desain rumah minimalis modern
Design/Desain Rumah Minimalis Modern menjadi trend atau gaya zaman kini dan hal tersebut tak asing lagi bagi kebanyakan orang. dikarenakan Penyebutan rumah didefinisikan para ahli sebagai bangunan yang dijadikan tempat tinggal baik manusia maupun hewan (umumnya lebih disebut sebagai sangkar, kandang, sarang) yang ditempati selama jangka waktu tertentu baik karena usia bangunan maupun karena alasan lainnya. dan juga dalam artiannya terdapat Penekanan dalam artian khusus, rumah dianggap atau mengacu pada konsep-konsep sosial-kemasyarakatan (civil society) yang terjalin di dalam bangunan tempat tinggal, seperti keluarga, tempat beraktivitas, tempat bertumbuh, tempat belajar, makan, tidur, dll. Penyebutan rumah dalam bentuk adalah sebuah bangunan yang mempunyai atau dibatasi dinding dan atap serta memiliki jalan masuk yang disebut pintu, yang dapat dilengkapi dengan jendela. Lantainya bisa dibuat dari berbagai media seperti tanah, keramik, papan, ubin, dll.
Sebelum anda memilih desain rumah minimalis yang modern, anda mesti mengetahui Ciri desain minimalis kontemporer/modern. sehingga anda tidak salah dalam memilih. desain rumah minimalis modern adalah hanya menampilkan elemen desain bangunan/rumah seperlunya saja, sambungan bidang yang sempurna tegas, penataan cahaya (terkait juga dengan arsitektur lingkungan hijau), ruang terbuka dan jendela yang besar, atap datar atau nyaris datar, penampilan struktur bangunan yang elegan/sederhana/lugas/tegas, penggabungan beberapa ruangan/space untuk efisiensi hidup.
selain itu juga ada hal yang harus anda juga perhatikan, yaitu faktor- faktornya yang mendukung keberhasilan membangun rumah minimalis yang modern agar mendapat hasil yang maksimal. berikut Beberapa faktor/tips membuat bangunan dengan design rumah minimalis kontemporer/modern : Tata ruang bangunan/rumah yang efisien dan efektif, fungsional, fleksibilitas, dengan sirkulasi manusia, barang dan udara yang cepat dan tepat, space/ruangan multifungsi (mengingat lahan umumnya tidak besar). Unsur-unsur (elemen) bangunan yang tegas, lugas, tegak lurus, penggunaan bidang dan bahan yang tepat. Bangunan simple sederhana yang proporsional, komposisi, warna yang tidak monoton. Adanya konsep arsitektur lingkungan hijau (tropis) sehubungan dengan usaha pengurangan dampak pemanasan global Penggunaan bahan tahan lama dan kuat mengingat bangunan umumnya menggunakan “dak” atap datar yang terbuka sehingga kurangnya perlindungan terhadap elemen struktur bangunan. Kurangi ornamentasi sebagai anutan gaya rumah klasik. Pemilihan bentukan interior dan furniture yang digunakan sesuai. Dukungan bentukan lansekap (taman/halaman/lingkungan) secara keseluruhan. Perhatikan budget/anggaran. semoga dengan adanya pengetahuan tentang rumah minimalis modern dapat berguna bagi anda.
Incoming search terms:
minimalis modern (25);rumah minimalis modern 2013 (25);design rumah burung walet (22);design rumah modern (18);rincian biaya pembuatan rumah minimalis (16);type rumah minimalis modern (13);model rumah minimalis modern 2012 (12);model rumah minimalis modern 1 lantai (12);rincian biaya bangun rumah minimalis (11);pelan rumah minimalis modern 1 lantai (10);contoh rab rumah type 40 2013 (10);biaya bangun rumah yogyakarta 2013 (10);rincian biaya rumah type 36 (9);model tegel rumah (9);rumahminimalisukuran8x12 (7);rab pembuatan pagar rumah (7);type rumah sederhana dan total biaya serta rincianya bahan bangunan (6);model tehel rumah (6);tehel rumah minimalis (5);denah rumah minimalis ukuran 8x20 (5);biaya bangun rumah tahun 2013 (4);Desain dan Biaya bikin rumah diatas tanah 15x20 (4);biaya ngedak rumah 2013 (4);rumah modern tahun 2013 (4);rumah1lantai (4);rincian biaya pembuatan pagar minimalis (3);Tanah 4 tumbak habis berapakah kalau di bangun sebagai rumah (3);rincian anggaran biaya rumah modern (3);rincian biaya bikin rumah tipe 45 (3);denah rumah ukuran 8x12 dan material yang dibutuhkan (3);contoh rab renovasi rumah 2013 (3);harga tehel rumah (3);harga pembuatan rumah minimalis ukuran 8x12 m (3);estimasi biaya pembangunan rumah tipe 45 (3);gambar rumah minimalis terbaru ukuran 8x12 (3);estimasih pembangunan rumah klasik minimalis dua lantai (3);denah rumah minimalis ukuran 8x12 (3);gambar rumah sederhana beserta rincian material (3);biaya bangun rumah tipe 45 2013 (3);cara membuat rumah type 70 dua tingkat (3);desain rumah minimalis modern 4 tumbak (2);BerApA mOdal membUAt rUmah PapAn (2);desain rumahtingkat ukuran 36 meter (2);biaya membangun rumah di yogyakarta (2);gambar rumah minimalis2013 (2);biaya membangun rumah minimalis 4 tumbak (2);gambar kamar mandi minimalis terbaru tahun 2013 dengan ukuran 1 5 x 2 meter (2);desain rumah minimalis modern dgn luas tanah 90 dan biaya murah (2);harga bangunan disolo (2);contoh rumah modern type 21 (2);contoh RAB rumah type 63 terbaru (2);biaya bangun rumah tipe 36 di jogja (2);contoh gambar rumah ukuran dan prakiraan biaya (2);desain rumah tipe 36 beserta rincian harganya (2);gambar rumah minimalis modern 3 kamar komplit dengah denah (2);gambar rumah walet ukuran 5x6 lantai2 (2);biaya membangun rimah minimalis ukuran 9 x 12 (2);design rumah minimalis ukuran 8x12 (2);biaya bikin rumah minimalis sederhana tpe 58 (2);lemari pakaian minimalis modern (2);m youtube com/anggaran biaya untuk rumah type mini (2);contoh RAB rumah type 40 (2);FHOTO DONGHAE MEMAKAIKAN CELANA DALAMPADA YURI DAN MEMEGANG PAYUDARA YURI (2);model bangunan ruko mini (2);anggaran membuat rumah type36 (2);denah rumah 8x6 (2);anggaran biaya rumah tipe 70 (2);model ruko 2013 di jakarta (2);anggaran biaya pembangunan rumah di tahun 2013 untuk type rumah 45 di yogyakarta (2);analisis biaya bangunan rumah walet (2);desaign rumah dengan luas 11x12 meter dengan 3 kamar tidur (2);analisa biaya bangun rumah minimalis (2);budget bahan bangunan rumah satu atap type 70 (2);membuat rumah minimalis habis dana berapa? (2);cari biaya bangun rumah ukuran8x6 (2);desain rumah minimalis 4 kamar dengan rab nya (2);bahan untuk membangun rumah ukuran7 x 9 (2);bangunan rumah sederhana type 70 minimalis (2);gambar ngebangun ruko (2);denah dan gambar murah rumah minimalis 1 lantaisederhana biaya (2);membangun rumah modern kontempore dengan rincian biaya (2);taksiran biaya membangun rumah ukuran 5x20 (2);taksiran biaya rehab rumah (2);taksiran pembuatan rmh 9*6 (2);tangga rumah mlnlmalis (2);tata ruang rumah type 42 (2);skets rumah dan rincian harganya (2);rincian beaya utk rumah type 70 (2);rumah rsh type 36 (2);rumah minimalis serta rincian sketsanya (2);rumah tingkat di lahan 8x12 (2);rincian bahan bagunan untuk rmh tipe 36 (2);rumah minimalis di tanah 15x20 type 90 (2);rencana anggaran belanja rumah tipe 54 tahun 2013 (2);rab rumah tipe 54 thun 2013 (2);rincian bahan rumah ukuran 8x12 (2);rumah dan rincian materialnya (2);tehel rumah (2);rincian biaya pengembangan rumah tipe 21 (2);rincian biaya rumah minimalis (2);www budgetpembuatan rumahkos (2);rab bangun rumah type 45 (2);model rumah nimimalis 1 lantaidi klaten ukuran 8 x 15 (2);perkiraan bahan bangunan rumah sederhana (2);model rumah minimalis2013 (2);perkiraan biaya bangun rumah type 36 (2);rincian rumah minimalis (2);rumah dan biayanya (2);uraian biaya untuk pembuatan rumah type 54 (2);rincian biaya membuat pagar rumah (2);total biaya bangun rumah type 36 tahun 2013 di yogyakarta (2);rumah 2 lantai 6 x 12 tropis (2);rincian detail bahan dan harga pembuatan rumah type 45 (1);Rumah minimalis sederhana depan 8 m panjang 12 habis uang berapa? (1);rumah minimalis lantai satu dan rincian biaya (1);rincian dana rehab rumah lantai 2 (1);rincian harga bahan rumah kayu minimalis (1);rumah minimalis dan rinciannya (1);RUMAH LANTAI UKURAN 8X12 LETER U (1);rumah contoh minimalis T36 (1);rumah dua lantai sederhana moderen minmalis (1);rumah indah ukuran 8x12 dan anggarannya (1);rincian pembuatan rumah (1);rincian keuangan membuat pagar minimalis (1);rumah klasik dua lantai (1);rincian harga rumah tipe 7 kali 9 (1);rincian harga buat rumah tipe 36 2013 m (1);rincian harga bangun rumah minimlais luas bangunan 70m2 (1);rumah kontemporer yang murah (1);rumah mlnlmalis (1);rumah sederhana 4x6 (1);tombak layar minimalis (1);total biaya untuk rumah ukuran 8x12 (1);trend 2013 taman mungil untuk rumah type 54 (1);Type rumah 6-9 (1);ukuran 4x6 rumah walet papan (1);Ukuran 6*9 Rumah minimalis (1);Ukuran rumah 6*9 habis biaya brp? (1);ukuran rumah 6:9 sederhana habis biaya berapa (1);ukuran ubin untuk rumah tipe 21 (1);ukuran ubin yang cocok untuk ruangan 8x12 (1);www arsitek estimasi biayaya pembangunan ruko minimalis 2 lantai 10x15 meter (1);www arsitek ruko 2 lantai ukuran 10x14 meter anggaran biayaya nya di perlukan (1);www Biaya rumah minimalis com (1);www koleksi gambar rumah kayu 6-kali12 (1);www rincian biaya membuat rumah minimalis moder (1);tips membuart ruko cantik dengan biaya murah (1);tipe rumah 6*9 (1);tehel dinding grasi rumah mini malis (1);rumah sederhana minimalis dengan rincian bangunannya (1);rumah sedrhana tp ilegen ukuran 8x12 dg 4 kamar (1);rumah tingkat ukuran 8*6 (1);rumah tipe 45 beserta RAB nya (1);rumah type 2 ukuran 8 ubin (1);rumah ukuran 8 x 12 5 minimalis 2 muka (1);rumah1lantai ukuran8x12 (1);warna tehel untuk teras (1);sedarah ibu kuyg cantik (1);sesain rumah minimalis 3 kamar serta perincian harga (1);sket dan gambar rumah minimalis ukuran 8x12 (1);sketsa rumah dan perincian harganya (1);taksiran biaya membuat ruko (1);taksiran biaya pembangunan rumah 8x20 meter (1);Tegel Rumah (1);yhs-imageadvantage (1);model rumah minimalis ukuran 5 x 20 (1);perkiraan biaya pembangunan sarang burung walet (1);Perkiraan biaya rumah minimalis degan ukuran 6 kali 14 meter (1);perkiraan biaya untuk membuat rumah lantai 2 luas 70 m (1);perkiraan budget pembangunan rumah ukuran 5 x 6 (1);perkiraan dana membangun rumah 8x12 meter (1);perkiraan dana rehap rumah minimalis tipe 21 (1);perkiraan harga membangun rumah 7 x 8 (1);perkiraan harga membuat rumah tipe21 (1);perkiraan rab bangun ruko 2013 (1);perkiraan RAB renovasi rumah tahun 2013 (1);perumahan type 42 ukuran berapa (1);prediksi bahan banguan rumah (1);rab bangun rumah 2013 (1);rab bangun rumah tahun 2013 (1);perkiraan anggaran bangun rumah 8 X 12 meter (1);rab bangun rumah ukuran 6 X 12 tahun 2013 (1);RAB membangun rumah T36 (1);perkiraan biaya pembangunan rumah ukuran 4x6 (1);perkiraan biaya pembangunan rumah minimalis 4 kamar tidur (1);perkiraan bahan bangunan rumah (1);model rumah tahun 2013 dan biaya pembuatanya (1);model rumah tingkat 2 minimalis lengkap dengan anggaran dananya (1);model rumah type6*9 (1);model rumah ukuran 8 x 21 (1);model tehel (1);modelrumah ukuran 8x12 (1);motip rumahruko dan desain minimalis dua lantai (1);pembuatan tangga rumah minimalis brp lama? (1);penataan ruang rmh type 54 (1);pengembangan rumah 7 x 20 minimalis (1);pengembangan rumah 8x12 (1);perincian bangun rumah minimalis modern (1);perincian pengeluaran untuk membangun rumah 50meter (1);perincian rumah murah (1);perkiraan anggaran bangun lantai 1 ditahun 2013 (1);perkiraan anggaran biaya membangun rumah 50 meter thn 2012 (1);perkiraan anggaran membuat rumah minimalis type 36 (1);rab renovasi rumah 2 lantai (1);rab rumah minimalis modern 3 kamar tidur terbaru (1);RAB RUMAH RSH TYPE 36 (1);rincian bahan rumah type 90 lengkap dengan biaya tahun 2013 (1);rincian bahan untuk bangun rumah (1);rincian bahan yang dibutuhkan untuk bangun rumah (1);rincian biaa membangun rumah minimalis (1);rincian biaya bangun rmh type 100 (1);rincian biaya buat rumah minimalis tipe 45 (1);rincian biaya dan bahan bangunan rumah tipe 54 (1);rincian biaya material pagar 5x6 (1);rincian biaya membuat pagar tembok (1);rincian biaya membuat rumah minimalis (1);rincian biaya ngedak (1);rincian biaya pembuatan pagar (1);rincian biaya pembuatan pagar rumah (1);rincian biaya pembuatan rumah 2 lantai ukuran 60x80 (1);rincian biaya pembuatan rumah ukuran 7 x 14 (1);rincian biaya untuk membangun rumah tingkat (1);rincian biaya untuk membuat rumah minimalis sederhana (1);Rincian bahan dan total biaya untuk bangunan ruko satu pintu (1);rincian bahan bangunan rumah type 36 (1);rincian bahan / biaya rehab rumah ukuran 7m x 8 m (1);rab rumah tahun 2012 (1);rab rumah type 42 (1);Rancangan/denah rmh dgn luas rmh 3tumbak (1);rehab rumah tegel (1);rencana anggaran biaya rumah type 54 tahun 2013 (1);renovasi rumah tipe 58 (1);rify rio ify montok mulus paha susu (1);rify rio ify payudara mulus montok kencang ify (1);rincia biaya bangun rumah 1 lantai ukuran 7x14 (1);rincian anggara biaya rumah tipe 70 (1);Rincian anggaran bangun rumah (1);rincian anggaran biaya membangun rumah minimalis 2013 bandung (1);rincian anggaran ningkat rumah (1);rincian anggaran renovasi rumah murah tipe 36 (1);rincian anggaran rumah sederhana type 36 (1);rincian anggaran untuk membangun rumah tipe 36 (1);rincian anggatan biaya pembangunan rumah ukuran 7x14 (1);rincian dana pembuatan rumah dgn 2 kamar (1);disein rumah empat kamar beserta rincian dana pembangunannya (1);estimasi biaya konstruks bangunan 8x12 lantai 2 (1);estimasi biaya membangun rumah ukuran 8 X 12 (1);design rumah modern minimalist ukuran 6*9 (1);estimasi biaya pembangunan pagar minimalis (1);design rumah tingkat minimalis t36 (1);desains rumah minimalis 2013 (1);Detail material untuk bangunan rumah ukuran 4x6 (1);disain rumah dan rincian biayayanya (1);detail rincian gambar rumah (1);disain rumah 8x12 5 tingkat (1);estimasi biaya cor dak ukuran 8x 12 (1);estimasi biaya bangun rumah 2 lantai ukuran 6 x 12 (1);design rumah 11 tumbak (1);disain rumah minimalis 4kamar tidur 1lantai diatas tanah 15x20 m (1);desain-rumah-minimalis-ukuran-5x20 (1);desain untuk bikin rumah dgn ukuran tanah 10 x 20 (1);desain rumah beserta rab pembuatannya (1);desain rumah beserta jadinya 7x14 (1);desain rumah berikut perincian bahan yang di butuhkan (1);Desain rumah dengan luas 5 tumbak (1);desain rumah 8x12 4 kamar (1);desain rumah 5x20 (1);desain rumah 1 tumbak (1);desain ruko satu lantai terbaru biaya murah (1);desain dan denah rumah type 90 modern tropis (1);desain dalam rumah untuk ukuran 5tumbak (1);desain 5x20 meter (1);desaign rumah minimalis bersama rincian dana pembangunannya (1);desaen rumah minimalis sekalian rincian haraga barang (1);DENAH TATA RUNG rumah minimalis modern TIPE 63 (1);desain rumah dan biaya tipe 54 (1);Desain rumah dan perician dana (1);minimalis thn2013 (1);desain rumah luas 90 myr minimalis (1);desain rumah ukuran 5 x 20 beserta rincian biayanya (1);desain rumah tinggal terbaru dan perincian nya (1);desain rumah satu lantai beserta rincian biayai (1);desain rumah modal 70 jt (1);desain rumah minimalis modern ukuran panjang 9 meter x 7 meter (1);desain rumah minimalis modern 2013 taman nya besar (1);desain rumah minimalis lengkap dengan rincian harga (1);desain rumah minimalis dan rincian biaya (1);contoh denah rumah minimalis luas 18 tumbak (1);desain rumah minimalis 3kamar tahun2013 (1);desain rumah minimalis 3 kamar 1 lantai 8x12 (1);desain rumah dua lantai dan perincian biaya (1);desain rumah diatas tanah 5 tumbak (1);denah rumah ukuran 8x12 meter minimal 3 tempat tidur (1);foto rumah tife 70 yautube com (1);membangun rumah t 4o perincian biaya keseluruhannya (1);matrial bagunan ukuran rumah6×9 (1);macam2 model rumah 8x20 (1);macam2 model rmh 8x20 (1);macam-macam tata ruang rumah ukuran 6*9 (1);macam-macam desain rumah minimalis dengan 1 lantai anggaran murah (1);macam macam skema bngunan rumah beserta tipenya (1);jumlah dana untuk bangun rumah 7kali 10 (1);Jumlah dana dan matreal untuk menbuat rumah minimalis sederhana (1);jumlah dana anggaran untuk bangun rumah tingkat (1);image mode keramik terbaru beserta harga nya (1);Harga rumah minimalis bertingkat padang (1);harga renopasi rumah minimalphs 1 lantai (1);bentuk rumah minimalis 8x12 (1);Harga keramik lantai mei 2013 yogyakarta (1);membangun rumah tingkat 2 dengan luas tanah 63m (1);membuat bangunan dengan ukuran 4x6 (1);membuat rumah 8x6 (1);model rumah minimalis dan perkiraan habis modal (1);model rumah minimalis 2013 beserta ruangnya (1);model rumah lantai 1tipe 70 an (1);model rumah dengan luas 8 x 12 meter (1);model rumah dan rinciannya (1);model rumah dan daftar rincian material (1);model pintu pagar minimalis untuk sekolah TK (1);model gambar rumah 1 lantai ukuran tanah 8x12 sederhana tapi elegan 3 kamar tidur 1 ruang tengah 1 dapur (1);model dan denah rumah 6×9m (1);MODEL BANGUNAN MINIMALIS MATRIALNYA (1);model atap rumah ukuran 8x6 (1);model atap rumah ukuran 5x20 (1);model atap rumah minimalis2013 (1);modal membuat rumah tipe 76 (1);Membuka rumah minimalis sederhana dengan 5 kamar 3 ruangan (1);harga bikin rumah sederhana modern (1);habis berapa bangun rumah minimalis (1);gammbar denahruumah 8x6 (1);gambar model rumah modern dan jumlah rincian anggaran (1);gambar rumah tipe 6 kali12 (1);gambar desain rumah 5x20 meter (1);gambar desain denah rumah tpe 70 (1);gambar Denah Rumah type 90 luas tanah 15x20 minimalis (1);gambar denah rumah 4x6 dan rab (1);gambar contoh rumah minimalis berikut harga total bahan bangunan (1);gambar bangunan rumah dengan rincianya (1);galeri gambar rumah minimalis ukuran 7/rt (1);foto2 rumah minimalis serta byaya pembuatanya (1);foto rumah minimalis dan tata ruangnya (1);estimasi harga rumah terkini (1);estimasi harga ngedak lantai (1);Estimasi harga bangunan minimalis type 45 (1);estimasi biaya pembuatan pagar rumah (1);gambar pagar tk (1);gambar ruko minimalis 2lantai dg ukuran 7kali 8 m dg 2 (1);Gambar rumah beserta rinciannya (1);gambardan harga rumah minimalis type 36 beserta rincian dana pembangunan (1);gambaran desain muka gedung taman kanak-kanak sederhana (1);gambar2 rumah minimalis sederhana ukuran 6*9 (1);gambar sketsa rumah ukuran 3 tumbak (1);gambar sketsa rumah minimalis ukuran 8x20 (1);gambar sketsa podasi rumah tinggal 2 lantai dan bahan matrialnya (1);gambar rumah ukuran 6x10 bertinkat 2 (1);gambar rumah type36 2012 (1);gambar rumah tipe 6-9 (1);gambar rumah minimalis modereng ukuran 8 x 20 dua tingkat (1);gambar rumah minimalis dan tata ruangnya (1);gambar rumah minimalis badget 70 jt (1);gambar rumah minimalis 8x12 dua muka (1);gambar rumah dan habisnya biaya pembuatanya (1);gambar rumah beserta ukuran dan taksiran bahan (1);estimasi biaya pembangunan rumah tipe 21 (1);biaya pembangunan rumah klasik (1);biaya bangun rumah type 36 di jogja (1);biaya bangun rumah tipe 50 di jogja (1);biaya bangun rumah tingkat2 tahun 2013 (1);biaya bangun rumah minimalis ukuran 8 kali 12 (1);biaya bangun rumah minimalis 2013 yogyakarta (1);biaya bangun rumah diatas tanah 5 tumbak (1);biaya bangun rumah 7kali 10 (1);biaya bangun ruko dak 1 lantai ukuran 8x12 (1);biaya bahan rumah minimalis type 45 (1);bestek rumah tipe 21 di jogja (1);berpa anggaran harga ngebangun rumah 36m 2013 (1);Berapa rata2 ukuran tipe rumah minimalis (1);berapa papan dan tiang untuk ukuran rumah tipe dua tumbak (1);berapa lama waktu bangun rumah modern minimalis (1);Berapa biaya rumah ukuran 4x6 (1);berapa biaya buat rumah ukuran 7 kali 12 (1);biaya bangun rumah type 45 th 2013 (1);biaya bangun rumah ukuran 10 x 15 tahun 2013 (1);biaya bangun rumah ukuran 6 x 9 meter (1);biaya membuat rumah minimalis 6 x 14 m (1);Biaya membangun rumah ukuran 12*9 (1);biaya membangun rumah di jogja 2013 (1);biaya membangun rumah bertingkat tahun 2013 (1);BIAYA MEMBANGUN RUKO YANG MURAH (1);biaya memasang keramik lantai rumah 8x12 (1);biaya hemat membuat ruko (1);biaya dan pembuatan rumah minimalis dan klasik (1);biaya dag papan rumah tipe 36 (1);Biaya buat rumah minimalis 6 kali 11 (1);biaya buat rumah di solo (1);Biaya bikin rumah tipe 4x6 (1);biaya bikin pondasi rumah ukuran 8x6 2013 (1);biaya bikin dak ukuran 6x12 (1);biaya bikin bangunan 4x6 (1);biaya bikin atap 4x6 (1);berapa biaya bikin rumah minimalis 6 kali 9 (1);berapa biaya bangunan ruko 2 lantai 8x12 (1);berapa anggaran standar untuk membangun rumah tingkat tipe 90? (1);anggaran rumah type 70 (1);anggaran rumah tipe 70 (1);anggaran rumah papan ukuran 4x6 meter (1);anggaran rumah minimali type 21 2 lantai (1);anggaran rehab rumah tipe 45 (1);anggaran pembuatan rumah type 36 minimalis (1);anggaran membangun rumah tipe 54 (1);anggaran keuangan utk membuat rumah type45 dg 3 kamar tidur (1);anggaran dana untuk bikin rumah tipe 45 dan 50 model minimalis thn 2013 (1);anggaran biaya rumah minimalis modern 2 lantai jakarta (1);Anggaran bahan bangunan rumah ukuran 7m*9m (1);analisa rumah modern minimalis (1);analisa biaya membuat rumah type 12 (1);Analisa Biaya bangun Rumah tipe Minimalis luas 90 meter (1);Analisa biaya Bangun Rumah Berlantai 2 tipe Minimalis luas 90 meter (1);@jutasama com my loc:US (1);anggaranrumahminimalis (1);Arsitek Ruko Ukuran 7 x 30 2013 (1);arsitektur rumah 8x12 (1);berapa anggaran habis untuk rumah minimalis (1);Bentuk rumah Tanah 8 tumbak (1);bentuk rmah minimalis ada taman nya (1);bentuk atap rumah 8 x 12 (1);beaya untuk bangun kamar ukuran 4x6 (1);bangun rumah type 50 habis biaya (1);bahan2 dan jumlah yg di butuhkan membangun rumah type 42 (1);bahan-bahan untuk bangun rumah ukuran 90meter (1);bahan yang efisien dan efektif untuk rumah tipe 45 (1);bahan yang dibutuhkan untuk membangun rumah tipe 36 (1);bahan untuk membuat rumah ukuran 6*8 (1);bahan untuk membuat rumah tipe 6*12 (1);bagan rumah 4x6 (1);atap rumah tipe 42 mini malis (1);asumsi biaya bikin rumah minimalis type 36 (1);arsitektur rumah minimalis beserta interior dan rincian dana (1);@jutasama com loc:US (1);denah rumah ukuran 7kali 10 (1);denah dan gambar rumah milimalis 8x20 dua lantai (1);dena rumah baru ukuran tanah 6 kali 12 (1);dena rmah tipe 36 atw 5x6 (1);dana untuk bangun rumah klasik ukuran 5m x 10m (1);dana ukuran 8 kali 12 rumah minimalis (1);Dana membuat pagar rumah type 23 (1);dana 70jt bangun rumah 6x10 (1);contoh sitemap bangunan sekolah bertingkat (1);contoh rumahminimanis (1);contoh rumah ukuran 5x20 (1);contoh rumah ukuran 3 tumbak (1);contoh rumah minimalis tipe 45 tahun 2013 (1);contoh rumah minimalis modern total tanah 6 tumbak (1);contoh rumah minimalis dan rinciannya (1);contoh rincian biaya bahan rumah minimalis type 50 2013 (1);contoh rencana anggaran biaya bangunan rumah tahun 2012 (1);denah detail rumah ukuran 11 x 12 meter kamar 3 (1);denah gedung sekolah 2lantai dan rab nya (1);denah rumah 10 tumbak (1);denah rumah ukuran 7*14m beserta biayanya (1);Denah rumah ukuran 6×9 dengan 3 tempat tidur (1);denah rumah type 100 tidak bertingkat beserta RAB (1);denah rumah tropis 10x15 (1);Denah rumah sederhana estimasi biaya (1);denah rumah modern ukuran 4x6 2013 (1);denah rumah minimalis untuk anggaran 70 juta (1);denah rumah minimalis moderen ukuran 8x12 (1);denah rumah minimalis dan asumsi biaya (1);denah rumah minimalis beserta hasil fotonya (1);denah rumah minimalis 3 kamar dengan perincian budget (1);denah rumah lengkap dengan rincian biayanya (1);denah rumah dengan luasan tanah 15 ubin (1);denah rumah 8x12 4 kamar (1);denah rumah 5x20 (1);denah rumah 4x6 2lantai (1);contoh rab rumah ukuran 7 x (1);contoh rab bangun rumah tahun 2013 (1);contoh perincian buat rumah minimalis sederhana tipe 21 1 lantai (1);budget buat rumah 70 m sederhana (1);brapa budget blanja bangunan untuk buat runah minimalis (1);biyaya membuat rumah walet (1);Biyaya bikin rumah type 56 (1);bikin rumah t36 habis berapa ? (1);bikin rmah betingkat ukuran 10 x 12 habis biaya berapa (1);biaya untuk pembangunan kamar 4x6 tahun 2013 (1);biaya rumah ukuran 69 (1);BIAYA RUMAH MINIMALIS UKURAN 8*9 METER (1);biaya perkiraan rumah minimalis ukuran 45 modern (1);biaya pembuatan rumah ukuran 4x6 (1);biaya pembuatan rumah tipe 45 solo (1);biaya pembuatan rumah minimalis ukuran 8x12 (1);biaya pembuatan rumah mini (1);biaya pembuatan rumah 2013 (1);biaya pembuatan pagar tembok klasik (1);cara bikin denah rumah dengan ukuran tanah 15 x 15 (1);cara membuat dena rumah tinggal type 36 dan ukuran-ukuran ruangnya (1);cara membuat rumah sederhana tpi modern (1);contoh perincian biaya bangun rumah minimalis 7 5x20 (1);contoh membangun gambar rumah dan perkiraan habisnya (1);contoh gambar rumah sederhana dan angarannya (1);contoh gambar rumah minimalis dengan ukuran bangunan 8x12 satu lantai (1);contoh gambar rumah klasik dengan tanah 10 tumbak (1);contoh gambar bangunan dan rinciannya (1);contoh desain rumah 8x12 lengkap dg rincian anggaran (1);contoh denah rumah 5 tumbak (1);contoh denah rumah 10 tumbak (1);contoh bangunan rumah 5x20 (1);contoh bahan dan harga renovasi total ruko (1);contoh anggaran bagun rumah luas 50m (1);cerbung rify nikah (1);cari bentuk pagar minimalis untuk ruko (1);cara pembangunan rumah sederhana dengan modal satu tumbak tanah (1);cara meningkat rumah type 27 (1);biaya pembangunan rumah tipe 76 (1);
wiidiiww
Tue, 21 May 2013 19:21:56 +0000
Yakali lau pulang nyelawat langsung tidur? Gw mah ampe udh dari kampus ke monas ke blokm sampe rumah lg lu baru bangun jar ckck @izharagoza
RamdaniSahrul
Tue, 21 May 2013 19:18:25 +0000
Single bagaikan bangun rumah tanpa semen ckckc
SherynFarhanah
Tue, 21 May 2013 19:10:55 +0000
@FaidzRanger hahah. Kesian u. Pi lah tido sana. I pun esok kena bangun awal, pergi nilai, then nk cari rumah kat sana. Huhu. Tido tido tido.
yosidiarto
Tue, 21 May 2013 19:10:22 +0000
Berkhayal krn terinspirasi pasien yg meninggal krn di tolak rumah sakit, seandainya CSR BUMN dibuat bangun RS gratis. .. Mungkin ga ya. ..
MonicaDebora_
Tue, 21 May 2013 19:10:06 +0000
Bangun bangun papa di rumah, tidur di kamar<3 yey
lindaa_sindia
Tue, 21 May 2013 19:04:39 +0000
@Prastikaaa02 apaya apaya,apa ajadeh:* sekalian aja kak bangun rumah(?)
fazwabakri
Tue, 21 May 2013 19:03:30 +0000
@joijenoz Tidoqler. Esok bangun pagi kemas rumah k
nabillabalqis
Tue, 21 May 2013 19:00:03 +0000
Mengendap-ngendap ditengah malam untuk makan ituu sangat tegang, takut orang rumah pada bangun-_-
claramonalisa3
Tue, 21 May 2013 18:54:06 +0000
Gedor gedor rumah kalau gak bangun bangun, ya bakar deh biar dia bangun sekeluarga (´̯ ̮`̯ ) "@RedinaF: udah tertidur lelap diaa la :
deep_tuyyos
Tue, 21 May 2013 18:40:20 +0000
bangun hotel brooooh “@rifki_assalameh: Beli rumah, beli tanah, .........kesempatan *mainmonopoli☺”
FrederickNF
Tue, 21 May 2013 18:29:38 +0000
Cowo : bisnis properti lg booming nih. Aku ada rencana bangun rumah. Cewe : bangun rumah apa?. Cowo : bangun Rumah..Tangga.
Fhirmantaraa
Tue, 21 May 2013 18:25:14 +0000
Gpp pokok damai @rindashf: Gubuk ta RT @Fhirmantaraa: Suatu hari aku akan bangun rumah buat kita di pedesa'an yg sejuk , diantara
AmirAmirrr
Tue, 21 May 2013 18:24:02 +0000
@ArA_YuS0F haha kau budak dip. Eleh aku laa datang rumah kau. Tengahari sikit. For sure esok bangun nak luch. Aumm
rindashf
Tue, 21 May 2013 18:20:52 +0000
Gubuk ta RT @Fhirmantaraa: Suatu hari aku akan bangun rumah buat kita di pedesa'an yg sejuk , diantara (more) http://t.co/gExGO0Lijs
Fhirmantaraa
Tue, 21 May 2013 18:20:04 +0000
Suatu hari aku akan bangun rumah buat kita di pedesa'an yg sejuk , diantara sawah ladang , pohon2 yg rimbun , sungai yg bersih
Videos

Sejak Mundur, Andi Habiskan Waktu di Rumah
Adhyaksa Saya Larang Bangun Hambalang
MA Berencana Bangun Gedung 15 Lantai
(PENDEDAHAN): Tip Kewangan Irfan Khairi, Bangun semula selepas Raya HMM, TV1
Warga Tanah Tinggi Tagih Janji Jokowi Bangun Rumah Deret
Arif, Bangun Jembatan Demi 'Sekolahkan' Anak Bangsa
JEPEN BEHUMA - RS. DAYAKU RAJA (KOTA BANGUN) KALTIM
Tren Bangun Rumah Mini di California Dunia Kita Ep. Desain Ramah Lingkungan
Tokek Mampir ke Amerika Dunia Kita Ep. Rancang Bangun, Arsitektur & ...
Koleksi Seni Rancang Bangun di National Building Museum Dunia Kita #525 Ep. Rancang Bangun, ...
| Nunu Nugraha bangun+rumah 's link Proyek Gutenberg EBook Story of My Life, oleh Helen Keller Ebook ini adalah untuk penggunaan siapa pun dimana pun tanpa biaya dan dengan hampir tidak ada batasan apa pun. Anda dapat menyalin itu, memberikannya atau menggunakannya kembali di bawah persyaratan Lisensi Gutenberg Proyek termasuk dengan e-book atau online di www.gutenberg.org Judul: Kisah Hidupku Penulis: Helen Keller Tanggal Rilis: November, 2000 [EBook # 2397] Terakhir Diperbarui: 4 Februari 2013 Bahasa: Inggris Set karakter encoding: ASCII *** MULAI DARI INI Proyek Gutenberg EBOOK CERITA HIDUP SAYA *** Diproduksi oleh Diane Bean dan David Widger KISAH HIDUP SAYA Oleh Helen Keller Dengan Surat nya (1887-1901) dan Rekening Tambahan Pendidikan Nya, Termasuk Passages dari Laporan dan Surat nya Guru, Anne Mansfield Sullivan, Oleh John Albert Macy Edisi Khusus MENGANDUNG BAB TAMBAHAN OLEH HELEN KELLER Untuk ALEXANDER GRAHAM BELL Yang telah mengajar orang tuli untuk berbicara dan memungkinkan telinga mendengarkan mendengar pidato dari Atlantik ke Rockies, Saya mendedikasikan Cerita ini of My Life. ISI Pendahuluan editor Buku ini dibagi dalam tiga bagian. Kedua, cerita Nona Keller pertama dan ekstrak dari surat-suratnya, membentuk rekening lengkap hidupnya sejauh dia bisa memberikannya. Banyak pendidikan dia tidak bisa menjelaskan dirinya sendiri, dan karena pengetahuan yang diperlukan untuk memahami apa yang dia telah menulis, hal itu dianggap terbaik untuk melengkapi otobiografinya dengan laporan dan surat gurunya, Miss Anne Mansfield Sullivan. Penambahan rekening lanjut kepribadian dan prestasi Nona Keller mungkin tidak diperlukan, namun itu akan membantu untuk memperjelas beberapa ciri-ciri karakter dan sifat dari pekerjaan yang ia dan gurunya telah dilakukan. Untuk bagian ketiga dari buku Editor bertanggung jawab, meskipun semua yang berlaku di dalamnya ia berutang ke catatan otentik dan nasihat Miss Sullivan. Editor keinginan untuk mengungkapkan rasa terima kasih dan rasa syukur Miss Keller dan Miss Sullivan ke The Ladies 'Home Journal dan editor nya, Mr Edward Bok dan Mr William V. Alexander, yang telah unfailingly baik dan telah diberikan untuk digunakan dalam buku ini semua foto-foto yang diambil secara tegas untuk Journal, dan Editor berkat Nona banyak teman Keller yang telah meminjamkan surat-suratnya kepada mereka dan memberinya informasi yang berharga, terutama Mrs Laurence Hutton, yang memasok dia dengan koleksi besar nya catatan dan anekdot, Mr John Hitz, Inspektur Biro Volta untuk Meningkatkan dan Difusi Pengetahuan berkaitan dengan Tuli, dan Mrs Sophia C. Hopkins, kepada siapa Nona Sullivan menulis surat-surat menerangi, ekstrak dari yang memberikan ide yang lebih baik metode dia dengan murid nya dari apa yang sebelum diterbitkan. Tuan Houghton, Mifflin dan Perusahaan telah sopan diizinkan mencetak ulang surat Miss Keller Dr Holmes, yang muncul di "Selama Teacups," dan salah satu surat Whittier untuk Nona Keller. Mr ST Pickard, pelaksana sastra Whittier ini, silakan mengirimkan asli surat lain dari Miss Keller ke Whittier. John Albert Macy. Cambridge, Massachusetts, 1 Februari 1903. I. KISAH HIDUP SAYA BAB I Hal ini dengan semacam rasa takut yang saya mulai menulis sejarah hidup saya. Aku punya, karena itu, ragu-ragu takhayul dalam mengangkat tabir yang menempel tentang masa kecilku seperti kabut keemasan. Tugas menulis otobiografi adalah satu sulit. Ketika saya mencoba untuk mengklasifikasikan kesan awal saya, saya menemukan bahwa fakta dan terlihat mewah sama di tahun-tahun yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Wanita itu melukiskan pengalaman anak dalam fantasinya sendiri. Beberapa tayangan menonjol jelas dari tahun-tahun pertama hidup saya, tetapi "bayang-bayang penjara-rumah yang lain." Selain itu, banyak suka dan duka masa kanak-kanak telah kehilangan ketajaman mereka, dan banyak insiden sangat penting dalam pendidikan awal saya telah dilupakan dalam kegembiraan penemuan besar. Dalam rangka, karena itu, tidak harus membosankan saya akan mencoba untuk menyajikan dalam serangkaian sketsa hanya episode yang tampaknya saya untuk menjadi yang paling menarik dan penting. Saya lahir pada tanggal 27 Juni 1880, di Tuscumbia, sebuah kota kecil utara Alabama. Keluarga dari pihak ayah saya adalah keturunan dari Caspar Keller, yang berasal dari Swiss, yang menetap di Maryland. Salah satu nenek moyang Swiss saya adalah guru pertama orang tuli di Zurich dan menulis sebuah buku tentang subjek pendidikan-bukan mereka kebetulan tunggal, meskipun memang benar bahwa tidak ada raja yang tidak memiliki budak di antara nenek moyangnya, dan ada budak yang tidak memiliki seorang raja di antara nya. Kakekku, anak Caspar Keller, "memasuki" lahan yang luas di Alabama dan akhirnya menetap di sana. Saya telah diberitahu bahwa setahun sekali ia pergi dari Tuscumbia ke Philadelphia menunggang kuda untuk membeli persediaan untuk perkebunan, dan bibi saya memiliki dalam kepemilikan banyak surat kepada keluarganya, yang memberikan rekening menarik dan hidup dari perjalanan ini. Saya Nenek Keller adalah seorang putri dari salah seorang pembantu Lafayette, Alexander Moore, dan cucu dari Alexander Spotswood, seorang Gubernur Kolonial awal Virginia. Dia juga sepupu kedua Robert E. Lee. Ayahku, Arthur H. Keller, seorang kapten dalam Tentara Konfederasi, dan ibuku, Kate Adams, adalah istri kedua dan bertahun-tahun lebih muda. Kakeknya, Benjamin Adams, menikah Susanna E. Goodhue, dan tinggal di Newbury, Massachusetts, selama bertahun-tahun. Anak mereka, Charles Adams, lahir di Newburyport, Massachusetts, dan pindah ke Helena, Arkansas. Ketika Perang Saudara pecah, ia berjuang di sisi Selatan dan menjadi brigadir jenderal. Ia menikah dengan Lucy Helen Everett, yang berasal dari keluarga yang sama Everetts sebagai Edward Everett dan Dr Edward Everett Hale. Setelah perang usai keluarganya pindah ke Memphis, Tennessee. Aku hidup, sampai saat penyakit yang melarang saya mata-Ku dan pendengaran, di sebuah rumah kecil yang terdiri dari sebuah ruangan persegi yang besar dan yang kecil, di mana hamba tidur. Ini adalah kebiasaan di Selatan untuk membangun sebuah rumah kecil dekat wisma sebagai lampiran untuk digunakan pada kesempatan. Rumah seperti itu ayah saya dibangun setelah Perang Saudara, dan ketika ia menikah dengan ibuku mereka pergi untuk tinggal di dalamnya. Itu benar-benar ditutupi dengan tanaman merambat, mawar mendaki dan honeysuckles. Dari taman itu tampak seperti sebuah punjung. Sedikit teras disembunyikan dari pandangan oleh layar mawar kuning dan Smilax Selatan. Itu adalah tempat favorit bersenandung-burung dan lebah. The Keller wisma, di mana keluarga itu tinggal, adalah beberapa langkah dari kami sedikit mawar-pondok. Itu disebut "Ivy Green" karena rumah dan pohon-pohon di sekitarnya dan pagar tertutup dengan indah English ivy. Taman kuno yang adalah surga masa kecilku. Bahkan di hari-hari sebelum guru saya datang, aku merasa sepanjang persegi lindung nilai boxwood kaku, dan, dipandu oleh indera penciuman akan menemukan violet pertama dan lili. Ada juga, setelah fit dari marah, aku pergi ke menemukan kenyamanan dan menyembunyikan wajahku yang panas di daun sejuk dan rumput. Apa sukacita itu kehilangan diriku di kebun bunga, mengembara gembira dari tempat ke tempat, sampai, tiba-tiba datang pada pohon anggur yang indah, aku mengenali dengan daun dan bunga, dan tahu itu adalah anggur yang meliputi jatuh- bawah rumah musim panas di akhir lebih jauh dari taman! Di sini, juga, itu ketinggalan clematis, terkulai melur, dan beberapa bunga manis langka yang disebut lili kupu-kupu, karena kelopak mereka yang rapuh menyerupai sayap kupu-kupu '. Tapi-mawar mereka terindah dari semua. Tidak pernah saya temukan di rumah kaca dari seperti mawar jantung memuaskan Utara sebagai mawar memanjat rumah selatan saya. Mereka digunakan untuk menggantung di festoons panjang dari teras kami, mengisi seluruh udara dengan keharuman mereka, bebas dari segala bau bersahaja, dan di pagi hari, dicuci embun, mereka merasa begitu lembut, begitu murni, aku tidak bisa membantu bertanya-tanya apakah mereka tidak menyerupai asphodels taman Allah. Awal kehidupan saya adalah sederhana dan banyak seperti setiap kehidupan kecil lainnya. Aku datang, aku melihat, aku menaklukkan, sebagai bayi pertama dalam keluarga selalu begitu. Ada jumlah biasa diskusi mengenai nama bagi saya. Bayi pertama dalam keluarga itu tidak akan ringan bernama, setiap orang adalah tegas tentang itu. Ayahku mengusulkan nama Mildred Campbell, seorang leluhur yang dia sangat dihargai, dan ia menolak untuk mengambil bagian lebih lanjut dalam diskusi. Ibuku memecahkan masalah dengan memberi seperti dirinya berharap bahwa saya harus dipanggil setelah ibunya, yang nama gadis itu Helen Everett. Tapi kegembiraan membawa saya ke gereja ayah saya kehilangan nama di jalan, sangat alami, karena itu salah satu di mana ia menolak untuk memiliki bagian. Ketika menteri memintanya untuk itu, ia hanya ingat bahwa itu telah memutuskan untuk menelepon saya setelah nenek saya, dan ia memberi namanya sebagai Helen Adams. Aku diberitahu bahwa ketika saya masih di gaun panjang saya menunjukkan banyak tanda-tanda bersemangat, self-menegaskan disposisi. Segala sesuatu yang aku melihat orang lain saya bersikeras meniru. Pada enam bulan saya bisa pipa keluar "Bagaimana d'kamu," dan suatu hari saya menarik perhatian setiap orang dengan mengatakan "Teh, teh, teh" cukup jelas. Bahkan setelah penyakit saya saya ingat salah satu kata yang telah saya pelajari di bulan-bulan awal. Itu kata "air," dan saya terus membuat beberapa suara untuk kata itu setelah semua pidato lainnya hilang. Aku berhenti membuat suara "wah-wah" hanya ketika saya belajar mengeja kata. Mereka bilang aku berjalan hari saya berumur satu tahun. Ibuku baru saja mengambil saya keluar dari bak mandi dan memegang saya dalam pangkuannya, ketika saya tiba-tiba tertarik dengan bayang-bayang berkedip daun yang menari-nari di bawah sinar matahari di lantai mulus. Aku menyelinap dari pangkuan ibuku dan hampir berlari ke arah mereka. Dorongan pergi, aku jatuh dan menangis baginya untuk mengambil saya dalam pelukannya. Hari-hari bahagia tidak berlangsung lama. Satu musim semi singkat, musik dengan lagu robin dan mengejek-burung, satu musim panas kaya buah dan mawar, salah satu musim gugur emas dan merah melesat oleh dan meninggalkan hadiah mereka di kaki sebuah bersemangat, anak senang. Kemudian, pada bulan Februari suram, datang penyakit yang menutup mata dan telinga saya dan menjerumuskan saya ke dalam ketidaksadaran seorang bayi yang baru lahir. Mereka menyebutnya kemacetan akut pada perut dan otak. Dokter pikir saya tidak bisa hidup. Pada suatu pagi, bagaimanapun, demam kiri saya sebagai tiba-tiba dan misterius karena telah datang. Ada sukacita besar dalam keluarga pagi itu, tapi tidak ada, bahkan dokter, tahu bahwa saya seharusnya tidak pernah melihat atau mendengar lagi. Saya suka aku masih bingung ingatan penyakit itu. Aku terutama mengingat kelembutan dengan yang ibu saya mencoba untuk menenangkan saya dalam jam saya waling resah dan rasa sakit, dan penderitaan dan kebingungan yang saya terbangun setelah tidur setengah melempar, dan berbalik mata saya, jadi kering dan panas, ke dinding jauh dari cahaya sekali dicintai, yang datang kepada saya redup dan redup namun lebih setiap hari. Tapi, kecuali kenangan sekilas, jika, memang, mereka menjadi kenangan, semuanya tampak sangat nyata, seperti mimpi buruk. Perlahan-lahan saya terbiasa dengan keheningan dan kegelapan yang mengelilingi saya dan lupa bahwa ia pernah menjadi berbeda, sampai dia datang-saya-guru yang mengatur rohku bebas. Tetapi selama sembilan belas bulan pertama hidup saya, saya telah melihat sekilas luas, ladang hijau, langit bercahaya, pohon dan bunga yang kegelapan yang diikuti tidak bisa seluruhnya menghapuskan. Jika kita pernah melihat, "hari adalah milik kita, dan apa yang hari telah menunjukkan." BAB II Aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi selama bulan-bulan pertama setelah penyakit saya. Saya hanya tahu bahwa saya duduk di pangkuan ibuku atau menempel gaunnya saat ia pergi tentang tugas rumah tangganya. Tanganku merasa setiap objek dan mengamati setiap gerak, dan dengan cara ini saya belajar untuk mengetahui banyak hal. Segera aku merasa perlu beberapa komunikasi dengan orang lain dan mulai membuat tanda-tanda minyak mentah. Sebuah gelengan kepala berarti "Tidak" dan anggukan, "Ya," tarik berarti "Come" dan dorongan, "Pergilah." Itu roti yang saya inginkan? Lalu aku akan meniru tindakan memotong iris dan mentega mereka. Jika saya ingin ibu saya untuk membuat es krim untuk makan malam saya membuat tanda untuk bekerja freezer dan menggigil, menunjukkan dingin. Ibuku, apalagi, berhasil membuat saya memahami kesepakatan yang baik. Aku selalu tahu kapan dia berharap saya membawa sesuatu, dan saya akan menjalankan atas atau di mana pun ia menunjukkan. Memang, saya berutang kepada kebijaksanaan mencintainya semua yang cerah dan baik dalam malam panjang saya. Saya mengerti banyak tentang apa yang terjadi tentang saya. Pada lima saya belajar untuk melipat dan menyingkirkan pakaian bersih ketika mereka dibawa dari cucian, dan saya sendiri dibedakan dari yang lain. Aku tahu dengan cara ibu dan bibi berpakaian ketika mereka keluar, dan saya selalu memohon untuk pergi bersama mereka. Saya selalu dikirim untuk ketika ada perusahaan, dan ketika tamu mengambil cuti mereka, Aku melambaikan tanganku kepada mereka, saya pikir dengan mengingat samar makna gerakan. Suatu hari beberapa pria meminta ibu saya, dan saya merasa menutup dari pintu depan dan suara lain yang mengindikasikan kedatangan mereka. Pada pikiran tiba-tiba aku berlari ke atas sebelum ada orang yang dapat menghentikan saya, untuk memakai ide saya gaun perusahaan. Berdiri di depan cermin, seperti yang saya telah melihat orang lain melakukannya, saya kepala tambang diolesi dengan minyak dan menutupi wajahku dengan bedak tebal. Lalu aku menyematkan kerudung di atas kepala saya sehingga menutupi wajahku dan jatuh lipatan turun ke bahu saya, dan diikat dengan hiruk-pikuk besar putaran pinggang kecil saya, sehingga tergantung di belakang, hampir memenuhi ujung rokku. Jadi berpakaian Aku turun untuk membantu menghibur perusahaan. Saya tidak ingat ketika saya pertama kali menyadari bahwa saya berbeda dari orang lain, tetapi aku tahu itu sebelum guru saya datang kepada saya. Saya telah melihat bahwa ibu saya dan teman-teman saya tidak menggunakan tanda-tanda seperti yang saya lakukan ketika mereka ingin sesuatu dilakukan, tetapi berbicara dengan mulut mereka. Kadang-kadang aku berdiri di antara dua orang yang berbicara dan menyentuh bibir mereka. Saya tidak bisa mengerti, dan jengkel. Aku pindah bibir saya dan gesticulated panik tanpa hasil. Ini membuat saya begitu marah pada waktu yang saya menendang dan berteriak sampai aku lelah. Saya pikir saya tahu ketika saya nakal, karena saya tahu bahwa itu sakit Ella, perawat saya, menendang, dan ketika fit saya marah selesai, saya punya perasaan mirip dengan menyesal. Tapi aku tidak bisa mengingat setiap kejadian di mana perasaan ini mencegah saya dari mengulangi kenakalan ketika saya gagal untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Pada hari-hari seorang gadis kecil berwarna, Martha Washington, anak kami masak, dan Belle, seorang setter tua, dan seorang pemburu besar di hari itu, adalah teman saya. Martha Washington memahami tanda-tanda saya, dan saya jarang punya kesulitan dalam membuatnya yang sama seperti aku berharap. Aku senang untuk domineer di atasnya, dan dia biasanya diserahkan kepada tirani saya daripada risiko pertemuan tangan-ke-tangan. Aku kuat, aktif, acuh tak acuh terhadap konsekuensi. Aku tahu pikiran saya sendiri cukup baik dan selalu punya cara saya sendiri, bahkan jika saya harus berjuang mati-matian untuk itu. Kami menghabiskan banyak waktu di dapur, menguleni adonan bakso, membantu membuat es krim, menggiling kopi, berebut kue-mangkuk, dan memberi makan ayam-ayam dan kalkun yang menyerbu tentang langkah-langkah dapur. Banyak dari mereka begitu jinak bahwa mereka akan makan dari tangan saya dan biarkan aku merasakannya. Satu gobbler besar menyambar tomat dari saya satu hari dan lari dengan itu. Terinspirasi, mungkin, dengan keberhasilan Guru Gobbler, kami diboyong ke tumpukan kayu kue yang masak baru saja buram, dan makan setiap sedikit itu. Aku cukup sakit setelah itu, dan saya bertanya-tanya apakah retribusi juga menyalip kalkun. The guinea unggas suka bersembunyi sarangnya di tempat-tempat out-of-the-way, dan itu adalah salah satu kesenangan terbesar saya untuk berburu telur di rumput panjang. Aku tidak tahu Martha Washington ketika aku ingin pergi berburu telur, tapi aku akan menggandakan tangan saya dan menempatkan mereka di tanah, yang berarti sesuatu yang bundar di rumput, dan Martha selalu mengerti. Ketika kami cukup beruntung untuk menemukan sarang saya tidak pernah mengizinkan dia untuk membawa telur di rumah, membuatnya memahami tanda-tanda tegas bahwa ia mungkin jatuh dan istirahat mereka. The gudang dimana jagung tersebut disimpan, kandang tempat kuda-kuda itu disimpan, dan halaman di mana sapi diperah pagi dan malam adalah sumber putus-putusnya menarik bagi Martha dan saya. Para milkers akan membiarkan saya tetap di tangan saya pada sapi sementara mereka diperah, dan saya sering mendapat baik diaktifkan oleh sapi untuk rasa ingin tahu saya. Pembuatan siap untuk Natal adalah selalu menyenangkan bagi saya. Tentu saja aku tidak tahu apa itu semua tentang, tapi aku menikmati bau yang menyenangkan yang memenuhi rumah dan tidbits yang diberikan kepada Martha Washington dan saya untuk membuat kita tenang. Kami sedih di jalan, tapi itu tidak mengganggu kesenangan kita sedikit. Mereka memungkinkan kita untuk menggiling bumbu, memilih atas kismis dan menjilat sendok aduk. Aku menutup kaus kaki saya karena orang lain lakukan, saya tidak ingat, bagaimanapun, bahwa upacara tertarik saya terutama, juga tidak rasa ingin tahu saya menyebabkan saya untuk bangun sebelum fajar untuk mencari hadiah saya. Martha Washington memiliki sebagai besar cinta kenakalan sebagai I. Dua anak kecil duduk di beranda langkah satu sore Juli panas. Salah satunya adalah hitam seperti kayu hitam, dengan tandan sedikit rambut kabur diikat dengan tali sepatu mencuat seluruh kepalanya seperti corkscrews. Yang lainnya adalah putih, dengan rambut ikal panjang emas. Satu anak berusia enam tahun, dua atau tiga tahun lebih tua lainnya. Anak muda itu buta-itu saya-dan yang lain adalah Martha Washington. Kami sedang sibuk memotong boneka kertas, tapi kami segera lelah hiburan ini, dan setelah memotong tali sepatu kami dan kliping semua daun dari honeysuckle yang berada dalam jangkauan, saya mengalihkan perhatian saya untuk corkscrews Martha. Dia keberatan pada awalnya, tetapi akhirnya diserahkan. Berpikir bahwa gilirannya dan berbalik adalah fair play, dia merebut gunting dan memotong salah satu ikal saya, dan akan memotong mereka semua tetapi gangguan tepat waktu ibuku. Belle, anjing kami, teman saya yang lain, sudah tua dan malas dan suka tidur oleh api terbuka daripada untuk bermain-main dengan saya. Aku berusaha keras untuk mengajarinya bahasa isyarat saya, tapi dia kusam dan lalai. Dia kadang-kadang dimulai dan bergetar dengan kegembiraan, maka ia menjadi sangat kaku, sebagai anjing lakukan ketika mereka menunjukkan burung. Aku tidak tahu mengapa kemudian Belle bertindak dengan cara ini, tetapi aku tahu dia tidak melakukan seperti yang saya inginkan. Ini kesal saya dan pelajaran selalu berakhir dalam pertandingan tinju satu sisi. Belle akan bangun, meregangkan dirinya malas, memberikan satu atau dua menghina hirupan, pergi ke seberang perapian dan berbaring lagi, dan saya, letih dan kecewa, pergi mencari Martha. Banyak kejadian tahun-tahun awal adalah tetap dalam ingatanku, terisolasi, tapi jelas dan berbeda, membuat rasa yang diam, tanpa tujuan, kehidupan dayless semua lebih intens. Suatu hari saya kebetulan menumpahkan air di apron saya, dan saya menyebar sampai kering sebelum kebakaran yang berkedip-kedip di perapian ruang duduk. Apron tidak kering cukup cepat sesuai dengan saya, jadi saya semakin dekat dan melemparkan tepat di atas abu panas. Api melompat ke dalam kehidupan, api mengelilingi saya sehingga suatu saat pakaian saya yang berkobar. Aku membuat suara ketakutan yang membawa Viny, perawat lama saya, untuk menyelamatkan. Melontar selimut di atas saya, dia hampir mati lemas, tapi ia memadamkan api. Kecuali untuk tangan dan rambut saya tidak terbakar. Sekitar saat ini saya menemukan penggunaan kunci. Suatu pagi aku terkunci ibuku di pantry, di mana ia terpaksa tetap tiga jam, sebagai hamba berada di bagian terpisah dari rumah. Dia terus menggedor pintu, sementara aku duduk di luar di tangga teras dan tertawa dengan gembira karena saya merasakan stoples berdebar-debar. Ini lelucon yang paling nakal saya yakin orang tua saya bahwa saya harus diajarkan sesegera mungkin. Setelah guru saya, Miss Sullivan, datang pada saya, saya mencari kesempatan awal untuk mengunci di kamarnya. Aku naik ke lantai atas dengan sesuatu yang ibu saya membuat saya mengerti bahwa saya adalah untuk memberikan Miss Sullivan, tetapi tak lama setelah saya berikan kepadanya daripada aku membanting pintu, menguncinya, dan menyembunyikan kunci di bawah lemari di aula. Aku tidak bisa dibujuk untuk mengatakan di mana kunci itu. Ayah saya wajib untuk mendapatkan tangga dan mengambil Nona Sullivan keluar melalui jendela-banyak kegembiraan saya. Bulan setelah saya menghasilkan kunci. Ketika aku berusia sekitar lima tahun kami pindah dari rumah kecil tertutup anggur ke yang baru yang besar. Keluarga itu terdiri dari ayah dan ibu, dua setengah tua-saudara, dan, setelah itu, adik, Mildred. Saya ingat berbeda awal ayah saya adalah membuat jalan melalui drift besar surat kabar ke sisinya dan menemukan dia sendirian, memegang selembar kertas di depan wajahnya. Aku sangat bingung untuk mengetahui apa yang dia lakukan. Saya meniru tindakan ini, bahkan mengenakan kacamatanya, berpikir mereka mungkin membantu memecahkan misteri itu. Tapi aku tidak mengetahui rahasia selama beberapa tahun. Kemudian saya belajar apa kertas-kertas itu, dan bahwa ayahku diedit salah satu dari mereka. Ayahku adalah yang paling mencintai dan memanjakan, yang ditujukan ke rumahnya, jarang meninggalkan kami, kecuali pada musim berburu. Dia adalah seorang pemburu besar, saya telah diberitahu, dan tembakan dirayakan. Sebelah keluarganya ia mencintai anjing dan pistol. Keramahan nya besar, hampir kesalahan, dan ia jarang pulang tanpa membawa tamu. Kebanggaan khusus-Nya adalah taman besar di mana, konon, ia mengangkat semangka dan stroberi terbaik di daerah, dan bagi saya ia membawa anggur matang pertama dan buah terpilih. Aku ingat sentuhannya membelai saat dia memimpin saya dari pohon ke pohon, dari pohon anggur untuk pohon anggur, dan menyenangkan bersemangat dalam apa pun yang menyenangkan saya. Dia adalah seorang pencerita terkenal; setelah saya telah memperoleh bahasa yang digunakan untuk mengeja kikuk ke tanganku anekdot pandai, dan tidak senang dia lebih daripada harus saya ulangi kembali pada saat yang tepat. Aku berada di Utara, menikmati hari-hari indah terakhir dari musim panas 1896, ketika saya mendengar berita tentang kematian ayah saya. Dia punya sakit singkat, telah terjadi waktu singkat penderitaan akut, maka semua sudah berakhir. Ini adalah pertama besar-kesedihan saya pengalaman pribadi pertama saya dengan kematian. Bagaimana saya akan menulis ibuku? Dia begitu dekat dengan saya bahwa hampir tampaknya lancang untuk berbicara tentang dirinya. Untuk waktu yang lama saya anggap adik saya sebagai penyusup. Saya tahu bahwa saya tidak lagi menjadi satu-satunya kesayangan ibuku, dan pikiran dipenuhi dengan kecemburuan. Dia duduk di pangkuan ibuku terus-menerus, di mana aku biasa duduk, dan tampaknya mengambil semua nya perawatan dan waktu. Suatu hari terjadi sesuatu yang sepertinya saya akan menambahkan penghinaan untuk cedera. Pada waktu itu saya punya banyak-mengelus, boneka yang banyak disimpangkan, yang saya kemudian bernama Nancy. Dia, sayangnya, korban tak berdaya dari ledakan saya marah dan kasih sayang, sehingga ia menjadi jauh lebih buruk untuk dipakai. Aku punya boneka yang berbicara, dan menangis, dan membuka dan menutup mata mereka, namun saya tidak pernah mencintai salah satu dari mereka seperti aku mencintai miskin Nancy. Dia memiliki dudukan, dan saya sering menghabiskan satu jam atau lebih goyang nya. Aku telah menjaga kedua boneka dan cradle dengan perawatan yang paling cemburu, tapi setelah saya menemukan adikku tidur nyenyak dalam buaian. Pada anggapan ini pada bagian dari orang kepada siapa belum ada ikatan cinta terikat aku menjadi marah. Aku bergegas atas buaian dan atas-berubah, dan bayi mungkin telah tewas telah ibuku tidak tertangkap saat dia jatuh. Jadi itu adalah bahwa ketika kita berjalan di lembah dua kali lipat kesendirian kita tahu sedikit tentang kasih sayang dan lembut yang tumbuh dari kata-kata menawan dan tindakan dan persahabatan. Tapi setelah itu, ketika saya dikembalikan ke warisan manusia saya, Mildred dan saya tumbuh dalam hati masing-masing, sehingga kami konten untuk pergi tangan-di-tangan dimanapun caprice memimpin kita, meskipun dia tidak bisa memahami bahasa jari saya, maupun saya nya ocehan kekanak-kanakan. BAB III Sementara keinginan untuk mengekspresikan diri tumbuh. Beberapa tanda-tanda saya digunakan menjadi kurang dan kurang memadai, dan kegagalan saya untuk membuat diriku mengerti itu selalu diikuti oleh ledakan gairah. Aku merasa seolah-olah tangan tak terlihat yang menghambat saya, dan saya membuat upaya panik untuk membebaskan diri. Aku berjuang-tidak berjuang hal membantu, tapi semangat perlawanan yang kuat dalam diri saya, saya biasanya mulai menangis dan kelelahan fisik. Jika ibu saya kebetulan berada di dekat aku merayap ke dalam pelukannya, terlalu sedih bahkan untuk mengingat penyebab badai tersebut. Setelah beberapa waktu membutuhkan beberapa sarana komunikasi menjadi begitu mendesak sehingga ledakan ini terjadi setiap hari, kadang-kadang jam. Orang tua saya sangat sedih dan bingung. Kami tinggal jauh dari sekolah manapun untuk orang buta atau tuli, dan tampaknya tidak mungkin bahwa ada orang yang akan datang ke tempat seperti out-of-the-way sebagai Tuscumbia untuk mengajar seorang anak yang baik tuli dan buta. Memang, teman-teman dan kerabat saya kadang-kadang ragu apakah saya bisa diajarkan. Hanya ray ibuku harapan datang dari Dickens "Catatan Amerika." Dia telah membaca kisahnya tentang Laura Bridgman, dan ingat samar-samar bahwa ia tuli dan buta, namun telah dididik. Tapi dia juga ingat dengan pedih harapan bahwa Dr Howe, yang telah menemukan cara untuk mengajarkan tuli dan buta, sudah meninggal bertahun-tahun. Nya metode mungkin telah mati dengan dia, dan jika mereka tidak, bagaimana seorang gadis kecil di sebuah kota yang jauh di Alabama untuk menerima manfaat dari mereka? Ketika aku berusia sekitar enam tahun, ayah saya mendengar dokter mata terkemuka di Baltimore, yang telah berhasil dalam banyak kasus yang tampak putus asa. Orangtuaku sekaligus bertekad untuk membawa saya ke Baltimore untuk melihat apakah sesuatu yang bisa dilakukan untuk mata saya. Perjalanan, yang saya ingat dengan baik adalah sangat menyenangkan. Aku berteman dengan banyak orang di kereta. Seorang wanita memberiku sekotak peluru. Ayahku membuat lubang dalam sehingga aku bisa string mereka, dan untuk waktu yang lama mereka membuat saya bahagia dan puas. Konduktor, juga, adalah baik. Seringkali ketika ia pergi berkeliling aku menempel ekor mantel sementara ia dikumpulkan dan menekan tiket. Pukulannya, yang ia membiarkan saya bermain, adalah mainan yang menyenangkan. Meringkuk di sudut dari kursi saya geli sendiri selama berjam-jam membuat lubang-lubang kecil yang lucu dalam bit karton. Bibiku membuat saya boneka besar keluar dari handuk. Itu adalah hal yang paling tak berbentuk lucu, boneka improvisasi, tanpa hidung, mulut, telinga atau mata-ada yang bahkan imajinasi seorang anak bisa dikonversi menjadi wajah. Anehnya, tidak adanya mata menurut saya lebih dari semua cacat lainnya disatukan. Aku menunjukkan hal ini kepada semua orang dengan persistensi memprovokasi, tapi tak seorang pun sama dengan tugas menyediakan boneka dengan mata. Sebuah ide cemerlang, namun, menembak ke dalam pikiran saya, dan masalah ini diselesaikan. Aku jatuh dari kursi dan diperiksa di bawah sampai aku menemukan jubah bibiku, yang dipangkas dengan manik-manik besar. Saya menarik dua manik-manik off dan menunjukkan kepadanya bahwa saya ingin dia menjahit mereka pada boneka saya. Dia mengangkat tangan untuk matanya dengan cara mempertanyakan, dan aku mengangguk penuh semangat. Manik-manik yang dijahit di tempat yang tepat dan aku tidak bisa menahan diri untuk sukacita, tetapi segera aku kehilangan minat dalam boneka itu. Selama seluruh perjalanan saya tidak memiliki satu fit dari marah, ada begitu banyak hal untuk menjaga pikiran dan jari-jariku sibuk. Ketika kami tiba di Baltimore, Dr Chisholm menerima kami dengan ramah: tapi ia bisa melakukan apa-apa. Dia mengatakan, bagaimanapun, bahwa aku bisa dididik, dan menyarankan ayah saya untuk berkonsultasi Dr Alexander Graham Bell of Washington, yang akan mampu memberikan informasi tentang sekolah dan guru dari anak-anak tuli atau buta. Bertindak atas saran dokter, kami pergi langsung ke Washington untuk menemui Dr Bell, ayah saya dengan hati sedih dan banyak was-was, saya sepenuhnya sadar penderitaannya, menemukan kesenangan dalam kegembiraan bergerak dari satu tempat ke tempat. Anak seperti aku, aku sekaligus merasakan kelembutan dan simpati yang disenangi Dr Bell begitu banyak hati, karena prestasi yang mengagumkan itu meminta kekaguman mereka. Ia memegang saya di lututnya sementara aku memeriksa jam tangannya, dan ia berhasil menyerang untuk saya. Dia mengerti tanda-tanda saya, dan saya tahu itu dan mencintainya sekaligus. Tapi aku tidak bermimpi bahwa wawancara itu akan menjadi pintu yang saya harus lulus dari kegelapan menuju cahaya, dari isolasi untuk persahabatan, persahabatan, pengetahuan, cinta. Dr Bell menyarankan ayah saya untuk menulis kepada Mr Anagnos, direktur Institusi Perkins di Boston, adegan tenaga kerja yang besar Dr Howe untuk orang buta, dan bertanya apakah dia punya guru yang kompeten untuk memulai pendidikan saya. Ini ayah saya lakukan sekaligus, dan dalam beberapa minggu datanglah surat dari Bapak jenis Anagnos dengan kepastian yang menghibur bahwa seorang guru telah ditemukan. Ini adalah pada musim panas 1886. Tapi Nona Sullivan tidak datang sampai Maret berikutnya. Jadi saya datang dari Mesir dan berdiri di hadapan Sinai, dan kuasa ilahi menyentuh jiwaku dan memberikannya pandangan, sehingga aku melihat banyak keajaiban. Dan dari gunung suci aku mendengar suara yang mengatakan, "Pengetahuan adalah cinta dan cahaya dan visi." BAB IV Hari yang paling penting yang saya ingat dalam hidup saya adalah satu di mana guru saya, Anne Mansfield Sullivan, datang pada saya. Aku dipenuhi dengan heran ketika saya mempertimbangkan kontras beragam antara dua kehidupan yang menghubungkan. Itu adalah ketiga bulan Maret 1887, tiga bulan sebelum saya berusia tujuh tahun. Pada sore hari itu hari yang sibuk, aku berdiri di teras, bodoh, hamil. Saya menduga samar-samar dari tanda-tanda ibuku dan dari bergegas ke sana kemari di dalam rumah bahwa sesuatu yang tidak biasa akan terjadi, jadi aku pergi ke pintu dan menunggu di tangga. Matahari sore menembus massa honeysuckle yang menutupi teras, dan jatuh di wajah menengadah. Jemariku berlama-lama hampir tidak sadar pada daun akrab dan bunga yang baru saja maju untuk menyambut musim semi selatan manis. Aku tidak tahu apa masa depan diadakan dari keajaiban atau kejutan bagi saya. Kemarahan dan kepahitan telah dimangsa saya terus selama berminggu-minggu dan ketenangan yang mendalam telah berhasil perjuangan ini bergairah. Pernahkah Anda berada di laut dalam kabut tebal, ketika tampaknya seolah-olah kegelapan putih nyata menutup Anda di, dan kapal besar, tegang dan cemas, meraba-raba jalan ke arah pantai dengan merosot dan terdengar-line, dan Anda menunggu dengan jantung berdebar sesuatu terjadi? Aku seperti kapal itu sebelum pendidikanku dimulai, hanya aku tanpa kompas atau terdengar-line, dan tidak punya cara untuk mengetahui bagaimana dekat pelabuhan itu. "Light! Memberikan cahaya!" adalah teriakan tanpa kata-kata dari jiwaku, dan cahaya cinta bersinar pada saya di saat itu juga. Aku merasa langkah kaki mendekat, aku mengulurkan tanganku saat aku seharusnya ibuku. Beberapa orang mengambil itu, dan aku terjebak dan didekap dalam pelukan nya yang datang untuk mengungkapkan segala sesuatu kepada saya, dan, lebih dari segala sesuatu yang lain, untuk mencintai saya. Pagi hari setelah guru saya datang dia membawaku ke kamarnya dan memberiku sebuah boneka. Anak-anak kecil buta di Lembaga Perkins telah dikirim dan Laura Bridgman telah berpakaian itu, tapi aku tidak tahu ini sampai sesudahnya. Ketika saya bermain dengan sedikit waktu, Miss Sullivan perlahan dieja ke tanganku kata "boneka." Saya sekaligus tertarik pada jari ini bermain dan mencoba untuk menirunya. Ketika saya akhirnya berhasil membuat surat dengan benar saya memerah dengan kesenangan kekanak-kanakan dan kebanggaan. Menjalankan bawah untuk ibuku aku mengangkat tanganku dan membuat surat-surat untuk boneka. Aku tidak tahu bahwa aku sedang mengeja sebuah kata atau bahkan bahwa kata-kata ada, aku hanya membuat jari saya pergi di monyet-seperti imitasi. Pada hari-hari berikutnya aku belajar mengeja dengan cara ini tak mengerti banyak kata yang besar, di antaranya pin, topi, cangkir, dan beberapa kata kerja seperti duduk, berdiri dan berjalan. Tapi guru saya telah bersama saya beberapa minggu sebelum saya mengerti bahwa segala sesuatu memiliki nama. Suatu hari, ketika aku sedang bermain dengan boneka baruku, Miss Sullivan menempatkan saya boneka kain besar ke pangkuanku juga, dieja "boneka" dan mencoba untuk membuat saya mengerti bahwa "boneka" diterapkan baik. Sebelumnya pada hari itu kita punya pergumulan atas kata-kata "mug" dan "air." Nona Sullivan telah mencoba untuk mengesankan itu kepada saya bahwa "mug" adalah mug dan bahwa "air" adalah air, tapi saya tetap membingungkan dua. Dalam keputusasaan ia menjatuhkan subjek untuk sementara waktu, hanya untuk memperbaharui pada kesempatan pertama. Aku menjadi tidak sabar pada upaya yang berulang-ulang dan, merebut boneka baru, aku berlari itu atas lantai. Saya tajam senang ketika aku merasa fragmen yang rusak boneka di kakiku. Baik kesedihan atau penyesalan diikuti ledakan gairah saya. Aku tidak menyukai boneka. Dalam diam, dunia gelap di mana aku tinggal di sana tidak ada sentimen yang kuat atau kelembutan. Aku merasa guru saya menyapu fragmen ke satu sisi perapian, dan aku punya rasa kepuasan bahwa penyebab ketidaknyamanan saya telah dihapus. Dia membawa saya topi saya, dan saya tahu saya akan keluar ke sinar matahari yang hangat. Pemikiran ini, jika sensasi tanpa kata-kata dapat disebut pikiran, membuat saya melompat dan melompat dengan kesenangan. Kami berjalan menyusuri jalan ke sumur-house, tertarik oleh aroma honeysuckle dengan yang tertutup. Beberapa ada yang mengambil air dan guru saya meletakkan tangan saya di bawah cerat. Sewaktu arus dingin yang memancar, di atas tangan dia dieja ke yang lain kata air, awalnya lambat, lalu dengan cepat. Aku berdiri diam, seluruh perhatian saya terpaku pada gerakan jari-jarinya. Tiba-tiba aku merasakan kesadaran berkabut akan sesuatu yang terlupakan-getaran untuk kembali berpikir, dan entah bagaimana misteri dari bahasa terungkap bagi saya. Aku tahu saat itu bahwa "air" berarti sesuatu yang indah dingin mengalir di atas tanganku. Kata hidup terbangun jiwaku, memberikan terang, harapan, sukacita, membebaskannya! Ada hambatan masih, memang benar, tapi hambatan yang bisa dalam waktu disapu. Aku meninggalkan sumur-rumah bersemangat untuk belajar. Semuanya memiliki nama, dan setiap nama melahirkan pemikiran baru. Ketika kami kembali ke rumah setiap objek yang saya menyentuh tampaknya bergetar dengan kehidupan. Itu karena saya melihat segala sesuatu dengan aneh, pandangan baru yang datang kepada saya. Memasuki pintu aku teringat boneka saya sudah pecah. Saya merasa seperti saya untuk perapian dan mengambil potongan-potongan. Aku mencoba sia-sia untuk menempatkan mereka bersama-sama. Kemudian mata saya penuh dengan air mata, karena aku menyadari apa yang telah kulakukan, dan untuk pertama kalinya aku merasa pertobatan dan duka. Saya belajar banyak sekali kata-kata baru hari itu. Saya tidak ingat apa yang mereka semua, tapi aku tahu bahwa ibu, ayah, adik, guru di antara mereka-kata yang membuat mekar dunia bagi saya, "seperti tongkat Harun, dengan bunga." Ini akan sulit untuk menemukan seorang anak bahagia dari saya ketika aku berbaring di tempat tidur saya pada penutupan hari kejadian dan tinggal selama kegembiraan itu telah membawa saya, dan untuk pertama kalinya merindukan hari baru akan datang. BAB V Saya ingat banyak insiden musim panas 1887 yang diikuti kebangkitan tiba-tiba jiwaku. Aku tidak melakukan apapun kecuali mengeksplorasi dengan tangan saya dan mempelajari nama setiap benda yang aku menyentuh, dan semakin saya menangani hal-hal dan belajar nama dan menggunakan mereka, semakin gembira dan percaya diri tumbuh saya rasa kekeluargaan dengan seluruh dunia. Ketika waktu aster dan buttercup datang Nona Sullivan membawa saya dengan tangan di ladang, di mana laki-laki sedang mempersiapkan bumi untuk benih, ke tepi Sungai Tennessee, dan di sana, duduk di rumput hangat, aku memiliki pertama saya pelajaran dalam kebaikan alam. Saya belajar bagaimana matahari dan hujan membuat tumbuh dari tanah setiap pohon yang menyenangkan untuk dipandang dan baik untuk dimakan, bagaimana burung membangun sarang mereka dan hidup dan berkembang dari darat ke darat, bagaimana tupai, rusa, yang singa dan setiap makhluk lainnya menemukan makanan dan tempat tinggal. Sebagai pengetahuan saya tentang hal tumbuh aku merasa lebih dan lebih menyenangkan dunia aku masuk Jauh sebelum saya belajar untuk melakukan penjumlahan dalam aritmatika atau menggambarkan bentuk bumi, Miss Sullivan telah mengajarkan saya untuk menemukan keindahan di hutan harum , di setiap helai rumput, dan dalam kurva dan lesung tangan bayi saya adik. Dia terkait pikiran saya awal dengan alam, dan membuat saya merasa bahwa "burung dan bunga dan rekan-rekan saya bahagia." Tapi sekitar kali ini aku punya pengalaman yang mengajarkan saya bahwa alam tidak selalu baik. Suatu hari guru saya dan saya kembali dari mengoceh panjang. Pagi itu baik-baik saja, tapi itu tumbuh hangat dan pengap ketika akhirnya kita berpaling wajah kami pulang. Dua atau tiga kali kami berhenti untuk beristirahat di bawah sebuah pohon di pinggir jalan. Berhenti terakhir kami adalah di bawah pohon cherry liar jauh dari rumah. Teduh bersyukur, dan pohon itu begitu mudah untuk memanjat dengan bantuan guru saya saya bisa berebut untuk tempat duduk di cabang-cabang. Itu sangat keren di atas pohon bahwa Miss Sullivan mengusulkan bahwa kita memiliki makan siang kami di sana. Aku berjanji untuk tetap diam sementara dia pergi ke rumah untuk mengambilnya. Tiba-tiba perubahan melewati pohon. Semua kehangatan matahari meninggalkan udara. Aku tahu langit hitam, karena semua panas, yang berarti cahaya bagi saya, telah meninggal keluar dari atmosfer. Sebuah bau aneh datang dari bumi. Aku tahu itu, itu adalah bau yang selalu mendahului badai, dan ketakutan yang tidak dikenal mencengkeram hatiku. Aku merasa benar-benar sendirian, terputus dari teman-teman saya dan bumi perusahaan. The besar, yang tidak diketahui, merengkuh saya. Aku tetap diam dan hamil, sebuah teror mengerikan merayap di atasku. Aku merindukan kembali guru saya, tapi di atas semua hal yang saya ingin untuk turun dari pohon itu. Ada hening sejenak jahat, maka pengadukan beraneka ragam dari daun. Menggigil berlari melalui pohon, dan angin mengutus ledakan yang akan mengetuk saya off seandainya aku tidak menempel pada cabang dengan mungkin dan utama. Pohon itu bergoyang dan tegang. Ranting kecil bentak dan jatuh tentang saya di kamar mandi. Sebuah dorongan liar untuk melompat menangkap aku, tapi teror memelukku cepat. Aku berjongkok di garpu pohon. Cabang-cabang mengecam tentang aku. Aku merasakan gemuruh intermiten yang datang sekarang dan kemudian, seolah-olah sesuatu yang berat telah jatuh dan shock telah melakukan perjalanan sampai mencapai ekstremitas aku duduk di. Ini bekerja ketegangan saya sampai ke titik tertinggi, dan hanya ketika aku berpikir pohon dan aku harus jatuh bersama-sama, guru saya menangkap tangan saya dan membantu saya. Aku menempel padanya, gemetar dengan sukacita untuk merasakan bumi di bawah kaki saya sekali lagi. Saya telah mendapatkan pelajaran-yang baru alam "upah perang terbuka terhadap anak-anaknya, dan di bawah sentuhan paling lembut menyembunyikan cakar berbahaya." Setelah pengalaman ini, itu adalah waktu yang lama sebelum aku memanjat pohon lain. Pikiran hanya dipenuhi dengan teror. Itu adalah godaan manis dari pohon mimosa mekar penuh yang akhirnya mengatasi ketakutan saya. Suatu pagi musim semi yang indah ketika aku sendirian di musim panas-rumah, membaca, saya menyadari aroma halus yang indah di udara. Aku mulai naik dan secara naluriah mengulurkan tangan saya. Tampaknya seolah-olah semangat musim semi telah melewati musim panas-rumah. "Apa itu?" Aku bertanya, dan menit berikutnya aku mengenali bau bunga mimosa. Saya merasa perjalanan ke ujung taman, mengetahui bahwa pohon mimosa berada di dekat pagar, pada pergantian jalan. Ya, ada itu, semua bergetar dalam sinar matahari yang hangat, cabang mekar-sarat yang hampir menyentuh rumput panjang. Apakah pernah ada sesuatu yang begitu indah indah di dunia sebelumnya! Bunganya halus menyusut dari sentuhan duniawi sedikit, tampaknya seolah-olah pohon surga telah ditransplantasikan ke bumi. Aku berjalan melewati hujan kelopak pada batang yang besar dan selama satu menit berdiri ragu-ragu, kemudian, meletakkan kaki saya di ruang yang luas antara cabang bercabang, saya menarik diri ke atas pohon. Aku punya beberapa kesulitan dalam bertahan, untuk cabang yang sangat besar dan kulit menyakiti tangan saya. Tapi aku punya rasa lezat bahwa saya melakukan sesuatu yang tidak biasa dan indah jadi aku terus naik lebih tinggi dan lebih tinggi, sampai saya mencapai kursi kecil yang seseorang telah dibangun di sana begitu lama lalu bahwa ia telah tumbuh bagian dari pohon itu sendiri. Aku duduk di sana untuk waktu yang sangat lama, merasa seperti peri di awan kemerahan. Setelah itu saya menghabiskan banyak happy hours di pohonku surga, memikirkan hal yang adil dan bermimpi mimpi cerah. BAB VI Aku sekarang kunci untuk semua bahasa, dan saya sangat ingin belajar untuk menggunakannya. Anak-anak yang mendengar memperoleh bahasa tanpa usaha tertentu, kata-kata yang jatuh dari bibir orang lain mereka menangkap di sayap, karena itu, gembira, sedangkan anak tuli harus menjebak mereka dengan proses yang lambat dan sering menyakitkan. Tapi apa pun prosesnya, hasilnya indah. Secara bertahap dari penamaan obyek kita memajukan langkah demi langkah sampai kita telah melintasi jarak yang luas antara kami pertama tergagap suku kata dan menyapu pemikiran dalam garis Shakespeare. Pada awalnya, ketika guru saya bercerita tentang hal yang baru saya bertanya sedikit pertanyaan. Ide saya adalah jelas, dan kosa kata saya tidak memadai, tetapi sebagai pengetahuan saya tentang hal tumbuh, dan saya belajar kata-kata yang lebih dan lebih, bidang saya penyelidikan diperluas, dan aku akan kembali lagi dan lagi untuk subjek yang sama, bersemangat untuk informasi lebih lanjut. Terkadang kata baru dihidupkan kembali gambar yang beberapa pengalaman sebelumnya telah terukir di otakku. Aku ingat pagi itu aku pertama bertanya arti kata, "cinta." Ini terjadi sebelum aku tahu banyak kata. Saya telah menemukan violet awal beberapa di kebun dan membawa mereka ke guru saya. Dia mencoba menciumku: tetapi pada saat itu saya tidak ingin memiliki salah satu menciumku kecuali ibuku. Nona Sullivan melingkarkan lengannya dengan lembut putaran saya dan dieja ke tanganku, "Aku cinta Helen." "Apa itu cinta?" Tanyaku. Dia memeluk saya erat dan berkata, "Di sinilah," menunjuk ke hati saya, yang mengalahkan saya sadar untuk pertama kalinya. Kata-katanya bingung saya sangat banyak karena saya tidak mengerti apa-apa kecuali kemudian aku menyentuhnya. Aku mencium bau violet di tangannya dan bertanya, setengah dalam kata-kata, setengah dalam tanda-tanda, sebuah pertanyaan yang berarti, "Apakah cinta manisnya bunga?" "Tidak," kata guru saya. Sekali lagi saya pikir. Hangat matahari bersinar pada kami. "Apakah ini bukan cinta?" Tanyaku sambil menunjuk ke arah dari mana panas datang. "Apakah ini bukan cinta?" Tampaknya kepada saya bahwa mungkin ada yang lebih indah dari matahari, kehangatan yang membuat segala sesuatu tumbuh. Tapi Nona Sullivan menggeleng, dan saya sangat bingung dan kecewa. Saya pikir itu aneh bahwa guru saya tidak bisa menunjukkan saya cinta. Satu atau dua hari sesudahnya saya merangkai manik-manik ukuran yang berbeda dalam kelompok-simetris dua manik-manik besar, tiga yang kecil, dan sebagainya. Saya telah membuat banyak kesalahan, dan Miss Sullivan telah menunjukkan mereka keluar lagi dan lagi dengan kesabaran lembut. Akhirnya saya melihat kesalahan yang sangat jelas dalam urutan dan untuk sesaat saya berkonsentrasi perhatian pada pelajaran dan mencoba untuk berpikir bagaimana saya harus mengatur manik-manik. Nona Sullivan menyentuh dahiku dan dieja dengan penekanan memutuskan, "Pikirkan." Dalam sekejap aku tahu bahwa kata adalah nama dari proses yang terjadi di kepala saya. Ini adalah persepsi sadar pertama saya dari sebuah ide abstrak. Untuk waktu yang lama saya masih-saya tidak berpikir manik-manik di pangkuanku, tetapi berusaha untuk menemukan arti dari "cinta" dalam terang ide baru. Matahari telah berada di bawah awan sepanjang hari, dan telah ada hujan singkat, tetapi tiba-tiba matahari pecah tercantum dalam segala kemegahan selatan. Sekali lagi saya bertanya kepada guru saya, "Apakah ini bukan cinta?" "Cinta adalah sesuatu seperti awan yang berada di langit sebelum matahari keluar," jawabnya. Kemudian dalam kata-kata sederhana dari ini, yang pada waktu itu saya tidak bisa mengerti, ia menjelaskan: "Anda tidak bisa menyentuh awan, Anda tahu, tetapi Anda merasa hujan dan tahu bagaimana senang bunga dan bumi haus yang memilikinya setelah . hari yang panas Anda tidak dapat menyentuh cinta baik, tetapi Anda merasa manisnya yang mengalir ke segala Tanpa cinta Anda tidak akan senang atau ingin bermain ".. Kebenaran indah meledak setelah saya pikiran saya merasa bahwa ada garis tak terlihat membentang antara rohku dan roh orang lain. Dari awal pendidikan saya Nona Sullivan membuat praktek untuk berbicara kepada saya seperti dia akan berbicara dengan setiap anak pendengaran, satu-satunya perbedaan adalah bahwa dia mengeja kalimat ke tanganku bukannya berbicara mereka. Jika aku tidak tahu kata-kata dan idiom yang diperlukan untuk mengungkapkan pikiran saya dia memasok mereka, bahkan menyarankan percakapan ketika aku tidak mampu untuk menjaga akhir saya dialog. Proses ini dilanjutkan selama beberapa tahun, karena anak tunarungu tidak belajar dalam satu bulan, atau bahkan dalam dua atau tiga tahun, terhitung jumlahnya idiom dan ekspresi yang digunakan dalam hubungan sehari-hari yang paling sederhana. Anak pendengaran sedikit belajar ini dari pengulangan konstan dan imitasi. Percakapan ia mendengar di rumahnya merangsang pikiran dan menunjukkan topik dan panggilan keluar ekspresi spontan pikirannya sendiri. Ini pertukaran alami ide ditolak untuk anak tuli. Guru saya, menyadari hal ini, bertekad untuk memasok jenis stimulus saya kekurangan. Ini dia lakukan dengan mengulangi kepada saya sejauh mungkin, verbatim, apa yang ia dengar, dan dengan menunjukkan saya bagaimana saya bisa mengambil bagian dalam percakapan. Tapi itu lama sebelum saya memberanikan diri mengambil inisiatif, dan masih lebih lama sebelum aku bisa menemukan sesuatu yang tepat untuk mengatakan pada waktu yang tepat. Orang tuli dan buta merasa sangat sulit untuk memperoleh fasilitas percakapan. Berapa banyak lagi kesulitan ini harus ditambah dalam kasus mereka yang baik tuli dan buta! Mereka tidak bisa membedakan nada suara atau tanpa bantuan, naik dan turun, mulai dari nada yang memberikan makna kata-kata, dan tidak dapat mereka menyaksikan ekspresi wajah pembicara, dan lihat sering sangat jiwa apa yang dikatakan . BAB VII Langkah penting berikutnya dalam pendidikan saya belajar membaca. Segera setelah saya bisa mengeja beberapa kata guru saya memberi saya slip karton yang dicetak kata dalam huruf dibesarkan. Aku cepat belajar bahwa setiap kata yang tercetak berdiri untuk sebuah objek, tindakan, atau kualitas. Aku punya frame di mana saya bisa menyusun kata-kata dalam kalimat sedikit, tapi sebelum aku pernah meletakkan kalimat dalam bingkai saya digunakan untuk membuat mereka dalam objek. Saya menemukan potongan-potongan kertas yang diwakili, misalnya, "boneka," "adalah," "on", "tidur" dan ditempatkan setiap nama pada objeknya, lalu aku menaruh boneka di tempat tidur dengan kata-kata adalah, pada, tidur diatur samping boneka, sehingga membuat kalimat dari kata-kata, dan pada saat yang sama melaksanakan ide kalimat dengan hal itu sendiri. Suatu hari, Miss Sullivan memberitahu saya, saya disematkan gadis kata pada pinafore saya dan berdiri di lemari. Di rak saya mengatur kata-kata, adalah, dalam, lemari pakaian. Tidak senang saya begitu banyak seperti permainan ini. Guru saya dan saya bermain selama berjam-jam pada suatu waktu. Seringkali segala sesuatu di ruangan itu diatur dalam kalimat objek. Dari slip cetak itu tapi langkah untuk buku cetak. Aku mengambil saya "Reader untuk Pemula" dan diburu untuk kata-kata saya tahu, ketika saya menemukan mereka sukacita saya adalah seperti itu dari permainan petak umpet. Jadi saya mulai membaca. Dari saat saya mulai membaca cerita terhubung saya akan berbicara nanti. Untuk waktu yang lama saya tidak punya pelajaran reguler. Bahkan ketika saya belajar dengan sungguh-sungguh yang paling tampak lebih seperti bermain ketimbang bekerja. Semuanya Nona Sullivan mengajari saya dia digambarkan oleh cerita indah atau puisi. Setiap kali sesuatu yang senang atau tertarik saya dia membicarakannya dengan saya hanya seolah-olah dia seorang gadis kecil sendiri. Apa yang banyak anak-anak pikirkan dengan rasa takut, sebagai menyakitkan lamban melalui tata bahasa, jumlah keras dan lebih keras definisi, adalah hari salah satu kenangan yang paling berharga. Saya tidak bisa menjelaskan simpati aneh Nona Sullivan telah dengan kesenangan dan keinginan saya. Mungkin itu adalah hasil dari asosiasi lama dengan orang buta. Ditambahkan ke ini dia memiliki fakultas yang indah untuk deskripsi. Dia pergi dengan cepat lebih menarik rincian, dan tidak pernah merengek saya dengan pertanyaan untuk melihat apakah aku ingat pelajaran sehari-sebelum-kemarin. Dia memperkenalkan teknis kering ilmu sedikit demi sedikit, membuat setiap subjek begitu nyata bahwa saya tidak bisa membantu mengingat apa yang ia ajarkan. Kita membaca dan mempelajari keluar dari pintu, lebih memilih hutan yang diterangi matahari ke rumah. Semua pelajaran awal saya miliki di dalamnya nafas hutan-denda, bau resin daun pinus, dicampur dengan parfum anggur liar. Duduk di bawah naungan anggun pohon tulip liar, saya belajar untuk berpikir bahwa segala sesuatu memiliki pelajaran dan saran. "The keindahan hal mengajari saya semua menggunakan mereka." Memang, segala sesuatu yang bisa bersenandung, atau buzz, atau bernyanyi, atau mekar memiliki bagian dalam katak pendidikan bising-tenggorokan saya, katydids dan jangkrik dipegang di tangan saya sampai lupa malu, mereka bergetar catatan melengking mereka, ayam berbulu halus sedikit dan bunga liar , bunga dogwood, padang rumput-violet dan pohon buah-buahan pemula. Aku merasakan meledak kapas-kuntum-kuntum dan meraba serat lembut dan biji kabur, saya merasakan soughing rendah angin melalui batang jagung, gemerisik halus dari daun panjang, dan dengusan marah dari kuda saya, karena kami menangkapnya di padang rumput dan menempatkan sedikit dalam mulutnya-ah aku! seberapa baik saya ingat pedas, bau clovery napasnya! Kadang-kadang saya bangkit saat fajar dan mencuri ke taman sementara embun berat berbaring di rumput dan bunga. Sedikit tahu apa sukacita itu adalah untuk merasakan mawar menekan lembut ke tangan, atau gerakan indah dari bunga lili karena mereka bergoyang dalam angin pagi. Kadang-kadang aku menangkap serangga dalam bunga saya pemetikan, dan saya merasa suara samar sepasang sayap digosok bersama dalam teror tiba-tiba, sebagai makhluk kecil menyadari tekanan dari luar. Menghantui favorit lain saya adalah kebun, di mana buah matang pada awal Juli. Besar, persik berbulu halus akan mencapai diri ke tanganku, dan sebagai angin gembira terbang tentang pohon apel jatuh di kaki saya. Oh, kenikmatan yang saya mengumpulkan buah di pinafore saya, menekan wajahku melawan pipi mulus dari apel, masih hangat dari matahari, dan melewatkan kembali ke rumah! Berjalan-jalan favorit kami adalah untuk Keller Landing, sebuah reyot tua kayu-dermaga di Sungai Tennessee, digunakan selama Perang Sipil untuk prajurit tanah. Ada kami menghabiskan banyak waktu bahagia dan bermain di geografi belajar. Saya membangun bendungan batu kerikil, membuat pulau dan danau, dan menggali sungai-tempat tidur, semua untuk bersenang-senang, dan tidak pernah bermimpi bahwa saya belajar pelajaran. Aku mendengarkan dengan meningkatnya heran Miss deskripsi Sullivan tentang dunia bulat besar dengan gunung-gunung terbakar, kota terkubur, sungai bergerak es, dan banyak hal lain yang aneh. Dia membuat peta dibesarkan di tanah liat, sehingga aku bisa merasakan lereng gunung dan lembah, dan ikuti dengan jariku program licik sungai. Aku suka ini, juga, tetapi pembagian bumi menjadi zona dan tiang bingung dan menggoda pikiran saya. Senar ilustratif dan tongkat oranye mewakili kutub tampak begitu nyata bahwa bahkan sampai hari ini hanya menyebutkan zona sedang menunjukkan serangkaian lingkaran benang, dan saya percaya bahwa jika ada orang yang harus mengatur tentang hal itu dia bisa meyakinkan saya bahwa beruang putih sebenarnya memanjat Kutub Utara. Aritmatika tampaknya telah menjadi satu-satunya studi yang saya tidak suka. Dari awalnya saya tidak tertarik pada ilmu angka. Nona Sullivan mencoba untuk mengajar saya untuk menghitung dengan manik-manik merangkai dalam kelompok, dan dengan mengatur kintergarten sedotan saya belajar untuk menambah dan mengurangi. Aku tidak pernah punya kesabaran untuk mengatur lebih dari lima atau enam kelompok pada suatu waktu. Ketika saya telah dicapai ini hati nurani saya sedang beristirahat untuk hari, dan aku pergi keluar dengan cepat untuk menemukan teman main saya. Dalam cara yang santai sama saya mempelajari zoologi dan botani. Setelah seorang pria, yang namanya saya lupa, mengirimkan koleksi kerang moluska fosil-kecil indah ditandai, dan potongan-potongan batu pasir dengan cetak cakar burung, dan pakis yang indah di relief. Ini adalah kunci yang membuka harta dunia kuno bagi saya. Dengan jari-jari gemetar aku mendengarkan Miss deskripsi Sullivan dari binatang mengerikan, dengan kasar, nama unpronounceable, yang pernah pergi tramping melalui hutan purba, meruntuhkan cabang-cabang pohon raksasa untuk makanan, dan meninggal di rawa-rawa suram usia tidak diketahui. Untuk waktu yang lama makhluk-makhluk aneh menghantui mimpi-mimpi saya, dan periode ini suram membentuk latar belakang muram dengan gembira Sekarang, diisi dengan sinar matahari dan mawar dan bergema dengan mengalahkan lembut kuku kuda saya. Lain waktu shell yang indah diberikan saya, dan dengan kejutan dan menyenangkan anak saya belajar bagaimana moluska kecil telah membangun kumparan berkilau untuk tempat kediaman-Nya, dan bagaimana pada masih malam, ketika tidak ada angin mengaduk gelombang, layar Nautilus di perairan biru Samudra Hindia dalam "kapal mutiara." Setelah saya telah belajar banyak hal menarik tentang kehidupan dan kebiasaan anak-anak laut-bagaimana di tengah-tengah gelombang gagah polip kecil membangun pulau-pulau karang yang indah di Pasifik, dan foraminifera telah membuat kapur-bukit banyak-tanah saya guru membaca saya "The Chambered Nautilus," dan menunjukkan bahwa proses shell-gedung moluska adalah simbolis dari perkembangan pikiran. Sama seperti mantel keajaiban-kerja perubahan Nautilus bahan yang menyerap dari air dan membuatnya menjadi bagian dari dirinya sendiri, sehingga bit pengetahuan yang mengumpulkan mengalami perubahan yang sama dan menjadi mutiara pemikiran. Sekali lagi, itu adalah pertumbuhan tanaman yang dilengkapi teks untuk pelajaran. Kami membeli bunga bakung dan mengaturnya di jendela cerah. Segera hijau, tunas runcing menunjukkan tanda-tanda pembukaan. The ramping, daun fingerlike di luar dibuka perlahan-lahan, enggan, saya pikir, untuk mengungkapkan keindahan mereka menyembunyikan, sekali telah membuat awal, namun, proses pembukaan berlangsung cepat, tapi dalam rangka dan sistematis. Selalu ada satu tunas yang lebih besar dan lebih indah daripada sisa, yang mendorong luarnya, yang mencakup kembali dengan lebih kemegahan, seakan keindahan dalam lembut, halus jubah tahu bahwa dia adalah lily-queen oleh hak ilahi, sementara saudara lebih pemalu nya doffed kerudung hijau mereka malu-malu, sampai seluruh tanaman adalah salah satu dahan anggukan keindahan dan aroma. Setelah ada sebelas berudu dalam satu set bola kaca di jendela penuh dengan tanaman. Aku ingat semangat yang saya membuat penemuan tentang mereka. Itu sangat menyenangkan untuk terjun tanganku ke dalam mangkuk dan merasakan berudu menggeledah sekitar, dan membiarkan mereka tergelincir dan meluncur di antara jari-jari saya. Suatu hari seorang rekan yang lebih ambisius melompat melampaui tepi mangkuk dan jatuh di lantai, di mana saya menemukan dia semua penampilan yang lebih mati daripada hidup. Satu-satunya tanda kehidupan adalah sedikit menggeliat ekornya. Tapi tidak lama setelah ia kembali ke elemen daripada dia melesat ke bawah, berenang berputar-putar dalam kegiatan gembira. Dia telah membuat lompatan, ia telah melihat dunia yang besar, dan konten untuk tinggal di rumah kaca yang cantik di bawah pohon fuchsia besar sampai ia mencapai martabat froghood. Lalu dia pergi untuk tinggal di kolam berdaun di ujung taman, di mana dia membuat malam musim panas dengan musik kuno nya lagu cinta. Jadi saya belajar dari kehidupan itu sendiri. Pada awalnya saya hanya massa kecil kemungkinan. Itu adalah guru saya yang dilipat dan dikembangkan mereka. Ketika dia datang, segala sesuatu tentang saya bernapas cinta dan sukacita dan penuh makna. Dia tidak pernah membiarkan sejak lulus kesempatan untuk menunjukkan keindahan yang dalam segala hal, dia juga belum berhenti berusaha dalam pikiran dan tindakan dan contoh untuk membuat hidup saya manis dan berguna. Itu jenius guru saya, simpati cepat dia, kebijaksanaan mencintainya yang membuat tahun pertama pendidikan saya begitu indah. Itu karena dia menangkap saat yang tepat untuk memberikan pengetahuan yang membuatnya begitu menyenangkan dan dapat diterima bagi saya. Dia menyadari bahwa pikiran anak adalah seperti sebuah sungai dangkal yang riak dan tarian riang selama berbatu pendidikan dan mencerminkan sini bunga, ada semak, di sana awan putih dan lembut, dan ia mencoba untuk memandu pikiran saya dalam perjalanan, mengetahui yang seperti sungai itu harus diberi makan oleh sungai gunung dan mata air yang tersembunyi, sampai melebar keluar ke sungai yang dalam, mampu mencerminkan di permukaan tenang, perbukitan bergelombang, bayangan bercahaya pohon dan langit biru, serta manis wajah bunga kecil. Setiap guru dapat membawa anak ke kelas, tapi tidak setiap guru dapat membuatnya belajar. Dia tidak akan bekerja dengan gembira kecuali ia merasa bahwa kebebasan adalah miliknya, apakah dia sedang sibuk atau saat istirahat, ia harus merasakan flush kemenangan dan hati-tenggelamnya kekecewaan sebelum ia mengambil dengan akan tugas-tugas tidak menyenangkan kepadanya dan memutuskan untuk menari jalan berani melalui rutinitas membosankan buku pelajaran. Guru saya begitu dekat dengan saya bahwa saya hampir menganggap diri terpisah darinya. Berapa banyak kegembiraan saya dalam segala hal yang indah adalah bawaan, dan berapa banyak adalah karena pengaruhnya, saya tidak pernah tahu. Saya merasa bahwa keberadaannya tidak terlepas dari saya sendiri, dan bahwa jejak hidupku dalam miliknya. Semua yang terbaik dari saya milik dia-tidak ada bakat, atau aspirasi atau sukacita dalam diriku yang belum terbangun dengan sentuhan penuh kasih. |
| Kang Putu bangun+rumah 's link Caping Gunung: Lagu dari Masa ke Masa Catatan Gunawan Budi Susanto Kawan saya, Kiai Budi Harjono, gelisah. Kegelisahan yang berpangkal dari pengetahuan: betapa semrawut pengelolaan negeri ini. Negeri yang luas, negeri yang subur – thukul kang sarwa tinandur, tanah tempat segala kayu dan bahkan batu pun bertumbuh, tetapi tak pernah bisa memberikan kemakmuran kepada rakyat! Ingatkah Anda, sekian puluh tahun lalu Koes Plus menyanyikan dengan riang lagu “Kolam Susu”. Lagu yang menggambarkan betapa indah, betapa kaya, negeri kita. Dengarlah! Bukan lautan hanya kolam susu Kail dan jala cukup menghidupimu Tiada badai tiada topan kau temui Ikan dan udang menghampiri dirimu Bukan lautan hanya kolam susu Kail dan jala cukup menghidupmu. Tiada badai tiada topan kau temui Ikan dan udang menghampiri dirimu Orang bilang tanah kita tanah surga Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Orang bilang tanah kita tanah surga Tongkah kayu dan batu jadi tanaman Bukan lautan hanya kolam susu Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai tiada topan kau temui Ikan dan udang menghampiri dirimu Bukan lautan hanya kolam susu Kail dan jala cukup menghidupmu. Tiada badai tiada topan kau temui Ikan dan udang menghampiri dirimu Orang bilang tanah kita tanah surga Tongkat kayu dan batu jadi tanaman Orang bilang tanah kita tanah surga Tongkah kayu dan batu jadi tanaman. Namun, meski tongkat kayu dan batu jadi tanaman, adalah ironi menyerikan ketika petani mesti menjual gabah lebih murah ketimbang beras yang mereka beli untuk memberi makan seluruh keluarga. Negeri ini mesti mengimpor bawang, mengimpor beras, mengimpor segala buah dan sayuran. Negeri dengan kekayaan ikan dan mutiara yang tak pernah menyejahterakan nelayan, negeri dengan luasan dan panjang pantai tak terkira tetapi mengimpor garam. Negeri dengan minyak dan gas, emas, boksit, timah, tembaga, nikel, dan segala mineral yang semestinya bisa menjadikan rakyat makmur sejahtera. Namun, Anda tahu, kini bahkan penghasilan (devisa) terbesar yang kita peroleh adalah uang kiriman dari para tenaga kerja Indonesia (TKI), baik lelaki maupun terutama perempuan, di luar negeri. Penghasilan terbesar yang hanya kalah banyak dari penjualan minyak dan gas kita. Membanggakan – terima kasih kepada para “pahlawan devisa”. Namun juga menyedihkan lantaran itulah potret paling nyata: betapa pemerintahan negeri ini dari satu rezim ke rezim lain tak mampu memberikan lapangan pekerjaan kepada rakyat, sehingga mereka mesti mengadu nasib di negeri orang – bukan tanpa risiko menghadapi kekerasan lahir dan batin. Inilah negeri yang menempatkan nilai-nilai kemanusiaan ke titik nadir, sehingga tercipta klasifikasi manusia berdasar (hanya) kemampuan mengonsumsi ala hasil elaborasi Kluprut – sohib saya. Ya, menurut pendapat Kluprut, manusia di negeri ini terbagi menjadi lima golongan yang tersusun secara bertingkat dari yang berada di dasar (menjadi pijakan) sampai yang teratas (bertumpu di atas kepala saudara-saudaranya). Pertama, orang yang selalu bertanya: besok bisa makan atau tidak. Kedua, orang yang selalu bertanya: besok makan apa. Ketiga, orang yang selalu bertanya: besok makan di mana. Keempat, orang yang selalu bertanya: besok makan bersama siapa. Kelima, orang yang selalu bertanya: besok makan siapa. Saat inilah bangsa kita, negeri kita, berada di tubir jurang kehancuran. Ketika nyaris semua kehilangan daya cipta, kehilangan prakarsa. Semua-mua telah dan terus kita jual. Kini, kita bagai tinggal menunggu disundhul, njedhul, terus mumbul-mumbul…. *** Disundhul, njedhul, mumbul-mumbul – ayo diwaca: njaluk utawa ngenteni disundhul amrih bisa njedhul, terus mumbul-mumbul! Kuwi ukara sing trep kanggo nggambarake kahanan saiki iki. Kahananing pribadi, kahananing masarakat, kahananing nagara, lan bangsa kita. Minangka pribadi, masarakat, mungguhing nagara-bangsa, kita wis kelangan daya kekarepan (inisiatif), kelangan daya pamikir, kelangan daya pangripta. Kabeh-kabeh, karan apa wae – upa, apa, wisa – saiki sarwatinuku – nggenteni unen-unen lawas: kabeh sarwatinandur. Sarate gampang: angger duwe dhuwit, angger nyekel dhuwit. Dhuwit, mungguhing sapa wae saiki wis dadi pepundhen, dadi pandom, dadi gustine. Sing sapa nyekel dhuwit, sing sapa duwe dhuwit, kuwi sing bisa ngregem panguwasa, bisa ngregem donya. Mula ora nggumunake yen ana kanca kanthi gegojekan nyindhir: saiki iki sila kaping pisan saka Pancasila malih wujud dadi keuangan yang maha-esa. Disundhul mujudake gambaran pribadi, masarakat, lan nagara-bangsa sing wis kelangan daya. Mula mung bisa ngenteni sapa wae sing gelem nyundhul, ndudul, supaya bisa njedhul, sukur bage bisa mumbul-mumbul! Cilakane, njedhul lan mumbul-mumbul kuwi uga mung kanggo blanja, kanggo tetukon. Blanja, tetukon, ing sadengah papan, ora angon wayah, ora angon rasa. Mung angon rupa, angon swara, adol ayu, adol bagus. Kabeh papan dadi pasar, dadi warung, dadi mal, dadi plasa: sekolah, kampus, kantor pamarintah lan swasta, pabrik, rumah sakit, koran, radio, telepisi, internet, facebook, twitter, lan sapanunggalane – kuwi kabeh wis dadi papan dol-tinuku. Rame, rame banget, ora nate sepi pawongan. Saka esuk umun-umun, awan, sore, wengi, nganti esuk uthuk-uthuk, sing ana wong-wong dol-tinuku. Sowang-sowang utawa gemruduk bedhol kluwarga, bedhol desa, bedhol nagara. Blanja. Kabeh-kabeh sak-iyek sak-ekakapti: nganyari sandhangan, sakabehe sandhangan, ngobahake ilat, ngrasakake samubarang panganan. Mula ora aneh yen endhek-wure masarakat kita bisa kabagi dadi patang prakara. Kapisan, pawongan sing tansah kagubel pitakonan: sesuk bisa mangan apa ora? Kapindho, pawongan sing tansah ngreronce pangangen-angen sesuk mangan apa? Katelu, pawongan sing tansah golek sisik melik sesuk mangan ning ngendi? Kapapat, pawongan sing tansah ngrerancang sesuk mangan sapa? (Wong pidak pedarakan kaya aku mono kudu ngucap sokur, matur nuwun, dene wis duwe “wakil rakyat”, sing makili rakyat bisa mangan enak, bisa mapanake awak kanthi kepenak. Mula aku ora serik, ora runtik, yen para “wakil rakyat” mbangun WC wae mbutuhake wragat 2 milyar rupiah. Kuwi mono makili rakyat, sing ora bakal kuwagang nggagas prakara saliyane mikir sesuk bisa mangan apa ora. Aja duwe pikiran ala, yen gawe omah elek-elekan mung butuh wragat 50 yuta rupiah, mula yen 2 milyar rupiah bisa gawe omah kanggo patang puluh kluwarga!) Mula sapa wae, ning ngendi wae, kapan wae yen pengin duwe dhuwit, pengin nyekel dhuwit, supaya tansah bisa blanja apa wae, ning ngendi wae, kapan wae: gampang! Matek ajiku, ajian sakti. Rapal Sakti Ajian Korupsi sun amatek ajiku ajian korupsi nedya sugih bandha donya sarwa mbejaji ora geter telik sandhi lawan cerenging jeksa ora gigrik surak lan supataning sapepadha ora tedhas tapak paluning hakim kang mbaureksa sluman slumun slamet ngupaya lenaning kang andum kuwasa murih lancar nguras kaskayaning nagara ho! ajiku ajian korupsi mataku mata birokrat kupingku kuping teknokrat lambeku lambe pejabat irungku irung pengamat dadaku dada malaikat sikilku sikil masarakat wetengku weteng kebak nikmat tanganku tangan konglomerat kebat kliwat mbeburu berkat tansah gangsar donya akerat ho! ajian korupsi satuhu rapalku jaran goyang esemku semar mendem caturku candramawa paninggalku welut putih langkahku sadengah papan andhon laku adol guyu nyaring isu dalanku tansah lumintu sakabehing referensi dadi gamanku sakabehing bank dadi bangku ho! ajiku ajian korupsi jimatku jimat kolusi tamengku tameng kongsi payonku payon proteksi papanku papan lisensi sedulurku koneksi sinarawedi citraku citra telepisi ugemanku nunggal sawiji : status quo tansah lestari ho! sun amatek ajiku ajian korupsi ajian sakti sang anak negeri so pasti, senantiasa is the best nomer siji maka merdekalah aku merdeka sampai mati ho! *** Saiki, ing nagara ini, apa sing ora bisa dituku? Apa sing ora tinuku? Sapa sing ora bisa tuku? Sapa sing ora bisa tinuku? Apa sing ora didol? Sapa sing ora kumedol? Kuwi pitakonan-pitakonan sing ngebaki pikirane sapa wae, saka kawula alit nganti (luwih-luwih) kawula ageng dalah para satriya ngulandara, satriya pengembating praja, para sarjana sujana, para winasis lan waskitha…. Bareng kadudul tangi, apa barang sing kadulu kuwi sing katuku. Mula satemene didudul, disundhul, njedhul, mumbul-mumbul amung nggambarake: ombyake wong geger ngoyak pangan, ngoyak sandhang, ngoyak papan. Ora prelu maneh ngeling-eling pitutur kuna: aja drengki srei dahwen ati open, aja melik nggendhong lali, aja colong jumput, bedhog, lan nggedhor, sarta kudu remen temen. Malah kepara samesthine kita kabeh kudu wani: rawe-rawe rantas malang-malang putung, holopis kuntul baris, ana catur mungkur, bapang den singkiri. Kuwi ngelmu: kalakone kanthi laku. Saiki satemene disundhul, njedhul, mumbul-mumbul uga wis dadi laku. Laku sing kakulinakake saka jabang bayi tumekaning bathang mati: urip amung mampir blanja. Kareben murakabi, blanjaa barang sing mbejaji, amrih disuyudi sapa wae, ing ngendi wae, kanthi cara lan dalan apa wae. Supaya bisa tetukon, dolen apa wae sing kokduweni. Lemah, banyu, wit-witan, gunung, segara sak-isine: kuras lan dol marang sapa wae sing kuwagang tuku. Banjur, blanjaa apa wae sing kokbutuhake: ilmu, teknologi, ideologi, tata praja, tata srawung, klangenan, drajat, semat, pangkat, lan sapanunggalane. Aja kemba. Lakonana kuwi kabeh kanthi titis-pratitis, tetep, teguh, tatag, tekun, (nanging aja pisan-pisan wani temen) mesthi tekan: bilahi! *** Ya, ya, pada saat yang sama untuk bertahan hidup: semua-mua kita beli pula dari berbagai penjuru dunia. Keadaan makin memiriskan, lantaran di puncak strata bercokol orang-orang yang saling memangsa: berlomba-lomba makan siapa sebanyak mereka bisa. Celaka, lantaran mereka menguasai segala perangkat untuk berkuasa: pembentuk opini, senjata, dana, dan ke-julig-an. Pada titik inilah, di kuping Kiai Budi Harjono terngiang-ngiang tembang “Caping Gunung” karya Gesang. Dengarlah, dengar, lagu itu. Dhek jaman berjuang Njur kelingan anak lanang Biyen tak-openi ning saiki ana ngendi Jarene wis menang Keturutan sing digadhang Biyen ninggal janji ning saiki apa lali Ning gunung Takjadhongi sega jagung yen mendung Taksilihi caping gunung Sokur bisa nyawang Gunung desa dadi reja Dene ora ilang Nggone padha lara lapa. Tembang itu mengingatkan, betapa pada masa perjuangan merebut kemerdekaan, siapa pula yang memberi makan para pejuang? Ke mana pula para pemuda – yang kelak, setelah negeri ini merdeka: menjadi para pemimpin di pemerintahan, di ketentaraan, di kepolisian, di segenap lapangan kehidupan – yang dulu diberi tempat, diberi makan, diberi perlindungan oleh para petani, oleh para nelayan, oleh orang-orang desa di berbagai pelosok negeri ini? Setelah negeri ini merdeka, terbebas dari cengkeraman penjajahan Belanda dan Jepang, bagaimana pula mereka mewujudkan janji kemerdekaan itu? Benarkah kehidupan yang makmur berkeadilan dan adil berkemakmuran telah dirasakan segenap petani, segenap nelayan, segenap buruh, setiap penduduk di berbagai pelosok negeri ini? Saat itulah, pada gelombang yang sama, telinga saya mendengar Leo Kristi mendendangkan “Salam dari Desa”. Simaklah. Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku Katakan padanya padi-padi telah kembang Ani-ani seluas padang Roda giling berputar-putar siang-malam Tapi bukan kami punya Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku Katakan padanya tebu-tebu telah kembang Putih-putih seluas padang Roda lori berputar-putar siang-malam Tapi bukan kami punya Anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka Nyanyi-nyanyi bersama-sama di tanah-tanah gunung Anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka Nyanyi-nyanyi bersama-sama tapi bukan kami punya Tanah pusaka tanah yang kaya Tumpah darahku di sana kuberdiri Di sana kumengabdi dan mati dalam cinta yang suci Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku Katakan padanya nasi tumbuk telah masak Kan kutunggu sepanjang hari Kita makan bersama-sama berbincang-bincang Di gubuk sudut dari desa. Namun, sekejap kemudian, dari radio tetangga keras bersipongang lagu dangdut “Alamat Palsu” Ayu Tingting. Ke mana ke mana ke mana Kuharus mencari ke mana Kekasih tercinta tak tahu rimbanya Lama tak datang ke rumah Di mana di mana di mana Tinggalnya sekarang Di mana Ke sana-kemari membawa alamat Namun yang kutemui bukan dirinya Sayang yang kuterima alamat palsu Kutanya sama teman-teman semua Tetapi mereka bilang tidak tahu Sayang mungkin diriku sudah tertipu Membuat aku frustasi dibuatnya. Entah kenapa, lagu dangdut yang oleh banyak kawan dibilang ecek-ecek itu, dalam penerimaan kuping saya mengingatkan pada banyak kasus ketika para petani, buruh, nelayan, pedagang kaki lima merasa telah salah alamat saat mengadukan nasib ke parlemen. Mereka semula beranggapan anggota parlemen adalah wakil mereka, yang telah, sedang, dan akan selalu memperjuangkan harkat hidup mereka untuk bisa hidup lebih nyaman, lebih aman, lebih makmur, lebih adil. Namun ternyata, ketika mereka mengadu, para anggota perlemen yang terhormat itu justru menutup pintu. Gedung parlemen, rumah rakyat, itu pun dipagar tinggi, megah, dan angkuh! Dan, pada saat-saat seperti itu, di manakah kita berada? Apa yang kita lakukan? Untuk diri sendiri atau buat kenyamanan hidup bersama? Apalagi ketika kita tahu bahwa ketika menanam para petani pun menyadari benar telah menyebar racun menuai racun? Lantaran, bukan perkara gampang bagi mereka melepaskan diri dari jerat pola tanam dan kendali mutu serta pemasaran yang dipaksakan sejak Orde Baru. Ketika para nelayan makin lama kian hanya bisa melaut di perairan dangkal – lantaran keterbatasan modal, sehingga tak mungkin memutakhirkan peranti bekerja – dan di perairan dalam bertebaran jaring trawl yang menghabisi ikan sampai ke segala benih. Laut kita sesungguh benar telah dirampok para tauke, yang mencuri ikan di hamparan samudra negeri ini. Lihatlah, pegawai negeri sipil kita pun memperoleh ejekan sebagai eksponen pegawai nihil setoran (PNS) lantaran kelembaman birokrasi yang masih juga bersemboyan: jika bisa mempersulit, kenapa mesti mempermudah pelayanan? Dan, para pedagang pun saling memangsa, sehingga bertebaranlah toko-toko eceran bermodal besar dengan sistem waralaba – yang melibas melindas toko kelontong dan warung mracangan berskala kecil milik rakyat jelata. Kebertebaran toko eceran bermodal besar itu ke berbagai pelosok desa lantaran ketidakpedulian para pemegang dan penentu kebijakan publik terhadap ruang hidup usaha kerakyatan. Apa pula yang dipelajari para siswa dan mahasiswa? Bukankah mereka diajari untuk memisahkan segala ilmu, pengetahuan, dan teknologi di dunia pendidikan formal dari kejujuran, yang seharusnya merupakan variabel determinan dalam kehidupan? Atau, semestinya kejujuran menjadi basis kesadaran dalam kehidupan bersama bukan? Keadaan bahkan nyaris tak berubah dari 36 tahun lampau, sebagaimana dilukiskan W.S. Rendra dalam sebuah sajak. Sajak Sebatang Lisong Menghisap sebatang lisong, melihat Indonesia Raya, mendengar 130 juta rakyat, dan di langit dua tiga cukong mengangkang, berak di atas kepala mereka. Matahari terbit. Fajar tiba. Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan. Aku bertanya, tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang macet, dan papan tulis-papan tulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan. Delapan juta kanak-kanak menghadapi satu jalan panjang, tanpa pilihan, tanpa pohonan, tanpa dangau persinggahan, tanpa ada bayangan ujungnya. …………………………….. Menghisap udara yang disemprot deodorant, aku melihat sarjana-sarjana menganggur berpeluh di jalan raya: aku melihat wanita bunting antri uang pensiun Dan di langit: para teknokrat berkata: bahwa bangsa kita adalah malas, bahwa bangsa mesti dibangun, mesti di-up-grade, disesuaikan dengan teknologi yang diimport. Gunung-gunung menjulang. Langit pesta warna di dalam senjakala. Dan aku melihat protes-protes yang terpendam, terhimpit di bawah tilam. Aku bertanya, tetapi pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon, yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidak-adilan terjadi di sampingnya, dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan termangu-mangu di kaki dewi kesenian. Bunga-bunga bangsa tahun depan berkunang-kunang pandang matanya, di bawah iklan berlampu neon. Berjuta-juta harapan ibu dan bapa menjadi gebalau suara yang kacau, menjadi karang di bawah samodra. ……………………………………………. Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing. Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan, Kita mesti keluar ke jalan raya, keluar ke desa-desa, mencatat sendiri semua gejala, dan menghayati persoalan yang nyata. Inilah sajakku. Pamplet masa darurat. Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, Bila terpisah dari masalah kehidupan. 19 Agustus 1977 Menyerikan bukan? Apalagi negeri ini pun seperti dililit spiral kekerasan. Bukankah Anda tahu belaka betapa setiap pergantian kekuasaan di negeri kita nyaris selalu berlangsung secara berdarah-darah? Tahun 1998 saja, berapa korban berjatuhan? Dan, berapa kaum perempuan saudara kita dari etnis China diperkosa, yang sampai hari ini pun tak pernah pemerintah menjelaskan perkara itu: siapa salah, siapa dihukum. Kita sudah amat berpengalaman mengganti penguasa yang bebal hati dan pikiran dengan cara seperti itu, tetapi hasilnya: di tengah jalan selalu ditebas oleh para pencoleng kekuasaan. Kini, apakah justru bukan saatnya bagi kita mencari dan menerapkan cara yang soft, cara yang lembut, cara yang elegan -- yang tidak berdarah-darah? Apakah para cerdik cendekia tak bisa menulis, tak bisa bersekutu, berserikat, lalu misalnya mengajukan resolusi? Apakah mahasiswa tak bisa menyuarakan pendapat, tanpa harus menjadikan demonstrasi sebagai satu-satunya pilihan, jika memang takut menghadapi pentungan? Apakah kekerasan menjadi satu-satunya pilihan, sehingga ada kawan menyarankan kemungkinan penggunaan senapan? Tak bisa dan tak maukah kita, sebagai bangsa, belajar mengelola kehidupan bersama ini secara elegan, tanpa saling mematikan hak hidup sesama? Sementara itu, sekelompok orang yang tergabung dalam sebuah forum penyelamat umat – katanya – terkekeh seraya menyatakan, enak benar hidup di negeri ini. Ya, enak benar hidup di negeri ini. Betapa tidak! Siapa pun bisa membunuh, tanpa dihukum. Siapa pun bisa menyerbu dan menghancurkan rumah dan tempat ibadah, tanpa pengadilan: siapa salah, siapa korban yang mesti dipulihkan hak dan martabatnya. Siapa pun boleh memainkan peran berdasar pilihan: siksa, basmi, dan pukul tanpa tersentuh hukum. Siapa pun boleh korupsi, tanpa kehilangan harga diri dan kehormatan. Siapa pun boleh meruntuhkan gunung, membabat hutan, membelah sungai, menguruk lautan, berdalih kemakmuran bersama, sembari mematikan hak hidup saudara sebangsa. Siapa pun boleh menjiplak, tanpa perasaan bersalah. Siapa pun boleh berdusta, seraya tetap merasa telah berlaku jujur. Siapa pun boleh dan bisa.... Ketika kekerasan menjadi cara, menjadi modus, tunggal penaklukan melalui aparatus kekerasan – atau pinjam tangan milisi, yang dibina dan dibiayai -- sesungguhnya pemerintah telah mengkhianati rakyat. Menjadi makin jelas: keabsahan atau lebih tepat kelestarian kekuasaan pun bertumpu pada teror, pada honor, yang menemu wujud yang kasatmata. Tak ada kata lain, kebusukan dan dusta mesti dibongkar. Ya, “Bongkar” Iwan Fals patut terus dinyanyikan bukan? Kalau cinta sudah di buang Jangan harap keadilan akan datang Kesedihan hanya tontonan Bagi mereka yang diperkuda jabatan Oh oh ya oh ya oh ya bongkar Oh oh ya oh ya oh ya bongkar Sabar sabar sabar dan tunggu Itu jawaban yang kami terima Ternyata kita harus ke jalan Robohkan setan yang berdiri mengangkang Oh oh ya oh ya oh ya bongkar Oh oh ya oh ya oh ya bongkar Oh oh ya oh ya oh ya bongkar Oh oh ya oh ya oh ya bongkar Penindasan serta kesewenang-wenangan Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan Hoi hentikan hentikan jangan diteruskan Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan Di jalanan kami sandarkan cita-cita Sebab di rumah tak ada lagi yang bisa dipercaya Orang tua pandanglah kami sebagai manusia Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta Oh oh Oh oh ya oh ya oh ya bongkar Oh oh ya oh ya oh ya bongkar Oh oh ya oh ya oh ya bongkar Oh oh ya oh ya oh ya bongkar Kok bisa? Bisa kok! Kini, apalagi yang tersisa: dalam benak, dalam hati, dalam nurani kita? Apakah kita bakal manda diam saja, tak tergerak untuk terlibat dalam perubahan ke arah kehidupan bersama yang lebih menyamankan bagi semua? Tak merasa tersindir juga oleh mendiang Mbah Surip lewat lagu “Bangun Tidur”-nya? Simaklah. Hey bangun kerja Ha ha ha ha ha Ha ha ha ha ha Ok I love you full Bangun tidur tidur lagi Bangun lagi tidur lagi Bangun... tidur lagi Ha ha ha ha Bangun tidur tidur lagi Bangun lagi tidur lagi Bangun... tidur lagi Ha ha ha ha Habis bangun terus mandi Jangan lupa senam pagi Kalau lupa... tidur lagi Ha ha ha ha Barang siapa yang ingin hidup Awet muda, bahagia di dunia ini Kurangi tidur banyakin ngopi Ha ha ha ha I love you full Bangun tidur tidur lagi Bangun lagi tidur lagi Bangun... tidur lagi Ha ha ha ha Bangun tidur tidur lagi Bangun lagi tidur lagi Bangun... tidur lagi Ha ha ha ha Habis bangun terus mandi Jangan lupa senam pagi Kalau lupa... tidur lagi Ha ha ha ha Habis bangun terus mandi Jangan lupa senam pagi Kalau lupa... tidur lagi Ha ha ha ha Kalau lupa... tidur lagi Ha ha ha ha Kalau lupa... tidur lagi Ha ha ha ha Kalau lupa... tidur lagi Ha ha ha ha Kalau lupa... tidur lagi Ha ha ha ha Edan. Ya, apakah kita sudah sedemikian edan, sudah sedemikian gila, sehingga hanya tidur dan tidur lagi? Atau, kalaupun bangun cuma ngopi dan ngopi lagi, untuk kembali tidur kembali? Langkah sederhana bisa kita mulai, semampu kita, sebisa kita. Begitulah tekad Kiai Budi. Dan, saya mengamini. “Menanam, mari kita menanam!” ujar dia dengan wajah berbinar, dengan senyum tipis mengembang. Serentak saya pun teringat lagu “Menanam Jagung” karya Ibu Sud, yang acap saya nyanyikan ketika bocah. Ayo kawan kita bersama menanam jagung di kebun kita ambil cangkulmu, ambil pangkurmu kita bekerja tak jemu-jemu cangkul, cangkul, cangkul yang dalam tanah yang longgar jagung kutanam beri pupuk supaya subur tanamkan benih dengan teratur jagungnya besar lebat buahnya tentu berguna bagi semua cangkul, cangkul, aku gembira menanam jagung di kebun kita. Menjadi petani, menjadi pekebun, menjadi penanam adalah juga menjadi manusia mandiri bukan? Bukankah itu yang sudah diperlihatkan dan dibuktikan Gunretno, kawan kita eksponen Sedulur Sikep Sukolilo, Pati? Itu pula jalan sunyi yang ditempuh Munasikin, pemuda Limbangan, Kendal, bukan? Jalan Sunyi Petani Gaul SIMON. Begitulah nama lelaki berperawakan kecil, berambut panjang terkuncir ekor kuda, yang berkesan pendiam itu. Namun begitu berbicara tentang tanaman, Munasikin – itulah ternyata nama asli pemberian orang tuanya, pasangan almarhum Abdurrohman dan Maryam – seperti tak pernah kehabisan energi. Ya, kecintaan lajang kelahiran Kendal, 17 Februari 1976, itu pada tanaman dan tentu saja tanah tempat tumbuh tanaman sebegitu besar. Meski, menurut pengakuan anak kedua dari tujuh bersaudara itu, kecintaan tersebut bermula dari keterpaksaan. Lulus SMA, dia melanjutkan pendidikan ke sebuah sekolah tinggi ekonomi di Kota Semarang. Namun belum genap satu semester, dia merasa bosan. “Ya, saya bosan. Mungkin karena bawaan saya ingin selalu bergerak, ingin berbuat sesuatu secara nyata,” ujar si Mun. Ah ya, di kampungnya, Gempol, Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, sapaan dia memang si Mun atau Mas Mun. Dari sapaan si Mun itulah, kemudian, kawan-kawan aktivis lingkungan dalam lingkar pergaulannya menyapa dia: Simon. Dan, seperti kebetulan sekeluar dari bangku kuliah, si Mun, remaja dari kampung di ketinggian Lereng Medini itu, berkenalan dengan seseorang dan diajak merawat anggrek. Jatuh Cinta Bermula dari coba-coba, lalu jatuh cinta. Simon pun merawat anggrek kepunyaan orang lain sepenuh cinta. Karena, dia memperoleh kesadaran bahwa kecintaan pada anggrek, dan kemudian kecintaan pada segala rupa tanaman, adalah upaya memuliakan sang Pencipta Kehidupan. Kecintaan itu pula yang mendorong dia mengikuti berbagai pelatihan segala rupa tentang pertanian antara lain di Bandung, Bogor, Malang, Yogyakarta, Magelang, dan Temanggung. Hingga, suatu saat, dia pun memutuskan sepenuh seluruh hidup dari tanaman: menjadi petani. Namun dia tak ingin menjadi petani “biasa-biasa” saja, yang acap digambarkan sebagai sosok ndesit. Gambaran umum: bercelana kolor lusuh, berkaus seadanya, dengan pengetahuan bercocok tanam (mungkin saja luar biasa piawai, tetapi toh berkesan tak terdidik yang) diperoleh secara turun-temurun, tani utun. Dia ingin menjadi petani gaul. Itulah petani yang memiliki bekal pengetahuan, pemahaman, dan wawasan tentang dunia pertanian di tengah pergerakan perekonomian. Karena itu petani tidak seharusnya selalu jadi objek, yang terus-menerus hidup secara subsisten. Petani mesti mampu keluar dari jerat lingkaran setan yang memuncak pada: produsen padi yang membeli beras lebih mahal dari gabah yang mereka jual. Selain itu, kata dia, petani juga mesti paham betapa tanahlah sebenarnya yang jadi fokus garapan. Tanaman yang subur tak selalu identik tumbuh di atas tanah subur – karena digelontor dengan berbagai obat, pupuk, pestisida, insektisida kimiawi. Namun tanah yang subur, tutur dia, pasti menghasilkan tanaman yang subur. Maka memurnikan tanah, mengembalikan tingkat kesuburan tanah menjadi komitmen dia. Visi yang seiring sejalan dengan konservasi alam itulah yang memantapkan tekat dia menjadi petani tanaman organik. Memurnikan Tanah Dia menuturkan, petani penggarap atau buruh tani tak seharusnya terus-menerus mengeluh tak punya tanah, tanpa langkah nyata. Untuk mengatasi keterbatasan kepemilikan lahan, salah satu pilihan adalah menyewa lahan. “Jika tak mampu sendirian, bentuk kongsi. Bersama beberapa kawan, menyewa sepetak lahan, lalu garap dan kelola sepenuh hati,” ucap dia. Di kampungnya, dia menggarap lahan bengkok salah seorang adiknya yang jadi perangkat desa. Di lahan 8.000 m2 itu, dia menanam padi organik. Banyak kawan petani menyindir-nyindir dia. “Semprot terus! Semprot terus! Apa gak kesel (tak capek)?” begitulah ucap mereka melihat dia setiap 10 hari menyemprotkan antihama dan antigulma pada tanaman padi. “Antihama pada padi organik saya buat sepenuhnya dari bahan alami. Memang tak langsung membunuh hama. Pestisida alami tak bekerja secara instan. Jadi perlu penyemprotan secara ajek dan periodik. Tak seperti obat-obatan kimiawi, sekali semprot selama masa tanam,” kata Simon. Pola tanam pun berbeda. Tidak padi, padi, padi. Namun dia memilih padi, lombok, jagung, padi. Begitu seterusnya. “Intinya menggarap tanah dulu, mengembalikan tingkat keasaman (pH) tanah, memperkuat unsur hara. Sebab, setelah pemakaian serbakimia, tanah menjadi kurus; kedalaman sekilan lebih saja tanah sudah sangat keras,” tutur dia. Bagaimana hasilnya? “Hasil produksi dari satuan lahan yang sama relatif sama. Cuma, bedanya, saya bisa menjual beras organik dua kali lipat lebih mahal, setidak-tidaknya Rp 12.000/kg.” Jadi, lanjut dia, penghasilan yang diperoleh dari penanaman padi organik lebih besar. Pasar pun terbuka karena kini muncul kecenderungan di kalangan tertentu untuk mengonsumsi segala yang alami – sebagai bagian dari kesadaran ideologis kembali ke alam. Kesungguhan berbekal kecintaan membuat dia tangguh. Meski ibarat melangkah di jalan sunyi – lantaran tak ada kawan petani sekampung yang mengikuti jejaknya menanam padi organis – dia terus berjalan. “Kini lahan garapan di kampung saya tanami lombok. Padi dan jagung sudah sepenuhnya organik, tetapi lombok secara proporsi baru 70-an persen organik. Obat antihama, yang saya kembangkan lewat pembiakan mikroorganisme, belum sepenuhnya alami. Namun saya proyeksikan, sedikit demi sedikit menjadi sepenuhnya organis,” katanya. Dari mana sumber belajar sang petani autodidak itu? “Membaca, bertanya pada siapa pun, dan browsing di internet,” sahut dia seraya tersenyum. Kesungguhan dia bekerja pun berbuah. Beberapa kawan mengajak dia bekerja sama, mengelola kebun di berbagai tempat. Kini, dia menjadi “koordinator kebun” di lahan sewaan di Ngesrepbalong yang ditanami sengon dan lombok serta di kawasan Gunungpati (Kota Semarang) dan Ungaran (Kabupaten Semarang) yang ditanami jagung manis berganti-ganti dengan lombok. “Lahan di Ngesrepbalong itu semula ditanami tebu. Tanah menjadi kurus, kehilangan unsur hara. Saya harus menormalkan dulu pH tanah agar kembali gembur, kembali subur,” ucap dia. Kini, dia bersyukur beberapa petani di kampungnya bersedia membuat pupuk dan pestisida alami. Dia yakin, suatu saat, mereka bakal melihat bukti bahwa pertanian organik adalah keniscayaan, suatu pilihan cerdas, jika petani ingin sejahtera. Menjadi petani yang tidak selalu jadi objek penderita dalam tata niaga pertanian yang terkontrol pemilik modal besar. Jalan yang dia tempuh memang sunyi. Sesunyi suasana alam di lahan-lahan yang dia garap. Karena itulah dia sesungguhnya enggan dipublikasikan. “Saya tak mau dianggap mencari popularitas,” katanya. Namun bukankah kisah anak-anak muda yang berani menempuh jalan berbeda, jalan yang lebih memuliakan kehidupan, patut dikedepankan? Siapa tahu bisa jadi pemantik minat sesama untuk, misalnya, menjadi petani seperti Anda? Simon cuma terdiam, lalu kembali mengucap lirih, ”Saya malu karena belum sepenuhnya berbuat bagi banyak orang. Masih masih bergulat, menekuni pekerjaan sebagai petani ini, sebagai peneguh bahwa saya bisa hidup tanpa harus bergantung pada kekuatan lain, kecuali pada rida Allah.” Ah indah, sesungguh benar indah bila banyak dan makin banyak anak muda bersikap seperti dia. Tak takut menyusuri jalan sunyi sebagai petani, di luar hiruk-pikuk dan gemebyar kehidupan kota. *** Tentu menanam tak harus dipahami secara harfiah sebagai semata-mata bertani bukan? Lihatlah, Soesilo Toer. Lelaki gaek, doktor lulusan Institut Plekhanov Rusia – yang menyorongkan “jalan ketiga” dalam disertasinya, jauh sebelum Anthony Giddens menuliskan The Third Way: The Renewal of Social Democracy (1998) – itu pun bertanam: di kota kecil di tepian hutan jati, Blora. Ya, selain sesungguh benar menanam seribuan pohon jati di kebun, dia mendirikan dan mengelola Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba). Dari perpustakaan yang menempati bangunan eks dapur di rumah warisan sang bapak, Mastoer, adik keenam Pramoedya Ananta Toer itu terus membenih dan menyemaikan bibit kepenulisan pada siapa saja, terutama di kalangan pelajar, di kalangan kaum muda. Dia bertanam kepenulisan! Dia bergerak di ladang literasi, bercangkul pena, berpupuk buku dan buku dan buku. Soesilo Toer Ingin Jadi Pemulung Profesional DIA terhitung pendek, tak lebih dari 160 cm, dengan wajah bercambang keputihan. Dan, dia tak lagi muda. Kini, dia berusia 76 tahun. Namun jangan menyangka dia lemah. Macam keladi, tua-tua makin menjadi. Berkali ulang dia, misalnya, bersepeda motor berboncengan dengan sang istri, pergi-pulang dari Blora ke rumah mertua di Yogyakarta. Juga saat menjadi narasumber di Semarang, Kudus, atau Surabaya, dia pun berboncengan sepeda motor. Lagi-lagi dengan sang istri. Fisik oke. Psikis? Diehard, keras kepala! Dia pun keras kemauan, keras bersikap, menghadapi tantangan kehidupan. Pada usia, yang kebanyakan orang lebih memilih duduk manis menikmati masa senja dalam kehidupan, dia justru tak henti-henti bekerja: mencangkul, memulung, menulis, dan memotivasi siapa pun untuk menulis dan terus menulis. Dan, itu dia lakukan di sebuah rumah tua di pojok kota, di Jalan Sumbawa, Jetis, 40 Blora. Di pekarangan rumah itulah, di lahan seluas lebih dari 3.000 m2, dia menanam ratusan pohon jati. Dia juga menanam berbagai pohon buah dan tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai sayur dan obat-obatan. Di rumah itulah dia membangun perpustakaan. Dan, di perpustakaan itulah dia menerima dan menjamu para tamu, tua dan muda, dari berbagai pelosok kota, dari berbagai negara. Dari empat benua sudah, para tamu berdatangan. Tinggal dari Benua Afrika yang belum. Para tamu itu datang untuk membaca, belajar menulis, meneliti, atau berkonsultasi tentang naskah mereka. Semua dia terima dengan lapang hati, lapang dada. “Siapa pun yang datang ke perpustakaan ini bisa meminjam buku. Gratis. Jika haus, saya suguhi minuman. Saat kami makan, mereka pun saya ajak makan. Jika ingin mengingap, ada kamar tersedia bagi mereka. Itulah kamar kakak tertua saya tidur tahun-tahun belakangan sebelum dia meninggal dunia. Mana ada perpustakaan lain semacam itu?” ujar dia seraya tersenyum, tanpa bermaksud jumawa. Perpustakaan Liar Upaya sepele, sederhana? Boleh jadi. Namun, jika Anda tahu, itu bukan pencapaian sederhana. Sejak mula dia membangun perpustakaan itu sampai kini, masih ada saja pejabat pemerintahan di kabupaten penghasil kayu jati terbaik di dunia yang menyebut perpustalaan yang di kelola sebagai, “Perpustakaan liar!” Karena pandangan sang pejabat itulah, perpustakaan yang dia kelola gagal memperoleh block grant Rp 200 juta dari Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010. “Saat itu saya butuh rekomendasi dari Dinas Pendidikan sebagai salah satu syarat untuk menerima bantuan. Namun rekomendasi tak pernah keluar karena, ya itu tadi, perpustakaan ini dikategorikan perpustakaan liar!” katanya. Liar karena apa? Tak berizin? Kepada siapa kita mesti meminta izin mendirikan perpustakaan – bagian dari upaya mencerdaskan bangsa? Bukankah perpustakaan, dan kemudian penerbitan nonkomersial, yang dia bangun bersemboyan: masyarakat Indonesia membangun adalah masyarakat Indonesia membaca menuju masyarakat Indonesia menulis. Jadi, maaf, terlibat upaya pencerdasan masyarakat lewat pendirian perpustakaan merupakan tindakan ilegal? Masya Allah! Namun itulah cap buruk (stigma) yang distempelkan kepada dia. Stigma “sepele” memang, tetapi itu mempertebal stigma sebelumnya: eks tahanan politik (tapol) 1965. Stigma itu terus melekat sampai kini. Meski sudah kenyang menerima perlakuan tak adil yang berdasar prasangka stigmatik itu, tampaknya sepanjang hayat pula dia mesti terus melawan siapa pun yang memperlakukannya berdasar prasangka bahwa karena pernah ditahan setelah pertikaian politik 1965, dia pasti bersalah. Dan orang bersalah tak berhak berbuat apa pun, meski mungkin perbuatan itu berguna bagi orang lain. “Dulu, di Bekasi, sebelum pulang ke Blora, saya diarak dan disoraki, ‘PKI! PKI!’ . Ya, seperti di sinetron-sinetron itu. Saat itu ada yang mengatakan, ‘Kamu PKI!” Saya bilang, saya tidak PKI. Tak percaya? Lalu saya lepas celana panjang saya untuk menunjukkan pada mereka. ‘Lihat, lihat! Saya tidak pake kolor item!’ Bukankah mereka punya pengertian PKI itu pake kolor item. Saat itu kolor saya merah,” katanya sambil tertawa masam. Itu terjadi gara-gara dia tak bisa menerima begitu saja warung kelontongnya digusur. Penggusuran terjadi berkali ulang. Mula-mula warungnya, kemudian rumah tempat tinggalnya. Dia memang kalah, tetapi tak pernah menyerah. Tahun 2004, dia memboyong anak dan istrinya, Benee Santoso (kini 22 tahun dan telah bekerja di Jakarta) dan Suratiyem (46), pulang ke Blora dan menempati rumah keluarga besar, warisan dari sang bapak, Mastoer. Di kota kelahirannya tak berarti dia terbebas dari perlakuan diskriminatif dan penilaian miring. Namun dia tak peduli. Dia bertekad menjadikan rumah warisan keluarga itu menjadi ruang publik bagi pengembangan seni, budaya, dan intelektualitas. Dan, itu seperti peran rumah itu dulu, tahun 1930-1950, ketika menjadi titik simpul pergerakan melawan pemerintahan kolonial Belanda dan Jepang. Menulis dan Terus Menulis Kini, di dan dari rumah di pojokan kota itulah dia – dibantu banyak eksponen muda – melancarkan gerakan: mencerdaskan masyarakat lewat membaca dan menulis. Ya, di rumah itulah dia acap menyelenggarakan acara diskusi dan bedah buku. Dia menggelar pula, antara lain, Festival Kali Lusi (2008), Seribu Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa (2009), Panggil Aku Kartini Saja (peringatan empat tahun meninggalnya Pramoedya Ananta Toer, 2010). Berbagai acara itu melibatkan banyak komunitas seni dari berbagai kota. Acara Seribu wajah Pram, misalnya, didukung oleh 53 komunitas dari berbagai penjuru negeri dan melibatkan banyak seniman, antara lain mendiang dalang Tristuti Rachmadi, Djoko Pekik, dan Romo Sindhunata. Setahun lalu, dia menyelenggarakan lomba menulis bagi pelajar setingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Blora. Peserta membeludak. Bukan cuma dari kota kecil itu. Tak sedikit pula pelajar dari Kendal, Jember, Denpasar – untuk menyebut beberapa kota – mengikuti lomba. Lalu dia, bersama Hermawan Widodo, menyunting naskah para peserta dan menerbitkannya menjadi buku. Buku pertama dari rencana tujuh buku dia beri judul Kumpulan Tulisan Terpilih Karya Anak Semua Bangsa (Pataba Press, Blora: 2011), berisi puisi dan cerpen hasil pilihan lomba menulis tahun 2011. “Untuk menjadi bangsa yang maju, kita harus membangun kebiasaan membaca dan menulis. Dan, perpustakaan ini dengan segala kegiatan pendukungnya menjadi salah komponen pencerdasan bangsa itu,” tutur dia. Apakah gerakan itu bakal tergusur pula? Tergusur oleh kepongahan kekuasaan? Sebagaimana dia sendiri terus-menerus tergusur dalam laku hidup semenjak muda? Dia tak peduli. Sampai hari ini, dia tetap melangkah tanpa henti: untuk mengajak kaum muda gemar membaca dan menulis. Karena itulah, untuk memperingati hari kematian sang kakak sulung, Pramoedya Ananta Toer, bulan April nanti, kini dia melalui Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba) menyelenggarakan lagi lomba tingkat nasional menulis prosa dan puisi bagi pelajar SMP dan SMA serta yang sederajat. Dia menyediakan hadiah jutaan rupiah bagi para pemenang serta bakal membukukan naskah pemenang. Pram dari Dalam Selain itu, dia juga menulis buku Pram dari Dalam, yang diterbitkan Gigih Pustaka Mandiri (2013). Buku yang dia dedikasikan untuk sang kakak itu berisi tentang banyak kisah kenangan yang mengunjukkan betapa Pramoedya – yang tujuh kali berturut-turut dicalonkan menerima Hadiah Nobel bidang kesusastraan – adalah manusia biasa. Ya, manusia yang memiliki berbagai kelemahan di balik kelebihan yang begitu menggetarkan bukan hanya novelis, melainkan juga sebagai pejuang keadilan dan kebebasan berekspresi. Kesaksian dari sang adik tersayang itu bisa memberikan latar belakang lebih komplet dan mendalam untuk menikmati karya-karya sastra Pramoedya, termasuk tetralogi Pula Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca. “Saya merasa berkejaran dengan waktu. Kini saya sudah 76 tahun. Mungkin tak banyak lagi waktu bagi saya. Namun saya tak akan berhenti menulis. Masih akan ada buku yang saya tulis, termasuk lanjut Pram dari Dalam,” ujar Soesilo Toer. Ya, itulah nama lelaki tua yang masih pengkuh itu. Soesilo, kelahiran Blora tahun 1937, adalah lulusan Universitas Patric Lumumba (S2) dan Institut Plekhanov (S3) – keduanya di Uni Soviet (sekarang Rusia). Menjadi penulis, dosen, bahkan rektor pernah dia alami. Kini dia, yang juga pernah berjualan apa saja, terlebih setelah keluar dari tahanan Orde Baru – tanpa pembuktian kesalahan, berkait dengan peristiwa politik 1965, bangga menyebut diri berprofesi sebagai pemulung. Mungkin dialah satu-satunya orang bergelar doktor yang menjadi pemulung. “Saya memulung apa saja. Saya memulung kata-kata menjadi tulisan. Saya memulung mur, baut, gunting, pisau, palu, arit, atau apa saja yang saya temukan di jalan. Saya ingin, nanti, para peringatan tujuh tahun meninggalnya Pram, memaerkan semua hasil perburuan saya,” ujar dia, tanpa bermaksud bercanda. “Namun saya belum menajdi pemulung profesional. Kalau Anda ingin membantu saya menjadi pemulung profesional, buanglah kalung atau cincin emas Anda dan biarlah saya menemukannya. Menemukan emas sebagai hasil memulung, itulah pertanda sebagai pemulung profesional. Pemulung adalah manusia yang mampu menciptakan nilai tambah absolut dari ketiadaan modal sama sekali,” kata dia, saat syukuran peringatan hari lahir Pramoedya (6 Februari 1924) di Blora, Minggu, 10 Februari lalu. Peringatan hari lahir Pram sekaligus syukuran penerbitan buku Pram dari Dalam itu dihelat di rumah tua warisan Mastoer, sang bapak. Acara bertajuk “Mengenang Pram dari Dalam” itu dihadiri para pembaca dan penggemar karya Pram dari berbagai kota. Ya, berdatangan dari Cepu, Randublatung, Kradenan, Ngawen – semua kota-kota kecamatan di Kabupaten Blora, serta dari Rembang, Pati, Kudus, Semarang, Yogya, dan lain-lain. Di antara kebanyakan kaum muda itu terselip pula beberapa lelaki dan perempuan sepuh. Mereka adalah eks tahanan di Pulau Buru, yang dekat dengan Pramoedya saat berada di pulau pengasingan tersebut. Pada malam itu, mengemuka kesaksian mereka mengenai perjumpaan dengan Pram atau dengan karya sang novelis. Bambang Soekotjo dari Pati, misalnya, menceritakan kedekatan yang terjalin dengan Pram sewaktu di Pulau Buru. Budi Maryono, penulis cum penerbit, berkisah tentang perjumpaan sembunyi-sembunyi dengan karya-karya Pram pada masa Orde Baru berjaya serta perjumpaan dengan Pram secara fisik yang amat membekas dalam kenangan. Berkisah pula Muhammad Burhanudin, dosen Fakultas Bahasa dan seni Universitas Negeri Semarang (Unnes), yang datang bersepeda motor sendirian menembus hujan lebat dari Yogyakarta ke Blora semata-mata untuk menghadiri perhelatan sederhana itu. Ada pula suami-istri muda, yang sedang merintis sebuah perpustakaan publik di Semarang, Afida Mashitoh dan Asep Mufti. Mereka menyatakan amat terinspirasi oleh karya-karya Pram. Dan, lewat pembacaan atas karya-karya Pram pula mereka bisa memahami sejarah bangsa ini secara utuh. Sejarah yang hadir tidak secara sepotong-potong, sejarah yang hadir dengan “tulang dan daging dan darah”. Malam makin larut. Dan ketika acara ditutup. Rumah tua itu tak segera tutup pintu pula. Belasan anak muda dari berbagai kota masih mengobrol dengan tuan rumah, Soesilo Toer. Sebagian menggeletakkan tubuh di atas tikar di ruang tengah, tempat semula mereka berdiskusi: tertidur, kelelahan. Rumah yang selama bertahun-tahun dianggap angker, malam itu riuh oleh percakapan: tentang dunia tulis-menulis, tentang perlawanan terhadap ketidakadilan, tentang harapan hari esok lebih baik di negeri ini. Dan, Soesilo Toer menjadi bagian tak terpisahkan dari geriap anak muda untuk terus menjalani hidup sebagaimana semestinya manusia: tidak memakan sesama. *** Dan, soal kearifan tentang tanaman, izinkan saya perkenalkan Mbah Lastipah, tetangga saya, lewat kisah tentang sepenggal hari dalam kehidupannya. Daun Waru Mbah Lastipah QIRAAH dari masjid memecah kesunyian. Mbah Lastipah bangkit dari dipan, mendekati meja, mengangkat kendi, dan minum seteguk-dua. Lalu, perlahan-lahan mengambil peralatan mandi dari pojok rumah gedeknya, membuka pintu, keluar ke pekarangan. Perempuan tua itu melangkah terbungkuk-bungkuk, tanpa kasut menapaki jalanan kampung. Dia menembus kabut dini hari, menuju sendang di tepian kali. Jarak dua ratus meter dari rumah ke sendang terasa jauh bagi perempuan delapan puluhan tahun itu. Sebentar dia berhenti, menggerendeng entah apa, lalu kembali melangkah. Pelan, pelan seperti siput. Di sendang, dia mencopot pakaian dan mandi seraya berdiri. Kaku persendian membuat dia tak bisa jongkok lagi. Usai bebersih diri, dia menapaki jalanan licin, kembali ke rumah. Ketika azan masih menggema, dia duduk berselonjor kaki di dipan: salat subuh. Usai berdoa tanpa suara, dia melipat mukena. Tanpa gegas dia keluar, mengambil sapu lidi dari samping rumah. Beberapa langkah dia berhenti, menepuk-nepuk sebatang pohon waru di pekarangan rumah. Di sebelah kakinya bertumpuk daun waru kering setinggi pinggang. Dia meniti wot di atas selokan. Di jalan, seraya menyalangkan mata dia menyapu perlahan-lahan. Dalam kesamaran pagi buta, tubuh renta itu seperti timbul-tenggelam. Dia suntuk dalam pekerjaan, menyapu jalanan. Dia punguti daun-daun waru dari pekarangan rumah tetangga, dari jalanan, dan dia tumpuk di bawah pohon. Dari hari ke hari gundukan daun makin tinggi. Dia tak pernah membakar dedaunan itu. Dia biarkan dedaunan itu jadi rabuk, jadi pupuk. Mbah Lastipah menunaikan pekerjaan itu tanpa bayaran. Setiap pagi, setiap hari, bertahun-tahun. Entah sejak kapan. Malam-malam, ketika kantuk menyerang, acap dia menangis sendirian. Dia sesali tubuh renta yang tak kuat lagi bekerja seharian, sehingga selalu ada daun waru tersisa, terserak di jalanan, di pekarangan rumah tetangga. *** “Siapa Mbah Lastipah?” tanya saya, seusai mendengar kisah dari Pak Pi, karib saya di kampung. “Dia tinggal di seberang jalan dari rumah saya,” jawab Pak Pi dengan wajah keheranan. “Oh, dia….?” Ya, ya, saya kenal sosok perempuan tua itu. Namun, tak pernah tahu namanya. “Hampir tiga tahun kau tinggal di kampung ini. Dan tak mengenal tetangga yang berumah sepelemparan batu dari rumahmu?” sergah Kluprut, jauh di relung hati. “Tak bermalu!” Saya tercenung. Ya, kecuali pendengaran yang melemah dan tubuh yang merenta, Mbah Lastipah sepenuhnya sehat. Nalar, rasa, dan karsa perempuan sebatang kara itu hidup sesungguh benar hidup. Dan, terus menguarkan kearifan. Kearifan yang bertolak belakang dengan, misalnya, akrobat para kader berbagai partai politik yang melakukan vandalisme kontrakehidupan berskala masif: memaku pohon untuk memajang segala poster dan spanduk. Dan, hoopla, ruang publik pun disesaki sampah visual! Daun-daun waru yang ditumpuk di bawah pohon oleh Mbah Lastipah adalah sampah organik. Proses alami mengubah sampah itu jadi humus, penyubur tanah. Sampah visual yang ditebar para calon anggota parlemen adalah sampah anorganik; nyaris kalis dari proses penguraian di tanah. Kelak, usai “pesta demokrasi”, sampah itu berubah menjadi racun dan mengurangi tingkat kesuburan tanah. Laku Mbah Lastipah, setiap hari, bertahun-tahun, memang cuma memberikan kontribusi kecil bagi kelestarian lingkungan. Tidak sebesar, misalnya, kontribusi Sariban, yang setiap hari, bertahun-tahun, secara sukarela mencabuti paku dari batang pepohonan di Kota Bandung. Juga tak sedahsyat tekad dan tindakan Badri, yang setiap hari, bertahun-tahun, menanam pohon di mana pun, di sebuah kawasan di Jawa Barat. Namun, sekecil apa pun tindakan Mbah Lastipah, bukankah itulah laku prokehidupan? Sebaliknya, lihatlah ulah para calon anggota parlemen yang terhormat menjelang pemilihan umum ini. Memang tak sampai berbilang tahun, namun sungguh tindakan mereka telah memberikan kontribusi lebih besar bagi perusakan alam, perusakan lingkungan. Vandalisme kontrakehidupan! Mbah Lastipah berbuat tanpa mengharap pujian, tanpa mengharap bayaran. Dia bertindak tanpa kata, tanpa koar. Dia memang buta huruf, tetapi tak buta kesadaran: terus berbuat sesuatu, menjaga keseimbangan alam, keberlangsungan kehidupan. Setiap pagi, setiap hari, bertahun-tahun. Entah sampai kapan. Seraya tersenyum kecut, menekan malu, saya menarik simpulan: Mbah Lastipah, perempuan renta itu, sesungguh benar jauh lebih terhormat daripada siapa pun calon anggota parlemen. Dialah pengibar panji-panji prokehidupan. Bukan saya. Bukan sampean. *** Mbah Lastipah sudah pergi, kembali ke haribaan Illahi. Dan untuk meneladani kearifan perempuan sederhana itulah, saya bertekad terus-menerus mempromosikan air kendi: kepada siapa pun, di mana pun, kapan pun. Dalam sebuah tulisan, saya gemakan semangat untuk secara takzim bertasbih bersama alam itu – sebagai wujud terima kasih atas karunia Sang Mahacinta: tanah-air, yang menyatu secara kasatmata sekaligus secara simbolik dalam air kendi. Simaklah…. Kelangan Wedang, Kelangan Klasa AKU kelangan wedang. Saya suwe saya angel golek legen, banyu tebu, wedang cara, wedang blung, wedang rondhe, wedang alang-alang, wedang jahe, wedang kopi, wedang teh, lan sapanunggalane. Yen ta bisa mrangguli kanthi gampang, wujude wis dikemas dening pabrik kanthi cara instan, sakdek-saknyet. “Gampang, gak prelu kangelan,” ujare Kluprut. Wedang ngilang mbaka sithik mbarengi saka manca gumrujuk inuman sing katelah soft-drink, minuman ringan. Banjur mlebu inuman kanggo nambah daya kekuwatane awak. Ana uga merek lokal, sing jare bisa nambah greng, nambah jos. Embuh apa sing greng, apa sing jos. Rasa kelangan rada kalipur nalika ana sing gawe teh botol. Teh botol (banjur teh kothak) kuwi wujud nyata daya pangripta sing ora gampang kegiles kapitalisme global. Kelangan wedang, aku banjur kelingan banyu kendhi. Nanging rasa kelangan malah ndandra, ngambra-ambra. Saiki, kendhi uga langka, kesingkir, kesingkur. Amarga saiki sapa wae lan ing ngendi wae padha gawe sumur bor, murih gampang gawe banyu mineral lan banyu isi ulang. Ora mligi tumrape wong kutha, ing padesan uga wis lulut manut ngombe banyu mineral utawa banyu isi ulang. Sendhang, belik, tuk, sumber banyu saya asat. Ora kopen. Kita bakal kelangan kendhi, bakal kelangan banyu kendhi. Mula kanthi blakasuta, thokleh, aku gawe palagan: mungsuh swastanisasi banyu. Lan, kuwi dakwujudake kanthi laku nyata: ora tuku lan ngombe banyu mineral sing dikemas. Aku milih ngombe banyu kendhi. Neng ngendi lan kapan wae, yen disuguh banyu mineral ora bakal dak-ombe, ora bakal dakgape. Malah kepara sing nyuguh dak-ece: apa ora kuwat tuku kendhi? Apa rumangsa kelangan drajat amarga ngombe banyu kendhi? Kerep wae nalika jejagongan dak-enggo srana promosi kendhi lan banyu kendhi. “Halah! Ya, pilih tuku lan ngombe banyu mineral. Murah, gampang, praktis, lan sehat. Hari gini, jaman moderen, kok dhemen kangelan,” celathune Kluprut karo cengengesan. Banyu mineral pancen murah. Ngombe banyu mineral pancen gampang, ora prelu kangelan. Nanging apa ya mengkono satemene sing kudu kedadeyan? Biyen, dhek cilik, kuwajibanku ngisi kendhi sing cumawis sanjabane pager ngarep omah. Sapa wae wong liwat sing ngelak, bisa ngombe banyu kendhi kuwi. Lan, kluwarga sing nyawisake kendhi kaya ngono kuwi dudu amung kulawargaku. Meh saben omah pinggir dalan nyawisake banyu kendhi. Saiki, sapa sing isih gelem kangelan nyawisake banyu kendhi? Sapa sing isih gelem kangelan ngombe banyu kendhi? Kamangka sapa wae sing kanthi sadhar ngombe banyu kendhi ing saben dinane, pawongan kuwi wis milih: mehak wong cilik, asah-asih-asuh marang Ibu Pertiwi. Banyu kendhi wujud nyata manunggaling banyu lan lemah, tanah-air. Kendhi simbul usaha ekonomi rakyat. Mula, sapa gelem ngombe banyu kendhi, samesthine uga gelem ngopeni sumbering banyu, sumbering panguripan: sendhang, kali, sumur, belik, tuk, lan sapanunggale. Sabanjure uga bakal duwe kawigaten marang wit-witan, tetanduran, tetanen, tundhane marang lestarining alam. Duwe kesadharan ekologis, duwe kesadharan marang pangrembakane ekonomi kerakyatan. Apamaneh yen ngelingi: banyu minangka kaskayaning nagara sing kudu kaolah lan kagunakake murih kasampurnaning urip sapepadha. Ora kena dihaki dening pribadi-pribadi. Wondene, nyata-nyata, pamarentah wis ngedol banyu marang pribadi sing duwe modhal gedhe, kapitalis. Kuwi pehak sing iwut golek bathi sing akeh lan luwih akeh maneh, nyugihake diri pribadi, tinimbang ngopeni sumber banyu, ngopeni wit-witan, ngopeni alam. “Halah, ora usah sok pahlawan!” grenengane Kluprut karo mbesengut. “Wong nyatane para priyagung, sarjana sujana, nayaka praja, padha ora nggagas bisa apa ora marisake alam sing endah marang anak-putu. Nyatane apa wae wis didol, sapa wae wis dodolan.” Tanpa nggape Kluprut, aku maca alon-alon murih rumesep ing ati, tumancep ing pikir “Sajak Tikar Plastik Tikar Pandan”. Puisi kuwi kaanggit April 1988 dening Widji Thukul, kanca lawas sing durung kadenangan papan panggonan lan pawongane nganti dina iki – sawise diculik sadurunge taun 1998. tikar plastik tikar pandan kita duduk berhadapan tikar plastik tikar pandan lambang dua kekuatan plastik bikinan pabrik tikar pandan dianyam tangan plastik makin mendesak tikar pandan bertahan kalian duduk di mana? Para sedulur, ayo lungguh klasa pandhan, jejagongan kanthi suguhan banyu kendhi lan grontol, kaerut, utawa gedhang goreng minangka nyamikan. Sakwise kelangan wedang, aku ora kepengin kelangan, banyu kendhi, ora kepengin kelangan klasa pandhan. *** Namun, maaf, tiba-tiba kuping saya berdenging. Mendengking suara lengking penuh duka. Habis, habis sudah segala kekayaan melimpah ruah. Tandas, tumpas, segala apa, tanpa pernah bisa memakmurkan anak negeri ini. Dan, lihatlah, Ibu Pertiwi: menangis tanpa henti. Kulihat Ibu Pertiwi Sedang bersusah hati Air matanya berlinang Bak intan yang terkenang Hutan gunung sawah lautan Simpanan kekayaan Kini Ibu sedang lara Merintih dan berdoa. Tembang terakhir itu, mengingatkan kita: betapa kekayaan berlimpah bisa menjadi tidak berkah ketika tidak dikelola secara amanah. Ketika nafsu menguasai lebih besar ketimbang nafsu memelihara, nafsu merawat. Maka, pilihan untuk terus merawat kehidupan adalah dengan menanam: menanam pepohonan, menanam kebajikan, sembari terus mengharap rida Tuhan. Salam, salam! Semarang, 22 Mei 2013: 01.29 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Tulisan ini saya dedikasikan untukmu, Kiai Budi, untuk mengiringi perjalananmu: menebar benih cinta…. |
| Supriyatno Maulana bangun+rumah 's link wujud nya aja manusia , hatinya kaya iblis....dikasih tau harus nya ngerti malah ga trima....ya Allah.... |
| Abdi Tulus Tarigan bangun+rumah 's link ❥ Seorang suami di Al jazair dengan Ikhas dan Sabar Merawat istrinya siang dan malam.. ❥ Hal ini sudah berlangsung 5 tahun sejak sang istri terkena stroke yang menyebabkan ia lumpuh total sehingga tidak lagi mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya .. ❥ Koran Syuruq yang memberitakan bahwa laki2 itu bernama Salim ( 40 tahun ) seorang penjaga sekolah di sebuah kota kecil Almah.. ❥ Dia menikah tahun 1996 dan telah dikaruniai seorang anak laki2.. ❥ Keluarga ini hidup bahagia di tempat tinggal mereka di salah satu ruang kelas di sekolah itu.. ❥ Tapi pada tahun 2007 yang lalu musibah itu datang merenggut kebahagiaan keluarga ini dan sejak itu pulalah sang istri tidak lagi mampu berbuat apa2 bahkan untuk berbicara saja pun ia tak mampu lagi.. ❥ Sejak saat itu Salim sang suamilah yang mengurus istri dan rumah tangganya seorang diri .. ❥ Pagi hari ia bangun pagi2 sekali mempersiapkan sarapan buat anak dan istrinya.. ❥ Ia kemudian pergi untuk menunaikan tugasnya sebagai penjaga sekolah kemudian kembali lagi menemui sang istri setelah 1 jam.. ❥ Ia membersihkan rumah dan menyuapi istrinya itu, sebab untuk memegang sendok saja pun si istri tidak mampu.. ❥ Ia kemudian meminumkan obat buat istrinya, menidurkannya diatas tempat tidur, menopangnya dengan bantal2.. ❥ Demikianlah ia bolak balik ke pekerjaannya kemudian kepada istrinya setiap satu jam sekali.. ❥ Di malam hari paling tidak Salim terbangun 4 kali untuk membalikkan posisi tidur istrinya dari satu sisi ke sisi lainnya.. ❥ Salim berkata : ❥ Kadangkala istriku menahankan rasa sakitnya dan membiarkanku tidur karena merasa kasihan padaku.. ❥ SubhanALLAH,kesabaran itu memang pahit,tapi juga indah sekali ... Wallahu’alam bishshawab.. |
| Nurul Fhalulloh Rhamadhanie bangun+rumah 's link "Ki Bum, bagaimana kw bsa d sini" "aku d undang Lee Sajanim, kata.a aku d ajak k Jepang" "chankkaman, Knapa Dbsk juga ikut, kalian masuk dlu k pesawat, ok" Super Junior, Dbsk , Bigbang dan smua orang yg mereka bawa, palaku pusing lagi, ku percepat jalanku, aku menabrak Yesung, Changmin, dan yg lain, aku sudah tak kuat, aku memegang tangan Yoochun "bantu aku, palaku sakit skali" "knapa lagi" "trlalu banyak orang d bandara ini" "ok, kami membantumu" spanjang perjalan menuju pesawat aku menahan sakit d kepala "duduklah, kw butuh Obat" "shiro, kalian duduk d sampingku saja, biar gak ad yg curiga" "kw bnr tak butuh obat" "ne, biarkan aku tidur, jangan ganggu aku" aku membenarkan dudukku dan memasang handsfree d telingaku, menghayati stiap lagu yg d putar, ku tulis kata2 d slembar tisu *miane oppa, bukan maksudku menghindarimu, kau membutuhkan waktu tuk memenangkan hatimu "Ra-ya kw baik2 saja" "ne, aku baik2 saja, aku k Toilet dlu ya" aku menuju Toilet "Yak, Ra-ya knapa kw menghilang" "ani, aku d depan, kalian saja yg tak melihatku" "Mika, kw jgn trlalu dkat dgn Seung Ri, dia berbahaya" "Yak, kw jgn menjelek2 ku d depan Hyungdeul, kw sndri tukang ingkar janji" "janji apa" "kw akn kencan dgnku" "ok, besok kita kencan" "ok, aku tunggu kw" aku menugu Toilet, karna ada yg memakai.a, ternyata Seung Oppa, ia langsung menarikku dan memelukku "knapa jadi bgini Ra-ya" "lepaskan tanga..mph...mphh..ah." ucapku terputus dgn ciuman.a, ciuman yg bisa membuatku lupa, ku dorong tubuh.a "kluar, aku ingin pipis" dia langsung kluar dr kamar mandi, ku bilas mukaku dgn air, pintu d ketuk "nona, kita segera mendarat, silakan anda kembali k tempat duduk anda" "bisa kw ambilkan Blezerku d bangkuku, bajuku terkena noda" aku menunggu pramugari membawakan Blezerku, bkan.a noda, tp aku kdinginan "Kamsa hamnida, nona" ucapku, aku langsung memakai blezerku dan kluar, aku berjalan dgn sempoyongan, tak tahan dgn rasa d kepalaku, aku langsung ambruk, aku tak sadarkan diri, ktika ku buka mata aku sdang d vila "kau sudah siuman" "bagaimana aku bsa d sini, bukan.a aku ad d pesawat" "kw pingsan, stelah mendarat aku membawamu k rumah sakit, tapi tak menginapkanmu, aku tw kw tak suka rumah sakit" aku tak menghiraukan.a, aku bangun dr kasur "mw kmana" "brisik" "KAU TAK BOLEH KELUAR" teriak.a "brisik, diamlah" dia menghampiriku dan menarik tanganku, dia menciumku ganas, tangan.a meremas breastku kasar "keluarkan desahanmu, itu lbh baik, jangan kw pendam" "lle...pas...kan aku...mph...mphh..ah..ah" bibirku tak lepas dari bibir.a, tangan.a dgn lihai menelusuri tubuhku "ahhhh...kau...Nappeum...ahh..." desahanku kluar, pintu kamar kami d ketuk "Hyung, bloh aku masuk" ia langsung menghentikan Aktifitas.a, ia langsung menutupi tubuh ku yg naked dan dia yg bru trbuka kancing.a "masuklah,pintu.a tak d kunci" "miane hyung, aku mw blang pada Ra-ya, besok jam 8, aku kita kencan" dia tak mengubris ucapan Seung Ri, ia malah asyik memaikan klitorisku d bawah slimut "hyung k dengarkan aku gak sie" "aku mendengarkan, aku tak bisa menjamin jika Ra-ya masih sakit" ucap.a, tangan.a mempercepat kocokan tangan.a d vaginaku, aku hampir mendesah dgn perlakuan.a "hyung, kw jgn macam2 dgn Young Ra" "waeyo, dia istriku, jadi terserah aku" "kw jgn lupa ucapan Ji Young Hyung, ok" |
| Aceh Terkini acehterkini.com bangun+rumah 's link BUPATI Aceh Timur Hasballah M. Thaib akan membangun 375 unit rumah dhuafa untuk masyarakat dan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang tidak memiliki tempat tinggal. |
Ahmad Nadhif bangun+rumah 's video linkإذاً التغيير الحقيقي يبدأ من: 1-الإحساس: تتألم لحال الأمة 2-هذا الإحساس لا يكفي، لابد أن يدفع إلى التفكير العميق، وهذا لا يكفي 3-لابد أن يكون منطلق التفكير هو: العقيدة الإسلامية 4-وهذا أيضاً لايكفي، لابد للعقيدة من نظام لتسير به حياة الناس، وهذا ايضاً لا يكفي 5-لابد من إيجاد كيان سياسي تنفيذي يقوم على الإشراف، لأن التغيير لا يكون ببناء المدارس والجمعيات الخيرية والمستشفيات...هذا ليس فهما يكفي أن يرى فيها نفسا إسلامياً فيغلقها!! لابد من إيجاد دولة هي التي تغير نسأل الله أن يوجد التغيير بالمعنى الصحيح للأمة كاملة، ينطلق بهذه المراحل، تقوم الأمة كلها قومة رجل واحد!!! أما الدعوة إلى الإسلام المفتوح: "الإسلام هو الحل"، "لا بديل عن الإسلام": طيب اعطيني كيفاش!! عليكم مسؤولية أن تطالبوا كل من يتصدر للإسلام: "اعطيني مشروعك في كل شيء، الإقتصادي السياسي الإعلامي، ونحاسبه بالكتاب والسنة أما مجرد عواطف فلا ... |
| Rizki Khalalia bangun+rumah 's link saya tidak tahu kenapa ko cerpen sejelek ini laku, semoga memang ada ibroh yang bisa diambil... Maaf jika terlalu panjang... ^_^ Bubur Pemberian Tuhan Masih berat terasa dalam relung hatiku untuk mengambil keputusan ini. Benarkah ini yang terbaik? Masih terbayang berbagai impian masa putih abu-abu. Masih terbayang berbagai kejayaan masa lalu. Kupandangi berbagai piagam penghargaan serta sertifikat yang selama ini kukumpulkan dengan cucuran keringat, perasan otak, dan begitu banyaknya waktu yang tersita. “Mungkin dede nggak bisa kuliah, bisnis jual beli motor abi lagi down. Bisnis abimu hampir saja gulung tikar, Sayang. Abimu hutang kemana-mana agar hal itu tidak sampai terjadi. Jika hal itu sampai terjadi kita mau makan apa?” Kata Bunda membelai jilbab panjangku. Tak kuasa diri ini memandang mata Bunda yang pasti juga seperti mataku. Berusaha menahan air mata supaya tidak tumpah. ”Ini ujian Allah buat keluarga kita, kita harus bersabar. Bukankah hidup ini seperti roda, kadang di atas kadang pula di bawah? Mungkin kemarin kita bisa hidup berlebih sayang, tapi sekarang Allah sedang meletakkan kita di bawah dalam hal materi. Sekarang masmu juga butuh dana kuliah yang nggak sedikit. Semoga saja masmu tidak sampai berhenti kuliah dan Abimu harus bekerja ekstra keras untuk itu. Abi sama Bunda minta maaf ya... karena Abi sama bunda nggak bisa mengkuliahkan dede.” Lanjut Bunda dengan air mata berlinang saat aku utarakan berbagai mimpi-mimpiku. Mendengar penjelasan Bunda itu, atap dan dinding-dinding rumah serasa runtuh menimpaku. Aku terduduk lemas, diam tanpa daya. Rasanya baru kemarin aku dan teman-teman ribut di kelas saling berdiskusi mengenai universitas, fakultas dan jurusan yang ingin kami raih diselingi tawa dan tatapan optimis. Setiap ditanya, aku pun selalu menjawab dengan mantap dan optimis akan melanjutkan ke universitas yang memang sudah aku impikan sejak menduduki bangku SMP. Namun kenyataannya sekarang? Untuk biaya transport mengikuti tes beasiswa pun tak ada. Benar-benar buntukah? Ya Allah, apakah rencanamu untukku? Iri aku melihat teman-teman sibuk kesana kemari mencoba masuk dari universitas yang satu ke universitas yang lain. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku merasa iri. Namun, aku berusaha ikhlas, aku yakin ada hikmah di balik semua ini. Di tengah kesibukan teman-temanku mengejar mimpi mereka, aku sibuk pontang- panting mencari pekerjaan. Meski Abi dan Bunda tidak meminta anak gadis satu-satunya ini untuk bekerja, aku harus tahu diri. Selama ini, begitu banyak pengorbanan mereka untukku. Sudah begitu banyak yang mereka beri untukku. Tapi apa yang sudah aku beri untuk mereka? Aku pun berusaha mencari info kesana kemari mengenai lowongan pekerjaan. Ternyata Tuhan melihat kerja kerasku. Aku mendapat info sebuah perusahaan besar di kota kelahiranku masih membutuhkan tenaga produksi. Senyum bahagia pun mulai terpancar dari wajahku yang tadinya lesu. Dengan penuh semangat kusiapkan surat lamaran terbaik dan berkas-berkas pendukung yang aku punya. Dengan penuh semangat aku pun datang dengan penampilan paling meyakinkan dan pakaian terapi yang kumiliki. Kutatap pintu gerbang perusahan yang menjulang tinggi itu dengan tatapan optimis dan penuh harap. Kubuka pintu gerbang yang kokoh itu dengan perasaan was-was karena hari ini kali pertama aku melamar kerja. “Ada perlu apa Dik?” tanya pak satpam begitu melihatku memasuki perusahaan. Aku tersenyum padanya. Hmmm... badannya tegap dan kekar tapi suaranya sangat lembut. “Emm... saya mau melamar pekerjaan pak. Saya dengar, di perusahaan ini masih membutuhkan karyawan. Apakah betul begitu?” “Ya dik, betul sekali.. boleh saya lihat ijazah dan KTP adik?” Aku pun menyerahkan berkas yang diminta pak satpam. Kulihat, dahinya berkerut melihat berkas-berkas milikku. “Mohon maaf dik, adik tidak bisa bekerja di perusahaan ini.” Spontan gantian aku yang mngerutkan keningku. Terkejut. “Kenapa? Ada apa? Kan belum tes seleksi. Karena nilai di ijazah kurang istimewa? Atau karena apa?” tanyaku penasaran. Pak satpam tersenyum mendengar berondongan pertanyaan itu. “Bukan.. bukan karena nilai ijazah adik kurang baik, nilai ijazah adik sudah sangat baik. Tapi, umur adik masih 17 tahun. Persyaratan bekerja di sini minimal berumur 18 tahun”. Jawab pak satpam lembut. Astaghfirullah, ternyata menurut pak satpam aku masih di bawah umur. Aku pun pasrah. Dengan langkah gontai, kutelusuri jalan menuju rumahku. Teringat sebuah note kecil yang dihadiahkan temanku untuk menghiburku. “Jika Tuhan tidak memberikan nasi kepada kita, melainkan bubur, tugas kita bukanlah menangisi bubur itu. Karena bagaimanapun, bubur tidak akan bisa kembali lagi menjadi nasi. Tugas kita adalah mencari seledri, ayam, kecap, kacang kedelai, bawang goreng, kerupuk udang, dan lain-lain. Sehingga jadilah bubur ayam istimewa yang lezat.” Ah, indah sekali perumpamaan itu. Yah, tugasku sekarang adalah terus berusaha dan ikhlas agar takdir tuhan ini berakhir dengan indah. Aku mencoba mencari-cari info lowongan kerja lagi. Karena Abi sudah tidak bisa berlangganan koran lagi, dengan penuh semangat kukayuh sepeda pemberian Abi sewaktu SD dulu ke perpustakaan di pusat kota. Jarak antara rumahku dengan perpustakaan cukup jauh sekitar 15 km. Butuh waktu sekitar satu jam lebih untuk sampai ke sana. Tidak mungkin rasanya dalam keadaan seperti ini aku menggunakan angkutan umum, lebih baik uangnya disimpan untuk mengganjal perut. Scooter matic kesayanganku sudah kurelakan untuk abi jual. Aku masih sangat bersyukur karena laptopku masih abi izinkan untuk menemani hari-hariku. Rutin setiap hari kukayuh sepeda butut kesayanganku dengan penuh semangat. Tak lupa aku selalu membawa serta laptopku. Di perpustakaan ini, selain bisa berkutat dengan berbagai koran, aku juga bisa menikmati berjuta-juta buku. Selain itu, aku juga bisa menambah informasi dan wawasan melalui internet dari layanan freehotspot perpustakaan. Aku anggap perpustakaan ini sebagai kampusku. Yah, aku sedang berusaha mencari seledri, ayam, bawang goreng, kerupuk udang, kecap, dan berbagai bumbu serta garnies lainnya untuk bisa membuat bubur yang Allah hadiahkan menjadi bubur ayam yang istimewa dan lezat. “Jangan biarkan sekolah menjadi satu-satunya sumber pendidikanmu. Jadikanlah dunia ini kampusmu (Didik Hermawan)” Aku mendapat info dari sebuah koran ada lowongan kerja sebagai pelayan di sebuah toko buku. Namun, hanya setengah hari. “Ah, tak apa, apa pun pekerjaan itu, yang terpenting adalah kemauan untuk bekerja keras.” Batinku saat itu Setiap hari, pagi-pagi sekali kukayuh sepedaku menerjang jalan pantura yang padat oleh kendaraan bermotor dan truk-truk besar untuk mengais rupiah demi rupiah. Sedangkan tiap sore, sepulang kerja kusempatkan diriku mengunjungi perpustakaan kota. Satu tahun vakum kuliah ini, aku ingin menghasilkan sebuah karya. Aku ingin menghasilkan karya yang bernilai dan bermanfaat. Aku ingin mengubah kegagalan menjadi kesempatan. Karena sesungguhnya aku tidaklah gagal, ini hanyalah pembelajaran. Ya, pembelajaran yang indah. Dari browshing di internet, aku tahu masih ada PTK (Perguruan Tinggi Kedinasan) yang membuka kesempatan bagi pelajar-pelajar Indonesia untuk mendapatkan kuliah gratis sekaligus jaminan kerja. PTK tertentu memang biasanya paling akhir dalam membuka pendaftaran untuk mahasiswa baru sekitar dua sampai tiga bulan lebih lambat dari perguruan tinggi lain. Aku merasa ini adalah kesempatan yang tak boleh dilewatkan. Sekarang aku sudah memegang uang sendiri dari hasil jerih payahku. Meski belum seberapa. Aku bisa menggunakan uang itu untuk biaya pendaftaran. Untuk bisa masuk PTK ini sendiri, harus melewati beberapa tahap tes. Ada tes administrasi, tes tulis, tes interview, dan terakhir tes kebugaran dan kesehatan. Untuk melalui tahap-tahap tes yang dilaksanakan di Ibu kota tentu butuh biaya transport yang besar. Aku harus berusaha mencari uang lebih banyak lagi. Kalau hanya mengandalkan penghasilan dari pekerjaanku yang sekarang, tentu tak cukup. Aku pun pontang-panting mencari pekerjaan tambahan. Pekerjaan serabutan kujalani di siang hari sepulang menjaga toko buku. Hampir tak ada waktu lagi untuk mengunjungi perpustakaan kota. Tapi, ku atur waktu sedemikian rupa agar setiap sabtu sore bisa tetap mengunjungi perpustakaan kota. Aku harus terus haus dengan ilmu dan informasi. Biarlah aku terus mengais ilmu meski bukan di bangku kuliah. Yah, dunia ini masih seluas yang aku impikan. “Ibu dengar Keisya butuh pekerjaan dari siang sampai sore hari ya?” tanya Bu Titin, pemilik toko tempat aku bekerja. “Iya Bu... darimana Ibu tahu?” Jawabku agak heran “Dari Fatin teman kerjamu, sebenarnya Ibu ada pekerjaan untuk Keisya selama dua bulan ini. Tapi, apa Keisya tidak terlalu lelah? Apalagi setiap hari Keisya harus menempuh jarak berkilo-kilo dengan sepeda.” “Insya Allah nggak Bu... Biarlah lelah mengejar Keisya sampai lelah. Keisya nggak mau menyerah hanya karena lelah. Keisya senang sekali kalau bisa mendapatkan pekerjaan tambahan itu.” Jawabku mantap. Aku senang sekali mendengar kabar ini. Setidaknya aku tak perlu lagi bekerja serabutan di siang hari. Allah memang selalu penyayang dalam segala keadaan. Terima kasih ya Allah, terima kasih. Dari hari senin sampai jum’at aku bekerja full sampai sore hari. Sedangkan hari sabtu hanya setengah hari dan di siang sampai sore hari kuhabiskan waktuku di perpustakaan kota. Aku masih menjalankan misiku untuk menerbitkan karya. Sedangkan di malam hari, meski badan sudah pegal tak karuan, kusempatkan diriku belajar berlatih soal untuk persiapan menghadapi USM PTK. Aku sudah lolos tes administrasi. Dua minggu lagi aku harus berangkat ke Ibu kota untuk mengikuti tes tulis. Aku benar-benar berusaha mematangkan persiapan dengan terus berlatih soal, tak jarang pula aku mengerjakan buku-buku latihan soal saat menjaga toko. Seminggu setelah tes tulis, kulihat pengumuman peserta ujian yang berhasil lolos melalui internet di perpustakaan kota. Aku sangat berharap ada namaku di deretan nama-nama orang yang sangat beruntung itu. Namun, sedari tadi mencari tak kutemukan juga namaku. Aku sudah mulai dag dig dug dan lemas. Aku terus mencari hingga ke deret terbawah. “Allah, jika memang menurutmu PTK ini bukan tempat yang terbaik untukku belajar, aku berusaha ikhlas” batinku saat itu dengan mata berlinang. Kucoba terus mencari hingga ke deret paling bawah. “Keisya ash-shihaab.... Oh, Rabbi, benarkah ini namaku? Namaku terpampang diantara orang-orang yang sangat beruntung itu? Alhamdulillah, usahaku terjawab. Akhirnya aku bisa kuliah. Ups, beluuum... masih ada dua tahap tes lagi yang harus kulalui. Tapi setidaknya tes inti ini berhasil kulalui.” Batinku kegirangan Aku sudah sangat optimis bisa berjejer diantara orang-orang hebat yang berhasil memasuki perguruan tinggi favorite itu. Yah, aku pasti bisa! Kabar baik sepertinya sedang memihakku, dua minggu kemudian aku berhasil lolos test interview. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Aku semakin semangat bekerja mengais rupiah demi rupiah untuk berangkat ke Ibu kota menjalani tes tahap terakhir, kebugaran dan kesehatan. Aku pasti bisa meraih mimpi-mimpiku. Aku harus tetap optimis! Seperti biasa, setiap sabtu, sepulang kerja kukayuh sepeda butut kesayanganku. Tak lupa kubawa serta laptop yang selalu menemani hari-hariku. Hari ini aku kurang sehat mungkin karena kelelahan. Namun, itu tak melemahkan semangatku untuk melihat hasil tes kesehatan dan kebugaran yang telah kulalui satu minggu yang lalu. Aku sangat berharap namaku masih berjejer diantara orang-orang yang sangat beruntung itu. Aku mulai berlayar mengarungi dunia maya. Aku terus mencari-cari namaku. “Keisya ash-shihaab dimana kamu? Aku pasti akan menemukanmu diantara deretan nama orang yang sangat beruntung ini...” Batinku optimis. “Hmmm.... tapi kenapa tak kutemukan juga ya? Mungkin saja terpampang di deret terbawah seperti kemarin. Aku harus terus mencari hingga bawah.” Ucapku tersenyum. Aku pun mencari dengan teliti hingga bawah. Dan terus ke bawah. Tapi, tak kutemukan juga. Aku mulai resah. “Ah, mungkin aku kurang teliti. Aku harus mencoba mencarinya lagi.” Hiburku kembali. Aku pun mencarinya kembali dengan sangat teliti berkali-kali. Tapi, tak ku temukan juga. Tes!!! Satu butir air mata jatuh dari sudut mata sipitku. Tak terasa tuts-tuts keyboard laptopku telah basah oleh airmataku. Airmataku tak bisa ku bendung lagi. “Keisya ash-shihaab dimana kamu? Tak pantaskah namamu berjejer di antara orang-orang beruntung itu?” tanyaku terisak. “Oh Tuhan, sia-siakah perjuanganku yang berdarah-darah? Haruskah aku gagal berkali-kali? Aku sudah memaksimalkan semampuku. Tapi inikah jawabanMU?” Hujatku kembali terisak. Aku membiarkan diriku beberapa saat lamanya terisak di depan laptopku. Membiarkan air mataku mengalir membasahi pipi dan jilbabku. “Astaghfirullah, ampuni aku ya rabb, yang telah berburuk sangka padaMU. Sebegitu cengengkah hambaMU ini? Dunia ini masih tetap seluas yang aku impikan. Aku harus yakin rencanaMU akan selalu indah. Akan selalu indah. Aku harus yakin itu. Yang harus aku pikirkan bukanlah seberapa banyak aku terjatuh tapi seberapa banyak aku bisa bangun kembali setelah aku terjatuh. Aku harus tetap ikhlas dan berjiwa besar agar apa pun keadaannya, hidupku tetap indah. Aku harus mensyukuri bubur yang Kau beri. Aku harus menata diri. Masih banyak yang harus aku lakukan. Masih banyak deretan mimpi lain di buku agendaku yang belum aku capai.” Kataku mencoba berbijak pada diriku sendiri. “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat (kasih sayang) Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir (Qs. Yusuf ; 87) Aku kembali menjalani aktivitasku seperti sedia kala. Mengais rupiah demi rupiah untuk meringankan beban orangtuaku. Aku tak mau terus menjadi benalu bagi mereka. Aku mencoba menikmati apa yang aku jalani sekarang. Setiap aku menempuh jarak berkilo-kilo meter dengan mengayuh sepeda untuk bekerja, aku mencoba mengambil hikmah. Aku jadi teringat nasihat abi semalam selepas isya. “Adakah diantara kita yang merasa mencapai sukses hidup karena telah berhasil meraih segalanya? Harta, gelar, pangkat, jabatan, dan kedudukan yang telah menggenggam seluruh isi dunia ini? Marilah kita kaji ulang sayang, seberapa besar sebenarnya nilai dari apa-apa yang telah kita raih selama ini. Sayang, orang yang pongah tentu lupa bahwa apapun yang diinginkannya dan diusahakan oleh manusia sangat tergantung pada izin Allah Azza Wajalla. Mati-matian ia berjuang mengejar apa-apa yang diinginkannya, pasti tidak akan dapat dicapai tanpa izinNya. Ya, begitulah jika manusia bergaul hanya dengan dunianya. Padahal, seharusnya hati kita bergaul hanya dengan Allah, Zat yang maha menguasai jagat raya, sehingga hati kita tidak akan pernah galau oleh dunia yang kecil mungil ini. “Laa khaufun alaihim walaa hum yahzanuun!. Masih ingat ayat ini sayang?” “Ya Abi, Keisya ingat. Tidak ada ketakutan pada mereka dan merekapun tidak bersedih hati.” jawabku “Anak Abi memang cerdas. Ya, sama sekali tidak ada kecemasan dalam menghadapi urusan apa pun di dunia ini. Semua tidak lain karena hatinya selalu sibuk dengan Dia, Zat Pemilik Alam Semesta yang begitu hebat dan dahsyat. Sikap inilah yang seharusnya senantiasa kita latih dalam mempergauli kehidupan di dunia ini. Ada dan tiadanya segala perkara dunia ini di sisi kita jangan sekali-kali membuat hati goyah. Sekali hati ini lekat hanya dengan dunia, maka adanya akan membuat bangga, sedangkan tiadanya akan membuat kita terluka. Ini berarti akan membuat kita sengsara karenanya, karena ada dan tiada itu akan terus menerus terjadi, Sayang. Betapa tidak! Tabiat dunia itu senantiasa dipergilirkan. Datang, tertahan, diambil. Mudah, susah. Sehat, sakit. Dipuji, dicaci. Dihormati, direndahkan. Semuanya terjadi silih berganti. Nah, kalau kita hanya akrab dengan kejadian-kejadian seperti itu tanpa akrab dengan Zat pemilik kejadiannya, maka letihlah hidup kita. Lain halnya jika hati kita selalu dekat dengan Allah, Sayang. Perubahan apa saja dalam episode kehidupan dunia tidak akan ada satupun yang merugikan kita.” Akupun menangis di pelukan Abi. -∞∞∞∞∞∞- Pelukan dari arah belakang membuyarkan lamunanku yang telah mengembara ke masa remajaku. Salju masih turun, sesekali jatuh menerpa jendela kaca apartemenku. “Apa yang sedang kamu pikirkan sayang? Kok melamun?” Bisik suamiku. Dia Melonggarkan tangannya di pinggangku dan mencium pipiku lembut. “Nggak papa Abi. Umi hanya teringat masa remaja Umi.” Jawabku sambil membalikkan badanku menghadap wajah manisnya. Ya, sudah 3 tahun ini aku tinggal di Negeri Paman Sam bersama suami dan putraku yang baru berumur 2 tahun. Dan aku sudah menyelesaikan magisterku di Harvard University spesialis Epidemiology. “Ada yang mau Umi ceritakan ke Abi?” tanya suamiku. Tangannya mengusap lembut rambut panjangku. “Umi hanya teringat masa-masa sulit selepas SMA Bi. Allah tidak memberikan nasi yang Umi minta, Allah malah memberi Umi bubur. Tapi Allah mengajarkan Umi hal-hal luar biasa. Dari kecil Umi dimanja oleh orangtua. Apalagi Umi anak gadis sendiri. Yah, memang keluarga Umi dulu dapat dikatakan berharta dibanding tetangga yang lain. Umi merasa segala hal yang Umi mau pasti bisa terwujud. Ternyata keangkuhan Umi salah. Selama dua tahun bekerja keras dan tidak kuliah, Ternyata Allah mempersiapkan Umi agar ketika meraih segala mimpi, Umi tidak menjadi manusia yang congkak dan angkuh. Tidak pula melupakanNya. Selama 2 tahun bekerja keras dan tidak kuliah Umi berusaha mencari ayam, bawang goreng, seledri, kecap, dan garnies lain untuk merubah bubur yang Allah hadiahkan menjadi bubur ayam yang lezat. Dan Alhamdulillah selama 2 tahun itu Umi bisa menghafal Al-Qur’an 10 juz Bi. Umi juga berhasil menerbitkan sebuah novel dan mendapat penghargaan sebagai novel bermoral terbaik pertama, dan akhirnya Umi bisa kuliah meski dengan susah payah.” Jelasku dengan mata berkaca-kaca memandang matanya yang teduh dan penuh cinta. “Dan sekarang Umi sudah hafal 30 juz. Sudah selesai Magister of Epidemiology, menjadi lulusan terbaik ke lima Harvard University, dan telah berhasil menemukan alat pengendali perang agent biology. Sudah menjadi bidadari cantiknya Basith El bouthy dan sudah punya jundi kecil yang cerdas dan lucu calon penghafal Qur’an” Ucap suamiku. Kedua tangannya mengelus kedua pipiku. “Yah, semoga hati kita selalu lekat dengan Allah Bi. Agar segala yang kita raih semata-mata hanya karenaNya. Untuk dakwah. Umi ingin menjadi jariyah untuk umat Bi. Umi ingin menafkahkan diri di jalan dakwah. Terkadang Umi takut, mungkin saja segala kejayaan yang kita raih saat ini adalah cobaan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan masa-masa sulit Umi dulu. Karena itu, ada dan tiadanya dunia hati kita harus selalu lekat dengan Allah ya Bi.” “Iya sayang... Emm... Abi pernah diajarkan seuntai doa oleh ustadz, Umi mau dengar?” Aku mengangguk dan tersenyum. “Sini tangannya sayang, Tirukan kata-kata Abi ya...” Ucapnya. Dia meletakkan kedua tanganku di atas kedua tangannya yang menengadah. “Ya Allah, letakkanlah dunia di tangan kami. Bukan di hati kami. Dan sebaliknya, letakkanlah selalu akhirat di hati kami.” Aku pun meniru tiap kata doa yang diucapkannya. “Hmmm... sudah malam sayang. Sebaiknya kita segera ke tempat tidur.” Suamiku menarik lenganku lembut. Aku pun berjalan mengikutinya. Sekilas aku melihat ke jendela apartemen, salju turun semakin rapat menembus malam yang semakin gelap. Kulihat beberapa mobil masih lalu lalang menembus padatnya salju yang menutupi jalanan aspal. Dan kini aku telah merubah bubur yang Allah beri menjadi bubur ayam spesial yang tidak hanya lebih lezat namun juga lebih bergizi daripada nasi yang dulu aku harapkan. ^_^ |
| Yaoi fanfiction all about korean Almost EXO bangun+rumah 's link AUTHOR : SL.NC TITLE : SAENGIL CHUKKA HAMNIDA MYEONNII CAST : SULAY GENRE : ROMANCE RATE : M LENGTH : ONESHOOT WARNING : TYPO BERTEBARAN Min SL.NC balik lagi sudah siap kah anda? Merapet-merapet! Cari tempat yang enak ye! Hehehe Yang minta SuLay mari-mari! Ini adegan khusus buat namjachingu Mimin yaitu Suho #dilemparsendalsamaAQUATICS Sengaja bikin FF SuLay emang sekarang hari yang bikin Mimin seneng hehe... AQUATICS, EXOtics sudahkah kalian ngucapin ke suaminya Lay umma? FF ini hanya bermaksud untuk menghibur, YANG TIDAK SUKA YAOI JANGAN BACA AND KAMU-KALIAN YANG SILENT READERS HUSSS! HUSS! PERGI JAUH SANA! Min kesel orang yang begitu HARGAILAH KARYA SESEORANG!!! Yasudah Min banyak omong, tolong untuk kekurangannya harap di maklum kita sesama makhluk yang di muliakan oleh Tuhan sama-sama punya salah ne! HAPPY . . . READING . . . SUHO PROV Tak terasa hari pernikahan ku denganya sudah semakin dekat, kadang aku mengingat masa-masa dimana aku sangat sulit untuk mendapatkan hatinya, jangankan hatinya mendapat senyum darinya saja sungguh sulit. Tapi dengan kerja keras akhirnya aku mampu mendapatkanya,bahkan sekarang aku dan dia akan segera menikah. Aku sangat bahagia tak pernah menyangka di balik kesusahan selama tiga tahun di SMA aku selalu menjadi penggemarnya. Saat ini seperti biasa dia sedang melakukan pekerjaan yang rutin ia kerjakan Yap dia sedang membuatkan sarapan untuk ku. Kedua orang tua ku dan dia sudah menyetujui hubungan ku bahkan kami yang belum resmi menjadi sepasang suami isteri sudah tinggal bersama tak ada yang keberatan dalam hal ini toh mereka juga pasti sudah pernah merasaan hal yang sama seperti ku. Benarkan yang ku duga ternyata dia sedang sibuk dengan dunianya. ku berjalan pelan sangat pelan dan rupanya dia tidak mengetahui kehadiran ku. “ Kenapa kau tidak membangunkkan ku chagi?” tanya ku sambil ku lingkarkan tangan ku di perutnya sungguh aku tak kuat menahan aromanya rasanya ingin ku makan dia. “ Memang jika ku bangunkan kau apa kau akan membantu ku? Bukan kah jika aku menyuruh mu kau malah bergayutan seperti ini kan?” tuturnya aku terkekeh mendengar dia mengomel. “ Morning kiss” ucap ku dia seketika dia berhenti sejenak ku lihat dia menghentikan aktifitasnya dan dia melepaskan tangan ku yang ada di perutnya. Sedikit kecewa seketika itu dia mendorong ku sampai tubuh ku terhempas ke tembok, dia menarik tengkuk ku yang saat itu aku sedang tidak memakai baju, dia melumat bibir ku bukan hanya di lumat tapi lidahnya sedang memainkan bibir ku, entah dia belajar dari mana aku pun tak mau kalah denganya. Ku balas dia dengan jurus ku memperdalam ciuman ku. Ternyata gigitan ku membuahkan hasil dia sedikit meringis dan dengan segera ku masukan lidah ku kedalamnya ku absen satu per satu yang ada di dalam sana semuanya aman, lumatan ku selalu membuatnya terbuai. “ Myeonniiiii sessssaakk” dia memukul dada ku dan seketika itu ku lepaskan panutan ku sebetulnya aku masih ingin menghabisi bibirnya yang errr tak ada duanya dari siapa pun. “ Mianhae aku tak kuat rasanya jika bibir mu mengenai bibir ku chagi” ku tarik tanganya kembali ku letakan dagu ku di pundaknya. Dia masih mengatur napas mungkin lelah pkir ku. “ Kau tak bekerja Myeonnii? hosh... hosh...” tanyanya membalas pelukan ku, tanganya mengelus punggung ku yang toples membuat ku merasakan sensasi yang berbeda. “ Aku ingin bersama mu” jawab ku singkat. “ Aissss... kau ini, kapan kau akan sukses jika pewaris perusahaan seperti mu tidak melakukan tugasnya em?” melepaskan pelukan ku berjalan mengerjakan pekerjaanya. “ Bukankah tiga hari lagi kita akan menikah chagi? Maka dari itu aku akan fokus terhadap pernikahan ku ini, dan juga aku sudah memberi tahu appa tentang masalah ini” ku cium pipinya. “ Mandilah!!! Setelah itu sarapan aku juga sudah menyiapkan pakaian mu, apa kau ingin mandi dengan air hangat? Biar ku siapkan” liahatlah betapa perhatianya dia terhadap ku belum juga resmi menjadi isteri ku sudah sangat membuat ku senang. Itulah Zhang Yixing yang sebentar lagi akan menjadi mengubah marganya menjadi ‘KIM’. “ Aku mau kau yang memandikan ku chagi!” pinta ku kepadanya. Dia menoleh ke arah ku saat ku lihat penggorengan berada di tanganya sepertinya dia sudah siap-siap melemparkan benda itu ke wajah ku, langsung saja aku melesat pergi. “ Huahahaha... mandi yang bersih ne Myeonnii!” ucapnya dan ku mendengar tawanya sepertinya sangat bahagia. LAY PROV Hahhh... aku membuang napas. akhirnya selesai juga ku letakkan semua makanan yang sudah ku masak, memang terlihat sangat penuh di meja makan. itu karna Suho sangat suka sekali masakan yang ku buatkan untuknya, dan dia tidak mau makan selain masakan ku. Tentu itu adalah penghargaan tersendiri untuk ku, yang mana sebentar lagi aku juga wajib melakukan hal ini saat sudah resmi menjadi isterinya. Ku tak sabar menanti saat-saatnya tiba, pasti akan sangat menyenangkan bila sudah menjadi seorang isteri sesungguhnya. Senyum ku tak henti-hentinya merasan hal itu. LAY PROV END “ Wah banyak sekalai chagi? Pasti enak ne” Suho yang sudah rapi mengecup bibir ku dan menggeser kursi bukan untuknya melainkan untuk ku. “ Ladys frist” senyumannya membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan langsung jatuh cinta. “ Enak?” tanya ku ragu. Suho hanya mengganguk kembali memasukan makanya. “ Makan pelan-pelan Myeonnii!” Lay mengelap sisa makanan yang ada di sudut bibir Suho. “ Gomaweo” ucapnya, ‘melihatnya makan seperti ini aku sangat senang’ batin Lay. “ Kau sudah kenyang chagi?” “ Eoh... ani” “ Wahhh... arra ternyata kau menunggu juga ne?” seringai di senyum Suho membuat Lay merasa ada yang tidak enak dalam benaknya. Suho menarik lengan Lay mempertemuan bibirnya dengan bibir Lay. Benar yang Lay rasakan, Suho mentransfer makanan yang baru saja dia masukan dan sekarang makanan itu sudah ada di dalam mulut Lay. Ternyata mereka saling berbagi satu sama lain. Sudah habis Suho kembali duduk begitu juga dengan Lay. “ Mau lagi?” tawarnya. “ Aku bisa sendiri Myeonnii!” Lay mengempotkan bibirnya membuat Suho sekedar mengecup bibir Lay. Sudah selesai makan Lay yang sedang menulis sesuatu di catatanya, dan Suho menghampiri Lay. “ Apa semua teman mu akan di undang Myeonnii?” Lay sambil menggigit pulpen. “ Aku akan undang semua dan kau juga boleh mengundang semua teman mu chagi” Suho menarik pulpen yang ada di mulut Lay dan tidak bosanya Suho mencari kesempatan dalam kesempitan mencium bibir Lay. “ Jinja?” Lay merasa senang akhirnya memeluk Suho. SKIP TIME Semua hadirin sangat menikmati hari dimana Suho dan Lay mengikat janji. Pesta pernikahan memberikan kesan tersendiri bagi para undangan. Suho tak pernah terlihat mengurangi senyumnya. Dan juga Lay terlihat sangat anggun dengan pakaian yang ia kenakan sama halnya dengan Suho, Lay juga selalu tersenyum apalagi setelah beberapa teman dekatnya memberi selamat atas pernikahannya dengan Suho. Memang daru sekiat temanya hanya dia yang belum menikah. Luhan yang datang bersama Sehun yang sedang membawa seoarng yeoja kecil nan lucu, D.O dan Kai yang beberapa bulan baru saja melaksanakn pernikahan tak lupa memberikan selamat, pasangan Chen dan Xiumin memang lebih awal menikah tapi belum mempunyai momongan, Xiumin ge memberikan seikat bunga kepada Lay, pasangan ChanBaek yang terlihat sangat sibuk membawa dua anak kembar mereka membuat Lay iri, dan yang terakhir Kris datang bersama seseorang bermata panda yang tak lain adalah Tao, Kris yang sangat hati-hati memegangi Tao yang sebentar lagi akan melahirkan. SUHO PROV Setelah acara selesai aku dan Lay sedang ada di kamar, suasana yang tidak biasanya membuat ku dan Lay tidak berani memulai pembicaraan. Memang aku dan Lay sudah tinggal bersama tapi kami belum pernah melakukan this and that. Sesekali ku beranikan diri menatap wajahnya yang tidak jauh duduknya dengan ku, Lay hanya menundukan kepalanya ‘andai kau tahu Lay perasaan ku sama saat ini dengan mu’ batin ku. Ke usap pipinya lembut, ku kecup keningnya dan dia memejamkan mata. ‘’BERMAINLAH YANG LEMBUT’’ kata-kata para same terhiyang di telinga ku dan pikiran ku. Dan ku tatap wajahnya ku dekat kan sangat dekat membuat deru napasnya bisa ku rasakan. Dan ku lihat dia sudah memejamkan matanya, bibir ku menempel dengannya. Perlahan demi perlahan ku lumat tanpa ada nafsu sebenarnya sesuatu yang di bawah sana sudah mulai menegang saat dia mengalungkan tanganya di leher ku. Dia membalas lumatan ku bunyi yang khas dari ciuman ku dan dia selalu terdengar. Aku sengaja memberinya kesempatan agar dia bisa sepuasnya merasakan bibir ku, dari sekian aku merasak ciuman ini yang membuat ku sangat melayang. Beberapa menit dia masih setia melumat bibir ku terkadang membagi salivanya dengan ku. Apa yang saat itu aku pikirkan dengan pelan aku mulai membaringkan tubuhnya ke kasur, dia masih saja melumat ku. LAY PROV Aku saat ini sedang bergelut dengan keadaan ku yang sangat canggung, ku sadari dia mendekati ku mengecup kening ku membuat sekjur tubuh ku merinding di buatnya aku mencoba menenangkan keadaan ku dengan cara menutup mata, ku rasakan benda kenyal nan mungil menempel di bibir ku. Ku tahu itu adalah bibir suaminya. Ku rasakan dia melumat bibir ku dengan penuh kelembutan, aku sangat menyukai perlakuannya saat ini terhadap ku membuat ku mengalungkan tangan ku ke leher suami ku. Tapi setelah itu dia menghentikan lumatanya. Dan inisiatif ku membalas melumatnya, aku sadar ternyata aku sudah membagi saliva kepadanya. Saat ini aku masih melumatnya dengan perlahan dia membaringkan tubuh ku ke kasur. ‘apa harus muali sekarang?’ batin ku aku sungguh masih ragu melakukan ‘ITU’ memang aku dan dia belum sama sekali melakukanya. “ Jika kau belum siap kita tunda hingga kau siap chagi” saat aku melepaskan panutan bibir ku, dia meyakinkan ku. Aku hanya menganguk memberi jawaban kalau aku siap. Ku lihat dia yang sedang berada di atas ku tepatnya dia sedang menindih ku. Mencoba memberikan sensasi yang berbeda dia mulai menciumi leher ku dan menyesap membuat ku mendesah. “ Ehhhhmmmm” lenguh ku merasakan nikmat. Ku gigit bibir bawah ku menahan desahan yang keluar dari mulut ku tetap saja aku mengeluarkan desahan ku “ Eemmm ahh... sssttt gellllliiiiii” sepertinya tanda keunguan yang dia ciptakan tidak hanya satu dua dan tiga, melainkan puluhan. LAY PROV END “ Aku akan pelan-pelan chagi” Suho meraup bibir Lay dan kedua tangan yang mulai membuka pakaian Lay. Memang agak sulit tapi bukan Suho namanya jika tidak berusaha dengan giat dan sekarang Lay sudah toples. “ Mmmmhhhhh ahhh....” mendengar desahan Lay Suho berganti melumat nippel yang sudah menegang. “ Ahhhhhh... mmmhhhhh ahh....” tangan Lay mengacak-acak rambut Suho tak karuana. Suho bergantian melumat yang kiri. “ Ahhhkkk...” tangan Suho jail mencekram junior Lay yang masih terbungkus, Suho menggesek-geskan junior Lay mengajak bermain sebentar. “ Ehhhmmm,,,, ahhhh.... ssshhhh ahhh....” sangat merdu di telinga Suho. Suho berhenti sejenak bangkit menatap Lay yang sangat sexy. “ Kau tak mau mengambil alih em?” mengelus nippel Lay. BRUK Lay dengan sangat cekatan membalik tubuh Suho. Lay membuka semua pakaianya dan setelah itu Lay membuka pakaian yang di kenakan oleh Suho. Lay menutup mulutnya tercengang melihat sesuatu yang berdiri tegak. Lay malu karna yang punyanya tidak sama seperti milik Suho. “ Weo?” tanya Suho. “ A-ani” Lay menggeleng. Lay menindih tubuh Suho melumat bibir Suho, tapi kali ini penuh nafsu dari keduanya sampai tak mau kalah. Lay beralih ke nipple Suho sama seperti yang di lakukan oleh Suho Cuma bedanya Lay melakukannya tidak dengan menggunakan nafsu. Lay mencuimi perut Suho yang errr sudah Abs dan berhenti ketika dirinya tak sengaja menyentuh junior Suho. “ Sssshhhh ahhh...” Suho merasa juniornya tersentuh. “ Mi-mian Myeonnii aku tak sengaja” Lay menunduk. “ Gwaenchana chag! Lakukan sesuka mu ne!” Suho sudah memberikan izin. “ Ohhhh mmmhhh.... yeaahhhh goddd ch-chagi emmm...” Lay yang sedang mengulum junior Suho telaten. “ Kauuuu ehhhh... emmm belajar ssshhh ahhhhh... da-riiii mana ahhhhh...” Suho bertanya di sela-sela desahanya yang tak karuan itu. “ Ehmmm” suara Lay seperti mengemut permen. “ Sssssuuudaaahhh ahhhh...” mencabut junior Suho yang ada di mulut Lay. “ Aku mau itu!!!” Lay yang rupanya anteng bermain dengan mainan barunya itu. “ Sekarang giliran ku ne!!! Berbaringlah!!!” Lay menurut. “ Emm... Myeonnii?” tanya Lay. “ Apa chagi?” “ Biar aku yang melakukannya ne?!!!” saat Suho hendak mengocok juniornya Lay yang mengusulkan agar dirinya yang melakukan itu, Lay yang akhirnya senang bermain dengan teman barunya. “ Sssssttttt... ahh... ahh..” sudah cukup Lay mengocok junior Suho. “ Yak! Itu membuat ku geli Myeonnii” Suho menempelkan juniornya ke seluruh tubuh Lay. “ Siap?” tanya Suho dan Lay terlihat menarik napas” “ Hmm... siap!” jawab Lay. “ Sebutkan saja nama ku ne!” uajar Suho menggerakkan juniornya dan mulai memasuki holenya Lay. JLEB “ Appo hiks... hiks... appo... Myeonnii hiks...” Junior Suho setengah masuk tapi tiba-tiba Suho tak tega melihat Lay menderita seperti ini. “ Mianhae chagi mianhae, aku kan sudah tanya tadi apa kau sudah siap kau malah memaksa” mengusap surai Lay. “ Hiks... hiks... hiks... hiks....” tangis Lay menjadi Suho mengecup kedua mata Lay. “ Kau mau aku lepaskan ini em?” tanya Suho tak tahu harus berbuat apa. Tapi Lay masih saja menangis. “ Bergeraklah!” perintah Lay saat junior Suho hendak di lepaskan. “ Kau yakin chagi?” “ Kali ini aku yakin Myeonnii” Lay menarik leher Suho mencium bibir Suho mencoba menetralkan rasa sakit dengan cara seperti itu. “ Ahhh...Ahhh... Ahhh... moreeeeee emmmm...” Suho menggenjot terus milik Lay. Tangan keduanya tak bisa diam yang kanan bermain di kedua nipple Lay dan yang kiri sedang mengocok junior Lay bersamaan. “ Ahhhhhhhh..... Myeonnnniiiii........ ssssstttttthhhh” saat cairan kental melubaer di selangkangan Lay. Suho dengan segera mengambil kesempatan yang tidak terlewatkan menjilati cum yang ada di sekitar perut Lay dan membaginya dengan Lay. “ Myeonnnniiiii ahhhh.... akuuuhhhh emmm... ah... ah... ah...” gerakan maju-mundur terus meningkat. “ Ehhhhmmm akuuuu ahhhh... semmpiitttttt chagiiii ahhhh...” Suho mendorong sekuat tenaga sampai-sampai Lay melengkungkan tubuhnya. “ Ahhh...ahhh... ahhh... diiii ahh... sanaaaaa emmmm ahhh..ahhh...” racau Lay menggeleng ke kenan dan ke kiri tanganya tak henti-hentinya meremas sprei. “ Myeonnnniiiiiiii/ Chagiiiiiiiii” berucap serempak Lay dan Suho, keduanya mengatur napas Suho berbaring di samping Lay menarik tubuh Lay agar mendekat. “ Mianhae tidak bisa bermain lembut chagi” menciumi seluruh wajah Lay. “ Hug me!” Lay yang mengucapkan sangat pelan, Suho tahu isterinya sangatlah lelah. SATU BULAN KEMUDIAN “ Morning chagi?” sapa Suho mencium bibir sang isteri. “ Mor... hoek... hoek...” Lay langsung berlari ke wastafel segera Lay mengeluarkan isi yang ada di dalam perutnya. “ Gwaenchana chagi?” panik Suho, memijat tengkuk sang isteri. “ Apa kau makan-makanan yang salah em?” Suho mengusap bibir Lay. “ Ani! Aku tidak memakan-makanan yang aneh” Lay mengambil secangkir minum. “ Kita ke dokter ne? Aku khawatir terjadi apa-apa dengan mu” Suho sangat khawatir kepada isterinya seketika itu membawanya ke dalam pelukanya. Sekarang Suho dan Lay sedang berada di ruangan yang sendari tadi Lay menahan sesuatu yang ingin keluar dari mulutnya terus saja Lay tahan. Setelah beberapa menit kemudian datanglah seseorang berpakaian serbaputih yang tak lain adalah dokter. Dokter menyuruh menceritakan kelihnya dalam penyakitnya sesudah Lay menceritakan Dokter sudah bisa mengetahui gejala-gejala tersebut. Suho dan Lay mendengar penuturan sang Dokter bahwa Lay sedang mengandung atau sedang hamil. Suho kembali mencium kening Lay bersyukur. Lay hanya bisa menitikan air mata terharu. “ Nah... mulai sekarang jaga kandungan mu ne! Dan kau jagoan appa jangan nakal ne!” Suho bermonolog Lay hanya memperhatikan suaminya mengelus perut Lay yang masih rata. “ Myeonnii hentian itu membuat ku geli, dan kandungan ku ini baru beberapa hari” balas Lay. “ Aku sudah tak sabar menanti kelahiran jagoan ku chagi” mencubit pipi Lay gemas. CHU “ Yak! Rubahlah sikap jelek mu itu Myeonnii!” kesal Lay meninggalkan Suho. SKIP TIME Malam hari Lay terlihat gelisah tangannya mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit, di liriknya Suho suaminya yang sedang terlelap. “ Myeonniii ireonaaa!!!” Lay berucap manja sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya agar bangun. “ Eughhh...” lenguh Sugo saat namanya di panggil. “ Myeonnii” Lay malam itu tiba-tiba menjadi manja seperti anak kecil yang ingin di belikan sesuatu. “ Weo chagi? Kenapa kau tidak tidur em?” Suho membetulkan posisinya menjadi berhadapan dengan Lay tangannya tak henti-hentinya mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk. “ Aku ingin sup Myeonnii!” Lay mengelus-ngelus perutnya. “ Eoh? Ne akan ku buatkan, tunggu sebentar ne!” saat Suho hendak turun dari kasurnya tangannya di tarik oleh Lay. “ Aku tidak mau sup buatan mu Myeonnii” “ Mwo? Lantas buatan siapa Xing-Xing? ” Suho mengusap surai Lay. “ Aku mau buatan Kyungsoo, Myeonnii ne!” Lay tersenyum memelas membuat Suho tak bisa menolak. “ Kau tahu sekarang sudah jam berapa chagi? Pasti mereka sudah tidur jadi, besok saja ne?” Suho berjongkok menghadap Lay. “ Yasudah jika kau tidak mau mengantar ku, aku bisa pergi sendiri lagi pula jam segini masih ada taxi kok” Lay mengempotkan bibirnya dengan tangan di silangkan. “ Kau memang tidak sayang kepada jagoan mu Myeonnii” Suho hanya bisa menghela napas menghadapi ibu hamil mungkin ini yang di namakan ngidam dan sasarannya adalah suami yang harus menuruti kemauan seorang isterinya. “ Baiklah! Baiklah! Kita berangkat sekarang jadi tersenyumlah itu tidak bagus untuknya chagi” Suho mengelus dan mencium sejenak perut isterinya. “ Benarkah?” seketika senyum Lay terpancar melihatkan lesun pipi yang sama dengan Mimin hehe... “ Hey anak appa kau sudah membangunkan nae appa, kau tahu tidak appa tidak bisa menolak keinginan nae umma jika sudah begini, jadi appa minta jangan nakal ne!” Suho bermonolog seperti biasanya dan mendaratkan telinganya di perut Lay. “ Kajja Myeonnii!!!” rengek Lay. “ Tunggu kau sudah membangunkan ku dan kau menyuruh ku buru-buru aku mau sebagai hukumannya cium aku!” Suho memanyunkan bibirnya. CHU “ MWO? Hanya segini?” Suho berharap Lay menciumnya lebih tapi ternyata Lay hanya mengecupnya sekilas. “ Akan aku ganti setelah pulang dari Kyungsoo ne!” “ Yang benar? Kau akan melakukan lebih em?” goda Suho membuat pipi Lay merona. Setelah sampai di kediaman Kyungsoo dan Kai. Suho dan Lay sudah berada di depan pintu saat siku Lay menyentuh pintu tersebut ternyata pintunya tak di kunci. “ Ceroboh sekali mereka” umapat Suho menggeleng. “ Hati-hati dengan keadaan mu Lay!!!” Lay yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan Kyungsoo mendahului Suho yang tertinggal di belakang. “ Myeonnii Kyungsoo dan Kai kemana ne?” Lay mencari di berbagai sudut tak menemukan bahwa ada tanda-tanda mereka. “ Mereka pasti sudah tidur chagi akukan sudah bilang, sebaiknya kita pulang ne tak baik di rumah orang apalagi malam-malam begini” Suho memegang tangan Lay. “ Moreeeee... ahhhhhh... KAIIIIIIIIII” jerit seseorang membuat Suho mengerutkan alisnya. “ Myeonnii sepertinya mereka sudah bangun, aku tak sabar ingin memakan sup buatan Kyungsoo” Lay menarik-narik pergelangan Suho. Suho dan Lay sudah tepat berada di depan kamar Kyungsoo dan Kai saat hendak mengetuk tiba-tiba terdengar bunyi. BRUK BRAK “ Ouuuhhhh... emmmphhh Ouuuhhhh... “ “ Kyungiiii Ahhhhh.... moreeeee ahhhhh....” UHUK UHUK “ Punya mu terlalu bersar Kai tak cukup itu membuat ku tersedak” GLEK Susah payah Suho menahan salivanya Lay pun tak kalah tegangnya saat mendengar desahan yang ada di dalam kamar Kyungsoo dan Kai. Lay menyruh Suho untuk mengetuk pintu kamar yang sedang bercinta ini. TOK TOK TOK Suara aneh yang Suho dan Lay dengar sudah menghilang dan seseorang membukakan pintu hanya sedikit. “ Omona! Ternyata kalian hyung mengagetkan saja, eh... ada apa malam-malam ke rumah ku? Menganggu rutinitas aku saja” Kai ternyata yang membukakan pintu tersebut. “ Mian Kai sebelumnya sudah mengganggu acara kalian! Tapi begini Lay meminta ku untuk...” Suho sedang berbisik di telinga Kai dan Kai hanya mengangguk paham. “ Tunggu sebentar akan ku panggilkan Kyungi dulu!” perintah Kai. “ Wah... semakin besar saja ne” Kyungsoo dan Lay yang saat itu sedang erada di dapur mengelus perut Lay rupanya Kyungsoo iri dengan keadaan Lay yang sudah mengisi. “ Bersabarlah pasti berhasil kok jika kalian berusaha! Dan tadi aku mendengar perkataan Kai kalau itu sudah menjadi rutunitas kalian ne?” Kyungsoo mendongakkan kepalanya. “ Sudahlah lupakan anggap saja aku dan Suho tak mendengar!” kekeh Lay yang mendapati Kyungsoo sedang menatapnya. “ Sudah jadi” Kyungsoo meletakan sup buatannya di atas meja makan. “ Nah sekarang kau coba ne!” ucap Kyungsoo menyodorkan sendok kepada Lay. “ Weo?” tanya Suho. “ Aku sudah selesai Myeonnii, kajja kita pulang!” Lay dengan wajah tanpa dosa melenggang pergi. “ MWOERAGO? Kapan kau memakannya hyung?” tanya Kai. “ Aku hanya ingin menghirup aromanya saja kok, Myeonnii ayo pulang kau tak ingat dengan janji ku?” Suho di buat cengo ternya tidak semudah yang dia harapkan. “ Eoh? N-ne chagi kajja! Kyungsoo Kai mian sudah merepotkan kalian!” ucap Suho membungkuk. “ Aigo! Berani-beraninya mereka mengganggu acara ku dan sekarang sup buatan Kyungi juga tak di makan sedikit pun hyung awas kalian” Kai mengacak rambutnya berumpat kesal, jengkel, dan marah menjadi satu. SKIP TIME “ Ahkkk...” Saat Lay meringis kesakitan saat sedang hendak bangkit dari tidurnya. “ Kenapa chagi?” Suho melihat Lay segera menghubungi seseorang. “ Chagi kau harus kuat ne!” Suho menggenggam tangan Lay. “ Myeonnii hiks... hiks... appo” peluh Lay bercucuran. Suho yang tak tenang hanya menutup wajahnya dengan kedua tanganya. Hatinya tak tenang mendengar teriakan sang isteri berteriak sangat kesakitan. Seketika itu tidak ada tanda-tanda suara dan juga teriakan Lay. Akhirnya suara tangisan bayi pun terpecahkan. Dokter pun menghampiri Suho yang sudah menunggu di depan pintu. “ Bagimana Dok keadaan isteri dan anak saya apa mereka baik-baik saja? Apa saya boleh melihat isteri dan anak saya sekarang Dok?” pertanyaan Suho sudah biasa di alami oleh Dokter mana pun. “ Selamat ibu dan anak anda selamat...” ucap sang Dokter memberi selamat. “ Syukurlah terimakasih Dok! Terimakasih!” Suho berjabat tangan dengan Dokter. “ Tidak perlu berterima kasih, berterima kasihlah kepada Tuhan!” balasnya. “ Selamat juga ternyata isteri anda melahirkan sepasang bayi kembar” Suho yang sangat senang mendengar bahwa Lay melahirkan anak kembar, Suho menghambur ke pelukan sang Dokter menepuk-nepuk bahu Suho. “ Myeonnii” lirih Lay melihat Suho mendekatinya mencium kening Lay tanpa terasa Suho kembali menitikan air mata terharu. “ Gomaweo chagi” “ Dimana anak kita Myeonnii?” tanya Lay karna dia tidak melihat anaknya. “ Tenanglah sedang di tangani oleh Suster chagi” Suho tak henti-hentinya mengecup tangan Lay. “ Gomaweo” Suho mencium kening, hidung dan yang terakhir bibir Lay dan Suho melumat dengan lembut hanya lumatan-lumatan kecil terus menerus Suho lakukan sampai pada akhirnya sang Suster menghentikan aktifitas mereka. “ Myeonnii bayi kita sangat tampan ne? Akan kau beri nama siapa Myeonnii?” Lay hanya memandangi sang anak. “ Eoh? Aku yang memberi nama?” Suho menunjuk dirinya sendiri. “ Ne, SAENGIL CHUKKA HAMNIDA MYEONNII...” Lay bertepuk tangan, tepat di hari kelahirnan Suho mendapatkan sepasang anak kembar. Membuat Suho menitikan air mata bahagia. “ Gomaweo, aku saja tak ingat chagi, karna aku sangat khawatir dengan keadaan mu” Suho memeluk Lay. “ Jadi apa nama yang bagus Myeonnii?” tanya Lay tak sabar. “ Bagaimana kalau SuLay dan LayHo?” “ SuLay LayHo?” ulang Lay. “ Su yang berarti nama ku Suho dan Lay itu nama mu chagi dan sebaliknya dengan LayHo” jelas Suho. “ Mmm... ne aku setuju” Lay menganguk setuju. “ Ternyata appa tak sia-sia membuat mu dan berusaha sekuat tenaga akhirnya kau terlahir sangatlah sempurna di mata appa umma mu, semoga kalian menjadi same terhebat ne!” Suho berucap bangga senyum pun tak luput selalu menebar. “ Aigo! Ternyata sampai juga ne di rumah” Suho yang sudah pulang kerja segera menemui ketiga malaikatnya. “ Eoh? Hyung appa pulang” LayHo melambaikan tangannya ke arah hyungnya SuLay yang sedang membantu sang umma. “ Jinjayo?” tak kalah girangnya SuLay mengetahui sang appa pulang. “ APPA!!!” teriak berbarengan SuLay dan LayHo berlari menghampiri Suho sang appa. “ Ugh... appa tak sanggup meninggalkan kaian chagi” memeluk kedua anak kembarnya. “ Appa kau membawa pesanan ku tidak?” tanya sang dongsaeng LayHo. “ Yak! Kau tahu tidak appa itu baru saja pulang kau sudah menanyakan oleh-oleh huuuu...” balas sang hyung membuat LayHo memanyunkan bibirnya. “ Appa tak lupa kok ini untuk mu SuLayi dan ini untuk LayHo” Suho memberikan satu persatu bingkisan kepada anaknya. “ Bogoshipo chagi” Suho memeluk Lay erat mencium aroma sang isterinya. “ Nado bigishipo Myeonnii” tak kalah erat pelukan Lay, Suho hanya tersenyum. Keduanya melepas pelukannya dan Lay yang memulainya menarik dasi Suho mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Mungking beberapa hari suami-isteri ini sangat merindukan satu sama lain. Lay meraup bibir Suho lidahnya menjilat bibir Suho tangan Lay mulai turun ke bawah tepatnya junior yang sedang tertidur itu membuat junior Suho bangun dari tidurnya. “ Euhhhh” lenguh Suho saat Lay meremas junior Suho terlalu keras. “ Umma bau apa ini?” tanya SuLay anak pertamanya. “ Chagi kau lupa mematikan kompor em?” tanya Suho sedang mejilat leher Lay. “ Eoh? Mian Myeonnii aku lupa Omo” Lay berlari menuju dapur dan itu membuat Suho dan kedua anak kembarnya SuLay LayHo cekikikan di buatnya. “ Hyung aku mau minum” LayHo membangunkan hyungnya. “ Kau sendiri saja ne!” sang hyung membelakangi dongsaengnya. “ Sireo! Aku takut temani aku hyung” terdengar suara LayHo hendak menagis. “ Ne kajja! Uljima!” LayHo hanya mengangguk. “ Ahhhhhh.... ahhhhhh.... Myeonniiii iniiii nikmat ahhhhhh... mmmppppp” “ Sssshhhhh ahhhh.... ahhhh.... moveeee uhhhhh” “ Menunginglah!” suara sang appa sangat jelas untuk kedua anaknya SuLay dan LayHo yang tak sengaja melewati kamar appa ummanya. “ Hyung umma kenapa?” tanya LayHo bingung dan mengaruk-garuk pipinya yang tak gatal. “ AHKK pelan-pelan Myeonniiiii Ahkkk....” mendengar ummanya berteriak membuat kedua anaknya melesat ke kamar mereka. PAGI HARINYA... “ Umma appa semalam kami tak sengaja mendengar umma dan appa berbicara apa hyung?” tanya LayHo sambil memasukkan sarapannya ke dalam mulutnya. “ Ne umma appa desahan, erangan dan lenguhan kalian” ucap SuLay. “MWO???” Suho yang sedang meminum susu langsung menyembur secara tiba-tiba. “ Appa jangan kau buang susunya kan sayang” seru LayHo. “ Gwaenchana Myeoniii?” tanya Lay membersihkan baju Suho yang sedikit basah. Terlihat Suho dan Lay mati kutu di buatnya. “ Kalian mendengarnya sampai mana em?” tanya Suho. “ Sampai mana ne?” LayHo memainkan telunjuknya yang mengetuk-ngetuk dagunya sedang berfikir. “ Aku ingat appa kalau tidak salah Ahkk pelan-pelan Myeonnii ahk” SuLay mengacungkan tangannya, dan Lay hanya bisa menundukkan kepalanya. “ Mengapa umma terdengar kesakitan seperti itu appa?” tanya SuLay, Suho menatap Lay yang tak tahu harus menjawab apa nanti. “ Nah kalau untuk masalah itu kalian bisa tanyakan saja kepada umma mu dan appa hanya memberikan saja umma mu yang merasakan” Suho mengelus satu persatu surai anaknya. “ Umma kami pergi dulu ne dah umma” ucap SuLay dan LayHo melambaikan tangan setelah mencium sang umma. CHU “ Saranghae Xing-Xing!” Suho mencium bibir hanya sebentar. “ Myeonniii....” Lay berlari dan menarik dasi sang suami melumatnya hingga beberapa menit dan moment itu selalu di saksikan oleh kedua anak kembarnya. END HUWAAAAA SELESAI JUGA AKHIRNYA!!! GIMANA-GIMANA SERU? KURANGKAH NC NYE? KAGAK MAU TAHU SUDAH BACA WAJIB RCL!!! MIAN SEBELUMNYA UNTUK NAMA MIN AGAK SULIT NGASIH NAMA ANAKNYE JADI MOHON DI MAKLUM AJE!!! AYO DONG RCL NYANG BANYAK MIN PUNDUNG KALO RCK NYE DIKIT L MIN KAGAK MAU LAGI BUAT FF NC KALO GITUH! DI MOHON SANGAT UNTUK RCL!!! SL.NC |
| Evi Nurlaeli Awaliah bangun+rumah 's link kayanya nih.. rasa-rasanya nih.. memang bener siih.. i love d'BCN :) aiih malem-malem kaya orang ngigau lagi.. :P jadi niii ya klo boleh cerita perjalanan aku bersama d'BCN ituuuu gak kaya jalan TOL yang luruuuus teruuus, jalannya muluuuss.. :P tapiiii lebih kaya jalan menuju ke PUNCAK GUNUNG, banyak kelokannya, kadang naiiik, kadang turuuun, kadang terjal.. tapi insyaallah akan menemukan kenyamanan setelah nyampe puncak.. hehe iya memang bener.. perjalanan aku ga semulus yang dibayangkan untuk membangun bisnis ini.. jatuh bangun, naik turun, kadang diatas, kadang dibawah, itu udah biasa.. dapet banyak downline baru, naik level, turun level, stuck level, downline tidur, itu udah biasa.. tapiii gak tau kenapa, ga bisa berpaling kelain hati untuk lirik bisnis lain.. apa itu namanya udah jatuh cinta sama bisnisnya yah?? hihi tapi emang bener loh.. klo ngerjain bisnis ini memang klo udah jatuh cinta, jadi ENJOY jalaninnya yang katanya bisnisnya bisa dikerjain 80% secara online.. BETUL yang katanya bisa dikerjain sambilan.. sambil jaga anak, sambil masak, sambil jalan.. BETUL yang katanya bisa nambah temen, nambah ilmu, nambah sodara dari seluruh indonesia.. BETUL yang katanya bisa merubah dari GAPTEK menjadi HIGHTEK.. BETUL yang katanya bisa dapetin bonus tiap bulannya.. BETUL yang katanya bisa merubah hidup??.. IYA saya sedang menuju kearah sana.. :) YAAA.. semua "katanya" diatas bener-bener saya alami loh.. semuanya BETUL.. dan "BISA" dilakukan.. duluu mikir, klo jadi ibu rumah tangga.. pasti bosen dengan rutinitas dirumah, jaga anak, urus rumah, yg ujung-ujungnya kedapur.. hehe tapiii setelah joint d'BCN ini semua BERBEDA.. ibu rumah tangga juga bisa loh MEMBANGUN bisnis walau hanya dari rumah saja.. naahh, jadiii.. daripada kamu jadi penonton saja.. mending jadi pemain :) daripada kamu pesimis.. mending jadi optimis :) luruskan NIAT, YAKIN pada bisnisnya.. jalani PROSES nya.. jual + rekrut + bina.. insyaallah kamu akan sampai di garis FINISH mu.. :) go,go,go... DIAMOND.. amin http://www.nadiameutia.com/?id=bisnisbundakeyza #Me&d"BCN# /Evi *seorang ibu rumah tangga yang OPTIMIS bisa MEMBANGUN BISNIS walau hanya dari rumah saja.. ^^ |
| Umar Gandi |
| Ччҝж Жңікэяѕ |
| Dhandy Khawaguchy bangun+rumah 's link *Jangan Memnbaca Dalam Hati* 3 Tahun, 36 Bulan, 144 Minggu, 1008 Hari Rasanya belom puas aku menukmati hari dengan kalian, tak ada yang tak membekas saat-saat kita bersama semua teramat mengenang. Hey kalian yang disana , iya kalian yang sedang berada jauh disana. Seperti apa kabar kalian? Apakah kalian baik-baik saja? Aku harap begitu. Karena aku pun disini selau mencoba untuk terlihat baik-baik saja . :’) Sahabat, terkadang aku ingin memutar waktu . aku ingin kembali ke beberapa tahun yang lalu. Dimana awal persahabatan itu terkuak, lalu menghinggapi memori-memori indah kita . tertawa, tersenyum,candaan, hinaan, ejekan, kesedihan, bukan hal yang tabu diantara kita. Itu sudah jadi makanan “aku” dan “kalian”. iya “kita”. “kita” yang penuh dengan keceriaan serta kita yang penuh dengan kebersamaan. Aku ingin kembali kemasa itu, saat yang hari-hari yang akan kita laluin membuat kita penasaran dengan lembaran esok hari. Candaan apa lagi yang dapat menghasilkan tawa? Ejekan apalagi yang dapat menghasilkan hinaan lainnya? Diantara kita saling mengejek bahakan adalah suatu kebahagiaan. -Kita pernah tertawa bersama. -Kita pernah saling berbagi. -Kita pernah saling menyayangi. -Kita pernah membela saat ‘salah’ menghampiri kita. Semua terekam dalam pribadi masing-masing, banyak hal yang kita lakukan pada masa itu. Jungkir balik persahabatan bahkan percintaan Dan ini yang paling sangat aku ingat.SAAT GURU MARAH > *Bersama* JUAN ARPANDI Di dalam kelas kami menjadi bulan-bulannya guru paling killer di SMA YASPENDA, yaitu Ibu PUJI atau kami sering memanggilnya DORAEMON . iya doraemon, nama itu aku yang buat khusus loh :D, itu karena badannya yang bulet dan pendek, ditambah lagi matanya yang ,melotot. -Dan bersama EYLAND FACHRIZAL Waktu aku pindah ke SMA KUALUH,. Sebenernya gadak guru yang killer , tapi kalok yang gokil banyak, terutama yang paling ingat adalah pak torus , dia kepala sekolah kami, harusnya dia udah pensiun itu, udah ketuaan. Kami pernah di grebek satu kelas sama dia waktu nongkrong di kantin, setelah itu *singkat cerita* kami masuk kedalam dan dia pun menyusul masuk sambil bernyanyi alias berceramah sambil berjalan ke arah ku setelah sampai tepat disamping ku, dan *BLENK* sekejab pandangan hitam kerna teryata kau kenak tonjok sama dia. Akhirnya tak pandang bulu tua atau pun muda, terjadilah perkelahian antara murid baru dan kepala sekolah. *hahah* *lucu kalok ingat itu*TELAT KESEKOLAH > *Bersama* WIRA DANI, dan UDIN. Waktu aku sekolah dia SMA YASPENDA kami selalu pergi bertiga dan selalu telatt, dan kalok udah telat pasti kenak hukun, dan hukumannya adalah jalan jongkok bolak-balik lapangan kadang sampe lima kali balik. Kalok udah masuk kelas, paha itu rasanya di dalamnya ada batunya, yang korasan baya ditambah sakit pulak. Maka dari itu dulu kami kalok udah telat ya langsung blos, dari pada ntarnya kaki sakit kalok buat di ajak jalan *alasan* :D. -Dan bersama EYLAND FACHRIZAL di SMA KULAUH. Kalok ini jangan ditanyak lagi sampek sekolah aja kami jam 9 pagi, gimana gak telat :D.TELAT UPACARA. Waktu di SMA YASPENDA sering sih upacara tapi semenjak pindah ke SMA KUALUH malah gak pernah sama sekali. Sumpah demi apapun cuman satu kali aku upacar di SMA KUALUH, itu pun karna pass ketepatan pertama kali daftar karna hari senin, kalok gak karna senin juga gak bakalan upacar munkiin, :DSETRAP GURU > Kalok ini mending cerita SMP ajalah karna saat di MTs Al-Manaar lah awal persahabatan ini mulai terkuak. Dan disisni korban yang oaling sadus adalah DHANI ANGGARA PRASETYO. Waktu itu kami satu kelas kenak grebek massal di kantin sekolah, tepatnya di kantin OPUNG gara-gara merokok, dan yang menjadi tumbal dalah DHANI ANGGARA PRASETYO, Karna Cuma dia yang kenak tangkap tangan sama pak MASDI *manusia disiplin* . kasian kali waktu ngeliat dia di arak ketengah lapangan upacara pada saat istirahat pertama diaman semua anak Tsanawiyah dan Aliyah pada keluar kelas semua, sontak semua pandanagan menuju kearah si DHANI *sesaat menjadi artis*. Lalu dia di press buat disuruh ngaku siapa aja temennya yang ngerokok di kantin tadi sampai akhirnya dia nyerah dan menyebut nama salah seorang teman kami *aku lupa siapa namanya* dan “teman kami” ini juga di press untuk memberitahu siapa ja temennya yang merokok tadi, dan ia pun menyebut satu orang lagi, dan begitu lah setrusnya. Sampai akhirnya nama kami pun di sebut untu masuk ke ruang BP, antara lain adalah : A. TAUFAN NURDIANSYAH *saya* TOMI WAHYUDI, DEDEK, A, FAJAR SAUD PARLINDUNGAN SIAGIAN dan seuma anak-anak “IX D”, kecuali si WIRA DANI. Itu juga karna kami seoakat untuk tidak melaporknnya karna jika kami melaporkan namanya dalam kasus ini, dia bisa kenak DO alias kenak PECAT. Dan akhirnya kami kenak surat panggilan LAGI. :DCABUT SEKOLAH. Sebenernya waktu SMA itu udah gak musim lagi yang namanya CABUT SEKOLAH alias BOLOS, cuman ya kadang karna lagi males ngadepin guru yang killer dan gak mau jalan jongkok karna telat dateng, jadi kami kadang cabut sekolah. Disini yang berperan penting adalah aku sendiri *A. TAUFAN NURDIANSYAH*, WIRA DANI, UDIN dan A. FAJAR SAUD PARLINDUNGAN SIANGIAN dan kalok ketepatan jumpa dijalan anak yang satu ini juga ikut serta yang sudah tak asing lagi namanya di telinga kalian, dia adalah DANI ANGGARA PRASETYO. Iya, dia yang imannya sering tergoyahkan kalok lagi di rayu-rayu buat di ajak cabut sekolah. -Aku uga pernah bolos kenak tangkap polisi dulu pass waktu di MTs. AL-MANAAR. Ini ceritanya sama si WIRA DANI . Kami ketauan bolos sama pak polisi pass di titi gantung rel kereta api, kami di telanjangi dada sama pak intelnya, terus kami disuruh jaloan dari tigan sampe kantor polisi yang pada saat itu tengah hari bolong *kebayanglah rasa panasnya sumatera utara* dan sialnya lagi pass mau sampek ke jalan raya si WIRA bilang gini “eeeh itu boss mu dhen?” sontak tekejut sambil nengok ke arah jalan raya dan ternyata itu memang benar nyokapku, udah gak bisa bilang apa-apa lagi tinggal nunnggu nyanyian merdu yang keluar dari suara mamakku ajalah ini nantik. Singkat cerita masalah di kantor polisi pun selelsai, sekrang tinggal masalah sama pihak sekolah. Ya, seperti biasa kami kenak surat panggilan lagi, dan sperti biasa juga surat itu abaikan, bahkan sampai 2 minggu *kalok gak salah*. Sampai akhirnya kami di panggilan sama Pak MAHYUNAN PJT *Guru BP* dan dia pun bertanya “Kemana orang tua kalian kok gak datang sudah dua minggu?” Kami menjawab “Gak bisa hadir Pak” Dia nanyak lagi “Lalu, gimana ini?” Terus si WIRA ngomong “Gini ajalah pak, gimana bagusnya sama bapak, giaman juga bagusnya sama kami biar kita sama-sama enak pak”. Ironis memang, anak tingkat Tsanawiyah kelas VIII bisa bernegosiasi seperti itu *Singkat berunding* lalu pak Yunan bilang “Gini aja biar kita sama-sama enak, kalian berdua kasih uang ke saya Rp. 50.000, giamana?” kami pun deal untuk menyepakatinya, berarti kami harus membayar Rp. 25.000 per orang. Dan minggu depannya pun saya langsung membayar lunas uang tersebut *hehe*, tapi kalok gak salah, si WIRA masih belom lunas itu masih ada sangkutan Rp. 15.000 lagi tentang kasusu ini. :D SUASANA KELAS SEPERTI PASAR > Ini cerita waktu di MTs. AL-MANAAR. Setiap kali ada mata pelajaran yang kosong dan ada salah satu anak yang izin keluar terus gak berapa lama dia masuk lagi. Dan kallian ingat apa yang terjadi? Semua menyoraki anak yang masuk kelas itu seperti seorang artis papan atas sambil melambaikan tangan seolah ingin memegang tangan anak yang masuk kelas tadi. Tapi semua itu gak berlaku untuk yang namanya A. FAJAR SAUD PARLINDUNGAN SIAGIAN alias LINDUNG, Dia masuk kekelas lalu disorakin anak-anak yang ada didalam, bukannya malah keluar sambil malu tapi dia malah melambaikan tangan seperti MISS UNIVERS. Sontak kegilaannya itu membuat anak-anak yang ada di dalam kelas langsung tertawa :D BERNARSIS RIA BARENG TEMAN-TEMAN. Bingung pengen cerita yang mana kalok tentang ini karna terlalu banyak. -Jalan bareng keliling sekolah sambil tebar pesona. -Jalan ke PTP biar dibilang gaul. -Nongkrong dirumah Putra Kantong biar biar diliatin cewek-cewek pass pulang sekolah biar dikatain keren sambil merokok. Banyak kali lah pokoknya KISAH ROMANTIS. Inget dulu shubuh-shubuh nemuin pacar buat minta sapu tangan buat UN, kebetulan rumahnya deket sama rumah aku. Segar memang, bangun pagi shubuh-shubuh langsung ngeliat pacar aku yang semok. *Bagi yang merasa boleh di koment* :D KISAH CINTA LOKASI. Inget dulu waktu nyuapin si PUTRI VONI LESTARI waktu ultah dia. Waktu itu Buk Kattie Wulansari *Wali Kelas* nanyak “Siapa disini temen deket si putri yang cowok?” Satu kelas langsung menyebuut namaku *Dhendy Buuuuk*. Awalnya aku nyantai-nyantai aja, karna aku gak pernah berfikir buat di pilih, karna aku di kelas “VIII D” Itu adalah anak baru bareng temen aku yang laen yang di pindahin dari kelas “VII B”, kebetulan saat itu kami baru kenaikan kelas jadi ada perpindahan murid *kembali ketopik*. Setelah di pilih, lalu aku maju dengan malu-malu sambil grogi disuruh nyuapin dia yang lagi ultah dan BLA BLA BLA BLA BLA :D. Tapi waktu akhir semester satu dia pindah. Anak –anak yang laen juga banyak yang cinlok. CONTOHNYA: *Dhanie Anggara Prasetyo & Nova Triyani *Safrizal & Rahma Dewi *Saya seniri juga ada lagi sih, tapi udah ditinggal kawin, jadi gak usah di bahas :P DIHIANATI PACAR. Aku yang baru masuk SMA sudah dihianati pacar yaitu sama si DEBBY AYYU NENG TYAS, yang tidak lain sekarang adalah sahabatku juga. Bahakan panggilan sayang yang kami gunakan saat pacaran pun masih kami pake hingga sekarang, walaupun itu di depan pacar kami berdua. Kami gak perduli yang penting kami nyaman buat makenya, walaupun kadang suka geli :P. “PAPA dan MAMA”, Terdengar lebay memang ya wajarlah namanya juga mmasih kelas satu SMA. Masih banyak yang nggak bisa aku jelasin dan aku ketik semuanya, terutama buat anak SMKN 1 PULU RAKYAT : UBAY, GANDA, FEBREY dan semua anak SMKN 1 PULU RAKYAT lah pokoknya, khususnya yang satu angkatan sama aku, meskipun si ubay tak satu angkatan tapi masukin ajalah, ntar marepet pulak dianya. Meskipun itu buak sekolahku, tapi waktu perpisahan dan 17 Agustus *kalok gak salah* aku baris sama anak SMKN 1 PULU RAKYAT, walaupun sebenernya aku bukan anak situ, bahkan aku adalah anak dari kabupaten tetangga :D. Ironis memang, tapi itu adalah perkenalan yang indah yang berlanjut kedalam sebuah persahabatan yang mendominasikan cerita cinta terasa begitu indah. Saat ujian demi ujian bermunculan, ini lah arti persahabatn sedang di uji, sahabat sejati takkan pernah mati, ujian demi ujian kita lewati bersama kita atasi dengan berbagi, walaupun berbeda tetapi kita tetap SATU. Ya.. SATU... SATU tujuan yaitu LULUS. Sebuah pilihan yang indah berakhir dengan perpisahan. Semua begitu nyata saat kelulusan itu menbelah dunia 2 dunia, memisahkan “AKU” “KAU” dan “MEREKA”. Iya.. “KITA”. Mengakhiri cerita kita di sekolah tercinta kita menutup lembaran terakhir buku kenangan itu. Kini semua itu hanya menjadi kenangan manis terukir berjuta-juta kenangan di dinding sekolah tiap sudut memiliki cerita. Gerbang yang dulu selalu menyapa selamat datang di kala pagi, pulang sambil bermain, sapa dan canda tawa teman berseragam takkan terdengar lagi. Sekarang kita memang terpisah antara jarak dan waktu, belenggu-belenggu udara memisahkan kita. Namun takkan oernah memudarkan kenangan. Kalian pun mulai terlihat nyaman dengan “MEREKA” . Iya... “MEREKA” yang sekarang mengisi hari-hari mu. Dan aku pun begitu selalu berusaha mencari rasa nyaman dengan “MEREKA”. Kita sama-sama berusaha mencoba mencari hal yang baru, tanpa harus melupakan memori lama. Namun tak dapat di pungkiri semakin lama semakin hari, jarak diantara kita kita semakin menjauh. Kami dengan “DUNIAMU” dan aku dengan “DUNIAKU”. Semuanya berjalan seperti air yang mengalir,sanagat mengejutkan. Sankin mengejutkannya waktu ini terasa sangat kejam, betapa tidak, bahkan untuk kembali satu detik lagi pun tak bisa :’( Sahabatku .... sekali lagi aku menyapa kalian!! Buat kalian yang pernah berfikir kalok kita sekarang udah berbeda, udah gak kayak dulu lagi, semua itu salah kalok menurutku. Sungguh .. gak pernah ada niat sedikitpun di dalam benak kita untuk berubah, aku yakin itu. Seluruh sikap kita bukanlah suatu bentuk perubahan, melainkan ini adalah bentuk suatu kekhilafan. Munkin saja “AKU” “KAMU” atau “MEREKA” Terlalu sibuk untuk mencari kenyamanan. Egois memang, tapi aku yakin kita tak pernah niat untuk menjadi orang yang berbeda dari yang pernah di kenal para sahabat kita. Kita saling menyayangi tanpa harus mengungkapkan satu sama lain. Aku ingin kita tetap menjadi sosok seperti dulu. Kita yang dulu dan kita yang sekarang adalah sama, yang berbeda hanya orang-orang disekitar kita dan buku yang kita baca. Sahabat... Karena diantara kita tak ada yang bernama “AKU” ataupun “KAMU” ataupun “MEREKA”, yang ada hanyalah “KITA”. Hanya Sepatah kata untik sahabt yang disertai kenangan tanpa tujuan apa-apa, hanya ingin berbagi. Dan mengatakan apa yang tidak bisa aku katakan. Terlalu “GENGSI” munkin. Ya “GENGSI”... aku yang terlalu “GENGSI” buat ngucapin kalok aku memang terlalu sayang sama kalian semua SAHABATKU. |
| Siska Slaludihati |
| Muhammad Noval Isnaeni bangun+rumah 's link * malam hari pk 21.00 – 23.00 : Adalah pembuangan zat-zat / beracun (de-toxin) di bagian sistem antibodi (kelenjar getah bening). Selama durasi waktu ini seharusnya dilalui dengan suasana tenang atau mendengarkan musik. Bila saat itu seorang ibu rumah tangga masih dalam kondisi yang tidak santai seperti misalnya mencuci piring atau mengawasi anak belajar, hal ini dapat berdampak negatif bagi kesehatan. * malam hari pk 23.00 – dini hari pk 01.00 : Saat proses de-toxin di bagian hati, harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas. * dini hari pk 01.00 – 03.00 : Proses de-toxin di bagian empedu, juga berlangsung dalam kondisi tidur. * dini hari pk 03.00 – 05.00 : De-toxin di bagian paru-paru. Sebab itu akan terjadi batuk yang hebat bagi penderita batuk selama durasi waktu ini. Karena proses pembersihan (de-toxin) telah mencapai saluran pernafasan, maka tak perlu minum obat batuk agar supaya tidak merintangi proses pembuangan kotoran. * pagi pk 05.00 – 07.00 : De-toxin di bagian usus besar, harus buang air di kamar kecil. * pagi pk 07.00 – 09.00 : Waktu penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, harus makan pagi. Bagi orang yang sakit sebaiknya makan lebih pagi yaitu sebelum pk 6:30. Makan pagi sebelum pk 7:30 sangat baik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatannya. Bagi mereka yang tidak makan pagi harap merubah kebiasaannya ini, bahkan masih lebih baik terlambat makan pagi hingga pk 9-10 daripada tidak makan sama sekali. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang akan mengacaukan proses pembuangan zat-zat tidak berguna. Selain itu, dari tengah malam hingga pukul 04.00 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah. |
Powered by WordPress SEO Tools















