Banner SEO Academy 600x90
  • Desain Rumah Minimalis Menjadi Tren di Tahun 2011

    Posted on January 29, 2012 by in Desain rumah minimalis

    Memang tahun 2011 telah berlalu dan tahu baru 2012 ini menawarkan desain rumah yang terbaru dari tahun-tahun sebelumnya. akan tetapi ada baiknya kita melakukan napak tilas tentang desain rumah yang menjadi trend pada tahun 2011 yang lalu. untuk lebih jelasnya, dari sekian banyaknya desain rumah pada tahun 2011 kemarin memang desain rumah minimalis masih menjadi plihan dibandingkan desain rumah lainnya. Terpilihnya  Desain Rumah yang Minimalis sebagai trend pada tahun 2011, alasannya terpilih  karena desain rumah minimalis  tersebut kelihatan modern sehingga telah menjadi tren pada tahun 2011. akan tetapi , Desain rumah minimalis yang dimaksud disini bukanlah desain rumah yang sederhana dan dibangun seadanya dari bahan seadanya karena kebanyakan orang mengacu pada kata minimalis. Disini arti kata minimalis yang sebenarnya dan yang dimaksud adalah rumah dengan desain yang simpel, elegan dan kelihatan modern.

    Memang Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa rumah dengan desain minimalis bukan hanya sekedar gaya hidup akan tetapi lebih terletak pada filosofi hidup dari yang si pemilik rumah. berikut ini Ada beberapa filosofi hidup yang cocok bagi orang yang ingin memiliki rumah dengan desain minimalis.

    1. Orang yang lebih mementingkan esensial yaitu orang yang cenderung lebih senang menaruh barang yang penting saja atau fungsional di rumahnya.
    2. Orang yang lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas, orang yang lebih senang menaruh barang sedikit tetapi berguna daripada banyak tetapi hanya akan makan tempat saja.
    3. Orang yang menyukai kebersihan dalam artian orang ini cenderung senang membuat seluruh sudut rumahnya mudah dibersihkan atau tidak ada permukaan di rumahnya yang sulit dijangkau untuk dibersihkan

    Oleh karena beberapa filosofi tersebutlah yang membuat beberapa orang masih ingin memiliki rumah dengan desain minimalis dan hal tersebut menjadi idola atau tren bagi masyarakat tidak hanya di kota besar tetapi juga di pedesaan. tidajk hanya itu, developer perumahan pun tidak mau ketinggalan. hal tersebut dapat terlihat dari hampir semua developer perumahan yang setiap kali membuka lahan baru selalu mengedepankan desain rumah yang minimalis, baik itu untuk type 36, 45, 54 maupun 70.

    Jadi mengapa desain rumah minimalis pada tahun 2011 menjadi tren ketimbang desain rumah lainnya, alasannya sudah dijelaskan tadi dan salah satunya rumah dengan desain minimalis memang lebih banyak kelebihannya, jadi saran saya jika anda ingin membangun rumah ada baiknya jika anda memilih desain rumah minimalis.bang

    Incoming search terms:

    rumah minimalis 2 lantai modern (134);
  • design rumah terkini (50);rumah natural minimalis (45);ruko minimalis 2 lantai (35);pengertian rumah minimalis (32);desain rumah baru (26);rumah minimalis 3 lantai (23);bentuk rumah terbaru (21);www desain rumah com (19);rumah tingkat minimalis type 36 (17);rumah cluster (17);design rumah baru (13);galeri rumah minimalis tahun 2012 (12);bentuk rumah 2012 (12);Desain ruko minimalis modern (12);rumah modern terbaru (12);GAMBAR RUMAH LANTAI SATU TAMPAK DARI DEPAN (11);diasain rumah toko tingkat 2 (10);tampak depan rumah minimalis lantai 2 (10);rumah minimalis cluster (10);bentuk rumah klasik sederhana (10);wajah rumah minimalis (5);profilan rumah minimalis (5);design rumah dualantai (4);tren rumah minimalis modern (4);rumah profil minimalis (3);macam2 bentuk gambar rumah (3);contoh rumah bertingkat yang dibangun di pojok (3);www disain rumah com (3);desain teras rumah terbaru (2);model bentuk muka rumah dan toko minimalis (2);rumahpojok tingkat modern (2);rumah pojok dualantai (2);model atap garasi rumah (2);GAMBAR RUMAH TOKO MINIMALIS POJOK 2013 (2);model ruko sederhana berlantai 1 tampak depan (2);model rumah baru (2);model rumah type 70 yang ada garasi mobil tahun 2013 (2);model rumah type 21 lantai 2 tahun 2013 (2);desain tangga depan rumah (2);denah rumah tipe 70 minimalis terbaik (2);www desainrumahcluster (2);www poto-poto rumah unik com (2);teras rumah yang model depan nya bertingkat (2);bentuk muka tingkat dua minimalis (2);desain rumah dualantai simpel ada bengkel (2);GAMBAR MODEL RUMAH TERKINI (2);www desain rumah (2);denah rumah minimalis 3 lantai (2);desaign rumah dengan atap garasi (2);rmah minin modrn (1);www model rumah simpel bertingkat (1);rmh minimalis terpilih thn 2013 (1);rumah bertingkat moder minimalis (1);WWW GAMBAR TERAS RUMAH DEPAN SEDERHANA 2011 COM (1);RUMAH LANGIT ADZ-DZIKRA (1);www gambar tampak depan rumah bertingkat (1);renovasi rumah lantai 1 disamping pojok bentuk minimalis tipe 36 (1);tampak depan ruko (1);www rumah pintu samping com (1);model tian teras rumah modern (1);pagar minimalis kayu mewah (1);www poto ruko 2lantai com (1);tampak depan modern minimalis 2 tingkat mewah (1);perumahan type 54 (1);profil rumah MODERN (1);www poto dak pelapon rumah com (1);propil pagar minimalis (1);www galeri rumah sederhana (1);www galeri rumah bertingkat (1);www denah ruko tingkat minimalis com (1);Wajah rumah minimalis tipe 36 (1);Type Dak muka rumah (1);trend rumah minimalis satu lantai type 36 45 70 terbaru 2013 (1);rumah toko minimalis 2 lantai (1);tren terbaru rumah 2012 (1);tampak depan ruko modern 3 lantai (1);tampilan depan kedai minimalis (1);tampak muka rumah 2 lantai 2garasi (1);www gambar tipe rumah (1);tampilan depan ruko dengan kaca (1);rumah minimalis di medan 2012 (1);rumah minimalis modern 2 lantai ada warung (1);rumah minimalis modern terbaru (1);rumah minimalis modern type 21 tahun 2013 (1);rumah minimalis tipe 36 ada toko di depan (1);rumah minimalis type 50 ada warung di dwpan (1);www desain rumah pintu samping com (1);rumah model sekarang (1);rumah modern minimalis dengan bagian teras d bangun toko dan garasi (1);tampak muka ruko 3lantai (1);model rumah pojok type 36 minimalis (1);bentuk depan atap rumah (1);desain muka depan rumah dua lantai (1);desain profil dak rumah (1);desain profil depan rumah minimalis (1);desain ruko pojok (1);desain rumah ada warungnya (1);desain rumah cluster minimalis (1);desain rumah mewah lantai 1tampak depan (1);desain rumah minimalis tipe 70 pojok (1);desain rumah minimalis type 36 pojok (1);desain rumah pojok dan toko (1);desain rumah tampak depan lantai satu (1);design rumah minimalis cluster (1);design samping rumah kaca (1);diasain rumah minimalis lt 54 (1);desain gambar rumah type50 warung (1);desain atap rumah minimalis 2 lantai (1);bentuk muka rmh minimalis (1);bentuk muka rumah tingkat dua (1);bentuk rumah sederhana ada toko (1);contoh rumah ada warung (1);contoh tampilan depan rumah (1);contoh teras depan rumah (1);dakminimalis (1);dena rumah tingkat minimalis type 21 (1);denah ruko pintu lewat samping (1);denah rumah cluster minimalis (1);denah rumah pojok dan toko (1);bentuk dak depan (1);denah tampak depan ruko 2 lantai minimalis terbaru (1);desaign depan rumah terbaru (1);Disain ruko minimalis type 35 satu lantai (1);foto rumah sederhana ada garasi (1);Gambar dak profil rumah (1);kumpulan galeri rumah klasik (1);kumpulan gambar rumah minimalis type 21 per 60 th 2013 (1);kumpulan gambar rumah minimalis type 70 pojok (1);kumpulan gambar tampak depan ruko minimalis 2 lantai (1);medinah tampak depannya rumah menjadi minimalis (1);gambar profil rumah minimalis (1);model depan rumah ruko lantai mini (1);model depan rumah terbaru (1);model minimalis rumah type 36 pojok (1);model muka rumah minimalis (1);model pagar rumah mewah (1);model rumah cluster minimalis (1);model rumah lantai 2 thn2011 (1);model rumah minimalis sederhana ada warung (1);koleksi gambar rumah-rumah cluster (1);koleksi foto tian teras rumah (1);gambar denah desain rumah klasik modern3 lantai (1);gambar denah rumah tipe 45/70 (1);gambar depan rumah tipe minimalis tidak kelihatan atap (1);gambar model ruko terkini (1);gambar model tian teras rumah modern (1);Gambar muka rumah tingkat model baru (1);gambar profil rumah minimalise (1);gambar ruko minimalis tidak bertingkat (1);gambar ruko2 tingkat modern (1);gambar rumah pojok tipe 36 yg paling bagus (1);Gambar rumah sederhana pojok (1);gambar rumah tipe 36 pojok renovasi (1);gambar warung dpn rumah (1);garasi rumah modern (1);model rumah minimalise (1);

    Twitter

    anzimatta Sat, 18 May 2013 13:10:07 +0000
    @silviarimaa aku bangun mall atau waterpark atau arena balapF1 ajalah di rumah kamu, silv.. Biar semangat!
    TrevorLockk Sat, 18 May 2013 13:09:58 +0000
    @ElynaSyaznii dah agak dah confirm ada yg tangkap gambar. uncle tak cukup tidur ah. balik rumah pukul 6 pagi. pukul 12 dah bangun
    stevanus_y Sat, 18 May 2013 13:09:57 +0000
    Huaaaa akhirnyaaaa dateng crbon jam 1 siang bangun jam seginiii \(ˆ▽ˆ)/ rumah sndiri memang paling enak buat tidurrrr =))
    sumiati25 Sat, 18 May 2013 13:09:14 +0000
    RT @TweetRAMALAN: VIRGO, Kesehatan: Tidak ada salahnya jika Anda bangun lebih awal dari biasanya dan dilanjutkan dengan lari-lari kecil di depan rumah.
    fathein Sat, 18 May 2013 13:09:12 +0000
    RT @ameera11: @fathein @HanimBaharom @nur_syahirah10 @NadeaNadeot hahaha besok bangun pagi teruus ambik penyapu sapu rumah mop lantai.hahahaha
    ameera11 Sat, 18 May 2013 13:08:12 +0000
    @fathein @HanimBaharom @nur_syahirah10 @NadeaNadeot hahaha besok bangun pagi teruus ambik penyapu sapu rumah mop lantai.hahahaha
    Odhe_26YNWA Sat, 18 May 2013 13:06:25 +0000
    dlu sy sakit kencing batu, krna udah brobat k cupang klinik, kencing sy mngeluarkan pasir&Semen, skrg sy bs bangun rumah !!! #CupangKlinik
    mhbillqis Sat, 18 May 2013 13:06:18 +0000
    Esuk nak kena bangun pkul 5 . Nak kena masak kemas rumah semua . Hmmm nak tidur .
    AmelAkhmar Sat, 18 May 2013 13:06:10 +0000
    @MUHDARFAZHD Kat rumah je hahah, tapi aku malas nak bangun la
    misbah43 Sat, 18 May 2013 13:05:29 +0000
    Iya lah,besok latihan band,buat tampil di inbox,wkwk"@Dewanto_DB: Apaan? Rumah Kreatif? Wkwk RT @misbah43: Gua bangun tidur langsung jadi
    adityudhis Sat, 18 May 2013 13:05:18 +0000
    Kalo bangun rumah jangan pelit2, bikin pondasinya pake bahan terbaik
    UlenNada Sat, 18 May 2013 12:59:22 +0000
    tergantung sikon nad.. haha RT @nadyaasteria: @UlenNada itu lakiknya tukang bangun rumah yaaaaa? :D
    wildaida Sat, 18 May 2013 12:59:20 +0000
    RT @TweetRAMALAN: VIRGO, Kesehatan: Tidak ada salahnya jika Anda bangun lebih awal dari biasanya dan dilanjutkan dengan lari-lari kecil di depan rumah.
    siskauliaaa Sat, 18 May 2013 12:58:39 +0000
    Kalo dulu mah inget romantisnya tiba2 ada depan rumah pagi2 masih pas gw bangun tidur,skrg mah boro2.iyalah lain dulu lain skrg :')
    DeboraBBS Sat, 18 May 2013 12:57:50 +0000
    @Kezia_lalenoh hahahah apalagi gua kez.. Nyampe rumah gw lngsung tdur, bangun'a jam 3 x_x

    Videos

    Facebook

    Hidayatun Nafiah


    bangun+rumah 's link
    (sebelumnya) Di sisi lain sepasang mata mengamatiku di balik pohon, ia tampak kesal dan mengepalkan tangannya. *** Terik mentari mulai masuk dari celah-celah tendaku. Itu berarti aku harus membereskan semua barang-barangku, memasukkannya ke dalam ransel dan sebagian ke tas jinjing, karena hari ini adalah hari terakhirku di bumi perkemahan. Selepas ku mengemas barang-barang, aku dan Clara pun bergegas menuju bus yang akan mengantarkan kami kembali ke kehidupan kami yang semula. Belum sampai di bus, seseorang menabrak kami dari belakang hingga tas yang kami bawa jatuh ke tanah. "Bisma." Bentakku, namun ia hanya menoleh dan kembali berjalan setelah melihat ada seseorang yang berdiri di belakangku. "Orang aneh. Kadang baik, kadang nyebelin." Dumelku. "Sini aku bawain tasnya." Kata seseorang tiba-tiba. "Rafael." Ucapku kaget. Rafael langsung meraih tasku dan Clara, membawanya hingga ke bus. "Makasih ya, Raf." Ucap Clara setelah sampai di dalam bus. Rafael pun tersenyum dan bertanya, "Mau aku bantu meletakkan barang-barang kalian di jok?" "Ngga usah, Raf. Kita bisa sendiri kok." Jawabku. "Ya udah deh." Kata Rafael masih dengan senyum mautnya. Rafael pun meninggalkanku dan Clara menuju kursinya yang bersebelahan dengan Bisma. *** Sesampainya di depan rumah, tampak sepasang suami istri tengah mengobrol. Itu mama dan papaku. "Kamu sudah pulang, sayang?" Tanya mamaku. Aku hanya mengangguk karena terlalu lelah. "Kenapa ngga SMS atau telpon dulu, biar papa jemput kamu?" Tambah papaku sambil membawakan barang-barang yang aku bawa tadi. "Baterai hape (sebut nama kamu) habis, Pa." Jawabku melas. "Kasihan anak mama." Kata mamaku sambil mengusap rambutku. Aku, mama, dan papa pun memasuki rumah. Di ruang tamu, aku langsung membanting tubuhku ke sofa, mama duduk di sampingku, dan papa duduk di sisi yang lain sambil membolak-balikan halaman surat kabar. "Kemahnya menyenangkan, Sayang?" Tanya mamaku sambil mengusap lembut rambutku. "Seneng sih, Ma, tapi capek." Jawabku. "(sebut nama kamu) mau nyuci baju dulu ya, Ma." Sambungku dan langsung beranjak pergi sambil membawa ransel yang penuh dengan pakaian kotorku. Memang aku sering mencuci pakaianku sendiri karena di rumah tak ada pembantu. Mamaku sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, makanya aku tak ingin membebaninya. Sampai di dekat mesin cuci, aku membuka ranselku. Aku keluarkan semua isinya, namun mataku tiba-tiba tertuju ke arah sapu tangan Bisma yang jatuh ke lantai. Aku mengambinya. "Bisma.." Batinku. Entah mengapa tiba-tiba aku teringat padanya. "(sebut nama kamu), kamu sudah makan belum?" Tanya mama dari arah dapur membuyarkan lamunanku. "Tadi udah kok." Jawabku. "Ya udah, habis nyuci kamu istirahat ya? Atau mama yang nyuciin?" Tanya mama lagi. "(sebut nama kamu) bisa sendiri, Ma." Jawabku sambil mempercepat gerakanku. Setelah selesai mencuci pakaian dan menjemurnya, aku bergegas ke kamar dan langsung membanting tubuhku ke ranjang tidurku. Aku sangat lelah. Lama kelamaan mataku mulai mengantuk dan akhinya aku tertidur. *** Dalam tidur lelapku, seseorang membuka pintu kamarku. Ia mendekatiku yang tidur terlentang dan menarik hidungku pelan. Aku pun terusik, lalu membuka mataku perlahan. "Ma, aku masih ngantuk." Ucapku, masih setengah sadar. "Bangun sayang! Jangan terlalu lama tidurnya! Nanti malam ngga bisa tidur lho." Katanya lembut padaku, lalu mama menarik kedua tanganku agar memosisikan duduk dan bangun. "Cuci muka dulu sana!" Suruhnya dengan nada pelan. Aku pun berdiri dan berjalan menuju kamar mandi dengan malas. "Ayo dong, semangat! Nanti mama masakin semur ayam deh." Kata mamaku. Aku langsung bersemangat berjalan ke kamar mandi, karena semur ayam buatan mamaku adalah makanan favoritku. *** "Ma, aku bantuin masak ya?" Ucapku saat tiba di dapur. Mama sedang mengiris bawang. Tingtung *anggap suara bel rumah*, bel rumah tiba-tiba berbunyi. "Kamu lanjutin ngirisnya ya, Sayang! Mama mau buka pintu dulu." Kata mamaku meninggalkan dapur. Aku pun mengiris bawang. Tak lama kemudian mama kembali dengan membawa sesuatu di tangannya. "Ada bunga buat kamu." Kata mama sambil memberikan sebuket bunga yang terdapat namaku di sana. "Ternyata anak mama punya penggemar." Goda mama padaku sambil mengusap rambutku lembut. "Apa sih, Ma?" Ucapku. "Dari siapa, Ma?" Sambungku. "Mama ngga tahu, tadi mama nemuin di depan rumah." Jawab mamaku. Aku pun langsung mengambil kertas yang ada di dalamnya dan membacanya. Kertas itu bertuliskan 'Bunga yang cantik untuk gadis tercantik yang sudah mampir di hatiku'. "Ngga ada nama pengirimnya." Batinku. *** Pagi-pagi sekali ku terbangun dari mimpiku. Ku kerjap-kerjapkan mataku, lalu memosisikan tubuhku setengah duduk, dan segera menuju ke kamar mandi, karena hari ini ku harus bersekolah. Setelah ku persiapkan perlengkapan sekolah, aku keluar dari kamarku menuju meja makan. "Nanti berangkat sekolah mau bareng papa?" Tanya papa padaku setelah ku sampai di meja makan dan duduk. "(sebut nama kamu) berangkat naik bus aja, Pa." Kataku sambil melahap makanan. "Ma, Pa. (sebut nama kamu) berangkat dulu ya?" Pamitku setelah menghabiskan sarapanku, lalu ku beranjak dari kursiku dan mencium tangan papa dan mamaku. Belum sampai di depan pintu, aku teringat sesuatu. "Oh iya, sapu tangan Bisma." Batinku. Kemudian aku memutar arah kembali ke kamarku untuk mengambil sapu tangan Bisma. "Kok balik lagi, Sayang?" Tanya mamaku saat melewati meja makan. "Ada yang ketinggalan, Ma." Jawabku sambil tersenyum dan masih melanjutkan ke kamar. "(sebut nama kamu) berangkat dulu ya." Kataku setelah mengambil sapu tangan Bisma dan keluar dari kamar. Aku pun segera membuka pintu dan hendak keluar. Namun, tiba-tiba langkahku terhenti setelah melihat sebuket bunga tepat di depan pintu rumahku. Aku mengambilnya. Ku lihat ada kertas di dalamnya. Aku membacanya. "Bunga yang indah untuk gadis yang memiliki senyum terindah." Batinku. "Ngga ada nama pengirimnya lagi." Ucapku lirih. Lalu aku kembali ke kamarku lagi untuk meletakkan bunga. "Balik lagi, Sayang?" Tanya mamaku, karena melihatku lagi. "Ya, Ma. Ada sesuatu." Ucapku sambil membawa bunga di tanganku. "Lihat tuh, Pa! Anak kita sudah punya penggemar." Kata mama setelah aku masuk ke kamar. Papa hanya tersenyum kecil. *** Sampai di gerbang sekolah, langsung ku percepat langkahku melewati lorong kelas yang masih sepi. Di tengah jalan, aku berpapasan dengan Rafael. Ia tersenyum padaku, aku pun membalas senyumnya. "Ini merupakan awal hariku yang indah." Ungkapku dalam hati. Di kelas, hanya ada Bisma yang sedang membaca buku, entah buku apa yang ia baca. Aku mendekatinya. "Nih, sapu tanganmu aku kembalikan. Udah aku cuci dan udah aku kasih wewangian juga. Makasih." Ucapku sambil mengulurkan tanganku yang memegang sapu tangannya di depan wajahnya. Ia hanya melirikku dan tersenyum kecil, lalu berkata, "Ya, udah buat kamu aja. Kamu kan udah ngasih syal ke aku, aku mau ngasih sapu tangan itu ke kamu. Kalau kangen aku, kamu bisa melampiaskannya di sapu tangan itu." Bisma pun tersenyum melihatiku yang langsung mengerutkan dahiku setelah mendengar ucapannya. "Pede banget." Ucapku lirih sambil memosisikan duduk di bangkuku, tapi Bisma masih bisa mendengarnya. "Ngga pede, ngga hidup." Bisik Bisma tepat ditelingaku. Aku hanya tersenyum mendapat bisikan dari Bisma. *** Satu per satu teman-temanku berdatangan, begitu juga dengan Clara yang tampak sangat senang. "Tumben yang berangkat duluan aku." Kataku saat Clara sudah duduk di sampingku. "Aku udah berangkat dari tadi, (sebut nama kamu). Tadi aku laper, jadi ke kantin dulu." Ucap Clara. "Tahu ngga tadi aku berangkat sama siapa?" Tanya Clara tiba-tiba. Aku hanya menaik-turunkan kedua pundakku tanda tak tahu. "Aku tadi berangkat bareng dia." Katanya. "Cowok yang lagi dekat sama kamu?" Tanyaku. Clara mengangguk. "Pantesan ceria banget." Ucapku lagi. Bel masuk pun berbunyi, diikuti guru yang memasuki kelas. Di saat jam pelajaran, terlintas dalam pikiranku," Siapa cowok yang lagi dekat dengan Clara?" *** Saat jam istirahat. "Ra, sebenarnya cowok yang lagi dekat sama kamu siapa sih?" Tanyaku penasaran. "Cowok yang lagi dekat sama aku itu..." Kata Clara menggantung, karena Bisma tiba-tiba mengambil bukuku yang ada di atas meja. Bisma keluar kelas. Aku pun mengejarnya. "Bisma, kembaliin!" Pintaku cemas, karena banyak coretan nama Rafael di dalam buku itu. Saat berada di lorong sekolah yang sepi, aku berusaha mengambil bukuku yang ada di tangannya. Tangan Bisma dinaikkan ke atas. "Kasihin ngga bukuku!" Kataku masih berusaha. "Ambil kalau bisa!" Ucapnya. Tiba-tiba aku kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di badan Bisma. Aku dan Bisma jatuh ke lantai. Tubuhku ada di atas tubuh Bisma, wajah kita sejajar dan sangat dekat. Aku melihat mata Bisma yang juga menatapku dalam. Jantungku tiba-tiba seperti sedang berlomba di dadaku. "Hei, berat tau." Kata Bisma membuyarkan lamunanku. Sontak aku pun berdiri dan merebut bukuku yang dibawanya. Aku pun langsung membalikkan badan dan pergi meninggalkannya cepat. Aku pun menuju kelas sambil menormalkan jantungku yang berdegup kencang tadi dan menahan malu. *** Bel masuk berbunyi, aku pun segera masuk ke dalam kelas. "Kamu kenapa, (sebut nama kamu)? Muka kamu kok merah gitu?" Tanya Clara setelah aku duduk di bangkuku. "Ngga kenapa-kenapa kok." Jawabku mencoba bersikap tak terjadi apa-apa. Bisma pun memasuki kelas, seketika itu juga aku menundukkan kepalaku. Saat Bisma melewati bangkuku, ia melirik ke arahku dan tersenyum. "Clara, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi." Ucapku melanjutkan perbincangan. "Besok ya aku ceritanya." Kata Clara lirih, karena guru sudah memasuki kelas. "Ya, deh." Ungkapku lesu dengan nada lirih. *** Pulang sekolah, di depan gerbang sekolah. "(sebut nama kamu), aku pulang duluan ya? Nanti sore aku mau diajak dia ke taman. Bye." Kata Clara terburu-buru. "Siapa sih cowok itu? Nanti sore aku harus ke taman." Batinku sambil melangkah menuju halte dekat sekolah untuk menunggu bus. *** Sore ini, aku berniat ke taman. Ku keluarkan sepedaku dari garasi, karena jarak taman dari rumahku tak terlalu jauh. Ku kayuh sepedaku dengan sangat cepat, hingga hanya beberapa menit aku sudah sampai di taman. Aku pun memarkirkan sepedaku di bawah pohon. Baru beberapa langkah ku memasuki taman, aku sudah melihat Clara. Aku berada agak jauh di belakang Clara yang sedang duduk bersama seseorang. Ketika ku hendak mendekati Clara, tanganku seperti ada yang menarik. Seseorang tiba-tiba menarikku agar menjauhi Clara. Kira-kira siapa cowok yang bersama Clara? Siapa cowok yang menarik kalian untuk menjauhi Clara? Dan siapa orang misterius yang sering memberimu bunga? Jawabannya hanya ada di part selanjutnya. Makasih sudah mampir di CDHku yang penuh dengan kekurangan ini. Maaf juga ngga bisa langsung tag dan lama :) cerita lainnya, KLIK (0.fb/m.fb) => http://facebook.com/notes/?id=100000688740997&refid=17&m_sess=c2VzczoxMDAwMDA2ODg3NDA5OTc6MTIxOmxOeGZ5M3did1JVNnl3OjA6MTM2ODUxMDM2MQ&ref=stream @nafiahh_25
    Sinopsis Drama Korea Populer


    bangun+rumah 's link
    Choi Young bertempur habis-habisanmelawan Eum Ja dan para kroco Ki Chul. Tapi melihat Hwasuin menaruh tanganapinya di bahu Eun Soo, ia menyerah dan melepas pedangnya. Choi Young dipaksaberlutut. Ia dirantai dan digeledah. Seluruh senjatanya diambil sebelum iadimasukkan dalam kerangkeng. Ki Chul menyingkapkan selimut yangmenutupi tubuh Pangeran Kyeong Chang. Ia melihat luka melepuh di dada KyeongChang, artinya Pangeran telah meminum racun itu. Eum Ja menyerahkan pedang Choi Youngpada Ki Chul. Ia melirik tubuh Pangeran dan terlihat sedikit bersimpati. KiChul membuka pedang Choi Young. Mengagumi Pedang Hantu yang diwariskan kepalaJeokwoldae pada Choi Young. Ki Chul berkata Pangeran telahmeminum racun yang seharusnya diberikan pada Choi Young. Eum Ja yakin ChoiYoung pasti memaksa Pangeran meminum racun itu. Ki Chul meragukannya. Hwasuin menjaga Eun Soo dalam sebuahkamar. Eun Soo berjalan mondar mandir. Ia merasa ada yang salah. Sejarahseharusnya tidak seperti ini. Menurut ingatannya, Choi Young akan hidup sampaimenjadi kakek-kakek. Tidak mungkin Choi Young mati secepat ini. “Apa kau benar-benar tahu apa yangakan terjadi di masa depan?” tanya Hwasuin. “Semuanya tertulis di dalamcatatan,” jawab Eun Soo. Hwasuin berkata kalau begitu ia jugaseharusnya ada dalam catatan itu. Ia memamerkan kemampuannya. Tangannyamengeluarkan api, membakar kertas di dinding. Eun Soo bengong. Hwasuin bertanya apakah dalamcatatan itu ia tertulis sebagai guru energi api Hwasuin atau tercatat sebagaiwanita yang telah memakan hati banyak pria. Eun Soo tidak mempedulikan khayalanHwasuin, yang pasti terjadi pelencengan dalam sejarah walau sedikit. Iabertanya apa yang akan terjadi pada Choi Young? Tentu saja dia akan matidihukum karena pengkhianatan, jawab Hwasuin. Dia akan diikat dalam sebuah pilardi tengah keramaian, lalu dagingnya diiris sedikit demi sedikit bagai membuatdendeng. Dengan sangat pelan….hingga ia tidak langsung mati. Hiiiiy….perempuanini sadis >,< “Apakah tidak ada proses pengadilan?Aku bisa menjadi saksinya. Dia mungkin pembunuh tapi tidak melakukanpengkhianatan. Aku melihatnya.” “Jangan katakan itu padaku, tapikatakan pada kakak seperguruanku. Walau Raja tidak bisa menyelamatkannya (ChoiYoung) tapi kakakku bisa.” Eun Soo bergegas ke pintu. Hwasuinmenyuruh Eun Soo berusaha keras. Ia sendiri akan merasa sedih jika pria sehebatChoi Young mati begitu saja. Eun Soo bertanya apakah Ki Chulmemiliki kelemahan. Hwasuin tertawa, jika ia tahu kelemahan kakaknya ia pastisudah menggulingkannya. Tapi ia memberi satu tips, jangan pernah terlihat lemahdi hadapan Ki Chul. Ki Chul selalu ingin menindas orang yang lemah, sepertikutu. Choi Young tidur di dalamkerangkeng. Gubernur Ganghwa mendekatinya. Ia berkata saat ini Choi Young pastisedang menyalahkannya. Tanpa membuka matanya Choi Young berkata bagaimana bisaia menyalahkan orang lain saat dirinya sendiri yang berjalan ke dalamperangkap. Gubernur memberitahu Choi Young 3hal penting yang diteruskan dalam keluarganya turun temurun sebagai pejabatpemerintah. Pertama, menemukan orang yang berkuasa. Kedua, ikuti orang itu,tanpa peduli apapun. Ketiga dan yang terpenting, mempercayai apa yang sedangdikerjakan adalah hal yang benar. Tak peduli apapun itu. Choi Young tersenyum geli. Sangatmenjengkelkan jika prinsip seperti itu diteruskan dari generasi ke generasi. Iatidak akan mengikuti prinsip seperti itu. Perbincangan mereka diinterupsi olehkedatangan Ki Chul dan rombongannya, termasuk Eun Soo. Choi Young menatapmereka. Eun Soo menatap Choi Young beberapa saat lamanya sebelum Ki Chul mengajaknyapergi. Eun Soo kembali melihat Choi Youngtapi Choi Young telah melihat ke arah lain. Eun Soo naik ke atas kuda dibantuoleh Ki Chul. Saat Eun Soo tidak melihat, barulah Choi Young melihatnyakembali. Ratu No Gook melihat ada yang anehdengan pengawal Raja hari ini. Mereka bukan para woodalchi. Dayang Choimenjelaskan saat ini tentara militer yang mengawal Raja. Tapi bukan hanya itu,di antara mereka juga berkeliaran pasukan pribadi Ki Chul. “Jadi saat ini sebenarnya Rajasedang dikurung,” ujar No Gook. Dayang Choi memukul dadanya dengankesal, hal ini membuatnya marah tapi memang begitulah situasinya saat ini. Ratu teringat serangan yangdiarahkan padanya saat ia hendak ke kediaman Ki Chul. Ia bertanya apakah orang-orangKi Chul yang saat itu menyerangnya. Dayang Choi berkata para woodalchi yakinbegitu. Ratu sangat marah karena Ki Chulmenganggap nyawanya seperti lalat dan Raja memiliki seorang Ratu yang lebihburuk dari seekor kutu. Dayang Choi kaget dengan kata-kata ratu yang keras. “Itulah sebabnya YangMulia….sendirian saat ini….,” gumam Ratu menahan kesedihannya. Dayang Choi bertanya apakah Ratuhendak menemui Raja, ia akan mengumumkan kedatangannya. “Yang Mulia adalah seorang yangbodoh,” gumam No Gook. “Ia benar-benar bodoh!” Ratu kembali ke kediamannya dengankesal. Gong Min benar-benar dikurung. Jikaia membuka pintu kamar, Ki Won akan mendatanginya dan meminta Gong Min memberitahukanke mana ia hendak pergi. Entah sudah berapa lembar kertas yang dihabiskan GongMin untuk menghabiskan waktu dalam ruangan itu sendirian.   Dae Man mengendap-endap di atasmenara barak woodalchi. Sementara itu Deok Gi mengalihkan perhatian para penjagadengan memaksa masuk sambil membawa segerobak rumput berbau kotoran. Dae Man berhasil masuk ke barak.Para woodalchi menyambutnya dengan gembira. Choong Seok menanyakan di mana JooSeok. Dae Man berkata Joo Seok pergi ke kediaman Raja untuk menyampaikan pesanChoi Young. Kasihan Dae Man, dia lagi-lagikesulitan dan tergagap-gagap untuk menerangkan hingga teman-temannya jadikesal. Ia berkata Raja saat ini dijaga oleh tentara militer dan pasukan KiChul. Juga, ada rumor bahwa Choi Young tertangkap. Choong Seok tak percaya itu. Dae Manberkata itulah yang dikatakan semua orang. Deok Man bertanya bagaimana dengannasib mereka jika Choi Young tertangkap? Dol Bae mengusulkan mereka mendobrakpintu barak untuk menyelamatkan Choi Young. Aww…mereka tidak percaya daejangmereka berkhianat. Choong Seok berkata apa yang akanmereka lakukan selanjutnya jika mereka menyelamatkan Choi Young? Dol Baeberkata mereka bisa meninggalkan Goryeo atau mati sebagai pengkhianat negara.Atau mereka juga bisa menjadi bandit internasional. He^^ asal jangan jadipengedar narkoba aja ya…   Usul terakhir membuahkan tendanganChoong Seok. Ia berkata semua perlengkapan dan senjata mereka telah disita.Dengan apa mereka akan melawan? Aku kagum dengan kesetiakawanan mereka. Walauakan sama-sama dicap pengkhianat, mereka tetap percaya dan ingin menyelamatkanChoi Young. Mereka benar-benar mengidolakan Daejang mereka. Choi Young ditahan dalam penjarabawah tanah. Tangan dan kakinya dirantai ke tembok. Ia teringat saat-saatterakhir Pangeran Kyeong Chang. Pangeran telah mengorbankan diri untuknya. ChoiYoung kembali berduka dan menangis. Ia lalu teringat reaksi Eun Soo dantatapan Eun Soo yang jijik padanya. Ia mengeluarkan botol aspirin pemberian EunSoo, lalu mengambil setangkai bunga kuning yang telah layu. Bunga pemberian EunSoo. Tampaknya Eun Soo telah menempati hati Choi Young. Karena tak ada lagi yang bisadilakukannya, Choi Young membaringkan dirinya di lantai penjara yang dingin. Eun Soo dikurung di dalam sebuahkamar di kediaman Ki Chul. Ia juga teringat pada Choi Young. Ketika pintudibuka, ia melihat Choi Young! Tapi itu hanya khayalannya.Sebenarnya Eum Ja yang membuka pintu kamarnya karena Ki Chul ingin menemui EunSoo. Eun Soo teringat Choi Young telah berkali-kali menjaganya danmelindunginya tanpa mempedulikan nyawanya sendiri. Ia masuk ke sebuah ruangan. Hwasuinmengedipkan mata saat melihatnya. Ki Chul duduk di meja yang dipenuhi makanandan mempersilakan Eun Soo duduk. Eun Soo mempraktekkan nasihatHwasuin. Ia berusaha terlihat seperti preman dengan menendang kursi. Semuaterkejut tapi tersenyum geli. Kursi itu hanya bergeser beberapa senti. Takmenyerah, Eun Soo menaikkan sebelah kakinya ke atas kursi lalu menopang kepalanya.Eh kepleset hehehe^^ Ki Chul dengan ramah berkata iatelah menyiapkan makanan untuk Eun Soo. Eun Soo menganggap sikap Ki Chul aneh.Sebelumnya ia disebut siluman dan wanita jalang oleh mister poni, lalu diancamakan digantung oleh Hwasuin. Sekarang apa lagi? Apakah makanannya diracuni? Eun Soo terus memprotes kata-kata KiChul. Ki Chul bertanya apakah Eun Soo bersikap seperti ini karena dikurung didalam kamar. Ternyata benar. Eun Soo telah ratusan kali ingin berbicara denganKi Chul tapi Ki Chul malah mengabaikannya dan mengurungnya. Mister poni marahkarena Eun Soo bersikap tak sopan pada Ki Chul. Ki Chul menenangkannya. “Aku hendak meminta bantuanmu, tabiblangit,” kata Ki Chul. “Ah…kau memerlukan bantuanku, jadimendadak kau memasang “business face”?” sindir Eun Soo. “Aku juga cukup pintarberbisnis dan membuat kesepakatan. Kalau begitu mari kita membuat kesepakatan,aku juga memerlukan bantuanmu.” Eun Soo duduk di kursi. Ia bertanyaapa “card” Ki Chul. Ki Chul diam mematung. Eun Soo mulai khawatir. Melihat EunSoo sedikit takut, Ki Chul tersenyum dan memberi tanda pada mister poni. Yong Gak menaruh sebuah baki dimeja. Eun Soo mengenali peralatan operasi di baki itu sebagai miliknya yangtertinggal di istana. Apakah Ki Chul mencurinya? Yong Gak membuka kotak yang juga diatas baki itu. Isinya peralatan operasi seperti milik Eun Soo namun sudahberkarat. Eun Soo kaget. Ia melihat peralatanitu. Tertulis “made in Korea”. Peralatan itu bukan miliknya. Bagaimana semuaitu bisa ada di sini? Ki Chul tertarik melihat reaksi Eun Soo. Eun Soo mendesakKi Chul menjelaskan sebenarnya ada apa di sini. Joo Seok menyamar sebagai seorangmantri yang membawakan obat untuk Raja. Jang Bin menemaninya agar Joo Seok bisamelewati penjagaan ketat Ki Won. Ki Won berkata ia tidak tahu kalau rajamembutuhkan obat. Jang Bin pura-pura marah. Bagaimana bisa Ki Won tidak tahukalau Raja membutuhkan obat? Jang Bin menyuruh asistennya membuat catatanjadwal pemberian obat Raja pada Ki Won karena Ki Won orang baru. Ki Won merasatersindir. Ia terpaksa membiarkan Jang Bin dan Joo Seok masuk. Jang Bin melaporkan kedatangannyapada Raja. Ia memberi isyarat ke arah pintu, tempat Ki Won berusaha menguping.Gong Min mengerti. Ia pura-pura memang sekarang jadwal minum obatnya. AsistenJang Bin menutup pintu rapat-rapat agar Ki Won tak bisa menguping lagi. Joo Seok berlutut memberi hormatpada Gong Min. Jang Bin meminta Gong Min merendahkan suaranya. Joo Seokmemperkenalkan dirinya sebagai woodalchi. “Para woodalchi sedang ditahan dalambarak mereka.” “Hamba melanggar perintah kerajaandan pergi ke Pulau Ganghwa untuk menemui Daejang.” “Jadi kau woodalchi yang menentangperintah dan pergi atas perintah wakil daejang.” “Hamba pantas mati atas kesalahanhamba.” Gong Min bertanya apakah Joo Seokbertemu dengan Choi Young. Apa yang sedang ia lakukan? Joo Seok menjawab iabertemu Choi Young dan Choi Young sedang bersembunyi di gunung bersama PangeranKyeong Chang dan Eun Soo. Joo Seok menyampaikan perkataan Choi Young bahwa inisemua jebakan. Sayangnya Gong Min mengira ini semuaakal-akalan Choi Young karena telah tertangkap. Ia mengira Choi Young mengatakansemua ini jebakan sebagai usaha untuk melepaskan diri dari hukuman. Joo Seokberusaha menjelaskan kalau ia seharusnya datang lebih awal. Tapi Gong Minterlanjur kecewa dan tak mau mendengarnya walau Joo Seok bersikeras Choi Youngbukan orang seperti itu. Ia membungkuk memohon. Gong Min melemparkan pedangnya kehadapan Joo Seok. Bukankah tadi Joo Seok mengatakan pantas mati? Maka Joo Seokbisa mati. Gong Min membalikkan tubuhnya membelakangi Joo Seok seakan takpeduli lagi. Joo Seok terkejut tapi ia adalahwoodalchi yang menuruti perintah Raja. Ia menghunus pedang itu ke lehernya. “Daejang menyuruh hamba menyampaikansebuah pesan pada Yang Mulia. Setelah hamba menyampaikan pesan itu, hamba akanmengambil nyawa hamba. Daejang berkata: woodalchi Choi Young belum bisamenyelesaikan misi yang Paduka berikan.” “Hanya itu?” tanya Gong Min. “Hamba telah berikan semuanya,” kataJoo Seok dengan suara bergetar, “Yang Mulia, semoga sehat selalu dan menjadiraja besar bagi negeri Goryeo ini.” Gong Min menoleh pada Jang Bin. JooSeok siap menebas lehernya. Jang Bin maju dan menjatuhkan pedang itu daritangan Joo Seok. Fiuhhhhh…. Gong Min berkata masih ada tugasyang harus Joo Seok lakukan. Ki Chul membawa Eun Soo ke gudangtempat ia menyimpan peralatan Hwata. Eun Soo bertanya apakah itu peralatanHwata yang digunakan ratusan lalu. Ki Chul berkata masih ada dua lagi bendamilik Hwata. Eun Soo ingin melihatnya. Ki Chul hanya menatap Eun Soo. EunSoo bingung, bukankah Ki Chul membawanya ke sana untuk memperlihatkan semuabenda itu padanya. Ki Chul menceritakan taruhannyadengan Gong Min mengenai mendapatkan hati Eun Soo dalam 7 hari. Eun Soo tertawatak percaya. “Jika aku menang maka kau menjadimilikku. Jika aku kalah, maka kau tetap milik Yang Mulia. Di mana hatimu beradasekarang?” tanya Ki Chul penasaran. “Hatiku di dalam sini.” “Apakah kau akan memberikannyapadaku?” tanya Ki Chul penuh harap. “Aku tidak mau,” kata Eun Soo tegas. “Tidak mau? Di hadapanku, BangsawanDeok Seong, kau bilang kau tidak mau?” Eun Soo mengambil sikap serius.Bukankah Ki Chul tahu apa arti benda-benda peninggalan Hwata ini? Dan juga artidua benda lainnya? Ki Chul tertarik, apakah Eun Soo bisa menjelaskan semuapadanya? Eun Soo berkata ia tidak tahu duabenda yang lainnya tapi jika benda itu datang bersama alat bedah karatan initentu saja ia tahu. Karena benda itu berasal dari dunianya. Jika Ki Chul ingintahu maka Ki Chul harus menyelamatkan Choi Young. Ki Chul berkata Eun Soo menggunakanbarang yang salah untuk membuat kesepakatan. Jika Eun Soo menjadi orangnya makaEun Soo pasti menjelaskan arti semua benda ini padanya. Ia ingin hati Eun Soodan Eun Soo menjadi orangnya, barulah ia akan menyelamatkan Choi Young. Ki Won memeriksa Choi Young ditahanan. Penjaga berkata Choi Young telah tidur sejak kemarin tanpa bangun satukalipun. Tidak makan, tidak buang air. Tidur terus menerus. Choi Young kembali bermimpi. Iaberada dalam padang es yang sama. Ia melihat ayahnya. “Kau masih belummenemukannya,” ujar ayah Choi Young. “Apa yang sedang kucari?” tanya ChoiYoung. Ayahnya tak menjawab. Choi Young berjalan menghampiri ayahnya. Tapitiba-tiba ia masuk ke dalam air di bawahnya. Choi Young bergerak panik karenakehabisan udara. Tiba-tiba ia berada dalam padang rumput indah berwarna-warni.Ayahnya bertanya apa yang sedang Choi Young lakukan. Choi Young bertanya sejakkapan esnya meleleh. Sebelumnya air danau dan semuanya membeku. Ayahnya berkata danau itu tidakpernah membeku, tidak sekalipun. Tempat itu selalu seperti ini. Choi Youngterheran-heran melihat semuanya. Ia terbangun. Apakah ini menandakan kebekuandi hati Choi Young telah mencair? Gong Min terus memikirkan pesan yangdisampaikan Choi Young padanya. Ia teringat keinginan Choi Young untuk berhentimenjadi woodalchi. Saat itu Gong Min memberi tugas pada Choi Young dan bertanyaperintah siapa yang akan Choi Young ikuti, raja sebelumnya atau perintahnya? Gong Min sadar, Choi Young mengikutiperintahnya. Perkataan Choi Young yang mengatakan ia belum bisa menyelesaikantugas dari Gong Min artinya Choi Young sedang melakukan perintah Gong Min. Pencerahan ini membuat Gong Minsangat senang dan bersemangat. Ia memasuki aula kerajaan tenpat para pejabattelah menunggu. Penasihat Jo berkata mereka telahmendiskusikan mengenai hukuman Choi Young. Hukuman itu harus sekeras guntur dandiputuskan secepat kilat sebelum tahanan memiliki kesempatan melarikan diri.Mereka harus segera menyingkirkan akar permasalahan begitu ada buktinya. “Lakukan itu,” ujar Gong Min cepat.Penasihat Jo bingung. Gong Min berkata mereka harusmenentukan hukuman itu secepat kilat dan sekeras guntur, karena itu ia akanmengadakan chingook. Ia akan menginterogasi langsung Choi Young secara pribadi. Penasihat Jo memprotes. Gong Minbertanya apakah ia terlihat tidak kompeten untuk melakukan chingook? PenasihaJo beralasan ia khawatir Raja akan menghadapi seorang kriminal yang begitujahat dan kejam. “Apa maksudmu aku bukan tandinganpenjahat kejam?!” tanya Gong Min meninggikan suaranya. Seorang pejabat (yang merupakansekutu Ki Chul) melaporkan kalau mereka sedang mempersiapkan interogasi ChoiYoung. Jika saja Raja mau menurunkan perintah… “Aku sedang memberi perintah saatini!” seru Gong Min kesal. Ia bersikeras hendak menginterogasi Choi Youngsecara pribadi. Saat ini juga. Penasihat Jo hendak protes lagi tapi Gong Minmalah memintanya mengantar ke tahanan. Pejabat tadi berusaha menghalangiGong Min. Gong Min marah besar, beraninya pejabat itu menghalangi jalannya didepan seluruh pejabat lainnya. Terpaksa pejabat itu mundur jalan dan mintamaaf. Gong Min berjalan ke tahanan.Penasihat Jo protes, untuk melakukan chingook ada protokolnya, mereka akanmenyediakan lapangan untuk interogasi. Bagaimana bisa Gong Min berjalan ke tempatmengerikan seperti ini? Gong Min tak mempedulikan mereka. Iasampai di depan sel Choi Young dan memerintahkan membuka pintu. Penasihat Jo mengkhawatirkankeselamatan Gong Min. Atau lebih tepatnya, khawatir jika Gong Min pada akhirnyamelepaskan Choi Young. Gong Min berkata Choi Youngdirantai, bagaimana bisa melukainya? Apakah rantai yang digunakan begitu lemahhingga keselamatannya perlu dikhawatirkan. Ki Won berkata itu rantai khususyang diinstruksikan Ki Chul. Rantai biasa tidak cukup untuk menahan Choi Youngkarena Choi Young memiliki naegong. Itulah sebabnya mereka menahan Choi Youngdengan rantai baja, kata Ki Won bangga. “Rantai baja. Bisakah aku percayapadamu?” tanya Gong Min. Dengan senang hari Ki Won memperlihatkan rantai itupada Gong Min. Rantai itu dibuat tukang besi nomor satu di Beijing dankekuatannya 12 kali lipat rantai biasa. “Ini memang terlihat spesial,” GongMin tersenyum, “Jika begitu, bisakah kita membuka pintunya sekarang?” Ki Won yang lugu membuka pintu untukGong Min. Gong Min berjalan masuk dan mengunci pintunya dari dalam agar tidakada yang bisa masuk. Penasihat Jo dan pejabat lainnya berteriak-teriakmemanggil Gong Min. Duh berisik banget >,< “Semua diaam!” teriak Gong Min.“Mulai sekarang aku akan menjalankan chingook.” Tanpa mempedulikan Penasihat Jo yangbersikeras protes, Gong Min masuk ke bagian dalam sel untuk menemui Choi Young.Choi Young langsung berlutut memberi hormat. “Misi yang kuberikan padamu belumbisa kauselesaikan?” tanya Gong Min. Choi Young membenarkan. “Artinya, kau masih mengerjakan misiyang kuberikan padamu. Aku memberimu 2 tugas. Pertama, menemukan bukti.” Choi Young berkata tugas itu telahdiselesaikannya. “Maka tugas kedua. Siapa yang haruskulawan dan mengapa?” “Melalui bukti itu, Yang Mulia sudahtahu siapa yang harus Yang Mulia lawan. Tapi alasan mengapa Yang Mulia harusmelawannya, hamba belum menemukannya.” Penasihat Jo dan Ki Won berusahakeras untuk bisa mendengar pembicaraan mereka. “Aku tahu mengapa aku harus melawan.Jadi apakah kau akan mengajariku untuk melawan?” Choi Young tersenyum kecil. Iaadalah pengkhianat yang sedang ditahan. “Apa kau berpikir untuk mati disini? Inikah yang benar-benar kauinginkan? Apakah semuanya sudah berakhir?” Gong Min berjongkok di hadapan ChoiYoung. “Ajari aku melawan. Bagaimana akuharus melawan agar bisa menyelamatkanmu?” Choi Young tetap diam. Gong Minmemegang tangan Choi Young. Ia berkata alasan ia mengirim Eun Soo pada Ki Chuladalah karena itu satu-satunya cara yang terpikir olehnya agar Eun Soo tetapselamat. Jika Eun Soo berada di sisinya, maka akan lebih berbahaya. Ia tidakmemiliki kekuatan dan tidak memiliki pilihan lain. Choi Young bertanya apakah Eun Sooaman di kediaman Ki Chul. Gong Min mengaku mereka tidak tahu sama sekali.Tampaknya Choi Young telah mengambil keputusan. Pejabat kroco Ki Chul berlari-larike rumah Ki Chul untuk mengabarkan berita terkini. Bahwa Raja menginterogasilangsung Choi Young. Tapi Eum Ja berkata tidak peduli sepenting apapun itu,siapapun tidak boleh mengganggu Ki Chul. Ini adalah perintah Ki Chul. Ternyata Ki Chul sedang mendapat“pelajaran” dari Eun Soo. Pelajaran membuat minuman gaya dunianya. Ki Chuljelas tidak tertarik. Eun Soo cuek, ia bahkan memanggilHwasuin dengan sebutan unni. Lalu memanggil Ki Chul dengan sebutan “ahjusshi”walau segera diralatnya, dan menawarinya minuman. Ki Chul berkata bukankah iamenginginkan hati Eun Soo dan bukannya minuman. Eun Soo berkata hati seseorangbukanlah tas desainer. Tidak bisa dibeli dengan uang, juga tidak bisa diambildengan paksa. Ia melakukan tos dengan cangkir minuman Ki Chul lalu minum lagi.Hwasuin jadi meragukan Eun Soo. Sebenarnya Eun Soo itu seorang tabib ataualkoholik? Ia memprotes Ki Chul yang tidak maumeminum minuman racikannya, bukankah Ki Chul menginginkan hatinya? Ki Chulmeminumnya. Eun Soo bersiap mengisi gelasnya lagi tapi Ki Chul memegangtangannya. Ia berkata ia tidak tahan orang yangmempermainkan dirinya, baik itu seorang raja maupun tabib langit sekalipun. Halitu tidak akan pernah ia biarkan seumur hidupnya. Tanpa gentar Eun Soo berkata ia jugasama, ia tidak main-main dalam memberikan hatinya pada seseorang. Jika Ki Chulingin mengambil hatinya maka Ki Chul harus berusaha. “Apakah meminum minuman termasukdalam usaha itu?” tanya Ki Chul. “Seseorang yang tidak pintar selalumembuat orang lain mengatakan hal yang sama dua kali. Aku jelaskan padamusekali lagi untuk terakhir kalinya. Jika kau ingin mengambil hati seorang gadissepertiku, kau harus minum dengannya sedikitnya sekali seminggu. Berbagisegelas alkohol akan melancarkan percakapan, apa Tuan tidak tahu itu?” Ki Chul sebenarnya kesal tapi iatidak membalas perkataan Eun Soo. Eun Soo melirik tangan Ki Chul yang memegangpergelangan tangannya. Ia berkata memegang tangan baru akan terjadi pada tahapselanjutnya. Ki Chul melepas tangan Eun Soo dantertawa. Eun Soo meminum minumannya lagi. Entah doyan entah untuk meredakanrasa gugup. Para penjaga sel Choi Young terkejutmelihat darah berceceran di dekat Choi Young. Choi Young menunduk tak bergerak.Para penjaga itu panik karena tidak boleh terjadi apa-apa pada Choi Young.Mereka segera membuka pintu. Seorang dari mereka dengantakut-takut mendekati Choi Young untuk memeriksa keadaannya. Saat iamengulurkan tangan, tiba-tiba Choi Young memukulnya. Choi Young menjatuhkanpara penjaga itu dan mengambil kunci untuk membuka rantainya. Lalu darah siapa yang berceceran dilantai? Darah seekor tikus yang malang. Choi Young melarikan diri dari tahanan. Setelah minum-minum, tahapselanjutnya adalah kencan. Eun Soo protes melihat iring-iringan yangmengikutinya dan Ki Chul. “Kencan itu untuk dua orang. Kautidak bisa diikuti barisan begitu banyak orang,” omel Eun Soo. Dengan begitubanyaknya pasang mata yang melihat mereka, bagaimana mereka bisa maju ke tahapselanjutnya? Eun Soo buru-buru meralatnya. Iamengatakan itu bukan karena ia ingin maju ke tahap selanjutnya tapi memangbegitulah aturannya. Ki Chul memberikan tanda agar Eum Ja dan para pengawalnyatidak mengikutinya. Aneh ya si Ki Chul ini, dia kan hebat kok masih harusdikawal? Biar berasa jadi raja? Diam-diam, Choi Young mengamatimereka berdua dari balik pepohonan. Ki Chul menanyakan keadaan “langit”pada Eun Soo. Eun Soo menceritakan di dunianya presiden yang memerintah. Merekaberjalan ke sebuah kolam cantik yang memiliki sebuah gazebo di tengahnya. “Raja macam apa itu?” tanya Ki Chul. “Presiden berbeda dari raja. Jikaayahnya seorang raja maka anaknya menjadi raja berikutnya. Tapi presidendipilih oleh rakyat dengan suara terbanyak, sekali tiap beberapa tahun. Rakyatmemilih orang yang paling mereka sukai.” “Bagaimana mereka tahu siapa yangmemiliki kemampuan menjadi raja?” Eun Soo menjelaskan para calonpresiden itu berkampanye dan menjanjikan berbagai macam hal jika merekaterpilih. Ki Chul tertawa terbahak-bahak. Ia membayangkan puluhan ribu danratusan ribu orang berteriak bahwa mereka bisa menjadi raja terbaik. Ehem..dijaman Eun Soo sih bukan puluhan ribu orang lagi tapi jutaan :p Perhatian Eun Soo teralihkan padatanaman bunga kuning di dekat kolam. Ia teringat pada bunga yang ia berikanpada Choi Young. Ki Chul bertanya apakah Eun Soo menyukai bunga itu. Eun Soobergumam ia hanya mengenal bunga itu, tampa menyadari Choi Young sedangmemperhatikannya. Ki Chul memetik setangkai bungakuning dan mencium wanginya. Hehe…bener-bener kontras sama penampilan Ki Chulyang sangar. Pejabat kroco Ki Chul akhirnya bisamenemui Ki Chul da memberitahu kunjungan raja ke penjara. Eun Soo memanfaatkankesempatan ini untuk melarikan diri diam-diam. Diam-diam tapi berisik hehe… KiChul hanya tersenyum geli melihat usaha Eun Soo. Eun Soo berlari ke dalamhutan. Pejabat itu melaporkan ia tidak bisamenahan Gong Min. Semuanya terjadi begitu cepat seakan sudah direncanakansebelumnya. Ki Chul bertanya apa yang dibicarakan Gong Min dengan Choi Young.Pejabat itu mengaku ia tidak bisa mendengar apapun. “Mereka berdua….apa yang bisa merekalakukan?” kata Ki Chul meremehkan. Pejabat itu menunjuk ke arah Eun Soo pergi,khawatir Eun Soo melarikan diri lebih jauh lagi. Ki Chul tidak khawatir, iatertawa dan berkata jika begitu mereka harus menangkap Eun Soo. Eun Soo terus berlari. Tiba-tiba iaterpeleset. Choi Young menangkapnya dari belakang agar Eun Soo tidak terjatuh.Eun Soo tidak bisa melihat Choi Young dan mengira Ki Chul yang menangkapnya.Eun Soo meronta-ronta meminta maaf pada Ki Chul. Ia bilang ia hanya ingin tahusejauh mana ia bisa lari. Choi Young melepaskan Eun Soo. EunSoo berbalik dan tak melihat seorangpun. Eun Soo bingung. Akhirnya ia berjalankembali ke tempat Ki Chul sambil terus menoleh ke belakang mencari orang yangtelah menyelamatkannya. Ki Chul tiba-tiba muncul danbertanya apa yang Eun Soo cari. Eun Soo tidak menjawab. Ki Chul bertanya apaada seseorang yang datang ke tempat itu. Eun Soo tidak menjawab tapi Ki Chulmerasa curiga. Mereka kembali ke kediaman Ki Chul.Ki Won melaporkan bahwa Choi Young telah melarikan diri. Ki Chul marah danmemerintahkan Yong Gak mengumpulkan semua pasukan mereka. Eun Soo merasa adayang tak beres melihat sikap mereka. Yong Gak bertanya para pasukan ituakan dikirim ke mana. Ki Chul menduga Choi Young akan menemui para woodalchilebih dulu. Ia memerintahkan pasukannya dikirim ke barak woodalchi. Ki Won membawa pasukan menerobosbarak woodalchi dan memerintahkan penggeledahan. Sementara itu Jang Bin (mengenakanpenutup hidung) berjalan melewati para tentara kerajaan sambil membawa mangkukyang mengeluarkan asap. Setiap tentara yang menghirup asap itu langsung jatuhterkapar. Pingsan. Setelah seluruh pengawal kerajaandirubuhkan oleh asap itu, Choi Young melenggang ke istana tanpa gangguan. Ia langsung menemui Raja dan memberihormat. Gong Min tertawa. Seorang pengkhianat jelas tak memiliki batasan mengenaitempat yang dikunjungi. Choi Young tersenyum, ia memiliki satu pertanyaan danakan menjawab satu pertanyaan. Gong Min tersenyum dan mengangguk. Ki Chul menyusul ke barak woodalchitapi Ki Won melaporkan Choi Young tidak berada di sana. Ki Chul tersenyumgetir, ia tahu Choi Young menemui Gong Min. Ia memutar balik kudanya menujuistana. Menyambung percakapan mereka dipenjara, Choi Young bertanya mengapa Gong Min harus melawan. “Untuk menjadi seorang Raja.” “Tapi Yang Mulia adalah seorangRaja.” Gong Min berkata Choi Youngmengatakan itu walau dalam hati tidak menganggapnya sebagai seorang Raja. Itusama saja sia-sia. “Yang Mulia meminta hamba mengajariYang Mulia cara untuk melawan. Hamba akan menjawabnya. Seorang Raja bukanlahseseorang yang harus melawan. Seorang Raja adalah seseorang yang harusmemiliki. Ada raja yang memiliki beberapa orang, atau ribuan orang, ataupuluhan ribu orang. Pertama, miliki aku. Maka aku yang akan melawan bagi YangMulia.”   Ki Chul memacu kudanya memasukiistana. Ia melihat para tentara kerajaan bergelimpangan di lantai. Ki Chullangsung menerobos ke ruang Raja. Gong Min duduk di meja kerjanya.Seorang diri. Ki Chul tak memberi hormat maupun memberi salam. Ia melihat kesana kemari mencari Choi Young. Gong Min menegurnya apakah Ki Chulbaru datang sekarang. Apakah benar tentara kerajaan di luar ditempatkan oleh KiChul? Ia baru saja mengadakan tes tapi bagaimana mereka bisa melindunginya jikaseperti ini? “Ganti mereka,” Gong Minmemerintahkan. Hehe^^ “Aku akan mengurusnya, tapi apakahorang yang membuat tentara di luar seperti itu adalah Choi Young?” “Choi Young? Maksudmu orang yangsaat ini sedang di dalam penjara?” tanya Gong Min polos. Bukankah adik Ki Chulyang menjaganya? Apakah telah terjadi sesuatu? Ki Chul menahan kemarahannya. Iapergi ke penjara bawah tanah. Dan di situlah Choi Young. Duduk manis di dalamselnya. Tapi Ki Chul tahu Choi Young danGong Min sudah mempermainkannya. Ki Chul berkata ia hendak menjadikan ChoiYoung orangnya karena ia sangat menghargai Choi Young. Choi Young menyindir apakah carayang digunakan Ki Chul selama ini, menjadikannya pengkhianat, menahanrekan-rekannya, memberi racun Pangeran Kyeong Chang, adalah cara untukmemilikinya. Ki Chul berkata ia hanya tidak tahuChoi Young menyukai raja yang mana, karena itu ia menyuruh Choi Young untukmemilih. “Oya, ada yang mau kutanyakan. Jadipada akhirnya orang yang membuat Pangeran minum racun itu adalah kau?” tanya KiChul. Choi Young tak menjawab. Ki Chul berdecak kesal. Jika ChoiYoung sabar menanti, besok ia sudah melepaskan Choi Young dari semua tuduhandan bulan depan menaikkan pangkat Choi Young. Mengapa Choi Young berbuatceroboh dengan menemui seorang wanita dan raja? Ki Chul memberitahu kalau Eun Soojuga memintanya melepas Choi Young secepatnya. Sebaiknya Choi Youngmenghentikan permainan tarik ulur ini mulai sekarang. Ki Chul berbalik pergi. “Tuan,” panggil Choi Young. Iamendekati Ki Chul dari dalam selnya. “Orang biasanya mengatakan: aku akanmeneruskan hidup. Tapi sebenarnya bukan seperti itu. Aku akan mati. Suatu harinanti pasti akan mati. Karena itu aku memutuskan untuk mati dengan layak dansetenang mungkin. Tapi, Tuan terus memprovokasiku yang baik dan patuh ini.Untuk bangun dari tidurku. Untuk bangkit! Mencoba hidup.” Choi Young menatap Ki Chul denganpenuh tekad. Gong Min menemui No Gook. Dol Chiber jalan di belakangnya membawa kotak besar. No Gook menyambutnya. Keduanyanampak kikuk. Gong Min berkata ia datangmalam-malam untuk meminta bantuan No Gook. Mulai sekarang ia akan lebih beranikarena ada orang yang ingin ia miliki. Untuk itu ia harus menunjukkankeberaniannya pada orang itu. Dan keberanian itu hanya terwujud jika No Gookmembantunya. “Apakah kau akan membantuku?” No Gook tak menjawab. “Walau kau mungkin membenciku danberpikir aku ini orang malang dan tak masuk akal, tapi aku sekarang sedangberusaha membuat terobosan. Apakah kau akan membantuku? Gong Min menoleh. Dayang Choimengeluarkan isi kotak itu. Sehelai pakaian baru. No Gook menatap Gong Min. Keesokan harinya, Ki Chul memasukiaula istana bersama Eun Soo. Para menteri menghormati Ki Chul dan berkasakkusuk saat melihat Eun Soo. Gong Min memasuki aula. Ia menolehsekilas pada Ki Chul dan Eun Soo. Gong Min mempersilakan semua menteri untukduduk. Ia akan mengumumkan beberapa hal jadi sebaiknya semua mendengar denganbaik.   “Pertama!” Para kasim melepas jubah Gong Min(yang berwarna kuning keemasan, mengikuti kerajaan Yuan) dan melemparnya kelanti, lalu menggantinya dengan jubah kerajaan Goryeo. No Gook memasuki aula,dengan pakaian Ratu kerajaan Goryeo (yang diberikan Gong Min semalam). Penasihat Jo dengan banggamengumumkan Raja dan Ratu telah melepas jubah Yuan dan mengenakan pakaianGoryeo. Raja mengenakan jubah dengan hiasan naga emas dan topi yang disebutIkseongwan. Ki Chul memberi isyarat pada menterikroconya. Menteri itu bangkit berdiri. “Yang Mulia!! Ja Woon di sinimemberanikan diri untuk bicara.” “Aku belum selesai berbicara!”bentak Gong Min. Menteri Ja Woon mau tak mau dudukkembali. Gong Min meneruskan kata-katanya. “Kedua, selama 10 tahun terakhir akutelah memerintahkan untuk menyelidiki kehidupan di Goryeo diam-diam danbersikap seakan tidak tahu. Jadi aku akan memberikan hadiah yang pantas untukorang-orang yang menjalankan tugas itu. Biarkan mereka masuk!” Maka berjalankan Choi Young dan parawoodalchi dengan gagah. Mereka berlutut memberi hormat. Eun Soo menoleh. Choi Youngmenatapnya. Bersambung... ~Lee Nana
    Lyla Saiyang Ang Ger


    bangun+rumah 's link
    Enam                 “Beib, bangun...” suaraJimmy pelan sambil menepuk-nepuk pipi Heart yang kembali pingsan, ini sudahyang ketiga kali dia tak sadarkan diri.             Gara-gara semalam kehujanan dan tidur di jalanan, Heart demam sangattinggi. Jimmy sampai khawatir dibuatnya, untung dia mengijinkan Pak komar ikutbersamanya sehingga ada yang membantu merawat Heart ala kadarnya. Heart tidurdengan alas kardus berbantal paha Jimmy di pos ronda. Semalaman mereka berjalankaki di bawah derasnya guyuran air hujan. Kondisi Heart makin parah, dia belumsadar juga meski Jimmy menepuk-nepuk pipinya agak keras. Pak Komar sedang membeli makanan danmencari obat penurun demam, dia tahu betul kalau majikannya itu tak terbiasasusah atau sekedar capek. Sekarang Heart harus berjuang demi menegakkan agamayang telah dia yakini sepenuh hati, Heart rela kehilangan segalanya dan pak Komar yakin kalau Heart pasti mampumelewati semua ini.             “Masih belum sadar, Den ?” tanya pak Komar yang sudah ada di sebelahJimmy, pemuda itu menggeleng dengan wajah yang sangat cemas. Dia takut terjadihal buruk pada wanita itu, apa yang harus dia lakukan ?? dia sudah tak memilikiapapun sekarang, sepeser uangpun takpunya.             “Demamnya makin tinggi, Pak.” lapor jimmy masih cemas sambilmemegang kedua pipi yang terasa sangat panas, pakKomar duduk sambil menyerahkan nasi bungkus pada Jimmy.             “Aden makan dulu, setelah ini kita bawa non Heart ke Puskesmas. Sayasudah menyewa gerobak, mudah-mudahan memudahkan kita.”             “Duit dari mana, Pak ?”             “Bapak masih ada sedikit rezeki, tapi hanya cukup untuk biaya Puskesmas. Sebagiansudah Bapakbelikan tiket Bus, setelah non Heart sehat Bapak ingin mengajak Aden besertanon Heart ke rumah Bapak.” jawaban pak Komar menyentuh dasar hati Jimmy, diabaru merasakan derita orang miskin sekarang. Dia benar-benar sangat terharudengan apa yang menimpanya saat ini, belum pernah terbesit dalam hatinya akanterjadi hal semenyedihkan ini.             “Itu uang untuk keluarga Bapak, kenapa Bapak memakainya ?”             “Bapak sudah tidak memiliki keluarga, Istri Bapak meninggal tanpa melahirkan seorang anak pun.Lagi pula non Heart sudah Bapak anggap Putri Bapak.” jawabnya masih penuhketulusan dan keseriusan, Jimmy hanya terdiam. Tak ada pilihan selain menerimabantuannya, demi kesembuhan sangkekasih tercinta sendiri, tak mengapa jika uang bapak dihabiskan untuk dia.             “Makasih, Pak !”             “Aden makan dulu, biar kita cepat ke Puskesmas.”             “Berhenti memanggil saya Aden, Pak. Katanya sudah menganggap Heartputri sendiri, berarti saya menantu donk !” ujar jimmy mencoba melucu membuatpak Komar tersenyum, dia membuka nasi bungkus tersebut. Hati Jimmy meringis saat hanya melihat nasi putih, tempesepotong, tahu pun sepotong dan sambal. Belum pernah dia makan sesederhana ini, tapi demicintanya pada Heart, dia rela hidup serba kekurangan. Jimmy memakan denganlahap, dia lapar tentunya hingga hanya dalam hitungan menit sudah habis makanan tersebut. Pak Komar bernafas lega, ada orang yang masih peduli dan maumelindungi gadis yang merupakan majikan tercintanya.             “Kak...” suara lirih ini hampir tak terdengar, Jimmy langsung membantuHeart duduk dan menyandarkan tubuh lemah itu pada dirinya.             “Makan dulu yach, Beib...” ujar Jimmy sambil membuka nasi yang masihtinggal sebungkus, Heart hanya diam saja karena kepalanya terasa sangat pusing.Jimmy menyodorkan nasi ke mulut Heart yang hanya membuka perlahan, meski tak selera untuk makan dia tetap berusahamenelannya.             Pak Komar melipat kardus dan meletakkannya di gerobak yang dia sewadari pemulung untuk sementara, tak ada uang untuk membayar angkutan umum. Takapalah meskipun hanya gerobak, yang penting Heart bisa dibawa ke Puskesmas tanpa haruskelelahan. Pak Komar merasa terharu melihat Jimmy dengan penuh kesabaranmenyuapi Heart yang tampak sangat memprihatinkan. Cintanya sangat besarterhadap majikannya, Jimmy telah membuktikan bahwa dia bukanlah pembual yang hanya bisa mengandalkanrayuan gombal. Dia tunjukkan cinta kasihnya, penuh ketulusan dan pengorbanan.Bahkan, dia korbankan segala yang dia punya demi hidup bersama wanita yangteramat dia sayangi tersebut.             “Sebaiknya kita segera membawa non Heart ke Puskesmas.” ajak pakKomar pada Jimmy setelah selesai menyuapi Heart, masih ada banyak sisa nasiyang tak dihabiskan. Jimmy dengansegera menggendong tubuh Heart yang sudah takberjilbab, semua basah dan hanya akan membahayakan kesehatan Heart kalau tetapmembiarkan kerudung basah tersebut dipakai. Wajah pucat itu tampak lesu, sedihserta kalut dan Jimmy hanya mampu memberikan perlindungan serta kenyamanan.Untuk saat ini, dia hanya melindungi Heart dari apa yang bisa membahayakannya.             “Jimmy...” panggilan ini menghentikan gerakan tubuh pemuda yanghendak mendekati gerobak. Masih menggendong tubuh Heart, dia melihat seorangpria berdasi turun dari mobil dan mendekat ke arah dirinya. Jimmy mengenal dia,relasi yang sudah sekian kali menjalin kerja sama dengan dirinya. Richie,itulah nama pengusaha muda berpipi tembem tersebut. Tak disangka dia akanbertemu teman bisnisnya di sini, bukankah mereka tinggal di kota yang berbeda ?!             “Kamu ngapain di sini ?” tanya Jimmy tanpa mengiyakan sapaan Richieyang sudah tampak yakin kalau tak salah orang. Namun, dia heran melihat keadaanJimmy berada di jalanan seperti ini,terlebih dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.             “Kebetulan aku ada urusan di sekitarsini, tapi sudah selesai. Kamu sendiri sedang apa ?” balik Richiebertanya pada Jimmy yang hanya diam, “kenapa dia ?” lanjut Richie melihat gadisyang berada dalam gendongan Jimmy pucat pasi. Meski pucat, dia tahu kalau itukekasih Jimmy, dia pernah melihat fotonya di ruang kerja Jimmy.             “Dia sakit, aku akan membawanya ke Puskesmas.” jawaban yang terlalumenyedihkan ini membuat kening Richie mengerut, ke Puskesmas ?! Terlebih saatmelihat gerobak yang akan digunakan untuk membawa Heart, apa dunia telah terbalik hingga Jimmy harusmenaiki gerobak itu ?!             Ada apa dengan Jimmy ?! Tanya ini menyerang benak Richie, setahu diaJimmy adalah orang yang sangat kaya dan begitu pula dengan Heart. Apa yang terjadi dengan keduaorang ini ?! Richie tak bisa menebak hal yang menimpa mereka, tentunya merekasedang terjebak dalam kesusahan. Dia harus menolong mereka, Jimmy telah banyakmenolongnya selama ini. Saatnya bagi Richie untuk membalas segala budi baikJimmy, dia juga ingin sahabatnya tak terlalu kesusahan. Heart butuhpertolongan, keadaannya sangat parah dan Richie tak tega menyaksikan deritagadis tersebut. Tak rugi jika dia membantu Jimmy, sesama manusia harustolong-menolong bukan ??             “Bawa dia ke mobil, kita ke Rumah Sakit sekarang !” perintah Richiepada Jimmy yang tampak ragu danterlihat masih berpikir, “lihat kondisinya, dia butuhpertolongan secepatnya.” tukas Richie menyadarkan Jimmy pada keadaan Heart, mautidak mau dia menuruti ucapan Richie. Mereka menuju mobil dan pak Komarterpaksa mengembalikan gerobak pada pemiliknya. Mereka menuju Rumah Sakit,akhirnya ada dewa penolong untuk mereka sehingga Jimmy sedikit lega karena bisa segera mengobati sang kekasih.   *****   Richie mendengarkan cerita Jimmydengan seksama, dalam hati dia mengutuk ulah orang-orang itu. Kenapa merekatega menyakiti Heart dan Jimmy sampaimereka sengsara seperti sekarang ini ?! Satu sisi, diasalut dengan cinta Jimmy pada kekasihnya. Pemuda itu telah membuktikan bahwakekuatan cinta memang ada dan keberadaan cinta sejati nan suci pun benar-benarnyata, bukan bualan semata. Kondisi Heart mulai membaik dan mereka telahtinggal bersama Richie yang memang hanya tinggal seorang diri di rumahnya.Keadaan Heart yang mulai stabil melegakan semuanya, terlebih Jimmy yang sangatbahagia melihat senyum mulai terkembang dan rona keceriaan sedikit terpancar diwajah yang kini lebih anggun dengan kerudungnya. Dalam hati Richie mengucapsyukur atas hidayah yang Allah berikan pada Heart, gadis itu telah menemukankebenaran. Hanya saja, Jimmy tetap memegang teguh kepercayaannya, Richie tak beranimengusik semua itu karena tak ada tanda-tanda kalau Jimmy tertarik denganIslam. Mereka tetap menjalin hubungan baik meskipun berbeda keyakinan tentunya.             “Berarti kamu sudah tak diakui sebagai keturunan Richardo ?” tanyaRichie yang hanya diiyakan oleh Jimmy, tak ada penyesalan sama sekali daninilah yang membuat sahabatnya heran. Berarti cinta telah membutakan mata hatiJimmy, dia rela kehilangan orang tua serta segalanya demi seorang gadis yangdia yakini sebagai anugerah Tuhan.             “Untuk apa aku tetap bersama mereka, sementara aku harus kehilanganwanita yang Tuhan kirim sebagai pendamping hidupku ?!” jawaban ini membuatRichie terdiam, dia mengagumi Jimmy. Bukan hanya pembisnis handal, tapi pecintasejati ! Sejenak mereka berdiam diri, membiarkan keheningan menguasai mereka.Richie banyak belajar seluk-beluk berbisnis dari Jimmy yang memang lulusanterbaik Universitas terkemuka dunia. Kini dia pun belajar arti mencintai dariorang yang sama, benar-benar luar biasa Jimmy ini. Richie memang harus banyakbelajar dari dia !!             “Jimmy...” panggilan pak Komar membuat mereka menoleh, tampaknya pak tuatersebut sedang kebingungan.             “Ada apa, Pak ?!” tanya Jimmy heran dengan sikap pak Komar yang diatugasi menemani Heart di kamar, tapi kenapa justru ke sini dengan tampangbingung pula.             “Non Heart menangis !!” jawaban ini membuat Jimmy melompat dan berlari ke kamarHeart, dia takut terjadi hal buruk pada perempuan tersebut. Jimmy terpaku di pintu, diamelihat Heart mendekap bantal sambil sesegukan. Apalagi yang ada di pikirangadis ini ?!  Perlahan Jimmy mendekat,tubuh itu berguncang akibat isakan tangisnya. Heart pasti teringat pada apayang telah menimpanya, Jimmy duduk di sebelahnya dengan perlahan.             “Ada apa, Beib ?” tanya Jimmypada Heart, gadis itu masih tertunduk sambil mendekap guling yang sudah basah oleh air matanya.             “Aku rindu Ayah dan Ibu, bagaimana nasib mereka sekarang ?” jawabHeart disela isakan tangisnya, Jimmy mengerti sekarang. Wajar kalau sesedih ini, dia rindu padaorang tuanya. Tentunya bukan keluarga Andreas, tapi orang tua kandungnya.             “Mereka pasti baik-baik saja, kita doakan agar Tuhan selalu bersamamereka.” hibur Jimmy sambil meraih kepala Heart, dia mulai mendekap agar takterlalu sedih si gadis.             Heart teringat peristiwa di kamar orang tuanya beberapa waktu lalu,dia menangis dan ada tangan yang membelai dengan penuh ketulusan. Saat itu, diamerasakan kehangatan serta kedamaian yang tiada terkira. Heart mulai merindukansosok Rain yang tengah hilang dari hari-harinya, tanpa disadarinya dia merasa kehilangan. Dia taktahu kenapa harus teringat pada pemuda tersebut, padahal sudah ada Jimmy di sisinya. Dia tak bisamunafik, cinta di hatinya hanya untuk Rain seorang. Rain yang telah membuatnya beranibertindak nekat, Rain yang berhasil menyadarkannya akan keberadaan Allah danRain pula yang membuat Heart menyebut Asma Allah. Namun, kenapa harus Jimmy yang beradadi dekatnya saat dia telah menjadi seorang Muslimah ?!             “Aku ingin bertemu mereka, Kak !!” ujar Heart membuat jimmy sedikitkaget, bagaimana caranya ?!             “Kita akan mengunjungimereka jika keadaanmu benar-benar pulih.”             “Please, Kak...” pintanyamemelas, Jimmy hanya terdiam tanpa punya keberanian untuk mengabulkan permintaannya. Darimana dia punya uang untuk membayar angkutan agar bisa sampai di tempat orangtua Heart ?! Jimmy tak mau mengecewakan kekasih hatinya, tapi dia tak memilikicara untuk bisa tiba di tempat orang tua Heart.             “Besok pagi kita ke tempat orang tuamu dan ajak mereka tinggal di sini bersamakita !!” jawaban ini malah berasal dari Richie yang telah berdiri dengan senyumtipis. Jimmy jadi merasa tak enak, terlalu banyak dia merepotkan sahabatnya.Dari biaya rumah sakit sampai tempat tinggal serta makan telah disediakan untukmereka. Jimmy malu, dia tak bisa berbuat apa-apa sekarang, dia telah berubahmenjadi sosok yang tak ada guna. Bahkan untuk memenuhi permintaan Heart, diaharus membuat gadis itu memohon terlebih dahulu dan itu pun belum tentu bisadia kabulkan karena keterbatasannya saat ini.             “Non Heart jangan sedih lagi yach...” pinta pak Komar yang hanyadirespon anggukan oleh Heart, Jimmy menyeka air mata gadis tersebut penuhkasih.             Richie senang bisa turut serta membantu dua orang yang kini tengahdilanda kesusahan tersebut, entah kenapa dia merasa harus menolong Heart.Padahal yang dia kenal Jimmy, lantas atas dasar apa dia harus menolong Heart ?!Mungkin karena cerita hidupnya yang menyentuh, perjuangan gadis muda yangtengah mencari Tuhannya. Di saat gadis lain hidup mencari kesenangan Dunia,Heart malah mencari kesenangan Akhirat. Segala kerendahan hati, kemauan kerasdan keberanian Heart menggugah nurani Richie. Dia saja yang Muslim tak pernahingat akan Tuhannya. Mulut saja yang mengaku Islam, tapi tindakannya tak pernahmengikuti SunnahRasul atau sekedar berbuat sesuai Syari’at Islam. Namun, seorang gadis telahmembuka mata hatinya, dia melihat dan percaya akan kuasa Allah. Richiemanyaksikan Keajaiban Tuhan, keajaiban yang benar-benar nyata dan dia rasakansendiri.             “Apapun akan aku lakukan demi Heart, Pak. Dia telah mengetuk hatikuuntuk kembali pada Allah setelah sekian lama aku meninggalkan_Nya.” janjiRichie pada pak Komar yang tersenyum senang, bertambah lagi orang yangmenyayangi serta mendukung Heart !! beruntung sekali gadis itu, di tengahmusibah yang menimpa masih ada yang peduli pada dirinya. Allah Maha Adil... !!   *****   “Tidaaaaak...!!” pekik Heart sebelumakhirnya pingsan, untung Jimmy selalu siaga di sebelahnya sehingga dia berhasilmenangkap tubuh itu.             Keterangan dari perawat yang mengatakan bahwa kedua orang tuanyameninggal membuat Heart tak bisa menerima kenyataan. Masihkah dia kuat terhadapujian-ujian Allah ?! Dia merupakanorang baru dalam Islam, tapi apa yang diberikan padanyatidak sepadan terhadap perjuangannya. Apa mungkin dia masih tetap menyerukanAsma Allah sementara semua yang dia cintai dirampas oleh sang Khaliq ?! Jimmysaja tak kuat menghadapi kenyataan tersebut, dia bahkan ingin protes pada Tuhanatas apa yang telah menimpa kehidupan Heart. Seribu kali Tuhan menyengsarakanhidupnya, Jimmy pasti menerima. Semuayang menimpa Heart ini sudah keterlaluan dan Heartterlalu baik untuk mendapat cobaan terberat ini. Jimmy menangis sambil mendekaptubuh Heart, pak Komar dan Richie lemas mendapati kenyataan mengenai kenyataan kedua orang tua kandung Heart.             “Bawa Heart ke mobil !” suara Richie disertai gerakan tangan untukmengangkat tubuh itu, Jimmy pun melakukan hal serupa. Mereka menidurkan tubuhHeart di jok belakang dan Jimmy segera meletakkan kepala gadis tersebut dipahanya.             Tak ada yang bersuara dalam perjalanan pulang, suasana duka terasadi mobil tersebut. Perawat bilang pasangan suami-istri  tersebut meninggal dua hari yang lalu, tapi bagi Jimmy hal tersebut sangattidak masuk akal karena kematian dua orang tidak mungkin bersamaan, sedangkanHeart mengatakan bahwa keadaan mereka sehat-sehat saja saat terakhir kalibertemu, apa yang sebenarnya terjadi dengan orang tua kandung gadis ini ?!Hanya saja keterangan surat Kematian dari rumah sakit membuat Jimmy harusmempercayainya, surat keterangan tersebut berisi tentang kematian mereka yangdiduga sebagai aksi bunuh diri karena mereka mengalami overdosis. Benar-benartragis nasib mereka dan Heart harus menerima semua ini, tentu dia sangatbersedih hati.  Jiwanya pasti tak mampu menerima, dia akantersiksa lahir dan batin. Hal ini makin membuat Jimmy bertekad untuk terus berada disisi Heart, dia akan memberikan perlindungan ekstra untuk gadis ini. Sepertijanjinya, dia tak akan pernah meninggalkan Heart apa pun yang terjadi.             “Ayah... Ibu...” suara Heart menyayat hati yang mendengar, sangatsedih dan menusuk relung hati. Tentu dia sangat terpukul dengan kenyataan hidupyang harus dia terima, Heart merasa tak memiliki semangat untuk hidup sekarang.             “Beib, ini Kakak. Sabaryach...” hibur Jimmy pelan, Heart hanya menangis meraung-raung dan usaha Jimmyuntuk menenangkannya tak membuahkan hasil.             “Ini gak adil, Kak. Padahal aku sudah memilih dan membela agama yang telah diridhaioleh Allah, tapi kenapa Dia merampas orang tuaku ?!” ratap Heart kalap, dia takbisa menerima ini sebagai bagian dari nasib serta suratan Ilahi.             “Dia yang kamu maksud Sangat Adil dan Dia sangat Menyayangi kamu,ini hanya sebagian kecil dari bukti cinta_Nya padamu. Percayalah, semua akanterasa indah pada waktunya.” nasehat Jimmy bukan hanya menenangkan Heart yangtampak mencerna kalimat tersebut, “ulat selalu minta dilahirkan sebagaikupu-kupu dan kaktus protes kenapa harus hidup di gurun yang panas sertatandus. Namun, jika ulat mau bertapa serta bersabar dia akan berubah menjadikupu-kupu yang cantik. Begitupula dengan kaktus, dia akan bangga saat unta-untaminum air yang terkandung di dalamnya tatkala dahaga. Semua akan terasa indahpada waktunya, itulah janji Tuhan.” lanjut Jimmy bijak semakin membuat Heart berpikir, memang benar apa yangJimmy katakan dan dia harus bisalebih bersabar dengan terus bertakwa kepada Allah.             “Aku sudah gak punya siapa-siapa, Kak.”             “Islam tak pernah membiarkan penganutnya merasa kesepian, kamu punyabanyak saudara dan mereka akan menerima serta menganggapmu bagian dari mereka.”jawaban ini masih memberikan motivasi agar Heart tak terlalu down, “kamu masihpunya Kakak, selamanya Kakak akan berada di samping kamu !!” janji ini sangatsungguh-sungguh, diucapkan dengan penuh kemantapan hati tanpa harus takut padaapapun.             “Kita gak akan pernah bersatu, Kak. Ada jurang terjal diantarakita.” suara Heart kecewa mengingat mereka berbeda keyakinan, mereka tak akan pernah bisa bersatu denganperbedaan tersebut.             “Saat kamu memilih Islam, malam itu pula aku menyaksikan kebesaranIslam. Tuhan yang sebenarnya telah membawamu pada jalan yang juga akan aku yakini sebagai Tuhan yang wajib kita sembah. Setelah ini gak akan ada lagi jurang terjal itu, kita akan seiramamencari cinta Tuhan !”             “Maksud Kakak ?”             “Aku akan mengikuti jejakmu, aku hanya akan menyembah Tuhan yangtelah menyatukan kita. Aku percaya bahwa hanya Allah yang pantas disembah !”jawab Jimmy membuat Heart meneteskan air mata haru, dia merasa bahagia. Sedalamapakah Jimmy mencintai dirinya sampai rela mengorbankan apa saja demi hidupbersama dengannya ?! Tak ada alasan bagi Heart menolak Jimmy sebagai calonsuami, pernikahan adalah jalan satu-satunya agar mereka bisa terus bersamaselamanya. Heart akan menjadi kekasih yang halal untuk Jimmy, mereka akanmembentuk keluarga Sakinah, Mawaddah danWarahmah. Jimmy pun siap terlahir sebagai manusia baru, dia pun tak takutbekerja dari nol untuk membiayai kehidupan rumah tangga mereka kelak, tak adalagi yang bisa memisahkan mereka !             “Kita harus temui Ustadz kenalanku untuk keislaman Jimmy, mungkinHeart juga bisa memantapkan kalimat Syahadatnya.” usul Richie yang hanyadiiyakan oleh kedua orang yang tengah bahagia tersebut, mereka akan benar-benar bersatu dibawah restu Allah.             Kesedihan masih ada, tapi Heart merasa lebih baik karena Jimmy akan Muallaf.Setidaknya dia tahu bahwa Allah memang Maha Adil, dia menyesal telah menuduhmacam-macam atas keagungan Allah. Heart tahu, dibalik semua ini tentu akan adahikmah yang tersembunyi dan dia hanya diberi sedikit cobaan sebagai ujiankehidupan. Dia harus bersyukur karena telah diberi Hidayah, hanya orang-orangtertentu yang Allah pilih sehingga menjadi orang yang beriman. Jimmy tersenyumlega, bukan hanya karena Heart tersenyum. Namun, dia merasa bahagia karenatelah berani mengambil keputusan untuk memilih agama yang tepat. Melalui Heart,dia menemukan arah hidup yang sebenarnya. Jimmy tak lagi merasa hampa, terjawabsudah alasan dia selalu bosan di dalam Gereja. Ternyata dia memang harusmenjadi seorang Muslim. Dalam hati, Jimmy tak akan pernah melanggar perintahAllah, dia senantiasa akan menjauhi larangan Allah SWT, dia akan benar-benar akan menjadi muslim sejati.   *****               Suasana hening dan sakral, penuh keharuan tanpa perlu ritual khusus.Jimmy sampai heran, dia tak perlu menyiapkan apapun. Mereka hanya dudukberhadapan dengan seorang Ustadz, Jimmy mengenakan sarung lengkap dengan kopyahyang dia dapat dari Richie. Jimmy percaya sekarang bahwa Islam penuh dengan kemudahandan Allah tak pernah mempersulit hamba_Nya yang ingin beriman. Apa yang dia rasakan saatini sangatlah luar biasa, benar-benar menakjubkan !! Jimmy merasakan debaranyang sangat teratur dengan luapan kebahagiaan yang tiada tandingannya. Barusekarang dia merasa hidupnya sangat sempurna, dia tersenyum bahagia diantaraorang-orang yang akan menyaksikan keislamannya. Dengan segala kemantapan hati, keyakinan dan kepercayaan penuh akanmembawanya pada dunia baru.             “Asyhadualla IlahaillahWa’asyhaduaanna Muhammadarrasulullah...” ucap Jimmy dan Heart penuh takdzimpada sang Maha Pencipta, mereka bersaksi dengan penuh kerendahan hati serta ketulusan jiwa.Air mata menetes dari mata keduanya, keharuan itu mereka rasakan penuhkesukarelaan.             “Alhamdulillah...” koorpak Komar dan Richie kompak melihat dua orang itu telah benar-benar memelukagama Islam, pilihan yang tak akanpernah sesali sepanjang hidup.             “Berimanlah dan bertaqwalah kalian !!” ujar Ustadz yang mengingatkanHeart pada ustadz Kholiq, dia juga teringat pada Rain untuk kesekian kali.             Mereka telah resmi menjadi umat Muhammad, Heart menerima buku-bukutentang tata cara beribadah dari ustadz Helmi dengan senang hati. Dirinya sudahhafal dan tahu tata cara Shalat, waktu kecil dia pernah diajari oleh guru mengajinya. Hanya ada beberapa bacaan yang sudah dia lupa, tapi bisadia pelajari melalui buku panduan shalat tersebut. Ustadz Helmi berjanji akan mengajariJimmy, dua orang itu pun berjanji akan membantu Jimmy serta Heart. Awalnyamereka hendak mengganti nama keduanya, tapi Heart tak mau ! Sejak lahir namanyasudah Heart, itu pemberian kedua orang tua kandungnya. Hanya ditambahi agarlebih islami saja, Heart Insani Nurullah. Sementara Jimmy hanya ditambah JimmyNur Muhammad.             Betapa suka cita hati keduanya, mereka mempelajari Islam dengan sepenuh hati.Tak ada yang bisa membuat keduanya berpaling dari Allah, bahkan Jimmysenantiasa bertanya pada Ustadz, Richie maupun pak Komar untuk menyempurnakanagamanya. Padahal dia pemula dan masih butuh bimbingan khusus. Terkadang semuaharus tertawa melihat tingkah Jimmy yang terlalu polos, dia benar-benar takmengerti Islam sama sekali. Jadi, pertanyaannya kadang terdengar konyol bagi Richie. Misal,dia bertanya tentang gerakan shalat yang harus ada rukuk dan sujud. Namun, Richie menjawab denganpenuh kesabaran agar Jimmy benar-benar merasakan bahwa Islam itu indah dan memang harus penuh ketelatenan dalammemberikan penjelasan pada Jimmy.             “Setiap gerakan shalat itu penuh makna sesuai dengan bacaan disetiap gerakan, untuk menghadap Sang Pencipta kita harus benar-benarmerendahkan diri. Itulah kenapa kita harus bersujud, kita menyembah Dzat Yang Maha Kuasa.”jawaban ini cukup logis dan memang benar kalimat Richie, masuk akal untuk Jimmy yang memang sangat kritisdalam berpikir.             Jimmy hanya mendengar setiap penjelasan sambil berusaha menghafal bacaan shalat sertagerakannya, beruntungnya dia yangmemiliki IQ di atas rata-rata sehingga dengan cepat sudah bisa menguasai bacaanserta gerakan shalat. Terkadang dia praktek seorangdiri di kamar, begitu banyak kesalahan dari gerakannya. Namun, dia tak maukalah oleh kesulitan, dia terus mencoba dan membiasakan shalat berjama’ah di Mushalla yangada di kompleks tersebut. Jimmy merasa bangga pada Heart yang lebih beriman,rajin beribadah dan sikapnya lebih lembut. Heart menjelma menjadi sosokMuslimah pilihan Allah yang senantiasa bertaqwa sepanjang hari. Hari-hari yangmereka lalui terasa bahagia, tapi Jimmy hanya bisa memandang Heart dan hal itulah yangmembuat dia berniat segera menikahi sang tunangan.             Kendala terberat dalam prosesi pernikahan, Jimmy harus memberikan Mahar. Sementara dia tak bekerja, apayang harus Jimmy lakukan ?! Selain itu, dia tak mau hidup terus bergantung padaRichie yang telah banyak membantu dirinya serta Heart. Dia memang harus mencaripekerjaan, tapi ijazah serta persyaratan untuk melamar pekerjaan ada di rumah.Dia tak mungkin pulang, semua pasti akan kembali seperti dulu kalau sampaiorang tuanya menemukan dirinya. Itu Artinya dia harus mencari pekerjaan yang tanpa membutuhkan ijazah, tapi apa?! Jimmy sebenarnya telah diajak oleh Richie untuk bekerja di perusahaan milikorang tuanya, tapi Jimmy tak mau terusik oleh keluarga Richardo jikamenampakkan diri sekarang. Jimmy hanyaingin fokus terhadap keislamannya, dia benar-benar ingin menyempurnakanagamanya untuk saat ini.   *****               Heart menangis sambil membersihkan tangan Jimmy, dia tak tegamelihat kondisi ini. Tangan Jimmy luka-luka karena tuntutan pekerjaannya sebagai kuli bangunan. Seorang Presiden direktur mudayang menyabet gelar Pembisnis kelas Internasional, berganti profesi sebagaikuli ! Tentu bukan hal menyenangkan bagi Jimmy. Jimmy meringis saat tangannyaterasa perih dan sekujur tubuhnya pegal-pegal, tapi dia berusaha tersenyum tiapkali pulang ke rumah. Heart selalu saja menyambutnya dengan tetesan air mata,tak kuasa dia menahan haru menyaksikan pengorbanan pemuda yang sangat di luardugaan. Bahkan untuk mengeluh saja Jimmy tak pernah, dia tulus melakukan iniuntuk dirinya. Kesabaran Jimmy melebihi segalanya hingga Heart tak mampuberujar tiap kali menyaksikan pengorbanan Jimmy terhadap dirinya.             “Maafin aku, Kak. Semua ini karena aku...” sesal Heart menyalahkandiri sendiri atas apa yang menimpa Jimmy sekarang. Wajah itu tak lagi sebersihdulu, tapi tetap memancarkan sinar semangat dan Jimmy tak menyesal.             “Sudahlah, Beib. Berkatkamu, Kakak bisa menikmati indahnya Shalat dan hidup Kakak lebih terasabermakna.”             “Tapi, Kakak menderita !”             “Penderitaan di Dunia tak seberapa dibanding penderitaan Akhirat.Lagian, Kakak tak merasa menderita selama ada kamu !” hibur Jimmy menguraisenyum Heart yang sangat mengagumi perjuangan Jimmy. Tanpa sepeser uang pun diaberani pergi bersama Heart, padahal Jimmy tak pernah hidup susah.             “Semoga Allah mengkhiri derita ini dan menjadikan hidup kita lebihbaik setelah ini.”             “Allah tak pernah menguji di luar batas kemampuan kita. Kakak janji,Kakak akan bekerja keras agar kita bisa cepat nikah dan punya tempat tinggalsendiri !” ini sebuah niat yang diamini oleh Heart dalam hati, dia sendiri maluterus-terusan menumpang pada Richie meski pemuda itu sangat baik.             “Heart gak butuh apa-apa, Kak. Kita nikah gak harus ada Mahar, Heart gak nuntut macam-macamkok.” ujar Heart penuh pengertian mengingat keadaan Jimmy yang tak sepertidulu, tapi Jimmy menggeleng pelan. Dia tetap harus memberikan sesuatu padaistrinya saat menikah nanti.             “Hanya seperangkat alat Shalat tanpa mas kawin, Beib. Kakak hanya sanggup memberikan itu, karena upah Kakak sudahdianggarkan untuk mengontrak rumah setelah pernikahan.”             “Makasih, Kak...” ujar Heart penuh syukur dengan mata berkaca-kacapenuh haru, “itu sudah sangat cukup bagi aku.” tambahnya penuh kesungguhan,Jimmy tersenyum sembari memandang calon istri yang tengah tertunduk di sebelahnya.             Jimmy menangkap kilau berlian di jemari manis sang gadis yang masihmelekat, itu satu-satunya benda yang tersisa di masa lalu. Cincin yang dia belidari hasil jerih payahnya selama ini, sebuah cincin yang harga jualnya bisamembeli rumah di perumahan elite. Namun, dia tak akan menyentuh perhiasan tersebut, hanya itu barangberharga milik Heart. Tak apalah dia bersusah payah, asal cincin itu tetapberada di jari wanita terindahnya. Jimmy akan berusaha lebih keras agar mampumembiayai hidup rumah tangga mereka kelak, Jimmy tak akan membiarkan hidupHeart kekurangan. Mereka akan hidup sederhana dalam lingkar kebahagiaan sepertiyang selalu mereka harapkan selamaini, tanpa kemewahan pun mereka akan tetap bisa bahagia.             “Kakak mandi dulu, setelah itu shalat Ashar. Aku juga mau bersihkanrumah, sebentar lagi Richie pulang.” kalimat ini menyadarkan Jimmy yang hanyamengiyakan, dia mengangguk dengan senyum melebar.             Jimmy bersyukur, dia dipertemukan dengan wanita terpilih sehinggadia bisa mengucap dua kalimat Syahadat. Tak salah dia jatuh cinta pada Heart,sekarang dia tahu arti cinta yang sebenarnya. Selain dia mendapat pendampinghidup yang Shaleha, dia pun menemukan agama yang sesuai dengan apa yang dia yakinisepenuh hati. Tanpa terasa sudah dua bulan dia tingal bersama Richie, semuaterasa tanpa ada masalah. Pak Komar bekerja sebagai supir pribadi Richiesekarang, terkadang turut membelikan kerudung untuk Heart atau sekedar buku-buku Islami. Heartmerasa tak enak saja, tapi dia tak mau mengecewakan orang tua yang sudah diaanggap Bapak sendiri. Saat menikah pun, dia akan meminta pak Komar sebagai saksi. Hidup berlalubegitu cepat dan roda kehidupan pun semakin terasa berputar sesuai kehendakAllah SWT.             “Assalamualaikum...” suara sapaan hangat dari Richie dijawab cepat oleh Jimmy yangmasih belum beranjak dari teras depan. Untuk sejenak Jimmy tertegun, dia rindujas dan tas kerjanya. Dia ingin menyentuh laptop,tapi dia tersadar akan kondisinyasaat ini.             “Sudah pulang, bagaimana kerjaannya ?” tanya Pak Komar penuhperhatian sambil ikut duduk di lantai bersama Jimmy, sementara Richie masukuntuk melepas pakaian kantornya.             “Alhamdulillah, Pak.Lancar-lancar saja dan tidak ada masalah dari pihak manapun.” jawabnya penuhrasa syukur dan senyum melebar, pak Komar lega meski terbakar sinar Mataharisekali pun Jimmy tak menyerah atau berusaha menarik ucapannya untuk tak memilih Islam.Biasanya kalau orang Muallaf,diwaktu-waktu pertama masuk Islam rawan ujian dan pak Komar membenarkan kalauujian ini terlalu berat untuk seorang Muallafmacam Jimmy. Pak Komar tak tahu bahwa hati Jimmy telah terpaut hanya pada satunama, yaitu Allahu Akbar,  dia tak akan berpaling meski dihujani ribuan peluru atau tersengatpanas yang menyiksa.             “Apa tidak sebaiknya kamu segera menikah dengan Heart ?” tanya pakKomar yang tak langsung dijawab, Jimmy masih berpikir cukup lama untuk bisabicara.             “Niat seich pengen cepet-cepet, tapi duit masih belum cukup untukmenyiapkan segala kebutuhan.” jawab Jimmy malu-malu mengingat tabungannya mepetsekali, baru dua bulan dia berkerja. Berapa seich upah seorang kuli ?!             “Masalah penghulu dan lainnya biar bapak yang urus, tak baik tinggalseatap tanpa ada ikatan yang jelas. Bisa menimbulkan fitnah.”             “Tapi, Pak...”             “Sudahlah kamu urus saja alat-alat shalat yang harus kamu beli.Lebih cepat, lebih baik !” potong pak Komar sambil meninggalkan Jimmy yanghanya terdiam, ucapan pak Komar benar ! Dia tak mau orang-orang berpikirmacam-macam tentang Heart.             Dia bingung, sekarang dia harus mendapat donatur untuk melakukanpernikahan. Dia merasa sangat tak berguna, apa ini bagian dari ujian Allahuntuk menguji keimanannya ?! Jimmy tertunduk untuk yang kesekian kalinya, dia taktahu harus berbuat apa selain pasrah pada Sang Maha Pencipta. Hanya pada Allahdia bisa meminta pertolongan agar tak salah melangkah. Beruntung dia bertemuorang-orang yang sangat peduli terhadap nasib dirinya beserta Heart, dia taktahu kalaupak Komar dan Richie tak ada. Hidupnya tentu akan luntang-lantung tak jelas dijalanan. Jimmy menatap langit biru, dia merasa tenang di tempat ini walau dalamkeadaan susah.   *****   Lupakan dulu sejenak jalan hidupHeart, kita menuju pada Rain yang selama dua bulan ini tak ada kabar. Kemarendia telah wisuda dan sudah tak kuliah lagi, kebetulan dia memang semesterakhir. Rencananya dia akan melamar di perusahaan Ekspor-Impor ternama.Ijazahnya cukup menjanjikan agar dia bisa diterima, selain itu dengan modalkejujuran pasti mendapat pekerjaan yang layak. Dia tak mengikuti jejak ayah danibunya, untuk berdakwah tak harus menjadi Ustad atau Kiyai. Di mana saja, dia bisa menegakkan agamaAllah. Itulah kenapa dia lebih memilih menjadi pegawai kantoran daripada harusmenjadi aktivis-aktivis di lembaga Agama. Dia tak berminat karena merasa belumbisa menjadi teladan, dia hanya inginorang mengenalnya sebagai diri sendiri bukan karena keberadaan kedua orangtuanya.             Ada yang menarik selain dia lulus kuliah, dia telah resmi melamarNaya atas permintaan kedua orang tuanya. Orang tua Rain tak mau anaknya terusberlarut-larut dalam kesedihan atas pernikahan antara Jimmy dan Heart. Heranbukan, kenapa ada kabar pernikahan yang sebenarnya belum terjadi ?? KeluargaAndreas mengabarkan pada semua orang bahwa Heart telah menikah dengan Jimmy danmereka tengah tinggal di Bali. Namun, yang membuat Rain terpukul, Heartmeninggalkan kedua orang tuanya yang tengah menderita dan sekarang tinggal dipanti asuhan. Syifa yang merawat mereka saat ini, Rain membawa mereka ke sana !! Diageram jika teringat kejadian dua bulan lalu, kejadian yang pada kenyataannya tidak diketahui oleh Heart danmenimbulkan kesalahpahaman tentunya.             Perasaan Rain tak tenang, entah atas dasar itulah dia datang ke kediaman orang tua kandung Heart. Betapa kagetnya dia melihatkeluarga Andreas tanpa belas kasih menyiksa dua orang cacat tersebut,mereka memaksa pasangan suami-istri tersebutmeminum obat tanpa resep dokter. Mana mungkin merekamengerti, mereka tak mendengar serta melihat. Keluarga Andreas sangat keterlaluandan Rain tak bisa tinggal diam. Dia mendekat ke arah kedua orang tua bernasibmalang tersebut, dia tak mau mereka diperlakukan seperti hewan oleh orang-orangtak berhati macam keluarga Andreas. Rain berlari saat pak Andreas bersamanyonya Miranda kian menjadi-jadi menyiksa mereka, diamerasa harus menyelamatkan mereka dari kesadisan orang-orang tersebut. Ini sudah tak bisa didiamkan, dia harus melibatkan diri demikeselamatan dua orang tua itu.             “Apa yang kalian lakukan ?!”  bentak Rain menangkaptubuh pak Jono yang sempoyongan, tentunya pak tua tersebut sudah meminum obat yang diberikan secara paksaoleh pak Andreas.             “Untuk apa kamu peduli padanya, anak mereka saja sudah tak mau tahudengan keadaan mereka ?!” ledek nyonya Miranda membuat telinga Rain panas, “Jadi, daripada mereka menyusahkan dan membuatHeart malu lebih baik mereka mati saja.” lanjut istri pak Andreas ini semakinmenjadi,dia tak percaya bahwa Heart akan tega melakukanhal tersebut kepada orang tuanya.             “Dia telah memilih hidup bersama Jimmy, mana mungkin dia mau padamereka. Keluarga Jimmy pun tak akan mau padanya kalau sampai tahu dia punyaorang tua cacat dan menyedihkanseperti mereka ini.” tambah pak Andreas memporak-porandakan perasaanRain yang hanya mampu mengutuk Heart dalam hati, dia sudah sangat membenci gadis itu.             Tak disangka, perempuan paling cantik itu akan melakukan hal sekejiini pada orang tuanya sendiri. Memang benar, kemewahan bisa membutakan matasiapa saja. Orang tua saja rela disingkirkan oleh Heart, padahal mereka yangtelah merawatnya sebelum dia menjadi bagian dari keluarga Andreas dan membuatHeart hidup hingga dia bertemu Jimmy. Rain kecewa, dia marah pada Heart. Raintak tahu bahwa cerita bohong itu hanyalah kamuflase yang dikarang agar merekatak malu sebab Heart lebih memilih Islam. Keluarga Andreas lebih kejam darisiapapun, mereka pindah rumah karena tak mau malu pada keluarga Richardo.Sementara orang tua Jimmy mengerahkan seluruh anak buahnya agar menemukanJimmy, mereka tak rela anaknya tinggal dengan wanita pembawa sial. Orang tua Jimmy tak akanmerestui hubungan mereka sampai mati sekalipun, keluarga Richardo akan terus mencari keberadan Jimmy dan segeramembawanya pulang.             “Aku ingin bicara !” suara Naya membuyarkan lamunan Rain tentang kejadian dua bulan lalu,dia mendengus kesal karena tunangannya muncul tanpa salam.             “Kita bicara di luar saja, gak enak dilihat Ayah dan Bunda !” tukasRain cepat sambil berjalan ke luar dari kamar, Naya menghentakkan kakinyadengan kesal atas sikap Rain yang selalu dingin padanya.             “Aku tunanganmu dan kita bebas berduaan di mana saja kan, kenapaharus di sini segala seich ?!” sentak Naya tak suka mereka ngobrol di terasdepan, Rain tak mau tahu. Dia hanya menjaga diri dari hal-hal buruk, dia takutterperangkap oleh setan hingga melakukan hal maksiat.             “Kita masih dalam proses ta’arrufan,masih belum halal untuk berduaan tanpa Muhrimatau Mahram !!” timpal Rain cuektanpa peduli dengan kejutekan Naya, dia hanya tak mau berdosa dan memuluskanjalan setan menggodanya.             “Makanya cepet halalkan aku !!’             “Kamu pikir nikah itu gampang ?!” tanya Rain lucu, dia tak habis pikir dengan otak Naya yang mulai terganggu. Wanita ini selalu memaksa dirinya untukcepat-cepat menikah dengan alasan agar tak timbul fitnah, sementara sikap Nayatak kunjung menjadi lebih baik. Naya masih saja cemburu terhadap Heart meskigadis itu sudah menghilang tanpa jejak.             “Apalagi yang kamu pikirkan?!” balik Naya bertanya dengan perasaan kesalnya, “kitasudah saling mengerti dan mengenal satu sama lain.” lanjutnya memaksa Raintersenyum lucu, emang cuma itu saja sudah cukup ?! Naya gak berfikir tentangmasa depan rumah tangga mereka, kewajiban-kewajiban suami-istri ataupasal-pasal dalam berkeluarga.             “Kita saling mengerti sebagai sahabat, tapi untuk menjadi sepasangkekasih susah untuk saling mengerti.”             “Aku bisa ngerti kamu, tapi kamu yang gak bisa ngerti aku !!’ suaraNaya melengking keras, Rain sampai menutup telinga dengan wajah meringis. Adaapa dengan Naya, kenapa dia berubah drastis begini ?? Rain berpikir dengan dia maumenuruti mau Naya untuk melamarnya, gadis itu akan menjadi baik. Kenapa justrukian tak terkendali seperti sekarangini ?!             “Tunggu sampai aku bisa ngerti kamu yach...” tukas Rain sambilmelompat dari kursi dan menaiki motornya tanpa peduli dengan panggilan Naya.             Rain bukan tak bisa mengerti Naya, tapi dia masih belum bisamengganti posisi Heart dengan gadismanapun. Dia tak mau mengganti Heart dengan siapapun,kalau bukan gara-gara Naya mencoba bunuh diri karena Rain tak mau menerima cintanya tentudia tak akan sampai menjadi tunangan gadis itu. Terpaksa dia menuruti mau orangtuanya yang terlalu kasihan pada nasib Naya dan tentunya karena tak enak hatipada keluarga pesantren. Daripada diamemikirkan Naya, lebih baik dia menemui orang tua Heartuntuk memberikan sedikit uang agar bisa membantu Syifa dalam membiayai hidupmereka. Rain bertekad segera mendapat kerja agar bisa mengoperasi mereka, dia ingin mereka bisamenikmati dunia meski anak mereka telah membuangnya. Rain tak tahu bahwa hidupHeart lebihmenderita dari yang bisa dia bayangkan, dia tak pernah tahu nasib menyedihkan perempuan yang dia anggap sebagaianak durhaka.   *****  
    Hendrik Kurniawan


    bangun+rumah 's link
    10 tahun Aku membenci Suamiku ==================================== Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki : Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri. Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannyatapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka. Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku. Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku. Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya. Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannyabersama kedua anak kami. Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku. Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi. Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingatapa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya. “Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut. Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??” “Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat, kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu. Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah. Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas. Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis. Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara. Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak- anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman- temanku. Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya. Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku. Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannyadi laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari- jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya. Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku. Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia. Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak- anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku. Istriku Liliana tersayang, Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu. Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannyauntuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku. Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy! Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note. Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya.Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta. Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi. Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?” Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.” Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?” Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.” Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
    Sinopsis Drama Korea Populer


    bangun+rumah 's link
    Melihat pasukan yang tadi menyerang sekarang membelanya,Choi Young menyadari kalau mereka sudah dijebak. Ia tak bergerak, membiarkankedua pasukan itu bertarung. Saat kedua pasukan itu bertempur, Hwasuin mendekati ChoiYoung dan memberi dua pilihan : berdiri di sini dan mati sebagai pengkhianatatau pergi mengikutinya. Choi Young ingin pilihan ketiga, yaitu kembali kedalam rumah. Tapi bukan itu pilihan yang dicari Hwasuin. Ia mengingatkanChoi Young kalau korban semakin berjatuhan. Eun Soo bertanya apa yang sebenarnya terjadi, pasukan manayang berada di pihak mereka? Choi Young ragu dan tak dapat menjawab secarapasti karena semua ini sedikit rumit. Maka Eun Soo mengusulkan, “Kalau begitu kenapa kita tak biarkansaja mereka, kita pura-pura tak tahu dan menyelinap pergi ?” Wajah Choi Young mendadak cerah karena ide Eun Soo sangatcemerlang. Ia menyuruh Eun Soo untuk pergi bersama Pangeran terlebih dahulu. Pangeranmasih ragu untuk meninggalkan Choi Young sendiri dan bertanya, “Apakah kau akanbaik-baik saja, Young-i?” Choi Young mengangguk, menenangkan Pangeran Kyeong Chang.Hwasuin, yang melihat Eun Soo dan Pangeran melarikan diri, melemparkan apelyang ia pegang dengan tenaga dalamnya. Tapi Choi Young menangkis apel itudengan pedangnya. Eun Soo dan Pangeran berhasil kabur. Pertempuran itu berlangsung hingga malam. Choi Youngberhasil menahan kedua pasukan dan berhasil melarikan diri ke dalam hutan,tempat Eun Soo dan Pangeran Keong Chang menunggunya. Choi Young menunjuk ke dalam hutan dan meminta Pangeran untukpergi. Ia meminta Eun Soo untuk menemani mantan raja Chung Jeong itu. Hujanakan turun dan kesempatan untuk meloloskan diri akan semakin besar. Ia akanmenyusul mereka, dan ia akan menemukan mereka kemanapun mereka pergi. Wow, apa Choi Young sudah menanamkan GPS di badan Pangeran atauEun Soo kah? Bukannya menurut, Eun Soo heran pada Young yang membiarkanmereka sendirian. Mengapa mereka harus pergi sendiri? Mengapa? “Untuk sekali saja, bisakah kau berhenti menanyakan alasankudan mengikuti perintahku?” tanya Choi Young kesal dengan ketidakpatuhan EunSoo. Ia memegang tangan Eun Soo dan menyerahkan tali kekang kuda padanya,menyuruh mereka segera pergi. Choi Young tak membiarkan mereka sendiri. Ia berada jauh dibelakang Eun Soo dan Pangeran, membunuh lawan-lawan yang mencoba mengejarmereka. Ketika akhirnya Eun Soo dan Pangeran lepas dari kejaranlawan, Choi Young pun menghilang. Hwasuin kesal karena misinya gagal. Di bagian hutan yang lain, Joo Seok mencari jejak Choi Young.Ia diperintahkan oleh Choong Seok untuk menemukan Choi Young  dan memintanya untuk segera kembali ke istanakarena Choi Young sedang dijebak dengan tuduhan pengkhianatan. Mendadak muncul seorang pemburu yang mengaku bukan musuhnya.Mulanya Joo Seok curiga, ia akhirnya percaya setelah pemburu itu mengetahui kearah mana Choi Young pergi, dan ia mengaku kalau ia adalah  suruhan seseorang yang ingin bertemu ChoiYoung.  Kabar pengkhianatan Choi Young,yang akan membantu Pangeran Kyeong Chang naik tahta, sudah menyebar di Ganghwado. Pada Rajanya, Penasihat Jo mengatakan kalau ia sudahberkali-kali memberitahu kalau Choi Young tidaklah dapat dipercaya. Dansekarang benar-benar terbukti. Dari dulu Choi Young adalah kaki tangan Ki Chul. Kalautidak, bagaimana mungkin Choi Young dapat pergi sendiri ke rumah Ki Chul danmembawa pergi tabib langit untuk menemui Pangeran Kyeong Chang. Apakah ia dapatmembawa pergi Pangeran Kyeong Chang dengan mudahnya? Gong Min diam. Tak menjawab. No Goo mendapat informasi yang genting ini. Ia segeramenyuruh Dayang Choi untuk membawa Dae Man menghadap padanya. Maka Dae Man yangbaru saja pulih, harus terseok-seok mengikutinya. No Gook bertanya, apakah Ki Chul menyerahkan Eun Soo begitusaja? Dae Man menjawab ya. Ia hendak meneruskan kata-katanya ingin memberisebuah pembelaan, tapi No Gook memotongnya dan bertanya lagi, “Apakah ChoiYoung mengikuti perintah Ki Chul untuk pergi ke Ganghwado?” Lagi-lagi Dae Man mengangguk dan ingin memberikan pembelaanuntuk Dae Jangnya, tapi No Gook memotongnya lagi bahkan dengan suara lebihkeras, “Mengapa Choi Young mengikuti perintah Ki Chul? Apa ia berpihak pada KiChul?” Dasarnya cara bicara Dae Man sedikit gagap. Dicecar denganpertanyaan yang menyudutkan, Dae Man hanya garuk-garuk kepala, tanpa bisamenjawab. Jang Bin mencoba menenangkan No Gook kalau Choi Young pastimemiliki alasan di balik semua ini. Ia menebak kalau Ki Chul mengancam ChoiYoung dengan nyawa Eun Soo.  Dayang Choipun menyetujui asumsi Jang Bin dan meminta Ratu untuk melihat dari sudutpandang Choi Young. Tapi No Gook tak mau, “Siapa yang mau melihat dari sudutpandang Choi Young? Akan lebih mudah menjatuhkan seseorang daripada berpihakpadanya.” Rasanya kata-kata No Gook egois. Tapi sebenarnya ia sedangmencari jalan untuk mencari alasan untuk menyelamatkan Choi Young. Tanpa satualasanpun, ia akan mempercayai Choi Young. Tapi tidak dengan orang lain yangingin menjatuhkannya. Jadi ia perlu alasan kuat untuk berbicara. Eun Soo dan Pangeran Kyung Chang telah menemukan tempatpersembunyian yang tepat. Sementara Pangeran tidur, ia keluar dan memberi makankuda. Setiap ada bunyi, membuat Eun Soo ketakutan. Saat ada bunyi suara lagidan merasa ada orang di belakangnya, ia menaraik belati dan menghunusnya.  Dengan mata tertutup. Eun Soo berteriak karena orang itu malah meraih tangannya, danmengarahkan belati itu ke lehernya sendiri. Orang itu berkata,  “Apakah kau akan menusuk tanpamelihat?”“Kan kau bilang kalau aku mencobanya sampai matipun aku takakan sanggup menusuk..” jawab Eun Soo tergeragap. “Kalau kau tak yakin bisa melakukannya, jangan lakukan.Karena pisau tak dapat membedakan si pemilik atau musuh,” Choi Young memberikanpelajaran Cara Menggunakan Pedang 101. Mereka masuk ke dalam rumah dan Eun Soo memuji Choi Youngyang bisa menemukan tempat persembunyian mereka. Ia juga memuji diri sendiriyang telah menaruh kudanya di tempat strategis untuk berjaga-jaga kalau merekaketahuan. Choi Young tak menjawab apapun,hanya memandangi Pangeran Kyeong Chang yang tertidur pulas. Eun Soo masih berbicaraterus hingga bunyi petir mengagetkannya. Di saat bersamaan ruangan menjaditerang sesaat karena petir dan Eun Soo melihat wajah Choi Young bersimbahdarah, “Seberaa parah kau terluka? Coba kulihat!” Choi Young memalingkan mukanya.Darah itu bukan darahnya, jadi Eun Soo tak perlu khawatir. Eun soo sekarang takkhawatir, tapi tak suka. Darah yang bukan darah Choi Young, artinya adalah ChoiYoung telah membunuh banyak orang. Eun Soo melempar selembar kain danmenyuruh Choi Young membersihkan darah dari wajahnya, “Dan jangan membangunkananak itu.”  Choi Young mendelik mendengarsebutan Eun Soo, “Siapa yang kau panggil dengan anak? Jangan menyebutnyaseperti itu.” Eun Soo tak menjawab, hanya membelai rambut Pangeran Kyeong Chang. Maka Choi Young memilih diam danminggir sambil membersihkan wajahnya. Saat petir menyambar, ia memandang wajahEun Soo yang terus menjagai Pangeran. Ruangan kembali remang-remang, tapi ChoiYoung tak melepaskan pandangannya dari Eun Soo. Subuh menjelang dan Eun Soo terbangundan memanggil Choi Young. Ia ingin tahu apakah Choi Young ikut berisitirahatsaat ia dan Pangeran tertidur? Choi Young tak menjawab, hanya membalikkantubuhnya. Hal itu berarti satu, Choi Young tak pernah beristirahat semenjak diasadar dari komanya, “ Dan selama itu kau harus bertempur, menunggang kuda,bertempur lagi, melindungi ..” Eun Soo menghela nafas danmenghampiri Choi Young untuk duduk di sebelahnya. Choi Young menatap Eun Soo,untuk kemudian berpindah tempat. EunSoo tak mau menyerah dankembali duduk menghampiri Choi Young. Akhirnya Choi Young bertanya apa yangsebenarnya Eun Soo ingin lakukan? Eun Soo menepuk punggunya dan berkata, “Sini.Bersandarlah di bahuku. Mulai sekarang aku akan melindungimu. Jadiberistirahatlah.” Ide Eun Soo sepertinya tak bisamasuk ke dalam otaknya, “Kau minta seorang pria untuk bersandar dibahuseorang wanita?” Tentu saja Eun Soo membantah, “Akumenyuruh seseorang yang lebih lelah untuk bersandar pada seseorang yang cukupberistirahat. Kenapa kau harus membawa-bawa pria atau wanita?” Choi Young hanya bisa melongo saatEun Soo menyodorkan bahunya sekali lagi. Eun Soo mendengar kalau Choi Youngsuka tidur. “Ia dapat tidur 3 hari 3 malam.Kemudian ia makan makanan banyak-banyak dan setelah itu ia tidur kembali.Itulah mengapa Dae Jang sangatlah hebat,” kata Eun Soo mengutip gossip yangpernah ia dengar.  Eun Soo terlalu sibuk berbicara sendirihingga tak menyadari kalau Choi Young akhirnya tertidur dan bersandar dibahunya. Menyadari pria itu telah terlelap, Eun Soo memegang dahi Choi Younguntuk merasakan suhu badannya dan mengukur denyut nadinya. Ia terlihat lega,namun menyadari kalau bada Choi Young penuh darah, ia hanya bergumam, “Baudarah..” Eun Soo tak menyadari kalau ChoiYoung membuka matanya sebentar untuk kemudian tidur lagi. Pemburu dan Joo Seok masih mencarijejak Choi Young. Dari jejak kotoran kuda yang baru saja mereka lewati, pemburuitu mampu menunjuk arah kemana Choi Young dan yng lainnya bersembunyi. Saat Pangeran bangun, ia merasatelinganya sakit dan Eun Soo memeriksanya. Karena tumor menekan gendangtelinga, maka Pangeran selalu merasa kesakitan. Eun Soo meminta aspirin yangpernah ia berikan sebelumnya dan menyuruh Pangeran Kyeong Chang untukmeminumnya. Choi Young meminta Eun Soo  melakukan hal yang lainnya lagi untukmeringankan sakit (seperti akupunktur) tapi Eun soo tak bisa melakukannya. ChoiYoung marah, “Apakah hanya ini yang bisa kau lakukan?” “Maaf ya kalau aku tak mengambilsemua peratan dan obat-obatan saat kau menculikku. Seharusnya kau memberitahukankusebelumnya, hingga aku dapat membawa berbagai macam obat,” sindir Eun Sooemosi. Choi Young merasa tak enak hati,namun matanya mendelik saat mendengar gerutuan Eun Soo berikutnya, “Dasarpenculik brengsek. Memang dia pikir dia siapa berteriak-teriak seperti itu.” “Brengsek?” matanya mendelik saatmendengar panggilan itu. Ha. Coba aja kalau Choi Youngngerti arti kata ‘psycho’, sudah cabut pedang mungkin. Eun Soo mengabaikan mata ChoiYoung. Karena tak ada obat, maka jalur Patch Adam pun jadi. Ia menirukan suaradan menyanyikan sebuah lagu seperti lagu seriosa, tapi nadanya larikemana-mana. Aksi ini membuat Pangeran Kyeong Chang tertawa-tawa dan lupa akan sakitnya.Choi Young pun juga tersenyum melihat aksi Eun Soo yang pede banget bernyanyi. Tapi Choi Young menghentikannyanyian Eun Soo. Bukan karena sumbang, tapi karena ia mendengar ada suara diluar. Dan ternyata suara itu adalah JooSeuk dan pemburu yang akhirnya menemukan Choi Young. Hwasuin melaporkanketidakberhasilannya pada Ki Chul dan mengharapdan kan ia dimarahihabis-habisan. Tapi di luar dugaan Ki Chul malah tenang dan memuji akanpekerjaannya. Jika mereka berhasil ditangkap, permainan ini malah takmengasyikkan. Hwasuin bingung  plus frustasi dengan arah pikiran Ki Chulyang menurutnya bagai belasan ular berbisa yang licik dan kejam. Eum Jamenenangkannya dengan menaruh telunjuk ke dalam mulutnya. Ah.. apakah ini adalah cinta noonadongsaeng yang lain? Pemburu itu ternyata adalahsuruhan dari Gubernur Gwangha yang ingin bertemu dengan Choi Young. GubernurGwangha ingin melihat dengan mata kepala sendiri apakah Choi Young benar-benardijebak atau memang terlibat konspirasi. Choi Young tak mengenal GubernurGwangha, maka ia ragu. Tapi ia tak punya pilihan lain. Joo Seok tak akan mengikuti Choi Youngke rumah gubernur Gwangha. Choi Young memberinya tugas lain yaitu menyampaikanpesannya pada Raja Gong Min. Joo Seok enggan melakukannya karena sebenarnyakepergiannya ini adalah perintah Choong Seok yang menjadi wakil Woodalchi,tanpa sepengetahuan Raja. Tapi Choi Young tetap bersikeras,“Kalau kau bisa selamat setelah menyampaikan kata-kataku pada Paduka Raja, kauharus kembali menemuiku dengan membawa jawabannya. Aku akan mencoba bertahanhingga saat itu tiba.” Joo Seok terbelalak, “Apakah DaeJang yakin kalau Raja akan memberikan jawabannya?” Ha. Pasti kekaguman Joo Seokmeningkat sepuluh tingkat karena Choi Young yakin Raja tak marah padanyasetelah Raja mendengar pesannya. Tapi Choi Young membantah hal itu,ia sendiri juga tak begitu yakin, bahkan, “Jika kau terbunuh karena aku, makasebelumnya aku harus memberitahukan ini padamu,” Ia mencondongkan badan dandengan suara lebih pelan ia berkata, “Maafkan aku.” LOL. Joo Seok hanya bisa terpana.Dae Jang-nya ini kok ya kejam bangeeetttt..!!! Ki Won mendapat pesan dari merpatipos dan ia menunjukkan pesan itu pada salah satu pejabat. Sementara itu di istana Jang Binmenjadi menjadi perantara pembawa pesan antara Raja Gong Min dan Ratu No Gook. Yang sedang duduk berhadapan. LOL.Ini dua bangsawan kelakuannya kaya anak-anak saja. Mereka memainkan permainan‘Jang Bin, katakan padanya..’ No Gook menyiapkan meja jamuanagar bisa bertemu dengan Gong Min. Ia meminta ijin untuk pergi ke rumah Ki Chuldan melakukan barter. Gong Min menganggap No Gook sudahgila dan menyindirnya, walaupun yang terluka adalah lehernya, tapi otaknya jugakena. Tapi No Gook tetap mengatakan idenya. Dirinya akan ditukar dengan ChoiYoung dan tabib langit. Ia adalah putri raja Yuan, maka Ki Chul tak akan beranimacam-macam padanya. No Gook juga sudah menyiapkanscenario tambahan. Ia akan memberinya uang, ia akan memberikannya. Begitu pulajika ia ingin menambah kekuasaan.. Dengan kasar Gong Min meraih NoGook, membuat semua dayang, kasim bahkan Jang Bing mengalihkan pandanganmatanya. “Sampai sejauh mana kau ingin membuatku kelihatan menyedihkan, agarkau senang? Aku baru saja kehilangan salah satu pengikut setiaku. Jika diamembalikkan punggungnya dariku, aku tak dapat mencegahnya. Tapi sekarang bahkanRatuku juga muak akan kelemahanku, tak menganggapku dan bertindak sendiri.” Ia mendekat ke arah No Gook danberbisik marah, “Apakah rasa sukamu padanya begitu besar? Haruskah kau berbuatsejauh ini demi dirinya?” No Gook gemetar mendengarkata-kata Gong Min. Ia hanya bisa menjawab lirih, “Bagi paduka, ia adalah orangyang jauh lebih penting daripada orang seperti saya.” Gong Min kaget mendengar kata-kataNo Gook. No Gook melanjutkan kalimatnya, walau penuh keraguan, “Paduka takpernah mengetahui hal ini.. tapi saya.. saya..” Kata-kata No Gook terhenti karenaPenasihat Jo yang berteriak menanyakan keselamatannya. Damn..  dari awal saya sudah nggak suka denganPenasihat Jo. Sepertinya sekarang puncaknya deh.. Si Ratu mau memberikan loveconfession.. kenapa dipotong?! Penasihat Jo dan beberapa pejabatlain (termasuk pejabat yang tadi melihat pesan merpati pos) datang karenakhawatir akan keselamatan Raja yang ditawan oleh para woodalchi. Tentu saja para woodalchi kaget.Mereka tak akan pernah berkhianat. Gong Min pun meyakinkan Penasihat Jo akan halitu. Ia memang memberi perintah pada para woodalchi untuk menjaganya. Tapi penasihat Jo punya buktinya.Ia bertanya pada para woodalchi, apakah benar kalau tak ada satupun dari merekayang pergi menemui Choi Young? Choong Seok tak menjawab apalagimembantah, mengagetkan Gong Min. Maka Gong Min pun bertanyaBuru-buru Choong Seok dan parawoodalchi lainnya berlutut memohon ampun, “Yang mulia!” Gong Min hanya bisa menatap nanarpada para woodalchi. Poor, Gong Min. Sekarang siapa lagi orang yang dapat mempercayai kemampuannya, jika para woodalchi pun tidak? Ki Won datang ke markas merekauntuk menyampaikan kalau mereka tak boleh keluar dari markas untuk waktu yangtak dapat ditentukan. Para woodalchi dibebastugaskan dalam mengawal Raja GongMin karena dianggap melakukan pengkhianatan.Jika mereka terlihat melakukansuatu hal yang diduga sebagai pengkhianatan, maka markas woodalchi akan menjadilautan api. Rombongan Choi Young akhirnyasampai di rumah Gubernur Gwangha. Eun Soo terpesona melihat taman rumah yangsangat indah. Setelah berbasa-basi dan perkenalan pada Gubernur Gwang Ha, EunSoo bertanya tentang kamar yang dapat mereka tempati karena ia ingin agarPangeran Kyeong Chang dapat beristirahat. Eun Soo menemani Pangeran KyeongChang untuk beristirahat. Ia berkata ia akan membuat suatu ramuan karena iamelihat sebuah tanaman yang ia tahu dapat mengurangi rasa sakit. Tapi PangeranKyeong Chang mengatakan kalau ia telah mempraktekkan mantra Eun Soo (menirukansuara) dan cukup berhasil. Plasebo yang berhasil. Eun Sootersenyum sayang, menatap mantan Raja yang masih bocah namun bernasib malang. Kepada Gubernur Gwangha Choi Youngmenjelaskan kalau ia telah dijebak hingga terlihat seperti berkhianat. Gubernurbertanya, apa ia dapat mempercayai kata-kata Choi Young? Choi Young menjawab kalau Gubernurharus mempercayainya, karena Gubernur telah membantu bahkan menyembunyikanmereka. Ia membalikkan pertanyaan Gubernur itu. Apakah ia dapat mempercayaiGubernur? Ataukah sebenarnya Gubernur ingin mengembalikan tahta Pangeran KyeongChang? Gubernur tertawa mendengarnya danberkata kalau ia hanyalah seorang pegawai kerajaan. Ada tiga hal penting yangharus dilakukan agar ia dan keluarganya, dari generasi ke genarasi, dibayaroleh kerajan. Apakah Choi Young tahu 3 hal itu? Choi Young melemparkan senyum‘dunno don’t care’-nya. Ia belum berpikir sampai ‘dari generasi ke generasi’. Perhatiannya teralih saat melihatEun Soo berjalan-jalan di taman. Dan Gubernur yang tahu kalau Choi Young takberminat meneruskan percakapan, berkata kalau ia akan menjelaskan tentang 3 halitu di kemudian hari. Choi Young menghampiri Eun Soo danbertanya apa yang sedang ia lakukan di sini? Eun Soo mengacungkan pucuk daundan menjawab kalau ia sedang memetik daun peppermint untuk pereda sakit. Iabahkan menyukai minuman yang mengandung daun ini. Choi Young menyuruh Eun Soo untuksegera menyelesaikan kegiatannya. Karena ia tak mau meninggalkan Pangeransendiri. Eun Soo bertanya, bukankah tempat ini aman? Namun jika Choi Youngkhawatir, ia pergi duluan. Bukannya pergi ke ruangan PangeranKyeong Chang, Choi Young malah tetap tinggal dan mendengar celotehan Eun Sooyang bertanya bagaimana caranya ia membuat peppermint ini menjadi obat?Ditumbuk, diambil sarinya atau direbus? Bagi Choi Young, pertanyaan Eunsoo itu aneh. Bukankah yang menjadi tabib itu Eun Soo? Eun Soo menjelaskankalau di langit, tabib tak membuat obat. Yang membuat adalah perusahaan farmasidan tabib hanya membuka komputer, mencari data obat yang tepat.. Eun Soomenghentikan kata-katanya, tak ada gunanya menjelaskan pada Choi Young. Maka ia melakukan sesuatu yangberguna untuk Choi Young. Ia memetik sekuntum bunga seruni kuning dan menyuruhChoi Young untuk menerima hadiahnya. Tentu saja Choi Young tak mau. Iaberanjak pergi, tapi Eun Soo menahannya. Eun Soo melihat ada sesuatu di rambutChoi Young dan tanpa sempat dicegah, Eun Soo mengulurkan tangannya. Sedetikkemudian Eun Soo tertawa geli hingga terkekeh-kekeh. Aww… manis sekali. Kkotboda Namja.Boys Before Flowers. Choi Young meraba rambutnya danmenemukan bunga itu terselip di rambutnya. Eun Soo masih belum dapatmenghentikan tawanya walau Choi Young sudah menatapnya kesal dan menyindirnya,“Apa menurutmu itu lucu?” “Tentu saja lucu,” kata Eun Soo ditengah tawanya. “Karena aku suka harum bunga dan kupikir harum itu akanmenghilangkan bau darah di tubuhmu.” Choi Young melihat kamar Pangerandijaga ketat oleh banyak pengawal, dan merasa curiga. Ia bergegas pergi kekamar Pangeran, tapi Gubernur Gwangha tiba-tiba muncul dan mengajak merekamakan. Ia telah menempatkan pengawal untuk berjaga-jaga, sehingga Choi Youngtak perlu khawatir. Eun Soo yang mendengar kata makan,langsung bergairah dan mendesak Choi Young untuk ikut makan bersama mereka.Choi Young ragu dan menatap kamar Pangeran sekali lagi, tapi kemudian ia punmengikuti Eun Soo. Tapi Choi Young terkejut melihatcara makan Eun Soo. Bukan karena Eun Soo makan dengan pelan, tapi Eun Soo makandan makan dan makan lagi, “Apakah kau belum kenyang juga?” Eun Soo menyuruhnya diam. Ia akanmakan banyak karena ia tak tahu lagi kapan ia dapat makan lagi. Choi Youngmenyuruhnya untuk makan dengan perlahan karena ia akan pergi ke kamar Pangeranterlebih dahulu. Tapi Gubernur mencegahnya. Di kamar, Pangeran Kyeong Changberdua bersama Ki Chul. Walaupun ia ketakutan menghadapi Ki Chul, tapi iamenolak mentah-mentah pernyataan Ki Chul yang mengatakan kalau Choi Youngmembawanya karena ingin menaikkan Pangeran untuk bertahta lagi. Maka ia datangkemari untuk menahan Choi Young dan akan ia serahkan pada Raja. Ki Chul masih mencoba meyakinkanPangeran kalau orang akan berupaya segala cara demi memperoleh kekuasaan. TapiKyeong Chang bersikeras kalau Choi Young-nya tak akan melakukan hal itu. Sambil menangis ia membela ChoiYoung dan mengatakan kalau itu adalah jebakan. Ki Chul tahu kalau ia tak mungkinmengelabui Pangeran Kyeong Chang. Maka ia membuka kartunya, Ia ingin Choi Youngberada di sisinya. Jika Choi Young datang, maka tabib langit pun juga akandatang. Dan ia tak suka dengan raja baru. Jika Pangeran mau, ia akan menaikkanPangeran Kyeong Chang kembali. Tapi Pangeran menolak hal itu,“Walaupun Choi Young sangat setia padaku, tapi ia terlalu malas untuk melakukanhal itu. Untuk melakukan pengkhianatan, ia tak akan serajin itu.” Ha. Benar juga kata-kata PangeranKyeong Chang. Hobi malas Choi Young sampai ke akar-akarnya. Gubernur memberikan pertanyaan yangsama pada Choi Young. Ia bertanya, “Andaikan Pangeran memintamu untuk menaikkandia untuk bertahta lagi, apa yang akan Choi Young lakukan?” Mulanya Choi Young tak maumenjawab. Tapi Gubernur memaksanya untuk menjawab, maka Choi Young punmenjawab, “Maka aku akan membunuhnya.” Eun Soo sampai tersedak saatmendengar jawaban Choi Young. Choi Young berkata kalau ia adalah Woodalchi,pengawal Raja yang saat ini bertahta, maka ia akan melindunginya dari siapapunyang ingin melukainya. Bagi Ki Chul, kenyataan kalau ChoiYoung berkhianat atau tidak, tidaklah penting sekarang. Yang penting adalahapakah ia, Ki Chul, akan menyelamatkan Choi Young atau menjadikannyapengkhianat. Berdasarkan apa? Dan Pangeran Kyeong Chang menebak keinginan KiChul, “Apakah kau ingin dia berlutut di hadapanmu agar ia selamat? Ki Chul mengangguk. Tapi lagi-lagiPangeran membantahnya. Choi Young tak akan mau berlutut. Ia terlalu malas untukmeminta belas kasihan pada orang yang ia benci. Benarkah? Ki Chul taruhan, kalauChoi Young sama seperti yang lainnya. Choi Young pasti mau berlutut dihadapannya jika nyawanya terancam. Ia kemudian mengeluarkan botolkecil dan berkata kalau botol itu adalah botol racun yang dapat membakar bagiandalam tubuhnya, diawali dari tenggorokan, ke lambung dan satu demi satu akanmerambat ke bagian lain. Ki Chul ingin agar Pangeranmenawarkannya pada Choi Young, menyuruhnya untuk meminum racun itu agarPangeran selamat. Jika Choi Young mati, maka pemberontakan akan berakhir danPangeran Kyeong Chang akan tetap hidup. Pangeran menangis mendengarancaman Ki Chul. Bukankah Ki Chul menginginkan Choi Young? Kenapa sekarang KiChul ingin membunuhnya? “Karena hamba ingin mengajarkanpada Paduka tentang sifat dasar manusia. Choi Young memang ditakdirkan akanmati. Jadi biarkan dia menyelamatkan Paduka dan mati,” jawab Ki Chul. Aihhh.. pria ini benar-benarsakit. Nggak waras. Pangeran Kyeong Chang menangis,apakah tak ada cara untuk menyelamatkan Choi Young? Ki Chulpun menjawab jikaPangeran ingin menyelamatkan Choi Young, Pangeran harus mati. Tak aka nadapemberontakan jika tak ada mantan raja yang ingin naik tahta. Choi Young bergegas menuju kamarPangeran, tapi Eun Soo memintanya untuk berhenti sejenak karena ia inginmeminta sesuatu padanya. “Kembalikan aku ke gerbang langit dan membawa YangMulia ke duniaku. Aku dapat mengoperasi dan melakukan kemoterapi di sana.” Tapi Choi Young tak yakin, karenagerbang langit belum tentu terbuka. Tapi bagi Eun Soo, keadaan sekarang inijuga tak meyakinkan, “Kau dianggap memberontak dan aku juga melihat cukup banyakdrama sageuk dimana kalian semua akan mati. Dan pada saat itu aku juga akanmati.” Choi Young bertanya apakah Eun Sootahu jalan menuju gerbang langit? Eun Soo tak tahu tapi ia akan bertanya. ChoiYoung bertanya lagi, bagaimana Eun Soo akan menghadapi para prajurit yang pastiakan mencari mereka? “Dapatkah kau menemani kami? Disana kau tak perlu membunuh. Mari kita pergi bersama-sama ke dunia langit. Bersamaku,”jawab Eun Soo. Choi Young tak menjawab dan meneruskan langkahnya. Di kerajaan, Joo Seok heranmelihat tak ada woodalchi yang berjaga di istana. Ia mengendap-endap masuk,namun ketahuan oleh para penjaga. Hampir saja ia tertangkap jika Dae Man takmuncul dengan ketapelnya. Choi Young melihat kalau sudah takada pengawal yang berjaga di pintu ruangan Pangeran. Hal ini malah membuatnyawas-was. Ia buru-buru masuk ke ruangan dan melihat kalau Pangeran Kyeong Changsedang berbaring tidur. Tapi setelah ia mengamati lagi, iabaru sadar kalau Pangeran sedang terbaring kesakitan. Ia berteriak memanggilEun Soo yang menyusulnya masuk. Eun Soo kaget melihat kondisiPangeran Kyeong Chang, apalagi saat melihat tangannya yang memerah sepertiterbakar. Choi Young melihat ada botol tergeletak di samping Pangeran danmenciumnya. Ia langsung sadar kalau Pangeran telah meminum racun. Siapa yangmemberikan racun itu? Eun Soo bertanya botol apa itu danChoi Young dengan cepat menjelaskan kalau ini adalah racun Hwa Go. Ia membuka baju Pangeran KyeongChang dan terlihat kalau dada dan perutnya telah melepuh. Jika orang meminumnyamaka semua organ tubuh akan terbakar. Eun Soo menatap badan Pangeran dankemudian menatap Choi Young ngeri, apakah ini adalah asam..? Eun Soo tak meneruskankata-katanya, maka saya mencari ke google cairan asam apa yang dapat membakartubuh? Asam sulfat atau yang dikenal dengan air keras. Mungkin bukan Damn.. SiKi Chul benar-benar kejam. Choi Young menyuruh Eun Soo untukmelakukan sesuatu. Eun Soo mengatakan kalau ia dapat memompa racun keluar daritubuh, tapi ia tak memiliki peralatannya. Choi Young semakin panik melihat EunSoo meminta maaf karena tak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Ia menyuruh EunSoo untuk pergi mengambil air. Setidaknya mereka dapat mendinginkan tubuhnya.  Buru-buru Eun Soo berlari keluarmencari air. Pangeran Kyeong Chang memberitahu Choi Young kalau yang memberinyaracun itu adalah Ki Chul. Ki Chul mengajarinya bagaimana cara untukmenyelamatkan Choi Young. Nafas Pangeran sudahtersengal-sengal saat berkata, “Ia pasti tak tahu. Ia tak tahu kalau aku sedangsakit dan tak dapat hidup lebih lama lagi. Ia menyuruhku untuk meminumkan racunini padamu. Tapi untuk apa aku melakukan hal itu?” Air mata merebak di mata ChoiYoung, “Jadi daripada memberikannya pada hamba, Paduka meminum racun ini?”Pangeran Kyeong Chang tak menjawab karena badannya serasa terbakar, dan ChoiYoung mengetahuinya, ”Apakah Paduka teramat kesakitan?” Pangeran Kyeong Chang bertanyaapakah ia dapat pergi ke surga? Choi Young tak dapat menahan air matanya saatmeyakinkan kalau junjungannya pasti akan pergi ke surga. Pangeran ingin tahuseperti apakah dunia surga itu? Sambil memeluknya, Choi Youngbercerita kalau di surga ada kereta tanpa kuda, dan langit penuh cahaya..” “.. Sakit sekali rasanya, Young,” rintihPangeran Kyeong Chang. “..Kalau Paduka pergi ke sana,Paduka tak perlu cemas akan tersesat di malam hari karena banyak cahaya..” ChoiYoung mencoba mengalihkan rasa sakitnya. Tapi rasa sakit itu semakinmendera, dan Pangeran Kyeong Chang semakin merintih, “Sakit sekali rasanya.” Choi Young menatap junjungannya,tak tega melihatnya terus berada dalam kesakitan, “Hamba akan  membuat Yang Mulia tak merasa sakit lagi.Apakah.. apakah boleh hamba melakukannya?” “Kau boleh melakukannya,” Pangeranmengijinkannya, “Sakit sekali..” Choi Young kembali memeluk Pangeran Kyeong Chan. Prelahan ia mencabut pedangnya danmemeluk Pangeran Kyeong Chang lebih erat lagi. Sedetik kemudian, Pangeran KyeongChang, mantan Raja Chung Jeong, menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan ChoiYoung. Choi Young masih memeluk anak ituuntuk beberapa saat, namun akhirnya ia meletakkan jasad Pangeran Kyeong Changke atas dipan. Dan itulah yang dilihat Eun Soo.Pangeran Kyeong Chang telah meninggal dan tangan Choi Young bersimbah darah.Air yang dibawanya terjatauh, “Kau membunuhnya? Apakah kau yang melakukannya?”tanya Eun Soo tak percaya. Bukannya menjawab pertanyaan EunSoo, Choi Young malah berkata kalau Gubernur Gwangho telah mengkhianati mereka. Ia menghampiri Eun soo dan memintanya untuk menunggu di sini karena ia akanmemeriksa situasi di luar. Tapi Eun Soo mundur menjauhi ChoiYoung, membuat Choi Young sadar. Choi Young menatap Eun Soo yang pucat pasi. Iameraih Eun Soo dan memeluknya, “Lakukan apa yang aku katakan. Tetaplah disisiku, sehingga aku dapat melindungimu.” Eun Soo meronta-ronta hinggapelukan Choi Young terlepas, “Jangan menyentuhku! Singkirkan tangan kotormuitu.” Eun Soo menatap Choi Young jijik dan bergegas meninggalkan kamar. “Jangan pergi. Kumohon,” pinta ChoiYoung mencoba menahan Eun Soo. Tapi Eun Soo tetap keluar kamarsambil menangis. Choi Young mengejarnya dan Eun Soo yang merasa sedih, marah,ketakutan bercampur jadi satu, tak memperhatikan jalan dan terjatuh daritangga. Yang segera ditangkap oleh Ki Chulyang ada di bawahnya. Eun Soo kaget melihatnya. Namun tidak dengan Choi Young. Iasegera mencabut pedangnya untuk menyelamatkan Eun Soo. Tapi Eum Ja munculmenghalanginya. Eun Soo meronta melepaskan diridari pelukan Ki Chul dan berlari ke arah Choi Young tapi segera dihentikan olehKi Chul. Sebelum Eum Ja meniup serulingnya,Choi Young segera menyerangnya sehingga alih-alih meniup seruling, Eum Jamencabut pedang yang ada di dalam seruling itu. Hwasuin muncul dan berdiri disamping Eun Soo. Menyadari bahaya yang semakin menghadang, Choi Youngmenggunakan tenaga dalamnya. Badan Eum Ja gemetar menghadapi tenaga dalam ChoiYoung apalagi saat Choi Young melemparkan perisai ‘police’nya yang berisinaegong ke arahnya. Tapi Ki Chul mengerahkan tenagadalamnya dan sejenak kemudian tameng yang mengarah ke mereka membeku dan jatuhberkeping-keping. Dengan kalem Ki Chul bertanya dimanakahPangeran Kyeong Chang? Pertanyaan itu malah membuat Choi Young marah. Eum Jayang mencoba mengambil kesempatan ini dengan menyerang Choi Young, digebrakmundur dengan sekali sabetan pedang yang berisi nae gong. Whoaa.. Note to self : Just don’tmake him angry or he slams you. Berbondong-bondong prajurit datangmengepung Choi Young. Ki Chul mengumumkan kalau ia adalah pengkhianat yangmembawa Pangeran Kyeong Chang dan berkonspirasi untuk memberontak pada Raja danmenyuruh Choi Young untuk berlutut menyerah. Jumlah prajurit itu takmenggentarkannya untuk berlutut menyerah. Tapi yang menggentarkannya adalahketika Hwasuin yang berdiri di belakang Eun Soo. Sambil tersenyum manis,Hwasuin melepaskan sarung tangannya dan meletakkan tangannya yang membara,beberapa senti di atas pundak Eun Soo. Ia menatap Eun Soo yang masihterisak dan memalingkan wjahnya, tak mau menatap Choi Young. Tapi tangisnya tak bisa berhenti. Tanpa berkata-kata, Choi Youngmenjatuhkan pedangnya dan berlutut. Komentar : Wow. Euthanasia di jaman Goryeo. Jamandimana Hak Asasi Manusia belum menjadi undang-undang.  Jika Eun Soo berpikir jernih, iaakan melihat kalau apa yang dilakukan Choi Young. Choi Young tahu, Eun Soo puntahu kalau hidup Pangeran Kyeong Chang tinggal seujung nafas. Bagi Choi Young, hidup seujung nafasitu bukan untuk merasa sakit yang menyiksa. Jadi yang ia lakukan adalah murnisemata-mata akan rasa sayangnya pada Pangeran Kyeong Chang. Badannya seringterluka, bahkan baru beberapa saat yang lalu ia merasakan sakit tak terhingga akibattikaman pedang Eun Soo. Jika ia yang dewasa saja merasa sakit, apalagi PangeranKyeong Chang yang masih anak-anak. Dan Eun Soo juga tak tahu kalauPangeran Kyeong Chang sendiri telah memberi ijin pada Choi Young untukmengakhiri hidupnya. Tapi bagi Eun Soo, seorang dokteryang telah bersumpah Hipokrates “Aku tidak akan memberikan obat yang mematikankepada siapa pun bahkan jika diminta, atau menyarankan nasihat semacam itu”tindakan Choi Young sangat tak termaafkan. Ia tak suka pasiennya meninggal.Dan ia berusaha segala cara agar pasiennya sembuh. Choi Young adalah contohnyatanya. Maka saat ia melihat Choi Young yang membunuh Pangeran Kyeong Changyang terkena racun, wajar jika ia berkata, “Jangan menyentuhku! Singkirkantangan kotormu itu.” Padahal saat itu adalah kali pertama Choi Young memeluknya. Ia memeluk Eun Soo bukan untuk menahannya pergi. Ia memeluk Eun Soo karena ia membutuhkan dukungan Eun Soo. Ia baru saja kehilangan orang yang ia sayangi dan ia hormati. Sebagian hatinya kembali mati dengan matinya Pangeran Kyeong Chang. Tapi Eun Soo tak mengetahuinya. Yang ia tahu, Choi Young membunuh Pangeran Kyeong Chang. Perlu waktu bagi Eun Soo untukmemaafkan perbuatan Choi Young. Dan perlu waktu bagi Eun Soo untuk memahamidunia Goryeo. Bersambung... ~Lee Nana
    Revived BY HIS WORD, Reading Through The Bible Together


    bangun+rumah 's link
    Read or listen to the Bible one chapter everyday. Register yourself at www.revivedbyhisword.org
    Cerpen Cerbung Nitha


    bangun+rumah 's link
    DKB coming buat DKBey kumpul yuuk *DKBey itu penggemar DKB :p   PENASARAN ngga gimana kelanjutannya ?? makanya stay trus di CCN yaa, dan MinFa harap kalian bisa jadi pembaca sejati CCN :)     tittle ' Demi Kamu Bisma! '  Genre nya SEDIH, tak lepas dari ROMANTIS :D author ' MinFa ' (Latifah)   mau yang nge-JLEB apa mau yang romantis-romantis ?? :D kaya nya untuk saat ini ? Ehm? gimana yaa ?? baca aja deh :D*PeaceV       "Ya tuhan!!" bisma berlari mengejarmu tapi mobil mu sudah melaju "(namamu)" teriak bisma yg masih mengejar mobilmu rafael yang berada di mobil tidak mendengar bisma berbalik arah Ia berlari munuju parkiran dimana mobilnya diparkirkan setelah itu bisma mengejarmu dengan kecepatan tinggi Ia mengelakson mobilnya 'tiiin tiiin tiiin'   namun rafael tak mendengarnya   tiba-tiba ada yang mengejutkan bisma sebuah motor menyelip mobil bisma 'ciiiiiitt....' bisma segera mengerem mendadak   "WOY! bosan hidup lo!!"teriaknya bahkan sekarang kepalanya keluar dari jendela mobilnya   "argghh!! shiit!!, kenapa mesti kejebak macet sih!!"oceh bisma dalam mobil sambil membanting setir   sementara itu ... "arrggh!! keada'an ngga dukung banget" rafael juga mengomel-ngomel "pak saya turun sini aja" ucap rafael pada supir "ia den mari saya bantu" ucap pak supir "sabar ya sayang, kakak pasti bantu kamu" batin rafael menatapmu yang tidak berdaya   rafael tergopoh-gopoh menggendong mu Ia berlari sekuat tenanga mencari-cari taxi yang tidak terjebak macet   ***    rafael membawamu kerumah sakit "bagaimana dok keadaan (namamu) ?" tanya rafael saat dokter yang menanganimu keluar dari ruangan dokter pun hanya menggeleng pasrah "buruk! kita harus segera bawa (namamu) ke jakarta" ucap dokter hendra "astaga!!" rafael menjambak rambutnya "siapkan semuanya dok, saya akan menghubungi keluarga. saya titip (namamu) " ucap rafael bergegas meninggalkan rumah sakit   Cat : Nah ini nih pasti yang ditunggu, pada penasaran kan (nk) sakit apa. nih MinFa kasih tau jantung (nk) itu sangat lemah dari kecil penyakitmu ini sudah mencampur dengan tubuh kamu sekali kambuh bisa buat celaka, kamu ini ngga boleh terlalu cape, terlalu senang apalagi sedih, nah tau kan ?? :D   bisma yang sudah sampai dirumahmu langsung masuk tanpa salam *ya amplop mamang, ckckckck :D bi minah yang melihatnya pun langsung menegurnya   "lho? den bisma ko ada disini ?" tanya bi minah "(namamu) dimana bi ?" tanya bisma sambil melihat-lihat sisinya "non (namamu) baru saja dibawa ke jakarta" ujar bi minah " APA! dia kenapa bi ??" bisma yang mendengarnya langsung melemah "sebenar nya bibi yang berhak bicara seperti ini den tapi ..." belum selesai bi minah bicara sudah dipotong oleh bisma "sakit apa bi, jawab!!" nada suaranya mulai meninggi "non (namamu) dari kecil jantung nya udah lemah sampai sekarang jantungnya belum bisa normal" ujra bi minah singkat "APA!! " bisma cengo mendengar nya tanpa ba__bi__bu bisma langsung caaw   bisma berusaha mencari-cari mobil yang ditumpangi (namamu) yang menuju arah jakarta namun hasilnya NOL besar   ***    "nggh" lirihmu, jari jemari mu bergerak "dek, kamu udah bangun sayang ?" ucap rafael tersenyum "kamu mau minum ? atau mau makan ? biar kakak ambilkan ya" ucap rafael kamu menggeleng "trus mau nya apa ? minum yah sedikit" rafael berusaha membujukmu namun kamu lagi-lagi menggeleng "a_ku mau ke_temu bisma ka" lirihmu hampir tak terdengar namun rafael mendengarnya "di telpon aja ya dek, kita mau sampai jakarta, massa ia kita balik lagi" ucap rafael tersenyum sedangkan kamu hanya mengangguk   rafael mencari kontak bisma via telp.   "ha__lo bis, ini gw rafael" ucap rafael "raf, gw mau bicara dengan (namamu), dia ngga kenapa-kenapa kan raf ?" cecar bisma to the point "nggh .. i_ya sebentar" rafael memberikan ponselnya padamu   kamu yang masih mersa sakit masis sedikit desahan mu terdengar oleh bisma "bey, kamu ngga kenapa-kenapa ? EH? maksud gw, lo ngga papa ?" ucap bisma menjadi canggung "aku ngga pa__pa bis" lirihmu pelan   BRAKK..       TO BE CONTINUE bunyi apa itu ???   nah udah pada tau kan sakit apa :D penasaran ??? tunggu yaa coment yuuk gimana kelanjutannya siapa tau saran kamu MinFa masukin dalm cerita :) Tag ? coment aja tapi .. kali ini tag di batasi yaa yang komen nya paling giman gitu siap-siap aja kena tag yaa :) yang sudah di tag ngga coment apalagi LIKE! MinFa hapus tag nya *kacakpinggang :D   follow MinFa yuuk @latiifah_hanum follback ? mention :) makasii DKB coming buat DKBeyv kumpul yuuk *DKBey itu penggemar DKB :p   PENASARAN ngga gimana kelanjutannya ?? makanya stay trus di CCN yaa, dan MinFa harap kalian bisa jadi pembaca sejati CCN :)     tittle ' Demi Kamu Bisma! '  Genre nya SEDIH, tak lepas dari ROMANTIS :D author ' MinFa ' (Latifah)
    Visit D' Aceh Sumatera island adventure


    bangun+rumah 's link
    Jam 5 pagi keesokan harinya, diantara belai angin yang menggigit, kami bangun untuk bersiap-siap. Packing lalu masak sup bubur instant. Pendakian dimulai jan 07.00, cuaca sangat cerah. Tim Adventuretime’s berpisah dengan kami, karena mereka memulai pendakian dari pos pendaftaran. Sebenarnya tubuh tidak cukup segar untuk memulai pendakian hari ini, mengingat sudah dua malam aku tidak tidur cukup. Suasana desa tidak sempat kami perhatikan, hanya beberapa rumah terlihat dipinggiran jalan yang sudah beraspal. Gunung Goh terlihat berdiri gagah didepan kami, menjanjikan tanjakan yang pasti aduhai. Perjalanan awal cukup ringan karena jalan yang landai, sepanjang jalan terlihat punggungan – punggungan bukit didominasi ilalang. Pohon sangat jarang sehingga membebaskan mata memandang kesegala arah Sekitar jam 10.00 kami tiba di pos 1, pos adalah semacam pondok yang terbuat dari papan dengan atap seng tanpa dinding. Disini porter memasakkan mi instant. Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan masih dengan semangat membara (halah :p). Kami melewati pos 2, tanpa singgah langsung menuju pos 3. Matahari sangat menyengat. Jalan mulai menanjak sehingga keringat bercucuran ditubuh kami. Disepanjang jalur ada semacam sungai tak berair yang sepertinya bekas aliran lahar. Didasar sungai terdapat pasir berwarna hitam dan abu-abu.   Kami tiba dipos 3 jam 12.30 dan beristirahat sambil makan makanan kecil sebagai pengganti makan siang, lalu berjalan kembali jam 14.00. Jalan mulai menanjak tinggi. Kami harus mendaki beberapa bukit dengan kemiringan sekitar 50-70 derajat. Karena banyaknya bukit yang harus dilewati dan tanjakan yang panjang, maka jalur ini dinamai “jalur penyiksaan”. Punggungan demi punggungan semakin lama semakin menanjak dan terasa seperti tidak ada habisnya. Gunung mulai ditumbuhi beberapa pohon yang didominasi pohon pinus. Tetapi ilalang masih menjadi tumbuhan utama Sekitar jam 6 kami sampai di Jabar antara, sebuah plank  berdiri memberitahukan kami sudah sampai. Disinilah kami berencana bermalam. Tenda sudah hampir selesai didirikan ketika aku tiba. Tempat tenda ditengah apitan dinding tanah yang menghalangi kami dari angin. Malam itu kami disuguhi nasi goreng dengan sedikit irisan telur rebur diatasnya. Menu yang tak terlalu jelek. Aku menginginkan sayur sebenarnya. Tapi tetap menghabiskan sepiring yang diberikan padaku. Berbeda dengan pendakian lainnya, kali ini kami bisa santai didalam tenda tanpa mengurusi makanan. Menjelang tidur kami mempersiapkan bawaan untuk bekal diperjalanan menuju puncak esok paginya; jacket, rain coat, kamera, air minum dan makanan kecil. Jam 21.00, kami mendengar tim dari adventuretime’s tiba. Mereka mendirikan tenda tidak jauh dari kami, disebelah tim Roadtime’s.      
    Rossy Mhm


    bangun+rumah 's link
    *waktu senja "Kara ayo bangun nanti kita terlambat dan kalau terlambat kita di tinggal lho" kata fany sambil membangunkan Kara "Iya fany kau mandi dulu saja sehabis itu aku akan mandi "kata Kara "Ya sudah"jawab fany #beberapa menit kemudian "Kau sudah siap kan "tanya fany pada kara "Sudah ayo kita pergi ke rumah zayn baru kita berangkat bersama yang lain"kata fany *kemudia mereka sampai di rumah zayn mereka melihat teman" yang lainnya "Hai zayn aku sudah siap ini koper ku dan koper kara dan ini tas makanan nya "kata fany "Ok"jawab zayn "Teman-teman ayo masukan barang-barang kalian ke mobil cepat tar kita ketinggalan Bus loh!"Kata Zayn "Baik Zayn"all *merekapun menuju ke tempat Bus pribadi milik ayah Zayn "Teman-teman ayo bawa koper kalian dan masukan ke bagasi bus ayo cepat !!!" Kata zayn *setelah barang" mereka telah masuk ke bagasi mereka pun naik ke dalam bus "Ayo berangkat :D " all *tiba-tiba di jalan ada 2 orang sedang menunggu bus ternyata mereka seorang wantia bus mereka langsung berhenti "Permisi apakah kalian tidak mendapat bus " tanya katy "Iya ,bolehkah aku menumpang bus mu ?"Tanya salah seseorang itu "Boleh ayo naik sihlakan saja tapi aku minta izin ke temanku dulu yaa "kata fany "Zayn bolehkan mereka menumpang bus kita :)"tanya fany "Tentu:) fany"jawab zayn "Ayo kalian boleh ikut kata teman ku "kata fany "Terimakasih yaa ,maaf merepotkan kalian :("kata salah seseorang "Ya sama-sama,ya tidak apa-apa"kata zayn "Siapa nama mu ?"Tanya jessica "Nama ku Raisa dan yang satu ini pricill"kata Raisa "Ooo nama ku Fany ,salam kenal yaa, kalian tinggal di mana?"Tanya Kara "Kita tinggal di pulau di desa nya di dekat pantai"kata pricill "Oh tujuan kita juga ke situ :)"kata zayn "Ok"jawab Raisa "Ih kamu ini merebut tempat ku "kata Shasa "Maaf yaa"jawab pricill "Menyebalkan sekali sih untung aja aku vampir baik dan minum darah binatang >:o"dalam benak pricill "Oh ya jangan di dengar ya dia cuma bercanda,jadi jangan di masukan ke dalam hati yaa " kata kara "Iya :)"jawab pricill "Mau cicipi sihlakan di makan" kata jessica sambil menawarkannya "Ya terimakasih boleh aku cicipi,enak sekali ,terima kasih yaa :)"jawab Raisa "Iya sama-sama mau tambah lagi gak ?"Tanya jessica "Tidak terima kasih "jawab Raisa "Ok:)"jawab jessica *mereka semuapun tertidur *pagi hari mereka bangun "Hoam...."Kata Reza,shilla,Boby,Katy "Pagi semua nya besok kira-kira kita sampai :) "kata Rendy "Yee asyik :D" all "Aku mau makan :D"kata febby "Kamu Mau makan apa? biar aku buatkan "tanya jessica "Aku mau nasi goreng ,bolehkan "jawab febby "Tentu,sebentar yaa,yang lain juga mau kan? "kata jessica "Iya aku mau :)" all "Chef jessica mau buatin kita makan :p"kata Reza "Reza nanti tidak ku buat kan untuk mu loh -,-"kata jessica "Iya-iya maaf jess"kata Reza *mereka pun bersenang-senang di dalam bus ada yang bernyanyi,ada yang main gitar,ada yang menonton,ada yang makan juga "Oh ya boleh kah aku minta minum"kata fany "Oh ya kamu mau minum Raisa dan Pricill"kata fany "Boleh :) "kata Raisa dan Pricill "Jessica aku mau 4 teh yaa "kata fany "Iya akan ku buat kan " jawab jessica "Ini teh nya "kata jessica "Makasih ya"jawab fany,kara,Raisa,dan pricill *hari pun sudah malam beberapa dari mereka mulai tidur *keesokan hari nya "Teman-teman kita sudah sampai ayo kita pergi ke penginapan di dekat pantai :D" kata Zayn "Oh ya terimakasih sebelum nya aku bisa sampai ke pulau ini , aku pergi dulu"kata Pricill "Iya sama-sama "kata zayn "Oh ya sebentar (mereka menghilang )"kata zayn "Kemana mereka zayn ?"Tanya fany "Entahlah?"Jawab zayn "Akhir nya sampai juga ya"all
    Aksaranger


    bangun+rumah 's link
    Sansan baru sajamelewati perbatasan antara kawasan Jogja bawah menuju Jogja atas. Suasanapegunungan yang sejuk, membawa kembali konsentrasinya, mengingat apa yangterjadi pada saat itu. Motornya meliuk-liuk, menyusuri jalan dan sesekali melewati kendaraanyang tidak terlalu cepat dibandingkan dirinya. Namun secepat apapun ia,pikirannya tidak disana. Masih terngiang jelas kejadian tiga hari lalu, kejadian yang tidakdiharapkannya dan merubah pandangannya. Ia menyadari bahwa timnya rentan akankoordinasi, namun selama ini semua dapat dikendalikan. Pikirannya kembalimelayang ke waktu itu. “Kita harus segeramembereskan masalah ini.” Sansan menatap Arta, sahabatnya. Arta mengangguktanda setuju. “Biar aku yangmendekati Melani, kamu coba tenangkan Iwan” “Um,.bagaimana denganDani?” Arta mengangguk gelisah. “Kita percayakan Dani kepada kak Indah. Melanidan Iwan lebih penting untuk segera ditangani saat ini” “Aku setuju” Dan inilah Sansan,segera menuju ke salah satu rumah Iwan, ketika smsnya dibalas beberapa saatyang lalu, memberitahukan keberadaan sahabatnya setelah lost contact sama sekali. Beberapa saat kemudian,ia tiba di rumah Iwan. Ia sedikit memutari paviliun, sebelum dirinya menemukantempat yang teduh untuk memarkirkan motornya. Pemandangan alam nan indah dan kesejukan udara serta mertamenyambutnya. Untuk tempat bersantai sejenak lepas dari rutinitas bekerja atausekolah, tempat ini memang sempurna. Tak butuh waktu lama untuk Sansan menemukan Iwan. Gelak tawa terdengar nyaringdari salah satu sudut lokasi paviliun tesebut. Tak buang waktu, ia melangkahkan kakinya ke arah sumber suara tersebut. Begitu sampai di depanpintu utama, seorang petugas sekuriti berpakaian safari dan seorang yang nampak seperti seorang waitress, menyambutnya ramah. “Mari mas, saya antar”tawar waitress tersebut,ramah. Sansan mengangguk. Iamenurut saja, meskipun ia sudah cukup mengenal seluk beluk paviliun ini. Ya,dulu paviliun ini sering sekali dijadikan tempat berkumpul dirinyadan ketiga sahabatnya apabila sedang merasa penat, atau ingin latihan bandapabila ada lagu baru yang sedang mereka kerjakan. Ia tersenyum, lamunannya pecah ketika melihat Iwan dan dua orang gadis sedang memancing di kolamrenang. Rupanya, Iwan sengaja menaruh ikan-ikan besar disana, dan fungsinya berubahmenjadi kolam ikan, sesuai keinginan si pemilik rumah. Sansan kembalitersenyum, dan membiarkan Iwan tetap “berkonsentrasi”, mengajarkan kedua teman wanitanya tersebut. “Uwoo...uwoo...tenang, harustenang dan sabar kalau mau mancing. Nih…begini caranya...” Iwan mengendalikanirama tali pancing dengan teratur. Dibiarkannya dulu si ikan yang sudah memakanumpannya itu kesana kemari. Rupanya si ikan tak mau menyerah. Ia dengan cermatmengamati hal tersebut,dan saat si ikan nampak lengah, ia dengan serta merta menarik tali pancing dan…voila! Ikan mujair sebesar 5 kg itupunmenggelepar di ujung tali pancing. Decak kagum dan jeritan senang keluar darikedua teman wanitanya. Iwan dengan jumawamemamerkan ikan hasil tangkapannya tersebut tinggi-tinggi di udara. “Hahahaha! Lihat,kan?? begitu caranya mancing…” Kedua gadis tersebuttersenyum senang, lalu memasang sikap hormat kepada Iwan, “Siap, pak guruuuu…hihihi” Ia pun tertawalebar, “Bagus, bagus,anak baik… nah, setelah ini kita bakar ikannya, ya.Sekalian kita makan malam. Sounds great?” “Siiippp,,.” Merekamengangkat jempol. Iwan lalu menyerahkanikan tersebut ke waiter pria yang beradadisamping mereka. Setelah membisikkan sesuatu ke telinga dua gadis tersebut, iaberingsut ke tepi kolam sambil membawa duabuah minuman cocktail. Sansan tersenyum dan melangkah mengikutinya. Iwan berdiri menatappemandangan sejuk lembah yang membentang, memberikan pandangan luas aktivitas kotaJogjakarta. Riuh ramai kedua gadis dikolam tak dipedulikannya lagi. Sansan berhenti di sebelahnya, ikut menikmatipemandangan yang sama. “Kamu tahu tidak, San. Waktu Merapi meletus dan hujan abu1 – 2 minggu setelahnya, daerah disekitar Merapi benar-benar sepertidihujani salju. Putih. Tapi bedanya, hujanyang ini bikin nafas sesak, hehehe…danyang aku lakukan waktu itu, aku pergi ke paviliun ini, diam menikmati detik-detikkemarahan Merapi. Tahu tidak, keluargaku terus menghubungiku memintakupulang. Hahaha…tapi aku memilih tetap berada disini.” “Kenapa?” Iwan nampak berpikir, ”Hmm… mungkin karena akuini nyeleneh. Aku tidak begitu sukamelihat sesuatu dari kacamata yang dianut oleh banyak orang” “Kamu akan dicap aneh olehmasyarakat kalau begitu” “Bener sih..aneh. Tapilucunya, ya…banyak hal-hal penting yang seharusnya jadiperhatian seseorang, tapi tertutup gara-gara harus mengikuti langkah orang didepannya. Gitulah bro..” Sansan tersenyum, lalumenyeruput cocktailnya. Matanya mengernyit, menahan rasa asam di lidahnya. Ia heran, mengapa banyak orang yang suka denganminuman seperti ini. “Sama sepertikeluargamu, kami juga inginkamu cepat gabung lagi, Wan” Iwan tak merubah arah pandangannya.“Kami siapa, San?” “..Tim 2..” Iwan menggeleng. “Akubelum siap, San.” “Ini bukan soal kamusiap atau tidak. Ini soal hidup dan mati banyak orang, Wan. Harusnyakamu paham betul soal ini...” Iwan bergeming. Iamasih saja menatap lurus ke depan, sambil sesekali meminum cocktailnya. “Ayolah Wan. Aku tahu,kamu memang ada yang harus diselesaikan dengan Dani. Tapi bukan berarti kamuharus hilang tanpa kabar entah kemana seperti ini, kan? Untung kamu balas sms-ku, jadi setidaknya aku tahu keberadaanmu.Pusing tahu, mencari kamu itu..” “Sorry deh...tapi aku benar-benar kesal gara-gara kemarin. Sumpah, apa-apaan si Dani itu.Aku tahu dia memang seperti itu, tapilihat dong, situasinya seperti apa, terus ke siapa dia ngomong seperti itu.Apalagi ini Melani, teman kita sendiri…Gila!!!” Sungut Iwan kesal, sambilmenenggak habis cocktail di tangannya. “Maafkan dia, Wan. Dani juga manusia biasa. Kamu bantudia buat mengerti…” “Ah…orang keras hati sepertidia mana mau tahu. Itu udah sifatnya, San.Tidak mungkin bisa berubah!” Potong Iwan kesal. Sansan menarik nafas dalam-dalam. Sejenak, suasana menjadi heningdiantara keduanya.  Sansan menaruhgelasnya diatas meja kecil dekat mereka.  “Wan, pulanglah... Akumerasakan sesuatu yang besar akan menghampiri kita... Munculnya caruga, orang-orangbule pengguna armor yang sama dengan kita, bahkan aku diam-diam menyuruh anak buahku untuk mencariinformasi tentang hilangnya mereka, yang ternyata hilang satu persatu.Sebentar, Wan. Aku  memang simpan duluinformasi tentang ini. Nanti kalau sudah cukup lengkap, pasti aku share kepada kalian. Munculnya kejadian-kejadian seperti ini, membuatku cemas, adakekuatan lain yang tidak bisa kita prediksikan, muncul dan mengambil alihsemuanya.” “Dan waktu itu kitakehilangan teman-teman kita,..” Tambah Sansan “Mereka bukan urusankita. Yang penting, Dewata cengkar sudah mati..” Tukas Iwan. “Wan, apakah kamu juga akanbilang hal yang sama, jika salah satu anggota tim kita yang hilang bersamaDewata cengkar waktu itu?” Timpal Sansan. Iwan terdiam. Sansan menepuk pundakIwan. “Aku tidak akan menutup mata soal ketidaksenanganmu terhadap Dani. Kalauitu masih sulit untuk kamu atasi. Setidaknya, lakukan untuk dirimu sendiri, danorang-orangyang kamu sayangi. Armor itu tanggung jawabmu, Wan.Gunakan sebagaimana amanat yang diberikan kepada kita” Iwan hanya diam.Pandangan matanya tetap lurus ke depan. Sansan tersenyum. Ia kembali menepuknepuk bahu Iwan. “Pulanglah, kawan. Kami membutuhkanmu” Sansan beranjak pergi keluar, menuju motornya di parkiran, dan melajumeninggalkan sahabatnya yang kini merasa resah.   ###################################   Dani masih merasapusing saat ia mencoba membuka matanya. Kepalanya seperti habis dihantam palugodam berkali-kali. Ia mengaduh dan mencoba membetulkan posisinya di atastempat tidur. Sekejap,ia baru sadar berada di ruangan yang tidak familiar untuknya. Setelah beberapasaat, ia baru sadar kalau dirinya berada di rumah sakit. Dani mengedarkanpandangannya. Ruang yang bersih dan steril, bau harum semerbak bunga, namuntetap meninggalkan harum khas rumah sakit, yang sangat tidak ia sukai. Ia hanyasendiri di ruangan itu dan mengaduh untuk kedua kalinya. Ia melihat infustertancap di lengan kirinya. Ia tidak suka, dan dengan sekali tarikan, lepaslahinfus tersebut. “Kau seharusnya tidakmelakukan itu, Dan” Dani menoleh. Rupanya Alfaidzul masuk kekamar Dani tanpa ia ketahui, sambil membawa bungkus putih plastik berisimakanan. Dani mendengus. Iaberusaha membetulkan posisi tubuhnya, bermaksud untuk duduk. Dani mengakuitubuhnya agak terasa lemah, namun tidak boleh seorangpun tahu hal ini. “Aku tidak sakit” Alfaidzul tersenyum.“Aku tahu”. Ia kemudian duduk di samping kasur Dani, setelah sebelumnya menaruhbarang bawaannya di atas meja kecil di samping kasur. “Bagaimana keadaanmu?” “Aku baik. Kamu tahuaku, lah. Kapan kamu kembali dari Malaysia?Belasan tahun menghilang, tiba-tibakamu muncul entah darimana bersama kak Indah” Alfaidzul menunduk dankembali tersenyum. “Banyak hal terjadi, Dan. Hal yang mengubah segalanya.” Dani mengernyitkankening. “Kamu bekerja di Brahmana Corp?” Alfaidzul tertegun sejenak, dan kemudiantertawa. “Bagaimana bisa kamu mengambil kesimpulan seperti itu, Dan?” Dani mengangkat bahu.“Hanya di Brahmana Corp yang bisa merubah segala nya dalam hidup seseorang” Alfaidzul tertawa. Beberapasaat kemudian, pandangannya menerawang. “Aku bekerja diBrahmana Corp, tepatsaat aku pindah ke Malaysia. Ayahmu yang menawariku pekerjaan ini, dan akusenang, sekali. Tentu aku terima dengan senang hati. Pada awalnya, aku akui, bahwa impian ayahmu terlalumuluk, terlalu mustahil untuk diwujudkan,..” “Yah,..memang begituorangnya..” “,..Karena itu, akukemudian bekerja untuk orang lain,..sesuatu yang aku sesalkan..” Dani menatap seriussahabatnya tersebut. Ia kaget, karena sebelumnya tak mengetahui fakta ini. “Zul,..apa yang terjadidenganmu?” Alfaidzul yang sepertitersadar berusaha tersenyum, mengindahkan pertanyaan Dani. “Ah,..bukan apaapa,..yang pasti, setelah itu, aku menyadari bahwa impian ayahmu itu patutdidukung,.Sejak itu, akumempercayai ayahmu sepenuh hati” “,..Kau tak mau ceritaada apa denganmu saat itu?” Dani hanya melihatsahabatnya ini tersenyum. Ia lalu mengangkat bahu. “Suit your self, lah..”Ujar Dani cuek. Alfaidzul tertawa.Beberapa saat kemudian, pandangannya menerawang. Pintu kemudian tibatiba terbuka. Indah yang baru masuk, terheran heran melihat Alfadizul yang tertawa-tawa, dan Dani yang sedang bergantipakaian tanpa infus di lengannya. “Dani,…” Dani mengangkattangannya. Indah mendengus kesal. “Aku udah bosan. Kak Indah bawa makanan apa?” Indah mengangkatbungkusannya.”Ada pizza buat kamu, sama mbak tadi beli gudeg buat makan siang” Dani mendekati Indah, mengambil bungkusan gudeg danlangsung menyantapnya. “Heeeeiii,..” Protes diacuhkannya.Dengan sangat lahap, Dani menikmati gudeg, sementara Indah dan Alfaidzul hanyamelihat Dani dengan tersenyum.   ######################   Sansan baru saja sampaidi pelataran parkir Universitas Brahmana, saat ia melihat Arta melintas,memasuki gerbang utama universitas tersebut. Sansan membunyikan klaksonmotornya dua kali. Arta menoleh. Sansan melambaikan tangannya. “San,..mana Iwan?” Sansan menarik nafaspanjang. “Entahlah, Ta.Aku sudah bertemu dia tadi,.sepertinya belum bisa..” “Hufft,..” Arta ikut-ikutanan menarik nafas panjang. “…Melani?” Arta menggelengkankepalanya. Aku sudah coba berbagai cara. Aku tak dapat menemuinya di rumahnya,teleponku selalu di reject sama dia. Aku sms, email dia berkali kali, tapipercuma..” “..Dia yang palingterluka diantara kita semua..” “…Aku kira begitu, dan mungkin itu sebabnya Iwan sangatmarah sama Dani,..” Sansan dan Artamemasuki pintu masuk utama universitas tersebut. Tak lama mereka memasuki lobbyluas, dan memiliki display dan tata ruang yang sangat bernafaskan suasanaakademisi. Sansan dan Arta menuju ke pilar utama, dimanalift utama terletak. Begitu mereka masuk, Arta menekan tombol 20, lantai tempatbersantai para mahasiswa dari kepenatan rutinitas mereka. Universitas Brahmanabukan saja hanya menyajikan kepentingan akademisi, melainkan menyediakanlayanan non akademis, seperti hiburan, tempat rekreasi, dsb. Selain kelengkapanmata studi mereka seperti aplikasi ilmu pengetahuan kedokteran, psikologi,manajemen dan seni, universitas ini memiliki lokasi yang luas untuk paramahasiswa-nya berekspresi. Kesempatan itu bukan hanya berarti kegiatan semata,melainkan kegiatan yang berhubungan dengan bisnis, seperti unit-unit bisnis yang dikelola sendirioleh mahaiswa, pihak luar dan pihak dari universitas. Seperti lounge utama yangkini sedang didatangi Sansan dan Arta. Diantara belasan lounge, lounge ini yangpaling diminati, karena selain pelayanannya yang super, hidangan dan sajianacara-acarannyabukan kelas biasa. Mereka berdua langsungmenuju ke lantai 2, setelah sebelumnya disambut oleh waiters longue tersebut.Tawaran untuk diantar ke lantai atas, ditolaknya dengan halus. Semua mahasiswayang ada disana, mudah mengenali Sansan dan Arta. Jelas saja. Foto merekaterpampang besar-besarandi salah satu sudut ruangan lounge tersebut. Arta selalu tersenyum sendiri setiap mereka melewati postertersebut. Tentu saja. Ini ide dia. Sansan mempercepat langkahnya. Terkadang iamalu sendiri melihat foto dirinya terpampang besar-besaran disana. “Kenapa,sih? “ jawabArta protes, setiap kali Sansan menyampaikan keberatannya. Sansan baru saja akanduduk di tempat biasa, saat Dani menyusulnya dari belakang. Ia tak sempatmenyapanya. Sansan menoleh ke belakang, Arta hanya menggeleng-gelengkan kepala tanda tak mengerti.Sansan menarik nafas panjangnya. “Kalian apa apaan duduk disini?” Dani dengan pandanganmarah, melihat dari sudut matanya kearah rombongan mahasiswa yang duduk dideretan kursi yang terletak paling nyaman di antara kursi-kursi lainnya. Seorang mahasiswa sempatmelihat ke Dani, tapi kemudian diacuhkannya. “HEI!” “Santai dikit napa, broo? Kursi banyak, noh! Jangan egois, lah…” Mahasiswa tersebut kembalibercanda, mengacuhkan Dani. “….Telingamu kayaknyaperlu dikorek ya,..BRO??” Mahasiswa tadi kemudianberdiri, diikuti teman-temannya.Raut muka mereka nampak tak senang. “Bro,.biar muka lu adadi poster segede gaban kayak gitu, bukan berarti lu bisa seenaknya disini. Initempat umum, bro. Kalo lunggak suka, mending cari tempat lain, ato..” “Ato apa?” Dani malah mendekatirombongan mahasisw tadi. “Gw nggak peduli lu mau ngapain disini, dan bukanurusan lu foto gw mau gw pajang segede apa juga. Tapi lu udah duduk di tempatgw biasa duduk, dangw nggak suka! Lu nggak bisa baca? Tu kursi bukan buat umum, tolol!” Si mahasiswa nyengir.Mereka memang tidak mengindahkan tanda bahwa kursi yang mereka duduki bukanlahkursi umum. “Terus kenapa? gwcustomer disini! gwraja! gw yang berhak nentuin gw mau dudukdimana! lu boleh kuasa diluar, tapi disini, lu sama kayak yang lain. Dan asal lutau, gw anak jendral! Jadi sekali gw telepon ke bokap gw, abis lu! Jadi,..minggirlo!” Tangan si mahasiswamenyorong, bermaksud mendorong pundak Dani. Sansan menepuk jidatnya. KRAK! Tiba-tiba tangan si mahasiswa berbelokmenuju ke arah yang tidakwajar. Si mahasiswa yang butuh beberapa saat untuk menyadari bahwa tangannyapatah oleh Dani, berteriak ngeri sekeras kerasnya. “AAAAAAAHH!!!!!!!” Si mahasiswa lunglai, duduk sambil memegang lengannya. Matanyaterbelalak ngeri, sementara teman-temannyadi belakang ikut menjerit dan berjungkit ke belakang. Nyali mereka yang tadinyabesar, seketika jadi ciut. Pandangan Dani tetapdingin, tegak berdiri di hadapan lawannya. Matanya beredar, mencari siapa yangkira-kirabermaksud untuk menyusul orang yang barusan ia patahkan lengannya. Merasa takada lagi yang berani, Dani mengangkat kakinya, lalu menempelkan telapak kakinyake atas kepala si mahasiswa, lalu memaksanya turun. Kini, ia sudah menginjakkepala si mahasisa secara keseluruhan. Kepala Dani menunduk, sembari telapaknyadi angkat di samping telinganya, seolah-olah Dani butuh mendengar lagi kata2 si mahasiswatersebut. “…Ha?” Mahasiswa tersebutmengumpat umpat, namun setiap kali ia mengumpat, Dani semakin “membenamkan” kakinya ke bawah, sehingga kepala si mahasiswa semakinpula tertekan. Si Mahasiswa hanya mampumenjerit-jeritkesakitan sembari memegang lengannya yang patah. “,…HAAAAAA????” “,…Amm,..aaampuuunn,..aaampuuuunnn,..maafingw,.maafin,..gw salah,..gw nggak bakal ngulangin lagi,..” Dani masih denganpandangan dinginnya, mendengar tiap kata penuh kesakitan dari mulut simahasiswa. Setelah dirasa cukup, Dani mengangkat tubuhnya tegak, namun tetapdengan telapak kakinya yang menginjak kepala si mahasiswa di lantai. Dani lalumenggosok-gosokkantelapak kakinya, seolah-olahsepatunya kotor oleh kepala si mahasiswa. “..Pergi!” Si mahasiswa segera dipapah oleh teman-temannya. Dani yang langsung dudukjumawa, menaikkan kakinya ke atas meja dengan santai, dan member tanda ke waitress yangsedari tadi melihat kejadian tersebut dengan penuh ketakutan. “Bill curut-curut tadi gw yang bayar..pastiin aja merekaout dari sini!” Si Waitress menundukmemberi hormat, dan cepat-cepatmenolong rombongan mahasiswa tersebut keluar dari tempat itu. Sansan dan Arta yanghanya diam menyaksikan semuanya, mendekati Dani. Mereka lalu duduk di didekatnya. “Dan,..kamuketerlaluan. Kamu nggak mikirin lounge ini, apa?Mereka bisa bangkrut gara gara kamu!” Ujar Arta begitu ia duduk di sebelahDani. Dani mengibaskantangannya tak suka. Sansan diam. Tapi Danitau, bahwa ia tak suka dengan apa yang barusan ia lakukan. “Sudah, protesnya nantisaja. Ada yang ingin berbicara dengan kalian” Sansan dan Arta sedikitheran. “jadi bukan kamu yang memanggil kami tadi kesini?” Tanya Sansan. “Aku yang memanggilkalian kesini” Arta dan Sansan menengok ke belakang.Tampak Indah, Alfaidzul dan seorang laki laki yang tergopoh-gopoh mengikuti mereka berdua. “Dani,..” PLAK! Indah menampar Daniyang sempoyongan di atas kursi. “Apa-apaanini,kak??!” “Itu untuk kelakuanmu yang barbarbarusan. Kamu pikir kamu hidup di jaman batu??! Bangun!” Dani bersungut. Ia lalu berdiri dariduduknya. PLAAAKK!         Created byDani Cardician Script byPemburu Kate   selengkapnya : http://aksaraproject.com/2nd-season-file-026
    Reva Dewangga Yulliant Putra


    bangun+rumah 's link
    10 tahun Aku membenci Suamiku ===============­===============­====== Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki : Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri. Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya­tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka. Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku. Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senan­g dengan teman-temanku. Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya­. Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya­bersama kedua anak kami. Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku. Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi. Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat­apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya. “Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut. Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??” “Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat, kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu. Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah. Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas. Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis. Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara. Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak- anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman- temanku. Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya. Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku. Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya­di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari- jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikanny­a, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya. Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku. Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia. Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak- anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku. Istriku Liliana tersayang, Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu. Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya­untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku. Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy! Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note. Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya.­Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta. Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya­, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi. Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?” Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikanny­a atas nama cinta.” Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?” Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.” Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus. # Reva akan bisa menjadi suami seperti itu? I hope so,
    Lalu Tatanwijaya


    bangun+rumah 's link
    diangkat dari sebuah kisah nyata cinta seorang pria dengan PSKMalam itu, seharusnya bukan jadi malam milik gua. Malam yang sesungguhnya bukanlah yang gua harapkan. Adit, temen kecil gua. Entah harus bagaimana gua mengatakan? Tiba-tiba ketika habis pulang dari hang out di kafe, mengarahkan motornya ke sebuah tempat yang mungkin baru dalam hidup gua. Tempat pelacuran, ya.. semua juga tau kalau daerah yang sedang gua injakkan kaki ini adalah daerah protistusi. Gua sempat protes sama Adit, kenapa tiba-tiba ngajak gua ke tempat kayak ginian. Umur gua kan masih 17 tahun dan baru aja dapat ktp resmi seumur-umur hidup gua. Gua gak bisa ngelarang teman gua untuk menyalurkan apa yang dia inginkan walaupun harus dengan cara seperti ini. yang terbaik buat gua adalah tidak ikut dalam permainan dia. Akhirnya kita berdua memarkirkan motor di sebuah rumah. Banyak cewek-cewek cantik yang berdiri sambil menggoda. Adit masuk, dan gua memutuskan untuk tunggu di luar. Sesekali dia nanya ke gua, “ yakin loe gak mau coba? Gua bayarin deh!” “ ogah, gua masih tahan iman, loe aja sana! Jangan pakai lama! Entar kalau digrebek polisi, disangka gua lagi yang mau!” “ iya-iya, anteng aja loe disana.. “ Dengan wajah cemburut dan tatapan beberapa perempuan gua seperti orang bego yang nunggu diluar sambil megangan helm gua. Adit uda memilih cewek yang harus jadi teman dia malam itu. Gua menunggu di luar dan tiba-tiba salah satu cewek di dalam rumah itu keluar sambil menghisap rokok. Dia ngeliat gua, lalu menawarkan rokok kepada gua. “ Enggak makasih,  gua gak ngerokok “ kata gua menolak dengna harus. “ Hah, jaman gini masih ada yang gak ngerokok.. aneh..” Tanya cewek itu dan gua hanya senyum-senyum. Dia duduk disebelah gua, menatap mata gua dengan tajam sambil sesekali membuang asap rokok ke langit-langit atap. “ Kok nunggu disini, ga ikutan aja sama temen kamu!” “ Enggak , biarian aja si adit yang pengen,.. Cuma nemenin aja” “ uda, loe sama gua aja mau? “ Gua memandang cewek disamping gua, sejujurnya dia cewek yang cantik, putih dan idaman gua. Tapi ketika dia menawarkan dirinya ke gua, tiba-tiba gua jadi ilfell. Kenapa cewek secantik ini harus menjadi seorang pelacur, dunia ini memang gak adil. “ enggak mbak ,makasih” “ uda maulah, gua kasih diskon.. “ tawar dia lagi. “ beneran mbak, saya gak mau..” tolak gua dengan halus. “ apes deh gua, daritadi gak ada yang mau ama gua..” “ loh mbak kan cantik, kok ga ada yang mau..!” “ ya nasib lah, namanya juga jualan, kadang laku, kadang kagak, malah gua lagi ada masalah lagi,,.” Entah mengapa gua jadi merasa ingin tau masalah dia. “ masalah apa mbak?” Tanya gua “ umur loe berapa?” Tanya dia ke gua “ masuk 17 tahun ini,., “ “ yailah, masih brondong, masih belum tau namanya dunia dewasa..” ledek dia. “ kata siapa.. setiap orang punya masalah, gak mandang gede atau kecil umurnya..” Dia melihat gua, mungkin dia merasa gua pinter merangkai kata-kata. “kayanya loe bukan cowok brengsek ya.. beda sama cowok-cowok yang suka kesini Cuma pengen cari cewek buat kesenangan sesaat’ Gua tersenyum manyum dipuji dia. “ Hehe, ga semua cowok brengsek kok mbak.. “ mungkin aja…  hm.. gua lagi butuh duit..” kata dia tiba-tiba. Dalam hati gua, mungkin ini masalah klasik. Kalau ga butuh duit, buat apa dia kerja sebagai pelacur. “ Maaf kalau boleh tau, duit buat apa ya?” “ nasib jadi orang miskin, selalu kena masalah, nyokap gua tiba-tiba ada benjolan di perut, kemarin sempat dibawah ke puskemas, kata dokter sih tumor ringan.  Mesti cepat-cepat di operasi kata dokter, tapi ya tau sendiri Negara kita, apa-apa butuh duit. Ujung-ujungnya duit buat operasi. Makanya gua lagi sial, semingguan ini jarang dapat pelanggan. Apes..” Entah mengapa, gua merasa, ada kejujuran dari apa yang cewek ini ngomongin. Dia gak seperti lagi sandiwara. “ namanya mbak siapa?” “ panggil gua Eva aja! Loe?” “ Gua, Rasya.. “ Tiba-tiba kita terdiam, melihat wajahnya yang tampak sedih sehabis cerita kehidupan dia, gua merasa iba dan menawarkan dia setulus hati. “ kalau eva emang butuh duit, gua ada, tapi gak banyak, kali-kali aja bisa bantuin nutupin kekurangan.” Dia ngeliat gua. “ loe kan masih 17tahun, mau dapat duit dari mana 1,5 juta kekurangang gue..” “ oo, jadi kurangnya 1,5juta. Tenang aja Va, gua ada kok kalau segitu, tapi kalau sekarang.. gua ga bawa duitnya.. kalau besok gimana?” Dia tertawa kecil. “ gua sih uda biasa digombalin sama pelanggan. Tapi kalau digombalin berondong sih baru kali ini..” ledek dia. “ sumpah gua ga bohong, gini aja, nomor hendphone loe berapa? Nanti besok gua telepon dan kasih duitnya, tapi jangan disini ya.. soalnya gua ga nyaman..” “ terserah mau dimana, neh nomor gue..” kata dia sambil ngasih kertas dengan angka nomor telepon dia. " inget loe, gua ini bukan orang baik. " " gua juga bukan orang baik. tapi juga bukan orang jahat, gua dan loe hanya terlahir di dunia yang keduanya gak bisa kita hindari.." Tiba-tiba adit selesai, dan dia langsung menuju gua. Sebelum adit ngajak gua pergi, gua pamitan sama eva. Dia tersenyum. Dari wajahnya gua tau, dia pasti berharap banget apa yang gua katakan ke dia itu benar. Walau sebenarnya gua sendiri ga punya duit sebanyak yang dia mau.  Duit yang gua punya Cuma ada 900 ribu dan masih kurang 600 ribu buat ngasih ke eva. Akhirnya gua mesti nunggu seminggu hingga terkumpul 1,5 juta. Bermodalkan duit yang sesungguhnya hasil uang jajan gua. Akhirnya gua nelepon dia.  Sebelum memastikan apa eva benar-benar sungguh-sungguh atau bohong, gua sempet survey ke psk sekitar tempat kerja eva dan hasilnya positif dia ga bohong makanya gua usahain duit terkumpul cepat. Eva terkejut ketika gua nelepon dia, gua meminta janjian ketemu sama dia di kafe yang telah gua tentukan. Seumur-umur dalam hidup gua, baru kali ini gua beramal cukup besar untuk orang lain. Gua masukan duit itu dalam tas gua. Mungkin bonyok gua akan marah besar kalau tau duit jajan gua habis untuk dia. Tapi gua cukup beruntung terlahir dari keluarga yang mampu, jadi gua yakin. Bonyok gak akan tega biarin gua hidup tanpa duit sedikitpun andai gua bilang, gua butuh duit. *** Eva muncul dengan pakaian yang lebih tertutup kebanding pertama kali gua lihat. Kita makan dan sesekali gua jelaskan kenapa gua baru hubungi dia dengan alasan sibuk ujian, padahal sesungguhya sibuk nabung untuk bantu dia. Eva mungkin gak pernah kepikiran kalau gua ngajak dia ketemu untuk bantu keuangan dia, dia lebih berpikir kalau gua ini ketemu dia sebagai seseorang yang membutuhkan dia seperti laki-laki lainnya. Kita sempat jalan-jalan sebentar sampai akhirnya motor gua membawa dia ke pantai. Kebetulan mal di kota gua selalu dekat dengan pantai. Gua duduk disamping dia. Dia langsung menyodorkan pertanyaan. “ sebenarnya , loe manggil gua untuk make gua? Atau temenin loe jalan sih?” “ coba tebak?” Tanya gua. “ dua-duanya juga ga masalah, gua uda lama gak jalan sama cowok. Terakhir pacaran juga apes. Dari sekian cowok yang nembak gua, Cuma dia yang gua terima. Ujung-ujungnya cowok emang brengsek. Cuma mau tidur sama gue.. makanya sejak sekarang gua mati rasa sama yang namanya cinta.. !” “ loh kayaknya loe dendam banget ya sama cowok. Maaf loh kalau lancang, Cuma ngerasa gitu” “ ngapain minta maaf, emang nasib gua kok. Terlahir sebagai cewek hina, miskin, keluarga berantakan. Lonte..” tiba-tiba eva nangis dengan kalimat terakhir itu. “ loe nangis..” Tanya gua jadi ikut sedih. “ lonte.. gua uda sering denger kalimat itu dari mulut orang lain buat gua, rasanya nyakitin banget.  Asal loe tau , kalau aja dunia ini lebih indah dari yang gua mau. Gua juga gak mau jadi lonte..  siapa sih di dunia ini yang mau jadi pelacur, lonte. Ini karena terpaksa. Masih ada adik sama keluarga yang butuh gua untuk bertahan hidup..” “ eva.. jangan nangis dong. Tujuan gua kesini, Cuma pengen ngasih ini..” kata gua sambil ngasih duit ke dia. “ gua emang masih berondong seperti yang loe bilang, tapi gua juga punya hati. Walau hidup gua cukup, tapi gua mengerti perasaan loe.. mungkin Tuhan Cuma lagi kasih ujian buat hidup loe. Kalau pun itu berat saat ini, gua harap bantuan dari gua, bisa bantu meringankan beban loe..” “ loe.. kenapa sih mau bantu gua.. kan gua ini bukan siapa-siapa loe, bukan temen loe.  Bahkan bukan orang yang pantes kenal sama loe..” kata dia sambil menangis. “ gua juga gak tau. Yang jelas, kita uda ditakdirkan buat jadi orang yang mengenal.. gua senang kok kenal sama loe. Sekarang pakai duit ini buat operasi nyokap loe ya,. Biar cepat sembuh dan loe bisa kerja yang lain.. bukan seperti sekarang..” Dia terdiam sambil merenung. “ kalau pun gua gak kerja kayak gini, gua juga uda pasti gak ada yang mau. Palingan laki-laki berengsek yang mau sama gua..” “ kata siapa gak ada yang mau..” “ ya kata gua lah.. mana ada sih yang mau sama bekas pelacur!! Bekas lonte…” “ gua mau..” Eva terdiam mendengar kalimat gua. “ umur loe masih muda, belum tau yang namanya cinta.  Ya sudah, terima kasih buat bantuan loe. Kelak kalau gua ada duit. Gua akan balikin duit ini.. sekali lagi, terimakasih” “ sama-sama eva..” Selang beberapa hari, eva sempat sms dan memberi kabar ke gua kalau nyokapnya sukses dengan operasi dia. Kita jadi rutin saling sms dan telepon hingga akhirnya dia ngundang gua ke rumah dia untuk bertemu nyokap dia. Gua menerima tawaran dia sekaligus ingin tau apakah benar kalau nyokap dia habis dioperasi. Ketika gua sampai kerumah, nyokapnya berlinang air mata ngucapin terima kasih, gua bersyukur ternyata eva jujur apa adanya. Dan yang paling gua senang, dia bilang ke gua, kalau dia lagi cari kerjaan buat hidup sebagai orang bersih. Saat itu, tanpa sepengetahuan eva. Bokap tirinya tiba-tiba minjem duit ke gua, dia bilang buat bayar utang. Karena gua gak enak nolak, akhirnya gua kasih duit ke bokapnya tanpa sepentahuan eva. Gua juga sering bantuin ngaterin eva untuk cari kerjaan yang baik. Sampai akhinya dia dapat kerjaan sementara. Selama ini, keluarga dia gak tau kalau eva kerja sebagai pelacur, eva berusaha nutupi dan akhirnya lembaran gelap itu terkubur dengan sendirinya. Tanpa kita sadari, gua dan eva samakin dekat. Setelah pendekatan itu, akhirnya kita menjadi sepasang kekasih. Mungkin cinta itu memang buta ya, baru kali ini gua merasakan cinta yang begitu dalam dari seorang perempuan di usia gua yang masih muda. Ketika dulu gua punya cinta monyet. Gua gak pernah ngerasa sebahagia ini selain bersama eva.  Walaupun dia punya masa lalu kelam, cinta berhasil membuat gua menghapus semua pandangan buruk itu. Seminggu setelah jadian, dengang uang jajan yang gua kumpulin, gua membeli cincin yang sama untuk kita pakai sebagai lambang cinta. Buat eva mungkin ini aneh, tapi dia sadar, gua masih berondong dan pasti gaya pacarannya juga kayak sinetron di tv jadi dia maklumin. Tapi sepanjang waktu kami pacaran, gua merasa eva semakin hari semakin kurus dan tubuhnya jadi lemes gitu, ketika gua Tanya ke dia, dia Cuma bilang kalau dia mungkin kecapean. Tapi sebenarnya ada hal yang gua takutkan dengan kondisi dia. Gua masih ingat, untuk memastikan kalau eva ga bohong pas bilang butuh duit, gua sempat kembali ke tempat pelacuran dia kerja, dan iseng-iseng gua ngobrol sama cewek disana tentang dia. “ loe siapanya eva?” “ temen aja mbak, kalau boleh tau, dia kan cantik, kok bisa ga ada pelanggan sih?” “ nasib mas, eva kena penyakit sifilis( penyakit kelamin). Kayaknya banyak pelanggan yang uda tau dia itu kena penyakit gituan, makanya ga ada yang mau sama dia! Disini kan pesaingan ketat, ada yang bocorin gitu, makanya kasihan dia..” “ kenapa ga berobat aja dia..?” “ maunya sih gitu! Tapi nyokapnya kan sakit, jadi dia mati-matian cari duit buat nyokap dia dulu, baru nanti mikirin sembuhin penyakit dia.. “ “ kasihan ya..” “ iya mas, susah hidup sekarang. Saya yang dulu anterin dia ke dokter aja jadi sedih kalau bayangin hidup dia..” Dari apa yang teman dia bilang, gua jadi yakin kalau eva jadi kurus ini pasti karena penyakit dia dulu. Walau dia ga pernah mau cerita ke gua, mungkin karena dia takut. Kalau dia penyakitan maka gua akan ninggalin dia. Padahal gua gak pernah peduli dengan sakitnya dia. Sakit eva makin buruk sampai akhirnya dia ga kerja. Gua akhirnya nyamperin ke rumah, dan dia ga bisa bangun karena tiba-tiba tubuhnya jadi kayak lumpuh gitu. Saat itu juga gua putuskan untuk bawa dia ke rumah sakit, dia sempat menolak. “ Rasya, rumah sakit itu mahal, orang miskin kayak gua kalau sakit itu ga ada keadilan, jadi biarin aja gua minum obat biasa, nanti juga sembuh” “ loe itu uda gak bisa bangun. Gak usah pikirin duit. Gua ada tabungan, yang penting sekarang kita ke rumah sakit.” Dengan penuh kesedihan, akhirnya eva gak bisa nolak kemauan gua. Gua menggendong dia sampai ke rumah sakit, dia dirawat dan dokter mengatakan ke gua dengan berat hati kalau eva sudah kenapa sifilis akut dan seluruh tubuhnya uda terkontiminasi sama sel-sel neurosifilis yang kemungkinan sembuhnya kecil. Dengan penuh air mata gua memohon kepada dokter untuk sembuhin dia. Gua dan nyokap serta adiknya saling bergantian jaga dia. Saat itu lagi ujian akhir kelulusan sekolah, gua harus bertahan dalam dua hal. Konsetrasi ke ujian dan konsetrasi ke eva. Mungkin kedua cobaan itu berat tapi akhirnya gua berhasil mengerjakan semua ujian yang datang silih berganti bersamaan dengan waktu gua menjaga eva. Eva semakin kritis. Dia gak banyak bicara lagi seperti sebelumnya. Sepertinya dia tau, hidup dia tidak akan lama lagi.  Dia nyerahin sebuah diary ke gua. Dimana disana dia bilang hanya boleh dibaca setelah tiba saatnya nanti. “ jangan dibuka ya sampai nanti kalau gua uda ga bisa bangun lagi..” “ kok loe ngomong gitu..” “ Sya, mungkin.. selama ini gua gak pernah jujur tentang panyakit gua, tapi gua Cuma ga mau kalau loe tau gua punya penyakit ini, loe ninggalin gua. Ternyata gua salah, loe benar-benar hadiah paling indah dalam hidup ini yang dikasih Tuhan buat gua. Gua pikir.. Tuhan gak akan pernah ngasih kebahagiaan buat gua karena memang gua ga pantes. Ternyata gua salah, Tuhan itu adil. Dan keadilan itu dia tunjukkan lewat loe..” “ jangan ngomong gitu eva.. gua yang harusnya bersyukur punya pacar seperti loe dalam hidup gua, loe benar-benar anugrah..loe harus kuat ya, kita sama-sama berjuang untuk kebahagiaan kita..” Eva hanya menangis mendengar gua bicara begitu. Gua pun menangis. Entah mengapa, gua seperti merasa ini adalah ujung dari akhir kisah kami. “ sya, gua mau minta tolong satu hal lagi sama loe. .boleh?” “ ngomong aja eva, kita kan pacaran, terbuka aja..” “ gua gak punya apa-apa untuk ngasih loe sebagai balasan atas kebaikan loe, tapi gua Cuma punya ini.. bisa loe ambil kalung ini dari leher gua, soalnya.. tangan gua uda gak bisa bergerak lagi..” “ kenapa bicara begitu.?” “plz.. ambill” dengan berat hati gua melepas kalung itu dan mengambilnya. “ disimpan ya.. sama buku harian yang gua tulis itu..” “ iya eva.. tadi kamu bilang mau minta tolong, kenapa gak dilanjutkan?” “ kalau gua mati, tolong jangan kubur gua di sini, gua mau dikubur di tanah kelahiran gua.. bisa..” Mendengar kalimat itu dari mulut dia. Hati gua hancur. Gua gak tau harus bagaiman mengungkapkan kata-kata yang pantas untuk membuat gua bangkit dan percaya kalau dia akan sembuh. Gua hanya bisa menangis dan mengiyakan permintaan dia. Karena ada ujian lagi di besok. Gua pamitan sama dia. Gua mencium kening dia dan dengan berat hati saat itulah gua merasa ini terakhir kalianya gua akan melihat dia. Dengan penuh tangis, gua pulang dan berharap Tuhan sekali lagi memberikan keadilan untuk hidup dia. Besoknya gua ujian terakhir dan ketika gua ingin jenguk dia, gua melihat sudah banyak orang di kamar dia di rawat. Semua menangis dan disitulah gua tau, eva telah pergi untuk selamanya. Gua hanya bisa tertunduk lesuh dan menangis dalam hati. Berat rasanya harus melepas kebahagiaan sesaat yang ada dalam hidup gua. Permintaan terakhirnya untuk di makamkan di tanah kelahirannya gua lakukan sebagai tanda cinta terindah dalam hidup gua untuk dia. Kini, gua menyadari bahwa. Hidup itu sesungguhnya tidak pernah memihak kepada siapapun di dunia ini. tapi hidup itu membuat kita hanya bisa memihak kepada satu hal, bertahan untuk hidup dengan segala cara apapun. Eva mungkin telah berjuang hidup dengan ketidakberpihakan hidup tapi ia berhasil membuktikan kepada gua kalau disaat akhir hidupnya, dia benar-benar merasakan keadilan hidup sesungguhnya. Dengan cinta dan kasih sayang murni tanpa air mata penderitaan. dia mampu mengubah dirinya yang dulu adalah makluk hina menjadi seorang bidadari , walaupun itu hanya di hati gua, tapi gua percaya kelak semua orang akan setuju dengan apa yang gua bilang kalau dia adalah bidadari terakhir yang hidup di dunia ini Saat hanya bisa mengenangnya , hanya buku harian ini yang tersimpan dan membuat hati gua merasa mungkin jalan terbaik dalam hidup kita adalah seperti saat ini. 30-april 2010, itulah hari paling memilukan dalamn hidup gua dimana saat itulah gua memiliki kesempatan untuk membaca tulisan terakhir eva untuk gua..       To : My Lovely .....    Dear,makasih kamu udah mau jadi pendamping akuselama ini...makasih juga udah mau jadi malaikatpenyelamat untuk ibu aku...Andaikan kamu tau aku punya penyakit gini,aku yakin kamu pasti kecewa trus tinggalinaku,yakin banget   makanya aku ngerahasiainini semua...maaf ya?Dear,Kamu Laki-laki paling baik yang pernah aku temuin,kamu mau terima aku apa adanya..Aku perempuan kotor,miskin,keluarga semrawut,tapi kamu tetep mau deket ma aku  Dear,andaikan aku udah gak hidup lagi di duniaini,kamu jangan sedih ya ? masih banyak perempuanyang lebih baik dari aku..kamu orang baik,haruspunya pendamping yang baik juga :')Inget,jangan lagi datang-datang ke tempat kotorgitu.setebal apapun iman kamu,pasti bisaruntuh ama yang namanya perempuan.Dear,walau dunia kita udah beda,aku tetep ada dihati kamu kan?janji?aku akan slalu disampingkamu,aku akan jaga kamu.......Maaf andai  Malam itu, seharusnya bukan jadi malam milik gua. Malam yang sesungguhnya bukanlah yang gua harapkan. Adit, temen kecil gua. Entah harus bagaimana gua mengatakan? Tiba-tiba ketika habis pulang dari hang out di kafe, mengarahkan motornya ke sebuah tempat yang mungkin baru dalam hidup gua. Tempat pelacuran, ya.. semua juga tau kalau daerah yang sedang gua injakkan kaki ini adalah daerah protistusi. Gua sempat protes sama Adit, kenapa tiba-tiba ngajak gua ke tempat kayak ginian. Umur gua kan masih 17 tahun dan baru aja dapat ktp resmi seumur-umur hidup gua. Gua gak bisa ngelarang teman gua untuk menyalurkan apa yang dia inginkan walaupun harus dengan cara seperti ini. yang terbaik buat gua adalah tidak ikut dalam permainan dia. Akhirnya kita berdua memarkirkan motor di sebuah rumah. Banyak cewek-cewek cantik yang berdiri sambil menggoda. Adit masuk, dan gua memutuskan untuk tunggu di luar. Sesekali dia nanya ke gua, “ yakin loe gak mau coba? Gua bayarin deh!” “ ogah, gua masih tahan iman, loe aja sana! Jangan pakai lama! Entar kalau digrebek polisi, disangka gua lagi yang mau!” “ iya-iya, anteng aja loe disana.. “ Dengan wajah cemburut dan tatapan beberapa perempuan gua seperti orang bego yang nunggu diluar sambil megangan helm gua. Adit uda memilih cewek yang harus jadi teman dia malam itu. Gua menunggu di luar dan tiba-tiba salah satu cewek di dalam rumah itu keluar sambil menghisap rokok. Dia ngeliat gua, lalu menawarkan rokok kepada gua. “ Enggak makasih,  gua gak ngerokok “ kata gua menolak dengna harus. “ Hah, jaman gini masih ada yang gak ngerokok.. aneh..” Tanya cewek itu dan gua hanya senyum-senyum. Dia duduk disebelah gua, menatap mata gua dengan tajam sambil sesekali membuang asap rokok ke langit-langit atap. “ Kok nunggu disini, ga ikutan aja sama temen kamu!” “ Enggak , biarian aja si adit yang pengen,.. Cuma nemenin aja” “ uda, loe sama gua aja mau? “ Gua memandang cewek disamping gua, sejujurnya dia cewek yang cantik, putih dan idaman gua. Tapi ketika dia menawarkan dirinya ke gua, tiba-tiba gua jadi ilfell. Kenapa cewek secantik ini harus menjadi seorang pelacur, dunia ini memang gak adil. “ enggak mbak ,makasih” “ uda maulah, gua kasih diskon.. “ tawar dia lagi. “ beneran mbak, saya gak mau..” tolak gua dengan halus. “ apes deh gua, daritadi gak ada yang mau ama gua..” “ loh mbak kan cantik, kok ga ada yang mau..!” “ ya nasib lah, namanya juga jualan, kadang laku, kadang kagak, malah gua lagi ada masalah lagi,,.” Entah mengapa gua jadi merasa ingin tau masalah dia. “ masalah apa mbak?” Tanya gua “ umur loe berapa?” Tanya dia ke gua “ masuk 17 tahun ini,., “ “ yailah, masih brondong, masih belum tau namanya dunia dewasa..” ledek dia. “ kata siapa.. setiap orang punya masalah, gak mandang gede atau kecil umurnya..” Dia melihat gua, mungkin dia merasa gua pinter merangkai kata-kata. “kayanya loe bukan cowok brengsek ya.. beda sama cowok-cowok yang suka kesini Cuma pengen cari cewek buat kesenangan sesaat’ Gua tersenyum manyum dipuji dia. “ Hehe, ga semua cowok brengsek kok mbak.. “ mungkin aja…  hm.. gua lagi butuh duit..” kata dia tiba-tiba. Dalam hati gua, mungkin ini masalah klasik. Kalau ga butuh duit, buat apa dia kerja sebagai pelacur. “ Maaf kalau boleh tau, duit buat apa ya?” “ nasib jadi orang miskin, selalu kena masalah, nyokap gua tiba-tiba ada benjolan di perut, kemarin sempat dibawah ke puskemas, kata dokter sih tumor ringan.  Mesti cepat-cepat di operasi kata dokter, tapi ya tau sendiri Negara kita, apa-apa butuh duit. Ujung-ujungnya duit buat operasi. Makanya gua lagi sial, semingguan ini jarang dapat pelanggan. Apes..” Entah mengapa, gua merasa, ada kejujuran dari apa yang cewek ini ngomongin. Dia gak seperti lagi sandiwara. “ namanya mbak siapa?” “ panggil gua Eva aja! Loe?” “ Gua, Rasya.. “ Tiba-tiba kita terdiam, melihat wajahnya yang tampak sedih sehabis cerita kehidupan dia, gua merasa iba dan menawarkan dia setulus hati. “ kalau eva emang butuh duit, gua ada, tapi gak banyak, kali-kali aja bisa bantuin nutupin kekurangan.” Dia ngeliat gua. “ loe kan masih 17tahun, mau dapat duit dari mana 1,5 juta kekurangang gue..” “ oo, jadi kurangnya 1,5juta. Tenang aja Va, gua ada kok kalau segitu, tapi kalau sekarang.. gua ga bawa duitnya.. kalau besok gimana?” Dia tertawa kecil. “ gua sih uda biasa digombalin sama pelanggan. Tapi kalau digombalin berondong sih baru kali ini..” ledek dia. “ sumpah gua ga bohong, gini aja, nomor hendphone loe berapa? Nanti besok gua telepon dan kasih duitnya, tapi jangan disini ya.. soalnya gua ga nyaman..” “ terserah mau dimana, neh nomor gue..” kata dia sambil ngasih kertas dengan angka nomor telepon dia. " inget loe, gua ini bukan orang baik. " " gua juga bukan orang baik. tapi juga bukan orang jahat, gua dan loe hanya terlahir di dunia yang keduanya gak bisa kita hindari.." Tiba-tiba adit selesai, dan dia langsung menuju gua. Sebelum adit ngajak gua pergi, gua pamitan sama eva. Dia tersenyum. Dari wajahnya gua tau, dia pasti berharap banget apa yang gua katakan ke dia itu benar. Walau sebenarnya gua sendiri ga punya duit sebanyak yang dia mau.  Duit yang gua punya Cuma ada 900 ribu dan masih kurang 600 ribu buat ngasih ke eva. Akhirnya gua mesti nunggu seminggu hingga terkumpul 1,5 juta. Bermodalkan duit yang sesungguhnya hasil uang jajan gua. Akhirnya gua nelepon dia.  Sebelum memastikan apa eva benar-benar sungguh-sungguh atau bohong, gua sempet survey ke psk sekitar tempat kerja eva dan hasilnya positif dia ga bohong makanya gua usahain duit terkumpul cepat. Eva terkejut ketika gua nelepon dia, gua meminta janjian ketemu sama dia di kafe yang telah gua tentukan. Seumur-umur dalam hidup gua, baru kali ini gua beramal cukup besar untuk orang lain. Gua masukan duit itu dalam tas gua. Mungkin bonyok gua akan marah besar kalau tau duit jajan gua habis untuk dia. Tapi gua cukup beruntung terlahir dari keluarga yang mampu, jadi gua yakin. Bonyok gak akan tega biarin gua hidup tanpa duit sedikitpun andai gua bilang, gua butuh duit. *** Eva muncul dengan pakaian yang lebih tertutup kebanding pertama kali gua lihat. Kita makan dan sesekali gua jelaskan kenapa gua baru hubungi dia dengan alasan sibuk ujian, padahal sesungguhya sibuk nabung untuk bantu dia. Eva mungkin gak pernah kepikiran kalau gua ngajak dia ketemu untuk bantu keuangan dia, dia lebih berpikir kalau gua ini ketemu dia sebagai seseorang yang membutuhkan dia seperti laki-laki lainnya. Kita sempat jalan-jalan sebentar sampai akhirnya motor gua membawa dia ke pantai. Kebetulan mal di kota gua selalu dekat dengan pantai. Gua duduk disamping dia. Dia langsung menyodorkan pertanyaan. “ sebenarnya , loe manggil gua untuk make gua? Atau temenin loe jalan sih?” “ coba tebak?” Tanya gua. “ dua-duanya juga ga masalah, gua uda lama gak jalan sama cowok. Terakhir pacaran juga apes. Dari sekian cowok yang nembak gua, Cuma dia yang gua terima. Ujung-ujungnya cowok emang brengsek. Cuma mau tidur sama gue.. makanya sejak sekarang gua mati rasa sama yang namanya cinta.. !” “ loh kayaknya loe dendam banget ya sama cowok. Maaf loh kalau lancang, Cuma ngerasa gitu” “ ngapain minta maaf, emang nasib gua kok. Terlahir sebagai cewek hina, miskin, keluarga berantakan. Lonte..” tiba-tiba eva nangis dengan kalimat terakhir itu. “ loe nangis..” Tanya gua jadi ikut sedih. “ lonte.. gua uda sering denger kalimat itu dari mulut orang lain buat gua, rasanya nyakitin banget.  Asal loe tau , kalau aja dunia ini lebih indah dari yang gua mau. Gua juga gak mau jadi lonte..  siapa sih di dunia ini yang mau jadi pelacur, lonte. Ini karena terpaksa. Masih ada adik sama keluarga yang butuh gua untuk bertahan hidup..” “ eva.. jangan nangis dong. Tujuan gua kesini, Cuma pengen ngasih ini..” kata gua sambil ngasih duit ke dia. “ gua emang masih berondong seperti yang loe bilang, tapi gua juga punya hati. Walau hidup gua cukup, tapi gua mengerti perasaan loe.. mungkin Tuhan Cuma lagi kasih ujian buat hidup loe. Kalau pun itu berat saat ini, gua harap bantuan dari gua, bisa bantu meringankan beban loe..” “ loe.. kenapa sih mau bantu gua.. kan gua ini bukan siapa-siapa loe, bukan temen loe.  Bahkan bukan orang yang pantes kenal sama loe..” kata dia sambil menangis. “ gua juga gak tau. Yang jelas, kita uda ditakdirkan buat jadi orang yang mengenal.. gua senang kok kenal sama loe. Sekarang pakai duit ini buat operasi nyokap loe ya,. Biar cepat sembuh dan loe bisa kerja yang lain.. bukan seperti sekarang..” Dia terdiam sambil merenung. “ kalau pun gua gak kerja kayak gini, gua juga uda pasti gak ada yang mau. Palingan laki-laki berengsek yang mau sama gua..” “ kata siapa gak ada yang mau..” “ ya kata gua lah.. mana ada sih yang mau sama bekas pelacur!! Bekas lonte…” “ gua mau..” Eva terdiam mendengar kalimat gua. “ umur loe masih muda, belum tau yang namanya cinta.  Ya sudah, terima kasih buat bantuan loe. Kelak kalau gua ada duit. Gua akan balikin duit ini.. sekali lagi, terimakasih” “ sama-sama eva..” Selang beberapa hari, eva sempat sms dan memberi kabar ke gua kalau nyokapnya sukses dengan operasi dia. Kita jadi rutin saling sms dan telepon hingga akhirnya dia ngundang gua ke rumah dia untuk bertemu nyokap dia. Gua menerima tawaran dia sekaligus ingin tau apakah benar kalau nyokap dia habis dioperasi. Ketika gua sampai kerumah, nyokapnya berlinang air mata ngucapin terima kasih, gua bersyukur ternyata eva jujur apa adanya. Dan yang paling gua senang, dia bilang ke gua, kalau dia lagi cari kerjaan buat hidup sebagai orang bersih. Saat itu, tanpa sepengetahuan eva. Bokap tirinya tiba-tiba minjem duit ke gua, dia bilang buat bayar utang. Karena gua gak enak nolak, akhirnya gua kasih duit ke bokapnya tanpa sepentahuan eva. Gua juga sering bantuin ngaterin eva untuk cari kerjaan yang baik. Sampai akhinya dia dapat kerjaan sementara. Selama ini, keluarga dia gak tau kalau eva kerja sebagai pelacur, eva berusaha nutupi dan akhirnya lembaran gelap itu terkubur dengan sendirinya. Tanpa kita sadari, gua dan eva samakin dekat. Setelah pendekatan itu, akhirnya kita menjadi sepasang kekasih. Mungkin cinta itu memang buta ya, baru kali ini gua merasakan cinta yang begitu dalam dari seorang perempuan di usia gua yang masih muda. Ketika dulu gua punya cinta monyet. Gua gak pernah ngerasa sebahagia ini selain bersama eva.  Walaupun dia punya masa lalu kelam, cinta berhasil membuat gua menghapus semua pandangan buruk itu. Seminggu setelah jadian, dengang uang jajan yang gua kumpulin, gua membeli cincin yang sama untuk kita pakai sebagai lambang cinta. Buat eva mungkin ini aneh, tapi dia sadar, gua masih berondong dan pasti gaya pacarannya juga kayak sinetron di tv jadi dia maklumin. Tapi sepanjang waktu kami pacaran, gua merasa eva semakin hari semakin kurus dan tubuhnya jadi lemes gitu, ketika gua Tanya ke dia, dia Cuma bilang kalau dia mungkin kecapean. Tapi sebenarnya ada hal yang gua takutkan dengan kondisi dia. Gua masih ingat, untuk memastikan kalau eva ga bohong pas bilang butuh duit, gua sempat kembali ke tempat pelacuran dia kerja, dan iseng-iseng gua ngobrol sama cewek disana tentang dia. “ loe siapanya eva?” “ temen aja mbak, kalau boleh tau, dia kan cantik, kok bisa ga ada pelanggan sih?” “ nasib mas, eva kena penyakit sifilis( penyakit kelamin). Kayaknya banyak pelanggan yang uda tau dia itu kena penyakit gituan, makanya ga ada yang mau sama dia! Disini kan pesaingan ketat, ada yang bocorin gitu, makanya kasihan dia..” “ kenapa ga berobat aja dia..?” “ maunya sih gitu! Tapi nyokapnya kan sakit, jadi dia mati-matian cari duit buat nyokap dia dulu, baru nanti mikirin sembuhin penyakit dia.. “ “ kasihan ya..” “ iya mas, susah hidup sekarang. Saya yang dulu anterin dia ke dokter aja jadi sedih kalau bayangin hidup dia..” Dari apa yang teman dia bilang, gua jadi yakin kalau eva jadi kurus ini pasti karena penyakit dia dulu. Walau dia ga pernah mau cerita ke gua, mungkin karena dia takut. Kalau dia penyakitan maka gua akan ninggalin dia. Padahal gua gak pernah peduli dengan sakitnya dia. Sakit eva makin buruk sampai akhirnya dia ga kerja. Gua akhirnya nyamperin ke rumah, dan dia ga bisa bangun karena tiba-tiba tubuhnya jadi kayak lumpuh gitu. Saat itu juga gua putuskan untuk bawa dia ke rumah sakit, dia sempat menolak. “ Rasya, rumah sakit itu mahal, orang miskin kayak gua kalau sakit itu ga ada keadilan, jadi biarin aja gua minum obat biasa, nanti juga sembuh” “ loe itu uda gak bisa bangun. Gak usah pikirin duit. Gua ada tabungan, yang penting sekarang kita ke rumah sakit.” Dengan penuh kesedihan, akhirnya eva gak bisa nolak kemauan gua. Gua menggendong dia sampai ke rumah sakit, dia dirawat dan dokter mengatakan ke gua dengan berat hati kalau eva sudah kenapa sifilis akut dan seluruh tubuhnya uda terkontiminasi sama sel-sel neurosifilis yang kemungkinan sembuhnya kecil. Dengan penuh air mata gua memohon kepada dokter untuk sembuhin dia. Gua dan nyokap serta adiknya saling bergantian jaga dia. Saat itu lagi ujian akhir kelulusan sekolah, gua harus bertahan dalam dua hal. Konsetrasi ke ujian dan konsetrasi ke eva. Mungkin kedua cobaan itu berat tapi akhirnya gua berhasil mengerjakan semua ujian yang datang silih berganti bersamaan dengan waktu gua menjaga eva. Eva semakin kritis. Dia gak banyak bicara lagi seperti sebelumnya. Sepertinya dia tau, hidup dia tidak akan lama lagi.  Dia nyerahin sebuah diary ke gua. Dimana disana dia bilang hanya boleh dibaca setelah tiba saatnya nanti. “ jangan dibuka ya sampai nanti kalau gua uda ga bisa bangun lagi..” “ kok loe ngomong gitu..” “ Sya, mungkin.. selama ini gua gak pernah jujur tentang panyakit gua, tapi gua Cuma ga mau kalau loe tau gua punya penyakit ini, loe ninggalin gua. Ternyata gua salah, loe benar-benar hadiah paling indah dalam hidup ini yang dikasih Tuhan buat gua. Gua pikir.. Tuhan gak akan pernah ngasih kebahagiaan buat gua karena memang gua ga pantes. Ternyata gua salah, Tuhan itu adil. Dan keadilan itu dia tunjukkan lewat loe..” “ jangan ngomong gitu eva.. gua yang harusnya bersyukur punya pacar seperti loe dalam hidup gua, loe benar-benar anugrah..loe harus kuat ya, kita sama-sama berjuang untuk kebahagiaan kita..” Eva hanya menangis mendengar gua bicara begitu. Gua pun menangis. Entah mengapa, gua seperti merasa ini adalah ujung dari akhir kisah kami. “ sya, gua mau minta tolong satu hal lagi sama loe. .boleh?” “ ngomong aja eva, kita kan pacaran, terbuka aja..” “ gua gak punya apa-apa untuk ngasih loe sebagai balasan atas kebaikan loe, tapi gua Cuma punya ini.. bisa loe ambil kalung ini dari leher gua, soalnya.. tangan gua uda gak bisa bergerak lagi..” “ kenapa bicara begitu.?” “plz.. ambill” dengan berat hati gua melepas kalung itu dan mengambilnya. “ disimpan ya.. sama buku harian yang gua tulis itu..” “ iya eva.. tadi kamu bilang mau minta tolong, kenapa gak dilanjutkan?” “ kalau gua mati, tolong jangan kubur gua di sini, gua mau dikubur di tanah kelahiran gua.. bisa..” Mendengar kalimat itu dari mulut dia. Hati gua hancur. Gua gak tau harus bagaiman mengungkapkan kata-kata yang pantas untuk membuat gua bangkit dan percaya kalau dia akan sembuh. Gua hanya bisa menangis dan mengiyakan permintaan dia. Karena ada ujian lagi di besok. Gua pamitan sama dia. Gua mencium kening dia dan dengan berat hati saat itulah gua merasa ini terakhir kalianya gua akan melihat dia. Dengan penuh tangis, gua pulang dan berharap Tuhan sekali lagi memberikan keadilan untuk hidup dia. Besoknya gua ujian terakhir dan ketika gua ingin jenguk dia, gua melihat sudah banyak orang di kamar dia di rawat. Semua menangis dan disitulah gua tau, eva telah pergi untuk selamanya. Gua hanya bisa tertunduk lesuh dan menangis dalam hati. Berat rasanya harus melepas kebahagiaan sesaat yang ada dalam hidup gua. Permintaan terakhirnya untuk di makamkan di tanah kelahirannya gua lakukan sebagai tanda cinta terindah dalam hidup gua untuk dia. Kini, gua menyadari bahwa. Hidup itu sesungguhnya tidak pernah memihak kepada siapapun di dunia ini. tapi hidup itu membuat kita hanya bisa memihak kepada satu hal, bertahan untuk hidup dengan segala cara apapun. Eva mungkin telah berjuang hidup dengan ketidakberpihakan hidup tapi ia berhasil membuktikan kepada gua kalau disaat akhir hidupnya, dia benar-benar merasakan keadilan hidup sesungguhnya. Dengan cinta dan kasih sayang murni tanpa air mata penderitaan. dia mampu mengubah dirinya yang dulu adalah makluk hina menjadi seorang bidadari , walaupun itu hanya di hati gua, tapi gua percaya kelak semua orang akan setuju dengan apa yang gua bilang kalau dia adalah bidadari terakhir yang hidup di dunia ini Saat hanya bisa mengenangnya , hanya buku harian ini yang tersimpan dan membuat hati gua merasa mungkin jalan terbaik dalam hidup kita adalah seperti saat ini. 30-april 2010, itulah hari paling memilukan dalamn hidup gua dimana saat itulah gua memiliki kesempatan untuk membaca tulisan terakhir eva untuk gua..       To : My Lovely .....    Dear,makasih kamu udah mau jadi pendamping akuselama ini...makasih juga udah mau jadi malaikatpenyelamat untuk ibu aku...Andaikan kamu tau aku punya penyakit gini,aku yakin kamu pasti kecewa trus tinggalinaku,yakin banget   makanya aku ngerahasiainini semua...maaf ya?Dear,Kamu Laki-laki paling baik yang pernah aku temuin,kamu mau terima aku apa adanya..Aku perempuan kotor,miskin,keluarga semrawut,tapi kamu tetep mau deket ma aku  Dear,andaikan aku udah gak hidup lagi di duniaini,kamu jangan sedih ya ? masih banyak perempuanyang lebih baik dari aku..kamu orang baik,haruspunya pendamping yang baik juga :')Inget,jangan lagi datang-datang ke tempat kotorgitu.setebal apapun iman kamu,pasti bisaruntuh ama yang namanya perempuan.Dear,walau dunia kita udah beda,aku tetep ada dihati kamu kan?janji?aku akan slalu disampingkamu,aku akan jaga kamu.......Maaf andaislama ini aku&keluarga udah nyusahin kamu :*Goodbye.......     Semoga kamu bahagia disana eva, aku selalu ada untuk kamu walau kita telah berbeda dalam dunia ini. dan percayalah loe adalah bidadari terakhir dalam hidup gua,   tamat slama ini aku&keluarga udah nyusahin kamu :*Goodbye.......       tamat
    Kikiie Yhustiianii


    bangun+rumah 's link
    Belajar adalah tanggung jawab kaum pelajar baik sebagai siswa atau mahasiswa. Sebagai siswa yang baik dan ingin sukses dalam pendidikan yang sedang dijalani maka salah satu kuncinya tentunya adalah rajin belajar. Akan tetapi sebagai manusia biasa dengan penuh tantangan dan gangguan, maka penyakit bosan belajar itu sering melanda bagi hampir semua siswa. Jika pada bagian sebelumnya diberikan tips belajar, berikut ini akan diberikan tips untuk mengatasi kebosanan dalam belajar yang justru membuat prestasi anda semakin turun.   1. Mengatur waktu dengan baik Prinsip belajar yang baik adalah pengaturan waktu yang baik. Kapan anda harus belajar, kapan harus istirahat dan kapan harus melakukan refreshing. Anda harus mengalokasikan waktu khusus buat belajar misalnya setelah nonton acara favorit anda di siang hari, atau pagi hari setelah bangun tidur. Jika belajar tidak ada waktu alokasi khusus maka anda akan belajar di waktu yang kurang pas. Misalnya di saat anda sudah sangat kelelahan maka anda paksa untuk belajar maka hal tersebut dirasa menjadi kurang efektif.   2. Melakukan hal-hal yang anda sukai baru belajar Ada trik lain untuk menaikkan gairah belajar anda. Anda dapat melakukan kegiatan yang anda sukai dahulu baru dilanjutkan belajar. Tetapi kuncinya adalah anda jangan terjebak dengan kegiatan yang anda sukai tersebut dan akhirnya anda tidak jadi belajar sama sekali. Kegiatan-kegiatan yang anda sukai seperti menonton film kesukaan anda, menonton TV atau mendengarkan musik favorit anda terlebih dahulu baru dilanjutkan dengan belajar. Hindari juga kegiatan favorit yang justru bakal akan mendorong anda tidak sempat belajar seperti main games dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan yang cenderung menimbulkan kecanduan (adict) seperti game harus anda hindari atau justru kurangi. Ada bagusnya bisa anda kendalikan dan justru menjadi pemicu anda untuk belajar lebih baik lagi.   3. Memanfaatkan momentum belajar di kelas atau saat belajar bersama Terkadang kita sendiri sibuk dengan urusan kita sendiri. Hari-hari anda habis dengan jadwal atau rutinitas yang anda lakukan. Oleh karena itu manfaatkan dengan baik momonentum saat belajar di kelas atau belajar bersama. Jika anda dapat memperoleh banyak ilmu dari kegiatan tersebut maka selepas anda pulang atau di rumah anda tidak terlalu harus belajar keras lagi memahami materi tersebut. Anda tinggal melakukan pengulangan atau latiha-latihan untuk mempertajam kemampuan anda. Demikian halnya dengan momentum belajar bersama dapat anda manfaatkan dengan baik. Belajar bersama yang efektif akan semakin mendorong anda untuk mau belajar dan berbagi pengetahuan bersama teman. Hindari kegiatan belajar bersama yang berujung pada kegiatan tidak produktif seperti mengobrol atau malah main game dan sebagianya.   4. Keseimbangan antara belajar dan refreshing Hidup adalah sebuah keseimbangan. Jadi jika anda terlalu banyak belajar juga kurang baik. Atau sebaliknya jika anda terlalu banyak kegiatan main juga kurang baik. Anda harus bisa membagi waktu keseimbangan antara belajar dan refreshing dengan baik. Otak manusia harus dipakai dengan baik dan terkadang harus didinginkan (cooling down).   5. Ubah suasana kamar belajar anda Terkadang kebosanan belajar justru berasal dari ruang atau tempat belajar anda. Jika perlu anda perlu menata kembali ruang belajar anda dan merapikan beberapa barang-barang anda. Jika perlu anda perlu melakukan hal tersebut secara berkala untuk memberikan suasana yang baru. Suasana baru akan menimbulkan efek psikologis yang bagus untuk meningkatkan gairah belajar anda.   6. Jangan belajar dengan beban Tips selanjutnya adalah jangan belajar dalam kondisi anda terbeban. Jika anda masih punya masalah atau beban, selesaikan dahulu masalah anda tersebut. Sebuah beban yang berat akan mengurangi motivasi belajar anda dan menimbulkan kebosanan dalam belajar. Jika beban anda masih terasa berat, ada baiknya anda melakukan hal-hal untuk mengurangi beban tersebut dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan atau kegiatan kerohanian yang lain untuk menyegarkan pikiran anda.   7. Belajar bukan bicara soal kuantitas atau lamanya, tetapi efektifas belajar. Not hard study but smart study. Mitos lama dalam belajar adalah semakin lama anda belajar maka anda akan semakin menyerap banyak. Justru mitos tersebut salah. Belajar bukan bicara soal seberapa lama anda belajar tetapi seberapa efektif anda belajar. Seberapa anda bisa menyerap materi-materi dengan efektif. Sehingga terdapat istilah bahwa smart study better than hard study. Yang artinya anda harus lebih pintar-pintar dalam metode belajar anda ketimbang harus belajar keras. Sebagai contoh praktisnya adalah jika anda besok ujian dari bab 1-bab 10 yang cukup banyak untuk dibaca, maka triknya adalah anda tidak perlu membaca semua bahan dari buku anda. Anda dapat mengambil kata-kata kunci dari setiap bab tersebut. Belajar yang smart memang harus banyak latihan agar anda menemukan teknik-teknik belajar yang lebih smart dan justru tidak membuang waktu anda.   Demikian tips agar anda tidak bosan belajar agar anda juga sukses dalam setiap bidang yang anda hadapi sekarang. Setiap orang tentunya punya cara masing-masing yang bisa diterapkan dan efektif untuk dipraktikkan dalam cara belajar anda.
    Fay Shalamar


    bangun+rumah 's link
    Endless rain, falls on my heart kokoro no kizu ni Let me forget, all of the hate All of the sadness……   Masih dengan lagu yang sama, sesuatu yang dapat menyembuhkannya dari luka. Kei menghirup kopinya dalam-dalam sambil memandang keluar jendela apartemennya. Penolakan bukan yang membuatnya merasa sakit. Tetapi kenyataan tentang kedua orang yang disayangnyalah yang ingin dia maafkan. Dia ingin memahami itu bukan kesengajaan, itu hanyalah kebetulan semata. Ya! Kebetulan yang menyakitkan.   Dering ponselnya tidak mengganggu sedikit pun apa yang dilakukan Kei. Sementara di ujung sana Tantri sesengukan menahan sedihnya. Si mungil itu bingung apa yang telah membuat Kei menjadi dingin padanya. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang telah dia lakukan pada Kei. Tapi seingatnya tidak ada satu pun hal yang telah menyakiti Kei. Ketidak mengertiannya itu membuatnya mengirim messenger pada Bayu.   “K’Bayu, aq dcuekin sm K’ Kei, aq binun”, dengan satu sentuhan “enter” kalimat itu sudah masuk ke BBM milik Bayu. “Knp, Tan? Mgkn sdg sbk aja Kei-ny”, tak lama Bayu membalas. Tantri mencari nama Bayu dan segera menekan tombol panggil. Suara memanggil terdengar dari ponselnya, tak lama panggilannya diangkat. “Kenapa, Tan?”, suara Bayu dari seberang sana. “Kak Kei bukan sibuk, tapi kayaknya marah sama aku”, tanpa aling-aling, Kei langsung menjelaskan. “Memangnya kamu berbuat apa sampai Kei marah?” “Enggak tahu” “Mana ada orang marah tanpa alasan?” “Engga tahu, Kak….” “Besok juga dia bakal baik lagi, sedang badmood aja mungkin” “Iya, Kak” “Besok kemana, Tan?” “Aku mau ke rumah Kak Kei, mudah-mudahan dia udah engga badmood, Kakak mau ikut?” “Engga, aku ada kerjaan, Tan” “Oh ya udah” “Udah lebih baik kan?” “Iya”, Tantri tetap mengangguk walau itu tak dilihat Bayu. “Tidur sana!” “Iya, Kak” “Selamat tidur, mungil!” “Selamat tidur, Kak!” Bayu menutup telefon. Tantri menarik nafas dalam-dalam.   Nun di ujung yang lain, Kei meletakan cangkir kopinya di atas meja. Kemudian melangkah masuk ke kamarnya. Kali ini dering panggilan didengarnya. Kei meraih ponselnya dan tertera nama “Bayu” di sana. Dia jatuhkan ponselnya di atas kasur.   Lagu itu sudah berputar berkali di listnya, dia sudah mensetting agar lagu itu terus replay.  Kesedihan yang sama, kegelisahan yang sama. Kei ingin melupakan segala hal itu.   * * * “Kaak!”, Tantri terus mengetuk pintu apartemen Kei, “Kak, ini Tantri. Kakak!”   Kei dengan jelas mendengar suara Tantri, tapi dia diam. Dia butuh waktu untuk menerima, dia butuh waktu untuk berfikir jernih. Kei duduk di sofanya dengan diam, dia tahu ini sangat kejam. Semua itu bukan salah Tantri, bahkan ketika Tantri dengan lugas bercerita tentang kencannya dengan Bayu, dan bagaimana perasaan Tantri pada Bayu. Dia hanya terluka dengan ini semua. Dia selalu diam, sunyi akan perasaan pada Bayu yang terlalu acuh. Kei tidak menyangka ini akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia tidak tahu tentang ini sebelumnya. Bagaimana bisa dia membuat keduanya saling jatuh cinta.   “Kaaaak! Kakak di dalam kan? Kak!”, Tantri masih berusaha memanggilnya sambil menggedor pintu.   Kei bangun dan berjalan ke kamarnya. Kei terlalu angkuh untuk mengatakan bahwa perasaannya terluka. Sementara Tantri lelah, dia kecewa sekaligus sedih karna Kei telah menjadi penopang dirinya beberapa saat ini, kehilangan Kei akan sangat menyakitinya. Tantri hanya tidak mengerti apa yang salah dengan keadaan. Perubahan sikap Kei yang tiba-tiba membuatnya terguncang. Dia meraih ponselnya dan menghubungi Bayu.   “Iya, Tan?”, Bayu menjawab dari seberang sana. “Aku butuh Kakak”, Kei menahan sesak tangisnya. “Kamu di mana?” “Di rumah Kak Kei” “Kamu sedang sama Kei?” “Kak Kei engga ada di rumah” “Oke, kamu ke cafe yang biasa aja duluan, nanti aku ke sana ya sehabis kerjaanku selesai?” “Iya, kak”   Sementara itu dari seberang sana Bayu menjadi terusik juga dengan ulah Kei. Apa maksud Kei bersikap seperti itu pada Tantri? Bukankah Kei menyayangi Tantri? Dan sekarang tiba-tiba saja Kei berubah sikap. Dia mencoba menghubungi Kei, namun lagi-lagi Kei tidak mengangkat, akhirnya dia mengirim voice note.   “Lo kenapa sih? Masalah lo apa sama Tantri? Lo seneng ya lihat anak orang panik?”, dengan sekali tekan pesan itu terkirim.   Tak lama voice note dari Kei masuk, Bayu segera membukanya, “Temuin gue nanti malam jam 7 di d’ La Carte, ga perlu banyak tanya dan protes”   Nun di sana, lagu yang sama memenuhi seluruh ruangannya lagi. Kei masih dengan segelas kopinya. Kei sudah memutuskan untuk mengatakannya pada Bayu. Walau harus penolakan yang dia dapatkan, paling tidak dia sudah mencoba. Dia tidak perlu membenci siapa pun, yang perlu hanyalah sebuah lagu ini dan segelas kopi bersama Bayu.   * * *   Pukul 7 kurang, Kei sudah berada di salah satu bangku di pojokan cafe d’ La Carte. Segelas coppuchinohangat telah menemaninya. Terlepas dengan akan datangnya Bayu atau tidak, Kei ingin lukanya luruh. Dia bisa mencoba untuk berpura-pura tidak memiliki perasaan apa pun jika Bayu tidak menemuinya. Kei teringat wajah Bayu yang tertidur karna lelah dalam perjalanan mereka berdua. Wajah yang ingin disentuhnya dengan penuh rindu, tapi Kei tahu itu bukan untuk disentuhnya. Saat ini Bayu semakin terasa jauh, perasaan rindunya kian membuncah, namun satu hal pasti dia mencintai Bayu dengan segenap hatinya, sekali pun Bayu acuh untuk melihatnya.   “Sorry, lama nunggu ya?”, sebuah suara memecah lamunannya, Kei menoleh dan melihat Bayu berdiri di sampingnya. “Engga, duduk aja, lo udah pesan?” “Belum” Seorang pelayan mendatanginya dan Bayu memesan segelas kopi. “Mau bicara apa?”, tanya Bayu setelah pelayan tersebut menjauh. “Lo buru-buru?” “Engga” “Kalo gitu istirahat aja dulu, tunggu kopi lo datang dulu” “Lo engga ada kerjaan?” “Gue engga bisa kerja” “Hah? Kenapa?” “Banyak pikiran” “Lo engga ajak Tantri ke sini” “Gue butuhnya elo” “Wah, kenapa lo sama Tantri? Ribut?” “Engga” “Terus?” “Lo inget voice note gue? Jangan banyak tanya” “Lo tu aneh” “Emang, sejak kapan gue normal?”   Hening menyelimuti mereka, sebuah lagu yang ringan dan menenangkan menemani pengunjung cafe. Suara merdu dan nada roman terlantun, Kei dan Bayu menyimak lagu sendu tersebut dalam sunyi.   Nevermind, I’ll find someone like you  I wish nothing but the best for you too  Don’t forget me, I beg, I remember you said  "Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead" Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead, yeah    Sepenggal lirik terlintas di antara keduanya. Kopi Bayu akhirnya terhidang. Bayu menggenggam gelas kopinya. “Kei!”, Bayu mencoba memecah keheningan di antara keduanya. Kei yang pandangannya menerawang entah kemana menoleh pada Bayu. “Sebenarnya ada apa?” “Lagu itu bagus” “Lo jatuh cinta?” “Jatuh cinta?” “Iya, jatuh cinta?” Tawa Kei meledak. Bayu mengerutkan kening, “Malah ketawa” Kei menghentikan tawanya dan tersenyum, “Iya” “Terus?” “Tapi orang itu terlalu acuh untuk melihat gue ini hidup di bumi juga” “Jadi lo panggil ke sini buat dengerin curhatan lo?” “Bukan” “Bukan? Terus?” “Ini tentang gue, elo dan Tantri” “Apaan?” “Gue benci di situasi ini, Bay. Benci dengan kalian” “Kalo lo benci kenapa masih juga temuin gue? Selama ini lo pura-pura sayang sama Tantri?” Kei menggeleng, “Bukan begitu” “Lantas?” “Lo terlalu bodoh ya? Lo engga bisa ya lihat gue?” “Lihat lo?”, Bayu mulai paham kemana arah pembicaraan ini, “Lihat lah, lo kan segede gini, masak gua engga lihat?” “Please take it seriously, Bay”, Kei menatap Bayu tajam. “Oke, mau lo apa?” “Mau lo untuk tahu” “Tahu tentang apa?” “Lo tahu, Bay, kopi adalah pahit yang manis” “Maksud lo” “Seperti segelas kopi, perasaan gue dengan lo” “Perasaan?” “Tantri cerita tentang kencan kalian” “Ah”, Bayu mencapai ke sebuah pemahaman nyata. “Gue terluka, Bay. Karna selama ini gue diam. Tapi tolong, lihat aku sekali aja, Bay. Lihat perasaanku ke kamu dan berhenti bersikap menghindar dariku” “Gue engga menghindar dari lo” “Ya, Bay, kamu menghindar dariku, kamu cuma pura-pura engga tahu, aku benci sikap munafikmu itu” “Sekarang mau lo apa?” “Aku cuma pingin kamu tahu, aku engga ingin bertemu Tantri lagi” “Kenapa? Karna gue suka dia dan dia suka gue? Kita belum jadian” “Apa perlu sebuah status buat lo?” “Kei…” “Sikapku kekanakan ya? Tapi bagaimana caranya aku bisa menerima sakitnya tahu kalau kalian saling menyukai?” “Kei….” “Aku mencintai kamu, Bay, bukan suka, tapi cinta, tapi yang kamu lihat selalu bukan aku, selalu perempuan-perempuan lain” Bayu menunduk, bukan karna perasaan bersalah, tapi cara Kei membawanya ke situasi ini. Kei selalu terlalu angkuh untuk mengakui itu sebelumnya, tapi dia memang tahu apa yang dirasakan Kei. “Aku sudah memaafkan kamu, Bay. Juga memaafkan Tantri untuk perasaannya ke kamu” “Maaf?” “Aku engga menyalahkan kalian atas semua ini. Ini bukan suatu kesalahan kan? Kalian punya hak untuk itu” “Jangan menyukai gue” “Bay, kamu engga punya hak untuk melarangku, aku tidak meminta apa pun dari kamu, Bay. Kamu engga akan pernah bisa mengerti aku, karna bukan aku yang isi hati kamu, juga bukan Tantri. Kamu cuma sedang menebak-nebak kemana arah permainanmu. Berhentilah bermain, Bay” “Kamu….” “Aku engga tahu apa yang sebenarnya ada di hatimu, Bay. Aku memang engga bisa membaca hatimu, kalau aku bisa, aku pastilah sudah menangis karna tersiksa. It’s not because you don’t love me, it is cause I love you”   What do I do to make you want me  What have I got to do to be heard  What do I say when it's all over  And sorry seems to be the hardest word    Sepotong lagu mengalun seakan menjadi saksi keduanya, dan segelas kopi di tangan masing-masing semakin mendingin, seperti dingin yang telah menyekat keduanya. Hanya cinta yang diinginkan Kei, hanya Bayu yang dicintainya.   My lovely bedroom, March, 1st 2012
    Banar


    bangun+rumah 's link
    Kadang seorang mampu berkata, aku bercita cita ingin menjadi dokter, atau menjadi pengacara, atau apalah yang lain. Tapi, itukah cita cita?   Baiklah, apapun definisi cita cita, cobalah sedikit membaca tulisan ini. Bukan tulisan yang menarik memang, tapi lumayan untuk direnungi. Tulisan tentang "keinginan"   Satu cara termudah untuk mengetahui apa keinginan kamu adalah... Bayangkan kamu adalah seseorang yang sangat berlimpah harta dan waktu, tak perlu kerja dan tak perlu belajar. Semua yang kamu inginkan akan terkabul. Dengan keadaan seperti di atas, apa yang ingin kamu lakukan? tetap ingin jadi dokter kah? pengacara? insinyur? atau sebenernya kamu ingin pergi bertualang keliling dunia? ingin bersama kekasihmu ke Paris? atau pergi haji setiap tahun bersama kerabat kerabatmu?   mana yang menurutmu sebuah keinginan? well, apapun pilihanmu, itu adalah sebuah keyakinan.     tetapi, jawaban terburuk adalah TIDAK TAHU. Seorang terburuk adalah yang tidak tahu keinginannya. tidak tahu kemampuannya. tidak tahu apa kelemahannya. Seorang yang hidup karena perkataan orang lain. Seseorang yang kesehariannya digerakkan omongan orang lain, digerakkan peraturan, digerakkan deadline, digerakkan tugas, digerakkan semua hal yang sesungguhnya dia tidak ingin terbelenggu. Seorang yang sesungguhnya telah mati jiwa.   Dimana kita dapat menemukan orang seperti ini? Setiap hari, setiap waktu, setiap kali berjalan, setiap kali melihat. Kamu melihatnya. Conto gampang, orang orang yang harus bangun pagi buta, hanya untuk mempersiapkandiri ke kantor. Pulang malam harus lembur. Sampai rumah telat karena macet. Setiap hari menjadikan dirinya budak, tanpa ia sadari. Saya yakin (beberapa kamu mungkin juga), mereka sesungguhnya tidak mengharapkan itu. Mereka jenuh. ingin istirahat. Bukan, bukan istirahat. Mereka ingin berhenti, namun tidak sanggup. Apa daya, hidup telah mempermainkan.     Lalu siapa orang yang mampu hidup sesuai keinginannya? Tidak mudah memang menentukan siapa contohnya. Tapi gambaran termudah adalah, orang yang bekerja karena dia mencintai pekerjaannya. Orang yang bekerja bukan karena uang. Orang yang bekerja, yang tanpa uang pun dia tetap melakukan kegiatannya itu. Atau mungkin lebih tepat disebut, orang yang berkarya.   Dimana dirimu sobat? Hidupkah? 

    Powered by WordPress SEO Tools

    Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>