Desain Rumah Minimalis Artistic Art Gallery Brasil

Anda ingin Memiliki rumah minimalis dengan rumah minimalis yang memliki suasana lingkungan yang indah. hal itu tidak dinilai secara berlebihan. karena memang intinya seorang pemilik rumah menginginkan rumah yang menyajikan lingkungan dan suasanya yang indah untuk menciptakan suasana nyaman dan asri dalam rumah tersebut. maka anda dapat melihat desain rumah minimalis berikut ini yang mugkin dapat membantu anda mewujudkan rumah minimalis impian anda dan kelaurga anda nantinya.

Desain rumah minimalis yang dimaksud, yaitu Desain Rumah Minimalis Artistic – Art Gallery Brasil. Casa Je, yang dirancang oleh arsitek Humberto Hermeto, dan terletak di dataran 3.160 m2 di Nova Lima, negara Brasil. desain rumah minimalis  Ini dibangun seperti struktur multi-fungsi, dimana dalam rumah minimalis itu nantinya akan terdapat ruang yang menghibur bagi pemiliki rumah minimalis tersebut, dan runag tersebut terletak di permukaan tanah, kemudian terdapat juga ruang istirahat yang nyaman dengan kamar tidur di tingkat berikutnya dan sebuah studio seni dan galeri di tingkat bawah. Desain Rumah Minimalis ini untuk dibangun  pada daerah/tanah yang berukuran 1240 m2, sehingga rumah minimalis tersebut nantinya akan ditempatkan di atas bukit menghadap ke sebuah lembah yang luar biasa, sehingga dibutuhkan untuk memanfaatkan semua fitur dari medan. dan akan menghasilkan suasana asri dan sejuk oleh lingkungan tersebut.

Dalam Desain Rumah Minimalis ini juga terdapat Pintu masuk utama yang duduk di atas satu set tangga yang mengarah ke teras luar biasa di bagian belakang rumah minimalis ini. lalu Dek ini mencakup galeri seni dan meluas ke halaman belakang dimana sang arsitek memang sengaja membangun sebuah kolam renang dan area taman. lalu untuk bagian Exterior warna dan tekstur terus di bagian dalam, di mana mereka melebur menjadi satu kesatuan yang meghasilkan sebuah desain interior yang paling cocok dan warna yang kuat, serta membuat kesan individu artistik. dan terakhir terdapat Lantai Besar untuk jendela langit-langit menawarkan pemandangan pegunungan di dekatnya dan membangun keinginan besar bernapas dalam bentuk alami dan udara segar. bahan yang terdiri adalah Beton dan kayu digunakan untuk Desain Rumah Minimalis ini melunak dengan aksen warna merah, lalu semuanya mencakup seluruh bagian pada taman sebagai pengingat kepribadian kuat memancar.

Incoming search terms:

galeri rumah minimalis (23);rumah asri desain (19);model rumah setengah batu dan kayu (11);wwwtangga rumah (11);desain rumah mini malis (11);desain teras depan rumah minimalis (11);download model rumah bertingkat bagian dalamnya (10);desain rumah gunung minimalis sederhana (6);desain rumah di atas bukit (3);memanfaatkan sisa tanah di belakang rumah design tingkat 2 (3);kolam artistik depan rumah (3);gambar rumah setengah kayu (3);desaian rumah minimalis sederhana untuk tanah miring (3);teras rmh kyu (3);desain gereja minimalis (3);pelan rumah minimalis kembar (3);pelan rumah modern (3);download gambar rumah diatas kolam (2);desain rumah diatas bukit (2);pengembangan type 45 tanah miring (2);design rumah bertingkat setengah (2);model terbaru rumah lantai dua pakai tiang depan (2);gambar teras beton cor rumah type 36 (2);model rumah tingkat bagian belakang (2);rumah minimalis medan (2);model rumah tanah miring ke belakang (2);desain rumah setengah tingkat (2);galeri pagar rumah (2);galeri rumah kayu (2);desain pagar setengah tembok rumah (2);gambar rumah beton asri dan minimalis (2);gambar rumah minimalis kayu setengah beton (2);contoh gambar kost2an leter L minimalis (2);contoh pelan rumah satu setengah tingkat modern (2);www rumah minimalis com (2);gambar model teras rumah tipe minimalis leter l tinkat (2);IMEJ RENOVASI LUAR DEPAN (2);bangunan diatas tanah bentuk L (2);model rumah kayu tingkat di daerh pegunungan (2);modifikasi rumah minimalis dengan halaman dataran miring (1);GAMBAR_RUMAH_SEDERHANA_TAPI_INDAH (1);gambar teras rumah model kuba (1);model rumah tingkat minimalis di daerah pegunungan (1);model teras lantai atas pisang sebelah (1);gambar teras rumah sederhana leter l (1);Model denah rumah setengah jadi (1);gambar teras rumah tingkat diatas basement (1);rumah model tanah L (1);model rumah di perbukitan (1);model rumah bagian luar bertingkat type 100 (1);model rumah leter l (1);model model desain depan rumah type 100 tidak bertingkat (1);model dak rumah leter u (1);Model rumah lokasi agak miring (1);membuat tingkat di sisa tanah bagian belakang rumah (1);model rumah minimalis kaca (1);model rumah minimalis type 27 diatas permukaan tanah yg tinggi (1);membuat rumah tingkat bentuk l (1);membangun rumah di lahan miring (1);koleksi foto-foto bangunan rumah di atas tanah miring (1);model rumah perbukitqn (1);model rumah minimalis untuk daearh pegunungan (1);MODEL TIANG RUMAH DI TANAH MIRING (1);you tube teras cor rumah minimalis (1);tiang teras masa kini (1);tiang teras dak photo (1);teras minimalis tangga luar (1);teras cor minimalis 2013 (1);teras cor beton rumah minimalis (1);Taufikurohman Taufik (1);tap teras depan minimalis (1);struktur gmbar rmh elit (1);tipe rumah setengah elit (1);video youtube contoh desain rumah toko di sudut (1);you tube gambar bangunan minimalis dan fropil pagar (1);wwwhttp//galery foto rumah minimalis com (1);www tube rumah com (1);www galerirumah com (1);www galeri rumah com (1);www galeri pagar com (1);www galeri bentuk teras rumah (1);www contoh teras samping tampak depan yg asri (1);seni profil tiang teras rumah (1);rumahtingkatsetengah (1);rumahtingkat minimalis bagian depan (1);rumah bentuk l (1);renovasi teras dan biaya (1);www bentuk seni tiang dpn rumah bom (1);renopasi rumah leter L ke minimalis (1);rehab bagian belakang tyype 45 (1);poto rumah leter l (1);poto bentuk bangunan rumah di daerah tana miring (1);pelan rumah kembar sederhana (1);rumah minimalis bertingkat setengah (1);rumah minimalis bertingkat tanah berbentuk L (1);rumah tingkat bawahnya toko (1);rumah stengah tingkat dibelakang (1);rumah modern dengan kolam indah (1);rumah model minimalis modern mewah bertingkat di hook (1);rumah minimalis tingkat bagian belakang (1);rumah minimalis di atas bukit (1);rumah minimalis dengan bidang tanah miring (1);rumah minimalis dengan basement dan tangga di teras (1);pelan rumah 2 tingkat luar negara (1);gambar teras rumah beton pakai tiang kembar (1);arti kedutan dipundak (1);desain rumah minimalis 2 lantai(dak setengah) (1);desain rumah lahan miring (1);desain rumah debgn halaman dan teras yg menarik (1);desain rumah bukit (1);desain rumah artistik (1);denah rumah minimalis type 36 pintu masuk dari samping (1);DENAH RUMAH MINIMALIS TANAH MIRING KEBAWAH (1);denah rumah minimalis kembar (1);desain rumah minimalis di perbukitqn (1);desain rumah minimalis pintu utama samping (1);desain rumah tipe 36 hook memanfaatkan sisa tanah 55m (1);desain rumah tingkat setengah (1);desain rumah tingkat setenga (1);desain rumah tingkat kebawah (1);desain rumah tingkat ke bawah (1);desain rumah tamak samping depan dan belakang (1);desain rumah satu setengah tingkat (1);desain rumah pertokoan sederhana minimalis nuasa gunung (1);denah rumah minimalis bidang tanah l (1);denah rumah beton dan tampak depan belakang samping type 36 (1);contoh gambar rumah pada tanah miring perbukitan (1);Contoh bentuk rumah setengah beton (1);contoh bangunan tingkat kebawah (1);cara membuat mall profilan tiang (1);budget bangun rumah setengah beton (1);bentuk rumah tingkat minimalis menghadap samping (1);bentuk rumah model asri dan nyawan (1);bentuk rumah lokasi tanah miring (1);contoh gambar teras depan (1);contoh model rumah di atas bukit (1);contoh tangga minimalis dari luar keteras rumah (1);contoh satu setengah pintu depan (1);contoh rumah minimalis artistik type 36 (1);contoh rumah kayu di atas kolam (1);contoh rumah dua lantai tamak depan (1);contoh rumah di perbukitan (1);contoh rumah berlahan miring minimalis (1);contoh model rumah tingkat yg asri (1);desain rumash asri indah masa kini (1);desain teras cor (1);desain teras rumah cor (1);gambar jendelah rumah minimalis (1);GAMBAR DESAIN RUMAH TINGKAT ADA KOLAM RENANG SEDERHANADIATAS (1);Gambar desain rumah minimalis berbentuk L tampak samping (1);Gambar bentuk tiang teras rumah masa kini (1);gambar bentuk rumah asri (1);gallery bangun rumah (1);GALERY TERAS RUMAH MINIMALIS (1);galery rmh minimalis terindah (1);gambar kost ditanah miring model teras sering (1);gambar profilan rumah bagian atas (1);gambar rumah tingkat kebawah (1);gambar rumah tingkat dibagian belakang (1);gambar rumah minimalis modern didaerah perbukitan (1);gambar rumah kayu di permukaan yang miring (1);gambar rumah bertingkat setengah di belakang (1);gambar rmh elit setengah jadi di bangun (1);gambar rak bertinkat (1);gambar provil teras rumah minimalis bagian atas (1);galery profil tiang teras rumah minimalis (1);galery desain teras rumah (1);design rumah tingkat setengah (1);design rumah tingkat diatas bukit (1);design rumah tanah miring kebelakang (1);design rumah setengah tingkat (1);design rumah satu setengah tingkat (1);design rumah di pegunungan (1);design pagar beton minimali (1);desain toko tanah berbuntuk l (1);download gambar rumah minimalis di daerah bukit (1);foto teras rmh 2013 pavorit type22 (1);galerry rumah toko (1);galeri tempat tinggal/minimalis modern 2 lantai new (1);galeri rumah kayu sedrhana pic (1);galeri halaman teras depan rumah (1);galeri foto rumah setengah tembok (1);galeri foto rumah minimalis (1);galeri desain rumah (1);foto type tangga depan rumah minimalis di dataran tinggi (1);gambar rumah yang ditingkat bagian belakangnya (1);

Twitter

NurulDiyanah_ Fri, 24 May 2013 01:44:36 +0000
Ibu kalau dekat rumah, pagi buta kena bangun sarapan. Kalau dengan abah, dua dua bangun tengahari. Takya masak, keluar beli. Abah's th best!
AdtyaDrmwn Fri, 24 May 2013 01:44:23 +0000
Gue paling males kalo bangun pagi2. Udah gak ngapa2in, di rumah sepi, doi juga blm bangun. Bikin bete!
me_eghaaa Fri, 24 May 2013 01:43:24 +0000
RT @Djimbas_Family: #Imagine : Pas kamu bangun tidur, tiba-tiba pintu rumah kamu diketok n dpn pntu ada Mikha yang... http://t.co/6iPfhBQLFE
EllaRsmn Fri, 24 May 2013 01:43:22 +0000
,bangun pagi ,tengok dah takde sape kat rumah .LOLS --"
rosaviantiami Fri, 24 May 2013 01:43:15 +0000
Bangun tidur cuci muka, suruh arya minum obat, terus beliin bubur deh huehehe udah kaya ibu rumah tangga aja gua (ʃ-ƪ)
Ibetoong Fri, 24 May 2013 01:43:13 +0000
RT @Djimbas_Family: #Imagine : Pas kamu bangun tidur, tiba-tiba pintu rumah kamu diketok n dpn pntu ada Mikha yang nungguin kamu n ngajak kamu sarapan brg *
NurafiqahJasnie Fri, 24 May 2013 01:42:59 +0000
Bagusnya perangai aku. Janji jam 9 jalan. Jam 9.10 pun aku belum bangun. Org menunggu depan rumah sdh -.-'
dyla_rahman Fri, 24 May 2013 01:42:23 +0000
Aku ingat lepas bangun, nak terus buat koje rumah. Last last,ayah yg buat semua. Yayy ahahaha
SyazanaIrne Fri, 24 May 2013 01:41:51 +0000
RT @NurAnisak: Tido rumah bb. Bangun jee tengok2 kitaorang tgl dua je. Mana yg lain? Em cedihh.
NurAnisak Fri, 24 May 2013 01:41:42 +0000
Tido rumah bb. Bangun jee tengok2 kitaorang tgl dua je. Mana yg lain? Em cedihh.
a_fahmi16 Fri, 24 May 2013 01:41:31 +0000
@nazim_romzi kat rumah. Baru bangun tidur
SyaNaz_ Fri, 24 May 2013 01:41:09 +0000
@syaralatiff i kat rumah ni. you baru bangun ke ni?
am7en Fri, 24 May 2013 01:40:42 +0000
@raraa_zahirah xpela . dh bangun better kemas rumah *surirumah
jasacleaning Fri, 24 May 2013 01:40:37 +0000
jasa kebersihan, general cleaning rumah selesai di bangun, toilet berkerak dll mulai Rp 250.000,- @jogja_bisnis @bisnisdijogja @Jogjaiklan
NonaEmil Fri, 24 May 2013 01:40:12 +0000
RT @Djimbas_Family: #Imagine : Pas kamu bangun tidur, tiba-tiba pintu rumah kamu diketok n dpn pntu ada Mikha yang nungguin kamu n ngajak kamu sarapan brg *

Videos

Facebook

Han Eun Woo


bangun+rumah 's link
Ku Sangka Orang Gila   ......26 May 2011.....     Pagi tadi lebih kurang pukul 10.30 aku singgah sarapan di bazar batu buruk sementara menunggu interview di steten minyak kerana sudah tiada kerja di Terengganu yang menggunakan Ijazah aku ini. Sewaktu makan, mata ni terpandang seorang pakcik yang "lusuh " karekternya.. Bau busuk, baju koyak, pakai kain pelikat singkat, tak beralas kaki, tapi berkopiah.   Duduk bersandar di tiang bazar dekat dengan kerusi aku. Terdetik dalam hati, apa pakcik ni kelaparan. Orang gila pun lapar, masih tetap manusia. Aku pesan satu lagi nasi minyak. Pesanan aku sampai ke meja. Terus aku beri pada pakcik tadi. Tuan kedai terkejut dan mengangkat tangan melambai seolah2 memanggilku. Aku pun balas tunggu skejap.   Pakcik tadi tenung aku sambil berkata "pakcik dah makan nak.. terima kasih nak.." Dalam hati terdetik sungguh indah bahasa pakcik yang ku sangka gila tadi. Aku bangun dengan kecewa kerana pesanan aku tidak dijamah oleh pakcik. Lalu aku pergi kepada tuan kedai yang memanggil ku tadi.   Ada apa pakcik? Pakcik kedai balas: Jangan bagi dan suruh dia makan kat sini, nanti customer pakcik lari. Aku tersentap. Dan spontan aku membalas. "Jika orang ini ayah kandung pakcik, pakcik halau tak dia?" Pakcik tu diam. Takpe pakcik, saya akan bayar ansuran kalo pakcik rugi hari ni. Saya nak tanya, betul ke pakcik td tu sudah makan? Pakcik kedai jawab, tidak. Dari mula pakcik buka kedai pukul 6.30 tadi pakcik kopiah tu duduk kat tiang tu.   Dalam hati kecil ni cakap, tak pernah aku jumpa pakcik gila semulia ini. Tidak mengemis, tidak pula meminta. Aku pegi semula pada pakcik kopiah tu. "Pakcik, saya sunyi makan sorang2, pakcik teman saya makan jom." Pakcik tu akur dengan pelawaan aku kerana kesungguhan aku. Ramai yang beralih meja kerana bau pakcik tu, namun kerana ingin menjaga hati orang tua yang aku tak kenal, aku tahan bau itu.   Lega tengok pakcik tu makan dengan sangat sopan. Aku lontarkan beberapa soalan pada pakcik tu. Pakcik dari mana, tinggal dimana? Pakcik tu jawab. Pakcik merantau cari redha Allah. Aku terkejut. Dalam hati aku dah syak bukan2. Kot2 wali ke ni? Mana keluarga pakcik?Pakcik dibuang oleh keluarga pakcik kerana sekeping geran tanah. Kenapa pakcik? Apa masalahnya? Pakcik sedekahkan geran itu untuk seseorang untuk dibangunkan pondok2 mengaji. Keluarga pakcik terus buang pakcik. Allah...   Pakcik tinggal dimana? Pakcik tu diam tak menjawab. Masa terlalu singkat untuk aku menyambung urusan kerja. Aku panggil pakcik kedai untuk kira. Semuanya berharga RM 11.60. Aku celup dompet aku, dan aku lupa yang aku hanya bawa RM 5.00. Aduh.... Pakcik tu nampak raut wajah muka aku seolah2 melihat masalah dalam dompetku. Pakcik tu mencelah. Nak, ambil duit ni, pakcik bayarkan.   Nak tau ape? pakcik keluarkan satu sampul surat sebagai dompet dia (macam dompet TGNA), dalam tu duit seratus setebal setengah inci, dan satu kad BSN dan i.c lama (pakcik tu bekas tentera laut).. Satu kedai dia bayarkan. Allah.. Satu kedai hairan apabila pakcik kedai tu announce yang makanan semua sudah dibayarkan oleh pakcik kopiah tadi. Masing2 semua pandang aku dan pakcik kopiah. Dengan tiba2 pakcik kopiah angkat tangan dan berdoa dengan suara yang agak sederhana kuat, aku pun turut angkat sama. Dan paling terharu apabila aku dengar suara "amin....." dengan suara yang ramai. Bila aku berpaling ke belakang, satu kedai mengangkat tangan bersama pakcik kopiah tu.. Ada yang bangun mendekati kami berdoa dekat2.   Terasa sangat gemuruh dan terharu dengan keperibadian orang yang ku sangka gila ini rupanya seorang guru agama!! Ada yang menangis kerana doa oleh sang guru itu sungguh merdu.. Kecoh seketika.. Selesai berdoa, aku bersalam dengan pakcik tadi dan ucap terima kasih dengan harapan dapat jumpa lagi. Aku terus berjalan ke motor aku. Aku berpaling ke belakang, semakin ramai yang berkerumun pada pakcik tadi. Aku senyum tanda puas bahawa orang sekeliling mula mendekati pakcik. Aku buka semula dompet aku kerana aku simpan kunci motor dalam tu.   Nak tau apa? Aku terkejut kerana ada 2 keping duit seratus dan satu nota kecil yang bertulis: "Ambil duit ni buat beli susu anak dan buah delima untuk orang rumah anak yang mengidam.." Aku terkaku, dan terus pandang ke arah tempat pakcik tadi. Beliau sudah tiada disitu. Aku terus pakai helmet dan tutup pemuka helmet. Aku menangis kerana terharu dan sangat bersyukur. Bagaimana dia tahu aku dalam kesusahan...Ya Allah.. Kau peliharakanlah pakcik itu..   (Copy pasted - Warta Dari Hati)   ***Gambar hiasan semata-mata..SHARE & LIKE Persatuan Ibu-Ibu Comel Mengandungjom shopping Norzul Collection     Sebarkan.. Seburuk mana pun luaran seseorang jangan sesekali menghina kerana siapa tahu dia lebih mulia dari kita di sisi Allah swt..  
Hati Kita


bangun+rumah 's link
Azan maghrib yang berkumandang mengejutkan aku dari lamunan. Dah masuk waktu maghrib rupanya. Masih banyak lagi barang-barang yang belum dikemaskan. Penat juga nak kemaskan semua ni.   "Nanti kite kemas lepas ni. Mari solat maghrib dulu." Ujar ayah padaku.   Adik-adik sibuk bentangkan tikar dan sejadah di ruang solat. Begitulah selalunya apabila kami berkumpul. Solat berjemaah adalah satu agenda yang tidak boleh dilupakan. Semua orang telah siap sedia menunggu sewaktu aku keluar dari berwudhuk di bilik air.   Aku cepat-cepat mengenakan telekung dan memasuki saf bersama emak, kakak dan adik. Selesai je iqamah, ayah memberikan penghormatan kepada suamiku untuk menjadi imam. Dia kelihatan serba salah dengan permintaan ayah itu.   Dia merenung ke arahku. Aku hanya mengangguk sebagai isyarat supaya dia memenuhi permintaan ayah itu. Maka dengan tenang, dia mengangkat takbir. Menjadi imam solat maghrib kami pada malam itu. Betapa hatiku tenang sekali menjadi makmumnya. Dengan bacaan yang jelas dan merdu itu membuatkan aku berasa kagum dengan suamiku itu. Mungkin tepat pilihan ayah dan mak buatku. Bacaannya lancar lagi fasih. Bagaikan seorang arab yang menjadi imam. "Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami terlupa atau tersilap. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau bebankan kami dengan bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami." "Wahai Tuhan kami! Jangan Engkau pikulkan kepada kami apa-apa yang tidak terdaya kami memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami serta ampunkanlah dosa kami dan berilah rahmat kepada kami." "Wahai Tuhan kami! Kurniakanlah kami daripada isteri dan suami serta zuriat keturunan yang boleh menjadi cahaya mata buat kami dan jadikanlah kami daripada golongan orang-orang yang muttaqin."   Dia membaca doa dengan khusyuk memohon kepada Tuhan setelah selesai solat. Kami bersalaman. Aku mendekati suamiku sambil menghulurkan tangan.   "Bang, maafkan Ana!"Bisikku perlahan sewaktu mencium tangannya.   Dia kemudiannya mengucupi dahiku sebagai tanda kasih yang tulus.   "Sayang tak ada apa-apa salah dengan abang."   Ujarnya sambil tersenyum merenung wajahku. Selepas berwirid dan berzikir, dia bangun menuju ke halaman rumah.   "Abang nak ke mana tu?"Soalku.   "Nak kemaskan barang-barang kat bawah tu. Ada sikit lagi." Jawabnya.   "Dah la tu. Rehat jelah. Esok kita boleh sambung lagi." Aku kesian melihatnya, keletihan.   "Betul kata Ana tu Zul,Sambung esok sajalah." Sampuk ayah yang tiba-tiba mendengar perbualan kami. Emak pun mengangguk menyetujui sarananku itu. "Takpelah ayah, Ana.Sikit aje tu. Kejap je saya buatnya."   Dia masih berkeras sambil berlalu turun ke halaman rumah untuk mengemas beberapa peralatan yang masih lagi berada di bawah khemah. Aku menukar pakaian, kemudian keluar membantu suamiku mengemas barang-barang di halaman rumah. Dia kelihatan asyik tanpa menyedari kehadiranku. Semua barang-barang telah dikemasnya. Aku mencapai kain pengelap dan mula mengelap meja.   "Bila Ana turun?", soalnya apabila menyedari aku sedang mengelap meja,   "Baru aje.Asyik sangat abang buat kerja sampai tak sedar Ana datang."   "Maafkan abang sayang", Dia menghampiriku. "Sayang tak marahkan?" Soalnya lagi sambil memeluk pinggangku erat. Aku merenungnya, kemudian menggeleng-geleng sebagai tanda aku tak ambil hati pun pasal tu. Dia tersenyum sambil menghadiahkan satu ciuman di pipiku.   "Ish..abang ni! Nanti dilihat orang, malu kita", Rungutku tersipu-sipu. Nanti malu juga kalau dilihat oleh ahli keluargaku. "Apa nak malu, kan sayang ni isteri abang." Jawabnya tersenyum.   "Tau la, tapi tengok la keadaan dan tempat. Kalau kita berdua saja, lebih dari cium pun Ana bagi." "Betul ni?" Soal suamiku cepat-cepat. "Ish..Gatal la abang ni!", Dia cuba mengelak dari menjadi mangsa cubitan tanganku. Aku terasa bahagia disayangi begini. Inilah pertama kali dalam hidupku merasai betapa nikmatnya cinta dan kasih sayang seorang kekasih hati yang aku sayangi. Aku tidak pernah terlibat dengan cinta walaupun semasa aku di universiti dulu.   Dan pada tika ini, aku akan menikmatinya selepas perkahwinan. Cinta seorang suami terhadap seorang isteri. Walaupun begitu, masih ada sedikit rasa takut di hatiku.   Aku takut aku tidak mampu untuk menunaikan tanggungjawab sebagai seorang isteri. Aku takut aku tidak mampu untuk menjadi seorang isteri yang solehah dan mulia dalam hidup suamiku.   "Apa yang Ana menungkan ni?" Soalan itu mengejutkan aku dari lamunan.   Aku berehat sekejap di atas kerusi batu dalam taman di halaman rumah setelah selesai mengemas barang-barang.   "Abang ni, terkejut Ana tau!" Aku buat-buat merajuk.   Saja nak menduga bagaimana suamiku memujuk.   "Alaa..sayang ni..macam tu pun nak marah." Usiknya sambil mencubit pipiku.   "Nampak gayanya terpaksalah abang tidur bawah katil dengan nyamuk-nyamuk malam ni sebab isteri abang dah merajuk,Kesian kat abang yea!" Aku mula tersenyum dengan kata-kata suamiku itu. Pandai juga suamiku buat lawak nak memujuk aku.   "Sayang…" Seru suamiku sambil merangkul tubuhku, "Sayang nak honeymoon kemana?" Tak terfikir pulak akau pasal honeymoon tu.   Aku pun tak ada apa-apa plan atau cadangan pasal tu. "Ana ikut aje kemana abang nak bawa."   "Kalau abang bawa ke bulan atau bintang, sayang nak ikut ke?" Guraunya.   "Banyak ke duit abang nak bayar tambang roket dan nak beli set bajunya nanti?"   Soalanku itu membuatkan suamiku pecah ketawa.   "Nanti sayang nak berapa orang anak?" Soalnya lagi setelah ketawanya reda. "Abang nak berapa?" Soalku kembali tanpa menjawab soalannya.   "Abang nak sebanyak mungkin. Larat ke sayang nanti?" "Ish…abang ni. Abang ingat Ana ni kilang anak ke?" Sekali lagi suamiku ketawa.   Nampaknya dia adalah orang yang mudah ketawa. "Takdelah macam tu. Tapi abang suka kalau kita ada anak yang ramai. Sama banyak lelaki dan perempuan."   "Insya Allah, kalau ada rezeki nanti Ana sanggup." Penjelesanku itu membuatkan suamiku tersenyum gembira. "Ni yang buat abang tambah sayang ni." Satu lagi kucupan mesra singgah di pipiku.   Aku terasa bahagia diperlakukan begitu. Aku punyai suami yang baik dan penyayang. Aku rasa dilindungi.   "Zul, Ana! Jom kita makan dulu!" Suara mak memanggil. "Mari bang! Ana pun dah lapar ni." Ajakku sambil memimpin tangannya.   Kami bangun beriringan masuk ke dalam rumah untuk menghadapi hidangan makan malam. Rasa laparlah juga kerana sejak tadi lagi asyik layan tetamu dan buat kerja aje sampai lupa untuk makan. Seronok sangat dengan kahadiran kawan-kawan rapat serta gembira dianugerahi seorang suami yang baik. Sudah beberapa hari aku asyik memikirkan pasal pertunanganku.   Terlalu sukar untuk aku menerimanya. Tambah lagi dengan lelaki yang tidak pernah kukenali. Perkahwinan bukanlah sesuatu yang boleh diambil mudah. Kehidupan yang memerlukan persefahaman sepanjang hidup.   Tanpa persefahaman dan tolak ansur, mustahil dua jiwa dan dua hati boleh bersatu dalam menjalani hidup sebagai suami isteri. Tidak sedikit cerita yang aku dengar tentang rumah tangga yang hanya mampu bertahan buat seketika atau separuh jalan sahaja. Kemudian pecah berkecai umpama kapal dipukul badai. Berselerak dan bertaburan. Apatah lagi kalau dah dikurniakan anak. Anak-anak akan jadi mangsa keadaan.   Mampukah aku menerima suamiku nanti sepenuh hatiku? Mampukah aku menyediakan seluruh ruang isi hatiku ini buat suamiku itu? Bahagiakah aku bila bersamanya nanti?   Bertalu-talu persoalan demi persoalan menerjah benak fikiranku. Aku rasa amat tertekan dengan keadaan ini. Bukan aku tak fakir pasal rumah tangga, tapi aku masih belum bersedia untuk melaluinya.   "Ya Allah, bantulah aku dalam membuat keputusan. Tunjukkanlah aku jalan penyelesaian. Janganlah Engkau biarkan aku sendirian dalam menentukan masa depan hidupku."   "Ya Allah, aku benar-benar tersepit antara kehendak orang tuaku dan perasaan hatiku sendiri. Kiranya ia baik buatku, maka berilah aku redha dalam menerimanya wahai Tuhan."   Indahnya kuperhatikan suasana kamarku. Aku sendiri yang menghiasinya. Kamar malam pertamaku bersama seorang lelaki yang bergelar suami. Kamar yang akan menjadi saksi bisu bila mana aku menyerahkan khidmatku kepada seorang suami. Kegusaran dan sedikit gentar mula bertandang dalam sanubari.   Aku rasa takut sendirian untuk melalui keindahan malam pertama ini. Bagaimanakah akan melayani suamiku nanti? Ketukan pada pintu bilik membuatkan hatiku bertambah gusar. Dari tadi lagi aku hanya duduk di birai katil.   "Masuklah, pintu tak berkunci."   Aku bersuara perlahan. Aku pasti, itu adalah suamiku. Dia masuk, kemudian menutup pintu bilik kami dengan perlahan. Dia kemudiannya menghampiri dan duduk di sisiku. "Kenapa asyik termenung aje ni? Sayang tak gembirakah bersama abang?"   Aku tak menyangka soalan itu yang diajukan oleh suamiku tatkala ketakutan di malam pertama begitu membanjiri jiwaku. Aku hanya mampu mengeleng-ngeleng. Aku sendiri tak tahu apa jawapan yang terlebih baik untuk soalan suamiku itu.   "Habis tu apa yang sayang menungkan ni?",   "Ana takut bang!" Itulah aku rasa jawapan yang tepat bagi menjawab soalannya. Dia memelukku erat sambil membelai rambutku.   "Apa yang nak ditakutkan? Abangkan ada. Abang akan bantu dan tolong sayang. Kita sama-sama bina keluarga kita." Pujuk suamiku.   "Ana takut Ana tak mampu untuk menjalankan tugas sebagai isteri abang. Ana banyak kelemahan bang. Ana takut nanti Ana akan mengecewakan abang. Ana takut.."   Aku tidak sempat untuk meneruskan kata-kataku kerana suamiku telah meletakkan telunjuknya di bibirku tanda tidak membenarkan aku menghabiskan bicaraku. Terkebil-kebil mataku memandangnya.   "Sayang, abang terima sayang sebagai isteri abang seadanya. Abang terima segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada sayang. Usahlah sayang risaukan pasal itu. Ok sayang!"Bisiknya. Aku memeluknya syahdu di atas penerimaannya terhadapku. "Sayang, abang nak mandi kejap. Badan ni dah rasa macam melekit."   Aku bangun membuka almari pakaian dan mencapai sehelai tuala serta kain pelikat. Kuhulurkan kepadanya dengan penuh kasih sayang. Dia tersenyum kepadaku dan mencium pipiku sebelum berlalu ke bilik air. Kemudian aku terdengar siraman air terjun ke lantai. Malam berarak perlahan.   Langit kelihatan gelap pekat tanpa bulan dan bintang. Mungkin sekejap lagi hujan akan mencurah, membasahi bumi yang sudah beberapa hari merindui titis air untuk membajai ketandusannya. ***   "Ayah, mak! Ana dah buat keputusan." Beritahuku sewaktu kami sedang berehat di beranda rumah pada suatu hari. Ayah yang sedang membaca akhbar dan emak yang sedang menyulam tiba-tiba memandangku serentak, kemudian berpaling sesama sendiri.   "Keputusan tentang apa?" Soal ayah inginkan kepastian.   Mungkin mereka tertanya-tanya keputusan apakah yang telah kubuat. "Pasal peminangan tu." Ujarku.   Ayah dan emak kembali merenungku. Mereka memberikan perhatian kepada apa yang bakal aku beritahu. Keputusan yang telah kubuat setelah berfikir baik dan buruknya. Keputusan yang bakal menentukan masa depan arah perjalanan hidupku.   "Kiranya ini takdir Tuhan, maka Ana redha dengan jodoh yang ayah dan emak pilih." Terasa pilu sekali hatiku sewaktu meluahkannya. Ada sedikit titis jernih jatuh ke riba. Aku mengesatnya dengan hujung jari. Emak bangun dan memelukku. Aku tidak tahu apakah ertinya pelukan emak itu. Pelukan gembira oleh kerana aku menerima pilihan mereka atau pelukan untuk menenangkan jiwaku yang sedang berkecamuk dan sedih ini? Hanya emak yang tahu hakikatnya.   "Syukurlah, moga Ana bahagia nanti." Ucap ayah padaku.   Aku terpaksa berkorban demi untuk melihat senyuman di bibir ayah dan emak walaupun hatiku sendiri terpaksa menangis. Tapi adalah terlebih baik bagiku memakan hatiku sendiri daripada memakan hati orang tua ku.   "Nanti mak kenalkan dia pada Ana." Ujar emak sambil tersenyum kerana keputusanku memihak kepada mereka.   "Tak payahlah mak. Kenalkan pada Ana di hari perkahwinan tu aje." Aku rasa lebih baik demikian kerana selepas ijab Kabul aku sudah tidak punyai pilihan lain selain daripada menerima walaupun dengan terpaksa lelaki pilihan ayah dan emak ku itu sebagai suamiku. Aku tidak mahu pertemuan sebelum ijab kabul nanti akan menyebabkan aku berbelah bagi dengan keputusan yang telah aku buat.   "Kenapa pula macam tu? Kan lebih baik kalau Ana berkenalan dahulu dengannya." Ayah mempersoalkan keputusanku itu.   "Ana telah memenuhi kehendak ayah dan mak dengan menerima pilihan ayah dan mak. Tak bolehkah ayah dan mak memenuhi permintaan dan kehendak Ana pula?" Aku berlalu meninggalkan mereka dalam keadaan tercengang dengan permintaan ku itu. *** Aku siapkan kamar tidur seadanya. Aku letakkan pakaian persalinan buat suamiku di atas katil. Aku menunggunya keluar dari bilik air. Aku sendiri telah bersiap-siap menukar pakaian malam menanti suamiku itu dengan penuh debaran. Kedengaran pintu bilik air dibuka. Dia keluar sambil tersenyum ke arahku. "Sayang, boleh tak ambilkan abang segelas air. Dahagalah." Pintanya sambil mengelap-ngelap badannya dengan tuala di tangan.   "Baik bang. Bang, ni baju abang." Ujarku sambil bangun untuk ke dapur.   Sewaktu aku keluar, lampu di ruang tamu semuanya telah dipadamkan. Kulihat jam dah dekat pukul 1 pagi.   "Patutlah." Bisik hatiku. Aku meneruskan langkahku ke dapur dalam samar-samar cahaya bilik yang masih lagi terpasang. Ku penuhkan labu sayung dengan air masak dan ku capai sebiji gelas. Aku membawa kedua-duanya menuju ke bilik. Suasana malam agak sunyi. Tiada bunyi cengkerik atau cacing tanah. Cuma kat luar sana kadang-kadang langit kelihatan cerah diterangi cahaya kilat memancar. Malam yang pekat bakal mencurahkan hujan.   Sewaktu aku melangkah masuk ke bilik, kelihatan suamiku sedang khusyuk berdoa atas sejadah. Mulutnya terkumat kamit tanpa kutahu butir bicaranya. Kutuangkan air kedalam gelas dan kuletakkan atas meja menanti suamiku selesai berdoa. Kemudian dia bangun menghampiriku. Aku menghulurkan gelas air kepadanya.   "Bang…."Seruku. "Ada apa sayang?" Soalnya apabila melihat aku tersipu-sipu kearahnya. "Malam ni abang nak…..nak….."Agak segan untuk kuteruskan pertanyaan itu.   Suamiku masih lagi menanti persoalan yang kutanya… " Nak apa sayang?" Soalnya lagi sambil tersenyum. "Ah..abang ni…"Aku malu sendirian apabila melihat suamiku seolah-olah dapat membaca fikiranku.   "Ya, abang nak sayang layan abang malam ni. Boleh tak?" Bisiknya ketelingaku. Aku hanya mampu mengangguk-angguk tanda bersedia untuk melayani segala kehendak dan kemahuannya. Aku cuba untuk mempersiapkan diri sebagai seorang isteri yang mampu menyediakan dan memenuhi segala keperluan dan kemahuan suamiku itu.   "Assalamualaikum, wahai pintu rahmat!" Bisik suamiku.   "Waalaikumussalam wahai tuan pemilik yang mulia." Jawabku.   Malam yang gelap kehitaman itu kulaluinya bertemankan seorang lelaki yang telah kuserahkan kepadanya seluruh jiwa dan ragaku ke dalam tangannya. Dia berhak segala-galanya keatasku. Sebagai seorang isteri, aku mesti sentiasa patuh kepada segala arahan dan suruhannya selagi mana ia tidak bercanggah dengan ketetapan Tuhan dan Rasul.   Pertama kali kulalui dalam hidupku, malam bersama seorang lelaki yang telah dihalalkan aku keatasnya. Aku umpama ladang dan suamiku itu adalah peladang. Ia berhak mendatangiku mengikut sekehendak hatinya. Aku telah membaca beberapa buah buku tentang alam perkahwinan, rumahtangga dan tanggungjawab seorang isteri apabila aku menerima pilihan emak dan abah terhadapku.   Aku cuba untuk mempraktikkannya selagi aku termampu untuk melakukannya. Aku cuba menjadi yang terbaik bagi suamiku. Aku ingin suamiku bahagia bersamaku. Aku ingin menjadi permaisuri yang bertahta di hati dan jiwanya sepanjang usia hayatnya.     Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik isteri itu ialah yang dapat menenangkan kamu apabila kamu melihatnya dan taat kepada kamu apabila kamu perintah dan memelihara dirinya dan menjaga hartamu apabila kamu tiada."     Rasulullah bersabda: "Setiap wanita itu adalah pengurus sebuah rumahtangga suaminya dan akan ditanyakan hal urusan itu." Rasulullah bersabda: "Isteri yang mulia ini merupakan sesuatu yang terbaik di antara segala yang bermanfaat di dunia."     Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya wanita yang baik itu adalah wanita yang beranak, besar cintanya, pemegang rahsia, berjiwa kesatria terhadap keluarganya, patuh terhadap suaminya, pesolek bagi suaminya, menjaga diri terhadap lelaki lain, taat kepada ucapan suaminya dan perintahnya, dan apabila bersendirian dengan suaminya, dia pasrahkan dirinya kepada kehendak suaminya itu."     Sesungguhnya perkahwinan ataupun rumahtangga itu bukanlah sesuatu yang boleh dipandang remeh atau yang boleh dipermain-mainkan. Ia adalah suatu ikatan yang menghalalkan yang haram sebelumnya.   Ia memerlukan persefahaman, tolak ansur, saling mempercayai, tolong-menolong, kasih mengasihi seikhlas hati dan sebagainya. Tanpa itu semua, mana bisa dua jiwa yang berlainan sifat dan sikap mampu mengharungi sebuah kehidupan yang penuh dengan dugaan ini bersama-sama. Ia amat mustahil sekali.   Maka seharusnya kita perlu mempersiapkan diri sebelum memasuki gerbang perkahwinan dengan pelbagai ilmu. Ilmu kekeluargaan, ilmu keibu bapaan, psikologi kanak-kanak dan sebagainya. Jangan cuba untuk menghampirinya selagi mana kita belum benar-benar bersedia untuk menghadapinya. Jangan kita fikirkan tentang nafsu semata-mata.   Fikirkan sama tentang tanggungjawab yang bakal kita pikul nanti. Tanggungjawab sebagai seorang suami ataupun isteri, tanggungjawab sebagai seorang bapa ataupun ibu. Mampukah kita semua memenuhi atau menunaikan tanggungjawab dan tuntutan itu. Kita pastinya akan dipersoalkan tentang pertanggungjawaban itu.   Sama ada di dunia mahaupun di hadapan Tuhan nanti. Kerana tanggungjawab itu adalah amanah yang perlu ditunaikan oleh setiap orang. Bunyi batuk yang berlarutan menyebabkan aku tersedar dari tidur istimewaku malam ini. Sewaktu aku membuka mata, aku lihat suamiku sedang bersimpuh diatas sejadah.   Dia mengurut-urut dadanya menahan batuk.   Aku bingkas bangun, turun dari katil dan menghampirinya. "Abang tak apa-apa?" Soalku risau dengan keadaannya.   Aku mula risau, takut-takut suamiku itu mempunyai penyakit-penyakit tertentu yang tidak aku ketahui.   "Abang ok je. Mungkin sejuk sikit kot."Jelasnya.   Mungkin juga. Hawa dinihari itu sejuk sebab hujan masih lagi bergerimis selepas mencurah lebat semalam.   "Pergilah mandi, ayah dan semua orang sedang menunggu kita untuk berjemaah di luar tu."   Arah suamiku sambil tersenyum merenungku dengan pijama itu. Aku malu sendirian bila mata suamiku menyorot memerhati seluruh tubuhku itu.     "Nakallah abang ni." Aku bangun mencapai tuala dan terus ke bilik air untuk mandi.   Aku masih lagi terdengar batuk-batuk dari luar. Ayah mahu suamiku mengimami solat subuh itu, tapi suamiku menolak dengan alasan dia batuk-batuk dan tak berapa sihat. Namun ayah masih berkeras, maka terpaksalah dia menjadi imam. Kesian aku melihatnya.   Bacaannya tidak selancar semalam. Banyak tersangkut dan terpaksa berhenti atau mengulanginya kerana asyik batuk-batuk sahaja. Aku mula risau lagi dengan keadaan begitu. Selepas beriwirid pendek, dia membacakan doa dengan perlahan tapi masih boleh didengari oleh semua ahli keluargaku. Aku lihat muka suamiku agak kepucatan. "Kenapa ni bang?" Soalku sewaktu bersalaman dengannya.   "Entahlah, abang rasa kurang sihat sikit pagi ni.."   "Zul sakit ke?" Tanya ayah. "Takdelah, cuma kurang sihat sikit.   Mungkin sebab cuaca kot."Jawabnya.   "Elok makan ubat, nanti takut melarat pulak." Sampuk mak. "Nanti Ana ambilkan ubat."   Aku bangun ke dapur untuk mengambil ubat dalam rak ubat. Ubat-ubatan asas sentiasa tersimpan dalm rak ubat di rumahku. Ini bagi memudahkan bagi tujuan rawatan segera kalau ada apa-apa berlaku. Aku ambil sebotol ubat batuk dan segelas air. Suamiku sudah masuk ke bilik. Batuknya agak berkurangan sedikit dari tadi. Mungkin betul juga ia ada kaitan dengan keadaan cuaca yang sejuk. Dia menghirup sirap batuk yang kusuapkan. "Terima kasih." Ucapnya perlahan.   Aku angguk. "Abang berehatlah."   Ujarku sambil membaringkan badannya ke atas tilam.     "Abang minta maaf kerana menyusahkan sayang." "Kenapa pula abang cakap macam tu. Sikit pun Ana tak rasa susah."   "Abang tahu sayang susah hati tengok abang begini. Sepatutnya hari pertama begini, abang kena membahagiakan sayang. Tapi abang minta maaf sebab keadaan abang tak mengizinkan."   "Dahla tu bang. Ana isteri abang.   Ana sentiasa bersedia berkhidmat untuk abang tanpa sedikit pun rasa susah.", Pujukku walaupun sebenarnya hatiku memang runsing dengan keadaannya.     "Walau apapun yang berlaku, abang tetap sayang dan cintakan sayang. Sayanglah satu-satunya buah hati abang." Sambung suamiku tanpa menghiraukan nasihatku supaya dia berehat saja.   Entah kenapa tiba-tiba sahaja hatiku dilanda kesedihan. Entah darimana ia berputik.     "Abang minta maaf atas segalanya. Sayang maafkan abang yea" "Abang nak tidur dulu. Mengantuk rasanya." Ujarnya perlahan. "Abang tidurlah." Aku menarik selimut untuk menyelimutinya. Aku menciumi dahinya. Sekejap sahaja dia terlena selepas mulutnya terkumat kamit membacakan sesuatu. Aku memerhatikan suamiku buat seketika. Tidurnya kelihatan tenang dengan susunan nafas yang teratur. Aku suka melihat wajahnya yang memberikan ketenangan buatku. Wajahnya yang agak bersih dihiasi dengan kumis dan jambang yang nipis dan terjaga.   Aku berdoa dan berharap agar kurniaan Tuhan ini akan berkekalan bersamaku hingga ke akhir hayat. Namun segala-galanya telah ditentukan Tuhan. Hidup, mati, rezeki, baik dan buruk seseorang hamba itu telah ditentukan Tuhan semenjak ia berada dalam kandungan ibunya lagi. Maka aku sebagai seorang hamba yang lemah terpaksa menerima segala kehendaknya dengan redha dan tenang. Siapa tahu, rupa-rupanya itulah hari pertama dan terakhir aku bersama suamiku yang baru aku kenali itu. Aku hanya mengenalinya seketika sahaja, namun dia telah meninggalkan aku buat selama-lamanya. Aku belum sempat untuk menjalankan tugasan sebagai isteri dengan sepenuhnya. Apalagi yang dapat aku lakukan. Patutlah dia asyik memohon maaf dariku.   Sewaktu aku ingin mengejutkannya untuk bersarapan, berkali-kali aku cuba memanggil namanya. Namun dia masih tak menjawab. Aku menggoncang tubuhnya, tetapi tetap tak ada respon. Aku sentuh tangannya, sejuk. Aku memeriksa nadi dan denyutan jantungnya. Senyap! Air mataku terus je mengalir tanpa dapat ditahan lagi. Menangisi kepergian seorang suami. Aku tersedu-sedu sewaktu semua ahli keluarga masuk kebilik untuk melihat apa yang berlaku setelah terlalu lama aku cuba mengejutkan suamiku itu. Tapi rupanya hanyalah jasad yang terbujur kaku.   "Sudahlah Ana, bersyukurlah kerana masih ada lagi pusaka tinggalannya buat Ana." Pujuk emak.   Aku hanya mampu tersenyum dengan pujukan emak itu sambil memandang wajah seorang bayi lelaki yang sedang nyenyak tidur disebelahku. Itulah takdir Tuhan, malam pertama yang telah membuahkan hasil. Walaupun hanya pertama,  tapi itulah panglima yang menang dalam pertarungan bagi menduduki rahimku ini. Hari ini, zuriat suamiku itu telah menjenguk dunia ini. Satu-satunya pusaka yang tidak ada nilai buatku selain sebuah rumah yang telah diwasiatkan oleh suamiku buatku. "Ya Allah, tempatkanlah rohnya bersama golongan yang soleh. Ya Allah, rahmatilah anakku ini. Jadikanlah dia umpama bapanya yang sentiasa taat kepadaMu. Jadikanlah ia berjasa kepada perjuangan dalam menegakkan agamaMu. Jadikanlah ia sebagai permata yang membahagiakan aku dan seluruh keluargaku." Lagu untukmu - http://www.youtube.com/watch?v=2RYqPSPYlF4
Morgan Winata Shophisticated


bangun+rumah 's link
Aulia dan Reza pun pergi ke gym. Dan (nama kamu) masih tetap berdiri di luar kelas. Sesekali (nama kamu) memperhatikan Aulia yang melangkah makin jauh dari hadapannya. Dia berfikir bagaimana jika dia yang ada di posisi Aulia. Pasti hidupnya akan bahagia karena memiliki seorang kakak yang begitu perhatian kepadanya. S K I P Bel istirahat pun berbunyi dan tandanya hukuman yang di jalani (nama kamu) berakhir. (Nama kamu) langsung masuk ke dalam kelas mengambil uang yang ada di tasnya dan membereskan buku-bukunya. Setelah itu dia bergegas untuk menuju kantin sendirian. @kantin Nk: bang bakso nya satu ya! *ngomong sma penjual* Abang bakso: oke ! Ini dia neng baksonya Nk: berapa bang? Abang bakso: 10 ribu neng Nk: ini bang uangnya *langsung pergi ke meja yang kosong* Saat itu ada Aulia dan Reza yang tengah beristirahat, mereka berdua tidak memakai seragam sekolah melainkan memakai seragam basket dari sekolah mereka. Dan Aulia yang melihat (nama kamu) pun langsung menghampirinya. Aulia: hei! Loe sendirian disini? Nk: ehh Aulia. Iya gue sendirian Aulia: kalo gitu boleh dong gue sama Reza duduk disini? Nk: boleh kok silahkan aja :) Aulia dan Reza pun duduk di meja yang sama bareng (nama kamu). Reza: ehh Li, gue mau pesen minum nih loe mau nitip kagak? Aulia: jus strawberry ya Za :) Reza: oke bentar ya (y) Nk: tadi perasaan loe pake seragam kok sekarang pake baju basket sih? Aulia: ohh iya. Tadi gue kan ke gym sama Reza nah kita lagi latian basket buat tanding minggu depan. Kebetulan gue sama Reza ketua tim basket. Nk: ohh gitu Aulia: eh bay the way kok loe sendirian sih gak sama temen gitu di kantinya? Nk: emmm gue gak punya temen :( Aulia: upss sorry :( yaudah gimana kalo loe jadi temen gue. Nk: :) makasih ya Aulia: iya Tak lama kemudian Reza datang membawa minuman dan seorang teman laki-laki. Reza: nih minuman loe Aulia: thanks Za :) Cowok: hei Li :) Aulia: heii :) Cowok: bolehkan gue gabung disini bareng kalian? Reza: duduk aja lagi bro. Cowok: ehh iya cewek ini siapa? *nunjuk (nk) Aulia: emm kenalin dia (nama kamu) dia temen baru gue :) Cowok: ohhh kenalin gue Bisma Nk: :) Bisma: ehh by the way gue denger semalem kak Morgan menang lagi ya balapannya? Aulia: iya Bii Reza: jadi masih tuh kakak loe balapan begituan? Aulia: masih Za, sebenernya sih gue udah minta dia berhenti tapi ya gitu deh kayak gak tau kakak gue aja loe. Bisma: terus lawannya siapa? Aulia: kalo gak salah sih namanya Rangga dan tadi bukannya cowok itu nganterin loe ya (nama kamu)? Nk: hah? Aulia: iya cowok yang tadi pake nganter loe. Dia siapa pacar loe ya? Nk: ehh bukan. Dia kakak gue Aulia: ohhhh Bisma: jadi kakak loe dikalahin sama kakaknya Aulia. Pasti tuh orang kesel banget. Reza: ya iyalah Bi kan kak Morgan itu udah handal banget sama yang namanya BALAPAN Nk: kakak gue balapan? Aulia: iya emang loe gak tau? Nk: enggak Bisma: loe gak tau kegiatan kakak loe. Nk: *geleng kepala* S K I P Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore dan kini semua murid-murid berkeliaran di luar kelas karena waktunya pulang. Saat ingin pulang (nama kamu) melihat Aulia yang tengah di jemput oleh kakaknya.Jujur saja dia iri melihat hal itu. Apalagi melihat kemesraan antara mereka berdua. Saat Aulia sudah pergi (nama kamu) pun menarik nafas panjang. Dia segera melangkahkan kakinya ke gerbang sekolah dan bergegas mencari angkot yang lewat untuk di tumpanginya hingga sampai rumah. S K I P Saat tiba di rumah (nama kamu) langsung masuk dan begitu dia membuka pintu dia merasa bahwa sang kakak belum pulang. Dan suasana di rumah terasa sekali sepi. (Namakamu) langsung menuju kamarnya dan dia menghempaskan badannya di atas kasur yang empuk tempat dia tidur. Dia memejamkan matanya dan berangan bahwa suatu saat nanti kak Rangga akan lebih peduli dan perhatian terhadapnya. Dalam angannya dia pun akhirnya terlelap tidur. Hari sudah malam dan (nama kamu) sudah bangun tidur. Seperti biasa dia memasak untuk makan malamnya dengan sang kakak. Tapi dari sejak dia terbangun dia tidak melihat ada tanda-tanda sang kakak yang sudah pulang. Dia khawatir dengan kakaknya. Tapi dia meneruskan memasak dan setelah selesai dia menghidangkan masakannya di atas meja makan. Setelah itu di menuju ruang tamu dan duduk disana dia menunggu sang kakak datang. Dia tak akan makan jika kakaknya belum pulang. Nk: kak Rangga kemana sih? Jam segini belum pulang, gak kayak biasanya! :( (Nama kamu) berfikir apa jangan-jangan Rangga pergi balapan. Akhirnya (nama kamu) mengambil handphone dan menelpon Aulia. Via telpon Nk: ehhh Li Aulia: iya kenapa? Nk: emm malam ini ada balapan? Aulia: setau gue sih kagak ada soalnya kak Morgan lagi dirumah bareng gue. Emang kenapa? Nk: enggak. Kakak gue belum pulang jadi gue fikir dia balapan. Gue khawatir sama dia. Aulia: emmm yaudah kalo gitu gue suruh kakak gue buat ketempat balapan mungkin dia disana. Ntar gue kabarin loe ya Nk: thanks ya Li Aulia: iyaa Kemudian (namakamu) pun menutup telponnya dan menunggu kabar dari Aulia. Sementara itu Aulia yang berada di rumah bersama Morgan mengajak kakaknya itu untuk ke tempat balapan. Aulia: ayoolaahh kak bantuin ya Morgan: ngapain sih kamu mau cari Rangga? *kesal* Aulia: kak aku cuma mau bantuin (nama kamu) aja. Kasian dia khawatir sama kakaknya dia juga takut sendiran di rumah. Morgan: oke oke kita kesana. Aulia: makasih kak. Yaudah kita berangkat sekarang. Akhirnya Aulia dan Morgan pergi ke tempat balapan biasanya. Sesampainya disana mereka menemuka mobil Rangga dan tak jauh dari situ terlihat Rangga. Aulia: kak Rangga *teriak* Rangga pun menolehkan pandangannya dan Aulia bersama Morgan langsung menghampirinya. Aulia: kak Rangga. Kak Rangga pulang ya? Rangga: loe ngapain disini? *ngelirik Morgan* Aulia: kak (nama kamu) khawatir sama kakak di rumah jadi kakak pulang ya. Rangga: (nama kamu)??? Alah Morgan yang melihat tanggapan Rangga pun geram dan Dan Dan Dan Dan Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Heheheee
Erik Dewa Kopi


bangun+rumah 's link
menghalangi dirinya jangan sampai menyerahkan pedang baja itu kepada orang lain. Dan sekarang kitab kiam keng sudah berada dalam sakunya, ia semakin dapat meresapi kebaikan dari Gok teng hujin itu, apalagi selelah terbayang akan ancaman siksaan In hwe lian bun (api dingin melelehkan sukma) serta Ngo kiam hua si (lima pedang menyincang badan), pemuda itu semakin merasakan betapa pedih dan tersiksanya perasaan hatinya. Ditengah helaan napas panjang dan pelbagai pikiran yang berkecamuk dalam benaknya, tanpa terasa sepoci arak telah berpindah kedalam perutnya. Cepat dia angkat poci kosongnya seraya berseru, “Hey, pelayan! Ambillah satu poci lagi!” Seorang pelayan segera maju menghampiri sambil berkata. “Harap yaya tunggu sebentar, hamba segera akan siapkan satu poci arak lagi!” Selang sesaat dia telah muncul kembali sambil membawa sepoci arak, dalam keadaan murung karena memikirkan banyak persoalan si anak muda itu sama sekali tidak memikirksn apa sebabnya pelayan itu jadi lebih rajin dari pada tadi. Melihat arak telah dihidangkan, diapun segera penuhi cawannya dan meneguk isinya, hanya tiba-tiba saja ia merasa arak yang dimi num jauh lebih harum dan sedap agaknya arak pilihan yang telah puluhan tahun lamanya disimpan dalam gudang. Dalam heran dan tercengangnya, tiba-tiba ia merasa suasana disekitar ruangan itu menjadi hening dan serius, hanya disudut kiri saja masih kedengaran ada orang sedang berbicara. Cepat dia alihkan sorot matanya ke arah mana berasalnya suara pembicaraan itu, ternyata mereka hanya sekelompok pedagang belaka, sementara dari sisi mejanya duduk pula seorang pemuda berdandan busu sedang melotot penuh kegusaran ke arah kaum pedagang tadi, rupanya ia hendak mencegah orang-orang itu buka suara. Agak tertegun Hoa Thian-hong menghadapi kejadian tersebut, dia alihkan kembali sorot matanya ke arah lain. Tampaklah seorang kakek berusia lima puluh tahunan duduk dikursi utama, enam orang yang masih muda dengan pakaian ringkas dan masing-masing membawa sebuah bantalan panjang yang tampaknya adalah senjata tajam berada diseputarnya. Ketika kakek itu menyaksikan Hoa Thian-hong berpaling ke arahnya, cepat ia bangkit berdiri seraya memberi hormat, ujarnya sambil tersenyum. “Kongcu ya, baik-baikkah engkau?” Cepat Hoa Thian-hong bangkit berdiri dan balas memberi hormat. “Baik-baikkah engkau lo enghiong?” sahutnya. Sapa menyapa sudah lazim terjadi diantara kawanan jago persilatan yang bertemu di suatu tempat, misalnya warung makan atau rumah penginapan karena menganggap pihak lawan lebih tua maka Hoa Thian-hong merasa sepantasnya. Kalau ia baru duduk setelah lawannya duduk. Siapa tahu rupanya kakek itupun sedang menunggu sampai anak muda itu duduk lebih dahulu ia baru duduk, untuk sesaat kedua orang itu sama-sama berdiri tertegun tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Melihat itu, kawan-kawan lainnya yang ada di seputar meja ikut bangkit berdiri untuk menunjukkan sikap hormatnya. Setelah menyaksikan kesemuanya itu, Hoa Thian-hong lantas berpikir dalam hatinya, “Orang-orang itu terlalu sungkan terhadap diriku, aku jadi tak enak rasanya….” Maka dia maju menghampiri orang-orang itu seraya tegurnya dengan sekulum senyuman menghiasi bibirnya, “Cayhe adalah Hoa Thian-hong, boleh aku tahu siapa nama besar dari Lo enghiong?!” Buru-buru kakek tua itupun melangkah keluar dari tempat duduknya. “Ooh…. aku adalah Tio Ceng tang, sungguh beruntung aku bisa bertemu dengan Hoa hongcu, pertemuan ni sangat menggembirakan hidupku” Dari sikap serta gerak-gerik Tio Ceng tang yang gagah dan perkasa, siapapun akan tahu bahwa dia bukan seorang manusia sem barangan, akan tetapi sikapnya yang begitu menghormat terhadap Hoa Thian-hong membuat si anak muda itu merasa jadi riku. Dalam keadaan pusing oleh persoalan yang sedang dihadapi, Hoa Thian-hong sebenarnya tidak berminat untuk mengadakan hubungan lebih jauh dengan orang ini, akan tetapi iapun tak mau kurang hormat sehingga mendatangkan kesan kurang baik bagi orang lain, maka dengan sikap yang tetap menghormat kembali ia berkata, “Ooh…. rupanya Tio lo enghiong, sayur dan arak ditempat ini sangat lezat, bila lo enghiong tidak terburu-buru melakukan perjalanan, bagaimana kalau kita minum dulu satu dua cawan?” Bagaikan orang yang kaget karena tiba-tiba mendapat lotre tujuh puluh lima juta rupiah, Tio Ceng tang berdiri melongo untuk beberapa saat lamanya, kemudian dengan gelisah sahutnya, “Daripada menolak, baiklah kuterima penghormatan ini, kongcu, silahkan duduk, silahkan duduk” Setelah kedua orang itu anbil tempat duduk, pelayan menambah cawan dan sumpit. Terdengar Tio Ceng tang berseru dengan cepat. “Eíeb, pelayan…. siapkan lagi beberapa macam sayur, apabila ada arak yang paling baik, harap siapkan sepoci lagi!” Pelayan itu mengiakan berulang kali kemudian buru-buru menuju kedalam dapur. Sementara itu dari logat suara Tio Ceng tang, pemuda kita dapat menangkap bahwa suaranya membawa logat wilayah San see yang barat, maka iapun menegur, “Tio lo enghtoog, aku boleh tahu darimana asalmu?” “Aku juga berasal dari In tiong san!” sahut Tio Ceng tang dengan sekulum senyum kebanggaan tersungging diujung bibirnya. “Oooh…. rupanya kita berasal dari desa yang sama, maap maap….” kata Hoa Thian-hong sambil memberi hormat lagi. “Kongcu tak usah banyak adat, beberapa hari berselang aku dengar cerita dari para sahabat, katanya Hoa kongcu sedang berangkat pulang ke desa dan bermalam di Lok yang, mengapa….” “Boanpwee telah bertamu dengan suatu kejadian yang ada diluar dugaan, ujar Hoa Thian-hong dengan wajah sedih, maka aku harus berangkat menuju keselatan, apakah locianpwe juga hendak pulang kedesa?” “Bulan berselang aku baru saja berangkat dari desa, sekarang kami hendak menuju ke kota Cho ciu. Haahh…. haah…. haah…. kongcu, janganlah bersikap sungkan-sungkan, sebutan locianpwe tak berani kuterima….!” Selang sesaat kemudian, pelayan telah menghidangkan sayur dan arak baru, sambil minum arak dan bersantap Hoa Thian-hong mengajak tamunya berbicara kesana kemari Semula dia bermaksud antuk mencari tahu kabar tentang orang-orang Kiu-im-kauw, tapi setelah tahu bahwa dia asal utara mau kesela tan, maka niatnya itupun dibatalkan. Setelah pembicaraan berlangsung sekian lama, tiba-tiba Tio Ceng tang meletakan kembali cawan araknya keatas meja, lalu ujarnya dengan muka serius, “Kami orang-orang dusun telah mendapat kabar yang mengatakan bahwa lo hujin telah kehilangan tenaga dalamnya sewaktu melakukan pertarungan untuk menumpas kaum sesat, semua orang sangat menguatirkan kesehatannya, bolehkah aku tahu bagaimana keadaannya sekarang?” “Terima kasih atas perhatian locianpwa semua, Ibuku telah sehat kembali dan tenaga dalamnya telah pulih kembali seperti sedia kala. Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan lebih jauh, “Apakah locianpwe sekeluarga berada dalam keadaan sehat walafiat juga?” Sambil menjura Tio Ceng tang tertawa, jawabnya, “Berbicara terus terang, semenjak kecil aku sendiripun telah luntang lantung dalam dunia persilatan, untungnya nasibku agak mu jur sehingga berhasil mendirikan sebuah perusahaan ekspedisi Toa tong piau kiok dikota Cho-Ciu, berkat bantuan dari sahabat sa habatlah usahaku dapat berlangsung agak lumayan.” “Oohh rupanya Tio lo piau tai!” Tio Ceng tang tertawa lebar. “Setelah perusahaan itu berjalan beberapa tahun, sekalipun hanya berupa usaha kecil-kecilan namun boleh dibilang aku berhasil mendapatkan banyak kemajuan dari situ. Siapa tahu setelah terjadinya pertarungan berdarah dalam pertemuan Pek-beng-hwie kaum lurus banyak yang dibunuh dan kaum sesat malahan mendapatkan kemenangan, kejadian itupun segera merubah pula nasib kehidupan dari kami orang-orang kecil dalam dunia persilatan….” “Apakah usaha ekspedisimu tak boleh melewati wilayah kekuasaan, malahan harus membayar pajak yang mencekik leher kepada pihak perkumpulan….?” tanya Hoa Thian-hong dengan sepasang alis matanya berkenyit “Aiah, kalau cuma begitu sih urusan kecil” sahut Tio Ceng tang sambil tertawa, “justru yang payah mereka main rampok dan main rampas dengan begitu saja, sejak kaum iblis memperoleh kemenangan maka perusahaan Toa tong piau kiok ikut disita pula oleh orang-orang Hong-im-hwie, aku tahu bahwa kekuatanku sangat minim, kalau main ribut jelas bukan tandingan sebab ibaratnya telur melawan batu, terpaksa selama banyak tahun kupendam terus rasa mangkel dan dongkolku ini” “Siapa yang telah mengangkangi perusahaan Poa tong piau kiok mu itu?” tanya Hoa Thian-hong dengan cepat, menurut apa yang kuketahui orang-orang Hong im bwe Kebanyakan sudah mampus atau terluka ketika berlangsungnya pertemuan Kian Ciau tay hwe….” Tio ceng tang goyangkan tangannya berulang kali, ia bertanya sambil tertawa, “Kongcu tak usah gelisah, orang yang mengangkangi perusahaan Toa totg piau kiok itu bernama Hek Kun lun, dia masih belum berhak untuk menghadiri pertemuan Kian ciau tay hwe” Sesudah tertawa terbahak-bahak, sambungnya lebih jauh. “Sejak pertarungan di lembah Cu-bu-kok kekuatan Hongim- hwie telah runtuh dan mengalami kehancuran, dalam keadaan demikian aku rasa hanya bajingan-bajingan cilik macam Hek Kun lun yang berdiam di daerah pastilah sudah kabur terbirit-birit sambil memboyong keluarganya dan sekarang akupun sudth tiba waktunya untuk menerima kembali warisan ku yang sudah lama terbengkelai setelah belasan tahun hidup sebagai pemburu!” Mendengar perkataan itu, tanpa terasa Hoa Thian-hong terbayang kembali akan perkumpulan Sin-kie-pang dibawah pimpinan Kho Hong-bwee, mungkinkah pendekar perempuan itu berhasil merubah moral anak buahnya, soal ini masih merupakan suata tanda tanya besar, selain itu Kiu-im-kauw telah menyusupkan pula pengaruhnya kedalam dunia persilatan, kalau dikatakan dunia sudah aman, sebenarnya boleh dibilang ucapan ini terlalu pagi. Walau begitu Hoa Thian-hong merasa tidak tega untuk mengatakan keluar, dia kuatir mengurangi kegembiraan Tio Ceng tang. Sementara itu Tio Ceng tang telah mengangkat cawan araknya seraya berkata dengan serius, Hoa kongcu, bukannya aku sengaja menyanjung atau menjilat pantat, tahukah engkau berapa banyak sahabat persilatan dan rakyat kecil yang merasa berterima kasih kepadamu? tak usah kita jauhjauh mencari perumpamaan, cukup ambilah kedai ini sebagai contoh, kalau tempo dulu yang berkunjung kemaii kebanyakan adalah orang-orang perkumpulan, buka mulut lantas memaki, gerak tangan lantai memukul orang, habis makan kalau senang membayar, kalau tak senang lantas pergi dengan begitu saja, maka sekarang keadaannya telah berubah, manusia-manusia semacam itu sudah tergeser dari percaturan dunia persilatan, usaha rakyat kecilpun berjalan lagi dengan tertib tahu kah kongcu bahwa ketertiban dan keamanan ini semuanya adalah pemberianmu….” Merah jengah selembar wajah Hoa Thrao Hong, dengan cepat dia menukas, Membasmi kaum durjana menolong kaum lenah adalah kewajiban setiap umat persilatan didunia, kemampuan apa yang kumiliki sebagai seorang manusia yang masih muda dan berilmu cetek? Kalian tak usah memuji diriku, aku tak lebih hanya menyumbangkan sedikit tenaga untuk membantu kaum tua belaka….” Pemuda itu kuaitir kalau di sanjung-sanjung lebih lanjut, cepat dia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain. “Selama satu dua hari belakangan ini, apakah Lo piau tau pernah melihat orang-orang dari Kiu-im-kauw?” Agak tertegun Tio Ceng tang setelah mendengar perkataan itu, sahutnya setelah termanggu sesaat. Aku memang pernah mendengar kalau Kiu-im-kauw yang sudah bubar telah bangkit kembali, tapi selama ini belum pernah kutemui orang- orang dari pihak Kiu-im-kauw” Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Cuma selang pagi tadi aku telah berjumpa dengan sekawanan manusia berbaju kuning yang dandanannya tosu bukan tosu, pendeta bukan pendeta, kalau dugaanku tak salah mestinya mereka adalah orang-orang Mo-kauw dari luar perbatasan” “Kalau begitu mereka pastilah Tang Kwik-siu dan muridnya! pikir Hoa Thian-hong di hati. Cepat ia bertanya, “Berapa orana yang telah lo piau tau temui? Mereka telah pergi ke arah sebelah manoa?” Mereka semua berjumlah lima orang, empat pria dan seorang wanita, arahnya kalau bukan menuju kota Cho Ciu, pastilah menuju ke ke Ou kwang….!” “Empat pria seorang wanita!” ulang Hoa Thian-hong dengan dahi berkerut kencang, “kalau bukan menuju ke kota Cho Ciu? Pastilah menuju ke Oa kwang….?!” Sambil meletakkan kembali cawan araknya keatas meja, Tio Ceng tang berkata lagi dengan wajah serius, “Putraku pernah berjumpa dengan kongcu sewaktu ada dikota Cho-ciu, maka tatkala kongcu masuk sedalam warung tadi, ia telah menerangkan kepadaku, sebenarnya ketika itu juga akan kusampaikan berita ini kepada diri kongcu, akan tetapi berhubung….” Betapa gelisahnya Hoa Thian-hong tatkala dilihatnya orang itu tidak langsung membicarakan urusan yang serius, cepat dia menukas dengan hati gelisah. “Seorang sahabatku telah terjatuh ketangan musuh besarnya, karena memikirkan kesela-matannya aku jadi sangat murung, harap lo piau tau jangan mentertawakan kehilafanku itu!” “Ooh tidak, tidak boleh aku tahu sahabat kongcu itu seorang laki-laki ataukah….” “Dia adalah seorang nona, sahabat karib dari istriku, menurut berita yang kuterima katanya ia kena ditangkap orang-orang dari pihak Kiu-im-kauw!” “Aaah! Kalau begitu kejadian ini aneh sekali!” Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak anak muda itu, segera dia bertanya. “Dimana letak keanehan itu? Apakah aku boleh tahu perempuan yang lo pia tau temui itu berapa besar usianya dan bagaimanakah dandanannya….?” Tanpa berpikir panjang Tio Ceng tang segera menjawab, “Dia adalah seorang nona yang cantik jelita bak bidadari yang turun dari kahyangan, usianya belum mencapai dua puluh tahunan, pakaian maupun dandanannya tidak berbeda jauh dengan keempat pria tersebut, diapun mengenakan jubah kuning dengan sepatu terbuat dari kain, ikat pinggangnya berwarna kuning pula” Sesudah berhenti sebentar, sambangnya lebih jauh, “Bukannya aku sengaja mengibul atau omong kosong, kecantikan nona itu benar-benar luar biasa, hampir saja aku tidak percaya kalau dldunia ini ternyata terdapat seorang perempuan yang memiliki kecantikan wajah yang begitu hebatnya” Betapa terperanjatnya Hoa Thian-hong seteleh mendengar perkataan itu, dalam hati dia lantas berpikir, “Aduuh…. jangan-jangan dia adalah Kun Gie?” Ketika secara tiba-tiba Tio Ceng tang menyaksikan air muka si anak muda itu berubah jadi pucat piat bagaikan mayat, dia jadi sa ngat kuatir dengan penuh perhatian ujarnya, “Hoa kongcu, kau….” Setelah berbasil menguasai diri, cepat-cepat Hoa Thianhong berkata lagi. “Lo piau tau, harap terangkan dengan cepat, aku harus segera selamatkan jiwanya, karena itu perjalanan pun harus kulakukan sekarang juga” “Terima perintah!” Tio Ceng tang. Sesudah termenung sebentar, dia berkata, kembali. “Kemarin malam kami menginap didalam sebuah rumah penginapan yang memakai merek Kho ke ci, ketika baru saja bangun tidur secara lapat-lapat kudengar ada suara gaduh diluar halaman, mana secara iseng aku membuka jendela menengok keluar, kutemukan empat laki-laki dan seorang perempuan itu lagi bersiap-siap hendak berangkat, tapi perempuan itu ribut terus dan tak mau pergi, katanya kalau tidak naik kuda maka dia tak mau berangkat, waktu itu aku tidak terlalu menaruh perhatian, siapa tahu tiba-tiba gadis cantik itu berseru keras….” Berbicara sampai disini, tiba-tiba ia membungkam dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya. Hoa Thian-hong jadi sangat gelisah, cepat dia berseru, “Apa yang dikatakan nona itu?” Tio Ceng tang tidak langsunng menjawab, dengan sorot mata yang tajam dia menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan suata yang lirih sahutnya, “Nona itu berteriak demikian: ‘Dari sini menuju ke Kiu ci masih ada lima enam ribu li jauhnya, aku tak kuat jalan lagi, kalau kalian mau menggali harta silahkan gali sendiri, aku tidak ingin kaya, aku tidak ingin….’” “Dia tak ingin apa lagi?” sela Hoa Thian-hong. Sayang ketika berbicara sampai disitu, kakek yang tampaknya pemimpin rombongan itu sudah menghampirinya, sambil tertawa kakek itu segera memaki, “Kamu si bocah perempuan edan, kami toh mau pergi ke kota Cho ciu, siapa bilang mau ke Kiu ci atau sip ci, tapi nona itu segera berteriak lagi: ‘Kalau pergi ke kota Cho ciu, maka kalian semua pasti akan mampus semua! Baru saja berbicara sarpai disitu, nona itu sudah diseret pergi oleh kakek tua tersebut.” Hoa Thian-hong semakin murung, dengan dahi berkerut dia cuma bisa berguman seorang diri, “Kiu ci…. menggali harta….Cho Ciu….” Terdengar Tio Ceng tang berkata kembali, “Menurut penilaianku, apa yang dikatakan nona itu sebagai Kiu ci pastilah tujuan mereka yang sebenarnya, sedang kakek itu sengaja mengucapkan kota Cho ciu untuk melamurkan perhatian orang, sayangnya beberapa orang itu terlalu cepat perginya, ketika kami berangkat ternyata jejak mereka sudah tidak tampak lagi” “Lo piau tau, seingatmu nona itu berbicara dengan logat darimana? Selain Lo piau tau apakah ada orang lain yang pernah menyaksikan raut wajah nona itu?” “Logat suara itu campuran, tapi sebagian besar sepertinya logat dari orang-orang Ho lim, ketika itu fajar baru menyingsing kebetulan aku bangun lebih pagi, maka ketika semua orang bangun sesudah mendengar suara ribut-ribut dari nona itu, mereka telah berlalu dari rumah penginapan tersebut” Kalau begitu dia pastilah Kun gie ada nya, batin Hoa Thianhong didalam hati. Tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget menggema memecahkan kesunyian disusul seorang dara berbaju hijau lari masuk kedalam kedai dan berlutut dihadapan Hoa Thitan Hong sambil menangis tersedu-sedu. “Kongcu ya!” serunya dengan lirih, “jiwa siocia tak bisa dilindungi lagi, berusahalah cepat untuk menyelamatkan jiwanya….” Secara mendadak Hoa Thian-hong merasakan dadanya amat sakit, cepat ia menarik napas panjang dan melancarkan kembali udara yang tersumbat didalam dadanya, kemudian ucapnya, “Che giok, bangunlah! Aku sudah mengetahui akan persoalan ini, dan sekarang juga aku sedang berangkat menuju kesitu!” Kiranya dara berbaju hijau itu bukan lain adalah dayang kepercaysaa dari Giok Teng Hujin yakni Pui Che-giok adanya, setelah melakukan perjalanan siang malam tanpa berhenti, mukanya tampak kusut rambutnya awut-awutan tak karuan, sekujur badan basah dan bau keringat, keadaannya benarbenar sangat mengenaskan. Delam bopongannya tampak Soat-ji makhluk rase itu, tampaknya Soat-ji menderita luka yang cukup parah mukanya layu dan lesu, tubuhnya sama sekali tak mampu bergerak. Tampaknya makhluk cerdik inipun menyadari bahwa majikannya sedang kesusahan dan rupanya diapun tahu kalau Hoa Thian-hong adalah orang yang paling akrab hubungannya dengan majikannya, sepasang ma ta yang merah dan pudar menatap anak muda itu dengan sorot belas kasihan sementara mulutnya memperdengarkan suara keluhan lirih. Pui Che-giok bangkit berdiri dengan isak tangis yang menjadi, ujarnya lirih. “Kongcu ya, cepatlah berangkat! Siocia sedang menderita karena menjalani siksaan api dingin melelehkan sukma, siksian itu terlalu sadis dan kejam…. oooh, kengcu ya cepatlah selamatkan jiwanya!” “Sekarang dia berada dimana?” tanya Hoa Thian-hong dengan darah panas bergolak dalam dadanya. “Dia ada di Cho ciu,” sahut gadis itu dengan air mata bercucuran membasahi wajahnya. Hoa Thian-hong meaggertak gigi menahan emosi, katanya kemudian, “Perjalanan amat jauh, tak mungkin bisa kita capai tempat itu dalam waktu singkat, bersantaplah lebih dahulu!” Seraya berkata ia lantas membopong Soat-ji, rase putih salju itu. Pui Che-giok duduk di kursi dan berusaha untuk mengisi perutnya, tapi air mata jatuh bercucuran dengan derasnya membuat ia tak mampu menelan nasi dalam mulutnya itu, akhirnya ia menggeleng sembari berkata, “Budak tak tega untuk makan!” “Paksalah untuk makan sedikit aku akan berangkat duluan, dan engkau boleh menyusul belakangan” Diangkatnya cawan arak itu lalu melolob Soat-ji untuk minum. Sambil melelehkan air matanya Pui Che-giok paksakan diri untuk makan, katanya lagi, “Soat-ji kena dihajar oleh kaucu dengan ilmu pukulan Yu seng ciang hingga isi perutnya terluka, aku lihat dia sudah tiada harapan untuk hidup lagi.” Paras muka Hoa Thian-hong berubah jadi hijau membesi, sahutnya dengan suara dalam, “Tak usah kuatir, aku pasti berhasil enteng hidupkan kembali dirinya!” Memang parah sekali luka dalam yang diderita Soat-ji, begitu parahnya sampai nafsu untuk minum arakpun ikut hilang. Hoa Thian-hong segera mengambil uang sekeping sebagai pembayaran uang arak, tapi Tio Ceng tang buru-buru membayarnya. Dalam keadaan begini, Hoa Thian-hong tidak berminat untuk banyak bicara lagi, setelah saling memberi hormat, serunya kepada Tio Ceng-tang, “Sampai jumpa lagi dikota Cho cia!” Sekali berkelebat, sambil membopong Soat-ji berlalulah si anak mada itu dari sana. Ia mulai sadar tahwa Pek Kun-gie telah terjatuh pula ketangan musuh, bahkan keadaannya gawat sekali, sedikitpun tidak berada dibawah keadaan Giok Teng Hujin, walaupun demikian gadis itu masih lebih mujur, kenapa, ia masih mempunyai orang tua, punya saudara dan lagi sebagai seorang putri ketua Sin-kie-pang. Berbeda jauh dengan Giok Teng Hujin yang hidup menderita tanpa sanak tanpa saudara, kecuali orang dayang dan seekor rase salju, boleh dibilang tiada sanak lain, maka setelah mempertimbangkan sebentar pemuda ini mengambil keputusan untuk tinggalkan dahulu urusan Pek Kun-gie dan berusaha untuk selamatkan dahulu jiwa Giok Teng Hujin. Rase salju itu dapat memahami perkataan manusia, dan lagi pandai pula bertempur, sambil melanjutkan perjalanan pemuda itu lantas salurkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka yang diderita makhluk tersebut. Begitula, sembari melanjutkan perjalsaan ia salurkan terus hawa murninya ke tubuh Soat-ji, dua tiga jam kemudian luka yang diderita rase salju itu ada enam tujuh bagian telah sembuh, waktu itulah makhluk tadi meronta bangun dan melanjutkan perjalanan sendiri dengan berlarian disamping pemuda itu. Mereka melakukan perjalanan siang malam tanpa berhenti, ketika kentongan kedua baru menjelang, anak muda itu sudah tiba di kota Cho ciu. Baru saja masuk kedalam kota, ia berjumpa dengan Oh Sam yang muncul dari hadapannya, si anak muda itu segera menegur, “Pek hujin berada dimana?” “Cu to baru tiba siang tadi, sekarang ia dikantor cabang, Cu amat mengguatirkan keselamatan kongcu maka beliau perintahkan hamba untuk menunggu kedatangan kongcu di sini!” Sesudah melirik sekejap kepada Soat-ji makhluk rase itu, dia melanjutkan lebih jauh, “Apakah nona kedua tidak melakukan perjalanan bersama-sama kongcu….?” “Mungkin sudah terjadi kejadian yang tak terduga!” sahut Hoa Thian-hong dengan suara mendalam, “aku sama sekali tak bertemu dengannya, cepat bawa aku menghadap cu bo mu!” Oh Sam amat terperanjat, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia segera putar badan dan lari kedepan. Selang sesaat tibalah mereka berdua dikantor cabang perkumpulan Sin-kie-pang, Oh Sam langsung membawa Hoa Thian-hong menaju keruang dalam. Ketika mendengar suara langkah manusia, Kho Hong-bwee segera menyambut seraya menegur, “Thian-hong, dimana Kun gie?” Hoa Thian-hong maju kedepan sambil memberi hormat, lalu sahutnya dengan kepala tertunduk. “Kemungkinan besar kun gie telah bertemu dengan Tang Kwik-siu dan kena ditawan oleh mereka, semestinya boanpwee akan mengejar ke arah Ou kwang….” Mula-mula Kho Hong-bwee tampak agak terkejut, tapi sejenak kemudian ia sudah tenang kembali, sambil bangunkan Hoa Thian-hong dia berkata. “Berbicara menurut cengli, memang sepantasnya engkau datang ke Cho ciu lebih dulu engkau sama sekali tidak berbuat salah!” Perempuan ini segera perintahkan pelayan untuk siapkan hidangan dan arak wangi. Hoa Thian-hong tahu bahwa perempuan ini terkenal karena bijaksana, akan tetapi berhubung ia merasa tak punya katakata yang bisa diutarakan, maka sebagai gantinya ditatapnya sekejap perempuan itu dengan pandangan penuh berterima kasih. Setelah memberi hormat pula kepada Pek Soh-gie, iapun menegur, “Cici, Bong toako ada dimana?” “Dia ada didalam ruang tengah” jawab Pek Soh gi, “beristirahatlah lebih dulu, tentunya engkau merasa lelah bukan?” Ketika mereka bertiga masuk keruang tengah, tampaklah Bong pay dengan badan dibalut sedang duduk bertopang dagu, mukanya murung bercampur kesal, sekalipun tahu ada orang yang masuki ruangan itu dia sama sekali tidak menegur ataupun angkat kepalanya. Hoa Thian-hong segera maju menghampirinya, lalu menegur, “Toako, bagaimana keadaan lukamu?” Bong pay gelengkan kepalanya dan tetap membungkam dalam seribu bahasa. Kho Hong-bwee yang ada disampingnya segera tersenyum, ujarnya. “Bocah ini bersikeras akan menantang Kiu-im Kaucu untuk berduel, tapi aku justru telah melarang dia pergi kesana!” Diam-diam Hoa Thian-hong menghela napas panjang, dia tahu walaupun paras muka perempuan itu tampaknya tenang dan tidak menunjukkan sikap gugup ataupun gelisah, sebenarnya rasa kuatirnya terhadap keselamatan putrinya sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia lantas mencari tempat duduk dan bermaksud mengisahkan pengalamannya sepanjang perjalanan menuju kesana. Pada saat itulah dua orang dayang masuk kedalam ruangan sambil membawa nampan dan air teh. Kho Hong-bwee segera ulapkan tangannya sembari berkata, “Cucilah dulu mukamu, kemudian bersantap, setelah itu barulah bercerita….” Tanpa banyak berbicara Hoa Thian-hong cuci muka dan makan hidangan ringan yang telah tersedia, ketika perjamuan telah siap. Kho Hong-bwee segera mempersilahkan tamu nya untuk duduk sementara ia bersama Bong Pay dan Pek Soh-gie mengiringi disampingnya. Sudah belasan tahun lamanya Kho Hong-bwee bertapa ditempat yang terpencil, kepandaiannya untuk menguasai diri memang melebihi siapapun, sekalipun ia tahu bahwa keselamatan putrinya terancam, namun sepanjang perjamuan berlangsung, tak separah katapun yang dia ucapkan menyinggung soal keselamatan putrinya itu. Menanti sampai telah selesai, Hoa Thian-hong barulah mence-ritakan apa yang telah didengarnya dari mulut Tio Ceng tang. Mendengar keterangan tersebut, dengan dahi berkerut Kho Hong-bwee termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia baru berkata, “Kalau memang rombongan itu benar-benar terdiri dari empat pria dan seorang wanita, mereka yang pria pastilah Tang Kwik-siu, Kok See-piauw beserta muridmuridnya, sedang yang perempuan tak usah diragukan lagi tentulah Pek Kun-gie budak binal Itu!” “Bibi, aku sangat mengharapkan agar malam ini juga bibi sekalian melakukan perjalanan untuk menghadang jalan pergi mereka! ujar Hoa Thian-hong dengan wajah murung, apabila berhasil menyusul Tang Kwik-siu, maka berusahalah untuk mengadakan hubungan kontak dengan kantor cabang kota Cho ciu, begitu urusan disini selesai, boanpwe segera akan menyusul kalian kesana!” “Ibu, beberapa orahg bajingan itu bukan manusia baikbaik” ujar Pek Soh-gie pula, keadaan adik memang terlalu bahaya, aku rasa asul Hoa toako memang sangat bagus, lebih baik sekarang juga kita lanjutkan perjalanan!” Kho Hong-bwee tertawa. “Untuk mengejar orang kita harus mempunyai arah tertentu, kalau arahnya saja tidak tahu, bagaimana mungkin pengejaran bisa di lakukan?” katanya cepat. Menurut dugaanku, Kun gie memang sengaja berkaok-kaok untuk menarik perhatian orang banyak, dia mengatakan bahwa mereka akan berangkat ke Kiu ci untuk mencari harta, rupa-rupanya rahasia itu memang sengaja dibocorkan olehnya dengan harapan berita tersebut bisa terdengar oleh kita orang. “Benar!” ujar Bong Pay pula, “kejadian yang sebenarnya pastilah demikian. Hemm hemm hemm dia memang cerdik dan punya banyak akal setannya, kalau yang dikatakan urusan lain, belum tentu orang akan menaruh perhatian, tapi katakata mencari harta cukup menghebohkan siapapun yang mendengar, sudah tentu berita itu dengan cepat akan tersiar keseluruh dunia persilatan” “Ibu, Kiu ci yang dia maksudkan mungkinkah bukit Kiu ci san yang letaknya di wilayah Yong kang?” tanya Pek Soh-gie dengan wajah amat murung karena gelisah. Kho Hong-bwee mengangguk tanda membenarkan. “Benar, didaratan Tiooggoan memang terdapat beberapa tempat yang bernama Kiu ci, tapi kalau dia katakan jaraknya masih lima enam ribu li, maka tak bisa salah lagi yang dia maksudkan tentulah bukit Kiu ci san yang terletak di wilayah Yong kang!” “Bibi, apakah selama ini engkau dan toa ci berdiam diri dibukit Huan keng san?” tanya Hoa Thiao Hong dengan dahi berkerut. Kho Hong-bwee menghela napas panjang, ia mengangguk dan menyahut, “Kedua tempat itu sama-sama nama dari gunung dan sama-sama pula letaknya di barat daya” Setelah berhenti sebentar, lanjutnya, “Aku jadi agak curiga, wilayah utara maupun selatan wilayah keng ou merupakan daerah kekuasaan Sin-kie-pang, dengan dandanan mereka yang begitu menyolok, entah dengan cara apa mereka lanjutkan perjalanannya?” 0000O0000 79 SEMUA orang tertegun sebab ucapan itu memang masuk diakal, sementara suasana jadi bening dan tak seorangpun yang mampu menjawab, tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie berseru, “Aah, aku punya akal!” Dia lantas bangkit berdiri dan buru-buru lari masuk kedalam ruangan. Selang sesaat gadis itu telah muncul kembali membawa sebuah nampan beralasan kain kuning, dalam kain kuning itu tersedialah seperangkat alat untuk meramal nasib. Menyaksikan itu, Bong Pay langsung berteriak, “Aah, benar, bibi adalah seorang pertapa, soal lihat nasib, meramal nasib sudah menjadi ilmu pegangan yang paling diandalkan” Cepat Pek Soh-gie menyingkirkan cawan dan sumpit dari meja, kemudian sambil letakkan nampan itu dihadapan ia berkata. “Ibu, silahkan engkau buatkan satu ramalan untuk melihat nasib adik dewasa ini” Kho Hong-bwee tertawa. “Banyak orang mengatakan bahwa gadis cantik umurnya pendek sekalipun dalam kenyataan Kun gie terhitung seorang gadis yang ayu tapi ia masih belum terhitung seorang gadis rupawan, diapun tidak termasuk seorang manusia yang berumur pendek, aku rasa nasibnya tak perlu diramalkan lagi!” Dengan muka murung dan gelisah Pek Soh-gie memohon lebih jauh. “Mencari rejeki menghindari bencana merupakan perbuatan yang jamak bagi manusia, ibu haraplah engkau engkau suka menghitungkan nasib adik!” Sekali lagi Kho Hong-bwee tersenyum. “Rahasia langit tak boleh dibocokan, daripada mengundang kemarahan para malaikat, begini saja akan kubatasi dengan sebuah ramalan saja dan aku lihat urusan Kun gie untuk sementara waktu kita kesampingkan lebih dahulu akan kucoba untuk hitungkan nasib bagi Giok Teng Hujin saja!” Mendengar perkataan itu, dalam hati kecilnya Hoa Thianhong menghela napas panjang, pikirnya. “Satu gelombang belum tenang, gelombang lain telah datang…. aai, akulah yang menjadi biang keladi hingga terjadinya semua peristiwa ini!” Berpikir sampai disitu, diapun lantas bertanya. “Bibi, tahukah engkau Kiu-im Kaucu pada saat ini berada dimana?” “Semua kuil bekas milik Thong-thian-kauw telah dirampas orang-orang Kiu-im-kauw, menurut laporan dari bawahanku, Kiu-im Kaucu beserta kawanan jago lihaynya berkumpul semua dalam kuil It goan koan sebelah timur kota, Giok Teng Hujin sendiripun terkurung pula dalam kuil itu!” Hoa Thian-hong menghela napas berat. “Aaai….! Meskipun Kiu-im Kaucu menyatakan bahwa ia sedang menghukum Ku Ing-ing lantaran penghianatannya, pada hakekatnya ia justru sedang mencari gara-gara dengan boanpwee!” “Kalau memang begitu tujuannya, itu berarti keselamatan Ku Ing-ing untuk sementara waktu tidak terancam bahaya, beristirahatlah semalam bila kekuatanmu sudah pulih kembali barulah usahakan pertolongan….!” “Boanpwe memang sudah menyiapkan suatu rencana matang dalam soal ini,” sahut Hoa Thian bong sambil mengangguk, “oleh sebab itulah kukatakan bahwa keselamatan Kun gielah justru yang bahaya, bibi! Lebih baik ramalkan jejaknya dengan begitu kita pun bisa siapkan pertolongan baginya” Kho Hong-bwee berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk. “Kalau memang begitu, baiklah!” Sesudah cuci tangan dia lantas mengambil balok kura-kura itu dan mulai membuat ramalannya Ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong memang terhitung tinggi, akan tetapi dalam ilmu ramal meramal ia sama sekali tidak paham begitu pula dengan Bong pay, maka kedua orang ini hanya duduk membungkam di samping meja sambil menyaksikan Kho Hong-bwee membuat ramalannya. Setelah melakukan ramalan dan memperhitungkan dalam hati kecilnya, tiba-tiba dengan paras muka berubah hebat ia berseru, “Aia….! kok aneh benar….” “Bagaimina menurut isi ramalan? Apakah adik menemui mara bahaya?” tanya Pek Soh-gie dengan terperanjat. “Benar-benar sangat aneh!” ujar Kho Hong-bwee, “menurut perhitungan ramalan, semestinya Kun gie masih berada dalam kota ini!” Sesudah berhenti sebentar ia tertawa dan gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya, “Sepandai-pandainya tupai melompat toh pernah terjatuh juga, siapa tahu kalau ramalanku ini meleset?” Hoa Thian-hong segera bangkit berdiri seraya berseru, “Cuaca kadang kala cerah kadang kala mendung, nasib manusia kadangkala mujur kadangkala sial, aku rasa persoalan ini tak dapat dibiarkan berlalu dengan begitu saja, harap bibi beristirahat lebih bulu, biarlah boanpwe lakukan penggeledahan diseluruh kota” Setelah memberi hormat, dia siap berlalu dari situ. Secara diam-diam Kho Hong-bwee mengawasi terus perubahan mimik wajah si anak muda itu, melihat betapa panik dan cemasnya Hoa Thian-hong, dalam hati dia lantas berpikir, Kalau ditinjau dari kemurungan dan kegelisahan yang mencekam hatinya, sudah jelas kalau ia menaruh rasa cinta yang tebal terhadap diri Kun gie. Sementara dia masih melamun, Bong Pay telah berteriak keras, “Biarlah aku dan adik Soh-gie melakukan perjalanan bersama, akan kami periksa setiap rumah penginapan yang ada dalam kota ini!” Tiba-tiba Kho Hong-bwee bangkit berdiri lalu berkata, “Kalian tak usah memisahkan diri, kita laksanakan pencarian bersama-sama, Soh-gie! Undang kemari Oh Sam!” Oh Sam segere menyahut dan masuk kedalam ruangan, sahutnya, “Hamba ada disini!” “Perintahkan semua pelindung hukum agar siap diruang tengah untuk menerima instruksi!” Dengan hormat Oh Sam menyahut dan berlalu dari situ. Sepeninggalnya Oh Sam, barulah Kho Hong-bwee memandang sekejap ke arah pinggang Hoa Thian-hong, kemudian tegurnya, “Kemana kaburnya pedang bajamu?!” “Pedang baja telah patah, kitab Kiam keng berada dalam sakuku!” “Ooh, kiong hi, kiong hi atas keberhasilanmu itu!” seru Kho Hong-bwee kemudian. Setelah berhenti sebentar, dengan wajah serius dia melanjutkan, “Andaikata Kiu-im Kaucu memaksa engkau untuk menukar nyawa Ku Ing-ing dengan kitab Kiam keng tersebut, apa yang hendak engkau lakukan?!” Mula-mula Hoa Thian-hong agak tertegun, menyusul sahutnya, “Kalau itulah syaratnya, maka boanpwe harus pertimbangkan peraoalaa ini sebaik-baiknya!” “Ah, dalam masalah ini tak mungkin bisa dipertimbangkan lagi!” teriak Bong Pay dengan gusar, “sebagai seorang pria sejati, tidaklah pantas kalau engkau tunduk pada perintah dan tekanan musuh, sekalipun Ku Ing-ing akhirnya toh mati, setelah engkau berhasil pelajari isi kitab Kiam keng bukankah engkau dapat membunuh Kiu-im Kaucu untuk membalaskan dendam sakit hatinya? Aku lebih rela berhutang budi dan gorok leher bunuh diri daripada membiarkan kitab Kiam keng itu terjatuh ketangan Kiu-im Kaucu….!” “Setiap urusan ada sumbernya,” kata Hoa Thian-hong, “meskipun toako telah diselematkan jiwanya oleh sebatang Leng-ci, akan tetapi dahun Leng-ci tersebut kau peroleh dari tangan siaute, dalam hal ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Ku lng ing, dengan sendirinya engkaupun tak usah berterima kasih dengan mengorbankan jiwamu!” “Menurut Kun gie!” kata Kho Hong-bwee pula, “dikala ia ditangkap Pia Leng-cu, engkau pernah menembusnya dengan menggunakan pedang bajamu itu, yaa urusan itu sudah lewat, rasanya akupun tak ingin banyak berbicara lagi, tapi engkau musti ingat, kitab Kiam keng adalah gudangnya ilmu silat, sejilid kitab pusaka yang diincar banyak orang, benda itu menyangkut pula mati hidupnya dunia persilatan, oleh sebab itu aku harap engkau suka mempertimbangkan sebaik-baiknya sebelum bertindak!” “Terima kasih atas petunjuk dari bibi!” “Hoa toako!” ujar Pek Soh-gie kemudian, “pedang bajamu sudah patah, apakah engkau membutuhkan senjata lain?” “Bila ada sebilah pedang panjang, tolong berilah sebilah untuk Sian te….” Pek Soh-gie segera masuk kedalam ruangan, selang sesaat ia telah muncul kembali menyerahkan sebilah pedang panjang kepada pemuda itu. Hoa Thian-hong segera menggembolnya dipinggang, setelah membopong Soat-ji bersama-sama jago yang lain mereka menuju keruang tengah. Disana telah menanti beberapa puluh orang pelindung hukum, hiangcu dan tongcu, Kho Hong-bwee segera menghitung jumlahnya kemudian berangkatlah melakukan pencarian. Setelah keluar dari kantor cabang kota Cho ciu, Kho Hongbwee memimpin rombongan itu menuju kepintu kota sebelah selatan. Waktu itu fajar belum menyingsing, jalan raya sepi dan tak tampak seorang manusia pun yang berlalu lalang. Tampaknya Kho Hong-bwee telah mempunyai keyakinan, dia memimpin rombongan itu bergerak maju kedepan, sedikitpun tidak tampak ragu-ragu. Selang sesaat sampailah mereka kepintu selatan, karena pintu kota masih tertutup maka mereka masing-masing loncat naik keatas tembok kota, Tiba-tiba Hoa Thian-hong merasakan hatinya tergerak, pikirnya. “Kalau dilihat keyakinannya yang begitu tebal, mungkinkah ramalannya memang tepat sekali?” Sementara ingatan itu masih melintas dalam benaknya, semua orang sudah melompat keatas tembok kota, dari situ tampaklah Kho Hong-bwee dengan sorot mata yang tajam bagaikan kilat sedang mengawasi ke arah tenggara tanpa berkedip. Hoa Thian-hong ikut memandang ke arah situ, apa yang dilihat hanyalah kegelapan ditengah keheningan, tak sesuatu apapun yang terlibat olehnya. Oh Sam menyusul tiba kesana setelab menengok sekejap kedepan, tiba-tiba katanya. “Lapor cubo, tempat itu masih memancarkan cahaya merah, agaknya baru saja dilanda kebakaran” Kho Hong-bwee mengangguk, sambil ulapkan tangannya ia lantas berseru. “Hayo berangkat!” Ia lompat turun lebih dahulu dan bergerak menuju ke arah mana munculnya cahaya merah tadi. Kawanan jago lainnya membungkam dalam seribu bahasa, melihat pemimpinnya sudah berangkat semua orangpun ikut menyusul dari belakang, semangat mereka tinggi dan keberaniannya mengagumkan. Rupanya cahaya merah itu berasal dari sebuah dusun yang jaraknya kurang lebih lima enam li dari kota, tentu saja jarak sedekat itu tidak dipandang sebelah mata oleh orang-orang itu, tak selang beberapa saat kemudian sampailah mereka didepan dusun itu. Dalam dusun tadi hanya terdapat tiga pulubhan keluarga petani, rumah mereka terbuat dari batu bata, rupanya kebakaran hanya terjadi disebuah gedung belaka, waktu itu api masih belum padam, sementara para penduduk desa yang menonton apipun masih berkerumun disitu sambil saling mem bicarakan peristiwa itu. Tiba-tiba suasana yang semula gaduh menjadi hening dan sepi kiranya kedatangan sege-rombolan jago silat ini cukup mengejutkan orang-orang itu. Dengan sorot mata yang tajam, Kho Hong-bwee menyapu sekejap sekitar tempat itu, kemudien sambil menatap seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan yang berdandan sebagai seorang hartawan, tegurnya. “Maaf kalau mengganggu sebentar lo wangwe, terimalah hormat dari pinto Kho Hong-bwee” Ketika orang itu melihat bahwa pemimpin dari rombongan orang persilatan itu adalah seorang to koh berusia pertengahan, rasa kaget yang semula menghiasi wajahnya kian bertambah menyurut, akan tetapi setelah mendengar nama Kho Hong-bwee, tiba-tiba paras mukanya kembali berubah, untuk sesaat lamanya ia tak mengucapkan sepatah katapun. Kho Hong-bwee tidak menggubris sikap orangitu, sambil tertawa ia menegur lagi, “Lo wangwe, boleh aku tahu siapa namamu?” Buru-buru orang itu maju beberapa langkah kedepan, seraya menjura sahutnya, “Aku seorang rakyat kecil yang bernama Lau Cu cing!” “Oooh Rupanya Lau wangwe, apakah rumah gedung wangwe yang ketimpa bencana kebakaran?” “Benar…. benar….” jawab Lau Cu cing sambil beberapa kali mengangguk. Dibelakang hartawan itu berkumpul pula sekawanan orang perempuan, pelbagai macam barang peti dan bungkusan tersebar di tanah, sekilas pandangan siapapun akan tahu bahwa merekalah yang telah ketimpa bencana kebakaran itu. “Setelah Lau wangwe ketimpa bencana, sebetulnya tidaklah pantas bagi kami untuk mengganggu kesedihan yang kalian alami, tapi berhubung ada sedikit persoalan yang mau tak mau harus diperiksa, maka terpaksa kami harus mengganggu sebentar ketenangan wangwe!” “Aaah…. mana…. mana…. kalau tootiang ada persoalan silahkan saja diajukan!” “Boleh aku tahu lo wangwe, kebakaran ini disebabkan karena kurang hati-hati ataukah dikarenakan perbuatan dari musuh kalian?” “Ooh…. kejadian ini karena kurang hati-hati orang kami sendiri, aku cuma seorang rakyat kecil yang tidak mempunyai musuh besar, meskipun kebakaran ini telah menghancurkan rumah leluhur, untung saja tidak sampai melukai orang!” Dari ucapan tersebut dapatlah diketahui bahwa hartawan ini, masih merasa beruntung meskipun di tengah kesedihan. Dalam anggapan orang lain, setelah hartawan ini menerangkan bahwa kebakaran disebabkan ketidak sengajaan dan sama sekali tiada hubungannya dengan musuh besar yang mencari balas, Kho Hong-bwee pasti akan membawa anak buahnya berlalu dari sana. Apa yang terjadi? Ternyata Kho Hong-bwee malahan ulapkan tangannya ke arah Oh Sam sekalian sambil memerintahkan, “Periksalah disekitar tempat ini, coba lihat apakah ada sesuatu tanda yang mencurigakan?” Oh Sam sekalian segera mengiakan dan menyebarkan diri untuk melakukan pemeriksaan, ada yang masuk kedalam dusun, ada pula yang keluar dari dusun itu, semua gerak-gerik mereka dilakukan dengan teratur dan tenang, sedikitpun tidak tampak berisik. Setelah anak buahnya menyebarkan diri Kho Hong-bwee bertanya lagi, “Lau wangwe, badanmu tetap semangatmu berkobar, aku rasa tentunya engkau adalah seorang jago persilatan bukan?” “Waktu masih muda siau bin (rakyat kecil) pernah belajar ilmu bela diri kampungan, tujuanku tak lebih hanya untuk menyehatkan badan, tak berani Siau bin anggap diriku sebagai seorang jago persilatan!” “Apakah Lau wangwe kenal dengan asal usul kami?” tanya Kho Hong-bwee sambil tersenyum. “Bila dugaan Siau bin tidak keliru, semestinya tootiang sekalian adaleh para enghiong dari perkumpulan Sin-kiepang!” jawab Lau Cu cing setelah ragu sejenak. Setelah berhenti untuk tukar napas, dia melanjutkan kembali lebih jauh, “Setiap penduduk Cho ciu sebagian besar mengetahui urusan tentang dunia persilatan sekalipun Siau bin jarang sekali melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, tetapi seringkali kudengar orang membicarakannya, maka dari itu Siau bin dapat menebak asal usul dari tootiang serta para enghiong sekalian” Kho Hong-bwee mengerutkan dahinya, lantas berpaling dan bisiknya kepada Hoa Thian-hong dengan nada lirih. “Rupanya nama jelek kami telah membangkitkan rasa was was dalam hati wangwe ini, sekalipun ia tahu duduknya perkara belum tentu bersedia untuk menerangkapnya kepada kita, bagaimana sekarang baiknya?!” “Pengalaman boanpwe dalam dunia persilatan terlalu cetek, aku tidak berhasil menebak apa alasannnya sehingga wangwe itu berbuat demikian?” sahut Hoa Thian-hong dengan muka kesal. Bong Pay yang selama ini membungkam, tiba-tiba menyela dari samping. “Aku lihat toa moay sangat lembut dan halus budinya, bagaimana kilau kita suruh dia saja yang menanyakan?” Pek Soh-gie memandang sekejip ke arah ibunya, kemudian dengan langkah yang lemah gemulai menghampiri Lau Cu cing, sehabis memberi hormat katanya dengan lembut, “Lo wangwe, siau li mempunyai seorang adik kembar yang terjatuh kelansan musuh, jiwanya terancam bahaya dan kami sedang mencari jejaknya, apabila lo wangwe mengetahui jejaknya, sudilah kiranya memberikan petunjuk untuk kami, atas bantuan dari lo wangwe itu kami pastilah akan merasa amat berterima kasih!” Sementara itu fajar telah menyingsing, ketika mendengar perka-taan tersebut, Lau Cu cing segera alihkan perhatiannya ke atas wajah Pek Soh-gie ketika menyaksikan raut wajahnya tiba-tiba ia terperanjat dan mundur selangkah kebelakang sambil goyangkan tangannya berulang kali. “Nona, aku harap engkau jangan banyak menaruh curiga!” serunya dengan cepat, “aku bukan seorang jago persilatan, dan aku pun tidak tahu dimanakah adikmu berada, aku harap engkau janganlah mendesak diri ku sehingga aku tak mampi berbuat apa-apa” Mendengar perkataan itu Pok Soh-gie lantas alihkan soror matanya ke arah ibuaya, dengan perasaan apa boleh buat dia gelengkan kepalanya berulang kali. Jangankan Pek Hujin, Hoa Thian-hong sendiripun dapat mengetahui bahwa sebab musabab terjadinya kebakaran digedung keluarga Lau tersebut sudah pasti bukan belatar belakang karena ketidak sengajaan, akan tetapi setelah dilihatnya hartawan itu bersikeras untuk membungkam dalam seribu bahasa, tentu saja Kho Hong-bwee maupun Hoa Thianhong tidak ingin memaksa dengan memakai kekerasan. Selang sesaat, para jago yang dikirim untuk melakukan pencarian di empat penjuru telah kembali kesitu, ternyata mereka tidak berhasil menemukan sesuatu apapun yang mencurigakan. Waktu itu Oh Sam juga sedang kembali kepasukannya, ketika ia lewat disamping sebuah pohon yang besar, tiba-tiba wajahnya agak tertegun kemudian secepat kilat menghampiri pohon itu dan memeriksanya dengan seksama. Kemudian dengan suara keras dia berseru, “Hoa kongcu, cepat kemari!” Hoa Thian-hong sangat terperanjat, cepat dia maju ke depan diikuti kawanan jago lainnya, bahkan Lau Cu cing ikut pula di paling belakang. Pohon Waru itu sangat besar, daunnya rimbun dan tumbuh tepat didepan gedung keluarga Lau yang terbakar, jaraknya hanya empat lima kaki saja. Pada bagian belakang dahan pohon itu tampaklah kulitnya telah disayat orang bagian, sementara diatas dahan yang tersayat itu diukir beberapa buah tulisan dengan ilmu sebangsa tim kongci yang sangat kuat hingga membekaslah seringkaian tulisan yang nyata. Adapun tulisan itu, kira-kira berbunyi demikian, “Ditujukan Hoa Thian-hong, Berangkat ke Kiu ci secepat mungkin, segera!” Tulisan Segera itu tulisan dengan sangat cepat, dibawahnya tercantumlah sebuah tanda bulatan yang diberi ekor, sekilas pandangan orang akan mengira gambaran itu sebagai gambaran kecubong (anakan katak). Orang lain tidak kenal tanda tersebut lain halnya dengan Bong Pay, begitu mengetahui lambang tadi kontan dia berseru, “Lhoo…. ini kan lambang kipas dari Cu supek?” Hoa Thian-hong mengawasinya dengan lebih seksama sesudah mendengar seruan itu, memang ucapan itu tak salah, lukisan tersebut memang mirip sekali dengan gambar sebuah kipas, maka kepada Kho Hong-bwee dia lantas berkata, “Bibi, tulisan ini rupanya sengaja ditinggalkan Dewa yang suka pelancongan Cu lo cianpwe, kalau dugaanku tak keliru, tulisan ini pastilah ada hubungannya dengan masalah Kun gie!” Pek Soh-gie maju menghampiri tulisan itu setelah diraba sebentar diapun berkata pula, “Tulisan ini masih basah, tampaknya di buat belum lama berselang!” Sampai disitu Kho Hong-bwee pun berpaling lagi ke arah Lau Cu ci ng seraya berkata, “Lau wangwe, kami sama sekali tidak mempunyai maksud jahat terhadap dirimu, bila engkau tahu tentang jejak putriku itu, mohon sudilah kiranya memberitahukan kepada kami, pinto pasti akan membalas budi kebaikan itu!” “Siau bin benar-benar tak tahu urusan, tiada sesuatu yang mampu kuucapkan!” sahut Lau Cu cing sambil berbungkokbungkok. Mendengar perkataan itu, para jago dari Sin-kie-pang ratarata menunjukkan wajah kegusaran, walau begitu mereka tak berani mengutarakan kebuasan mereka itu dihadapaa umum, sebab semua orang tahu nyonya ketua yang memimpin mereka sekarang terhitung seorang pemimpin yang jujur. Dalam keadaan begini, apa lagi yang bisa mereka lakukan kecuali secara diam-diam melotot ke arah Lau Cu cing dengan muka buas. Dipelototi banyak orang, Lau Cu cing jadi serba salah dan merasa amat tidak tenteram, sorot malanya berulang kali melirik ke arah Hoa Thian-hong dengan maksud mohon pertolongannya. Kendatipun merasa curiga, Hoa Thian-hong tidak sampai bersikap lain, ia menjura dan berkata. “Aku adalah Hoa Thian-hong, apakah lo wangwe akan memberikan sesuatu petunjuk?” Buru-buru Lau Cu cing balas memberi hormat, sahutnya. “Sudah lama aku dangar orang berkata bahwa Hoa tayhiap mempunyai sebilah pedang baja yang berwarna hitam dan selalu tergantung di pin gang, kenapa….” Belum habis orang itu berkata, Hoa Thian-hong telah menukas sambil tertawa tergelak. “Haahh…. haahhh…. haahhh…. pedang baja itu sudah patah jadi dua, maka sebagai gantinya aku telah menggembol sebilah pedang yang lain!” Lau Cu cing mengangguk tiada hentinya dan berseru, “Aku memang benar-benar tiada sesuatu yang dapat dikatakan!” Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Hoa tayhiap adalah enghiong yang dipuji dan dihormati oleh setiap umat persilatan apabila ada hal-hal yang perlu kuberitahukan sudah pasti akan kuutarakan secara blak-blakan” “Aaah, aku masih muda, aku tak berani menerima kebaikan dari Lo wangwee!” kata pemuda itu lagi sambil tertawa. Sementara itu Kho Hong-bwee yang mengamati terus dari samping, diam-diam berpikir dalam hati, “Licik amat kakek tua ini, tampaknya dia termasuk pula seorang lakon tersembunyi!” Sesudah termenung sebentar, dia lantas bertanya, “Thian bong, apa rencanamu selanjutnya?” “Aaaai….! Sekarang boanpwe toh sudah berada dikota Cho ciu, bila kukesampingkaa urusan Ku Ing-ing dengan begitu saja, terus terang saja dalam hati kecilku aku merasa tak tega….” “Baik!” tukas Kho Hong-bwee kemudian, aku dan mereka semua akan melakukan pengejaran lebih dahulu, bila urusanmu disini sudah selesai segeralah menyusul kami!” “Boanpwe terima perintah” sahut Hoa Thian-hong sambil memberi hormat. Kho Hong-bwee tampak menggetarkan bibirnya seperti mau mengatakan sesuatu lagi tapi maksud itu akhirnya dibatalkan, sambil memimpin anak buahnya berangkatlah mereka menuju keselatan. Menanti rombongan itu sudah lenyap dari pandangan, Hoa Thian-hong baru menghela napas panjang, ia merasakan kesepian. Selang sesaat kemudian, dia baru menghapus tulisan Cu Thong itu dan manjura ke arah Lau Cu cing, tanpa mengucapkan kata-kata lagi dia membawa Soat-ji rase salju itu kembali ke kota. Setelah kembali kedalam kota, dia ambil keputusan untuk menyusup kedalam kuil It goan koan malam itu juga, kalau bisa Ku Ing-ing akan sekalian diselamatkan jiwanya, maka begitu tiba dirumah penginapan dia lantas tidur nyenyak. Ketika bangun tengah hari itu, dia lantas menyembuhkan kembali luka yang diderita Soat-ji dengan tenaga dalamnya yang sempurna, selesai bersantap siang, Soat-ji tidur diatas pembaringan sedangkan Hoa Thian-hong ambil keluar kitab kiam keng itu dan mempelajarinya didepan meja. Pada halaman pertama, tercantumlah masalah tentang pedang sebagai suatu benda, ternyata apa yang dibicarakan sama sekali berbeda dengan kitab pedang manapun juga. Kalau didalam kitab pedang biasa maka yang dititik beratkan adalah jurus serangannya yang khusus, maka dalam kitab kiam keng ini yang dibicarakan adalah soal ilmu pedang itu sendiri, sekalipun disertai juga hampir seratus macam lukisan yang berbeda-beda akan tetapi isinya berlainan dan terselip perubahan yang begitu banyak nya sehingga tak mungkin bisa dipercayakan dalam waktu singkat. Dalam waktu singkat Hoa Thian-hong telah terjerumus kedalam isi kitab itu, seluruh perhatiannya dikonsentrasikan menjadi satu, tanpa terasa malam pun menjalang tiba, selama ini meskipun ada sebagian kecil dari isi kitab itu dapat dipahami olehnya, tapi dapatkah ilmu itu dimanfaatkan bila terjadi pertarungan, masih merupakan sebuah tanda tanya besar. Setelah menyimpan kembali kitab Kiam keng, pelayan datang membawa lampu lentera den siapkan makanan. Soat-ji masih berbaring diatas pembaringan, sepasang matanya memancarkan sinar tajam, rupanya kesehatannya telah pulih kembali seperti sedia kala…. Hoa Thian-hong memandang sekejap, ke arah binatang itu, lalu tertawa pikirnya di hati, “Soat-ji memang hebat dan berbahaya, kalau tenang ia lebih tenang dari perawan kalau sudah bergerak lebih cepat dari loncatan kelinci…. tidak aneh kalau waktu turun tangan kelihayannya luar biasa….” Sepasang telapak tangannya segera diluruskan kedepan dan bersiul nyaring. Secepat sambaran kilat Soat-ji makhluk aneh itu melompat ketanggan Hoa Thian-hong deagan seksama pemuda itu memeriksa seku jur tubuhnya, setelah mengetahui bahwa lukanya telah sembuh, ia merasa amat gembira maka ditaruhnya binatang itu diatas meja untuk bersantap bersamasama. Hubungan manusia dengan binatang ini berlangsung makin akrab, diam-diam pemuda ini menjadi terkenang kembali akan diri Giok Teng Hujin, tiada hentinya ia menghela napas panjang. Tiba-tiba terdengar suara langkah manusia berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul pintu kamar sebelah dibuka orang, kalau didengar dari pembicaraan tersebut, rupanya ada dua orang yang menginap dalam sebuah kamar. Suara pembicaraan kedua orang itu amat nyaring dan bertenaga, seringkali kata-katanya disertai pula dengan kata sandi yang sering dipakai orang persilatan. Dari pembicaraan tersebut Hoa Thian-hong segera mengetahui bahwa kedua orang itu adalah jago dari kalangan hitam, maka diapun tidak menaruh perhatian khusus. Jilid 26 : Menyelamatkan Giok Teng Hujin SELANG sesaat kemudian, kedua orang itupun bersantap didalam kamar, tiba-tiba terdengar seorang diantaranya yang lebih muda berkata, “Ang kiu ko, sebenarnya siapa yang telah membocorkan rahasia itu hingga urusan jadi heboh?” Suara dari orang she Ang itu kedengaran lebih serak dan bertenaga, terdengar dia segera menyahut, “Perduli amat berita itu berasal dari siapa, pokoknya urusan kita adalah melaksanakan tugas tersebut!” Orang yang pertama tadi rupanya meneguk dulu araknya, kemudian dengan suara berat katanya lagi, “Aaaai….! Siaute kuatir kalau perjalanan kita cuma sia-sia belaka, sekali lagi kita ke tanggor batunya….” “Ingat saudara, tembok bertelinga, lebih baik tak usah kau ungkap lagi masalah itu, Hmm! Kalau engkau tidak ingin mencari nama dan kedudukan silahkan saja pulang ke rumah membopong anak meniduri istri dan hidup riang gembira, siapa yang akan mengurusi dirimu lagi!” Orang itu segera tertawa dingin dan berseru dengan nada mendongkol, “Heehh…. heeeh…. heehh…. omong kosong, aku Ciang Kin bukan seorang manusia yang takut mati, aku cuma merasa bahwa ilmu silat yang dimiliki lawan kita terlampau tinggi padahal Hong-im-hwie sudah hancur berantakan dan tercerai berai, dengan andalkan kita beberapa orang prajurit yang kalah perang rasanya masih bisa untuk mencari posisi yang menguntungkan, kalau cuma jiwa yang melayang sih urusan kecil, bagaimana kalau sampai ditertawakan orang?” Hoa Thian-hong yang mencari dengar pembicaraan itu, dalam hatinya segera berpikir. “Aaah….! rupanya sisa-sisa komplotan dari Hong-im-hwie, entah urusan penting apakah yang sedang mereka kerjakan?” Terdengar orang she Ang itu berkata lagi dengan suara lirih, “Inilah kesempatan bagi kita untuk membalikan diri dan mencari kedudukan, sekalipun harus korbankan jiwa tua kita juga harus melaksanakannya dengan mati-matian!” Ciang Kin lantas berbisik pula dengan suara lembut. “Menurut berita yang kudengar, katanya musuh besar kita mendapat perintah ibunya untuk pulang kedesa, ketika tiba dikota Lok yang tiba-tiba ia berputar arah, menurut berita kemarin hari dia telah munculkan diri di Hoo lam….” Pembicaraan kedua orang itu makin lama semakin lirih, buru-buru Hoa Thian-hong pusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan pembicaraan tersebut dengan seksama. Terdengarlah orang she Ang itu sedang berbisik dengan suara yang sangat lirih, “Pendapatmu itu keliru besar, meskipun ilmu silat yang dimiliki musuh besar kita sangat lihay, tapi dia bukan seorang manusia yang serakah, bahkan dia anggap dirinya sebagai seorang pendekar, maka setiap perbuatannya dilakukan menurut cengli, maka dalam masalah ini bukan dia yang musti kita kuatirkan, tapi nenek sialan dari Kiu-im-kauw dan Pek loji dari Sin-kie-pang!” “Cong tang kee memerintahkan kita semua agar berkumpul di kota Kim leng, apakah kita harus berjalan mengitari dulu propinsi Hok kian langsung menuju Bu gi?” “Tentu saja bukan begitu maksudnya,” jawab orang she Ang dengan suara dingin, “cong tangkee memerintahkan semua teman agar berputar melewati arah tenggara, maksudnya hanya untuk menghindari bentrokan dengan pihak Sin-kie-pang, padahal kota Kiu ci bila dimaksudkan sebagai arti suatu tempat maka letak yang sebenarnya adalah dikaresidenan Pa kay di Ghong see, kalau diartikan sebagai nama sungai maka letaknya dekat Tan yang di propinsi Kang siok, bila diartikan sebagai nama telaga letaknya ada di sebelah timur laut karesidenan Kang ling, telaga itu dibuat oleh Beng taysu pada jaman Liang dengan tenaga manusia, tapi kalau dimaksudkan sebagai bukit Kiu ci…. waah banyak sekali jumlahnya!” “Pengetahuan siaute amat cetek, aku hanya tahu di karesidenan Huan sui sian pada propinsi Hoo tam terdapatt sebuah bukit Kiu ci san, Kiu ko!” “Coba terangkanlah ditempat mana lagi terdapat bukit yang bernama bukit Kiu ci san!” “Disebelah barat keresidenan Ciau hua sian pada propinsi Su chian terdapat sebuah bukit yang bernama Kiu ci san, disebelah utara karesidenan Sam kang sian dipropinsi Kwang see terdapat pula sebuah bukit kiu ci san, bukit itu bentuknya sembilan buah patahan dan terdiri dari batu karang yang tajam, ditengahnya terdapat sebuah air terjun yang amat besar, inilah bukit Kiu ci san yang sebenarnya, sedang bukit Bu gi san di propinsi Hok kian terdapat pula sembilan buah tekukan, pemandangan disitu sangat indah, namun dalam kenyataan bukit itu bukanlah bernama bukit Kiu ci!” “Jadi kalau begitu tempat yang kita tuju adalah bukit kiu ci san yang letaknya ada di See lam?” Orang she Ang itu tidak menjawab, rupanya ia lagi mengangguk. Terdengar Ciang Kin berkata lagi, “Oooh….! Rupanya Kiu ko sudah pernah menjajahi seluruh kolong langit sehingga pengetahuannya begitu luas, sudah banyak tahun siaute bergaul dengan dirimu, sungguh tak nyana engkau adalah manusia selihay itu!” “Aah. aku sih cuma mendengarnya dari Cong tangkee kita!” “Sekalipun begitu, toh pengetahuanmu jauh lebih luas daripada aku sendiri!” Diam-diam Hoa Thian-hong tertawa geli setelah mendengar perkataan itu, ketika ia merasa bahwa pembicaraan selanjutnya adalah kata-kata yang tidak penting, dia lantas menggembol pedangnya, membopong Soat-ji dan diam-diam tinggalkan rumah penginapan itu. Waktu itu senja telah menjelang tiba, jalan raya ramai sekali, dengan langkah yang santai Hoa Thian-hong menyelusuri jalan menuju selatan pintu kota. Selang sesaat kemudian sampailah anak muda itu disekitar kuil It goan koan, dari kejauhan tampaklah pintu gerbang kuil itu tertutup rapat, sepintas lalu bangunan itu sudah tidak mirip sebuah kuil lagi, cahaya lampu menerangi seleruh penjuru, dari situ dapatlah diketahui bahwa jumlah penghuni yang bberada disitu amat banyak. Setelah memandang sekejap dari kejauhan, anak muda itu segera menyusup masuk kedalam sebuah lorong dan menyelinap kebelakang bangunan kuil tadi. Dibelakang halaman kuil terdapat sebuah loteng yang terdiri dari empat tingkat, bangunannya amat megah dan mentereng, dahulunya merupakan tempat penting dari It goan koan, bahkan ketika Giok Teng Hujin menjamu Hoa Thianhong tempo hari, perjamuan itupun diadakan pada tingkat paling tinggi dari bangunan tersebut. Dalam hati Hoa Thian-hong lantas berpikir, “Bila Kiu-im Kaucu berada didalam kuil dia sudah pasti berada dalam bangunan itu, tapi dimanakah Giok Teng Hujin disekap?” Tiba-tiba ia saksikan dua sosok bayangan manusia berkelebat lewat didepan sana, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedua orang itu sudah mencapai puncak kesempurnaan hingga gerak-geriknya begitu enteng bagaikan segulung asap ringan saja. Mula-mula Hoa Thian-hong merasa terperanjat tapi setelah mengetahui siapakah kedua orang itu ia jadi sangat kegirangan buru-buru serunya dengan ilmu menyampaikan suara, “Paman Suma….” Kiranya salah seorang diantara dua orang yang memakai baju hijau dan menyoren pedang itu tak lain adalah Kiu mio kiam kek (jago pedang berjiwa rangkap sembilan) bermuka putih, berambut panjang dan berjubah pendeta warna abuabu, senjatanya adalah sebuah sekop perak, siapa lagi kalau bukan Cu Im taysu…. Pada saat itu Suma Tiang-cing sudah siap melompat kedalam pekarangan kuil, ketika mendengar pangilan tersebut ia batalkan niatnya dan malahan menghampiri si anak muda itu. Hoa Thiian hong segera menyambut kedatangan kedua orang itu, baru saja ia hendak memberi hormat, Cu Im taysu telah memburu datang sambil membangunkan anak muda itu. “Nak, sudah lama engkau tiba di sini?” tegurnya sambil tertawa ramah. “Tengah malam kemarin boanpwe baru sampai disini, ada urusan apa taysu dan paman Suma datang kesini?” Kiu mio kiam kek, Suma Tiang-cing segera menjawab, “Aku dan taysu baru saja pulang setelah berpesiar kebukit Tay san, sepanjang jalan aku dengar orang berkata bahwa Kiu-im Kaucu telah menuju ke kota Lok yang bahkan berhasil menangkap Giok Teng Hujin yang mengkhianati dirinya. Mendengar berita tersebut aku segera memburu datang kemari dengan harapan bisa selamatkan jiwanya, sebab ketika jiwaku terancam tempo hari, berkat beberapa tetes Leng-ci mustika pemberian Ku Ing-ing lah jiwaku selamat, aku tak bisa melupakan budi kebaikannya ini….!” Hoa Thian-hong sama sekali tidak menyangka kalau sebatang Leng-ci pemberian Ku Ing-ing telah mengundang bantuan yang begitu banyak dari kawan-kawan persilatan, pada hal dua pertiga diantaranya sudah dia makan sendiri, sedangkan sisanya sepertiga pun harus dibagi untuk Suma Tiang-cing, Chin Giok long dan Bong Pay. Berbicara menurut perbuatan yang telah dilakukan Ku Inging selama ini, semestinya Suma Tiang-cing yang benci akan kejahatan tak mungkin akan singsingkan lengan baju untuk membantu dirinya, tapi kenyataannya jago berangasan itu telah datang kemari untuk memberikan pertolongan, kejadian ini boleh dibilang sama sekali diluar dugaan siapapun. Melihat wajah Hoa Thian-hong yang diliputi kesedihan dan kemurungan, Cu Im taysu merasa tak tega, segera sahutnya, “Nak, janganlah murung! Sebenarnya aku dan paman Samu mu sudah kelabakan setengah mati, sekarang setelah bertambah dengan kau seorang maka berarti kesempatan kita untuk menolong orang semakin besar, mari kita rundingkan sampai masak, kemudian segera turun tangan!” Haruslah diketahui, meskipun Hoa Thian-hong tersohor didunia persilatan, perawakannya tinggi kekar, orangnya jujur dan wataknya tegas, akan tetapi pada hakekatnya dia baru berusia sembilan belas tahun, di riridingkan Chin Wan-hong dan Pek Kun Ci pun masih jauh lebih muda, ia termasuk seorang pemuda yang cerdik tanpa menghi langkan sifat kejujurannya, sederhana, polos tapi tidak bodoh, terhadap kaum yang lebih tuapun sangat menaruh hormat…. Oleh sebab itulah kebanyakan orang persilatan dari golongan lurus sama-sama menyayangi dirinya, menganggap dia sebagai seorang rekan yang baik, hanya saja ada sebagian orang mengutarakan perasaannya itu secara terus terang, ada pula yang cuma menyimpannya didalam hati. Sementara itu Suma Tiang-cing telah menuding ke arah loteng tinggi didalam kompleks kuil It goan koan seraya berkata, “Ketika senja menjelang tiba tadi, aku telah menyusup kedalam kuil dan berhasil menangkap seorang imam cilik dari Thong-thian-kauw, imam cilik itu bertugas sebagai pelayan yang melayani orang-orang Kiu-im-kauw, menurut pengakuannya, Kiu-im Kaucu berdiam ditingkat ketiga bangunan loteng itu, sedangkan Ku Ing-ing disekap pada loteng tingkat paling atas dan sedang menjalankan siksaan Api dingin melelehkan sukma yang amat keji, bagaimanakah cara menjalankan siksaan tersebut dia t
Dwi Black


bangun+rumah 's link
Ibu temanku yang semok   Saya berangkat dari Bandung siang hari, sampai di sana sudah malam. Setibanya saya di rumah sahabat saya, saya langsung memencet bel pintu rumah. Begitu bel dipencet, keluarlah seorang wanita setengah baya, dan dia adalah ibu sahabat saya, namanya Ibu Ita. O ya.., Ibu Ita adalah seorang janda, umurnya saya perkirakan sekitar 39 tahun. Walaupun umurnya sudah hampir mencapai kepala 4, tetapi masih kelihatan seksi dan montok, walaupun buah dada yang besar itu sedikit kendor. "Malam Bu..," sapa saya. "Ooo, Nak Dedi. Malam juga.., ayo masuk..!" balasnya, lalu saya pun masuk ke dalam ruang tamu. "Sama sapa kamu Ded..?" tanyanya. "Saya sendiri Bu, o ya.., Rinto mana Bu..?" saya balik bertanya. "Rinto sedang ke Batam, kemaren dia berangkat, dia ada panggilan kerja di sana." katanya. "Ke Batam..?" tanya saya penuh heran dan sedikit kecewa. "O ya.., Dedi tidur dimana..?" tanya Bu Ita. "Ngga tau nich Bu.., mungkin saya akan langsung balik lagi ke Bandung, soalnya Rinto ngga ada sich Bu.." kata saya. "Jangan pulang dulu Nak Dedi, mendingan kamu tidur aja disini, sekarang kan sudah malam, lagian tuch masih ada kamar kosong.." katanya. Saya diam sejenak dan mempertimbangkan ajakannya. "Oke dech Bu.., saya akan menginap beberapa hari lagi disini.." kata saya. "Ayo.., bawa tas kamu ke kamar depan. Kalau mau mandi silahkan aja, ada air hangatnya tuh di kamar mandi" katanya sambil tersenyum manis kepada saya. Lalu saya membawa tas saya dan masuk ke kamar tamu, setelah itu saya menuju ke kamar mandi, lalu mandi dengan air panas. Setelah mandi, dengan masih handuk dililitkan di pinggang, saya melihat Ibu Ita sedang menyiapkan makanan buat saya. Tanpa menyapa dan hanya melempar senyum, saya berlalu masuk ke kamar. Sesampainya di kamar, saya tidak langsung memakai pakaian, tetapi saya telanjang bulat di hadapan cermin sambil membayangkan jika batang keperkasaan saya ini dinikmati oleh Ibu Ita. Saya berdiri dengan bergaya sambil memainkan batang kejantanan saya hingga benda itu tegak dan mengeras. Tetapi begitu terkejutnya saya ketika tiba-tiba pintu kamar dibuka oleh Ibu Ita. Lalu dengan seketika saya menghadap pintu yang dibuka oleh Ibu Ita dengan membebaskan batang kejantanan saya dilihat Ibu Ita, dan Ibu Ita hanya bisa menatap terpana akan keindahan batang kejantanan saya. Setelah beberapa detik terdiam, Ibu Ita pun berbicara, "Ded.. makanan udah Ibu siapin.., ayo makan bareng yuk..!" ajaknya tersipu malu dan menampakkan wajahnya yang memerah. "Baik Bu, sebentar lagi.., Dedi pakai pakaian dulu.." kata saya, lalu pintu pun tertutup kembali. Setelah berpakaian, saya pun keluar ke arah ruang makan. Sesampainya disana, saya sempat terpana juga, ternyata Ibu Ita sudah mengganti bajunya dengan daster tidur yang tipis dan transparan. Ibu Ita memakai BH dan CD berwarna hitam, menambah pikiran saya yang tak karuan. Lalu dengan santai saya berjalan menuju meja makan, dan kami berdua pun langsung makan. Di meja makan kami pun terlibat percakapan. Dia menceritakan bahwa selama ini dia sangat kesepian setelah ditinggal suaminya, sedangkan dengan keberadaan Rinto masih kurang, sebab Rinto jarang berada di rumah. Tetapi betapa terkejutnya saya saat Ibu Ita meminta saya untuk menemaninya tidur di kamarnya. Dengan terkejutnya hingga saya tersedak makan. Lalu dengan reflek, Ibu Ita berdiri dan menghampiri saya. Dari belakang, punggung saya diusap- usap sambil dia berkata, "Kalo makan hati-hati donk..!" Tapi entah sengaja atau tidak, buah dada yang besar itu menempel di punggung saya, membuat adik kecil saya yang di bawah mulai bangun. Lalu tanpa diduga, Ibu Ita yang sudah sangat menginginkan kehangatan lelaki, mulai agresif menciumi leher dan langsung ke pipi saya. Dengan nafsu yang sudah menggebu- gebu, saya pun merangkul tubuh Ibu Ita dan langsung membalas ciumannya. Sambil berciuman, tangan saya mulai bergirlya meraba-raba dan meremas- remas buah dada yang besar itu. Ibu Ita hanya merintih dan badannya menggelinjang. 15 menit kami saling berciuman, lalu kami menghentikan acara ciuman kami. Tanpa harus bertanya lagi, Ibu Ita mengajak saya ke kamarnya, dengan memegang tangan saya. Saya dituntun menuju kamar tidurnya. Begitu di dalam kamar, pintu kamar dia kunci, lalu dia melepaskan baju saya dan celana hingga bugil dengan ganasnya. Lalu saya disuruh naik ke atas tempat tidur dan saya disuruh berbaring. Dengan semangat 45, Ibu Ita menciumi saya dari atas hingga bawah, betapa nikmat dan gelinya ketika batang kemaluan saya dijilatnya, dikulum dan disedot-sedot sambil dikocok-kocok halus. 15 menit kemudian saya sudah tidak dapat menahan kenikmatan dari mulutnya, lalu, "Croott.. crroott.. crroott.." air mani saya pun muncrat ke dalam mulutnya. Dengan bangganya air mani saya ditelan hingga habis, mulai dari helm sampai batang kemaluan saya pun dibersihkan dengan lidahnya. Dengan perasaan tidak mau kalah, saya langsung membuka satu persatu pakaian yang dipakai Ibu Ita hingga bugil, dan aku membaringkannya di ranjang itu. Saya pun mulai menciuminya dan meremas-remas sambil menyedot-nyedot buah dada yang besar dan indah itu. "Hmm.., terus Ded..! Iya itu.. enak.., aahh.., terus sayang..!" rintihnya. Lalu saya pun mulai turun menciuminya dan mulai saya menyibakkan bulu-bulu kemaluan yang lebat dan hitam itu, lalu saya menjilat-jilatinya sambil memasukkan jari-jari tangan saya ke lubang senggamanya. "Aaahhkk.., aakkhh..," rintihnya. Tidak lama, bibir kewanitaannya sudah basah dengan cairan-cairan kental dari liang senggamanya. Setelah puas, saya merubah posisi saya. Saya langsung berbaring dan Ibu Ita saya suruh naik di atas selangkangan saya dan berjongkok. Dengan tangannya sendiri, batang kejantanan saya diarahankannya masuk ke dalam lubang kenikmatannya. Dan, "Bleess.., bblleess.." masuk sudah kemaluan saya dengan penuh ke dalam lubangnya yang ranum itu. "Aaakkhh.. aakkhh.." saya menjerit karena merasa betapa nikmatnya kejadian itu. Lalu tubuh Ibu Ita mulai naik turun di selangkangan saya, sesekali pantatnya diputar-putar. Saat pantatnya diputar terasa nikmat sekali. 15 menit kemudian, saya merubah posisi dengan batang kejantanan saya masih di dalam liang senggamanya. Saya merubahnya dengan posisi dia berbaring, lalu saya duduk dan mengangkat satu kaki Ibu Ita ke atas. Lalu saya mulai memaju-mundurkan senjata keperkasaan saya di liang senggamanya dengan irama sedang- sedang saja. Kemudian, tidak lama setelah itu, saya merubah lagi posisi. Sekarang saya merubah ke posisi doggie style. Saya tusuk-tusukkan batang keperkasaan saya itu dari belakang. "Aaakkhh.., aakkhh.., sayang.. Ibu mau keluar nich..!" katanya sambil berusaha menahan dorongan yang saya lakukan. "Keluarain aja Bu.., Dedi masih belom mau keluar.." balas saya yang masih tetap memacu gerakan. Lalu, "Aaakkhh.." ternyata Ibu Ita sudah keluar. Saya merasakan lubang di dalam dinding kemaluannya licin karena cairan itu. Tapi aku masih terus mengocok- ngocok batang keperkasaan saya di liang senggamanya. Setelah itu kami merubah posisi lagi. Sekarang posisi Ibu Ita berbaring, lalu saya angkat kedua kakinya dan saya rentangkan lebar- lebar kemaluannya dan saya menyodoknya dari depan. 10 menit kemudian, saya sudah tidak tahan lagi ingin menembakkan lahar saya. Lalu saya tarik batang kejantanan saya. Saya segera membangunkan Ibu Ita untuk duduk dan batang kejantanan saya, saya arahkan ke mulutnya. Dengan cepat Ibu Ita menyambutnya, dia mulai mengocok-ngocok dan, "Crroott.., ccrroott.., ccrroott..!" air mani saya menyembur ke wajahnya. Tanpa disuruh lagi, Ibu Ita langsung membersihkan batang kejantanan saya dan dijilat-jilatnya hingga bersih. Setelah beberapa menit kami beristrirahat, kami pun melakukannya kembali hingga pukul 3 pagi. Permainan kami sangat indah dan mesra sekali saya rasakan, berbeda dengan pengalaman saya yang sebelumnya. Ibu Ita dan saya di permainan yang kedua melakukan hubungan seks yang halus dan lebih mesra, karena selain terasa lebih nikmat, kami juga membutuhkan adaptasi setelah permainan yang pertama. Setelah melakukan permainan yang ke-tiga, kami pun tidur bersama dengan keadaan bugil sambil kedua tangan Ibu Ita memeluk erat tubuh saya yang saat itu telah lemas tak berdaya. Kesekon harinya juga kami melakukannya lagi. Saya di Bogor hanya 2 hari, lalu saya pulang kembali lagi ke Bandung dengan membawa oleh- oleh kenangan yang indah bersama Ibu Ita. Tamat (sekian cerita dewasa yang menceritakan pengalaman ngentot dengan ibu kandung temanku yang semok ini, jangan lupa untuk meninggalkan jejak di artikel cerita dewasa ini, terima kasih)
Gudang Fanfic Sasuhina [sasuke-hinata indonesia]


bangun+rumah 's link
Author: Lavenderviolletta Link: http://www.fanfiction.net/s/9068576/9/The-Lady-of-KIHS . . "The Lady of KIHS" by: Lavenderviolletta Naruto by : Masashi Kishimoto [Hinata H. x Sasuke U. ] Romance,Hurt,comfor, . . . WARNING (OOC, Miss TYPO) . . Happy Reading . Hinata Pov Kami-sama, aku takut kegelapan, tapi kenapa bersamanya aku merasa bahagia di dalam kegelapan ini, tangannya yang besar dan kekar itu menggenggam erat tanganku, seolah tak ingin melepaskan walau hanya sedetik, aku merasakan kehangatan yang tak aku dapatkan dengan pria lainnya, dia memang terkadang menyebalkan, tapi dia adalah sosok yang baik menurutku, entahlah, aku tak tau apa jadinya aku sekarang jika dia tak bersamaku. Aku merasakan kebahagiaan bersamanya. .. End of Hinata Pov Sebuah gubuk kecil yang mungkin sudah tak berpenghuni itu terlihat menyeramkan dimata Hinata, "Kita berlindung disana sampai besok pagi." Sasuke kembali menarik tangan Hinata, mengajaknya untuk memasuki gubuk tua itu, akan tetapi langkahnya terhenti saat Hinata tak melangkahkan kakinya, hal itu membuat Sasuke berbalik, ia tersenyum saat Hinata menggelengkan kepalanya, "gubuknya menyeramkan." Ujarnya, Sasuke menarik tubuh Hinata ke dalam pelukannya, membenamkan kepala Hinata di dadanya yang bidang seraya mengelus puncak kepalanya, "kau bersamaku, kau lupa eh?" Hinata mendongak, ia menatap tatapan onyx yang juga telah menatapnya, dan tatapan itu memancarkan kehangatan, mereka larut dalam pikirannya masing-masing, sampai mereka tak sadar ketika dua bibir itu beradu, Sasuke mencium Hinata dan Hinata membalasnya, .. Glegarr .. Suara petir yang membahana itu menyadarkan keduanya, Hinata melepaskan pelukan Sasuke, wajahnya merona merah, ia menyembunyikan wajahnya tak ingin Sasuke melihat wajahnya yang tengah merah bak kepiting rebus, hujan semakin besar, Sasuke terkekeh, ia mengerti Hinata telah dibuatnya blushing, "Kita lanjutkan di dalam." "Eh?" Seringai evil muncul di wajah stoicnya, ia terkekeh, dan itu membuat Hinata melayangkan tinju ke wajahnya kesal, "kau mesum" gerutunya, Sasuke hanya mengelus pipinya, ia memasuki gubuk itu dan meninggalkan Hinata di luar sendirian. "Heii .. Kau meninggalkanku." "Kau yang tak ingin masuk kan?" Lalu? Apa salahku?" Hinata mencibir, ia mendekati perapian, tubuhnya mengigil karena kedinginan, Sasuke melepaskan jaketnya dan memberikannya pada Hinata, "Hatsyii..." "Kau sakit ?" Hinata menggeleng, "mungkin karena kau memakaikan jaketmu padaku" Hinata terkikik, membuat Sasuke mendecih kesal. .cklek.. Suara decitan pintu gubuk tua itu terbuka dan keluarlah sesosok nenek tua yang menjadi penghuni gubuk itu, mata sayunya menatap kedua anak muda yang kini berada di hadapannya, nenek itu tersenyum, ia semakin melebarkan pintunya, "masuklah nak, kalian kehujanan." Sasuke dan Hinata saling berpandangan, hujan semakin deras dan itu membuat keduanya semakin basah kuyup, tak ada pilihan lain, Sasuke melangkahkan kakinya untuk memasuki gubuk itu, namun Hinata menariknya dengan memegang tangan Sasuke, Hinata takut dengan gubuk tua yang ada dihadapannya, gubuk itu sangat suram dan menyeramkan, "tenanglah, kau besamaku." Sasuke menggenggam tangan Hinata, hingga keduanya memasuki gubuk. Nuansa gubuk itu tak terlalu buruk, di luar memang terlihat menyeramkan dan kusam, tapi setelah memasukinya, ruangan di dalamnya tertata rapi dan bersih, walaupun hanya ada meja pendek dengan bantal di tiap sudutnya yang akan menjadi alas mereka untuk duduk, tapi tempatnya bersih dan layak. "Teh ini aku ramu dengan sedikit jahe dan rempah-rempah untuk memulihkan stamina dan menghangatkan badan, cobalah." Ujar sang nenek dengan menyuguhkan dua gelas cangkir teh di hadapan Sasuke dan Hinata, "Arigatou." Gumam Sasuke, ia meneguk teh sambil melirik Hinata disampingnya yang juga tengah meneguk teh dan menaruhnya kembali di meja, "Arigatou Obaasan." Hinata tersenyum, "Panggil aku Chiyo Baachan." "Arigatou, Chiyo Baachan." Nenek Chiyo itu tersenyum, "disini hanya ada satu kamar, saya hidup sendiri, untuk kau yang perempuan, kau bisa tidur denganku, sedangkan kau yang laki-laki, kau tidur disini saja." Sasuke mengangguk, "Obati luka di dahimu," Sasuke mengerutkan kening saat menatap obat-obatan itu dilempar nenek chiyo, ia heran, ternyata di hutan seperti ini juga ada obat, pikirnya, sebelumnya ia berfikir akan diberikan ramuan-ramuan tumbuk, dan bahan herbal lainnya, ayolah Sasuke, zaman sudah modern, tapi heii ini adalah hutan, dan yah, daripada bergelut dengan hal tak penting, ia segera membersihkan dahinya dengan air dan kapas yang basah, Sasuke sedikit meringgis karena perih. "Sasuke, biar aku bantu." Hinata mengambil kapas yang semula di pegang Sasuke, ia mulai membersihkan luka-luka di kening Sasuke, "sepertinya ini harus di jahit." Sasuke hanya diam, ia meneliti setiap sudut wajah Hinata yang tengah mengobatinya, "Aku akan pakaikan alkohol agar lukanya kering, kau tahan sebentar ya?" "Hn." Hinata terkikik saat Sasuke meremas bantal yang didudukinya, ia tahu Sasuke kesakitan tapi ia menahannya, "Selesai." Ucapnya sambil menggunting lilitan perban di dahi Sasuke, "Kau lebih baik sekarang kan?" Sasuke tersenyum, ia memegang luka di dahi Hinata, "bagaimana dengan lukamu?" "Eh?" "Biar aku yang mengobati lukanya." Nenek itu mendekati Hinata, ia memegang tangan Hinata dan mengajaknya masuk ke kamar, Blam ! Pintu tertutup rapat, Sasuke tidak tau apa yang nenek Chiyo dan Hinata lakukan di dalam sana, ia menggulung futon yang tergeletak tak jauh di dekat perapian, hujan yang cukup deras malam ini akan membuatnya nyaman untuk tertidur pulas. .. "Aku sudah membacamu, aku melihat semuanya." "Eh? Maksud anda?" Hinata memiringkan kepalanya tak mengerti "Luka di wajahmu, itu bukanlah karena luka kecelakaan pesawat bukan?" "Eh? Bagaimana bisa Obaachan tau?" "Dan kau, mengalami penderitaan yang cukup sulit akhir-akhir ini, kau banyak mengalami kesulitan hidup." "Se- semua yang Obaachan katakan benar, tapi, bagaimana bisa? Obachan,-" "Aku melihat raut kepedihan diwajahmu, kau cantik, dan dia syirik pada kecantikanmu." "Eh? Dia?" "Saudara tirimu yang melakukan ini padamu, Hinata." "Hinata?" Hinata semakin membulatkan matanya, ia sangat heran, nenek dihadapannya ini begitu sangat mengetahui kehidupannya, siapakah, dan kenapa dia mengetahuinya? Apakah dia seorang paranormal?" "Itu namaku, tapi aku belum memperkenalkan diriku, bagaimana,-" "Simpan semua pertanyaan siapa, mengapa, kenapa, bagaimana, yang ada di otakmu itu, sekarang baringkan tubuhmu, aku akan mengobati setiap lukamu, tutup matamu, dan tidurlah," Hinata mengangguk, ia perlahan menutup matanya, biarlah rasa penasarannya ia pendam sementara, dia tamu disini, dan akan sangat kurang ajar bila terlalu banyak bertanya, sentuhan dingin dirasakan kulit wajahnya, seperti butiran salju menetes di area kulitnya, dingin dan menyejukan, malam itu hujan semakin deras, dan lelah setelah berjalan cukup jauh dengan Sasuke, ia akhirnya memasuki alam mimpi, terlelap. .. Suara decitan burung pagi hari membangunkan Hinata dari tidurnya, ia menggeliat seraya menutup mulutnya karena sedikit menguap, mengucek kedua matanya dengan kedua tangannya, ia melirik kesamping, namun tak ada seorang nenek disana, mungkin nenek bangun lebih awal pikirnya, ia membuka jendela, dan menghisap udara pagi hari ini. .. Melihat Sasuke masih tertidur pulas, Hinata tak berani membangunkannya, ia tersenyum seraya melewati Sasuke dan memasuki kamar mandi untuk mencuci muka, ... "Kyaaaaaaaa !" "Eh? Hinata .. !" Sasuke terbangun akibat suara teriakan Hinata, ia mencari kemana sumber suara itu dan menemukan Hinata tengah berdiri di depan sumur dengan menundukan kepala kedalamnya, "Hinata !" Teriaknya, ia menarik tangan Hinata dan memeluknya erat "Baka ! Apa yang kau lakukan? kau ingin bunuh diri HAH !" Ucapnya sambil terus memeluk Hinata semakin erat, "Kau tau kau mem'-" "Sasuke.." "Eh? Hinata, kau-" "Yah Sasuke, kau lihat? Wajahku? Wajahku kembali, aku sembuh Sasuke, Chiyo Baahcan menyembuhkanku." "Tapi bagaimana bisa'-" "Justru itu yang membuatku tak mengerti, kita harus segera menemui Obachaan dan berterimakasih padanya." .. "Sebelum aku melihat jasad anakku, maka dia belum mati ! Cari .. Cari semaksimal mungkin, mengerti HAH !" "Hai, wakarimas Fugaku sama." Fugaku mengusap wajahnya gusar, sudah satu minggu Sasuke menghilang dan tak di temukan oleh tim penyelidik, Mikoto juga tak henti hentinya menangis, sedangkan Itachi, hanya bisa berdoa agar Sasuke dan Hinata dapat di temukan secepatnya. ... Sudah berjam-jam Sasuke dan Hinata menunggu kedatangan nenek Chiyo, mereka juga tak mungkin meninggalkan tempat ini begitu saja tanpa berpamitan terlebih karena jasa nenek Chiyo yang teramat besar karena telah berhasil menyembuhkan wajah Hinata tanpa perlu oprasi ke Korea yang akan dilakukannya bersama Gaara. "Sasuke, bagaimana ini?" Sasuke berdiri dari tempatnya duduk, kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celananya, "Kita harus mencarinya." .. Bughhhh ! "Tch" "Itu pukulan karena kau membawa Hinata pergi, jika kau tak mengajak Hinata pergi ke Korea, dia tidak akan ada dalam kecelakaan pesawat itu, dan sampai sekarang dia belum di temukan, dimana tanggung jawabmu brengsekk ! " Braaakk ! Pain menghempaskan tubuh Gaara hingga punggung Gaara menubruk rak buku yang ada di belakangnya, membuat bukunya berjatuhan akibat tubuhnya yang cukup kuat terhempas oleh dorongan Pain. Gaara perlahan berdiri, ia mengelap ujung bibirnya yang tengah keluar darah akibat pukulan Pain, kedua matanya menatap dingin Akatsuki yang berdiri dihadapannya "Pain, Itachi, Sasori, Gomene, aku tau semua karena ku, karena aku Hinata mengalami kecelakaan pesawat dan tak di temukan sampai sekarang, karena aku Hinata hilang, dan karena aku, Sasuke juga Hilang, aku minta maaf Itachi." Akatsuki terdiam, menunggu perkataan yang akan dilontarkan Gaara selanjutnya, "Aku melakukan ini, karena aku menyayanginya, aku mencintainya, aku tak bisa membiarkannya dalam keadaan wajahnya seperti itu, boleh aku sedikit bertanya pada kalian Akatsuki? Apa yang kalian lakukan untuk Hinata ketika ia mengalami kesulitan ketika wajahnya rusak? Apa kalian menolongnya? Menopangnya?membantunya? Tidak kan? Kalian tak melakukan apa-apa." Akatsuki terdiam, Pain menggeram dan hampir melukai kembali Gaara jika dirinya tak di hentikan Itachi, dan itu membuatnya kembali terdiam. "Aku hanya ingin membantunya, mengurangi sedikit beban di bahunya, tapi suatu kecelakaan tak terduga merubah rencana kami, aku dan Hinata terpisah" "Jika ada yang patut disalahkan atas kecelakaan ini, kalian pantas menyalahkanku, tapi ku mohon, untuk saat ini, berdoalah, doakan keselamatan mereka, Hinata dan Sasuke." Ketiga pasang mata dengan warna pupil berbeda itu menatap punggung Gaara yang berjalan semakin menjauh, apa yang dikatakan Gaara memang benar, ketika kejadian itu, mereka bahkan tak bisa berbuat apa-apa pada Hinata, lalu? Apa sekarang mereka pantas menyalahkan Gaara dibandingkan mereka sendiri yang tidak mau melakukan usaha apa-apa. ... Petang hari tiba, nenek Chiyo bahkan belum mereka temukan, Hinata dan Sasuke memutuskan untuk kembali ke gubuk tua itu, mungkin saja nenek Chiyo sudah di rumah pikir keduanya, jalan yang cukup sulit karena banyaknya ranting dan tumbuhan rambat yang sering kali melilit kaki, sepanjang perjalanan mencari nenek Chiyo Hinata bahkan tak melepaskan sebentarpun genggam tangan Sasuke, hingga keduanya kembali pada gubuk itu, "Sasuke, mungkinkah, Obachaan ada disana?" Sasuke melihat ke arah mana Hinata melihat, di samping gubuk itu terdapat sebuah pagar yang di gembok rapat, keduanya mendekati pagar itu, "dikunci." Ujar Sasuke datar, Hinata menggelengkan kepala, "harus bisa dibuka Sasuke, kita harus melihatnya." Sasuke menatap Hinata malas, "tch, kau lihat pintunya dikunci." Hinata melepaskan tangan yang semula melingkari tangan Sasuke, ia melirik sana sini, mencari sesuatu benda yang mungkin bisa dipakai untuk membuka pagar tua itu, "Mungkin ini bisa?" Hinata memberikan sebuah kampak tua, dan Sasuke menerimanya, dengan cepat ia membongkar pagar itu hingga menjadikan gemboknya hancur, Hinata meloncat riang saat Sasuke berhasil membuka pagar, Pandangan mereka dikejutkan dengan sesuatu tak terduga saat dilihatnya dihadapan mereka kini terdapat sebuah makam tua, keduanya berjalan mendekati makam, mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. "Ti-tidak mungkin." Hinata membulatkan matanya kaget, tubuhnya bergetar, mulutnya menganga saking syoknya, nisan dimakan itu bertuliskan huruf kanji jepang kuno yang berarti "Chiyo." Yah, itu adalah makan seorang nenek yang telah meninggal ratusan tahun yang lalu, lantas? Siapakah nenek yang tengah menjamu keduanya semalam? "Hinata, kita harus meninggalkan tempat ini." "Tapi Sasuke, bagaimana-" "Kau dengar? Sesuatu tak beres terjadi ditempat ini." ... Sasuke menarik tangan Hinata, ia menutup kembali pagar itu dan mengikat pagarnya dengan akar-akar dari rambat pohon disekitar sana, selesai mengikat, Sasuke memandang pagar itu sejenak, "Arigatou." Lirihnya, hari semakin menjelang Sore, Hinata dan Sasuke harus kembali berjalan menulusuri hutan ini untuk menemukan sebuah desa yang akan memberi keduanya petunjuk untuk kembali "Sasuke." "Hn." "Aku sudah tak kuat berjalan." Sasuke berhenti melangkah, ia berbalik, memandang Hinata malas. "Lalu?" "Apa? Kenapa bertanya seperti itu? Kau harus menggendongku." Ucapnya seraya mengerucutkan bibirnya kesal. "Tch, simpan sikap manjamu Lady, ini bukan KIHS, dan kau bukan putri disini." Sasuke meninggalkan Hinata acuh, Kesal dengan sikap Sasuke yang mengacuhkannya, Hinata berlari mengejar Sasuke, "Wait.., Hosh.. Hosshh.." Nafasnya memburu, Hinata memegangi tangan Sasuke, menghentikannya melangkah. Gadis bersurai indigo itu berjingjit untuk bisa membisikan sesuatu di telinga Sasuke, "Baka, aku disini adalah putrimu, dan kau harus selalu melindungiku, karena kau adalah pangeranku, Sasuke Aishiteru." Cupp.. Blusshhh .. Kecupan singkat Hinata di pipi kiri Sasuke membuat Sasuke blushing seketika, ia mematung, otaknya masih mencerna pelan atas pesan singkat yang barusan Hinata katakan padanya, Hinata berlari meninggalkan Sasuke setelah mencium pipi Sasuke, menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat merah layaknya kepiting rebus. Sasuke terdiam, bibirnya perlahan mengukir sebuah senyuman, ia merasa bahagia dihatinya, kembali ia melangkahkan kakinya, menyusul gadis manis yang telah berlari semakin jauh. . . . TBC ..
Hadi Miner


bangun+rumah 's link
Kubaringkan tubuh yang lelah ini di atas bangku panjang yang terbuat dari bambu berwarna kehijauan. Kutatap langit yang indah, cerah, tentram dan damai di iringi pancaran sinar rembulan dan bintang yang bertaburan. Keindahan alam yang menakjubkan menghanyutkan diriku dalam lamunan. Teringat dahulu ketika diriku sering duduk bersama dengan ayahanda dibangku ini pada malam hari. Kami sering memandang indah nya langit dihiasi dengan bintang-bintang dan rembulan yang begitu mempesona pandangan. Sesekali ayah mengeluarkan kata-kata bijak untuk ku agar selalu tegar dalam menjalani kehidupan ini. Hingga saat ini akupun masih teringat kata-kata tersebut. Beliau berkata “ nak, coba kau perhatikan bulan yang indah itu, bentuknya bulat dan mengeluarkan pancaran sinar yang tak menyilaukan bagi yang memandangnya. Namun sayang nak, ia tak dapat menyatu dengan matahari yang sinarnya lebih bermanfaat bagi kehidupan makhluk hidup dibumi ini”. Menurutmu nak, apakah mustahil bulan itu akan bersatu dengan matahari ??? akupun menjawab : “ mustahil yah jika bulan itu dapat bersatu dengan matahari “ namun ayah hanya tersenyum mendengar jawabanku. Ayah pun berkata kembali “ nak, coba kau pandang langit ini sejauh-jauh matamu memandang, apakah kau menemukan tiang penyangga untuk langit ini agar tidak runtuh”. Lalu aku menjawab “tidak yah, aku tidak menemukan satu tiang penyanggapun di langit ini”. lalu ayah berkata, lantas mengapa langit ini tidak runtuh nak ??? aku terdiam dan hanya membisu dengan pertanyaan ayah, pikiranku belum dapat menemukan hikmah dari pertanyaan ayah. Aku hanya terdiam dan terus berpikir sambil memandang indahnya rembulan pada malam itu. Tak lama kemudian ayahpun menjelaskan dari pertanyaannya tadi. Nak dalam hidup ini tidak ada yang mustahil jika Allah telah berkehendak. Mustahil itu menurut pikiran kita, karena pikiran kita terbatas untuk menelusuri kekuasaan Allah. Jadi nak, janganlah engkau merasa putus asa dalam menjalani kehidupan ini walau nantinya beban yang kau pikul sangat amat berat bagimu, mungkin menurut pikiranmu kau tak dapat memikulnya tapi menurut Allah sangat amat mudah dalam menunaikan semua hajatmu sebagaimana Allah sangat mudah dalam menggantikan siang menjadi malam dan menggerakkan awan kemana saja yang Dia kehendaki. Begitu kata ayah, sambil diriku menghadap ke tubuhnya yang mulai rapuh dan rambutnya yang mulai memutih. Mendengar perkataan bijak ayah, seakan-akan diriku menjadi kuat dan tak takut dalam menjalani kehidupan ini. Sambil memandang wajahnya yang mulai tua dalam hatiku pun berkata, yah aku bangga memiliki ayah seperti dirimu. Lamunanku terusik dengan semakin dinginnya udara malam yang menjamah kulit dan menusuk tulangku, tak terasa sekarang jam menunjukkan pukul 21.30 wib yang terdengar hanyalah hembusan angin dan suara jangkrik yang saling bersahutan. Dengan perlahan aku bangkit dari bangku panjang buatan ayah dan bersegera membuat pempek beserta cuka untuk dijual besok. Aktifitas rutinitas pembuatan pempek pada malam hari kulakukan demi membiayai kehidupan adik-adikku.   Aku memiliki dua adik dan diriku adalah anak yang tertua. hafis merupakan adikku yang paling bungsu, umurnya adalah 10 tahun. Tingkahnya yang lucu membuat diriku selalu tersenyum jika memandangnya, apalagi dengan postur tubuhnya yang agak gemuk terkadang membuat diriku gemas terhadapnya. Sesuai dengan namanya yakni hafis, walaupun masih kecil dia sangat senang dan semangat dalam belajar mengaji, yang membuat saya bangga adalah ia senang menghafal alquran walaupun bacaannya masih terbata-bata. Ternyata ayah tak sia-sia memberi nama hafis pada adikku. Selain hafis ada juga adikku satu lagi bernama hafidza, usianya adalah 14 tahun dan sekarang sekolah di pondok pesantren “cahaya ilahi”. Terkadang setiap seminggu sekali aku dengan adikku hafis mengunjungi hafidza di pondok pesantren “cahaya ilahi” untuk melihat keadaan hafidzah dan sekalian memberinya uang saku. Selain itu juga biasanya hafidzah selalu meminta tolong kepadaku untuk menyimak hafalan alqurannya. Ternyata seminggu tak berjumpa, hafalan alquran hafidzah semakin bertambah dan bacaannya semakin fasih, terkadang lantunan suara murottalnya yang lembut dan menyentuh hati membuat air mataku terjatuh tanpa disadari. Dalam hatiku pun berdoa “ya allah jadikanlah adik-adikku ini sebagai hamba-hamba-Mu yang sholeh dan sholehah agar kelak ia dapat memuliakan orang tua kami”. Aku pun masih terus menyimak bacaan dari hafidzah hingga selesai.   Aku sangat sayang dan bangga kepada mereka, tak terasa sudah 2 tahun kami hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua. Ibuku telah tiada disaat melahirkan adikku yang bungsu yakni hafis sementara ayahku telah meninggal dunia 2 tahun yang lalu disaat diriku berusia 19 tahun. Para kerabat ayah dan ibu tidak bisa memelihara atau merawat kami karena untuk menghidupkan keluarganya saja masih kesulitan. Aku pun tak tega jika harus merepoti kerabat ayah dan ibu, Oleh karena itu kini diriku yang harus menanggung semua tanggung jawab orang tuaku dikarenakan aku adalah anak lelaki yang tertua.  Walau pun demikian Alhamdulilah sudah 2 tahun berlalu atas kepergian ayah ku hingga saat ini aku masih bisa menghidupkan kedua adik tercintaku.   Selain berjualan pempek, diriku juga menjual somay  milik orang lain dengan di fasilitasi menggunakan gerobak dorong. Jadi, disaat diriku menjual somay maka sekalian aku juga menjual pempek buatanku. Hal ini kulakukan agar kebutuhan keluargaku terpenuhi karena jika hanya menjual pempek saja itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan adik-adikku sebab penjualan kapasitas pempek ku masih kecil karena keterbatasan modal. Alhamdulillah ternyata banyak yang suka dengan pempek buatanku, rasa pempek dan cuka nya yang khas membuat jualan daganganku habis terus beserta somaynya. Tak sia-sia diriku dahulu ketika SMK mengambil jurusan “tata boga”. Dengan keahlian masak ku ini ternyata bermanfaat juga dalam menghidupi keluargaku. Terkadang ada rasa keinginan dalam diriku untuk melanjutkan sekolah khusus mendalami bagian “tata boga” agar bakat ku dapat berkembang, tapi mungkin untuk sekarang belum saatnya karena aku harus fokus membiayai kebutuhan adik-adikku. Dan aku juga tak lupa pesan ayah sebelum ia wafat, aku masih ingat pesan tersebut. Beliau berkata,”nak, ayah minta tolong agar kamu jaga baik-baik adikmu ya, jadikanlah ia sebagai orang yang dapat bermanfaat di dunia dan akhirat nantinya”. Amanah yang besar itu dipikulkan  pada diriku yang belum memiliki pengalaman hidup sebagai orang tua namun aku berjanji kepada ayah bahwa akan semampunya diriku mewujudkan harapan ayah.   Rasa lelah mulai menyelimuti tubuhku, mata pun mulai terasa kantuk dan pembuatan pempek beserta cukanya pun sudah usai kubuat. Akhirnya ku dapat membaringkan tubuhku disamping hafis namun perasaan gelisah dan khawatir merasuk dalam diriku bercampur dengan lelahnya tubuh ini. Sebenarnya dalam diri ini merasakan kesedihan dan seakan aku tak mampu memikulnya namun jika berada dihadapan adik-adikku, kuselimuti kesedihan itu dengan kebahagian agar adik-adikku tidak merasakan apa yang aku rasakan. Rasa gelisah dan khawatir ini muncul berawal 1 minggu yang lalu ketika gerobak somay yang ku dorong diserempet oleh sebuah mobil dengan kecepatan agak cepat. Alhamdulilah diriku tidak apa-apa namun gerobak untuk usahaku hancur  dan mobil tersebut melarikan diri. Hingga akhirnya diriku lah yang harus mengganti kerugian gerobak tersebut ke pemiliknya sebesar   3 juta rupiah dan dalam waktu 2 minggu sudah terlunasi. Jadi selama 1 minggu ini aku tidak menjual somay dengan gerobak lagi namun diriku hanya menjual pempek dengan menggunakan rantang yang berukuran besar. Hingga saat ini aku tak tahu bagaimana cara melunasi hutangku tersebut, sementara penjualan daganganku hanya cukup untuk kebutuhan kami sekeluarga. Pasca kejadian tersebut diri ini berkomitmen bahwa setiap hasil penjualan daganganku, separuh dari keuntungannya kusedekahkan ke anak yatim piatu dan  untuk seterusnya. Jadi mulai saat itu setiap sore hari diriku dan hafis pergi ke panti asuhan untuk menjalin silahturahmi sekalian bersedekah. Namun hingga saat ini belum ada jawaban dari Sang Ilahi yang Maha melipatgandakan rezeki. Itulah yang membuat diri ini gelisah dan sedih sementara batas waktu pembayaran hutangku tinggal 2 hari lagi.   Walau tubuhku lelah namun sulit mata ini untuk terpejam menikmati bunga tidur  dimalam hari. Rasa gelisah, sedih dan khawatir terus merasuki jiwaku. Akhirnya kucoba bangun dari tempat tidur lalu berwudhu dan shalat malam menghadap Sang Ilahi. Kupasrahkan diriku yang lemah tak berdaya ini dengan bersujud di hadapan-Nya, air mataku mengalir membasahi sajadah merah pemberian almarhum ayahku. Dalam sujud hatiku pun berdoa,”Ya Robb, aku tidak memiliki Tuhan selain diri-Mu, aku tak mengharapkan pertolongan selain pertolongan-Mu, kepada siapa lagi aku harus mengadu urusanku kecuali kepada-Mu. Wahai Robb yang maha kuasa, tidak ada yang tidak mungkin jika Engkau menghendaki-Nya, ku mohon ya Rob tunaikanlah hajadku, penuhilah janji-Mu padaku ya Rob”. Air mata terus mengalir membasahi pipiku, hatiku pun semakin lembut seakan diriku ingin terus sujud semampuku tapi diri ini telah lemah tak berdaya dan butuh istirahat untuk mencari rezeki-Nya esok hari.   Alhmdulilah sangat bersyukur diriku atas rahmat-Nya hari ini, jualan ku telah habis dengan cepat padahal sekarang masih jam 10.00 wib. Dan hal yang menggembirakan adalah ternyata tadi ada seseorang yang ingin menjadi pelanggan tetapku. Ia ingin memesan pempek buatanku dalam skala besar untuk dijual lagi olehnya. Tak kusangka rezeki dari Sang Ilahi turun satu demi satu menghampiriku. Tak sabar diri ini ingin cepat-cepat menyedekahkan keuntungan hasil penjualanku ke panti asuhan.  Entah mengapa diri ini ingin bersegera menyedekahkan setelah hafis pulang sekolah saja. Padahal jadwal rutinitas pergi silahturahmi ke panti asuhan biasanya sore hari. Akhirnya ku tunggu hafis hingga pulang sekolah dan kami pun langsung pergi kepanti asuhan dengan rasa sedih dihatiku yang sudah mulai berkurang. Sesampai di pagar panti asuhan, hafis pun langsung bermain dengan teman-temannya dipanti, diriku tersenyum dan mendoakan dalam hati,”semoga kelak ketika hafis telah dewasa ia tetap cinta menjalin silahturahmi dan ingin selalu mengulurkan tangannya bagi anak-anak panti asuhan, aamiin ya rob”.      Aku pun langsung masuk mengetuk pintu rumah panti asuhan, ternyata diriku telah ditunggu oleh pembina panti tersebut yakni pak umar. Aku pun langsung mencium tangan beliau dan diperkenalkan dengan tamu yang berada disampingnya. Aku tak tahu siapa tamu yang duduk disamping beliau itu, tapi tak berapa lama pak umar menjelaskan siapa tamu itu kepada saya. Ternyata tamu itu bernama pak hamzah, seorang pengusaha sukses yang memulai bisnisnya dari warung makan, supermarket, kontrakan, dan lain-lain. Ia pun tersenyum kepadaku dan meminta ku agar membantunya dalam membuka usaha pempek di ruko yang baru dibelinya?? Aku hanya terdiam bingung dan diselimuti bahagia. Aku bingung karena belum pernah aku bercerita dengan nya tentang diriku tapi seakan ia sudah mengetahui semua tentangku, dalam hatiku pun berkata, “mungkin pak umar yang telah menceritakan kondisiku kepada pak hamzah”. Karena hanya pak umarlah yang sudah mengetahui kondisiku sebab saat  ketika hari pertama saya silahturahmi kepanti asuhan sekalian sedekah, dan sengaja membawa pempek untuk panti asuhan. Diriku mencurahkan hati kepada pak umar dimulai dari ketiadaan kedua orang tuaku dan menghidupkan adik-adikku dengan berjualan pempek. Semua aku ceritakan kepada beliau sambil diriku meminta kepada beliau agar dibantu melalui doa oleh anak-anak panti terhadap musibah yang menghampiri diriku.   Belum sempat diriku menanggapi permintaan pak hamzah, beliau langsung memberikan diriku uang 5 juta rupiah karena dia sangat ingin saya mewujudkan usahanya. Aku terheran-heran seakan pak hamzah telah kenal lama denganku sehingga dia dengan mudahnya memberi uang 5 juta kepadaku padahal beliau belum tahu akan kualitas buatan pempekku. Apakah beliau tidak takut bangkrut terhadap usahanya nanti, kata hatiku. Ternyata pak hamzah tanpa sepengetahuanku sebelumnya ia telah mencicipi pempek buatanku disaat ia berkunjung ke panti asuhan seminggu yang lalu mungkin tepatnya ketika diriku membawakan pempek khusus untuk panti asuhan di hari pertamaku menjalin silahturahmi dengan panti asuhan. Disaat itulah pak hamzah sangat tertarik terhadap rasa dan aroma cuka yang kubuat, sehingga tidak menutup kemungkinan pempek buatanku bisa di hak paten kan menurutnya. Oleh karena itu pak hamzah sangat yakin bahwa usahanya nanti akan maju.   Akupun mulai haru, tetesan air mataku pun mulai mengalir, serta kulakukan sujud syukur atas rahmat yang Allah berikan kepada ku hari ini. Dalam sujud hatiku berkata,”terima kasih ya allah sungguh Engkau adalah Tuhanku yang maha pengasih dan penyayang, Kau telah menunaikan hajatku yang         ku anggap sebelumnya tak mungkin terselesaikan namun kini Kau penuhi janji-Mu ya Robb,segala puji bagimu Tuhan semesta alam”. Akupun jadi teringat dengan perkataan bijak ayah dahulu, ternyata benar “bahwa tidak ada sesuatu yang mustahil jika Allah telah berkendak walau sebelumnya kita menganggap hal itu adalah mustahil ”.  Aku sangat senang hari ini atas rezeki yang berlimpah Allah curahkan kepadaku. Kesedihan, kegelisahan dan kekhawatiran kini telah lenyap meninggalkan diriku disebabkan karena ukhuwah. Hal ini mengingatkanku akan nasihat Rosullullah SAW bahwa ukhuwah itu dapat memperpanjang umur dan meluaskan rezeki. Dengan demikian mulai saat ini aku merasa optimis untuk mewujudkan amanah ayah kepadaku, insyaallah aku akan menyekolahkan adikku hingga kuliah ke al - azhar  Kairo, agar dapat bermanfaat bagi manusia didunia maupun akhirat.
Cerpen Cinta Persahabatan dan Kehidupan Cerpenmu.com

cerpenmu.com
bangun+rumah 's link
Tak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini aku bangun lebih pagi dari pada suami dan juga anak-anakku. Aku menyiapkan sarapan mereka, aku membereskan seisi rumah, aku benar-benar baru merasa seperti ibu rumah tangga kembali. Dua pembantu telah suamiku pecat. Tak ada orang lain di dalam rumah ini, ki...
Cerpen Cinta Persahabatan dan Kehidupan Cerpenmu.com

cerpenmu.com
bangun+rumah 's link
Teeeeetttt…!!! Aku gelagapan dari terjagaku. Ada sesosok jelek yang berdiri di depan kaca. Ya, itu aku. Yang suka berdiri memandangi diriku setelah bangun dari tidur. Sriik… Sriiik… Perlahan aku menyisir rambutku yang kata orang indah. Hitam, lurus dan lebat. Tapi sayang aku tak membiarkannya tumbuh...
Gudang Fanfic Sasuhina [sasuke-hinata indonesia]


bangun+rumah 's link
Author: Kamichama NekoChi Link: http://www.fanfiction.net/s/9316462/1/KIDNAPPED . . KIDNAPPED Kamichama NekoChi Disclaimer : Naruto absolutely belongs to Masashi Kishimoto WARNING :OOC, Gaje, bit Western, Typo(s) Summary: "Hinata, kau harus hidup demi Tou-san." Itu hal yang selalu dikatakan ayah Hinata. Menurut Hinata, selama ini dia merasa sudah hidup, hidup untuk ayahnya. Saat ayahnya pergi, ia tidak bisa hidup. Ia hanya seperti wadah kosong. Tiba-tiba, Hinata diculik oleh seorang Pangeran Uchiha, kemungkinan besar karena tragedi penolakannya terhadap perusahaan raksasa Uchiha 4 tahun yang lalu. Tapi, ada rahasia lain. Dan Hinata merasa simpati terhadap Uchiha Sasuke perlahan-lahan. Semacam… Stockholm syndrome. 1st CHAPTER : Where is this? Setelah beberapa kali mengerjapkan matanya, Hinata akhirnya bisa melihat dengan jelas tempat ia terbangun. Ini bukan kamarnya, jelas bukan kamarnya yang sehari-hari ia tiduri. Kamar ini memiliki tempat tidur yang lebih empuk, dan bantal yang lebih mewah. Ukurannya lima kali lipat lebih besar dibanding kamar Hinata. Sesaat Hinata merasa nyaman dengan keadaannya, menyesap aroma pagi yang khas dan memabukkan. Tiba-tiba Hinata tersadar, ini bukan kamarnya. Paranoid, Hinata segera mengingat kejadian tadi malam, menelusuri otaknya sendiri kenapa ia bisa berada disini. Hinata ingat, tadi malam ia mengikuti pesta perayaan atas promosi jabatan teman baiknya, Namikaze Naruto, di sebuah bar. Seingatnya ia tidak minum banyak, apalagi sampai mabuk. Tapi ia pingsan, dan merasa ditolong seseorang. Semoga yang menolongnya adalah orang yang ia harapkan. Bukan om-om mesum kaya raya yang merebut keperawanannya. Kemungkinan terakhir itu membuat Hinata merinding dan mencoba bangun, memikirkan cara untuk mencari kebenaran, tetapi kepalanya berat sekali, sangat berat bahkan untuk bangkit dari tempat tidur saja sulit sekali. Dengan suara 'cklek' pendek dua kali. Pintu kamar yang ditempati Hinata terbuka. Seorang pemuda masuk dengan pelayan yang membawa baki makanan dibelakangnya, Hinata mengernyit, merasa mengenal pemuda ini. Ah… bagaimana mungkin Hinata lupa? Ini pria yang dikenalkan Naruto kepadanya semalam. Uchiha Sasuke… itu memang namanya. FLASHBACK BEGINS "Hinata-chan, kemarilah, kenalkan teman baikku dan Sakura, Uchiha Sasuke." Naruto mengajak Hinata mendekat dan berkenalan dengan pemuda yang ditunjuknya. Hinata menurut, mendekat kepada mereka bertiga, kemudian berdiri disebelah Naruto untuk menyalami pemuda bernama Uchiha Sasuke itu. "Hyuuga Hinata" Hinata mengulurkan tangannya dengan malu-malu dan kepala tertunduk tanpa berani menatap lawannya, yang disambut dengan tangan panjang dan lentik Uchiha Sasuke, tapi tanpa membalas perkataannya, hanya mengangguk singkat lalu melepasnya. "Dia ini sibuk sekali Hinata, jadi aku belum sempat mengenalkannya padamu. Padahal kita sudah berteman lama. Eh… Teme, Hinata ini bekerja di salah satu Perusahaan Cabang Uchiha lho!" Naruto memperkenalkan mereka lebih lanjut. Oh ya! Hinata lupa, Uchiha… Uchiha… berarti orang ini adalah bos besarnya, jauh diatasnya bahkan lebih jauh dari yang dapat dipikirkan oleh Hinata. Hinata menepuk kepalanya sendiri, hukuman kepada dirinya atas kebodohannya. "A…ah… iya, sesaat aku lupa kalau bekerja di Uchiha Enterprises." Hinata mengakui kebodohannya dengan tersipu dan sedikit menunduk, sedikit menyesali perkataannya, jangan-jangan ia bisa dipecat gara-gara bicara begini. "Hahaha… Hinata-chan memang manis ya, begitu saja bisa lupa. Aku yang sedikit mabuk saja ingat." Sebenarnya Naruto bukan sedikit mabuk, tapi lebih tepat dibilang sedikit tidak mabuk, mungkin otaknya hanya bisa bekerja lima persen dari normal, dan beruntunglah lima persen hal itu adalah orang-orang disekitarnya. Jadi Hinata hanya menunduk. Bisa membayangkan seorang gadis menunduk terdiam di lantai dansa sedangkan ia bukannya tiang? Mungkin Hinata bisa berpura-pura menjadi tiang. Uchiha Sasuke juga tidak berdansa, tapi ia bukannya bersikap 'tiang' seperti Hinata, ia masih berpikiran jernih dan menghindari gerakan-gerakan dansa orang lain. "Sebaiknya kalian bersenang-senang! Percuma saja pesta Naruto kalau kalian canggung begitu! Menari atau ambil minuman sana!" Sakura yang berada di pelukan Naruto ikut berbicara. Naruto dan Sakura benar-benar pasangan 'hot' saat ini. Dansa mereka berdua benar-benar aktif dan menarik perhatian. "Baumu memuakkan, Dobe." Akhirnya Sasuke mencela Naruto, sepertinya sudah tidak tahan daritadi dan baru mengatakannya sekarang, lalu sambil menutup hidungnya Sasuke pergi dari lantai dansa itu meninggalkan mereka bertiga. "Yah, padahal kusuruh berpasangan dengan Hinata-chan, Teme bodoh. Hinata maaf ya…" "Naruto, Hinata baik-baik saja kok, Sayang, seperti dia bakal parkinson saja tanpa dansa dengan Sasuke. Hinata, kau minum saja dengan Sasuke, sepertinya kalian ga tertarik dansa." "Aaah… Whatever baby, come on, move it." Naruto tidak peduli, matanya hanya tertuju pada gerakan pinggul Sakura. Hinata juga sedikit tidak tahan dengan aroma alkohol berlebihan yang menguar dari napas Naruto, yang kini tengah menggoda kekasihnya, Haruno Sakura di lantai dansa bar dengan alunan lagu country yang pas dengan suasana bar yang tidak terlalu ramai. Hinata menyingkir dari lantai dansa dan memberi ruang bagi orang lain yang lebih tertarik untuk menari, menuju vending machine, dan memilih soda. "Tidak minum, eh?" Uchiha Sasuke sudah berdiri di samping Hinata, memergokinya sedang memilih soda dan bersandar santai pada tembok. Napasnya tidak menguarkan aroma alkohol, hanya mint segar yang bisa dihirup Hinata. Ia terlihat seperti orang baik. Kini Hinata dapat menelusuri fisik pemuda itu dengan lebih baik. Pakaiannya menunjukkan kelasnya, kemeja berkerah Hammer dan jins Escada serta Sneakers Nike, Hinata bahkan bisa menebak, pakaian dalamnya pasti Calvin Klein. Dengan wajah yang bisa dibilang kurang ekspresi, tetapi tampan luar biasa dengan proporsi wajah dan tubuh sempurna, yang diyakini Hinata adalah tubuh hasil kerja kerasnya. Matanya berwarna oniks kelam, tapi bersinar, dan rambut ravennya sama indahnya dengan matanya. Hinata bisa langsung memercayai Sasuke ini. "Ti-tidak, aku tidak minum." Hinata memang berkata jujur, lagipula, ia tidak akan mampu membayar minuman dengan harga selangit itu. "Bagaimana kalau kutraktir sedikit saja? Hanya cocktail ringan atau anggur putih?" bibir Sasuke sedikit ditarik ke belakang, menampilkan senyuman kecilnya pada Hinata. Hinata membalas senyumnya, ia tidak bisa membiarkan Sasuke ini tersenyum sendirian, sepertinya senyumannya sangat berharga. Hinata sedikit memerah, membayangkan pemuda setampan dan sebaik ini mendekatinya saja tidak pernah, apalagi menawarinya minum. Tanpa pikir panjang, Hinata mengangguk pelan sebagai isyarat mengiyakan ajakan Sasuke. Segelas Gin and Tonic sudah mengalir turun menuju tenggorokan Hinata. Padahal hanya segelas kecil, tapi Hinata sudah merasa seperti hangover, sesaat ia melihat tangan kekar milik seseorang menangkap tubuhnya yang lunglai sebelum kehilangan kesadaran. FLASHBACK ENDS "U… Uchiha-sama, ke…ke…kenapa…" Hinata bahkan tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, suaranya terlampau serak dan kering, samasekali tidak menunjukkan adanya tenaga di dalam tubuhnya. "Kau tenang saja, semua baik-baik saja. Tidurlah lagi." Sasuke berbicara singkat, lalu keluar lagi menuju pintu diikuti pelayannya tadi. Suara 'cklek' terdengar lagi. Meninggalkan baki tertutup yang sepertinya berisi makanan dan minuman. Hinata hampir yakin, pasti ia diculik, kalau tidak, pintunya pasti tidak akan dikunci. Hinata melihat pakaiannya, cardigan biru kebesaran dan celana jeans lusuhnya masih ada pada tempatnya, dimeja sebelahnya juga terlihat tasnya masih lengkap. Hinata mencoba bangun, tapi tubuhnya menghianati otaknya, dan ia kembali terbaring, mau tak mau, matanya kembali terpejam. Hinata terbangun lagi dengan alunan lagu yang familiar di samping kepalanya, Don't Give Up, salah satu lagu yang sering ia setel, Hinata teringat ayahnya, ia selalu menyetel lagu seperti ini setiap setiap pagi, lagu-lagu pembangkit semangat untuk memulai harinya dan ayahnya, lagu-lagu penyemangat yang selalu disukai mendiang ibunya. Lagu-lagu itu juga yang membuat ayah Hinata bertahan hingga 43 hari yang lalu, melawan penyakit kanker yang bersarang di sel-sel darahnya selama lima tahun, demi putri semata wayangnya yang sebatang kara. Biasanya Hinata membiarkan tiga atau empat lagu berputar mulai dari jam 6.30. Setelah ia selesai membereskan rumah, ia mendapati ayahnya sudah duduk di tempat tidur lalu membiarkan dirinya dimandikan Hinata, Hinata akan membawa ayahnya ke balkon setelah sarapan, membawakan koran atau buku bacaan untuk ayahnya, sementara ia bekerja, menerjemahkan beberapa novel berbahasa inggris atau perancis dari perusahaan penerbitan Uchiha. Hasil terjemahan itu tidak seberapa, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan pengobatan ayah Hinata, tanpa tersisa untuk sekedar berbelanja pakaian bagi Hinata seperti halnya wanita umur 25 tahun lainnya. Ia hanya duduk di balkon bersama ayahnya hingga jam makan siang, terkadang mereka mengobrol, tidak banyak, lebih banyak jeda diantara obrolan mereka. Biasanya ayah Hinata menceritakan keberaniannya saat masih muda, terkadang masa lalunya dengan mendiang Ibu Hinata, atau bagaimana ia dulu bisa menggendong Hinata di pundaknya dengan mudah, akhirnya, di akhir percakapan mereka ayahnya bilang, "Berjanjilah padaku, kau akan mendapatkan kehidupanmu setelah ini." Kemudian Hinata akan mengangguk dan tersenyum. Itu saat hari ayahnya sedang baik dan dia cukup kuat untuk bangun, kalau tidak, Hinata hanya bekerja di kamar ayahnya, melihat ayahnya berkali-kali dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menghawatirkan ayahnya daripada bekerja. Di hari lain saat ayahnya harus menjalani terapi rutin, Hinata mengantar ayahnya dengan truk tua milik mereka. Mereka menikmati pemandangan kota sepanjang perjalanan, ayahnya terkadang akan bercerita, "Saat Tou-san umur lima tahun dulu, disini adalah lapangan sepak bola kami." Tangan ayahnya akan menunjuk gedung mall yang ramai pengunjung, dan Hinata akan membayangkan tempat itu memang benar-benar lapangan sepak bola. Biasanya sepulang terapi, Hinata mengajak ayahnya makan siang di kedai langganan ayahnya, lalu ayahnya mengobrol dengan semua orang yang dikenalnya disitu, dengan begitu, Hinata merasa bahagia, seolah ayahnya yang kuatlah yang mengajak Hinata kesini, bukan sebaliknya. Menurutnya, hidup Hinata saat itu hanyalah milik ayahnya, bahkan, saat kantor pusat Uchiha Enterprises di Tokyo menawari Hinata pekerjaan yang sangat bagus dan menjanjikan sebagai manager pemasaran karena record Hinata yang sempurna di universitas dan tempatnya bekerja di perusahaan Uchiha cabang Konoha sebelum ayahnya bertambah parah dahulu, Hinata menolaknya dengan tegas, bahkan sampai permohonan dari perusahaan Uchiha datang tiga kali. Hinata tidak bisa ke Tokyo, apalagi meninggalkan ayahnya, jika Ayahnya diajak pun, udara Tokyo kurang baik untuk kesehatannya dan mustahil ayahnya akan mau kesana, ayahnya tidak akan pergi dari kampung halaman tercintanya apapun yang terjadi, Konoha adalah napasnya. Semua kebahagiaan Hinata adalah mempertahankan hidup ayahnya dan menjaganya, merawatnya dan mengasihinya, karena ayah Hinata sudah mengambil dua peran, sebagai ayah dan Ibu sejak umur Hinata lima tahun. Hinata mencintai ayahnya, sangat mencintai ayahnya dibandingkan apapun di dunia ini. Hingga 43 hari yang lalu, ayahnya menghembuskan napasnya yang terakhir disamping Hinata, saat mereka tengah bercengkrama pagi di balkon dan Hinata merasa ayahnya cukup baik hari itu karena ayahnya bisa memeluk dan mengelus ubun-ubun Hinata, yang sudah lama sekali tak ia rasakan, sampai Hinata merasa tangan ayahnya berhenti, lama kelamaan tubuhnya menjadi dingin… dan semua itu terjadi begitu cepat. Semua orang datang, semua orang menolong, semua orang mengucapkan simpati, keluarga Uzumaki terutama, tetangga dekat mereka yang mengurus semuanya, bahkan menanggung biaya pemakaman, tapi Hinata terlalu sedih hanya untuk sekedar mengucapkan terimakasih atau melihat kebaikan orang-orang sekitarnya. Hinata bahkan tidak bisa menangis, lebih tepatnya tidak boleh menangis, Hinata selalu meyakinkan dirinya sendiri. Menangis takkan membawa apapun kembali. Yang perlu ia lakukan hanyalah menahannya untuk selamanya. Karena Hinata akan menjadi kuat untuk Ayahnya. Walaupun satu-satunya alasan Hinata hidup adalah untuk Ayahnya, walaupun dengan kekosongan ini kekuatan hampir tak dibutuhkan. Ia akan selalu kuat untuk Ayahnya. Lagunya sudah berhenti mengalun, membuat Hinata tersadar, ini masih kamar yang tadi, berarti kejadian yang tadi nyata. Yang terlihat seperti Sasuke menculik Hinata. "Darimana saja kau?" Itu Sasuke, sekarang sudah berada di samping Hinata, duduk nyaman di sofa mewah berwarna merah tak jauh dari tempat tidur, sudah bisa ditebak, pasti Sasuke melihat Hinata melamun begitu lama. "Kenapa memasang lagu itu?" Hinata penasaran. Tidak mungkin Tuan Muda Uchiha ini tahu akan kehidupannya. "Aku sedang ingin." Hinata memasang posisi bertahan, kekuatannya sudah pulih seperti sediakala dan ia bisa bangun sekarang. "Ap… Apa yang Uchiha-sama lakukan pada saya?" Hinata bertanya dengan takut-takut, ia samasekali tidak berharap Sasuke beranjak dari tempatnya dan menghampirinya. Dan memang tidak terjadi, Sasuke tetap pada posisinya. "Tidak ada." Oh, jawaban yang benar-benar tepat, Uchiha, batin Hinata serasa ingin meneriakkan kata-kata itu. Tapi bukan itu yang akhirnya keluar dari bibir mungilnya. "Ke… Kenapa?" Hanya itu akhirnya yang keluar dari tenggorokan kering Hinata. "Aku hanya ingin saja membawamu kesini. Untuk hidup." Hinata merasa familiar, ia merasa teringat lagi akan ayahnya. Jantungnya mencelos, ia mempertanyakan tujuan Sasuke menculiknya di dalam hati. Berusaha mengajukan dugaan masuk akal ke otaknya, tapi otaknya sepertinya tidak bekerja dengan normal. Hinata baru ingat, ia belum makan. Makanan yang terakhir ditelannya adalah Mie Dingin yang dimakannya setengah hati kemarin pagi. Dan sekarang sudah menjelang siang. Perut Hinata berdendang menuntut makanan. Tapi Hinata tidak bisa makan. Harga dirinya lebih tinggi dari perutnya, ia tidak mungkin meminta makanan pada Uchiha brengsek yang sudah menculiknya ini. "Aku tahu kau sangat kelaparan, makanannya ada disebelahmu. Makanlah demi kebaikanmu sendiri dan jangan berbuat hal-hal bodoh. Pakailah kamar mandi itu jika kau butuh. Aku kembali jam lima." Sasuke lalu beranjak dari sofa nyamannya, menuju pintu dan kemudian menguncinya lagi. Hinata berjalan menuju pintu juga. Benar, ternyata pintunya dikunci. Ternyata memang benar ia diculik. Hinata menahan tangisnya, ia salah menilai orang, Sasuke memang terlihat seperti orang baik, tapi ternyata orang itu sangat licik. Harusnya kemarin ia menolak tawaran minum Sasuke. Akhirnya jadi begini, akhirnya ia sendiri yang celaka. Hinata mengingat-ingat sedikit, ia pernah menolak pekerjaan di kantor pusat Uchiha Enterprises di Tokyo sampai tiga kali. Apakah saat ini Uchiha ingin balas dendam kepadanya? Bukankah itu sudah empat tahun yang lalu? Atau Naruto mengerjainya? Yang terakhir tidak mungkin, Hinata sedang dalam masa berkabung, tidak mungkin Naruto melakukan permainan konyol ini padanya. Pada akhirnya Hinata menyerah, lebih baik mengalah untuk sementara, kemudian nanti ia akan pikirkan cara untuk kabur saat Sasuke pulang nanti. Ia harus menahan dulu kemarahan dan ketakutannya saat ini. Jadi Hinata mengambil langkah menuju lemari yang tersedia di kamar itu, lalu membukanya. Hinata tercengang. Ini… Ini semua baju Hinata! Ini baju sehari-hari Hinata, kenapa ada di lemari rumah Uchiha Sasuke? Ini benar-benar sudah gila dan keterlaluan. Tapi Hinata hanya mendesah, sifat Hinata memang kadang-kadang terlalu polos, dan mudah percaya kepada orang lain. Pantas saja ia bisa dengan mudah diculik. Tapi, bukankah diculik dan dibawa kesini itu bagus? Hinata jadi bisa punya tempat tinggal yang layak huni. Rumah beserta isi milik ayah Hinata, Hiashi Hyuuga sudah dijual oleh Hinata untuk melunasi hutang rumah sakit terakhir ayahnya yang membengkak. Terakhir, Hinata menyewa flat murah yang tak layak huni dan sudah rusak sana sini, karena hanya itu yang bisa ia dapatkan. Diambilnya sebuah kaus oblong kedodoran dan celana training panjangnya dari lemari, kemudian ia menuju kamar mandi. Kamar mandinya bahkan mewah sekali. Hanya didalam kamar saja, kamar mandinya sudah en suite, kran-krannya berlapis perak dengan bentuk lumba-lumba, semua furniturnya bergaya victoria dan terkesan mahal. Hinata menyentuh kran lumba-lumba itu pelan-pelan sambil merasakan kemewahan benda itu. Hinata bahkan tidak pernah bermimpi bisa menginap dirumah semewah ini. Hinata keluar dari kamar mandi, menuju cermin di kamar itu. Ia menatap ke cermin, gadis di cermin juga menatapnya. Gadis dengan kaus kedodoran, dan celana training tua, rambutnya bahkan terlihat mengerikan, lepek dan tidak bersinar. Kantung matanya kelewat besar, menutupi bola pearl indahnya. Yang Hinata lihat dicermin adalah gadis berumur 25 tahun yang menyedihkan, bahkan tak ada laki-laki yang mau meliriknya. ~TBC~
Amanda Puspa
Cerpen-Cerbung Member Smash


bangun+rumah 's link
TOO datang:) Read, Like, Coment. ••••••••••••••••••• Sejak diperjalanan mata Morgan meliriki kekasihnya yang sejak tadi terlihat bahagia di wajah cantiknya. Namun tidak bisa di pungkiri perasaan pemuda tampan ini juga merasakan hal yang sama merasakan sangat bahagia bila kenyataan pahit yang hampir saja memisahkan kebahagianya kini sudah berakhir dengan sendirinya. “ Apa sih lihatin terus? Naksir ya?" Feby yang merasa risih di lihati hanya tersenyum menoleh kekasihnya. “ Emang kenapa? Engga boleh lihatin calon Istriku yang cantik ini." Balas Morgan memegang kepala Feby dengan penuh kasih sayang. “ Engga boleh harus bayar." Kata Feby melirik nakal kearah Morgan. “ Boleh, tapi engga pake uang ya? Pake Cinta mau?" Morgan yang sedang menyetir pun tidak mau kalah dengan gadisnya. “ Emang bisa bayar pake Cinta? Bukanya Cinta tidak ternilai harganya ya?" “ Kalo sama kamu semuanya ada, tapi hanya aku yang bisa, buktinya kamu Cinta banget sama Kaka." “ Iya deh percaya, kaka mau langsung pulang apa mau nginep dirumah?" Tanya Feby menatap Morgan yang masih fokus pada jalan. “ Maunya sih engga sekedar nginep, Kalo bobo sama kamu gimana?" Goda Morgan menoleh lagi kearah Feby. “ Mana boleh, belum sah dosa tau." “ Emangnya kaka mau ngapain? Ko sampai dosa." Lagi-lagi Morgan menggodai kekasihnya ini. “ Terus kaka mau ngapain?" Tanya Feby dengan polosnya. “ Emangnya pacarku ini maunya di apain sih?" Morgan bergeliyal genit. “ Udah ah, kaka makin ngaco. Mendingan nyetir yang bener biar cepet sampai rumah aku capek." Kata Feby sedikit nyengir ke arah Morgan. Morgan hanya tersenyum gemas meraih kepala Feby memeluknya dengan tangan kirinya sambil tangan kananya memegang setir mobil. ••••••••• Dina masih terlihat nyaman di pelukan Rangga, walaupun pikiranya ingin memberontak namun tidak tahu hatinya menuntun tenaga untuk tetap dalam pelukan pemuda ini. Sementara dua pasangan suami Istri masih setia melihat dari dalam kamar. Intan hanya tersenyum-senyum memperhatikanya sedangkan Bisma nampak biasa saja. “ Masa cuma pelukan doang dari tadi, ungkapan cinta gitu kek." Dumel Bisma yang bosan melihat Rangga dan Dina pelukan. Intan yang mendengar dumelan suaminya hanya menolehnya. “ Biarin aja sih sayang, suka-suka mereka dong. Ko kamu jadi ikutan ribet sih? Aaa kamu cemburu ya?" Ledek Intan pada suaminya ini. “ Siapa yang cemburu buat apa coba? Aku juga bisa lebih dari kaya Rangga." Bisma dengan tengilnya. “ Oh ya masaa??" “ Oh jadi nantangin." Kata Bisma mendorong dada Intan hingga mentok di tembok lalu mengunci tubuh Intan dengan kedua tanganya menatapnya sinis seperti ingin memangsanya. Intan yang diperlakukan seperti itu hanya terlihat biasa tanpa takut. Tangan Bisma meraih dagu Intan dan langsung menciumnya hingga tanganya beralih ke baju Intan. “ Aaaaaa..." Teriaknya membuat Bisma menghentikan aktifitasnya. “ Siapa yang teriak?" Tanya Bisma pada Intan yang di hadapanya karna bukan Intan yang teriak melainkan orang lain. Intan hanya menggeleng melihat ke arah jendela lagi. “ Rafaell.." Pekik Bisma melihat Rafael menghantam Rangga hingga tubuh pemuda itu jatuh tersungkur di atas rumput taman dan membuat Dina teriak kaget. Bisma menoleh Istrinya lalu berjalan keluar dari kamar di ikuti Intan. •• Rafael yang tadi sempat melihat Dina di peluk Rangga langsung menarik tanggan Dina hingga terlepas dari pelukan Rangga, lalu Rafael menghantam pipi Rangga dan membuatnya tersungkur bahkan dari sudut bibir manis Rangga mengelurkan darah. Rangga terlihat geram karna lagi-lagi kecolongan mendapat tonjokan dari temanya itu atau mantan sahabat dekatnya. luka bekas tonjokan yang dua kali di berikan Rafael saja belum hilang memar dari pipi putihnya, kini ditambah lagi dengan tonjokan begitu kerasnya. “ Loe!! Apa sih mau loe? Hah!!belum puas loe buat Dina sakit hati terus!!" Bentak Rafael begitu marah dengan pemuda bule yang masih memegangi pipinya itu. Dina yang disamping Rafael hanya diam menunduk sambil menangis. Rangga terlihat geram dan menarik kerah Rafael lalu gantian memukul Rafael. Rafael yang tidak terima pun bergantian memukul Rangga dan secara bergiliran dua pemuda ini saling tonjok-tonjokan hingga membuat luka memar di pipinya bahkan darah pun mengalir di bibir masing-masing. “ Sudah cukup!!" Teriak Dina agar dua pemuda dihadapanya menghentikan aksinya. Bukanya berhenti namun keduanya semakin brutal. “ Aku mohon sudah cukup." Dina hanya bisa menangis melihatnya. “ Hey apa-apaan ini." Sentak Bisma yang baru datang bersama Intan. “ Rangga udah." Kata Intan yang juga melihat perdebatan mereka lalu Intan merangkul bahu Dina yang menangis. “ Raf, sudah.." Bisma menahan Rafael yang ingin mengahajar Rangga lagi. “ Biarin aja Bis, gue bunuh dia sekalian." Rafael yang sangat emosi menunjuk Rangga. “ Gue duluan yang akan bunuh Loe! Brengsek!! Bukk." Balas Rangga menghantam lagi namun bukan kena Rafael malah kena Bisma yang di samping Rafael yang mencoba melerai hingga terjatuh karna tonjokan Rangga begitu keras. “ Rangga!!" Sentak Intan yang melihat suaminya ikut kena tonjokan. Rangga yang merasa salah pukul menoleh Intan yang sedang membantu Bisma. “ Bila Kalian ada masalah itu selesaikan dengan baik-baik bukan malah berantem seperti ini." Tegas Intan melihat muak dengan kedua pemuda yang masih bersikap seperti anak muda ini. Sedangkan Dina masih saja menangis dengan sesegukan di belakang Intan dan Bisma. Rangga dan Rafael hanya saling menatap benci. “ Kalian ini seperti anak kecil aja tau engga? Memangnya dengan kalian berantem masalah dapat selesai." Ucap Intan menatap keduanya bergantian. Rafael dan Rangga pun terdiam memegangi pipi memar masing-masing. “ Kamu engga apa-apa?" Intan malah memperhatikan pipi Bisma yang tidak salah tapi malah kena hantaman. “ Sakitt sayang.." Balas Bisma menahan tangan Intan yang menyentuh bibirnya. Padahal tidak seberapa luka Bisma di banding Rafael dan Rangga yang hancur lembur seperti rempeyek kacang. Rangga yang melihat perhatian Intan pada Bisma kini membuang muka menahan rasa cemburu. “ Ayo Din kita pulang." Rafael langsung menarik tangan Dina yang cuma diam. Dina hanya nurut memandang Rangga yang menatapnya hingga berlalu dari hadapanya. Rangga melirik Intan dan Bisma yang masih berdiam melihatnya lalu Rangga pun berlalu meninggalkan Intan dan Bisma. •••• Morgan yang malam ini menginap dirumah kekasihnya kini menempati kamar tamu. Pemuda tampan ini sedikit bersiul saat baru keluar dari kamar mandi. “ Ceklekk.." Bunyi decitan pintu kamar hingga terbuka. “ Belum tidur?" Tanya Feby dari ambang pintu. “ Belum, kenapa? Kangen ya?" Morgan yang melihat kekasihnya datang langsung mendekatinya. “ Ihh PD. ternyata calon suamiku ini Ge'er banget ya?" Sahut Feby. “ Lalu ngapain dong? Tadinya katanya capek ko datang kesini?" “ Emang kenapa engga boleh?" “ Ya boleh sih kalo ada maunya." Kata Morgan senyum-senyum jail. “ Emang ada sih." Feby membalas dengan melingkarkan tanganya di leher Morgan. “ Oh ya? Apa?" Morgan menarik pinggang Feby dan menyatukan keningnya. “ Temani aku makan malam yuk? Aku udah masakin sesuatu buat Kaka, tapi aku malas makan sendiri. Jadi aku mau ditemani calon suamiku ini." Jelas Feby menatap lekat wajah Morgan. “ Boleh sih, tapi harus kasih syarat dong." Pinta Morgan. “ Apa?" “ Minta Kiss boleh kali sayang. Udah kangen tau." “ Emm kasih engga ya?" Goda Feby mengetuk dagunya sendiri dengan telunjuknya. “ Hem meledek Ini." Seru Morgan menurukan tangan Feby dan tersenyum lalu mencium bibir Feby. ••• “ Aauuuww sakit Din." Rintih Rafael saat Dina tengah mengobati luka di pipinya dengan air hangat. “ Maaf.." Kata Dina dengan nada cemberut menempelkan handuk yang terkena air hangat itu tidak kira-kira menekanya di pipi Rafael. “ Aduhh Din tambah sakit ini." “ Gini aja sakit, tadi aja tonjok-tojokan semangat banget." Cetus Dina sedikit mengerucutkan bibirnya. “ Kalo tadi kan belum terasa sakit, baru terasa sakitnya sekarang." “ Alasan!Bilang aja engga bisa nahan Emosi." Kata Dina terus menekan luka Rafael. “ Ya ampun ini Ikhas engga sih? Kasar banget." Protes Rafael memegang tangan Dina yang tengah mengompresnya yang sedikit ditekanya. “ Ya Ikhlas kalo engga ikhlas mana mau aku bantuin ngobatin, lagian kamu ngapain sih? Pake Berantem segala sama Rangga." Omel Dina yang menjadi kesel. “ Aku berantem juga belain kamu Din, emang kamu mau di sakiti Rangga lagi engga kan?" “ Tapi bukan begitu caranya." “ Lalu gimana caranya? Atau jangan bilang kamu masih suka sama Bule itu." Tebak Rafael dan membuat Dina terdiam. “ Engga, kata siapa?" “ Lalu kenapa kamu tadi menangis waktu kita berantem." Bidik Rafael menatap lekat gadis cantik itu. “ Yaa.. Yaa karna aku takut aja, bila kalian berantem sampe mati gimana? Yang ada kan aku yang merasa bersalah." Jawab Dina sepontan menekan tanganya yang di pipi Rafael. “ Aww takut-takut jangan pipi aku juga yang ditekan tambah sakit." Protes Rafael dan Dina mulai sedikit terkekeh mendengarnya. “ Kamu itu lebih cantik tertawa tau engga? Dari pada nangis kaya tadi." Puji Rafael dan gadis ini hanya tersenyum malu lalu menekan kembali pipi Rafael. “ Aww sakittt Din." Keluh Rafael. Lagi-lagi Dina kembali tertawa. “ Loe kenapa Raf? Ko bisa bonyok kaya gini?" Tanya Shilla yang melihat muka Rafael memar luka tonjokan. “ Engga apa-apa biasalah luka anak cowo." Jawab Rafael dengan gampangnya. “ Pasti gara-gara loe ya Din." Tebak Shilla menatap Dina sinis. Dina hanya diam melirik Rafael. Melihat kediaman Dina sudah membuat Shilla tahu yang sebenarnya. “ Loe itu ya? Sama aja tau engga kaya Intan, cuma bisa bikin masalah dalam hidup orang." Kata Shilla pada Dina. Karna dulu pun Intan suka bikin masalah antara Rangga dan Bisma hingga membuatnya saling benci. Sekarang gara-gara Dina hingga membuat permasalahan antara Rafael dan Rangga. “ Ko elo jadi nyalahin gue sama Intan sih?" “ Terus gue harus salahin siapa? Rafael? Dia juga engga akan kaya gini kalo bukan karna Loe." Tuduh Shilla. Dina hanya menatap kesal perempuan cantik teman baiknya ini. “ Udah-udah, gue yang berantem ko jadi kalian yang ribut sih." Lerai Rafael pada dua gadis cantik ini. Dina menoleh Rafael dengan kesal lalu bangun dari duduknya meninggalkan Rafael dan Shilla begitu saja. “ Din.." Panggil Rafael namun Dina tetap berjalan menuju kamarnya. “ Loe tuh apa-apaan sih Shil? Datang-datang malah bikin ribut." “ Ko loe jadi nyalahin gue? Gue kan cuma mau nolongin doang." “ Nolongin apa? Kalo engga tau masalahnya engga usah ikut campur deh." Ketus Rafael lalu meninggalkan Shilla. Shilla yang mendengar ucapan Rafael langsung menggempalkan tanganya karna menahan amarah melihat tingkah Rafael yang selalu membela Dina, hingga matanya pun mulai panas mengeluarkan butiran bening. •••• Rangga yang mengobati lukanya sendiri hanya diam di meja bar rumahnya di temani heningnya malam ini. Rangga memejamkan mata mengingat apa yang baru saja di lakukanya. “ Sini aku bantu ngobatin.. “ Intan.." Lirih Rangga yang melihat gadis cantik tengah duduk di sampingnya. Intan hanya tersenyum membawa kotak obat di tanganya. Intan mulai membuka kotak obatnya dan meraih dagu Rangga untuk melihat wajah bonyok Rangga lalu menempelkan kapas yang sudah di kasih alkohol. “ Arghhstt perihh." Rintih Rangga memegang tangan Intan. “ Cuma sebentar." Kata Intan dan akhirnya Rangga pun melepaskan tanganya menahan perih. “ Udah, nanti juga sembuh ko." Kata Intan membereskan kotak obatnya lagi. “ Makasih ya?" Seru Rangga dan Intan hanya mengaguk. “ Ngga.. “ Hemm.. “ Sebenarnya kamu cinta engga sih sama Dina?" Hardik Intan dan seketika Rangga terdiam. "Ngaa... “ Aku engga tau Ntan.." Jawab Rangga yang bingung dengan hatinya. “ Bagaimana kamu mau tahu, kamu saja selalu ngikutin emosi kamu. Bila kamu Cinta sama Dina jangan buat dia nangis dan mempergunakan kelemahanya untuk balas dendam masalah kamu sama Rafael." Ujar Intan menasehati Rangga. Dan Rangga hanya diam melihat wajah Intan yang menatapnya. “ Mama.." Suara mungil terdengar ditelinga Intan dan Rangga. Lalu keduanya menoleh kearah tangga terlihat bocah kecil dengan mata sayup berjalan mendekatinya. “ Loh anak Mama ko udah bangun?" Tanya Intan mengangkat tubuh Rasya dan memangkunya. Lasya yang setengah malas hanya manggut-manggut bersandar di dada Mamanya. “ Mau Mama buatin susu?" Tawar Intan dan Rasya lagi-lagi mengaguk karna baru bangun membuatnya malas untuk berucap. “ Om Napa?" Tanya Rasya yang melihat Rangga mukanya memar. “ Om engga apa-apa, tadi Om jatuh." Dusta Rangga. “ Om ganteng engga? Mirip siapa coba?" Bisik Intan di telinga Rasya berusaha meledek Rangga. “ Milip badut." Jawab Rasya dan membuat Intan tertawa. “ Jahat banget Om di bilang badut, sini Om cium loh." Ancam Rangga mengangkat tubuh Rasya dari pangkuan Intan membuatnya terkekeh. Terilhat dari lantai atas Bisma yang berdiri melihat ke bawah hanya menahan rasa sakit di hatinya yang setiap hari melihat kedekatan Rangga dan Intan padahal sebelum menikah dengan Bisma pun Intan sudah seperti ini dan selayaknya adik kaka. Namun berbeda dengan pikiran Bisma, karna yakin Rangga masih menyimpan rasa untuk Intan. “ Sampai kapan gue akan tahan lihat ini terus, bagaimana pun caranya gue harus bawa keluarga gue keluar dari sini." Batin Bisma menatap sinis kearah Istrinya dan Rangga yang tengah tertawa dengan kelucuan Rasya. “ Papa.." Seru Rara dari arah kamarnya memanggil Bisma. “ Iya sayang, loh belum bobo?" Tanya Bisma dan Rara hanya menggeleng. “ Rara mau bobo sama Papa." Pinta Rara. Bisma hanya tersenyum mengusap kepala Rara. “ Ya udah ayo sama Papa." Ajak Bisma pada putrinya. “ Tante Dina udah ngasih bonekanya?" Tanya Bisma melihat boneka Micky mouse Rara yang di atas tempat tidur. “ Tante Dina kesini Papa?" Rara bertanya balik. “ Iya tadi, Rara engga ketemu?" Tanya Bisma lagi dan Rara menggeleng. “ Terus Rara dapat boneka itu dari mana?" “ Tadi Rara nemu di bawah. Jatuh di lantai." Jelas Rara. Bisma hanya tersenyum melihat putrinya yang cantik seperti Ibunya ini. “ Rara pinin deh Papa, punya Mama kaya Tante Dina." Cetus Rara yang sudah duduk di atas tempat tidur. “ Memangnya kenapa? Kan ada Mama Intan?" “ Tapi Rara sukanya sama Tante Dina." Jawab Rara antusias. “ Ko gitu?" “ Tante Dina baik dan sayang sama Rara." Jelas Rara yang selama ini bisa menilai kebaikan dan ketulusan Dina saat denganya. “ Mama Intan juga sayang ko sama Rara." “ Tapi nda tau Papa, Rara suka sama Tante Dina aja." Rara dengan begitu polosnya mengungkapkan kenyamanan dalam hatinya bersama Dina. “ Ya tuhan.. Apa mungkin gadis kecilku bisa merasakan perasaanya jika orang disini masih setengah hati menerima kehadiranya." Batin Bisma tersenyum miris melihat putrinya yang masih sangat polosnya jika harus tahu yang sebenarnya dengan orang disekitarnya. “ Ya sudah sekarang Rara bobo, besok Papa antarin ke tempat Tante Dina ya?" “ Mau Papa.." Bisma tersenyum lalu menemani Rara tidur di kamarnya. •••• Reza yang baru pulang olahraga pagi melihat Dina sudah rapi dengan pakaianya. Dina yang mungkin tidak sadar dengan adanya Reza langsung berjalan saja hingga membuat Reza menahan lenganya. “ Buru-buru banget sampai engga lihat gue." Kata Reza memegang lengan Dina. “ Ehh sorry Za gue engga lihat beneran sumpah." Dina dengan sedikit nyengir melihat Reza. “ Mau kemana? Masih pagi gini?" Tanya Reza melepas tanganya dari lengan Dina. “ Gue mau cari kerjaan, bosen gue di rumah mulu." “ Kerjaan buat apa? Kalo loe mau niat kerja tinggal minta sama kita, juga akan kita kasih kerjaan buat elo." Ujar Reza pada gadis yang sudah terlihat cantik ini. “ Justru itu, gue pingin hidup sendiri. Bos Bisma itu udah sangat baik sama gue. Makin lama dia baik makin susah gue untuk keluar dari sini." Jelas Dina. “ Jadi Loe mau keluar dari markas ini? Ada sesuatu yang bikin loe engga betah ya? Gue tau Dina itu engga kaya gini." Ucap Reza dan Dina hanya menunduk tidak tahu apa yang difikirnya saat ini hingga sering memutuskan ingin sekali keluar dari markas. “ Gue ingin lari jauh dari hidup Rangga, gue juga engga tahan lihat Shilla yang marah-marah terus tanpa alasan jelas sama gue. Entah Shilla marah karna gue dengan Rangga atau dengan siapa." Batin Dina yang menjawab hingga terdiam tanpa membalas ucapan Reza. “ Loe tahu kan Din? yang buat loe masuk disini itu Bisma. Jika loe berusaha keluar tanpa se izin Bisma gue jamin dia akan marah." Tegas Reza dan Dina hanya menatap Reza. “ Udah deh engga berfikir macam-macam, sekarang loe masuk." “ Tapi Za.. “ Udah masuk, ntar gue yang bicarakan sama Bisma." Ucap Reza dan Dina pun menuruti perintah Reza. Andai Dina mau sebenarnya dia bisa saja pergi dari markas namun melihat kebaikan Bisma yang selama ini diberikanya membuatnya merasa hutang budi biarpun ia harus merelakan tubuhnya saat bertemu Bisma. ••••• Rasya yang sudah siap dengan pakaianya kini tengah bercanda dengan Rasya. Sedangkan Intan terlihat sibuk membuatkan susu untuk Rasya dan Rara. Bisma? Dia sedang mandi di kamar. Rara melihat kecandaan Rangga dan Rasya hanya bisa tersenyum karna sempat ikutan tapi Rangga malah mengabaikanya. “ Kenapa Om ganteng cuek sama Rara ya? Apa Om ganteng engga suka sama Rara." Fikir gadis kecil ini yang sempat bertanya dan berbicara tapi malah di abaikan oleh Rangga. “ Om temalin Lasya lihat mainan lucu. Lasya pinin Om." Pinta Rasya di tengah sarapanya. “ Rasya pingin beli? Nanti ya? Kalo libur aja." Jawab Rangga mengusap bibir blepotan Rasya yang terkena Selai. “ Jangan, mainan Rasya sudah banyak. Itu yang dikamar masih banyak yang engga ke pake main." Larang Intan memberikan susu untuk putranya. “ Yaa Mama, Lasya mau." “ Sayang sekali engga, tetap engga ya." Tegas Intan dan membuat Rasya manyun. “ Udah ah jangan cemberut. Nanti Om beliin." Bisik Rangga dengan pelan. “ Rangga.. “ Iya ya engga." Sahut Rangga namun matanya sedikit berkedip memberi Isyarat pada Rasya yang manggut-manggut. “ Rara engga ko di ma'em?" Tanya Intan yang juga memberikan susu untuk Rara. “ Iya Mama.." Jawab Rara tersenyum kecil sama Intan karna sejak tadi gadis ini duduk diam tanpa menyentuh makanan yang dihadapanya. “ Hari ini kamu ngantor Ngga?" Tanya Intan. “ Iya, kenapa?" “ Kan muka kamu masih memar gitu." “ Engga apa-apa yang pentingkan engga ngilangin gantengnya." Ujar Rangga sambil terkekeh. “ Hem PD banget sih kamu." Kata Intan ikut tertawa kecil. “ Pagi cantik, ko engga di ma'em." Sapa Bisma yang baru datang dengan pakaian rapinya langsung menyapa Rara. “ Iya ini Ma'em ko Papa." Balas Rara. Intan terdiam karna Bisma tidak menyapa dirinya atau Rasya yang biasanya diberi kecupan pagi pun kini tidak diberikan pagi ini. “ Kamu mau sarapan apa Pah?" Intan bertanya pada Bisma. “ Engga usah aku engga lapar." Tolak Bisma sambil melirik Rangga yang terlihat santai duduk di samping putranya. Intan lagi-lagi terdiam melihat sikap dingin suaminya pagi ini. “ Papa kesiangan sayang, Papa antarin ke rumah Tante Dina sekarang ya? Nanti Rara ma'em disana aja." Kata Bisma pada putrinya dan Rara cuma manggut-manggut menuruti. “ Rara mau di bawa ke markas?" Tanya Intan. “ Iya, lagian disini mau sama siapa? Rara belum aku daftarin sekolah, kamu kan kerja jadi biar aja dia sama Dina." Jelas Bisma tersenyum mengusap rambut lurus putrinya. “ Ayo sayang.." Ajak Bisma dan Rara bangun dari duduknya. “ Jangan lupa bawa MiMo-nya." Pesan Bisma agar putrinya membawa boneka kesayanganya ini. Tanpa pamit dengan yang lain Bisma langsung saja menggandeng tangan Rara keluar dari rumah Rangga. “ Bisma kenapa ya?" Batin Intan melihat sikap aneh suaminya yang terlihat dingin pagi ini. Intan melirik Rangga yang mengangkat kedua bahunya karna tidak tahu dengan sikap Bisma. Rasya hanya menatap begitu polosnya melihat kepergian Ayahnya. TBC Engga tau gimana part ini:) mari di Like dan comentnya:) Awalnya aluran cerita Feby-Mona dan Morgan itu bukan kaya gitu tau. tapi karna kalian maunya Morgan sama Feby jadi aku buat balikan deh. Harusnya konflik mereka juga belum selesai. Nanti insya allah special brithday ka Moey aku mau buat cerpen TOO versi part Morgan-Mona dan Feby yang harusnya aluran ceritanya kaya cerpen nanti. Kalian nanti bisa lihat betapa mirisnya di antara Mona dan Feby tapi lewat cerpen. Okesiip:) @Resniie18
J S Sudiono

kisahmuslim.com
bangun+rumah 's link
Cerita kisah cinta penggugah jiwa: kisah para nabi, rasul, orang shaleh, umat terdahulu, dan masa depan
Medan Sumatra Utara


bangun+rumah 's link
Pada mulanya yang membuka perkampungan Medan adalah Guru Patimpus, lokasinya terletak di Tanah Deli, maka sejak zaman penjajahan orang selalu merangkaikan Medan dengan Deli (Medan–Deli). Setelah zaman kemerdekaan lama kelamaan istilah Medan Deli secara berangsur-angsur lenyap sehingga akhirnya kurang popular Dahulu orang menamakan Tanah Deli mulai dari Sungai Ular (Deli Serdang) sampai ke Sungai Wampu di Langkat sedangkan Kesultanan Deli yang berkuasa pada waktu itu wilayah kekuasaannya tidak mencakup daerah di antara kedua sungai tersebut. Secara keseluruhan jenis tanah di wilayah Deli terdiri dari tanah liat, tanah pasir, tanah campuran, tanah hitam, tanah coklat dan tanah merah. Hal ini merupakan penelitian dari Van Hissink tahun 1900 yang dilanjutkan oleh penelitian Vriens tahun 1910 bahwa di samping jenis tanah seperti tadi ada lagi ditemui jenis tanah liat yang spesifik. Tanah liat inilah pada waktu penjajahan Belanda ditempat yang bernama Bakaran Batu (sekarang Medan Tenggara atau Menteng) orang membakar batu bata yang berkwalitas tinggi dan salah satu pabrik batu bata pada zaman itu adalah Deli Klei. Mengenai curah hujan di Tanah Deli digolongkan dua macam yakni : Maksima Utama dan Maksima Tambahan. Maksima Utama terjadi pada bulan-bulan Oktober s/d bulan Desember sedang Maksima Tambahan antara bulan Januari s/d September. Secara rinci curah hujan di Medan rata-rata 2000 pertahun dengan intensitas rata-rata 4,4 mm/jam. Menurut Volker pada tahun 1860 Medan masih merupakan hutan rimba dan di sana sini terutama dimuara-muara sungai diselingi pemukiman-pemukiman penduduk yang berasal dari Karo dan semenanjung Malaya. Pada tahun 1863 orang-orang Belanda mulai membuka kebun Tembakau di Deli yang sempat menjadi primadona Tanah Deli. Sejak itu perekonomian terus berkembang sehingga Medan menjadi Kota pusat pemerintahan dan perekonomian di Sumatera Utara Pada awal perkembangannya merupakan sebuah kampung kecil bernama "Medan Putri". Perkembangan Kampung "Medan Putri" tidak terlepas dari posisinya yang strategis karena terletak di pertemuan sungai Deli dan sungai Babura, tidak jauh dari jalan Putri Hijau sekarang. Kedua sungai tersebut pada zaman dahulu merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai, sehingga dengan demikian Kampung "Medan Putri" yang merupakan cikal bakal Kota Medan, cepat berkembang menjadi pelabuhan transit yang sangat penting. Semakin lama semakin banyak orang berdatangan ke kampung ini dan isteri Guru Patimpus yang mendirikan kampung Medan melahirkan anaknya yang pertama seorang laki-laki dan dinamai si Kolok. Mata pencarian orang di Kampung Medan yang mereka namai dengan si Sepuluh dua Kuta adalah bertani menanam lada. Tidak lama kemudian lahirlah anak kedua Guru Patimpus dan anak inipun laki-laki dinamai si Kecik. Pada zamannya Guru Patimpus merupakan tergolong orang yang berfikiran maju. Hal ini terbukti dengan menyuruh anaknya berguru (menuntut ilmu) membaca Al-Qur'an kepada Datuk Kota Bangun dan kemudian memperdalam tentang agama Islam ke Aceh. Keterangan yang menguatkan bahwa adanya Kampung Medan ini adalah keterangan H. Muhammad Said yang mengutip melalui buku Deli: In Woord en Beeld ditulis oleh N. ten Cate. Keterangan tersebut mengatakan bahwa dahulu kala Kampung Medan ini merupakan Benteng dan sisanya masih ada terdiri dari dinding dua lapis berbentuk bundaran yang terdapat dipertemuan antara dua sungai yakni Sungai Deli dan sungai Babura. Rumah Administrateur terletak di seberang sungai dari kampung Medan. Kalau kita lihat bahwa letak dari Kampung Medan ini adalah di Wisma Benteng sekarang dan rumah Administrateur tersebut adalah kantor PTP IX Tembakau Deli yang sekarang ini.  
Theresia Diah Widiastuti

dinishanti.com
bangun+rumah 's link
Semua orang bekerja dan berusaha, pastinya untuk mencapai suatu level kenyamanan yang diinginkan, benar? Tapi sayang nya, ketika zona nyaman yang diinginkan itu

Powered by WordPress SEO Tools

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>