat. Ya Tuhan... Bab Dua DANNY melangkah keluar dari flatnya di Mayfair dan menarik napas dalam-dalam. Ia mengeluarkan iPod dan memasang earphone ke telinga, lalu berjalan ke stasiun kereta bawah tanah. Suasana hatinya saat itu sangat bertolak belakang dengan langit yang cerah. Wajar saja. Ia baru saja berbicara dengan ayahnya di telepon. Setiap kali ia selesai berbicara dengan ayahnya, dadanya selalu terasa berat. Tadi ia menelepon orangtuanya hanya untuk mengabarkan bahwa ia sudah tiba di London dengan selamat. Orangtuanya selalu mencemaskannya, selalu khawatir apabila pekerjaan Danny menuntutnya pergi ke luar negeri. Sering kali Danny merasa tertekan dengan kekhawatiran yang berlebihan terhadap dirinya itu. Karena itulah ia juga harus terus-menerus mengingatkan diri sendiri untuk memaklumi perasaan orangtuanya. “Kau tahu benar kenapa mereka mengkhawatirkanmu, In-Ho,” kata Anna dulu ketika Danny pertama kali mengungkapkan perasaan tertekannya kepada kakak perempuannya. “Aku tahu, Nuna,” gerutu Danny, lalu mendesah. “Aku tahu.” Danny tahu benar bahwa semua kekhawatiran itu bermula dari kecelakaan lalu lintas yang menewaskan kakak lakii-laki mereka, putra sulung keluarga Jo, ketika sedang berada di luar negeri. “Ayah dan Ibu sudah tua,” kata Anna sambil menatap Danny yang saat itu memandang kosong ke luar jendela. Ia mengerti apa yang dirasakan Danny dan ia juga bisa merasakan perasaan tertekan adiknya itu, tetapi bagaimanapun juga Danny sendiri harus mengerti perasaan orangtua mereka. “Karena Oppa1 sudah tidak ada, yang tersisa hanya kau. Hanya kau anak laki-laki yang bisa mereka andalkan untuk menjaga keluarga.” 1 Panggilan wanita kepada pria yang lebih tua / kakak Saat itu Danny hanya diam, tidak tahu harus berkata apa, dan kembali memandang ke luar jendela. Kereta berhenti di stasiun Hyde Park Corner, menyentakkan Danny kembali ke alam sadar. Ia menarik napas panjang. Waktunya meninggalkan masalah pribadi dan mulai bersikap profesional. Ketika Danny tiba di lokasi syuting, ia melihat para staf produksi sibuk bersiapsiap memulai proses syuting. Ia enyapa beberapa staf yang dikenalnya dan pergi mencari Bobby Shin. “Hyong2,” panggilnya ketika ia melihat si sutradara sedang mengobrol dengan salah seorang kamerawan. Bobby Shin yang berusia empat puluhan terlihat seperti penampilan sutradara pada umumnya. Ia bertubuh kurus, agak bungkuk karena terbiasa duduk membungkuk menatap monitor, berkacamata, bertopi, dan tidak ada ciri khusus di wajahnya yang ramah. Mendengar panggilan Danny, ia menoleh dan tersenyum lebar. “Danny boy, senang bertemu denganmu lagi,” sahutnya ramah dan mengulurkan tangan. “Kau baru tiba kemarin, bukan? Kuharap kau tidak jet-lag. Kita hanya punya waktu tiga hari untuk syuting. Seharusnya itu bukan masalah besar, tapi jadwal kita akan sangat padat.” Danny menjabat tangan Bobby Shin yang terulur. “Aku baik-baik saja,” kata Danny. “Hyong tidak perlu khawatir.” “Bagus.” Bobby Shin mengangguk-angguk. “Ngomong-ngomong, lawan mainmu sudah datang. Kurasa dia sedang dirias. Kau bisa memperkenalkan diri nanti. Dia orang Jepang, jadi kau jangan berceloteh kepadanya dalam bahasa Korea,” katanya. “Sebaiknya kau juga bersiap-siap. Kita akan mulai setengah jam lagi.” Danny pergi menyapa beberapa staf produksi yang sudah dikenalnya. Tiba-tiba ia mendengar seseorang berseru memanggilnya. Ia menoleh ke arah salah satu tenda dan melihat Yoon, penata rias selebriti yang sudah dikenalnya, bersama seorang gadis berambut hitam panjang yang belum pernah dilihatnya. Nah, gadis itu pasti lawan mainnya. “Apa kabar, Nuna?” sapa Danny sambil menghampiri Yoon. Ia berhenti di depan Yoon dan menatap wanita bertubuh agak gempal itu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, lalu menyipitkan mata. “Ada sesuatu yang berubah di sini. Hmm... Nuna lebih kurus ya?” Yoon meringis, lalu tertawa. “Omong kosong. Aku tahu berat badanku tidak turun-turun walaupun aku sudah mencoga segala macam diet.” “Tapi Nuna tetap cantik,” kata Danny dan menyunggingkan senyumnya yang terkenal. Kemudian ia mengalihkan perhatian kepada gadis yang satu lagi, yang 2 Panggilan pria kepada pria yang lebih tua / kakak duduk diam sambil menggenggam cangkir kertas dengan kedua tangan. Danny mengulurkan tangan dan berkata dalam bahasa Inggris, “Dan kau pasti gadis yang membuatku jatuh cinta.” Gadis itu tersentak, mendongak dan menatap langsung ke arah Danny. Hal pertama yang terlintas dalam pikiran Danny ketika ia melihat wajah gadis itu dengan jelas adalah bahwa gadis itu mirip boneka. Bukankah Sutradara Shin berkata gadis ini orang Jepang? Tetapi gadis ini tidak benar-benar mirip orang Jepang. Mungkin matanya yang besar itulah yang membuatnya tidak mirip orang Jepang. Dan mata itu menatap Danny dengan kaget dan gugup. Dan... takut? * * * Naomi mendongak dan menatap laki-laki berambut hitam dan bertubuh jangkung yang berdiri di dekatnya itu tanpa berkedip. Danny Jo memang tepat seperti yang digambarkan Yoon tadi. Dan Naomi memang merasa hampir pingsan, walaupun alasannya jauh berbeda dengan perkiraan Yoon. Sebelum Naomi sempat membuka mulut, Danny Jo cepat-cepat berkata, “Dalam video musik ini, maksudku. Kau akan berperan menjadi gadis yang membuatku jatuh cinta dalam video musik ini.” Ia berhenti sejenak, lalu bertanya ragu, “Kau yang akan menjadi lawan mainku, bukan?” Naomi mengerjap satu kali, seolah-olah baru tersadar dari lamunan. Perlahanlahan ia mengembuskan napas yang ternyata ditahannya sejak tadi dan bergumam, “Ya.” Danny tersenyum. “Namaku Danny. Danny Jo,” katanya sambil menggerakkan tangannya yang masih terulur, mengundang Naomi menjabatnya. Naomi menunduk menatap tanagn Danny, kemudian ia meletakkan cangkir kertasnya di atas meja dan berdiri dari kursi. Ia membungkuk sedikit sebelum menjabat tangan Danny—itu salah satu kebiasannya sebagai orang Jepang yang tidak bisa dihilangkannya—dan bergumam, “Naomi Ishida.” “Naomi,” kata Danny, senyumnya melebar, “senang berkenalan denganmu.” Tepat pada saat itu terdengar seseorang berseru memanggil Danny dan mengatakan sesuatu dalam bahasa Korea. Danny menoleh ke belakang dan balas menyerukan sesuatu. Kemudian ia kembali menatap Naomi. Matanya bersinar geli. “Itu penata riasku,” jealsnya dalam bahasa Inggris karena tahu Naomi tidak bisa berbahasa Korea. “Dia menyuruhku segera bersiap-siap karena kita akan segera mulai syuting. Aku tidak mengerti kenapa aku harus dirias kalau wajahku tidak akan disorot sepanjang video musik ini.” Ia mengangkat bahu. “Tapi sebaiknya aku menurutinya. Percayalah padaku, kau tidak mau melihat penata riasku mengamuk. Aku pernah melihatnya dan itu bukan pemandangan yang bagus.” Setelah melambai singkat kepada Naomi, Danny membalikkan tubuh dan bergegas menghampiri penata rias yang sudah menunggunya. “Dia baik sekali, bukan?” kata Yoon ketika Naomi kembali duduk dan menatap cermin. Naomi menarik napas dalam-dalam dan memaksa dirinya tersenyum kepada bayangan Yoon di cermin. “Ya,” gumamnya, menunduk menatap jari-jari tangannya yang saling meremas. Entah berapa lama Naomi duduk di sana dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia baru tersadar dari lamunannya ketika seseorang berseu menyuruh para model berkumpul karena syuting akan segera dimulai. Naomi mendongak dan menarik napas. Saatnya meninggalkan masalah pribadi dan mulai bersikap profesional, pikir Naomi dalam hati. Ini adalah pekerjaannya dan ia tahu ia bisa melakukannya. Lakukan dan selesaikan. Hanya tiga hari. Ia hanya perlu bertahan tiga hari. Lalu semua ini akan segera berakhir. Bab Tiga HARI pertama syuting sangat melelahkan karena seharian itu Sutradara Shin memutuskan untuk mengambil adegan di luar ruangan. Lokasi syuting hari itu berkisar di Hyde Park dan West End, terutama di Piccadilly Circus. Tentu saja syuting di tempat umum bukan hal yang gampang karena sisa-sisa musim dingin masih terasa dan banyak orang berlalu-lalang. Namun Sutradara shin adalah sutradara yang perfeksionis. Ia sangat memperhatikan gerak-gerik Naomi di depan kamera, dari ekspresi wajah, posisi tubuh, langkah kaki, gerakan tangan, bahkan sampai tatapan mata. “Cut!” seru Sutradara Shin untuk yang kesekian kalinya. Naomi menegakkan tubuh dan menoleh ke arah si sutradara. Langit sudah berubah gelap sejak berjam-jam yang lalu. Mereka pun sudah mengulangi adegan di depna toko barang antik bercat merah cerah ini sedikitnya enam kali dan tidak ada satu adegan pun yang memuaskan bagi Sutradara Shin. “Kali ini coba kau menyeberang jalan dari sana ke sini,” kata Sutradara Shin ketika ia sudah berada di samping Naomi, “lalu berhenti sebentar di depan toko ini, melongok ke dalam, seolah-olah kau ragu, lalu kau masuk. Oke? Kita coba yang ini.” Naomi tersenyum dan mengangguk walaupun rasa lelah mulai menjalari tulangnya dan tubuhnya menggigil. Ditambah lagi kakinya terasa sakit dalam sepatu bot yang kekecilan. Tentu saja ini bukan pertama kalinya ia merasakan semua itu. Sebagai model pekerjaannya sangat menuntut waktu dan tenaganya. Ia pernah pulang ke rumah pada pukul dua pagi setelah tampil di London Fashion Week sepanjang hari dan harus keluar lagi dari rumah pada pukul empat pagi untuk acara pemotretan di Cornwall. Jadi rasa lelah sama sekali tak asing baginya, malah kadang-kadang ia merasa ia membutuhkan perasaan lelah itu. Sutradara Shin mengangguk. “Kita akan mulai lima menit lagi,” katanya, lalu berjalan ke salah seorang kamerawan di sana. Yoon bergegas membawakan jaket untuk Naomi. “Terima kasih,” gumam Naomi sambil mengenakan jaketnya dan menjejalkan tangan ke saku. “Duduk di sini,” kata Yoon sambil mendorong Naomi ke salah satu bangku di dekat cahaya lampu dan mulai memperbaiki riasannya. Ketika Yoon pergi mengambil peralatannya yang lain, Naomi memejamkan mata sejenak. Waktu istirahat yang didapatkannya hanyalah sedikit waktu di selasela pekerjaan seperti ini. Naomi tidak tahu apakah ada orang yang pernah menghargai lima menit waktu luang seperti dirinya. Tiba-tiba ia mencium aroma yang enak. Matanya terbuka dan langsung dihadapkan pada secangkir teh yang mengepul. “Capek?” Mendengar suara rendah dan asing itu, Naomi mengangkat wajah dan langsung bertatapan dengan mata gelap Danny Jo yang ramah. Sejak pertemuan pertama mereka pagi tadi, sepanjang hari itu mereka sama sekali belum sempat saling bicara. Mereka sama sekali belum melakukan adegan bersama dan adegan mereka masingmasing diambil secara terpisah. Dan setiap kali tidak berada di depan kamera, Danny langsung kembali pada perannya sebagai asisten Sutradara Shin, sibuk di belakang kamera. Naomi tahu dari Yoon bahwa tujuan utama Danny datang ke London sebenarnya memang untuk bekerja dengan Bobby Shin dan laki-laki itu hanya setuju menjadi model di video musik ini tanpa dibayar adalah karena si penyanyi adalah teman baiknya. Karena Naomi tetap bergeming, Danny meraih tangan Naomi, ingin membuatnya menerima cangkir kertas yang disodorkan. Tetapi Naomi langsung tersentak dan secepat kilat menarik kembali tangannya. Danny mengerjap dan menatap Naomi dengan alis terangkat heran. Walaupun udara terasa dingin, Naomi merasa pipinya memanas. Selama beberapa detik tidak ada yang bergerak. Lalu Danny menghela napas dan menempelkan cangkir kertas yang hangat itu ke tangan Naomi. “Ini. Minumlah. Kau akan merasa lebih baik,” katanya ringan. Naomi menggenggam cangkir kertas yang disodorkan itu dengan kedua tangan. Ia mendesah pelan ketika merasakan kehangatan menjalari ujung jari dan tangannya. Sedikit ketegangan pun menguap dari pundaknya. “Sutradara Shin memang agak keras, tapi dia selalu berhasil mendapat gambar yang bagus,” kata Danny sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Kau akan lihat nanti.” Naomi menatapnya sejenak, lalu mengangguk singkat. Tepat pada saat itu terdengar suara Sutradara Shin yang menyatakan syuting akan dimulai lagi. Danny menoleh ke arah si sutradara, lalu kembali menatap Naomi. “Bertahanlah sebentar lagi,” katanya sambil tersenyum menghibur sebelum berbalik dan meninggalkan Naomi. Naomi menatap punggung Danny yang menjauh sejenak, lalu menunduk menatap cangkir teh yang masih penuh dan bergetar dalam genggamannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya, dan meletakkan cangkir itu ke tanah. * * * Akhirnya syuting hari itu selesai juga. Naomi mengusap-usap bagian belakang lehernya sambil mengumpulkan barang-barangnya. Ia menatap jam yang tertera di layar ponsel. Kalau ia bergegas, ia bisa naik kereta bawah tanah yang terakhir. Besok ia harus bangun pagi-pagi karena ia diminta tiba di lokasi syuting jam delapan pagi. Sekarang ini ia hanya ingin tidur. “Naomi.” Naomi berbalik ketika mendengar Sutradara Shin memanggilnya. “Ya?” “Kau akan pulang sendirian?” tanya Sutradara Shin. “Ya,” sahut Naomi dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa. Aku masih sempat naik kereta terakhir.” Sutradara Shin mengerutkan kening sejenak. “Sekarang sudah terlalu larut. Tidak baik membiarkan seorang gadis berjalan sendirian,” katanya. Kemudian ia memandang berkeliling, ke arah para staf produksi yang sedang sibuk mengumpulkan dan merapikan perlengkapan. Matanya berhenti pada Danny Jo yang sedang membantu mengangkat perlengkapan ke mobil van. “Oi, Danny,” seru Sutradara Shin. Danny Jo menoleh. “Ya?” “Kau bisa mengantar Naomi pulang?” tanya Sutradara Shin dalam bahasa Inggris kepada Danny. “Aku tidak mau dia pulang sendirian malam-malam begini.” Mata Naomi melebar. “Tidak,” katanya cepat. Terlalu cepat dan terlalu keras sampai kedua pria itu menoleh memandangnya. Naomi menggoyang-goyangkan tangan dan tersenyum gugup. “Tidak perlu repot-repot,” katanya dengan suara yang diusahakan tidak terdengar panik. “Aku bisa sendiri. Sungguh.” Danny berjalan menghampiri mereka. “Aku tidak keberatan,” katanya. “Lagi pula, aku setuju dengan Hyong. Sekarang sudah malam dan sebaiknya ada yang mengantarmu pulang. Kau tinggal di mana?” Naomi menggoyangkan tangannya lagi. Kali ini lebih cepat. “Sungguh, aku tidak perlu diantar. Aku bisa pulang sendiri. Aku sudah terbiasa pulang sendiri,” katanya sambil meraih tas dan topinya. Ketika ia melihat Danny membuka mulut seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, Naomi cepat-cepat membungkuk. “Selamat malam,” katanya cepat, lalu berbalik tanpa menunggu jawaban dan berjalan pergi. Mengamati punggung Naomi yang menjauh, Bobby Shin bergumam, “Rasanya tidak benar membiarkannya pulang sendirian malam-malam begini.” Danny menoleh. “Tapi dia sendiri tidak mau ditemani,” balasnya. Lalu ia mengangkat bahu. “Hyong tidak perlu cemas. Tidak akan terjadi apa-apa.” Bobby Shin mendecakkan lidah dengan pelan. “Tapi tetap saja...,” gumamnya enggan. Ia menghela napas dan berbalik. “Ya sudahlah. Ayo, Danny. Kita bereskan tempat ini dan pulang.” “Ya. Tentu saja,” gumam Danny. Namun ia tidak beranjak dari tempatnya berdiri sampai sosok Naomi menghilang di belokan di seberang jalan sepi itu. * * * Sementara itu Naomi meragukan keputusannya sendiri. Jalanan sudah sepi. Stasiun kereta bawah tanah juga tiba-tiba terlihat remang-remang dan menakutkan. Hanya ada segelintir orang yang berdiri menunggu kereta. Naomi tidak suka tempat sepi. Kepanikan mulai meresapi otaknya dan membuat tubuhnya menggigil. Apakah tadi sebaiknya ia menerima tawaran Danny Jo untuk mengantarnya pulang? Tapi ditemani laki-laki yang baru ditemuinya hari ini juga sama sekali bukan pilihan yang pantas dipertimbangkan. Sepanjang perjalanan pulang Naomi menyibukkan pikirannya dengan mengingat jadwal kerjanya selama sebulan ke depan, berusaha mengabaikan keadaan kereta yang hampir kosong dan dua pria berpenampilan kusam yang berdiri di dekat pintu sambil mengobrol dan menenggak bir. Ketika ia akhirnya tiba di Hampstead, Naomi baru bernapas sedikit lebih lega. Hanya sedikit. Karena sekarang ia harus berjalan kaki ke flatnya. Memang tidak jauh dari stasiun, tapi ia tetap merasa paranoid kalau harus berjalan sendirian malam-malam. Sambil terus menyibukkan pikirannya sehingga tidak berpikiran macammacam, Naomi berjalan cepat menyusuri jalan dari bebatuan yang mengarah ke flatnya. Ia baru bisa benar-benar bernapas lega ketika sudah mendekati gedung flat. Robin‟s Nest di lantai satu gedung itu masih buka dan masih ramai. Cahaya lampu yang terang, suara orang tertawa, bercakap-cakap dan bunyi denting gelas membuat Naomi merasa santai. Baru saja ia merasa lega, tiba-tiba bunyi keras di belakangnya membuatnya terperanjat, disusul disusul suara yang mengumpat. Naomi terkesiap, berputar cepat, dan membelalak. “Oh, sialan,” gerutu sesosok bayangan gelap di bawah salah satu pohon yang berjejer di tepi jalan. Bayangan itu sepertinya sedang membungkuk dan mengangkat sesuatu dari tanah. Naomi seakan terpaku di tempat. Tidak bisa bergerak, tidak bisa bersuara, tidak bisa bernapas. Dengan mata terbelalak ia menatap bayangan itu membetulkan letak... tong sampah? “Jangan panik. Ini aku. Aku menabrak tong sampah. Tapi tidak perlu khawatir. Tong sampahnya baik-baik saja.” Naomi mengerjap mengenali suara itu sementara bayangan gelap tadi melangkah ke bawah sinar lampu jalan sambil mengangkat kedua tangan. Mata Naomi melebar setelah wajah laki-laki itu terlihat jelas. “Kau...?” Danny Jo menurunkan tangan dan tersenyum lebar. “Sedang apa kau di sini?” tanya Naomi heran bercampur curiga. Ia memandang berkeliling, lalu kembali menatap Danny. Matanya disipitkan. “Kau mengikutiku?” Danny tidak langsung menjawab. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Lalu ia berkata dengan nada merenung, “Kau tahu, ini pertama kalinya kau mengucapkan lebih dari dua kata padaku. Dan aku baru tahu kau punya logat London yang jelas. Sebenarnya sudah berapa lama kau tinggal di sini?” Naomi terdiam sejenak dan tetap menatap laki-laki di hadapannya. Lalu, tanpa menjawab pertanyaan Danny, ia bertanya sekali lagi, “Sedang apa kau di sini?” Danny Jo menjejalkan kedua tangan ke saku jaket abu-abunya dan mengangkat bahu. “Karena kau tidak mau diantar pulang, aku memutuskan untuk mengikutimu.” Kening Naomi berkerut tidak mengerti. “Kenapa?” “Hanya untuk memastikan kau baik-baik saja. Memastikan kau tiba di rumah dengan selamat,” sahut Danny ringan. “Hyong—maksudku sutradara kita itu—takut sesuatu terjadi padamu.” Naomi mengerjap bingung. “Oh.” “Jadi,” kata Danny sambil mendongak memandang gedung di depannya, “kau tinggal di sini?” Naomi menoleh, mengikuti arah pandang Danny, lalu kembali menatap lakilaki itu. “Ya.” Mendengar nada suara Naomi, mata Danny beralih kembali kepada Naomi dan ia tertawa pendek. “Tidak perlu curiga begitu. Aku tidak minta diajak masuk,” katanya. Ia menatap Naomi dari kepala sampai ke kaki, lalu kembali ke wajahnya dan berkata, “Lagi pula kau bukan tipeku.” Naomi mengerjap kaget, membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Otaknya berkutat mencari balasan yang cocok, tetapi tidak ada satu pun yang terpikirkan olehnya. Otaknya mendadak kosong. Ia hanya bisa menatap laki-laki yang tersenyum lebar itu dengan sebal. “Baiklah. Karena kau sudah sampai di rumah dengan selamat, aku pergi dulu,” kata Danny sambil mengangkat sebelah tangan. “Sampai jumpa besok.” Ketika laki-laki itu berbalik dan mulai melangkah pergi, Naomi baru berhasil memikirkan selusin cara membalas kata-kata Danny tadi. Tapi tentu saja sudah terlambat. Dengan jengkel Naomi membalikkan tubuh sambil menggali tasnya, mencari kunci pintu tangga depan. “Siapa laki-laki itu?” Jantung Naomi hampir jatuh ke tanah ketika Julie tiba-tiba sudah ada tepat di depan wajahnya. “Ya Tuhan, Julie!” Naomi menempelkan tangan ke dada. “Sedang apa kau di sini?” Julie memberi isyarat dengan ibu jarinya ke arah Robin‟s Nest yang ramai. “Aku sedang bersama teman-temanku,” katanya. “Kebetulan aku melihatmu dengan lakilaki itu. Siapa dia?” “Rekan kerja,” sahut Naomi, masih merasa sebal pada diri sendiri karena membiarkan dirinya terlihat seperti orang bodoh di depan Danny Jo. Alis Julie terangkat. “Dan dia mengantarmu pulang? Naomi, aku tidak pernah meliahtmu diantar pulang oleh laki-laki.” “Tidak, dia tidak mengantarku,” sela Naomi cepat, “dia mengikutiku.” Kali ini alis Julie berkerut. “Dia mengikutimu sampai ke sini? Untuk apa?” Naomi tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke belakang. Danny Jo sudah tidak terlihat. Ia menggeleng dan mendesah. “Entahlah. Aku lelah sekali dan aku mau tidur,” katanya sambil mengeluarkan kunci dari tas dan berjalan melewati Julie. “Sana, kembalilah kepada teman-temanmu.” “Oh ya, Naomi,” panggil Julie. “Miho menelepon mencarimu berkali-kali hari ini. Katanya ponselmu tidak bisa dihubungi.” Naomi baru teringat ia mematikan ponselnya selama proses syuting agar tidak mengganggu. Ia mendesah berat. “Miho. Oh, dear, aku hampir lupa. Aku berjanji akan menyerahkan artikelnya besok.” Ia mengembuskan napas panjang. Bahunya melesak. “Kurasa aku harus membatalkan rencanaku untuk tidur.” Selain bekerja sebagai model, Naomi juga bekerja sebagai editor freelance di salah satu majalah fashion populer di Inggris. Ia sangat suka dan tahu banyak soal dunia fashion, jadi ketika Nakajima Miho, mantan teman seprofesi dan putri pemilik majalah itu, meminta bantuannya menulis artikel fashion untuk majalahnya, Naomi dengan senang hati menerima pekerjaan itu. Namun sekarang ia mulai mempertanyakan keputusannya sendiri untuk membantu Miho karena sepertinya ia sekarang hanya bukan hanya bertugas menulis artikel fashion, tetapi juga sering diminta mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan Miho sendiri sebagai editorin- chief karena temannya itu bukan tipe orang yang bisa mengambil keputusan sendiri. Julie menatapnya dengan tatapan prihatin. “Kurasa sudah waktunya kau memilih salah satu, Naomi. Model atau editor majalah. Kau tidak bisa melakukan dua-duanya dengan jadwalnya yang sekarang. Memangnya kau tidak capek?” Naomi memutar kunci dan membuka pintu, lalu ia berbalik menatap temannya. “Jangan khawatir. Aku bisa mengatasinya,” katanya sambil tersenyum. Ia tidak pernah memberitahu siapa-siapa, tetapi kesibukan adalah perlindungannya. Kesibukan bisa mengalihkan perhatiannya. Kesibukan bisa membuatnya tidak memikirkan hal-hal yang tidak ingin dipikirkannya. Misalnya hal-hal yang berhubungan dengan Danny Jo. Bab Empat NAOMI tiba-tiba menyadari dirinya sangat lelah dan lapar ketika ia berjalan melewati pintu restoran kecil berdesain modern itu keesokan harinya. Aroma steik yang enak menerjang hidungnya, membuat kepalanya pusing sejenak. Ia praktis tidak tidur semalaman karena harus menyelesaikan artikel yang dijanjikannya kepada Miho. Ketika akhirnya ia berhasil menyelesaikan artikel itu dan mengirimnya lewat e-mail kepada Miho, ia hanya punya sisa waktu satu jam sebelum bersia-siap berangkat ke lokasi syuting lagi. Dihadapkan pada pilihan apakah ia harus tidur atau sarapan, Naomi memilih tidur, walaupun tentu saja satu jam itu sama sekali tidak cukup. Dan tadi pagi ketika Naomi hendak keluar dari flat, Miho meneleponnya dan meminta bertemu di saat makan siang. Ketika Naomi berkata bahwa ia sudah mengirimkan artikelnya lewat e-mail, temannya itu tetap ingin bertemu. Katanya ada yang ingin dibicarakannya dengan Naomi. Sesuatu yang berhubungan dengan perancang busana baru yang akan ditampilkan di edisi mendatang. Karena Miho tidak suka ditolak, dan karena Naomi juga tidak tega menolak, akhirnya ia menyerah. Naomi melirik jam tangan dan mengerang dalam hati. Perutnya yang menyedihkan terpaksa harus bertahan tanpa makanan siang ini. Ia harus cepat-cepat kembali ke lokasi syuting. Tadi Naomi hanya sempat memberitahu Yoon bahwa ia akan pergi sebentar sementara para kru makan siang. Ia tidak memberitahu Sutradara Shin karena tadi pria itu terlihat sedang sibuk bicara dengan asisten sutradara. Si asisten sutradara... Naomi menarik napas dan mengusap pelipisnya sejenak. Ia tidak tahu apa yang harus dipikirkannya tentang Danny Jo. Mereka belum sempat berbicara hari itu karena keadaan di lokasi syuting sangat sibuk dan karena hari ini tidak ada adegan yang melibatkan dirinya, Danny Jo selalu berada di belakang kamera bersama Sutradara Shin. Tapi besok adalah hari terakhir syuting. Setelah itu Naomi tidak akan melihat Danny Jo lagi. Lalu semuanya akan kembali seperti semula. Semuanya akan baikbaik saja. Harus baik-baik saja. Lamunannya buyar ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Naomi menoleh dan menatap salah satu meja kecil di tengah ruangan. Miho Nakajima melambai ke arahnya sambil tersenyum lebar. Selain nama dan wajahnya, tidak ada kesan Asia lain dalam diri Miho. Karena dilahirkan dan dibesarkan di London, cara berpikir, cara bicara, dan gayanya sangat mirip orang Eropa. Walaupun masih keturunan Jepang, ia praktis tidak bisa berbahasa Jepang. Kemampuan berbahasa Jepang-nya benar-benar payah sampai Naomi selalu berbicara dengannya dalam bahasa Inggris. “Maaf, aku agak terlambat. Sudah lama menunggu?” tanya Naomi begitu ia duuk dan melirik piring salad yang sudah hampir habis di depan Miho. Perutnya kembali berbunyi. Miho mengibaskan rambut panjangnya yang dicat pirang ke belakang. “Aku bersedia menunggu lama asal kau datang ke sini. Aku benar-benar butuh bantuanmu,” katanya sambil tersenyum lebar. Walaupun ia kini adalah editor-inchief— jabatan yang dulunya dipegang oleh ibunya sebagai pemilik perusahaan—ia masih sering bergantung pada pendapat Naomi tentang berbagai hal. “Baiklah. Apa yang bisa kubantu?” tanya Naomi langsung. Miho tersenyum dan mengeluarkan sebuah folder dari tasnya yang besar. “Ini adalah perancang-perancang baru dan berbakat yang menurutku cocok diperkenalkan di edisi mendatang. Tentu saja kita tidak bisa menampilkan semuanya, jadi aku ingin mendengar pendapatmu. Menurutmu siapa yang paling oke?” Ia membuka folder itu dan mendorongnya ke arah Naomi. “Kita harus memutuskannya sekarang juga karena aku harus pergi selama seminggu atau bahkan lebih.” “Memangnya kau mau pergi ke mana?” tanya Naomi sambil terus membaca data yang disodorkan Miho. Miho tersenyum masam. “Aku harus terbang ke Korea malam ini untuk menghadiri perayaan ulang tahun kakekku yang kedelapan puluh. Semua keluarga besar berkumpul untuk acara itu.” Ia mendesah panjang. “Asal kau tahu, aku tidak pernah suka acara keluarga seperti itu. Aku tidak dekat dengan kerabat-kerabatku, baik yang di Korea maupun yang di Jepang. Sama sekali tidak dekat. Bagaimana bisa dekat kalau akut idak mengerti apa yang mereka katakan dan mereka sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris? Membosankan. Tapi, tentu saja orangtuaku memaksaku hadir. Mereka tidak mau aku dianggap kurang ajar.” Kali ini Naomi menatap Miho dengan alis terangkat heran. “Kau punya keluarga di Korea?” Kenapa akhir-akhir ini ia merasa seolah-olah melihat orang Korea di mana-mana? “Tentu saja,” sahut Miho sambil mendorong piring salad-nya yang isinya masih bersisa. “Ibuku keturunan Korea. Kau tidak tahu?” Naomi menggeleng. “Ternyata ibumu orang Korea?” Sepertinya Miho tidak mendengar. Keningnya berkerut samar, memikirkan waktu-waktu panjang dan membosankan yang akan dihabiskannya di Korea. Ia sudah mengajukan seribu satu alasan kepada ibunya untuk tidak ikut, tetapi ibunya bersikeras dan Miho tidak punya pilihan lain yang tersisa selain menurut. Ia mendesah panjang dan menatap ke sekeliling restoran, lalu berkata, “Sepertinya aku butuh sedikit puding cokelat untuk mempersiapkan diriku menghadapi hari-hari suram yang menantiku. Kau mau memesan sesuatu?” Naomi melirik jam tangan dan mengembuskan napas panjang. “Aku kelaparan setengah mati, tapi tidak ada waktu untuk makan.” Naomi menunjuk salah satu kertas di hadapannya. “Menurutku yang ini saja. Desain pakaiannya sangat unik, bukan? Aku suka warna-warna yang dipakainya. Bagaimana menurutmu?” “Aku setuju saja denganmu,” sahut Miho dan mengangguk-angguk. “Kau memang punya selera yang bagus, Naomi. Apa jadinya aku tanpa dirimu?” Naomi tertawa singkat. “Aku yakin kau akan baik-baik saja,” katanya, lalu melirik jam tangan. “Kalau tidak ada lagi yang lain, aku harus pergi sekarang.” Miho menggeleng. “Tapi setelah aku kembali ke sini nanti aku ingin kau menemaniku pergi menemui perancang ini.” “Baiklah,” kata Naomi cepat sambil bangkit dari kursi dan meraih tasnya. “Selamat bersenang-senang di Korea. Telepon aku kalau kau sudah kembali. Aku ingin tahu bagaimana kau berhasil melewati hari-hari suram yang kausebut-sebut itu.” Miho tersenyum masam. “Itu juga kalau aku belum mati kebosanan di sana,” gerutunya. “Atau mati kesal karena harus menghadapi kerabat-kerabatku yang suka ikut campur dalam kehidupan pribadiku. Kau tahu, kudengar dari ibuku mereka sekarang berniat menjodohkan aku, seolah-olah aku sudah melakukan dosa besar karena masih melajang di usiaku yang sekarang.” Naomi kembali melirik jam tangan. Ia harus segera kembali ke lokasi syuting. “Itu tandanya mereka peduli padamu,” katanya cepat, lalu tertawa ketika melihat raut wajah Miho. “Jangan muram begitu. Maksudku, siapa tahu kau suka calon yang mereka ajukan?” Bab Lima DANNY memandang ke sekeliling studio yang menjadi lokasi syuting hari itu, tetapi gadis aneh itu tidak terlihat. Sutradara Shin meminta para model bersiap-siap karena syuting akan segera dilanjutkan, tetapi model utamanya tidak terlihat di mana-mana. Mungkin ia pergi makan siang di luar dan belum kembali. Danny mengembuskan napas dan mengingatkan diri sendiri untuk meminta nomor ponsel gadis itu supaya ia bisa menghubunginya kalau ada kejadian seperti ini lagi. “Nuna,” panggil Danny sambil berjalan menghampiri Yoon yang sedang merapikan kostum di rak gantung. “Nuna tahu di mana dia?” “Dia siapa?” Yoon balas bertanya tanpa menoleh. “Siapa lagi? Gadis aneh itu. Naomi Ishida. Di mana dia?” Sebelum Yoon sempat menjawab, terdengar suara dari balik punggung Danny yang berkata pelan, “Aku di sini.” Danny berputar cepat dan langsung berhadapan dengan sepasang mata hitam besar yang balas menatapnya dengan resah. Danny bertanya-tanya apakah Naomi Ishida mendengar kata-kata “gadis aneh itu” tadi, namun langsung menyadari bahwa gadis itu tidak mengerti bahasa Korea. Ia hanya mendengar Danny menyebut namanya dan menyadari bahwa dirinya sedang dicari-cari. “Baguslah karena kau sudah di sini,” kata Danny cepat-cepat. “Kau harus bersiap-siap sekarang.” Naomi menggigit bibir dan mengangguk singkat. “Oh, oke. Aku akan...” Katakatanya terhenti ketika ia tiba-tiba merasa dunia bergoyang. Seperti gempa bumi ringan yang sering dialaminya di Tokyo. Tetapi ini London. Tidak mungkin gempa bumi, bukan? Ketika ia mendapatkan keseimbangan tubuhnya kembali, Naomi menyadari Danny Jo sedang memegangi sikunya dan laki-laki itu menatapnya dengan alis berkerut samar. “Ada apa denganmu?” tanyanya. Naomi menggeleng bingung. “Aku tidak apa-apa,” sahutnya sambil menarik lengannya dari pegangan Danny dan mundur selangkah. “Aku akan bersiap-siap sekarang.” “Kau sudah makan?” tanya Danny Jo lagi. Naomi tidak langsung menjawab. Setelah ragu sejenak, ia berkata, “Sudah.” Danny tidak berkata apa-apa. Hanya terlihat berpikir-pikir, lalu ia mengangguk dan tersenyum kecil. “Baiklah. Aku akan memanggilmu kalau semuanya sudah siap.” Naomi memandangi punggung Danny yang menjauh sambil merenung, lalu ia berputar menghadap Yoon dan tersenyum. “Kostum mana yang harus kupakai?” Beberapa menit kemudian, setelah berganti pakaian dan berjalan kembali ke meja riasnya, Naomi melihat melihat dua bungkus sandwich dan sekotak susu tergeletak di meja rias. Ia mengamati kedua sandwich yang terlihat lezat itu. Sandwich kalkun dan sandwich mentimun. Secarik kertas kuning terselip di bawahnya. Aku tidak tahu kau vegetarian atau bukan dan aku tidak tahu kau suka kalkun atau tidak, tapi tolong makan saja daripada kau jatuh pingsan di tengah-tengah syuting. Kita tidak mau hal itu terjadi, bukan? D. Naomi memandang berkeliling sampai ia melihat Danny Jo di seberang ruangan. Laki-laki itu sedang menunduk menatap sesuatu yang ditunjukkan salah seorang kru dan mendengarkan dengan saksama. Lalu tiba-tiba ia mengangkat wajah dan bertemu pandang dengan Naomi. Sebelum Naomi sempat berpikir apa yang harus dilakukannya, Danny tersenyum sekilas kepadanya dan kembali memusatkan perhatian pada apa yang dikatakan kru di sampingnya. Menatap dua potong sandwich di tangan, Naomi hanya ragu sejenak, lalu membuka bungkusan sandwich kalkun dan menggigitnya. Ia memejamkan mata sejenak. Pada kenyataannya sandwich itu memang bukan sandwich paling enak di dunia, tetapi saat itu, bagi perutnya yang keroncongan, sandwich itu adalah salah satu makanan paling enak yang pernah dicicipi Naomi.                   * * *   teman entar di sambung lagi ya ceritanya...  :-)
SONE SNSD Indonesia


bangun+rumah 's link
 "Mianhae..jeongnmal mianhae"Kyuhyun menunjukan muka memelas kepada Yoona. "Aish..tapi,kenapa..kau.."Yoon berkata sambil terbata-bata.Karena tak percaya,ia dicium oleh Kyuhyun dan Yuri melihat nya. -Yuri POV- Yuri segera melaju menuju rumah Minho untuk mengerjakan tugas kelompok nya sambil menangis. TING TONG.. "Wait,,ah...Yuri,ayo masuk.Aku sudah menunggu mu"Minho tersenyum menyambut Yuri. Yuri tak membalas,dia masih sedih.Mereka duduk di lantai kamar Minho. "Aish..mengapa kau menangis??"Minho bertanya kepada Yuri. "Kau tak perlu tahu!Sekarang,kita seharus nya mengerjakan tugas!bukan mengobrol"Seru Yuri judes. Minho memegang tangan Yuri,lalu dia berkata "Tapi tak enak mengerjakan tugas kalau suasana nya muram begini"Minho berkata sambil membuat wajah imut. Yuri membendung air mata nya,tapi air mata itu keluar.Yuri menangis di pelukan Minho,dan menceritakan kejadian yang membuat nya menangis. Minho merebahkan tubuh Yuri di lantai,lalu mencium nya.Yuri yang kaget langsung bangun,dan kelihatan shock. "Aku,tak akan membiarkan mu menangis.Because,I love you"Minho tersenyum dan memeluk Yuri. -Keesokan hari nya- Di sekolah.. "Mianhae Yuri,bukan aku yang duluan melakukan itu!"Yoona mengejar Yuri dan menjelaskan apa yang terjadi. "Terserah,aku tak peduli!"Yuri pergi dengan tatapan polos.Yoona pun segera berlari ke kelas dan memarahi Kyuhyun yang telah lancang mencium nya. "Hei,Kyu!Gara"kamu,Yuri marah padaku!Kamu harus tanggung jawab"Yoona marah. "Aku sudah minta maaf bukan??"Kyuhyun memasang puppy eyes nya. "Tapi,kau..." Yoona langsung terdiam ketika melihat Minho dan Yuri masuk berdua sambil tertawa. "Yuri,apa kau suka Minho??"Yoona bertanya pada Yuri. "Kau tak perlu tahu!tak perlu mencampuri urusan ku!sana,mesra lagi sama si Kyu~"Yuri memasang tampang cuek nya. Yoona hanya terdiam dan duduk di kursi nya. Lanjuut???Like min.3                                             -To The Beautiful You|MinSul
Fauzan Hammy Nasution


bangun+rumah 's link
Bugig adalah media online yang memberikan informasi seputar dunia Musik & Kesenian dengan topik pembahasan yang fleksibel, menarik, dan up to date. Kami menyajikan konten-konten berupa berita terkini, ulasan yang mendalam, reportase, referensi, serta pembahasan tentang isu dan hal yang unik yang ada...
Vitalia Meylani


bangun+rumah 's link
Pada suatu hari di bulan November cerita Sex ini pun dimulai. suamiku pulang dari kantor memberi tahu bahwa di minggu akhir bulan Nopember, minggu depan, dia akan menghadiri penataran wajib dari kantornya. Karena waktunya yang 4 hari itu cukup panjang, dia menyarankan aku untuk ambil cuti dari kantorku dan dia ngajak aku ikut serta sambil menikmati suasana kota Yogyakarta dimana penataran itu akan berlangsung. Di sela-sela waktunya nanti dia akan ajak aku untuk melihat sana-sini di seputar Yogyakarta, antara lain Keraton Yogya yang selama ini belum pernah aku melihatnya. Ah.. tumben suamiku punya idea yang brilyan, senyumku. Aku akan urus cutiku itu. Begitulah, pada hari Minggu, 25 Nopember malam aku bersama suami telah berada di restoran Novotel Yogyakarta yang terkenal itu. Aku perhatikan semua kursi dipenuhi pengunjung. Secara ala kadarnya aku diperkenalkan dengan teman-teman suamiku yang juga datang bersama istri mereka. Dalam kerumunan meja besar untuk rombongan suamiku ini kami nampaknya merupakan pasangan yang paling muda dalam usia. Dan tentu saja aku menjadi perempuan yang termuda dan nampaknya juga paling cantik. Sementara ibu-ibu yang lain rata-rata sudah nampak ber- cucu atau buyut barangkali. Dan akhirnya aku tidak bisa begitu akrab dengan para istri-istri yang rata-rata nenek-nenek itu. Mungkin duniaku bukan lagi dunia mereka. Cara pandang dan sikap kehidupanku sudah jauh beda dari masa mereka. Karena paling muda suamiku kebagian kamar yang paling tinggi di lantai 5, sementara teman-temannya kebanyakan berada di lantai 2 atau 3. Bagiku tak ada masalah, bahkan dari kamarku ini aku bisa lebih leluasa melihat Yogyakarta di waktu malam yang gebyar-gebyar penuh lampu warna-warni. Malam itu kami serasa berbulan madu yang kedua. Kami bercumbu hingga separoh malam sebelum tidur nyenyak hingga saat subuh datang. Pagi harinya kami sempat sedikit jalan-jalan di taman hotel yang cukup luas itu untuk menghirup udara pagi sebelum kami sarapan bersama. Jadwal penataran suamiku sangat ketat, maklum disamping setiap session selalu diisi oleh pembicara tamu atau ahli dari Jakarta, juga dihadiri oleh pejabat penting dari berbagai tingkatan dan wilayah setanah air. Setiap pagi suamiku harus sudah berada di tempat seminar di lantai 2 pada jam 7 pagi. Apalagi sebagai anggota rombongan yang termuda dia seperti kena pelonco, segala hal yang timbul selalu larinya ke dia. Untung suamiku bertype "positive thinking" dan selalu penuh semangat dalam melaksanakan semua tugasnya. Sesaat setelah suamiku memasuki ruang penataran aku sempatkan jalan-jalan di seputar hotel kemudian mencari book store untuk membeli koran pagi. Sesudah duduk sebentar di lobby aku balik ke kamar untuk mencoba telpon ke rumah sekedar 'check rechek' kegiatan pelayanku di rumah. Kemudian duduk santai membaca koran di balkon kamarku yang berpanorama atap-atap kampung Yogyakarta sambil minum coklat instant yang tersedia di setiap kamar Novotel ini. Bosan membaca koran aku buka channel TV sana-sini yang juga membosankan. Aku berpikir mau apa lagi, nih. Akhirnya sekitar jam 9 pagi aku berpikir sebaiknya aku turun ke lobby sambil mencuci mata melihat etalase toko di seputarnya. Aku keluar kamar melangkah di koridor yang panjang untuk menuju lift. Bersamaan dengan itu kulihat kamar di depan kamarku pintunya terbuka dan nampak sepintas di dalamnya ada seseorang setengah umur sedang sibuk menulis. Dia sempat menengok ke arahku sebelum aku bergerak menuju lift. Hal yang lumrah di dalam hotel yang tamunya dari segala macam orang dan asal. Tak terbersit pikiran apapun pada apa yang barusan tampak oleh mataku. Aku adalah type perempuan yang berpribadi dan paling teguh menjaga diri sendiri baik karena kesadaran sosial budayaku maupun kesadaran akan etika moral yang berkaitan dengan nilai-nilai kesetiaan seorang istri pada suaminya. Kembali aku jalan-jalan di seputar lobby, di shopping arcade yang menampilkan berbagai rupa barang dagangan pernik- pernik menarik, ada parfum, ada accessories, ada boutique. Ah.. aku nggak begitu tertarik dengan semua itu. Aku punya pandangan sendiri bagaimana membuat hidup lebih nyaman dan punya nilai. Aku memang tidak tertarik dengan pola hidup khalayak. Aku menyenangi keindahan yang serba alami. Kalau toh ada poles di sana, itu adalah 'touch' yang lahir dari sikap budaya sebagaimana manusia yang memang memiliki rasa dan pikir. Demikian pula yang berkaitan dengan kecantikan. Aku sangat menyadari bahwa basis tampilanku adalah perempuan yang cantik. Dan hal itu terbukti dari banyak orang yang sering secara langsung ataupun tidak langsung memberikan komentar dan penghargaan atas kecantikanku serta sikapku pada kecantikanku itu. Aku ingin kecantikkan yang juga memancar dari sikap budayaku. Dengan demikian aku akan selalu cantik dalam keadaan apapun. Oleh karenanya aku sangat menyukai 'touch' yang sangat mencerminkan kemuliaan pribadi. Buatku hidup ini sangat tinggi maknanya dan perlu disikapi secara mulia, khas dan penuh kepribadian. Sesudah 1 jam jalan dan lihat sana-sini kembali aku dilanda rasa bosan yang menuntunku untuk balik ke kamar saja. Aku memasuki kembali lift menuju kamarku di lantai 5. Aku masih melihat kamar depanku yang tetap pintunya terbuka. Aku membuka pintuku dan masuk. Aku sedang hendak mengunci kembali kamarku ketika terdengar dari luar sapaan halus. "Selamat pagi" Yang spontan aku jawab selamat pagi pula sambil membuka sedikit pintuku. Kulihat lelaki dari kamar depanku itu dan begitu cepat menyisipkan tangannya ke celah pintu dan meraih daunnya, kemudian dengan sangat sigap pula masuk menelusup ke kamar sebelum aku menyadari dan mempersilahkannya. Hal yang sungguh sangat tidak mengenakkan aku. Aku tidak terbiasa berada dalam sebuah ruangan tertutup dengan lelaki lain yang bukan suamiku. Tetapi peristiwa itu rasanya berlangsung demikian cepat. Bahkan kemudian lelaki itu merapatkan dan langsung mengunci pintuku hingga kini benar-benar aku bersamanya dalam kamar tertutup dan terkunci ini. Ini adalah sebuah kekeliruan yang besar. Aku langsung marah dan berusaha menolaknya keluar dengan meraih kunci di pintu. Tetapi kembali dia lebih sigap dari aku. "Tenang, zus, jangan takut. Aku nggak akan menyakiti zus, kok. Aku cuma sangat kagum dengan kecantikan yang zus miliki. Benar-benar macam kecantikan yang lahiriah maupun kecantikkan dari dalam batin. Inner beauty. Khayalanku menjadi melambung jauh setiap melihat zus. Sejak semalam di meja makan saat makan malam, kebetulan aku berada di samping meja makan rombongan suami zus, aku lihat tangan- tangan lentik zus. Aku pastikan zus sangat cantik. Dan pagi tadi saat zus jalan-jalan di taman bersama suami dan kemudian juga jalan- jalan di sekitar lobby kembali aku sangat mengagumi penampilan zus. Aku sangat terpesona dan tak mampu menahan diriku. Aku kepingin sekali tidur bersama zus, pagi ini". Orang itu memandangkan matanya tajam ke mataku. Omongan orang itu benar-benar biadab, tak punya malu. Apalagi rasa hormat. Dia seakan begitu yakin pasti menang atasku. Edan! Kok ada orang edan macam ini. Omongan panjangnya kurasakan sangat merendahkan diriku, kurang ajar, mengerikan dan menakutkan. Limbung dan ketakutan yang amat sangat langsung melanda sanubariku. Bulu kudukku merinding. Aku sepertinya jatuh dari ketinggian tanpa tahu akhirnya. Rasa sesak nafasku demikian menekan emosiku. Aku merasa begitu sangat lemah, terbatas dan tak punya pilihan. Jangan harap kebaikan dari lelaki biadab ini. Dia jelas tidak menyadari dan paham betapa aku mengagungkan nilai-nilai hidup ini. Dia tidak tahu betapa aku selalu takut pada pengkhianatan dan pengingkaran terhadap kesetiaanku pada suami. Aku sama sekali tak pernah siap akan hal-hal yang sebagaimana kuhadapi saat ini. Sungguh edan!! Kemudian dengan kalemnya dia raih tangan dan pinggangku untuk memelukku. Harga diri dan martabatku langsung bangkit marah. Aku berontak dan melawannya hab is-habisan. Tanganku meraih apapun untuk aku pukulkan pada lelaki itu. Kutendangkan kakiku ke tubuhnya sekenanya, kucakarkan kukuku pada tubuhnya sekenanya pula. Tetapi.. Ya ampuunn.. Dia sangat tangguh dan kuat bagiku. Lelaki itu berpostur tinggi pula dan mengimbangi tinggiku, dan usianya yang aku rasa tidak jauh beda dengan usia suamiku disertai dengan otot-otot lengannya yang nampak gempal saat menahan pegangan tanganku yang terus berontak dan mencakarinya. Dia seret dan paksa aku menuju ke ranjang. Aku setengah dibantingkannya ke atasnya. Dan aku benar-benar terbanting. Kacamataku terlempar entah ke mana. Teriakanku sia-sia. Aku rasa kamar Novotel ini kedap suara sehingga suaraku yang sekeras apapun tidak akan terdengar dari luar. Karena perlawananku yang tak kenal menyerah dia dengan cepat meringkus tangan- tanganku dan mengikatnya dengan dasi suamiku yang dia temukan dan sambar dari tumpukan baju dekat ranjang hotel. Dia ikat tanganku ke backdrop ranjang itu. Aku meraung, menangis dan berteriak sejadi- jadinya hingga akhirnya dia juga sumpel mulutku, entah pakai apa, sehingga aku tak mampu lagi bergerak banyak maupun berteriak. Sesudah itu dia tarik tungkai kakiku mengarah ke dirinya. Dia nampak berusaha menenangkan aku, dengan cara menekan mentalku, seakan meniupi telingaku. Dia berbisik dalam desahnya, "Ayolah, zus, jangan lagi memberontak. Nanti lelah saja. Percuma khan, Waktu kita nggak banyak. Sebentar lagi suami zus istirahat makan siang. Dan bukankah dia selalu menyempatkan untuk menjemput zus untuk makan bersama?!". Aku berpikir cepat menyadari kata-katanya itu dan menjadi sangat khawatir. Ini orang memang betul-betul lihay. Mungkin memang tukang perkosa profesional. Dia seakan tahu dan menghitung semuanya. Dia bisa melemparkan isue yang langsung menekan. Dia tahu bahwa aku tidak mau kehilangan suamiku. Dan dia juga tahu, kalau toh kepergokpun, dia tak akan merugi. Hampir tak pernah dengar ada suami yang melapor istrinya diperkosa orang. Yang ada hanyalah seorang suami yang menceraikan istrinya tanpa alasan yang jelas. Disinilah bentuk tekanan lelaki biadab ini padaku. Sementara itu tindakan brutalnya terus dilakukannya. Dia robek blusku dengan kekerasannya untuk menelanjangi dadaku. Dia hentakkan kutangku hingga lepas dan dilemparkannya ke lantai. Kemudian dengan seringainya dia menelusurkan mukanya. Dia benamkan wajahnya ke ketiakku. Dia menciumi, mengecup dan menjilati lembah- lembah ketiakku. Dari sebelah kanan kemudian pindah ke kiri. Yang kurasakan hanyalah perasaan risih yang tak terhingga. Suatu perasaan yang terjadi karena tiba-tiba ada sesuatu, entah setan, binatang atau orang telah merangseki tubuhku ini. Tangan-tangannya menjamah dan menelusup kemudian mengelusi pinggulku, punggungku, dadaku. Tangannya juga meremas-remas susuku. Dengan jari-jarinya dia memilin puting- puting susuku. Disini dia melakukannya mulai dengan sangat pelan. Ah.. Bukan pelan, tt.. tetapi.. lembut. Dd.. dan.. dan demikian penuh perasaan. Kurang ajaarr..! D.. dd.. dia pikir bisa menundukkan aku dengan caranya yang demikian itu. Aku terus berontak dalam geliat.. Tetapi aku bagai kijang yang telah lumpuh dalam terkaman predatornya. Aku telah rebah ke tanah dan cakar-cakar predatorku telah menghunjam di urat leherku. Kini aku hanyalah seonggok daging konsumsi predatorku. Aku sesenggukan melampiaskan tangisku dalam sepi. Tak ada suara dari mulutku yang tersumpal. Yang ada hanya air mataku yang meleleh deras. Aku memandang ke-langit- langit kamar Novotel. Aku demikian sakit atas ketidak adilan yang sedang kulakoni. Kini lelaki itu melihati aku. Aku menghindarkan tatapan matanya. Dia menciumi pipiku dan menjilat air mataku, "Duhh, sayangkuu.. kamu cantik banget, siihh.. ", orang ini benar-benar kasmaran padaku. Dia juga menciumi tepian bibirku yang tersumpal. Kini kengerian dari kebiadaban berikutnya datang menyusul. Tangannya sigap menyibakkan gaun penutup wilayah rahasiaku. Tangan lainnya mencapai pahaku dan mulai meraba-raba kulitku yang sangat halus karena tak pernah kulewatkan merawatnya. Lelaki ini tahu kehalusan kulitku. Dia merabanya dengan pelan dan mengelusinya semakin lembut. Ucchh.. Betapa aku dilanda perasaan malu yang amat sangat. Aku yang tak pernah menunjukkan auratku selama ini, tiba-tiba ada seorang lelaki asing yang demikian saja merabaiku dan menyingkap segala kerahasiaanku. Kemudian dia kembali melanjutkan kebiadabannya, dia merenggut dan merobek gaunku. Dia tarik dari haribaan tubuhku. Dia campakkan ke lantai sebagaimana kutangku tadi. Dan kini aku hanyalah perempuan yang hina dengan setengah telanjang dan siap dalam perangkap lumatannya. Aku merasakan sepertinya dia telah merobeki jiwaku dan mencampakannya ke lantai kehinaan perempuan. Aku merasakan betisku, pahaku kemudian gumpalan bokongku dirambati tangan-tangannya. Berontakku sekali lagi hanyalah kesia-siaan. Dia menindih berat dengan dadanya. Wajahnya mendekat hingga kurasakan nafasnya yang meniupkan angin ke selangkanganku. Lelaki itu mulai menenggelamkan wajahnya ke selangkanganku. Bukan main. Belum pernah ada seorangpun berbuat macam ini padaku. Juga tidak begini suamiku selama ini. Edan. Edaann..!! Aku tak kuasa menolak semua ini. Segala berontakku kandas. Kemudian aku merasakan lidahnya menyapu pori-pori selangkanganku. Edaann..!! Lidah itu sangat pelan menyapu dan sangat lembut. Sesaat sepertinya aku berada di persimpangan jalan. Di depan mataku ada 2 potret. Aku membayangkan suamiku dan sekaligus lelaki ini. Salahkah aku? Dosakah aku? Siapa yang salah? Kenapa aku ditinggal sendirian di kamar ini? Kenapa mesti ada lelaki ini? Aku berpusing. Duniaku seakan- akan berputar dan aku tergiring pada tepian samudra yang sangat mungkin akan menelan dan menenggelamkan aku. Aku mungkin sedang terseret dalam sebuah arus yang sangat tak mampu kulawan. Aku merasakan lidah-lidah lelaki ini seakan menjadi seribu lidah. Seribu lidah lelaki ini menjalari semua bagian-bagian rahasiaku. Seribu lidah lelaki inilah yang menyeretku ke tepian samudra kemudian menyeret aku untuk tertelan dan tenggelam. Ammpuunn.. Bayangan kengerian akan ingkarnya kesetiaan seorang istri menerkam aku. Keringatku meluncur deras. Aku tak bisa pungkiri. Aku sedang jatuh dalam lembah nikmat yang sangat dalam.. Aku sedang terseret dan tenggelam dalam samudra nafsu birahiku. Aku sedang tertelan oleh gelombang nikmat syahwatku. Salahkah akuu..?? Salahkah..?? Dan saat kombinasi lidah yang menjilati selangkanganku dan sesekali dan jari-jari tangannya yang mengelusi paha di wilayah puncak-puncaknya rahasiaku, aku semakin tak mampu menyembunyikan rasa nikmatku. Isak tangisku terdiam, berganti dengan desahan dari balik kain yang menyumpal mulutku. Dan saat kombinasi olahan bibir dan lidah dipadukan dengan bukan lagi sentuhan tetapi remasan pada kemaluanku, desahanku berganti dengan rintihan yang penuh derita nikmat birahi. Aku telah tenggelam. Dan gelombang itu kini menggoyang pantatku. Aku menggelinjang. Aku histeris ingin.. Yaa.. Aku ingin! Aku punya ingin menjemputi ribuan lidah dan jari-jari lelaki ini. Ampuunn..!! Masih adakah aku?? Dan ah.. Pintarnya lelaki ini. Dia begitu yakin bahwa aku telah tenggelam. Dia begitu yakin bahwa aku telah tertelan dalam syahwatku. Dia renggut sumpal di mulutku. "Ayolah, sayang.. mendesahlah.. merintihlah.. Ambil nikmatmu. Teguk haus birahimu..", Aku mendesah dan merintih sangat histeris. Kulepaskan dengan liar derita nikmat yang melandaku. Aku kembali menangis dan mengucurkan air mata. Aku kembali berteriak histeris. Tetapi kini aku menangis, mengucurkan air mata dan berteriak histeris beserta gelinjang syahwatku. Aku meronta menjemput nikmat. Aku menggoyang-goyangkan pinggul dan pantatku dalam irama nafsu birahi yang menerjangku. Dan sejak saat itu aku memasuki wilayah tak terhingga, tanpa batasan norma sekaligus meninggalkan batasan-batasan yang selama ini kupertahankan dengan sangat teguhnya. Aku memasuki suatu wilayah yang terbersit sepintas, bahwa aku sebenarnya pernah menginginkan nilai macam ini, nilai dimana tak ada kekhawatiran, ketakutan, rasa salah dan rasa mengkhianati. Aku memasuki wilayah dimana aku eksis secara murni menjadi diriku. Mungkin semacam ini alamiahku, yang adalah mahkluk untuk dipenuhi keinginan nafsu dan birahi yang demikian bebas tanpa kendali. Bahkan aku merasa ini adalah hak. Hak-ku. Aku merasa ber- hak untuk mendapatkannya. Dan ke-tak terhingga-an serta ke-tak terbatas-an itu merayap menuju puncaknya ketika aku diterpa rasa dingin menggigil serta gemetar seluruh tubuhku yang disebabkan bibir lelaki itu merambah turun meluncur melewati perutku dan langsung menghunjam terperosok ke-kemaluanku. Aku tak mampu mengendalikan diriku lagi. Aku bergoncang- goncang mengangkati pantatku untuk mendorong dan menjemputi bibirnya karena kegatalan yang amat sangat pada kemaluanku. Dengan serta merta pula aku berusaha menjilati buah dadaku sendiri menahan gelinjang nikmat yang melanda nafsu birahiku. Dan kurasakan betapa kecupan, gigitan dan ruyak lidah lelaki ini membuat gigil dan gemetarku melempar aku ke lupa diri. Akhirnya karena tak mampu aku menahannya lagi aku merintih. "Hauss, mmaass.. Aku hauss.." Rintihan itu membuat lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga bisa kuraih bibirnya. Aku rakus menyedotinya. Kehausanku yang tak bisa kubendung membuat aku ingin melumati mulutnya. Aku berpagut dengan pemerkosaku. Aku melumat mulutnya sebagaimana sering aku melumati mulut suamiku saat aku sudah sangat di puncak birahiku. Aku benar-benar dikejar badai birahiku. Aku benar-benar gelisah gelombang syahwatku. Biasanya kalau sudah begini suamiku langsung tahu. Dia akan menusukkan penisnya ke vaginaku untuk menutup kegairahanku. Dia akan menjejalkan kontolnya dan memekku pasti cepat menjemputnya. Dan kini aku benar-benar menunggu lelaki itu memasukkan kontolnya ke kemaluanku pula. Aku sebenar-benarnya berharap karena sudah tidak tahan merasakan badai birahiku yang demikian melanda seluruh organ- organ peka birahi di tubuhku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang sama sekali diluar dugaanku. Aku sama sekali tak menduga, karena memang aku tak pernah punya dugaan sebelumnya. Kemaluan lelaki ini demikian gedenya. Rasanya ingin tanganku meraihnya, namun belum lepas dari ikatan dasi di backdrop ranjang ini. Yang akhirnya kulakukan adalah sedikit mengangkat kepalaku dan berusaha melihati kemaluan itu. Ampuunn.. Sungguh mengerikan. Rasanya ada pisang tanduk gede dan panjang yang sedang dipaksakan untuk menembusi memekku. Aku menjerit tertahan. Tak lagi aku sempat memandangnya. Lelaki ini sudah langsung menerkam kembali bibirku. Dia kini berusaha meruyakkan lidahnya di rongga mulutku sambil menekankan kontolnya untuk menguak bibir vaginaku. Selama ini aku pikir kontol suamiku itulah pada umumnya kemaluan lelaki itu. Kini aku dihadapkan kenyataan betapa besar kontol di gerbang kemaluanku saat ini, yang terus berusaha mendesaki dan menembusi kemaluanku tetapi tak kunjung berhasil. Aku sendiri sudah demikian kehausan dan tanpa malu lagi mencoba merangsekkan lubang kemaluanku tetapi tak juga berhasil. Cairan-cairan yang mestinya melicinkanpun belum bisa membantu lincirnya kontol itu memasuki kemaluanku. Tetapi lelaki ini ada cara. Dia meludah pada tangannya untuk kemudian menambahi lumuran pelicin pada bibir kemaluanku. Dia lakukan 2 atau 3 kali. Dan sesudahnya dia kembali menyorongkan ujung kontolnya yang dengan serta merta aku menyambutnya hingga.. Blezzhh.. Ampuunn.. Kenapa sangat nikmat begini, ya, ampuunn.. Kemana nikmat macam ini selama ini..?? Kemana nikmat dari suamiku yang seharusnya kudapatkan selama ini..?? Kenapa aku belum pernah merasakan nikmat macam ini..?? Kombinasi ke-sesakkan karena cengkeraman kemaluanku pada bulatan keras batang besar kontol lelaki ini sungguh menyuguhkan sensasi terbesar dalam seluruh hidupku selama ini. Aku rasanya terlempar melayang kelangit tujuh. Aku meliuk-liukkan tubuhku, menggeliat-liat, meracau dan mendesah dan merintih dan mengerang dan.. Aku bergoncang dan bergoyang tak karuan.. Ya, ampuunn.. Orgasmeku dengan cepat menghampiri dan menyambarku. Aku kelenger dalam kenikmatan tak bertara. Lelaki ini langsung mematerikan nilai tak terhingga pada sanubariku. Aku masih kelenger saat dia mengangkat salah satu tungkai kakiku untuk kemudian dengan semakin dalam dan cepat menggenjoti hingga akhirnya muntah dan memuntahkan cairan panas dalam rongga kemaluanku. Uhh.. Nikmat inii.. Uucchh.. Kami langsung roboh. Hening sesaat. Aneh, aku tak merasa menyesal, tak merasa khawatir, tak merasa takut. Ada rasa kelapangan dan kelegaan yang sangat longgar. Aku merasakan seakan menerima pencerahan. Memahami arti nikmat yang sejati dari peristiwa ranjang. Demikian membuat aku seakan di atas rakit yang sedang hanyut dalam sungai dalam yang sangat anteng. Aku bahkan tertidur barang 5 menit. Aku bangun karena dering telpon. Itu pasti suamiku. Aku langsung cemas. Lelaki itu tak lagi berada di sampingku. Aku coba tengok ke kamar mandi sebelum menjawab telepon. Tak juga kutemui. Ternyata itu telepon dari kamar di depanku, telepon dari lelaki itu. "Zus, cepat mandi, 15 menit lagi suamimu kembali ke kamar, saatnya mereka istirahat". Ah, bijak juga dia. Aku rapikan ranjang dan sepreinya, kemudian cepat mandi. Siang itu aku usul pada suamiku untuk makan di kamar saja, badanku agak nggak enak, kataku. Memang badanku agak lemes sejak aku mendapatkan orgasmeku yang bukan main dahsyatnya tadi. Dan aku merasakan ada kelegaan sedikit, tak ada nampak bekas-bekas ulah lelaki itu pada bagian-bagian peka tubuhku. Saat ketemu di siang itu suamiku nampak menunjukkan sedikit prihatin padaku. Dia tahu aku dilanda rasa bosan menunggu. Dia sarankan aku jalan-jalan ke Molioboro atau tempat lainnya yang tak begitu jauh dari hotel. Aku mengangguk setuju. Ah.. Akhirnya aku dapat ide. Menjelang jam 1 siang suamiku kembali ke ruang penataran di lantai 2, dan jam 1 lebih 5 menit lelaki itu kembali menelponku, aku nggak menjawab langsung kututup. Aku kembali merasa ketakutan pada apa yang aku pahami selama ini. Aku tak akan melanggarnya lagi. Yang sudah, ya, sudah. Masak aku mesti sengaja mengulangi kesalahanku lagi. Tetapi tiba-tiba ada ketukan di pintu. Aku curiga, lelaki itu datang lagi. Dan aku nggak tahu, kenapa aku ingin tahu. Aku ingin tahu siapa yang mengetuk itu, walaupun aku sudah hampir pastikan dia sang lelaki yang tak kukenal itu. Kuintip dari lubang lensa kecil di pintu. Dan benar, dia lagi. Dari dalam aku teriak kasar, mau apa kamu, yang dia sahuti dengan halus. "Sebentar saja zus, aku mau bicara. Sebentar saja, zus, ayo dong, bukain pintu", pintanya. Aku jadi ingat akan gelinjang nikmat yang aku terima darinya. Aku juga ingat betapa kontolnya tak pernah kurasakan nikmat macam itu. Aku juga ingat betapa lidahnya yang menyelusuri gatal bukit dadaku. Dan aku ingat pula betapa gigitan kecilnya pada pentilku demikian merangsang dan menggetarkan seluruh tubuhku. Kini aku lihat kembali bibir edan itu dari lubang pintu ini. Dan tanpa bisa kuhindarkan tangan kananku menggerakkan turun handle pintu ini. Dan, clek, terbuka celah sempit di ambang pintu. Dan dengan cepat, sret, tangan lelaki itu cepat menyelip di celah ambang itu. "Sebentar, saja zus, perbolehkan aku masuk" Dia tidak menunggu ijinku. Kakinya langsung mengganjal pintu dan dengan kaki lainnya mendorong, dia masuk. Kembali dia memeluki aku, lantas menciumi bibirku, lantas menyingkap gaunku, lantas melepasi kutangku, lantas memerosotkan celana dalamku. Lantas mengelusi pantatku, pahaku, meremasi kemaluanku kembali, bibirnya terus melumati bibirku. Kacamataku diangkatnya. Itulah rangkaian serangannya padaku. Pada awalnya aku kembali berusaha berontak dan melawan, walaupun kali ini tidak segigih pada peristiwa pagi tadi. Dan aku yang memang bersiap untuk "keok" langsung takluk bersimpuh saat tangan ototnya meremasi wilayah peka di selangkanganku. Kali ini dia gendong aku menuju ke-ranjang dan sama-sama berguling di atasnya. Tetapi kali ini dia tidak menelanjangi aku. Dia hanya singkapkan gaunku, kemudian dia memelukku dari arah punggungku. Dia lumati kudukku yang langsung membuat aku menjadi sedemikian merinding dan tanpa kuhindarkan tanganku jadi erat memegangi tangannya. Suatu kali ciuman di kudukku demikian membuat aku tergelinjang hingga aku menengokkan leherku untuk menyambar bibirnya. Kami saling berpagut dengan buasnya. Lelaki itu rupanya ingin menambah khasanah nikmat seksual baru padaku. Aku tak tahu kapan dia melepasi celananya, tahu-tahu kontolnya sudah menyodokki kemaluanku dari arah belakangku. Dengan posisi miring serta satu tungkai kakiku dia peluk ke atas, kontolnya menyerbu memekku dan.. Blezzhh.. Blezzhh.. Blezzhh.. Dia kembali memompa. Rupanya kemaluanku sudah cepat adaptasi, kontol gedenya tak lagi kesulitan menembusi memekku ini. Posisi ini, duh.. Nikmatnya tak alang kepalang. Macam ini sungguh menjadi kelengkapan sensasi perkosaannya padaku yang kedua. Ah, entah, ini masih bisa disebut sebagai perkosaannya padaku atau sudah menjadi penyelewenganku pada suamiku. Rasanya sudah tak lagi penting buatku yang kini sedang demikian sepenuhnya menikmati kerja lelaki ini pada tubuhku. Beberapa kali dia membetulkan singkapan gaunku yang menghalangi pompaan kontolnya pada kemaluanku. Sesudah beberapa lama dalam nikmat posisi miring, diangkatnya tubuhku menindih tubuhnya. Posisi baru ini menuntut aku yang harus aktif bergerak. Terlintas rasa maluku. Tak pernah aku berlaku begini. Biasanya aku merupakan bagian yang pasif dalam ulah sanggama dengan suamiku, tetapi kali ini. "Ayo, sayang, naik turunkan pantatmu, sayang, ayoo.." Lelaki itu setengah memaksa aku untuk menaik turunkan pantatku dalam menerima tembusan kontolnya dari bawah tubuhku. Dan sesungguhnya aku yang memang sangat kegatalan menunggu sodokkan- sodokkannya kini berusaha menghilangkan rasa maluku dan mencoba memompa. Uh.., sungguh tak terduga nikmatnya. Aku mengerang dan merintih setengah berteriak setiap kali aku menurunkan pantatku dan merasakan betapa kontol gede itu meruyak di dalam rongga kemaluanku, menggeseki saraf-saraf gatal di dalamnya. "Sayang, coba kamu duduk tegak dengan terus memompa, kamu akan merasakan sangat nikmat. Saya jamin pasti kamu nggak mau berhenti nantinya", begitulah dia antara menghimbau dan memerintah aku yang dengan tangannya mengangkat tubuhku tanpa melepaskan kontolnya dari kemaluanku. Dan dengan aku berposisi duduk membelakangi dia dan tanganku yang bertumpu pada dadanya, aku kembali memompa. Ah.., dia benar lagi. Ini kembali menjadi sensasi seksualku, karena aku sekarang melihat betapa diriku nampak di cermin kamarku dengan kerudung rambutku yang sudah awut- awutan dan demikian basah oleh keringatku. Aku seperti main enjot-enjotan naik-turun di atas kuda- kudaan. Sepintas ada malu pada ulahku itu. Kok, bisa-bisanya, hanya dalam waktu satu hari aku melakukan hubungan mesum perkosaan atau penyelewengan, entahlah, dengan lelaki yang tak kukenal ini. Dan yang terjadi kemudian adalah genjotan naik turunku semakin cepat saja. Aku merasakan betapa kegatalan yang sangat menguasai rongga kemaluanku. Serta dengan menyaksikan diriku sendiri pada cermin yang tepat di mukaku, nafsu birahiku langsung melonjak dan mendorong gelinjangku kembali mendekati orgasmeku yang kedua dalam tempo tidak lebih dari 4 jam ini. Dan saat orgasme itu akhirnya benar-benar hadir, aku kembali berteriak histeris mengiringi naik turunnya pantatku yang demikian cepat. Kontol yang keluar masuk pada lubang kemaluanku nampak seperti pompa hidrolik pada mesin lokomotif yang pernah aku lihat di stasiun Gambir. Lelaki itu juga membantu cepatnya keluar masuk kontolnya. Aku kembali rubuh. Sementara dia, lelaki yang belum memuasi dirinya itu menyeretku ke tepian kasur dan meneruskan pompaannya hingga menyusul mencapai titik klimaksnya. Dia cengkeram pahaku dan kurasakan kedutan-kedutan kontolnya menyemprotkan cairan kental panas pada kemaluanku kembali. Saat jeda, dia menceritakan siapa dirinya. Dia adalah seorang dokter kandungan. Dia sangat tahu seluk beluk persenggamaan. Dia tahu gaya- gaya dalam meraih nikmat sanggama. Dia tahu titik-titk peka pada tubuh perempuam. Dia tahu mana yang baik dan buruk. Dia puji aku setengah mati, betapa otot-otot kemaluanku demikian kencang mencengkeram kontolnya. Namanya Dr. Ronald, 52 tahun, asli Malang. Dia buka praktek di beberapa kota. Minggu terakhir di setiap bulan dia berada di Yogya untuk melayani pasien di beberapa rumah sakit di Yogya. Dia memang tidak ada giliran ke kotaku. Aku boleh panggil Ron saja atau Ronad. Aku pikir dia adalah lelaki yang luar biasa. Dan aku lega saat dia mengenalkan dirinya. Aku lega karena dia termasuk orang terpelajar dan punya identitas. Dia tidak liar. Dan dia bilang bertanggung jawab apabila ada hal yang nggak benar padaku karena bersanggama dengannya. Dia memberikan aku kartu nama. Aku terima dan tak kuatir pada suamiku, karena dia dokter kandungan, yang mungkin saja aku dapatkan dari referensi teman-temanku. Sore itu dia memberikan aku sekali lagi orgasme. Huh.. sungguh melelahkan dan sekaligus sangat memuaskan aku. Dan yang paling mengesankan bagiku, sesiang hari ini dalam 3 kali persanggamaan aku meraih 6 kali orgasme. Aku nggak tahu lagi, bagaimana aku harus bersikap padanya. Saat suamiku pulang, kamarku sudah kembali rapi, seakan tak ada yang terjadi. Aku sudah mandi dan dandan agar tidak menampakkan kelelahanku. Dan malam itu aku bersama suamiku kembali makan malam bersama. Di pojok ruang makan kulihat meja dengan 4 kursi yang hanya diduduki seorang, dr. Ronad. Dia nampak tidak berusaha memandang aku. Dia menyibukkan dirinya dengan bacaan dan tulis menulis. Sungguh suatu kamuflase yang hebat. Pada keesokan harinya, hanya 10 menit sesudah suamiku turun ke lantai 2 untuk mengikuti penataran di hari ke dua, dr. Ronad kembali mengetuk pintu. Kembali aku menghadapi peperangan bathinku. Masa, perkosaan bisa terjadi sekian kali berturut-turut, dan sementara itu, apabila disebut sebagai penyelewengan, bagaimana perempuan tegar dan berkepribadian seperti aku ini demikian mudah runtuh oleh nikmatnya perselingkuhan. Tetapi bayangan dan segala macam keraguanku itu hanyalah menjadi awal dari elusan dan rabaan batin yang langsung membangkitkan naluriah nafsu birahiku. Aku sudah mulai berselingkuh sebelum perselingkuhan itu di mulai. Aku telah benar-benar runtuh. Aku bukakan pintu untuk Ronad. Rasa harga diriku yang masih tersisa mendramatisir keadaanku. Aku bertindak seakan menolak saat Ronad menggendong aku dari ambang pintu ke peraduanku. Tetapi segala ocehanku langsung bungkam saat bibirnya melumat bibirku. Segala tolakan tanganku langsung luruh saat tangannya memilin pentil-pentilku. Segala hindar dan elak tubuhku langsung sirna saat pelukan tangannya yang kekar merabai pinggul dan bokongku. Dan segala keinginan untuk "Tidak!" langsung musnah saat kombinasi lumatan di bibir, pelukan di pinggul, rabaan pada pantatku merangsek dengan sertaan nafasnya yang memburu. Aku aktip menunggu Ronad melahapku. Dia mengulangi awal yang seperti kemarin, merangkul dan memulai dari belakang punggungku, memelukku kemudian menjilati kudukku. Aku meronta bukan untuk melawan, tetapi meronta karena menerima kenikmatan. Aku menengokkan leherku hingga bisa meraih wajahnya. Kulumati bibirnya. Dan seperti kemarin, setelah menyingkap busana yang menutup bokongku hingga paha dan memekku terpampang, tahu-tahu kontolnya sudah telanjang menyelip dari celah celana dalamku, siap berada di gerbang kemaluanku. Sambil kami saling melumat dia mendorongkan kontolnya, aku mendorongkan memekku menjemputnya. Saat akhirnya.. Blezzhh.. Kami langsung saling merintih dan berdesahan. Itulah simponi birahi di kamar Novotel di lantai 5 di pagi hari ini, sementara itu, mungkin suamiku sedang asyik berdebat bersama anggota teamnya di lantai 2. "Sekarang gantian sayang, biar aku yang numpakin kamu, yaa.." suara gemetar Ronad nampak menahan birahinya. Aku dibalikannya dengan tetap mempertahankan lengkungan tubuhku hingga jadi nungging dengan kepalaku bertumpu pada kasur. Sesudah sedikit dia betulkan posisiku dan kembali lebih singkapkan busana rapetku, dengan setengah berdiri dia mengangkangin aku mulai dari arah pantatku. Kontolnya dia tusukkan ke memekku. Duh, duh, duh.. Apa lagi ini. Kenapa gatalku langsung dengan cepat melanda memekku. Aku membayangkan bibir kemaluanku pasti dengan haus menunggu kepala kontol gede itu. Dan aku merasakan saat ujungnya mendorong aku hingga akhirnya amblas menghunjam ke dalamnya. Dalam hatiku aku berfikir, kok macam anjing kawin, ya. Kemudian Ronad mulai kembali memompa. Huuhh.. Jangan lagi tanya betapa nikmatnya. Aku seperti diombang- ambingkan gelombang Lautan Teduh. Setiap tusukkan aku sambut dengan cengkeraman memekku, dan akibatnya saraf-saraf pekaku merangsang gelinjang nikmat birahiku. Dan saat kontolnya dia tarik keluar, dinding kemaluanku menahan sesak hingga kembali saraf-saraf pekaku melempar gelinjang nikmat birahi. Keluar, masuk, keluar, masuk, keluar, masuk.. Aku semakin nggak lagi mampu menahan kegelianku. Tangan-tanganku meremasi tepi-tepi kasur untuk menahan deraan geli-geli nikmat itu. Aku membiarkan air liurku meleleh saat aku terus menjerit kecil dan mendesah-desah. Mataku tak lagi nampak hitamnya. Aku lebur melayang dalam nikmatnya kontol yang keluar masuk menembusi memekku ini. Dan saat tusukkannya makin cepat menggebu, aku tahu, dia akan meraih orgasmenya mendahului orgasmeku. Kubiarkan. Bahkan kudorong dengan desahan dan rintihanku yang disebabkan rasa pedih dan panasnya gesekkan cepat batang kontolnya yang sesak menembusi kemaluanku ini. Akhirnya dia menumpahkan berliter-liter spermanya ke memekku. Bunyi, plok, plok, plok bijih pelernya yang memukuli kemaluanku tidak kunjung henti. Dia tahu aku belum orgasme. Dia tetap mempertahankan irama tusukkan karena tahu aku demikian menikmati gaya anjing ini. Limpahan cairan yang membecek pada kemaluanku tidak mengurangi nikmatnya tusukkan. Bahkan licinnya batang keluar masuk ini merangsang gelinjangku dengan sangat hebatnya. Aku meliuk dan menaik turunkan pantatku. Aku benar-benar menjadi anjing betina yang memeknya dikocok- kocok jantannya. Aku merintih dengan sangat hebat dan berteriak histeris saat orgasmeku datang menyongsong tusukkan- tusukkan pejantan ini. Aku mendapatkan sensasi nikmat birahinya anjing betina. Aku tak kunjung usai juga. Aku mengimpikan orgasme yang beruntun. Ronadpun demikian pula. Sanggama kali ini bersambung tanpa jeda walaupun kami telah meraih orgasme-orgasme kami. Genjotan dan pompaan terus kencang dan semakin cepat. Kami dilanda histeris bersamaan. Kami berguling-guling. Ronad menyeret aku ketepian ranjang. Dengan tetap berposisi nungging, Ronad menembusi memekku dengan berdiri dari lantai. Kontol itu, duh.. sangat legit rasanya. Hunjamannya langsung merangsek hingga menyentuh tepian peranakanku. Ujung-ujungnya mentok menyentuhi dinding rahimku. Aku nggak tahan.. Ronaadd.. Edan, kami bersanggama tanpa putus selama lebih dari 40 menit. Aku kagum akan ketahanan Ronad yang 52 tahun itu. Kontolnya tetap ngaceng dan mengkilat-kilat saat akhirnya kami istirahat sejenak. Baru kali ini secara gamblang dan jelas aku menyaksikan kontol lelaki. Selama ini aku dan suamiku selalu bersanggama dalam gelap atau remang-remang. Dan kami merasa seakan tabu untuk melihati kemaluan-kemaluan kami. Aku sendiri masih malu saat Ronad melihati dan ngutik-utik kelentitku. Dan kini aku heran, kenapa demikian susah untuk tak melihati kontol Ronad ini. Aku heran, kenapa barang ini bisa menghantarkan aku pada kenikmatan yang demikian dahsyatnya. Jam 10 pagi Ronad pamit. Dia bilang mesti ke rumah sakit memenuhi janji dengan pasiennya. Aku nggak akan mencegahnya. Dia akan kembali nanti jam 3 sore. Aku nggak komentar. Suamiku telepon, dia ngajak aku makan siang di restoran, dia akan menunggu aku di bawah. Sesudah aku mandi aku keluar kamar dan turun. Aku jaga agar penampilanku nampak tetap segar. Pergulatan seksual yang penuh hasrat dan nafsu birahi antara aku dan Ronald yang pemerkosaku telah meninggalkan berbagai rasa pedih di selangkanganku. Setiap aku melangkah gesekan antara paha juga terasa nyeri. Aku harus bisa mengatasi ketidak nyamanan ini. Ternyata hingga jam 6 sore Ronad tidak balik. Mungkin ada krisis di rumah sakitnya. Anehnya, aku merasa kesepian. Aku telah terjebak dalam nikmatnya perkosaan. Aku gelisah selama jam-jam menunggu ketukan di pintu. Aku merasa sangat didera nafsu birahiku. Aku ketagihan. Aku sangat ketagihan akan legit kontolnya. Terbayang dan seakan aku merasai kembali legit itu menyesaki memekku. Walaupun resah melandaku aku mengiyakan saat suamiku mengajak aku jalan-jalan bersama teman-temannya ke Molioboro. Acaranya kami makan lesehan di jalan yang demikian terkenal di dunia itu. Sepanjang jalan dan makan aku banyak melamun. Suamiku nampak prihatin. Dia tetap hanya mengira aku kurang sehat dan dilanda rasa bosan. Dia merangkuliku dengan mesra. Aku berpikir dan melayang ke arah yang beda. Ah, Ronad, dimana kamu.. Malam itu suamiku mencumbuiku. Aku harus memberikan respon yang sebaik dan senormal mungkin. Aku merasakan betapa bedanya saat kemaluan suamiku memasuki kemaluanku. Aku tidak merasakan apa-apa. Hambar. Aku iba padanya. Tetapi sebagaimana yang biasa aku lakukan, kini aku berpura nikmat, seakan aku meraih orgasme. Dan suamiku demikian bernafsu memompakan kontol kecilnya hingga spermanya muncrat. Malam itu dia tidur dengan penuh damai dan senyuman. Sementara aku tetap gelisah, terganggu pikiran dan bayang- bayang Ronad. Besoknya, secepat suamiku pergi ke penataran aku sudah tak sabar menunggu pintu. Aku ingin ada perkosaan kembali. Ah, aku benar-benar khianat sekarang. Aku benar-benar kehilangan harkatku. Aku benar-benar bukan lagi diriku sebagaimana yang orang kenal selama ini. Aku adalah istri yang selingkuh, adalah perempuan penyeleweng. Ketika 30 menit berlalu dan pintu tak ada yang mengetuk, aku nekad. Kuputar telepon kamar Ronad. Dia nggak cepat mengangkatnya. Aku mulai kesal. Ah, akhirnya Ronad bicara. "Maafin aku sayang, baru selesai mandi, nih. Tadi malam sampai jam 11 malam. Pasien- pasienku ngantre, ada yang datang dari Wonosobo, Semarang. Aku nggak mungkin meninggalkannya, khan?!". "Bagaimana kalau aku yang ke kamarmu?" Gila, aku sudah sedemikian nekadnya. "Boleh, ayo, biar aku bukain pintu. Kamu langsung masuk sebelum ada orang lain lihat, OK?". Aku cepat merapikan pakaianku kemudian dengan cepat bergegas ke kamarnya. Benar, dia barusan mandi. Handuknya masih melilit di tubuhnya. Kuperhatikan dadanya yang bidang dan bersih. Ah, kenapa aku nggak pernah memperhatikan benar selama 2 hari ini. Bukankah dia sangat sensual. Mungkin karena kepanikanku yang selalu mengiringiku saat jumpa dan bersama dia. Kami langsung saling berpelukan dan melumat bertukar lidah dan ludah. Aku merasa diriku menjadi sangat agresif dan nggak pakai malu-malu lagi. Dengan cara seloroh, kukait ikatan handuknya hingga lepas ke lantai. Selintas tampak pemandangan yang sangat erotis di cermin besar kamar Ronad. Aku yang berbusana serba tertutup lengkap dengan kaca mata dan kerudung di kepala sedang berpelukan dengan lelaki yang bukan suamiku yang dalam keadaan telanjang bulat. Nampak jelas jembutnya yang tebal menyentuh pusarnya. Aku mencoba tertawa dalam pesona birahi saat mengamati kontolnya yang sudah mengkilat dan tegak ngaceng itu. Ronad tertawa pula sambil menggapai tanganku dan diarahkan untuk meremasi kontol itu, "Ayolah, sayang, pegang. Pegang saja, enak, lho. Nah, achh.. Enak banget tanganmu sayang.." dan dengan sedikit merinding aku mencoba menggenggamnya. Aneh dan gila dan tak pernah mimpi bahwa aku akan secara agresif akan meraih kontol lelaki yang bukan suamiku ini. Dan tiba-tiba Ronad menekan bahuku. Dia menyuruh aku untuk jongkok, "Pandangilah, sayang. Kontolku ini milikmu. Pandangilah. Indah sekali lho, ayo. Pandangilah milikmu ini", tekanannya itu sesungguhnya merupakan sebagian dari harapan dan keinginan nafsuku kini. Aku berjongkok pada lututku hingga kontolnya tepat berada tepat di depan wajahku. "Elusilah, dia akan semakin tegak dan membesar. Indah, kan..?". Ah, aku sangat kesetanan menyaksikannya. Ini merupakan sensasi lagi bagiku. Dan tangan Ronad tak henti. Dia meraih kepalaku yang seutuhnya masih berkerudung dan menariknya untuk mendekatkan wajahku ke kontolnya itu. Aku tersihir. Aku pasrah dengan tangannya yang mengendalikan kepalaku hingga kontol itu menyentuh wajahku, menyentuh hidungku. Kilatannya seakan memanas dan mengepulkan aroma. Aku mencium sesuatu yang sangat merangsang sanubariku. Bau kontol itu menyergap hidungku. Tangan Ronad tak juga henti. "Cium saja, ini punyamu, kok. Ciumlah. Ayoo, ciumlah". Ah, untuk kesekian kali aku ikut saja maunya. Ah, kontol itu menyentuh bibirku. "Ayo, cium, nggak apa-apa. Ayoo, sayang. Ciumlah. Ayoo.." Aku merem saat mulutku sedikit menganga menerima ujung mengkilat-kilat itu, sementara dorongan tangannya membuat gigiku akhirnya tersentuh ujung itu. "Ayoo, sayang..". Dan aku, dan mulutku, dan lidahku, dan hatiku, dan sanubariku, dan akuu.. Akhirnya menerima kontol Ronad menembusi bibirku, menyeruaki mulutku. Aku menerima terpaan getar nikmat yang membuat tubuhku merinding dan menggelinjang. Aku didorong oleh kekuatan macam apa ini, saat aku menerima adanya norma baru, yang selama ini merupakan sangat tabu bagiku, dan sangat menjijikkan bagi penalaranku. Bahkan aku menerima dengan sepenuh hasrat dan nafsu birahiku. Aa.. Aku.. aku.. Mulai mencium dan melumat kontol Ronad.. "Ah, sayang, kamu nampak begitu indah, sayangg.. Indah sekali, sayang.. Sangat indah, sayang.. Indah banget sayang..", Ronad meracau tidak menyembunyikan kenikmatan libido erotisnya saat melihati aku mengulum dan menjilati kontolnya. "Terus, sayang.. Terus.. Enak sekali, sayang.. Teruss..". Dan aku menunjukkan gerakan melumat dan menjilat secara sangat intens. Terkadang aku cabut kontol itu untuk aku lumati batangnya yang penuh belukar otot-otot. Tanganku tak bisa lagi diam. Sementara tangan kananku menyangga kontolnya dan mengedalikan kemana mauku, tangan kiriku mengelusi bijih pelirnya dan sesekali naik meraupi jembutnya yang sangat tebal itu. Duh.. Aku menemukan keindahan, erotisme dan pesona birahi yang tak bisa kuungkapkan dalam kata-kata. Aku hanya bisa tangkap dengan hirupan hidungku, dengan rasa asin di lidahku, dengan keras- keras kenyal dalam genggamanku, dengan nafas memburuku. Aku benar-benar larut dalam pesona dahsyat ini. Dan ketika aku rasakan Ronad mulai menggoyangkan pantatnya menyanggamai mulutku, dan ketika kudengar dia mulai benar-benar merintih dan mendesah yang membuat aku semakin terbakar oleh libidoku yang memang telah menyala-nyala aku menyadari bahwa macam nikmat birahi itu demikian banyaknya. Aku nggak pernah merasakan macam ini sebelumnya. Membayangkan saja aku tabu dan jijik. Dan ketika kini aku justru begitu intens melakukannya, tiba-tiba hadir begitu saja keinginanku untuk mempersembahkan kenikmatan yang hebat bagi lelaki bukan suamiku ini. Aku akan biarkan apabila dia menghendaki memuncratkan air maninya ke mulutku. Aku pengin merasakan, bagaimana semprotan hangatnya menyiram langit- langit mulutku. Aku pengin merasakan rasa pejuh dan spermanya di lidahku. Aku pengin merasakan bagaimana berkedutnya kontol Ronad dalam mulutku saat spermanya terpompa keluar dari kontolnya. Dan saat goyangan maju mundur pantatnya makin mengencang, tangannya mulai dengan benar- benar membuat kulit kepalaku pedih karena jambakan dan remasannya karena menahan nikmat tak terperikan dari kuluman dan jilatanku, aku sudah benar-benar menunggu kesempatan itu. Aku sendiri melenguh dan
Rosse Iyoshioka


bangun+rumah 's link
Anakku... Bagaimana kabarmu, apakah kamu baik-baik saja? Di rumah, ibumu juga sehat. Sekarang ini aku sedang memandangi cermin dan fotomu. Tiba- tiba aku menjadi sadar bahwa aku sudah mulai tua. Kerut merut di wajahku sudah semakin banyak dan aku tidak cekatan lagi seperti dulu. Aku sering iri padamu yang selalu ceria, riang, aktif dan penuh dinamika. Akupun pernah mengalami seperti itu dulu. Anakku... Ketika menikah dengan ayahmu, aku tidak pernah membayangkan akan mempunyai anak seperti kamu. Sungguh, aku bangga padamu. Setelah engkau besar kini, aku baru sadar betapa kecilnya aku ini, betapa tidak berartinya aku. Engkau lahir dan tumbuh semata-mata karena mukjizat dan rahmat Tuhan belaka. Tak kuingkari memang akulah yang mengandungmu selama sembilan bulan. Saat itu aku selalu gelisah menanti kelahiranmu. Aku selalu menjaga diriku agar bayi di perutku, yaitu kamu, sehat. Dengan susah payah dan sakit kulahirkan engkau. Aku termasuk beruntung karena tidak harus meninggal untuk melahirkanmu. Aku sampai menitikkan air mata bahagia saat mendengar tangis pertamamu yang lucu. Engkau ini darah dan dagingku sendiri; engkau tumbuh dari bagian tubuhku namun engkau lahir keluar sebagai manusia yang baru sama sekali. Dalam beberapa hal kamu memang mirip aku tetapi selebihnya engkau sungguh baru. Sejak kecil kurawat engkau dengan sangat hati-hati dan penuh kasih; engkau lebih kuperhatikan dari pada apapun yang pernah kumiliki. Kusuapi dan kususui engkau dengan air yang mengalir dari dadaku sendiri. Bila engkau menangis kugendong dan kuhibur. Kuberi engkau pakaian dan sepatu dan topi yang cocok untukmu. Tak lupa kubelikan juga mainan yang kau gemari; mobil-mobilan atau boneka-boneka yang lucu. Engkau masih ingat masa kecilmu, kan? Setiap pagi dan sore kumandikan engkau. Bila kau ngompol atau e’ek di celana atau di popok, dengan sabar kubersihkan dan kuganti dengan yang baru. Paling sedihlah aku, bila kamu sakit. Memang engkau waktu itu hanya makhluk kecil yang tidak berdaya, yang bisa saja kubuang ke kotak sampah atau ke selokan kalau aku mau. Tapi aku cinta padamu, engkau bagian dari hidupku sendiri. Maka kurawat engkau sungguh-sungguh, kubawa engkau ke dokter, kuusahakan agar kau mendapat vaksinasi dan makanan bergizi. Anakku... Pada waktu masih kecil dulu, kamu sering rewel, ngambeg bila tidak diberi uang jajan, atau sulit bila disuruh mandi. Kau ingat betapa manjanya kamu. Setiap kali kau lari ke pangkuanku bila engkau bertengkar dengan kakakmu, bila dimarahi ayah, atau bila dinakali teman-temanmu. Aku menjadi saksi untuk masa kecilmu yang manja, sehingga aku tak sempat lagi mengurus diri atau pergi sesuka hati. Kini engkau sudah dewasa... Aku bangga padamu, engkau harapanku. Namun aku sering sedih melihat kelakuanmu; kala engkau bermalas-malasan untuk bangun, kala bermain seharian tak tahu waktu. Hampir-hampir aku menangis bila kuingat betapa sulitnya menyuruhmu belajar, mengerjakan PR, atau mengingatkanmu untuk tidak membolos. Sepertinya kau tidak tahu bahwa ini semua demi kamu sendiri. Sungguh aku tidak bermaksud mau menyengsarakanmu dengan aturan- aturanku. Aku ingin engkau bahagia, bisa hidup pantas di tengah-tengah dunia yang penuh dengan persaingan ini. Kamu harus pandai supaya tidak mati tertelan jamanmu nanti. Anakku... Betapa sedihnya aku, ketika aku kau tuduh orang tua kolot, orang tua yang tidak mengikuti jaman, atau orang tua kampungan. Aku ingin dipahami bahwa kalau kusuruh kau bergaul tidak sembarangan, berpakaian yang pantas dan mau menghargai orang lain, adalah sungguh-sungguh supaya kamu menjadi manusia yang bermoral, bukan begajulan yang menghancurkan hidupnya dengan mau hidup sebebas- bebasnya. Kau lihat betapa banyak teman sebayamu yang sudah harus berhenti sekolah untuk mengasuh anak, betapa banyak teman seusiamu jatuh pada obat bius dan pornografi. Anakku, aku tahu engkaupun tidak ingin menjadi seperti itu. Sungguh kalau aku keras dalam hal ini karena aku tahu betapa halusnya bujukan setan dan betapa beratnya hidup yang tidak tegas terhadap yang jahat. Aku ingin kau pun memahami itu. Hatiku akan hancur bila sikapmu selalu melawan aku, bila kau selalu menganggap dirimu benar sendiri. Setiap malam aku berdoa untukmu, tak sekejap pun engkau hilang dari hidupku. Bila aku sedang memasak di dapur, yang kubayangkan adalah kepuasan makanmu dan juga kesehatan tubuhmu. Bila aku ikut membantu bekerja, yang kuinginkan engkau tidak terhambat karena biaya. Bila kubenahi kamarmu yang selalu berantakan yang kuinginkan agar kau krasan di rumah. Bila kubelikan kau baju-baju yang modis, aku ingin kau tidak malu pada teman-temanmu. Dan bila aku merawat kesehatan tubuhku sendiri, aku hanya ingin agar aku dapat lebih lama lagi mendampingi dan menyerahkan hidup kepadamu. Sekarang ini kamu sudah dewasa, banyak hal sudah dapat kau lakukan sendiri. Lambat laun akan terasa bahwa hidupmu memang menjadi tanggung jawabmu sendiri; tidak ada seorangpun yang dapat menggantikannya termasuk ibumu ini. Mohon jangan kecewakan aku dengan sikap keras kepalamu yang kekanak-kanakkan itu. Aku tidak cemburu kalau kamu sekarang sudah melebihi aku dalam segalanya. Aku malah bangga karena Tuhan sudah berkenan membiarkan aku ikut menyaksikan pembentukkan hidupmu. Seperti sebatang lilin, hidupku sudah meleleh habis… dan sebentar lagi pasti akan padam… untuk menerangi hidupmu, anakku. Kini engkau sendiri sudah mulai menyala, lebih terang dari yang kupunya. Anakku... Kalau engkau memang sulit menerima aku yang sering rewel, kolot atau lamban ini, aku mohon paling tidak kamu mau menghormati ayahmu. Sepanjang hari setiap hari selama bertahun-tahun dia bekerja keras untukmu, hingga tubuhnya lemah, hingga kulitnya kerut merut tertimpa banyak penderitaan. Cintanya padamu membuatnya tidak malu untuk bekerja di tempat-tempat yang kotor, membuatnya tahan duduk berjam-jam menangani tugas-tugas yang membosankan, dan membuatnya setia menjagai kita semua.Dia juga hanya ingin agar kita ini berbahagia. Anakku... Jangan sia-siakan cintanya. Jarang sekali dia mengeluh kala menghadapi beratnya beban kehidupan, tugas-tugas berat dan tuntutan anak-anaknya. Di hadapan kita, dia selalu tersenyum dan tertawa gembira. Kadang-kadang aku merasa kasihan kepadanya kalau dia tidak bisa pulang seharian, kalau tubuhnya yang sudah kecapaian itu harus dipaksa untuk bekerja lagi. Saya sendiri sering merasa bersalah karena rasanya hanya memperlakukan ayah seperti kuda beban atau sapi perahan. Kita bisa beli ini itu, bisa pergi ke sana kemari atau bermain-main dengan santai di rumah, sementara itu dia hanya puas dengan secangkir kopi dan baju yang itu itu saja, dia juga tidak mempunyai banyak waktu untuk bersantai-santai seperti kita. Sungguh anakku, aku mohon hormatilah ayahmu. Akhirnya... Sebagai orang tuamu aku minta maaf kalau selama ini aku kadang-kadang egois, menuntut terlalu berlebihan, kolot dan keras terhadapmu. Maafkan aku bila aku kurang mengerti kebutuhan-kebutuhan dan dunia mudamu. Kadang aku masih menganggapmu seperti anak-anak yang harus kuatur segalanya agar tidak keliru. Maafkan aku anakku, yang membuat banyak kesalahan atau malah menyengsarakanmu, yang tidak dapat mencintai dengan cara yang cocok dengan keinginanmu. Kata maaf darimu adalah hadiah yang paling kutunggu. Anakku... Aku sudah kangen kamu. Ingin rasanya kubisikkan aku sayang kamu. Hanya peluk ciumku untukmu. IBU-MU
Otsu Kanzasky


bangun+rumah 's link
Jarum jam pada beker berbentuk bola yang ada di atas nakas menunjukkan jam 5 pagi. Aku menguap lebar, sambil mengerjap-ngerjapkan mataku untuk mengumpulkan nyawa yang sepertiganya masih tersangkut di atap rumah kontrakanku yang baru ini. Aku hanya duduk diam di pinggir ranjang dengan kedua tangan memegang bibir tempat tidur dan menatap lantai putih yang ku pijak. Aku akan terus seperti ini untuk beberapa menit lagi. Terlalu pagi untuk bangun memang, tapi aku sudah biasa bangun pagi, karena aku tinggal sendiri jadi aku harus bangun lebih pagi, mengerjakan semua hal di rumah sendirian. Aku menghela nafas pelan, menengok ke atas nakas dan mengulurkan tangan kananku mengambil kacamata yang semalam ku letakkan disana kemudian ku pakai. Lalu aku bangkit berdiri, merenggangkan otot-otot tubuhku, setelah lebih relaks ku balikkan tubuhku menghadap ranjang, karena harus di bereskan. Ku tata seperti di awal sebelum ku tiduri. Setelah beres ku sambar android hitamku yang ada di sebelah jam beker. Memandang foto seseorang yang ku jadikan wallpaper ponselku, sudah menjadi kegiatan rutinku untuk memulai aktifitas. Baru tadi malam aku memotretnya diam-diam di tempat biasanya, dan sudah 1 minggu aku melihatnya di tempat itu, yang ku tahu adalah aku jatuh cinta padanya. Padahal aku tidak mengenalnya, hanya memandangnya dari jauh. Menyedihkan bukan? Meski orang-orang di sekitarku bilang aku ini tampan, tetap saja aku tidak berani menghampirinya. Ada beberapa faktor yang harus ku pertimbangkan, aku tidak mau gegabah, dan aku yakin akan ada saatnya aku bertatap muka dengannya. Tapi untuk saat ini cukuplah melihatnya dari jauh. Sebenarnya aku tidak mengerti, kenapa anak semuda dia melakukan pekerjaan hina itu? Apa karena krisis ekonomi keluarga? Lalu kemana orang tuanya? Ada banyak pertanyaan di kepalaku yang tidak ku mengerti, tapi aku tidak bisa menanyakannya. Kurasa aku harus menyimpan semua pertanyaan ini, dan bertahan dengan rasa tidak rela yang selalu menghinggapi ku saat aku melihatnya di jemput oleh pria-pria keren setiap malamnya. Melihat hal itu membuat hatiku terluka, rasanya aku ingin berlari ke arahnya dan membawanya pergi. Pagi ku memang selalu diawali dengan kegalauan akan dirinya, dadaku akan sesak seperti ini, dan yang harus ku lakukan adalah menelponnya hanya untuk sekedar mendengarkan suaranya yang bisa menenangkan hatiku. Hal itu terbukti ampuh, karena apapun yang akan terjadi seharian ini, semuanya akan terasa menyenangkan bagiku. Mungkin aku ini bodoh, karena jatuh cinta pada orang yang tak ku kenal, dan parahnya cintaku ini berkembang sangat besar. Aku sudah menghafal nomornya diluar kepala, memang rengaja tidak ku simpan untuk menghindari hal-hal yang kemungkinan bisa saja terjadi. Untuk beberapa saat aku hanya mendengar suara 'tut' yang berulang-ulang, lalu telponku pun di angkat. “Hallo?” suaranya terdengar serak dan malas-malasan. Aku hanya diam. “Hallo?” Aku tetap menutup mulut, kemudian ku dengar nada 'tut' yang panjang. Dia menutup telepon ku. Aku tersenyum tipis melihat layar ponsel yang sekarang sudah berganti menjadi wallpaper seseorang yang manis. Orang yang ku suka. “Ok, saatnya mandi” desisku sambil meletakkan ponsel kembali ke atas nakas lalu melepas t-shirt yang ku gunakan untuk tidur semalam. Dengan bertelanjang dada aku berjalan kearah lemari dan membukanya, mengambil handuk yang terlipat rapi di rak paling bawah serta mencomot pakaian dalam dan celana hitam yang ku gunakan untuk kerja, ku tutup kembali pintu lemari dan beranjak menuju kamar mandi yang ada di luar kamar. Banyak kardus-kardus yang masih tertumpuk di luar kamarku, aku belum sempat membongkarnya. Sudah ku bilang ‘kan kalau rumah ini kontrakan baru ku? Jadi jangan heran kalau rumah ini masih kosong. Bisa saja aku meminta seseorang untuk merapihkan rumah ini atau sekedar membantuku, tapi karena aku baru dan tidak mengenal siapa-siapa,jadi ku biarkan saja. Ada banyak alasan kenapa aku memilih untuk tinggal sendiri dan bekerja bukan di kotaku. Selain karena aku ingin mandiri, tentu saja aku ingin mengetahu banyak hal tentang orang yang ku suka. Pindah rumah dan kerja adalah pilihan yang menurud ku tepat, walau aku harus bersih tegang dengan keluargaku yang menginginkan aku bekerja di perusahaan Papa. Aku memang berasal dari keluarga yang sangat berada, tapi aku lebih memilih menjadi guru SMA. Selesai mandi segera ku pakai celana hitamku dan keluar, ku gantungkan handuk di kepalaku dan kembali ke kamar. Mataku mengarah pada jam dinding, masih jam 6. Aku harus segera berpakaian dan menyiapkan materi untuk hari ini. Aku memilih memakai kemeja biru tua pada hari pertamaku ini, aku harus tampil serapih mungkin tapi tidak terlalu formal juga supaya murid-murid baruku tidak terlalu sungkan padaku. Bagaimanapun juga, aku masih 25 tahun. Rambut spike ku kutata dengan jari,lalu menyemprotkan parfum dan sempurna sudah. Ku pandangi pantulanku di cermin,keren dan tampan. Mungkin sekilas pandang, orang-orang akan mengira aku sudah hampir 30 tahun. Well, menurud ku hal itu adalah anugrah, itu berarti aku terlihat sangat dewasa ‘kan? Tak lupa aku memakai jam tanganku, dan ku lihat sudah jam setengah 7, itu artinya aku harus segera berangkat. Aku menghampir tas kerjaku yang ada di atas meja komputer, ku cek barang bawaanku lalu ku sandang di pundak dan mengambil ponsel di atas nakas, ku masukkan ke dalam tas. Tak lupa ku kunci pintu kamar, menyimpannya di saku celana, kemudian membungkuk mengambil sepatu yang ada di sebelah pintu kamar. Aku menuju bagian depan rumah yang kebetulan ada yang mengetuk pintu. Ku letakkan tas ku di atas sofa dan sepatu di bawah dekat sofa, sambil berjalan ku rogoh saku celana mengambil kunci dan segera ku buka. Sosok Bu Helmi pemilik kontrakan ini tersenyum ramah berdiri di depan pintu. “Maaf mengganggu pagi-pagi Pak Guru” Bu Helmi berkata sungkan. “Tidak Bu, ada yang bisa saya bantu?” tanyaku ramah. “Ini, kunci duplikat yang kemarin Ibu bilang” kata Bu Helmi, memberikan sebuah kunci berbandul candi borobudur padaku. “Oh iya Bu, terima kasih” ucapku menerima kunci itu. “Iya sama-sama. Oya, kalau Pak Guru butuh sesuatu bilang aja ke Ibu” “Pasti Bu, nanti saya bilang” “Ya sudah, Ibu pamit ya” “Iya Bu” aku menundukkan kepalaku sedikit tak lupa tersenyum. Bu Helmi keluar di pekarangan kecil rumahku dan menutup pagarnya kembali. Sebenarnya rumah ini terlalu besar untuk ku tinggali sendiri, tapi seperti yang sudah ku bilang, ada beberapa alasan dan salah satunya adalah... “Kita berangkat Bun!” teriak suara merdu di samping kanan rumahku. “Iya, jangan ngebut dijalan! Belajar yang bener!” sahut seorang wanita dari teras rumah. Ku putuskan untuk mendekat ke dinding pembatas yang lumayan tinggi, yaitu se dadaku. Aku berdiri di dekat pembatas dinding yang paling tinggi, karena bentuk dindingnya yang bergerak turun, jadi agar tidak ada yang melihatku dari rumah sebelah. Ku lihat dia memakai helm, sudah siap dengan motor maticnya dan seorang gadis SMP duduk di boncengan. Mereka berpamitan sekali lagi pada sang Bunda lalu menjalankan maticnya keluar dari halaman rumah dan melewati depan rumahku. Inilah salah satu alasanku menempati rumah kontrakan ini. Rumahnya tepat di samping kanan rumahku, itu artinya kami bertetangga. Aku, Arga Mahardika, seorang Guru Bahasa Inggris yang sedang jatuh cinta pada tetangga ku sendiri. *** Pengendara Honda Beat hitam yang baru saja datang dengan memakai helm merah melajukan motornya memasuki area sekolah dan memarkirkan motornya dengan rapih. Pemuda berseragam putih abu-abu itu turun dari motornya seraya melepas helm dan menggantungkannya pada gantungan kecil di bagian bawah depan motor. Pemuda berkulit putih itu menyempatkan diri menata rambutnya yang mulai panjang dengan berkaca pada spion motor,setelah merasa puas ia pun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat parkir. Pemuda cute itu membalas sapaan teman-temannya yang juga berbondong memasuki gedung sekolah. Darah asal Negara Matahari Terbit yang mengalir di dalam tubuhnya membuat sosoknya sedikit berbeda dari remaja di sekolahnya, jadi jangan salahkan sang Nenek yang mewariskan darah itu padanya. “OKI TANGKAP!” Teriak seseorang di belakang Naoki yang membuat sang empunya nama menoleh seperti anak kunci. Belum sempat otaknya mengolah informasi atas apa yang di lihatnya, tangannya dengan refleks menangkap bola basket yang melayang ke arahnya. Sadar apa yang telah terjadi, Oki―panggilan akrab Naoki―melotot garang pada pemuda tinggi berambut runcing seperti jarum, berkulit kuning langsat yang kini berlari kecil ke arahnya. “Lu niat ngebunuh gue ha?” tanya Oki sewot. Pemuda berwajah Indo-Arab di depannya cengengesan. “Gak bakal mati, paling cuma pingsan atau hidung lu patah” ia terkekeh. Oki mencibir dan dengan kesal mendorong bola basket yang di bawanya ke dada pemuda tinggi itu. Ia melangkah pergi,tak menggubris panggilan pemuda tadi yang kini menyusulnya dengan membawa bola. “Udah bikin PR biologi?” tanya Arfan, melingkarkan satu tangannya ke pundak Oki. “Udah, emang lu nyalin mulu” jawab Oki sambil melirik. “Eh, lu udah denger belom kalo Pak Hari keluar dari sekolah?” Arfan menatap Oki yang tingginya hanya se pundaknya. “Udah, tapi gue gak tau kenapa” Oki mengangkat bahu cuek. “Guru penggantinya cewek ato cowok ya? Menurud lu Ki?” “Apa aja boleh, asal nggak lekong” Arfan tertawa mendengar jawaban sahabat kecilnya itu. Kedua pemuda ABG itu melanjutkan obrolan mereka sampai tak sengaja mendengar obrolan para gadis yang berjalan melewati mereka. “Eh eh, itu pengganti Pak Hari ya?” tanya gadis 1. “Masa? Mana mungkin ah, ganteng banget gitu” kata gadis 2. “Masih muda lagi” sahut gadis 3. “Mana-mana guru barunya?” Arfan menatap sekeliling dan matanya kini tertuju pada sesosok pria tinggi berkacamata yang berdiri di depan Ruang Guru, tengah mengobrol dengan pria paruh baya berpakaian Dinas. “Buset, cakep amat. Liat tuh Ki, yang lagi ngobrol sama Pak Yono” kata Arfan sambil menodorong pipi Oki pelan sampai menoleh pada arah yang di maksud. Pemuda bermata bulat itu melihat ke arah yang di maksud. Pada sosok pria tinggi yang memakai kemeja biru tua, terlihat masih muda, penampilannya sangat fresh, tentu dapat memikat hati siapa saja yang melihatnya. Bahkan Oki yang entah kenapa menatap tak berkedip pada pria asing itu. Ada debaran aneh di dadanya dan matanya tak mau berpaling. Arfan yang melihat gelagat itu tersenyum miring dan merapatkan rangkulannya di pundak Oki. “Kriteria pelanggan lu ‘kan tuh?” kata Arfan dan menyadarkan Oki. Ia melirik tajam. “Tawarin aja, sapa tau dia mau” Arfan sedang beralih profesi sebagai Setan sepertinya. “Gila lu. Sekalipun dia sakit, gue gak mau” Oki terlihat agak salah tingkah. “Yakin? Kalo gitu gue deketin ah, type gue banget tuh” Oki berdecak kesal lalu dengan keras menyikut pinggang Arfan sampai pemuda itu memekik kaget. “Sarap!” ejek Oki, berlari meninggalkan Arfan. Alhasil terjadilah adegan kejar-kejaran di sepanjang koridor ruang kelas. 【End of part 2】
Otsu Kanzasky


bangun+rumah 's link
“Haahh...” Aku menghela nafas lagi pagi ini, entah sudah berapa kali aku menghela nafas sejak selesai mandi setengah jam yang lalu. Mataku rasanya berat, aku benar-benar tidak bersemangat hari ini. Setelah semalam aku pulang ke rumah jam 3 pagi, apa aku bisa tidur cukup? Tidak, tentu saja. Dan paginya aku sudah di sibukkan dengan sekolah yang tak ada kompromi. Aku bisa berjalan hari ini saja sudah keajaiban untukku. “Pagi Va~” sapa 2 cewek yang tak ku kenal berjalan mendahului ku. “Pagi” balasku sekenanya. Cewek-cewek itu memekik senang dengan mencuri pandang kearahku, tatapan mata mereka sama seperti kebanyakan cewek di sekolah ini saat menatapku. Aku tidak mengenal mereka semua yang menyapaku, tapi aku tidak mungkin diam saja ‘kan? Jadi ku balas saja sapaan mereka dengan tak lupa tersenyum tipis supaya aku tidak di cap 'model songong'. Langkahku seperti zombie yang kelaparan saat menyusuri koridor ruang-ruang kelas, bahkan lagu yang sengaja ku dengarkan lewat earphone pun tak banyak membantu, padahal aku sengaja mendengarkan lagu-lagu keras, tapi namanya ngantuk tetap aja ngantuk. “Nava~!” suara cewek-cewek yang tiba-tiba ada di depanku terdengar seperti suara piring pecah. Kalian tahu? Lihat saja ibu-ibu yang doyan nonton sinetron saat ada adegan tokoh antagonis mereka pasti langsung berkoar-koar, atau saat cewek-cewek abg melihat Ariel atau artis Korea, seperti itulah suara piring pecah. Memekakkan telinga, bahkan suara mereka sampai mengalahkan lagu yang sedang ku dengar. Aku terpaksa berhenti berjalan karena di kepung sekumpulan cewek yang tak ku kenal. Mereka ribut ini-itu dengan membawa sebuah majalah remaja yang ku lihat memuat artikel tentang ku, beserta foto-foto ku disana. “Kita mau minta tanda tangan Nav~” kata cewek berambut panjang di depanku. “Eh....” hanya itu yang keluar dari mulutku, sambil ku lepas earphone di telingaku. “Tanda tangan dong Nav~” Cewek-cewek ini menatapku dengan pandangan memohon. Bukannya tidak mau, hanya saja aku tidak pernah memberi tanda tangan saat di sekolah. “Kamu manis banget sih Nav!” cewek di belakangku mencubit pipiku. “Eh! Jaga tangan lo ya! Enak aja lo pegang-pegang Nava!” bentak cewek rambut panjang yang ku duga pimpinan(?) cewek-cewek yang mengepungku ini. “Emang lo siapa ngelarang-ngelarang gue?” tanya cewek di belakangku dengan nada sengak. Sudah bisa di tebak, kedua kubu cewek-cewek ini langsung adu mulut dengan segala kosa kata yang tak seharusnya keluar dari mulut seorang cewek. Aku tidak mau ambil pusing. Ku pasang kembali earphone ku dan keluar dari kepungan cewek-cewek yang sedang seru adu mulut ini. Sebaiknya aku pergi sebelum mereka menyadarinya, bisa-bisa aku terjebak disana kalau tidak segera kabur. Ku percepat langkahku menjauh dari sekelompok cewek yang sudah bertransformasi jadi cheetah itu. Beberapa anak masih menyapaku dan tidak sedikit yang melontarkan pujian untukku. Ok, biar ku perjelas statusku. Namaku Navaro Aditya, sudah 1 tahun aku jadi model, itupun nggak sengaja, saat aku menemani Mama ku belanja di Mall ada orang yang menawariku jadi artis, aku sih nggak kepengen, tapi berhubung Mama pengen anaknya jadi artis, alhasil aku menerima tawaran orang itu. Tapi aku memilih menjadi model daripada penyanyi atau apalah itu namanya. Dan namaku semakin di kenal banyak orang saat aku membintangi sebuah iklan provider dan iklan minuman berkarbonasi. Sejak itu wajahku sering menghiasi banyak majalah remaja, dan banyak berdatangan tawaran untuk main sinetron, tapi aku tolak. Tahu sendiri ‘kan image sinetron itu seperti apa? Apalagi temanya juga tentang cinta, aku sama sekali nggak tertarik. Lebih enak seperti ini, sesibuk-sibuknya aku, aku masih memiliki waktu untuk main. Aku benar-benar bersyukur memiliki wajah seperti ini yang orang-orang bilang seperti artis Korea, aku juga lumayan tinggi. Tapi tidak setinggi Ren sahabat baik ku di sekolah dan jangan tanya dia seperti apa. Ah itu dia, aku melihatnya berjalan di depanku sendirian dengan tatapan aneh dari anak-anak yang ada di koridor. “Ren!” panggilku lantang. Dia menoleh ke belakang dan berhenti berjalan menungguku. Aku berlari kecil mendekatinya, dan bisa ku rasakan tatapan intens anak-anak yang sampai saat ini kebingungan karena orang sepertiku mau dekat-dekat dengan seorang Karendra Ilyas. Dia anaknya sangat cuek dan dingin, hanya bicara seperlunya, jago sepak bola dan yang terpenting memiliki tatapan tajam seperti elang. Badannya yang tinggi, membuat banyak anak takut padanya dan karena tatapan tajam serta sifat dinginnya itulah ia di jauhi anak-anak yang lain, padahal dia anaknya baik dan sangat setia kawan. Tapi aku beruntung memiliki sahabat sepertinya, berkat sifat cueknya rahasia terbesarku aman di tangannya. “Di kejar-kejar lagi?” tanyanya menatapku datar setelah aku berdiri di dekatnya. Tatapan datarnya pun bagiku adalah tatapan keren, sangat menusuk, seperti dapat membaca pikiran ku. “Ng..nggak, aku berhasil kabur dari kepungan cewek-cewek itu kok” kataku, menyamakan langkahku dengannya. “Oh...” Aku mencibir, menyebalkan sekali responnya itu. Tapi hal itu yang membuatnya keren. Sebenarnya kalau dia ramah sedikit, pasti banyak cewek yang tidak takut dekat-dekat dengannya. Tapi meski cuek seperti ini juga nggak sedikit sih cewek yang PDKT sama dia, asal bermental baja aja dapat respon cuek dan dinginnya. Ren ganteng, jago olahraga, meski kulitnya nggak seputih aku justru hal itu yang membuatnya terlihat semakin manly. Jangan sampai aku jatuh cinta padanya, ups, hehe Tenang, dia tahu kok kalau aku gay. “Kurang tidur lagi?” tanya Ren, berpaling menatapku. Aku mengangguk kecil. Ku rasakan tangannya mengusap kepalaku pelan, saat ku rasakan pusing datang menyelinap. “Matamu merah” komentarnya. Nada suaranya selalu lembut kalau bicara denganku, itu yang ku suka darinya. Baik sikapnya juga agak berbeda jika denganku. “Semalam aku tidur jam 3 pagi” kataku seraya mengusap mataku yang terasa panas. “Trus kenapa masuk?” “Minggu kemarin aku udah nggak masuk 3 hari, masa mau nggak masuk lagi” Enak sih nggak sekolah, tapi kalau aku nggak naik kelas gara-gara kebanyakan absen gimana? Bisa gawat. Aku tidak dengar Ren bicara apa karena kepalaku semakin pusing. Rasanya lantai yang ku pijak bergoyang seperti ombak, aduh kenapa aku ini? “Nav?” Aku berhenti berjalan karena semua yang ku lihat jadi berputar. Ku pejamkan mataku agar tidak bertambah pusing, dan ku rasakan ada yang memegang keningku. “Badanmu nggak panas” kata Ren pelan. Belum sempat aku membuka mata, ku rasakan lantai yang ku pijak runtuh dan membuatku ambruk. Tapi dapat ku rasakan sapasang tangan kokoh menahan tubuhku erat. “Nava!” 。。。 Aku enggan membuka mata meski ku rasakan ada yang membelai pipiku lembut, rasanya nyaman, aku tidak mau bangun. Belaian itu juga ku rasakan di bibirku dan kembali ke pipi ku. Siapa? Perlahan ku buka mataku, yang ku lihat hanya langit-langit berwarna putih dan ku rasakan tiupan angin di sisi kiriku dan belaian di pipi kananku lenyap. Ku tolehkan kepalaku perlahan ke sisi kananku, mengerjap beberapa kali melihat Ren yang sibuk membaca komik yang duduk di sebelah ranjangku. Ku perhatikan ruangan serba putih ini, aku berpaling menoleh ke sisi kiriku, ada kipas angin kecil yang menyala. “Udah bangun Nav?” suara ngebass Ren membuatku kembali menoleh ke arahnya. Dia menutup komiknya dan meletakkannya di meja kecil dekat ranjang. “Aku di UKS ya?” tanyaku dengan suara yang serak dan pelan, aku nyaris tidak mendengar suaraku sendiri. Ren mengangguk kecil. “Kata Bu Heni kamu anemia makanya pingsan” jelasnya. Aku cuma diam, kurasa tidak perlu berkomentar. “Bikin kaget aja tiba-tiba pingsan” kata Ren, menyentil keningku dengan jari telunjuknya. “Sakit!” pekik ku pelan, aku meringis memegangi keningku yang sepertinya memerah. “Jangan pilih-pilih makanan, ini akibatnya” Ren menceramahiku. “Aku nggak pilih-pilih” aku mendengus. “Mana ada model kurus begini?” “Aku nggak kurus!” aku melotot garang. Ren tertawa menyebalkan, dia mengacak-acak rambutku. Dasar menyebalkan, eh tapi... “Rendra!” panggil seseorang dari arah pintu UKS. Aku ikut menengok. Ada Rudi di depan pintu, Ren menghampirinya dan mereka terlibat percakapan singkat, setelah itu Ren kembali padaku. “Ada apa?” tanyaku saat ia sudah berdiri di sebelah ranjang. “Aku ada latihan futsal” jawabnya. “Trus?” “Aku harus pergi, udah di tunggu anak-anak di lapangan” “Oh, ya udah sana pergi” “Nggak papa di tinggal?” “Aku cuma anemia Ren, bukan amnesia” Ren manggut-manggut, ia mengambil tasnya yang ada di bawah dan mengambil sesuatu. “Nih pake” dia melemparkan sesuatu ke arahku dan ku tangkap dengan sigap. Ku bentangkan kain berwarna hitam yang ku tangkap tadi, dan ternyata jaket. Aku mengernyit, kembali menatapnya. “Pake itu biar nggak makin sakit, aku duluan” ujarnya mengusap rambutku. Aku tertegun memegangi jaketnya sampai lupa mengatakan terima kasih, Ren menghilang di balik pintu UKS. Aku menghela nafas pendek, memegang rambutku yang tadi di usap oleh Ren dan aku menyadari sesuatu. Caranya mengusap rambutku sama seperti usapan yang ku rasakan saat aku tidur. Masa Ren yang melakukannya? Buat apa dia belai pipi dan bibirku? Atau cuma perasaanku aja ya? Pasti deh. Aku menghela nafas lagi. Eh tunggu, aku melupakan sesuatu. Tadi dia bilang mau latihan futsal ‘kan? Memang ini jam berapa? Ku angkat tangan kananku melihat jam tangan, sudah jam 1 siang. Mataku melotot tak percaya. Berarti aku sudah tidur selama jam pelajaran? Trus buat apa aku masuk kalau aku tidak ikut pelajaran? Aah...benar apa kata Ren tadi, seharusnya aku tidak usah masuk, toh sama saja akhirnya. Aku mendesah keras, menyadari kebodohanku. Ku letakkan jaket Ren di atas perutku dan aku bangkit duduk perlahan. Aku menoleh pada kursi kayu yang tadi di dudukki oleh Ren, ku lihat komiknya tertinggal di meja. Dasar pikun. Berarti, dia juga tidak mengikuti pelajaran gara-gara menungguiku disini? Seorang Karendra Ilyas yang sangat amat cuek dan dia hanya bersikap seperti ini padaku. Benar-benar orang aneh, aku juga aneh kenapa bisa sepercaya itu padanya padahal aku yakin kalau dia itu straight. *** “Iya aku dengar Ma” ucapku tak lepas melihat-lihat majalah edisi terbaru minggu ini. “Mama kaget waktu dapet telpon dari sekolah katanya kamu pingsan. Kenapa masuk tadi?” tanya Mama yang duduk di sofa di depanku. “Ya ‘kan aku udah 3 hari nggak masuk minggu kemarin, masa nggak masuk lagi?” “Mama tau, tapi kalau kayak tadi ‘kan jadi ngerepotin Rendra” Mendengar namanya di sebut aku jadi ingat jaket yang dia pinjamkan padaku tadi siang. Aku berhenti membaca dan menutup majalah di pangkuanku. “Aku ke kamar dulu Ma” pamitku seraya meletakkan majalah ke meja di depanku. “Jangan lupa minum obat yang Mama kasih tadi!” teriak Mama karena aku sudah menaiki tangga. “Iya!” balasku dengan teriak juga. Ku percepat langkahku menaiki tangga dan menuju kamar yang pintunya sengaja aku buka. Mataku langsung tertuju pada tas sekolah yang tergeletak di atas tempat tidur, ku sambar dan duduk di pinggir ranjang sembari menumpahkan semua isinya di spring bed. Ku ambil jaket hitam milik Ren yang ku pakai saat pulang sekolah tadi siang, baunya masih sama, bau parfum miliknya yang sangat khas. Ku naikkan satu alisku melihat sebuah fotoku yang ada di antara buku-buku pelajaran, ku letakkan jaket milik Ren dan ku raih fotoku itu. Aku mengernyit melihatnya, ini foto 3 hari yang lalu saat aku keluar kota untuk talkshow di radio. Sudah 2 minggu ini aku selalu mendapat foto-fotoku yang terselip di antara barang-barangku, dimana saja, di tas, di buku, bahkan ada yang sampai di kirim ke rumah dan aku tidak tahu siapa yang sudah iseng melakukan semua itu. Di foto yang ku pegang ini aku berdiri di depan gedung, memakai baju casual dan topi berwarna merah. Siapa yang memotretku? Tapi yang lebih penting siapa yang meletakkan foto ini di tasku? Apa Ren? Tapi untuk apa? Hal ini sama sekali tidak membanggakan, aku justru takut kalau pun benar ada stalker yang menguntitku. Apa sebaiknya aku tanya Ren aja ya? Siapa tahu dia tahu sesuatu, ‘kan dia yang menjagaku saat di UKS. Ku balikkan tubuhku untuk mengambil ponselku yang ada di atas bantal, segera ku cari nama Ren di phonebook dan langsung memencet tombol call. “Hallo?” sapanya di sebrang line. “Apa Nav?” imbuhnya. “Ganggu gak?” tanyaku, kembali menatap foto yang ku pegang. “Nggak, ada apa?” “Ng...aku mau tanya sesuatu” “Apa‘an?” “Eh itu, pas aku pingsan ada yang megang tasku gak?” “Ha? Megang tas?” “Iya tas” “Nggak ada, ‘kan aku yang bawa kamu ke UKS. Kenapa? Ada barangmu yang hilang?” Aku menggigit bibir kecil. “Nggak ada” “Trus?” “Eh...” aku ragu untuk memberitahunya atau tidak, tapi aku penasaran. “Nav?” panggilnya, menungguku bersuara. Aku menghela nafas. “Gini, barusan pas aku bongkar tas ada fotoku pas aku di luar kota kemarin, seingetku aku nggak nyimpen foto” ujarku menjelaskan. “Oh, jadi menurud mu ada yang masukin ke tasmu gitu?” “Iyalah, tapi siapa? Kamu tau Ren?” “...nggak, tapi aku sempet ke toilet bentar, mungkin waktu itu ada yang masuk ke UKS” Aku terdiam. Mungkin juga, tapi apa tujuannya meletakkan fotoku ke dalam tasku? Ku balikkan foto itu dan ku lihat ada pesan di belakangnya. Isinya.. ― aku adalah salah satu penggemarmu dan aku jatuh cinta padamu, biarlah aku hanya memandangmu dari jauh asal aku dapat melihat senyum mu. From your secret admirer ― Aku terdiam. Apa-apa‘an ini? Ada orang yang diam-diam menyukaiku? Semua ini membuatku takut karena bukan kali ini saja aku dapat foto-foto ku yang tidak ku tahu dari siapa, dan kurasa pemberinya orang yang sama karena tulisannya sama. “Aku takut Ren” ucapku pelan. “Stalker?” tebaknya. “Ya, nggak kali ini aja aku dapet kayak gini” “Udah berapa lama?” “Hampir 2 minggu. Orang ini kayaknya selalu tau apa kegiatanku dan dimana aku” Ku dengar Ren menghela nafas. “Tenang aja, ada aku di sekolah” “Tapi ‘kan―” Tak! Aku membalikkan tubuhku cepat memandang kearah balkon kamar yang tidak tertutup tirai. Suara apa tadi? Seperti ada benda yang membentur. “Bentar Ren” ucapku. “Hm” Ku letakkan ponselku ke tempat tidur dan ku langkahkan kakiku menuju balkon. Aku gugup, semoga aku tidak melihat hal yang aneh-aneh. Dengan ragu ku geser pintu balkon dan melihat keluar ke arah taman samping rumah, sepi tidak ada orang, di jalan juga sepi. Aku kembali masuk dan saat akan ku tutup kembali pintu balkonnya, kulihat ada segumpal kertas di dekat pintu balkon. Ku bungkukkan tubuhku mengambil gumpalan kertas itu dan ku tegakkan kembali seraya membuka kertasnya. Sebuah pesan dengan tulisan yang sama seperti di foto. ― kau takut padaku? Aku hanya mengagumi dan menyukaimu, apa itu salah? Aku tidak akan melukaimu, sungguh. Berada di dekatmu saja aku sudah sangat senang, abaikan semua pesanku jika itu menganggumu. From your secret admirer ― Ku angkat kepalaku cepat, mengedarkan pandangan ke sekitar. Aku tetap tidak melihat siapapun. Aku kembali masuk dan ku tutup pintu balkon cepat sampai berdebam, ku pasang tirai agar tidak ada yang melihatku dari luar. Ku balikkan tubuhku bersandar pada pintu balkon. Aku benar-benar takut. Siapapun secret admirer itu ku harap dia bukan psikopat. Bersambung...
Tommy Dava
Sumatra Cyber

sumatracyber.blogspot.com
bangun+rumah 's link

CF Member Smash


bangun+rumah 's link
HUAAAH, chiqa baru bangun tidur niih :D  tapi langsung lanjut ABC ajh. chiqa kan baik yy :D LIKE dan COMENT yy   Hari semakin sore, kini langit di hiasi oleh aurora merah kejinggaan . menampakkan suasana alam yang harmonis. Sherin menapakkan kakinyapulang menuju rumah. Suasana jalanan yang cukup ramai kali ini membuatnya inginlebih cepat sampai pada istananya. Tumben sepi ~ , sherin semakin melajukanlangkahnya. Rumahnya kali ini terlihat gelap, hanya ada cahaya lampu di dalam. Tangannyamengambil secarik kertas yang tertempel di pagar rumahnya.   “ Sial “ rutuknya dalam hati, kali ini mama dan saudaratirinya itu memang benar-benar keterlaluan. Rupanya mereka memang mengunciseluruh pintu sampai pagar rumah, dan itu membuat sherin jengkel.   Kemana lagi ia harus berjalan? Hari sudah mulai malam dansherin tidak tau menuju ke tempat mana. Tak mungkin ia tidur di depan pagar,yang ada nanti orang-orang malah berfikir kalau ia ‘pengemis jalanan’ . kakinyaterus saja berjalan, mungkin otaknya sedang berfikir mencari tempat dimana iaakan menginap malam ini, hanya satu malam. Tidak lebih.   “ ciiiiiiiiiiiit “   Suara rem mendadak terdengar ketika sherin menyebrang dipertigaan jalan. Ia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Akibat darigerak repleks yang melanda dirinya. Sediki-demi sedikit, ia mulai membukamatanya. Pemuda tampan itu lagi, kali ini bisma berdiri dengan menampakkan gaya‘songong’nya, seperti nya ia telah bersiap untuk menyemprotkan kata-katakesalnya pada sherin.   “ kan? Lo yang salah, malah lo yang nyalahin gue !dimana-mata orang mau nyebrang tuh tengok kanan kiri, bukan nunduk. “ sherinmenyeringai ketika bisma mengomelinya. Ok, kali ini sherin mengaku salah.   Sedetik kemudian, Aha ! sepertinya ia ada ide. Tiba-tiba iamengeluarkan air matanya, menangis dengan tampang memelasnya. Bisma yangbingung tak tau harus berbuat apa. Apakah ada yang lecet? Atau mobil bismamengenai bagian tubuhnya.   “ eh? Lo kok nangis sih. Aduh, udah donk diem . entar guedikira ngapa-ngapain lo lagi “ bisma membantu menenangkan sherin. Sebenarnyatawa sherin hampir meledak, ia sudah tak tahan melihat ekspresi bisma yang bisadikatakan takut -_-   “ hiks, hikss. Gue takut bisma, gue di usir dari rumah samaTata. Gue gak tau harus kemana “ adunya   “ emh, ok ok. Lo masuk ke mobil dulu. Soalnya ini jalan raya“ bisma menuntun sherin agar memasuki mobilnya. Soalnya, beberapa mobildibelakang bisma sudah ramai membunyikan klakson .   Bisma kembali menghidupkan mesin mobilnya, dan kemudianmenjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Ia bingung, harus membawasherin kemana, namun ya sudahlah, bisma akan membawa sherin ke rumahnya.   “ lo mau bawa gue kemana? Lo mau culik gue? Janganmacam-macam lo “ sherin   “ lo jadi cewe bawel banget sih, mau gue turunin disini ha?Lagian siapa juga yang mau nge culik lo? Lo dijual mah gak laku “ oceh bismatetap focus menyetir   Mobil bisma berhenti di depan bagasi rumah mewah, bergayaelit ala eropa . Maklum, pengusaha kaya . ‘-‘ . Mata sherin tercengang, mungkinia masih menganggap ini mimpi. Mulanya, sherin enggan untuk turun dari mobilbisma, sepertinya ia betah di dalam mobil bisma. Namun bisma tetap memaksanyaagar turun dan ikut masuk ke dalam rumat elit nya. Dengan langkah ragu-ragu,sherin turun mengekor bisma dari belakang. Baru saja mereka sampai di depanpintu utama, mereka sudah disambut oleh pelayan rumah yang menunduk sebagaiungkapan hormat pada sang pemilik rumah. Bisma hanya tersenyum kemudianmenggandeng tangan sherin untuk lebih masuk ke dalam rumahnya. Sherin hanyamenurut.   “ bisma “ tegur Tante Elisa ~ mama bisma . bismamenghentikan langkahnya, dan berjalan menuju sofa yang diduduki oleh keduaorang tuanya. Sherin, menunduk takut. Jika tau begini, ia pasti sudah mengakusalah dan tidak pakai adegan nangis di pertigaan jalan hanya untuk menariksimpatik bisma -.-   “ ma, pa “ bisma menyalami tangan kedua orang tua nya,diikuti oleh sherin yang masih menunduk dan terlihat gemetar   “ siapa dia, bis ? “ Tanya om Chandra alias papa bisma.Beliau hanya tersenyum melihat ekspresi sherin yang duduk menunduk disampingbisma. Bisma menoleh kearah gadis disebelahnya   “ lo jangan nunduk oon, orang tua gue gak bakal nerkam lo “dengan geram bisma berbisik pelan pada sherin   “ dia sherin pa, teman aku. Emm, dan dia, saudara tirinyacewe yang tadi di mall nyuruh aku nganterin dia pulang. “ jelas bisma   “ jadi, kamu saudaranya anak itu, siapa namanya? Saya lupa “ucap tante elisa   “ e, e,, Tata , tante “ tante elisa hanya manggut-manggut.   “ terus? “ bisma mengerutkan keningnya, maksud papa nya ,apa?   “ sherin kenapa kesini? “ seakan tau apa yang ada difikirkanbisma, om Chandra melanjutkan ucapannya.   “ oh, aku tadi gak sengaja nabrak dia di pertigaan jalan pa.dan dia juga lagi diusir dari rumah oleh Tata sama mama tirinya. “ jelas bismalagi   “ ooh “ om Chandra Cuma manggut-manggut. Ia mengerti maksudputra semata wayangnya ini.   “ pelayan “ panggil om Chandra sedikit berteriak. Tak lamakemudian, seorang perempuan, dengan pakaian khusus datang dan sebelumnyamenunduk memberi hormat   “ apa yang bisa saya lakukan tuan?” Tanya nya   “ siapkan satu buah kamar dilantai atas untuk tamu “ pelayantersebut mengangguk dan berlalu, namun sebelumnya, ia kembali menunduk memberihormat   “ eh, gak usah repot-repot, e , Om “ sherin bingung, iaharus memanggil apa? Om atau Tuan   “ Om tidak repot, kamu bisa menginap disini malam ini “ omChandra tersenyum, sherin mengangguk pelan   “ makasih banyak om, tante “     Sherin memasuki kamar yang telah disiapkan oleh pelayanrumah bisma, ternyata kamarnya besar, lebih besar daripada kamar sherin yangmenurutnya sudah sangat besar. Padahal ini kamar untuk tamu, bagaimana kamarbisma atau orang tua nya? Sherin duduk di atas tempat tidur, menghirup aromapengharum ruangan yang tergantung di samping AC . Oh,, ternyata ia tak harusmenyesal. Semua nya lengkap, selain kamar ia juga disediakan baju oleh tanteelisa, selebar dress panjang berwarna biru dengan hiasan bunga putih di sekitarbahunya. Tapi kenapa sherin harus memakai dress malam-malam begini? Apa inimemang tradisi keluarga Karisma yang harus tampil elegan?   “ tok tok tok “ suara ketukan pintu dari luar kamar teerdengar,sherin bangkit dan membukakan pintunya. Ternyata, Cuma bisma   “ ngapain lo ke kamar gue? Gue ngantuk “ sherin, sepertinyaia memang hobi sekali nyolot.   “ kamar lo? Hello, lo disini dianggap tamu. Dan kenapa jugalo masih pake pakaian beginian nih? Bukannya tadi mama udah nyiapin dress buatlo ? “ bisma   “ gue belum mandi bisma karisma. Lagian masa malam-malamgini gue disuruh pake dress sih? Dan lo juga, kenapa pake jas gini? Kayak mauke pesta aja lo “ sherin   Bisma tertawa kecil, kemudian mengacak-acak rambut sherinyang memang sudah berantakkan. Cieeeeeeee, yang udah nginep di rumah bicemah. kira-kira bisma sama keluarganya kenapa yy pakai baju pesta gitu? mau kemana coba, ada yang mau ikut sama mereka??   chiqa.  
Urang Toa


bangun+rumah 's link
Sering kali kita mendengar kata "Syukur" tapi tidak tahu persis apa makna dari kata tersebut. Tulisan ini mencoba menjelaskan makna kata "Syukur" kalau kita mencoba mencari arti kata syukur melalui google maka kita akan memperoleh arti sebagai sebagai berikut : Menurut Kamus Besar bahasa Indoensia : rasa terima kasih kpd Allah (arti)Contoh: ia mengucapkan ~ kpd Allah krn terlepas dr marabahaya; Di tempat lain akan kita peroleh arti sebagai berikut : 1. rasa terima kasih kpd Allah: ia mengucapkan -- kpd Allah krn terlepas dr marabahaya; 2. untunglah (pernyataan lega, senang, dsb): -- suamiku tidak mengalami cedera dl kecelakaan itu; ber·syu·kur v berterima kasih; mengucapkan syukur: saya - krn dia terhindar dr bahaya; men·syu·kuri v mengucapkan terima kasih kpd Allah; berterima kasih krn suatu hal; syu·kur·an 1 n ucapan syukur; 2 v mengadakan selamatan untuk bersyukur kpd Tuhan (krn terhindar dr maut, sembuh dr penyakit, dsb): ibu membagikan tumpeng untuk - putrinya yg baru sembuh Dari berbagai arti yang didefinisikan tertsebut ada sesuatu yang rasanya kurang tepat. Salah satu nama Allah dari Asma-ul Husna adalah Asy-Syakur yang berarti yang maha besyukur. Ada yang tidak logis kalau arti kata syukur diatas dipakai dalam Asy-syakur. Makna bersyukur adalah ; Saat memberi rasanya terlalu sedikit dan saat menerima terasa terlalu banyak. Saat kita berbuat kebaikan sedikit saja, maka Allah menganggapnya sudah sangat banyak, yang kemudian Allah akan menganjarnya sebanyak-banyaknya bahkan ditambahkan lebih banyak lagi : Salah satu contohnya pada Surah Al-Baqarah ayat 261 yang artinya : “Perumpamaan(nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalanAllah. Adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, padatiap-tiap bulir: seratus biji, Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapayang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” 1 benih tumbuh jadi 7 Bulir @ 100 Biji, maka 1 benih = 700 biji Jadi kalau kita bersedekah karena Allah Rp. 1 maka akan diganjar Rp. 700, banyangkan kalau kita bersedkan Rp. 1000 maka akan diganjar Rp. 700.000 Masih banyak lagi contoh-contoh lain yang terdapat dalam Al-Qur'an yang menjelaskan 'hadiah' (ganjaran) yang berlipat-lipat bagi seorang hamba meski yang dilakukan sangat kecil. Demikian pula bagi kita hamba Allah. Saat kita memperoleh sedikit saja karunia Allah maka wajiblah bagi kita untuk berterima kasih yang sebesar-besarnya pada Alla SWT. Perhatikan bagaimana Rasulullah bersyukur :  "Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim berkata, telah menceritakan kepada kami Mis'ar dari Ziyad berkata; aku mendengar Al Mughirah radliallahu 'anhu berkata; "Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bangun untuk mendirikan shalat (malam) hingga tampak bengkak pada kaki atau betis, Beliau dimintai keterangan tentangnya. Maka Beliau menjawab: "Apakah memang tidak sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?" (HR. Bukhari No. 1062 & HR. Muslim 5044) Apa Jadinya Kita Tanpa Rasa Syukur Perhatikan beberapa keluhan yang disampaikan oleh orang-orang disekitar kita, terutama mereka yang tidak bersyukur.   Si Bos mengeluh besarnya pengeluaran yang ditanggungnya dan pemasukan yang diterimanya sangat kecil. sementara karyawannya merasa pedapatannya terlalu kecil tapi sudah begitu besar hasil kerja yang diberikan bagi perusahaan. Situasi ini mendorong si Bos untuk mengurangi apa yang seharusnya diberikan dan 'memaksa' si karyawan untuk memberikan lebih banyak. Sementara si karyawan akan berusaha untuk memperoleh lebih banyak dan memeberika lebih kecil. Kalau hal ini berlangsung terus menerus kondisi perusahaan akan semakin buruk dan akhirnya semua pekerja akan kehilangan pekerjaannya. Coba bayangkan kondisi tersebut terjadi di kepemerintahan, maka tidak aneh kalau saat ini sangat banyak yang tersandung dengan KPK dan terjerat dengan berbagai permasalahan lainnya. Kondisi sosial masyarakat juga terjadi hal yang sama. saat setiap orang merasa apa yang didapatnya selalu kurang (tidak bersyukur) dan engan untuk memberikan apa yang ada padanya akan menumbuhkan masyarakat yang individualis, kepedulian sosial akan semakin rendah, "oya ni jema enti uros !!" Kalau hal yang sama terjadi dalam keluarga antara suami dan istri, maka kondisi rumah tangga itu akan sangat mudah digoyahkan oleh orang lain yang pada gilirannya berujung pada perceraian dengan berbagai alasan, mulai dari campur tangan pihak ketiga, selingkuh dan lain sebagainya. inilah barang kali yang dimaksud Allah dalam Al-Qur'an Surat Ibrahim ayat 7  yang artinya: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab- Ku sangat pedih." Mari kita lihat saat kondisi diatas dibalik : Si Bos merasa bahwa apa yang dilakukan oleh karyawannya sudah lebih dari cukup, maka si Bos akan berusaha memberikan sebesar mungkin pada karyawannya. Karyawan yang merasa dihargai oleh si Bos akan memberikan yang terbaik yang dimilikinya bagi perusahaan tersebut. Apabila seluruh karyawan merasa apa yang diperolehnya cukup besar, maka seluruh karyawan akan memberikan yang terbaik bagi perusahaannya. Kondisi ini akan berujung pada semakin sehatnya perusahaan itu, seluruh karyawan akan menjaga perusahannya sebaik mungkin. Kalau kondisi ini tercapai tentu saja perusahaan itu akan menghasilkan keuntungan yang besar. Si Bos yang bersyukur akan membagikan keuntungan yang besar ini kepada seluruh karyawannya, demikian seterusnya sehingga perusahaan itu semakin hari akan semakin baik dan besar. Kalaulah ada dua orang si A dan si B yang saling menyayangi, kemudian si A merasa apa yang diperolehnya dari si B sudah sangat banyak. Maka si A akan memberikan lebih banyak lagi kepada si B dengan perasaan yang tulus, dan kemudian si B juga akan membalasnya lebih banyak lagi, bahkan berusaha untuk tidak menyakiti maka kedua orang yang saling menyangi ini akan semakin saling menyangi hingga kematian memisahkan antara keduanya. Kalaupun salah satu diantaranya menyakiti yang lain, maka pihak yang disakiti segera membalasnya dengan kebaikan bukan balas menyakiti. Mari kita lihat apa yang terjadi antara Pemerintah dengan Rakyatnya, saat rakyat merasa apa yang diberikan oleh pemerintah sudah terlalu banyak, maka rakyat akan membalasnya dengan yang lebih baik. demikian pula pemerintahnya, kalau pemerintah sudah memperoleh sesuatu yang sangat baik dari rakyatnya maka si pemerintahpun akan memberikan yang lebih baik lagi. dst.... Kalau kita mencoba menggalinya lebih dalam lagi, betapa sayangnya Allah kepada kita, diberi-Nya kita orang tua yang sangat menyangi kita, diberi-Nya kesempatan pada kita untuk melihat alam yang idah ini, diberi pula kesepatan untuk kita memiliki sahabat, saudara dan lingkungan yang begitu nyaman untuk kita, orang-orang yang menyangi, orang-orang yang kita sayangi, Ya... Allah... betapa indahnya kesempatan yang Engkau berikan kepada kami, betapa banyak orang-orang lain yang tidak mampu melihat karunia Allah bagi dirinya... Ya..Allah.... meskipun kami berkali-kali berpaling dari panggilan azan, pangilan MU namun tidak sedikitpun engkau kurangi karunia MU untuk kami Ya... Allah.... engkau izinkan kami hari ini untuk melangkah ketempat-tempat yang ingin kami datangi, meskipun kami lupa untuk melangkah ke tempat2 yang Engkau sukai Ya... Allah... sesunguhnya Shalat kami, zikir kami, ibadah-ibadah sunah kami tidak cukup untuk mengantikan semua karunia yang Engkau Berikan namun kenikmatan yang Engkau berikan tiada putus jua... Sunguh Engkaulah Maha Pemurah, Maha Penyang... Maha Pengasih.. Maha Bersyukur kami tidak akan sanggup membalasnya Engkaulah maha pengampun maka ampunilah kami, Engkaulah Maha Mengetahui, maka berilah kami pengetahuan untuk kami agar kami lebih bersyukur untuk segala nikmat yang Engkau berikan....
Otsu Kanzasky


bangun+rumah 's link
Cinta itu mengalir, seperti air. Akan membuka jalan dan menemukan pasangannya secara ajaib. Manisnya saat melalui waktu bersama, dan pahitnya ketika menemukan perbedaan yang signifikan. Tapi manis dan pahit itu tergantung bagaimana kita menikmatinya, seperti cokelat... *** Sudah satu jam sejak pulangnya ke empat teman genkku dari rumahku ini dan mataku tak kunjung terpejam. Bahkan aku sama sekali tidak merasakan kantuk, padahal obat dari Dokter sudah ku minum, tapi sama sekali tidak membuatku ngantuk. Apa aku salah minum obat? Atau salah dosis? Atau mungkin memang tidak menyebabkan kantuk? Ku putar kepalaku melihat jam beker yang bertenger anteng di atas meja lampu di sisi kanan ranjang. Masih jam lima sore. Rasanya waktu berjalan sangat lambat, terutama disaat bosan seperti ini, dan akan semakin lambat kalau kita sudah tak sabar untuk menemui seseorang yang menyita perhatian. Aku meringis, merasakan nyeri saat ku gerakkan tangan kananku untuk ku angkat sedikit supaya tidak terlalu kaku. Rasa nyerinya sudah banyak berkurang daripada semalam, untunglah obatnya bekerja sangat cepat, kalau tidak akan ku tuntut Dokternya karena memberi resep yang tidak manjur. Helaan nafas meluncur dari mulutku, apa aku berangkat sekarang ya? Hmm, ide bagus, daripada aku mati bosan di kamar. Dengan perlahan dan hati-hati, ku pakai kedua tanganku untuk menopang berat tubuhku, bangkit duduk perlahan dan mendesis lirih menahan sakit di dadaku. Setidaknya aku lega karena tulang dadaku tidak remuk atau bergeser, kata Dokter tadi pagi, dadaku hanya lebam. Sangat melegakan. Ku sibak selimut yang menutupi separuh tubuhku, menurunkan kedua kakiku pelan dan berdiri, berjalan menuju lemari pakaian. Sepertinya aku akan memakai kaos dan blue jeansku saja, seperti sebelumnya. Bukannya aku tidak mau memberikan kesan yang baik soal berpakaian, tapi ini ‘kan cuma acara mengembalikan pakaian jadi tidak perlu baju yang rapi, lagipula aku lebih suka jadi diri sendiri. Kaos polos berwarna putih dengan tulisan angka 69 di bagian punggung menjadi pilihanku, kaos ini jarang ku pakai. Yah meski saat ini tubuhku di hiasi plester dan perban di bagian lengan sebelah kanan, aku tetap ganteng kok. Ah ya, satu hal yang harus kalian tahu. Meski aku badung dan suka berkelahi, kulitku bersih dan tidak hitam. Diantara keempat temanku, aku yang PALING putih, ingat itu. Dan aku juga yang paling tampan, tentu saja. Ku semprotkan AXE ke tubuhku, menata rambutku dengan jari lalu menyambar ponsel butut dan dompet yang ada di atas nakas. Dengan jalan yang cukup normal dan tidak tertatih kali ini, aku mendekati meja komputer dimana terdapat sebuah paper bag berwarna cokelat yang isinya baju karyawan yang kemarin ku kenakan. Aku memang berkata pada Bi Imah siang tadi untuk menyiapkan baju ini karena akan ku kembalikan. Dan sekarang aku siap, masih terlalu sore memang, tapi biarlah, lebih awal lebih baik. Lagian aku tidak kesana sendiri, mana mungkin ‘kan aku keluar sendirian dengan keadaan seperti ini? Setidaknya jasa Pak Jono sangat ku butuhkan disaat seperti ini sebagai seorang driver. Damn. Menuruni tangga dalam kondisi seperti ini memang sangat sesuatu, aku merasa berubah menjadi putri keraton yang keluar di acara pesta keraton. Tapi Bi Imah langsung membantu saat melihatku, langsung saja ku minta Pak Jono untuk mengantarku. Untungnya meski aku tidak tahu nama cafe-nya, aku menghafal jalan kemarin dan aku ingat letaknya. Jadi tanpa banyak cingcong, Pak Jono melajukan mobil ke tempat yang ku maksud. Dan asal kalian tahu, ini adalah ketiga kalinya aku naik mobil keluarga, karena untuk orang sepertiku mobil sama sekali tidak cocok, jadi tidak ada pilihan lain ‘kan? Duduk diam sendiri di dalam mobil adalah hal yang sangat membosankan, sudah beberapa kali aku melihat ke jam tangan yang ku pakai dan kembali menatap lurus melihat jalan. Beberapa menit kemudian mobil berhenti tepat di depan sebuah cafe yang kemarin jadi tempat 'singgah'ku. Arc Dans Cafe. Namanya Perancis banget, pasti pemiliknya memiliki selera yang tinggi. “Bapak langsung pulang aja, nggak usah nungguin” kataku mengambil paper bag yang ada di sebelahku. “Baik Den” Pak Jono mengangguk kecil. Aku langsung turun dari mobil dan menutup pintu kembali, mobil avanza keluargaku pun kembali berjalan. Aku menghela nafas kecil, berbalik dan menoleh kearah pintu masuk cafe. Masih relatif sepi, mungkin baru buka. Masuk dulu aja deh. Tapi baru saja aku mau beranjak masuk, ada sebuah Taxi kuning yang berhenti didepan cafe pas di dekatku. Aku bergerak mundur agar tidak menghalangi penumpang Taxi itu untuk turun. Eh? Anak SMP yang kemarin. Kami bertatapan untuk beberapa detik, kemudian dia tersenyum tipis, kulihat ia membawa kotak kardus berukuran sedang dan dengan kakinya mendorong pintu Taxi sampai tertutup dan Taxi kuning itu melesat pergi. “Hai” sapaku garing. Tanpa canggung anak SMP ini berdiri di depanku dan menatap mataku langsung. Bisa ku tebak, dia pasti anak yang blak-blak-an. “Hai. Sudah sehat?” tanyanya, menatapku menelisik dari atas sampai ke bawah. Aku mengangguk. “Berkat pertolonganmu, aku jadi berhutang budi” kataku. “Nggak kok, aku hanya melakukan apa yang bisa ku lakukan” ia mengangkat bahu kecil. Aku manggut-manggut. “Ada barangmu yang ketinggalan?” “Eh...nggak, aku cuma mau mengembalikan ini, thank‘s” ku sodorkan paper bag yang kubawa. “Ah...iya, sama-sama. Tapi bisa kau bawa dulu? Aku mau mengantar kotak ini ke dalam” “Ok” “Sebentar ya” Dia masuk ke dalam cafe membawa barang-barangnya, hanya beberapa menit dan dia kembali, mengambil paper bag yang kubawa. “Kau datang kesini cuma untuk mengembalikan baju?” tanyanya. “Sekalian aku mau bayar cokelat yang kemarin” “Ah, itu gratis” “Eh? Nggak di marahi boss mu?” Dia menaikkan satu alisnya menatapku lalu tertawa kecil. Aku jadi bingung. “Nggak, tenang aja. Mau masuk?” “Kalau kau membuatkan cokelat panas lagi, aku akan masuk” “Dengan senang hati, ayo” Ok, aku ingin memastikan kalau ke-tidak-sukaan-ku pada cokelat sudah hilang. Semoga saja. Aku duduk mengambil tempat di depan meja bar, dia melepas ranselnya dan di letakkannya ke meja lain didalam counter. “Kau tidak ganti seragam seperti yang lain?” tanyaku heran. Dia yang sedang mengambil dua cangkir porselen menoleh padaku, dan meletakkan kedua cangkir itu di meja dalam bar. “Tidak berlaku untukku” ucapnya, tangannya sibuk melakukan sesuatu didalam sana. “Ah iya, kita belum kenalan. Aku Reno, kau?” ku sodorkan tanganku padanya, dia tersenyum tipis menjabat tanganku. “Aska. Kita baru kenalan ya” ia menarik kembali tangannya. “Aku cukup tidak tahu diri kemarin” “Nih, cokelat panasmu” Aska meletakkan cangkir porselen didepanku. “Thank‘s” aku menggumam. Sejenak ku pandangi cairan cokelat ini, agak tidak yakin. Ku lihat Aska berjalan memutar―keluar dari counter bar dan duduk di sebelahku membawa secangkir cokelat panas. “Apa tidak ada yang marah melihatmu santai-santai?” tanyaku menyelidik. Aska tersenyum, meletakkan cangkirnya di meja. “Aku bukan karyawan Ren” ucapnya, menoleh menatapku dengan senyuman tertahan. “Lha? Trus?” “Cafe ini usaha keluarga ku, aku bantu-bantu aja” Aku mangap mengangguk-angguk, berpaling menatap cokelat di cangkirku. Rasanya ingin ku lipat wajahku dan pergi. Malu njir! “Santai aja” pundakku di tepuk pelan, aku mengangguk sejadinya. “Jadi...pulang sekolah kau langsung bantu-bantu disini?” aku mengabaikan kemaluan(?)ku, kembali menatapnya. “Aku nggak sekolah Ren” “Trus apa‘an?” “Aku kuliah jurusan kedokteran, baru semester tiga” Alamak! Aku mempermalukan diriku untuk yang ke dua kalinya! Damn! Kurutuki diriku sambil membenturkan pelan keningku ke meja bar. Ku dengar Aska tertawa renyah, entah mentertawakan kebodohanku atau kebego‘anku. “Kau sekolah Ren?” Aska bertanya, mau tak mau aku mengangkat kepalaku mengangguk. “Jadi aku harus memanggilmu mas? Kakak? Abang? Akang? Atau apa tuh bahasa Korea yang lagi booming sekarang?” Aska tertawa lagi, kali ini lebih keras bahkan sampai memukul-mukul meja bar. Aku jadi ikut nyengir, ketawanya lucu sih. “Ahahahaha...Aska aja cukuplah Ren, hahaha!” ia menggeleng-nggelengkan kepalanya. “Lagian kamu lebih pantes di panggil mas daripada aku, aku unyu ‘kan?” Aska tersenyum jahil, DAN yang terpenting dia mulai memakai kamu bukan kau lagi. Lampu hijau kah? “Iyalah, makannya banyak-banyak minum Boneto biar makin tinggi” ledekku menepuk-nepuk kepalanya pelan. “Sialan” Aska nyengir menepis tanganku, aku terkekeh. “Oh iya. Kemaren itu gimana ceritanya kamu bisa bonyok gitu?” Aska menatapku penasaran, sesekali meminum cokelatnya. “Aku di keroyok lima orang” aku ikut menyesap cokelatku yang mulai hangat. Enak, dan aku yakin kalau aku sudah tidak membenci cokelat. “Trus?” “Ya trus ada orang baik nolong. Aku di obati, di pinjemin baju, sampe dibuatin cokelat segala” ku minum cokelatku lagi. Aska tersenyum miring, manggut-manggut kecil lalu menegak cokelatnya kembali. “Kamu udah sering kayak gitu Ren?” tanyanya lagi, ku lihat cangkirnya sudah kosong. Etdah, cepet amat dia minum. “Sejak SD malah” sahutku cuek. “Sering bonyok?” “Nggaklah, aku ini jagoan, kemaren aja yang lagi apes” “Biar aku tebak” aku mengalihkan pandanganku dari cangkir ke Aska, ia menggigit bibirnya. Ah itu, bibir yang aku suka. “Genkmu akan membuat serangan balasan ‘kan?” telunjuknya menunjuk ke wajahku. “Pastilah, harga diri” “Nggak capek berantem terus?” “Nggak, kerasa kayak olahraga, fun” Aska mengernyit, melipat kedua tangannya ke meja dan posisi duduknya agak miring berhadapan denganku. Dan aku mulai agak tidak nyaman karena suasana cafe yang mulai ramai,ku lihat diluar juga sudah gelap. “Nggak pengen berhenti?” “Kalau untuk sekarang sih nggak” ku habiskan cokelatku sebelum dingin, dan masih kurasakan Aska menatapku lekat. “Orang rumah nggak ada yang ngebilangin kamu?” Aku menggeleng sambil menjilati bibirku yang penuh sisa cokelat. “Nggak ada orang dirumah” “Sibuk ya?” “Orangtua ku sudah pisah ranjang, punya pasangan sendiri-sendiri, ketiga kakakku sibuk, dan aku sendirian dirumah” Aska terkesiap, ia mengangguk dengan kaku. “Jadi haus perhatian nih?” dia nyengir menggodaku. Kalau saja cafe ini sepi pasti sudah aku caplok(?) tuh bibir. “Aku haus belaian” celetukku asal. Aska tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Kalau kamu?” Dia menoleh, mengurangi tawanya lalu berdehem kecil. “Aku kenapa?” “Ceritakan tentangmu” “Oh” dia berdehem lagi dan menggeser tubuhnya sepenuhnya menghadapku. “Bertanyalah, aku jawab” “Hmm...jadi cafe ini punya orangtua mu?” Sesi tanya-jawabpun dimulai. Aska mengangguk samar. “Milik Mama ku, join dengan kakak pertamaku” “Berapa bersaudara?” “Tiga. Yang pertama cowok dan kedua cewek” “Sudah berkeluarga?” “Kakak pertamaku sudah, kakak cewekku kuliah di luar kota. Tapi kak Andre sering kesini, ada beberapa usaha Mama juga, dan gantian menjaga Mama di Rumah Sakit” “Mama sakit?” aku sok akrab. “Yah, udah lama, serangan jantung, tapi udah hampir tiga bulan Mama koma” Aska tersenyum getir, ada luka di sorot matanya. “Serangan jantung bisa koma?” tanyaku pelan dan lambat. “Sebenernya nggak ada hubungannya sama serangan jantungnya, tapi Mama lebih milih tidur untuk waktu lama” sorot matanya menerawang, apa yang sedang kamu pikirkan Ka? “Maksud mu?” keningku mengernyit. Aska tersenyum tipis menatapku, senyum yang berbeda dari senyumnya yang biasanya. “Mamaku melakukan REM, rapid eye movement dalam komanya. Gerakan cepat mata waktu terpejam, seperti orang mimpi tapi dia tidak mau bangun” “Jadi....Mama tidak mau bangun dari mimpinya?” Aska mengangguk. “Kenapa?” “Karena Mama lelah, aku tahu bebannya sangat besar. Kakak cewekku, Maya, dia junkies, trus masalah Papa yang di penjara. Kalau aku jadi Mama, aku juga akan melakukan hal yang sama” lagi-lagi senyum masam terukir di bibirnya. Aku mengangguk paham, ternyata kondisi keluarganya tak jauh berbeda denganku. Aku ingin tahu lebih banyak, tapi... “Papaku melakukan penipuan” Aska melanjutkan, aku menunggu. “Jumlahnya sedikit sih, tapi tetep aja penipuan” “...trus, usaha keluargamu gimana?” “Aku bagi tugas dengan kak Andre, aku pegang cafe dan studio musik, kak Andre pegang kompleks ruko, distro dan restaurant” “Jadi selain calon dokter, ceritanya juga jadi bisnisman nih?” godaku, Aska tertawa kecil. “Jadi dokter juga keinginan Mama. Lalu kamu? Setelah lulus mau nerusin kemana?” Aku belum memikirkan sampai kesana. “Kuliah mungkin” ku angkat bahuku cuek. “Nggak nikah aja?” mulai deh, Aska yang tadi udah comeback kayaknya. “Ogah, masih muda gini juga” “Tapi kamu pantes loh gendong bayi” Aku melotot pura-pura kesal, eh nih anak malah ketawa, dasar. “Nikah sama yang ga bisa punya anak aja deh” kataku memancing. “Ha? Siapa?” Aska menatapku bingung. “Nih yang di sebelahku, nggak bisa punya anak ‘kan?” “Jiah, dasar” kepalaku jadi sasarannya. Tapi Aska tertawa. “Sama kucingku aja gimana?” “Etdah, tega amat ma kucing?” “Emang kamu kayak gini udah berapa lama?” dia masih tersenyum geli. “Awal SMA, kamu?” “Sejak SMP. Udah pernah menjalin hubungan sesama?” “Pernah, dua kali, sama cewek sering, tapi sama aja, nggak ada yang beres. Kamu?” “Sama, tapi nggak bertahan lama, rata-rata cuma memanfaatkan apa yang aku punya dan wajahku” Aku mendengus, menarik hidung mancungnya dengan jepitan antara jari telunjuk dan jempolku. “Ini nih yang pada di demenin~ wajah boyband Korea~” kataku gemas. Aska menepis tanganku manyun. “Waktu itu Kpop belum booming Ren” dia mendengus. Aku nyengir. “Oh iya ya, boomingnya apa dong?” “Hmm...” Aska tampak tengah mengingat-ngingat. “Lagi booming Peterpan kayaknya” lanjutnya polos. Aku terbahak, serius banget sih nih anak, wkwkwk “Malah ketawa nih orang” Aska menendang kakiku tapi aku sudah menghindar lebih dulu. “Kita banyak kesamaan ya, kayaknya jodoh nih” ujarku usil, menaik-turunkan alis menggodanya. “Yah, sebenarnya kamu itu tipeku” “Pas kalau gitu, jadian yuk” “Dasar perez!” aku di jitak. Hey, aku bersungguh-sungguh loh. Aska tersenyum miring, melihat jam tangannya dan seketika raut wajahnya berubah. “Ah, aku harus ke Rumah Sakit Ren” ujarnya dan turun dari kursi. “Waktunya jaga Mama?” “Iya, bentar lagi pasti kak Andre telpon deh” Aska memberi kode agar cangkir ku ku berikan padanya. “Boleh aku ikut?” ku berikan cangkirnya, dia menatapku. “Kamu bawa motor?” “Ngga, naik Taxi aja” “Ok, aku taruh cangkir ini dulu” “Sip” aku mengangguk kecil. “Ketemu calon mertua nih” Aska yang berjalan menjauhiku dapat mendengarnya kini menoleh padaku. Mimik mukanya lucu, hahaha, rasanya menyenangkan menggodanya seperti itu. Sebenarnya aku tidak menduga kalau Aska orangnya frontal sepertiku, enak buat di godain. Well, yang terpenting aku sudah dapat lampu hijau. Kalian bingung kenapa tadi kami bisa saling tahu kalau kita Bi? Cukup mudah, kalian akan tahu dari tatapan mata seseorang, tatapan mata sangat menentukan untuk mendeteksi orang itu normal atau sakit seperti kita. Ya semacam radar, haha Bersambung...

Powered by WordPress SEO Tools

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>