Konsep Alam Untuk Desain Rumah Minimalis Terbaru
Desain rumah minimalis masih digandrungi sampai saat ini, hal tersebut tak dapat dipungkiri lagi. sudah banyak orang yang beralih ke desain rumah minimalis tersebut, hal tersebut bukan tanpa alasan karena desain rumah minimalis menawarkan kelebihan tersendiri . Tidak hanya terbatas pada desain rumah, atribut baik yg bersifat interior maupun eksterior minimalis masih menjadi pilihan.
Terkadang sesuatu itu akan berubah pada setiap tahunnya, akan tetapi khusus Untuk di tahun baru ini,diprediksi permintaan rumah dengan desain rumah minimalis terbaru masih tetap tinggi.akan tetapi di tahun 2012 ini Tren model rumah minimalis terbaru untuk 2012 akan memiliki sedikit perbedaan. hal tersebut mengacu pada Perbedaan terletak pada penataan yg lebih condong ke konsep alam. hal ini sangat cocok bila anda juga termasuk orang menyukai dengan suasana alam. Jadi anda akan membuat tertarik pada rumah minimalis ini, walaupun konsepnya minimalis, tapi unsur alam bakal dimasukkan ke dalam desain rumah, sehingga lebih terlihat natural dan tidak kaku.
Dan perlu juga anda ketahui perubahan ini adalah Desain terbaru ini menambahkan, material dgn konsep alam dapat berupa kayu yg sebelumnya sangat jarang digunakan pada rumah berdesain minimalis. Bila pada desain minimalis sebelumnya menonjolkan material metal, seperti stainless steel atau aluminium, maka penggunaan material kayu atau bahan lain yg difinishing sehingga terlihat alami akan lebih mengemuka pada 2012.
Oleh karena itu, sebelum membuat desain rumah minimalis, sebaiknya Anda memperhatikan beberapa aspek penting yg sering terlupakan, yaitu lingkungan sekitar tempat tinggal. Seperti diketahui, rumah minimalis dgn konsep yg cukup minimal bakal menghasilkan keindahan yg maksimal bagi pemilik rumah. karena kebanyakan orang gagal pada saat di proses ini, dimana mereka melupakan seni keindahan pada rumah tinggal.
Dan yang paling terpenting adalah Lahan yg terbatas dapat diubah dgn penataan serta pemilihan warna cat yg sesuai agar kesan sempitnya hilang. Biasanya, penataan layout ruang senantiasa mempertimbangkan sudut ruang agar tidak terbuang percuma. dan pada akhirnya desain rumah minimalis ini akan menjadi satu kesatuan yang menarik antara bangunan dan alam sehingga akan menghasilkan perpaduan yang indah buat anda jadikan sebagai rumah hunian anda nantinya.
Incoming search terms:
BANGUNAN MINIMALIS (49);model rumah minimalis tahun 2012 (22);rumah alam (14);rancang bangun rumah minimalis (13);harga pagar minimalis per meter (12);biaya renovasi rumah type 45 (4);desain rumah minimalis 7 x 20 (4);renovasi rumah minimalis type 27 (3);www rumah melimalis (2);desain rumah 15x20 (2);minimalis rumah terbaru (2);desain rumah minamalis 2 lantai 15x20 (2);harga batu alam per meter di surabaya (2);gambar pagar bei minimalis (2);konsep model rumah natural (1);harga pagar minimalis per meter surabaya (1);harga jasa bangun rumah bekasi 2013 (1);harga batu alam per meter (1);konsep desain aires mateus (1);model rumah dgn konsep natural (1);modermh minimalis type 45 (1);www desain rumah alumunium dan kaca com (1);tipe rumah 15x20 (1);sket rumah type 36 dua lantai tanggung ukuran (1);sket rumah 15x20 (1);rumah murah minimalis kayu (1);Rumah kayu moderen (1);rumah berdesain kayu (1);rehab rumah tipe 36 (1);Harga bangunan material jatu asih (1);gambar rancang bangun rumah 5x25 (1);desain rumah 15 x 20 (1);desain eksterior rumah minimalis tipe 36 (1);desain denah rumah 15x20 (1);denah rumah modern konsep alam (1);denah rumah minimalis modern 1 lantai 15x20 (1);denah rumah desain interior (1);denah rumah 15x20 (1);contoh design rumah untuk type 48 (1);bangunan berkonsep alam (1);ay ober bagi contoh design denah rumah minimalis lantai tipe terbaru (1);desain rumah berkonsep alam (1);desain rumah minimalis 15 x 25 (1);gamabar desain rumah tinggal type 36 (1);foto tki dinamsan tower korea (1);foto rumah minimalis dgn konsep batu alam (1);exterior rumah 1tingkat (1);disain rumah konsep alami (1);disain denah rumah (1);design rumah tipe 36 2 lantai (1);desain rumah modern konsep alam (1);desain rumah minimalis ukuran 5 x 25 m tanpa tingkat (1);desain rumah minimalis dgn luas tanah 15x20 (1);36 rumah desain (1);
d_w_i
Mon, 20 May 2013 17:49:29 +0000
RT @Aal_Reverend: Bangun kepribadian dulu, kalau sudah siap baru bangun rumah tangga... Lol
AmirvlAizat
Mon, 20 May 2013 17:45:55 +0000
Esok pagi kena bangun awal. Nak repair atap rumah. Takkan nak tidur dalam banjir selamanya. T_T
dianjune
Mon, 20 May 2013 17:45:26 +0000
« nyampe rumah ketiduran , bangun dan skrg baru selese mandi = kena omel :(
Aal_Reverend
Mon, 20 May 2013 17:44:36 +0000
Bangun kepribadian dulu, kalau sudah siap baru bangun rumah tangga... Lol
rafikamil10
Mon, 20 May 2013 17:43:23 +0000
Udh dpt desain buat bangun rumah the sims ahahahaha
madaarya
Mon, 20 May 2013 17:41:50 +0000
kamu kok belum bubu.. RT @aldajulian Iya nih "@madaarya: wow, kamu masih bangun jam segini nungguin aku sampe rumah.."
kholilsteve
Mon, 20 May 2013 17:41:21 +0000
Amiiiiin :) @piiselpi: bangun rumah tangga wkwkwk RT @kholilsteve: Haha sekalian aja bikin bangunan haha RT piiselpi: ntar dah (cont) http
fvhrer_
Mon, 20 May 2013 17:39:14 +0000
@xylaMM Biaya bangun rumah kamu ?,oke.
mamat_mr
Mon, 20 May 2013 17:36:03 +0000
Amiinnnn"@ellysmi: Bobo beneran,besok bangun subuh2 rerapih rumah masak nyiapin sarapan anak n suami."
RahilaAcong
Mon, 20 May 2013 17:36:00 +0000
Abeh kalau aku dah tido, kene pakse bangun stakat tak buat kerje rumah macam mana eh. SERIOUSLY FML SIA.
IBTSYZN
Mon, 20 May 2013 17:28:46 +0000
Tido awal. Esok boleh bangun awal. Then boleh call rumah awal awal. And dapat released stress awal awal sebelum pegi kelas.
MuhamadHazziq
Mon, 20 May 2013 17:28:43 +0000
Bangun pukol 10 mandi siap siap pergi rumah zaki dulu . Aku harap dia dah bangon mandi siap siap masa toh -.-
MyyraMira
Mon, 20 May 2013 17:26:52 +0000
Baru sampai rumah :/ jam 4 dh kena bangun.
ekin_hamdan02
Mon, 20 May 2013 17:26:26 +0000
Hahaha . Sengal . Dah nak 1.30 pun -_- baru sedar . Semua org kat rumah ni tak tido lagi . Bangun lambat lah jawabnya nanti
rossparamitha
Mon, 20 May 2013 17:26:03 +0000
lah km itu babah tak tlp2 trus km besok pagi RT @mirdjedot: ya allah cek isuk eeee RT rossparamitha: dari rumah jam 8 bangun jam 7 RT @m
Videos

MA Berencana Bangun Gedung 15 Lantai
(PENDEDAHAN): Tip Kewangan Irfan Khairi, Bangun semula selepas Raya HMM, TV1
Warga Tanah Tinggi Tagih Janji Jokowi Bangun Rumah Deret
Arif, Bangun Jembatan Demi 'Sekolahkan' Anak Bangsa
JEPEN BEHUMA - RS. DAYAKU RAJA (KOTA BANGUN) KALTIM
Tren Bangun Rumah Mini di California Dunia Kita Ep. Desain Ramah Lingkungan
Koleksi Seni Rancang Bangun di National Building Museum Dunia Kita #525 Ep. Rancang Bangun, ...
Berkantor Bersama di Affinity Lab Dunia Kita #525 Ep Rancang Bangun, Arsitektur & ...
Adab Bangun Tidur
Pemkab Bangkalan Bangun 35 Rumah Tidak Layak Huni
| Alex On Skype-sex bangun+rumah 's link |
| Keno Rizandi bangun+rumah 's link "Whatever happens. I must not cry. You cannot make me cry." —Shrek 2 Naruto is not mine, you know well laaah #plak Melepasmu is purely mine! Warnings: AU, OOC, gaje, aneh Silahkan membaca! DLDR! NaruHinaSasuSakuGaa "The wonderful thing about falling in love is you learn everything about that person and so quickly" —Playing by Heart M E L E P A S M U Chapter 6 Kadang aku selalu berpikir, apakah menyukai seseorang yang telah memiliki pasangannya adalah suatu kesalahan? Ternyata itu semua tidak salah. Perasaan suka itu adalah hak kita. Siapapun tidak berhak untuk menghentikan perasaan yang kita miliki ini. Hei, tahukah kau kapan cinta itu datang? Cinta datang tanpa kita sadari. Kemunculannya begitu tiba-tiba. Secara diam-diam menyusup ke dalam relung hati ini. Menghangatkan namun menyiksakan. Dan kapankah cinta itu akan berhenti? Cinta akan berhenti jika kita lah yang akan menghentikannya. Jadi kapan kau akan menghentikan cinta yang menyakitkan ini, Naruto? Entahlah. Sampai kauu tua? Tidak mungkin. Jawabannya adalah sampai aku merasa sudah saatnya untuk melepaskan cintaku padanya. Hyuuga Hinata. Percakapan dalam mimpi itu terhenti ketika suara sayup-sayup memasuki indra pendengaran pemuda berambut kuning jabrik yang masih memejamkan mata. Dengan sedikit erangan, akhirnya dia bangun juga walau masih sedikit terkantuk mengingat dia jarang bisa dibangunkan hanya dengan sekali satu panggilan. Suara khas milik keluarga tercintanya semakin mendekat dan terasa kencang di telinga si pemuda. Namikaze atau yang diketahui Uzumaki Naruto itu mengucek sebelah matanya, kemudian mengalihkan pandangannya ketika pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. "Kau sudah bangun?" Tanya seorang wanita berambut merah panjang dengan celemek berwarna kuning bermotifkan bunga matahari yang sedang tersenyum cerah di tengah pintu. "Ya," gumamnya. "Terima kasih Kaa-san membangunkanku lebih awal." Kemudian dia menguap lebar. Uzumaki Kushina adalah seorang ibu rumah tangga, dia tersenyum senang kepada anak tercintanya itu. Untunglah hari ini dia tidak perlu susah-susah membangunkan putra tunggalnya. Karena biasanya Naruto sangat susah untuk bangun pagi dan baru bisa bangun ketika Kushina menyiramnya dengan air dingin. "Cepatlah sarapan. Kau akan latihan pagi, bukan?" Naruto mengangguk, sesekali menggaruk-garuk perutnya. "Bergegaslah." Kushina menutup pintu kamar anaknya kemudian melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Langkah-langkah kecilnya menuruni tangga lambat laun mengecil. Naruto bangkit membuka sisi jendela, menghirup udara segar yang masih bersih dan dingin. "Semangat!" tiba-tiba saja dia mengepalkan tangan kanannya ke udara. "Tiga hari lagi aku akan menemukanmu, Sakura-chan. Suna aku datang!" . . . "Aku tidak semangat~" keluh Naruto. Wajahnya tampak suram setelah latih tanding dengan sahabatnya. "Semangatmu kendor sekali." Gumam Shikamaru si pemuda berambut nanas yang menatap Naruto dengan jengah. Naruto merebahkan tubuhnya di rerumputan dekat pagar pembatas lapangan sepak bola. Kedua tangannya Ia silangkan untuk dijadikan bantalan. "Habisnya Teme bermain licik. Dari tadi bolaku berhasil direbutnya." Shikamaru ikut-ikutan berbaring di samping kiri Naruto. Matanya tertuju pada langit pagi hari yang kala itu masih bersih tanpa ada setitik awan pun. "kau saja yang bodoh karena bermain tidak memakai strategi." Naruto memonyong-monyongkan bibirnya. "Aku tahu, Tuan ahli strategi." Shikamaru mendengus. Matanya sudah mulai terpejam ternyata, Naruto melihatnya sekilas kemudian mengikuti kelakuan Shikamaru. Dirasakannya semilir angina pagi yang masih terasa sejuk menyentuh permukaan kulitnya. Sinar matahari yang masih hangat tidak terlalu panas membuatnya merasakan keenakan. Juga suara-suara teman-temannya yang berada di lapangan terdengar di indra pendegarannya. Terdengar bersemangat dan penuh sorakan anak-anak perempuan yang kerajinan datang pagi hanya untuk menyemangati mereka di pinggir lapangan. "Shikamaru." Panggil Naruto namun dengan mata yang masih tertutup. Shikamaru hanya menjawabnya dengan suara dalam. "Apa… Menurutmu apa salah kalau aku menyukai Hinata?" Tanya Naruto lirih. Dia memposisikan tubuhnya dimiringkan ke kanan membelakangi Shikamaru. "Perasaan yang kau miliki adalah hakmu, Naruto. Jadi tidak ada salah atau benar kau mempunyai perasaan itu terhadap seseorang." Jawab Shikamaru dengan uapannya yang besar sesekali tentunya. Tiba-tiba saja perasaan Naruto menjadi hangat mendengar jawaban dari Shikamaru. Jawaban yang selalu ingin dia dengar. Bukan suatu pembelaan ataupun suatu keputusan yang ujung-ujungnya pasti akan menjadi pilihan dia sendiri. Dia hanya ingin mendengar kebebasan dari pertanyaan yang kadang menghimpitnya ini. "Terima kasih, Shikamaru." Naruto bangkit dari acara baringannya. "Ayo kita latihan! Kita tidak boleh kalah dari Suna, terutama Sabaku no Gaara!" Dengan penuh semangat yang menggebu-gebu, Naruto menarik paksa kedua tangan Shikamaru. "Mendokusei." . . . "Like I said before, I'm just being me, and you should just being you. It's so stupid to talk about all the things that you're not." —Nara Shikamaru . . . Hyuuga Hinata agak panik mengetahui kekasihnya itu terluka karena kakinya tergelincir saat merebut bola dari lawannya. Dengan wajah yang sudah memucat itu dia berjalan setengah berlari bergegas menuju ruang UKS. Dibukanya pintu geser dengan tak sabaran. Napasnya tidak teratur dan peluh sedikitnya membanjiri wajahnya. Kedua pemuda yang berada dalam ruangan UKS cukup terkejut sepertinya mendapati sosok Hinata yang sedang mengatur napasnya itu di tengah pintu. Naruto sedikit kaget melihat wajah Hinata yang begitu panik melihat sahabatnya yang sedang membalut lukanya sendiri―jangan bertanya mengapa bukan Narutolah yang membalut luka sahabatnya itu, karena Ia tidak terampil membalut luka yang ada hanya memperparah luka saja. Pemuda yang berada di samping Naruto―duduk sembari membalut lukanya dengan tenang itu―tetap melanjutkan acarra membalut lukanya setelah tahu siapa gadis yang dengan serampangan menggeser pintu UKS itu adalah kekasihnya sendiri. Uchiha Sasuke dengan wajah stoic-nya hanya fokus membalut lukanya. Naruto yang menyadari suasana yang kurang harmonis itu membuka suaranya. "Ah, Hinata-chan ada apa kemari? Wajahmu pucat sekali." Tanya Naruto dengan cengiran khasnya. Hinata yang sudah bias mengontrol dirinya itu tersenyum canggung pada Naruto. "A-aku ke sini ka-karena ingi melihat keadaan Sa-sasuke-kun." Jawabnya agak terbata, "O-oh!" Naruto tidak tahu lagi apa yang harus dibicarakannya. Apalagi melihat Sasuke yang asih diam. Apa dia malu karena ada aku di sini ya? Sialnya, gumam Naruto. "Baiklah aku pergi dulu. Teme kau sudah bisa berjalan sendiri kan nanti?" Sasuke mengangguk singkat. "Hn." "Jaa, jangan bolos ya Hinata. Teme, aku duluan ke kelas, ya." Naruto melewati Hinata dengan wajah datar. Tidak ada lagi kata –chan untuk Hinata membuat Hinata merasa sakit di dekat ulu hatinya. "Aku baik-baik saja." Tiba-tib saja Sasuke berucap seperti itu membuat Hinata yang sempat terbengong gelagapan. Padahal 'kan dia belum bertanya apapun. "Ke-kenapa kau bisa tahu?" tanyanya dnegan wajah yang memerah. "Karena kau adalah kekasihku." Sasuke menyeringai senang. "Kemarilah." Dengan gugup Hinata menghampiri kekasihnya itu. Sasuke yang sedang duduk dengan kaus seragam olahraga Konoha yang agak lepek karena keringatnya membuatnya semakin keren saja. Hinata jadi malu sendiri karena tadi sepintas dia memikirkan bagaimana wangi keringat Sasuke tidak sama seperti wangi tengik pemuda kebanyakan. Hinata menyambut uluran tangan Sasuke yang tidak lagi memegang perban. Kedua tangan itu bersambut saling mengeratkan entah menyalurkan energi apa yang mampu membuat keduanya terasa nyaman. "Syukurlah ka-kau baik-baik saja." Lega Hinata dengan wajah penuh kelegaan dan senyumnya yang lembut. Sasuke balas tersenyum hingga mampu membuat Hinata merona hebat. "Ya." Keduanya saling terdiam menikmati saluran-saluran cinta yang erjalan diantara keduanya. . . . "Bagaimana kabarmu?" Tanya seorang pemuda berambut merah menyala memasuki ruangan bercat putih polos dengan bau obat-obatan. Keranjang buah yang dibawanya ia letakan di dekat meja samping tempat tidur dimana ada seorang gadis tengah membelakanginya sambil duduk. "Kabar baiknya besok dia akan pulang." Jawab pemuda lain berambut merah bata yang berada di ruangan itu. Kedua tangannya terlipat di depan dada, matanya menusuk tajam pemuda berambut merah menyala dengan judes. Kemudian Ia mengambil salah satu apel yang dibawa pemuda tadi untuk mengupasnya. "Syukurlah." Walau kelihatannya wajahnya datar namun terpancar dari kedua mata jade miliknya yang melembut. "Aku senang akhirnya bisa keluar dari sini!" suara cempreng namun terdengar indah itu terlontar dari gadis berambut merah muda yang sejak tadi duduk memandangi keadaan di luar. "Aku tidak sabar untuk sekolah kembali, benar bukan Gaara-kun?" Pemuda berambut merah menyala yang disapa Gaara itu hanya mengangguk. Dibelainya lembut rambut merah muda gadis itu. "Aku juga tidak sabar kau akan sekolah bersama denganku, Sakura." Sakura hanya mengangguk-angguk senang. Dilihatnya pemuda berambut merah bata yang tengah mengupas apel menjadi bentuk kelinci itu dengan serius dan tertawa kecil. "Sasori-nii aku kangen dengan keadaan di rumah." Sakura mengunyah apel yang telah dikupas itu dengan lahap. "Walau aku tidak ingat bagaimana dulu aku hidup dengan kalian di sini." Sontak keduanya hanya terdiam, namun secepat kilat terlihat biasa kembali. "Ya, adikku yang manis." Sasori menaruh apel-apelnya di atas pangkuan Sakura. "Gaara ikut keluar bersamaku sebentar." Gaara hanya mengangguk kemudian mengikuti langkah Sasori menuju keluar ruangan. Sakura yang melihat mereka berdua hanya diam dengan mulut penuh apel. "Haha afha ha? (Ada apa ya?)" Sasori menyadarkan tubuhnya di dinding rumah sakit. Kedua tangannya masih setia melipat di depan dada, berbeda dengan Gaara yang hanya memasukan sebelah tangannya ke dalam saku celana jinsnya sedang tangan yang lain menyisir anak rambutnya yang mengganggu di dahinya. "Kumohon jangan mempermainkan adikku." Alis kiri Gaara terangkat. Tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Sasori. "Maksudmu?" Sasori membuang napas pendek. "Aku tahu kau yang menabrak adikku dan aku tahu kau hanya berbaik hati untuk menebus kesalahanmu dengan mengunjungi adikku dan meminta maaf pada keluargaku. Tapi, tidak seperti ini." Sasori memandang serius Gaara. Mata hazel-nya seolah mengintimidasi Gaara seperti hendak memangsanya. "Berpura-pura menjadi kekasih Sakura bukan hal yang baik. mengingat dia hilang ingatan tapi tindakan menjadi kekasihnya itu mus―" "Bukan aku yang memintanya. Tapi, Sakuralah yang menganggap bahwa aku adalah kekasihnya." Potong Gaara cepat. "Lagipula aku tidak keberatan untuk menjadi kekasihnya, selain untuk menebus kesalahanku juga karena aku―" "Menyukainya? Huh?" potong Sasori dengan nada sinis. "Kurasa tidak ada orang yang tiba-tiba saja ada yang langsung jatuh cin―" "Ya, aku memang jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya." Lagi Gaara memotong ucapan Sasori. Sepertinya duo merah ini saling memotong ucapan-ucapan yang terlontar kemudian disusul dengan deathglare andalan masing-masing. Terlihat kekanak-kanakan sekali. "Baiklah. Aku paham wahai sepupu jauhku." Dengus sasori. "Huh? Kurasa kau harus segera merestui hubungan kami dari sekarang, Sasori-nii." Seringai Gaara. "Menyebalkan sekali kau, Sabaku no Gaara." . . . Menjelang H-2 turnamen olahraga yang akan diselenggarakan di Suna membuat tim sepak bola makin gencar untuk giat berlatih. Tak tanggung-tanggung mereka hanya masuk ke kelas saat jam istirahat kedua. Karena hal tersebutlah kadang Hinata cemas kepada kekasihnya yang kini bergabung dengan tim sepak bola beberapa minggu lalu itu yang sudah semangat latihan intensif. Takutnya saja Sasuke tertinggal pelajaran namun nyatanya saat ulangan mendadak nilai kekasihnya itu selalu sempurna. Atau dengan kondisi kesehatan Sasuke yang kemarin tergelincir kini sudah bisa berlari-lari di lapangan sepak bola dengan penuh semangat. Apakah lukanya sudah sembuh? Tentu saja Uchiha Sasuke si jenius itu bisa menyembuhkan dirinya secepat mungkin dengan ramuan ajaib milik klan Uchiha. "Haaaaah~" Hinata menghela napas panjang dan jengah melihat kekasihnya sehabis pulang sekolah masih saja berlatih dengan timnya. Tenten sang menejer tim sepak bola yang matanya awas melihat kemajuan timnya itu tak sengaja melihat wajah lesu Hinata. "Kenapa?" Hinata gelagapan ditanyai begitu. Wajahnya panik dan memerah. "A-aah tidak apa-apa, Tenten." Gelengnya cepat. Tenten terkikik geli, Hinata menundukan wajahnya malu. "Maaf…" "Seharusnya kau semangati kekasihmu. Dia butuh dukungan bukan wajahmu yang lesu itu yang ingin dilihatnya." Tenten memainkan papan para pemain sepak bola tim Konoha dengan mengetuk-ketuknya di permukaan kursi. "Me-memangnya be-begitu, ya?" tanyanya malu dengan wajah pucat dan bersemu bebarengan. Tenten mengangguk pasti. "Ya! Lihat saja Naruto!" tunjuk Tenten pada pemuda yang sedang mengelap keringat di dekat tiang gawang. "Anak-anak perempuan yang berisik itu menyorakinya memberi semangat dan lihatlah!" ujar Tenten bersemangat sekali. Dengan kedua mata amethysnya Hinata melihat bagaimana Naruto melirik sekumpulan anak-anak perempuan yang berkumpul di pinggir lapangan menyorakinya dengan semangat. Naruto yang dengan percaya dirinya mengacungkan jempol kepada sekumpulan gadis penyorak dan cengiran khasnya yang tulus. Hanya dengan dua tindakan itu saja membuat gadis-gadis yang menyorakinya makin berteriak kegirangan dan Naruto dengan lantang mengucapkan, "Terima kasih sudah menyemangatiku! Aku jadi makin bersemangat!" kemudian dia berlalu menyusul bola yang sedang diperebutkan. Melihat ekspresi wajah Naruto yang tersenyum lembut dan ceria juga ekspresi serius ketika menyerang lawannya membuat Hinata iri. Rasanya ada sesuatu yang membuatnya tidak rela jika Naruto melakukan tindakan tadi kepada gadis-gadis yang menyorakinya Dengan gelengan kuat dia menghapus pikiran aneh itu. "Kau be-benar Tenten-chan." Hinata mengeratkan remasan tangannya pada roknya. "Semangat Sasuke-kun!" tanpa diduga olehnya baik oleh yang lain, suara Hinata yang lantang menggema seketika di lapangan itu. Yang disemangatipun hanya menoleh kaget begitu pula yang lain, kemudian dengan segera Sasuke mengangkat kepalan tangan kirinya ke udara. "Terima kasih, Hinata!" teriaknya sedikit membuat para fansnya yang berada di dekat pagar pembatas lapangan mendesah kecewa. Hinata hanya menunduk malu dengan aksi nekatnya menyoraki Sasuke. Tenten terkikik geli karena berhasil mengerjai Hinata untuk mengeluarkan keberaniannya. Naruto hanya tersenyum lirih melihat Sasuke dan Hinata yang saling berpandangan penuh kasih saying. "Sakura, apa kalau seperti ini aku masih patut untuk berjuang?" gumamnya lirih. . . . Pemuda berambut hitam legam panjang yang dikuncir kuda pendek itu meminum espresonya dengan tenang. Sesekali dia curi-curi pandang pada lawan yang duduk berhadapan dengannya yang masih sibuk membaca diktat―pemuda itu sudah banyak ketinggalan dalam mata kuliah di kampusnya. "Sasori." Si pemuda berambut merah bata itu sedikit menengadahkan kepalanya. "Bagaimana kabar Sakura?" Sasori mengalihkan sebentar fokusnya pada diktat di depannya. Memangku dagu runcing putihnya dengan tangan kanannya semakin memberikan kesan imut pada Sasori. "Dia baik. Hari ini baru saja keluar dari rumah sakit. Kenapa Itachi?" Pemuda yang diketahui bernama Itachi itu menggeleng. "Masalah tempo hari, apa kau tidak pensaran dengan hubunganku dengan Saku―" "Ah, kau benar. Untung kau mengingatkanku." Kini wajahnya mendadak serius ternyata sudah dilupakannya diktat tersebut. "Sepertinya kau mengetahui sesuatu tentang adikku, ya?" Itachi menguk ludahnya, pahit. "Ya, kami adalah teman sejak kecil." Sasori memerhatikan Itachi dengan serius. "Adikku, Sasuke adalah mantan kekasihnya." "Apa? Adikmu yang rambutnya aneh itu?" Itachi mengangguk. "Ya, dan mereka putus sesaat Sakura akan ke Suna. Aku tidak begitu mengerti bagaimana bisa hubungan mereka seperti itu. Yang kutahu Sakura sangat menyukai Sasuke. Dan aku mencurigai…" Itachi tidak berani melanjutkan ucapannya kembali. Ia takut kalau hipotesa tentang sebab muasabab Sakura yang hilang ingatan ini ada hubungannya dengan ucapan Sakura di lain waktu dahulu. Juga sebab bagaimana Sakura mengenggap seorang Gaara―yang notabane adalah pelaku dari kecelakaan yang Sakura alami―sebagai kekasihnya. Masih segar diingatan Itachi kala Ia mengikuti Sasori ke tempat Sakura dirawat, saat itu… Flasback Keadaan yang begitu menegangkan terasa sekali ketika Itachi dan Sasori tiba di ruangan dimana Sakura dirawat. Keadaan yang tidak terduga terlihat oleh kedua mata pemuda berusia awal dua puluh tahun itu. Seorang gadis berambut merah muda dengan setengah terbaring diranjangnya memeluk erat pemuda berambut merah menyala. Kedua orangtua Sasori bingung menyikapi diri dengan adegan tersebut, dan adegan itu berakhir ketika dokter masuk ke dalam ruangan itu untuk memeriksa keadaan gadis yang baru terbangun dari komanya. Itachi, Sasori dan pemuda berambut merah menyala yang saat itu belum diketahui identitasnyamenunggu di luar. Ekspresi wajah Sasori masih belum napak muncul guratan kelegaan, yang ada masih saja cemas. Sedang Itachi lebih memilih memerhatikan pemuda berambut merah menyala yang berada di hadapannya. Pemuda yang sendang bersender di dinding itu memasuki kedua tangannya ke dalam saku celannaya. Wajah datarnya, juga pandangan mata yang menusuk seolah yang berada di sekitarnya adalah pengganggu. Sekilas Itachi berikiran bahwa anak tesebut mirip sekali dengan adiknya. Cara menampilkan ekspresi dan gestur tubuh mereka sama namun hanya saja masih ada sedikit ekspresi yang berbeda pada pemuda itu dibanding milik adiknya. Kelembutan yang tersembunyi. Tiba-tiba saja pintu kamar Sakura terbuka, segera dokter bersama perawat pamit keluar dan Ayah Sasori mendekati Sasori. Membisikan sesuatu kepadanya lalu wajahnya serta merta menegang membuat Itachi penasaran saja. Sasori mendekati Itachi dan berkata, "Adikku amnesia total." Lirihnya. Itachi terbelalak ngeri. Bagaimanapun baru kali ini dia mendengar hal tersebut berbeda dengan sinetron-sinetron yang ditonton oleh Ibunya. "Tapi, kemungkinan ingatannya akan kembali." "Benarkah?" secerca harapan muncul dibalik wajah Itachi. Mau bagaimanapun Sakura sudah dianggap adik olehnya dan kalau dilupakan oleh orang yang disayang tentu akan menyedihkan. "Tapi kuharap Sakura tetap hilang ingatan saja seperti ini." Jelas Sasori. "Karena kupikir hidup Sakura dulunya pastilah membuatnya syok dikarenakan kematian kedua orangtuanya, belum lagi mungkin saja ada hal-hal yang sebaiknya dilupakan olehnya." Deg! Rasanya Itachi seperti ditampar. Sakura sebelum kepergiannya ke Suna memang pernah mengatakan ingin melupakan apapun tentang Konoha, mungkin saja dikarenakan adiknya itu. Otak jenius Itachi tentu dapat sekarang terbuktilah sudah bahwa ucapan sakura terlaksana. "Dan, kau." Sasori menunjuk pemuda berambut merah menyala itu dengan sinis. "Kau yang telah menabrak adikku bukan?" Pemuda berambut merah itu hanya mengangguk tanpa ada perlawanan dengan membalas menatap tajam Sasori. "Dan kau disangka adikku sebagai kekasihnya!" "Namaku Gaara." Ucapnya datar. "Dan aku memang kekasih dari adikmu itu, sepupu." Dan Itachi hanya bisa terbengong dengan apa yang didengarnya hari itu juga. Flashback off "Kau bengong, huh?" ketus Sasori menendang kursi Itachi dengan sebal. "Kau mau bilang apa?" "Tidak, hanya saja. Ini hanya spekulasiku saja jangan terlalu dibawa serius, ya." Itachi menyeruput espresonya hingga tandas. "Kemungkinan mengapa Sakura menganggap Gaara sebagai kekasihnya adalah karena Gaara mirip dengan adikku." Sasori hanya mampu membuka mulutnya, melongo. "Kau bercanda?" "Itu hanya hipotesaku saja." Itachi bersender pada kursinya. "Mereka mirip sekali, sih. Sabaku no Gaara dan Uchiha Sasuke. Begiu mirip sifat mereka pantas saja Sakura yang hilang ingatan bisa menganggap Gaara kekasihnya karena Sakura masih mencintai Sasuke." Sasori mendnegus keras. "Adikku sepertinya cinta mati pada adikmu itu. Aku ingin tahu apakah adikku bisa melupakan si bocah pantat ayam itu." "Hei, hei, hei. Kita tidak sedang bertaruh bukan?" Itachi tampak panik kelihatannya namun wajahnya tetap datar. "Menurutmu Uchiha yang jenius?" ledek sasori. "Menantang, ya? Kuyakin 100% bahwa Haruno Sakura tidak akan bisa melepaskan Uchiha Sasuke." . . . Love is never lost. If not reciprocated, it will flow back and soften and purify the heart. ―Washington Irving . . . T b c |
| Adi Gara bangun+rumah 's link #Tipu Muslihat Setan kepada Ahli Ibadah Melalui Wanita # Sa’id bin Al-Musayyab radhiyallahu anhu pernah berkata, “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan dia tidak merasa aman dari gangguan Iblis, yang merusaknya melalui perantara seorang wanita.” Dan dari hasan bin Shalih, dia berkata, “Aku pernah mendengar setan berkata kepada wanita, “Engkau adalah separuh pasukanku, engkau adalah anak panah yang kuluncurkan dan aku tidak pernah salah sasaran. Engkau adalah penyimpan rahasiaku dan engkau adalah utusanku jika aku membutuhkan.” Kisah ini diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih radhiyallahu ‘anhu. Ada seorang ahli ibadah di kalangan bani israel. Dia adalah orang yang paling tekun beribadah pada zamannya. Pada saat itu ada tiga orang laki laki bersaudara yang memiliki satu saudari lagi, seorang gadis. Ketika mereka hendak pergi untuk ikut dalam perngiriman satuan pasukan, mereka tidak tahu siapa yang akan menjaga dan melindungi saudari mereka, dan kepada siapa dia akan dititipkan. Maka mereka sepakat untuk menitipkan saudari mereka kepada laki laki ahli ibadah di kalangan Bani Israel. Dengan penuh keyakinan mereka mendatangi ahli ibadah itu dan memintanya untuk sudi dititipi saudari mereka, yang berarti saudari mereka itu harus menetap di tempat ahli ibadah dan dalam lindungannya hingga mereka kembali dari peperangan. Namun ahli ibadah menolak permintaan mereka dan dia berlindung kepada Allah dari keberadaan saudari mereka. Mereka terus mendesak ahli ibadah itu hingga akhirnya dia berkenan. Ahli ibadah itu berkata, “Suruhlah dia menginap di sebuah bilik di lantai bawah biaraku.” Maka mereka menempatkan saudarinya di bilik yang dimaksudkan kemudian mereka meninggalkannya. Dengan begitu, gadis tersebut berada di tempat ahli ibadah untuk sekian lama, yang selama itu pula ahli ibadah turun dari biaranya untuk memberikan makanan kepada sang gadis. Dia meletakkan makanan di dekat pintu biara, kemudian menutupnya kembali lalu naik ke lantai atas dalam biaranya. Setelah itu sang gadis keluar dari biliknya untuk mengambil makanan yang sudah diletakkan ahli ibadah. Setan cukup sabar menghadapi ahli ibadah itu dan senantiasa membuatnya senang melakukan kebaikan, sambil membesar besarkan masalah jika gadis itu keluar pada siang hari dan menakut nakutinya andaikan ada orang lain yang melihat keberadaan gadis itu di biaranya. Maka setan menambahi tipu muslihatnya dengan berkata, “Andaikan engkau mau berjalan ketika membawa makanannya , lalu engkau meletakkannya didepan biliknya, tentu pahalamu semakin bertambah besar.” Setan terus menerus membujuknya hingga dia mau berjalan mendekati bilik gadis dan meletakkan makanannya di depan pintunya, tanpa berbicara sedikitpun. Hal ini terjadi hingga beberapa lama. Kemudian Iblis mendatangi ahli ibadah dan menganjurkannya kepada suatu kebaikan, seraya berkata, “Andaikata engkau mau berjalan membawa makanannya dan meletakannya di dalam biliknya, tentu pahalamu semakin besar.” Iblis senantiasa membujuk ahli ibadah hingga dia mau berjalan membawa makanannya dan meletakkannya di dalam bilik sang gadis. Hal ini terjadi hingga beberapa lama. Iblis menyuruh ahli ibadah kepada kebaikan dan menganjurkannya, seraya berkata, “Andaikata engkau mau berbicara dan mengobrol dengannya, tentu engkau akan bisa menjaganya, karena dia bisa saja dimangsa binatang buas.” Iblis senantiasa membujuknya, hingga ahli ibadah itu mau berbincang bincang dengan sang gadis dari atas lantai di atas biaranya hingga beberapa lama. Setelah itu Iblis mendatangi ahli ibadah dan berkata membujuknya, “Andaikata engkau mau turun ke biliknya, duduk di depan pintu biaramu dan mengajaknya berbincang bincang denganmu, tentu hal itu lebih dia sukai.” Iblis senantiasa membujuknya hingga ahli ibadah mau duduk di depan pintu biaranya dan keduanya berbincang bincang. Hal ini terjadi hingga beberapa lama. Iblis mendatangi ahli ibadah dan mengajurkan sesuatu yang selayaknya ia lakukan. Iblis berkata, “Andaikata engkau keluar dari biaramu dan duduk di dekat pintu biliknya, lalu engkau berbincang bincang dengannya, tentu lebih menyenangkan hatinya. Iblis senantiasa membujuk ahli ibadah hingga akhirnya dia benar-benar melaksanakannya. Hal ini terjadi hingga beberapa lama. Iblis mendatangi ahli ibadah lagi dan memberinya anjuran tentang pahala yang akan diperolehnya di sisi Allah jika dia mau mengerjakannya. Iblis berkata, “Andaikan saja engkau mau keluar dari biaramu dan duduk lebih dekat lagi ke pintu bilik si gadis itu serta berbincang bincang dengannya tanpa perlu keluar dari sana.” Ahli ibadah melakukan anjuran Iblis ini dan hal ini berjalan hingga beberapa lama. Kemudian Iblis mendatangi ahli ibadah dan berkata, “Andaikata engkau mau masuk ke dalam bilik gadis itu, berbincang bincang dengannya dan tanpa diketahui seorang pun, maka hal ini tentu lebih baik bagimu.” Maka sehari penuh ahli ibadah menemani sang gadis di dalam biliknya. Ketika hari sudah senja, dia keluar dan naik ke lantai atas dari biaranya Iblis mendatangi ahli ibadah dan terus menerus membujuknya, hingga dia berani memegang paha sang gadis dan memeluknya. Iblis terus memperdaya ahli ibadah dengan membisikkan bahwa hal itu merupakan kebaikan, hingga akhirnya dia menyetubuhinya dan gadis itu pun hamil. Ketika tiba saatnya, gadis itu melahirkan seorang bayi. Iblis mendatangi ahli ibadah seraya berkata, “Apa pendapatmu jika saudara saudaranya datang sementara saudari mereka telah melahirkan seorang bayi akibat perbuatanmu? Apa yang hendak engkau lakukan? Tentu saja aku tak berani menjamin dirimu, bahwa nama baiknya akan tercemar, atau mereka akan mencemarkan nama baikmu. Karena itu hampirilah bayi itu, bunuhlah dia, lalu kuburkan mayatnya. Gadis itu akan merahasiakannya karena takut andaikan saudara saudaranya tahu apa yang telah engkau perbuat terhadap dirinya.” Maka ahli ibadah itu melakukan apa yang dianjurkan Iblis. Lalu Iblis berkata lagi, “Apakah menurut pendapatmu wanita itu akan menyembunyikan kepada saudara saudaranya apa yang telah engkau perbuat terhadap dirinya dan anaknya? Ambillah wanita itu, bunuhlah dia dan kubur bersama anaknya!” Ahli ibadah benar benar mengikuti anjuran Iblis, membunuh dan mengubur gadis itu bersama anaknya. Dia juga membuat sebuah lubang dan meletakkan sebuah batu besar diatasnya setelah meratakan tanahnya. Setelah itu ia naik ke lantai atas biaranya untuk beribadah disana. Tidak berapa lama berselang seperti yang dikehendaki Allah, saudara saudara sang gadis datang dari peperangan, lalu mereka mendatangi biara dan menanyakan saudari mereka. Ahli ibadah menangis dan menunjukkan belas kasihannya terhadap saudari mereka seraya berkata, “Dia adalah seorang wanita yang paling baik. Itu adalah kuburannya. Lihatlah!” Mereka mendatangi kuburan saudari mereka dan menangis disana sebagai luapan kasih sayang mereka. Beberapa hari mereka berada di kuburan itu lalu mereka pulang ke rumah. Pada malam harinya dan setelah mereka tidur, setan mendatangi mereka lewat mimpi. Setan muncul dalam rupa seorang musafir. Pertama kali ia datang dalam mimpi salah seorang di antara mereka yang paling tua. Setan bertanya tentang nasib saudarinya. Orang itu menjawab seperti apa yang dikatakan ahli ibadah, bagaimana kematiannya dan bagaimana kasih sayang yang ditunjukkannya terhadap saudarinya itu. Bahkan ahli ibadah itu juga menunjukkan kuburannya. Namun setan menyangkal semua itu seraya berkata, “Ahli ibadah itu tidak berkata jujur tentang saudari kalian. Saudari kalian itu telah hamil dan melahirkan bayi karena perbuatan ahli ibadah, lalu dia membunuh saudari kalian dan menguburnya di balik pintu sebelah kanan di bilik yang ditempati saudari kalian. Pergilah kesana dan buktikan sendiri, tentu kalian akan mendapatkan apa yang kukatakan ini.” Lalu Iblis mendatangi dua saudaranya yang lain dan mengatakan hal yang sama. Ketika sudah bangun mereka merasa heran dengan mimpi yang mereka alami dan mereka semakin heran ketika mereka memberi tahu tentang mimpi mereka masing masing. “Ini hanya sekedar mimpi, kalian tak perlu memperdulikannya” kata yang paling tua . Yang paling muda berkata, “Demi Allah aku tidak akan surut sebelum mendatangi tempat itu dan memeriksanya.” Akhirnya mereka bertiga sepakat untuk mendatangi bilik yang dulu ditempati saudarinya. Mereka membuka pintu dan mencari cari tempat seperti yang diberitahukan kepada mereka lewat mimpi. Ternyata benar, saudari mereka dan anaknya terkubur di tempat itu. Mereka menemui ahli ibadah dan menanyakan tentang nasib saudari mereka dan tak ada pilihan lain bagi ahli ibadah selain mengakuinya karena godaan setan. Mereka pun menurunkan ahli ibadah dari biaranya dan siap untuk di salib. Tatkala ahli ibadah itu sedang diikat di papan, setan menemuinya seraya berkata, “Tentunya engkau sudah tahu bahwa sebenarnya akulah yang telah menggodamu dengan kehadiran wanita itu, lalu engkau membuatnya hamil, lalu engkau membunuhnya dan anaknya. Jika pada saat ini engkau tunduk kepadaku dan kufur kepada Allah yang telah menciptakanmu dan membentuk dirimu, tentu engkau akan selamat dari keadaan yang akan menimpamu ini..” Maka ahli ibadah itu menyatakan kufur kepada Allah. Namun kemudian setan meninggalkannya begitu saja dan membiarkan orang orang menyalibnya. Karena peristiwa inilah Allah menurunkan surah Al Hasyr : 16 كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلإنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ “(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia: ‘Kafirlah kamu’, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam’.” Sungguh benar perkataan Al Haasan bin Shalih yang mengatakan “Sesungguhnya setan benar-benar akan membukakan 99 pintu kebaikan bagi seorang hamba, untuk tujuan membuka satu pintu keburukan.” Disalin dari buku Perangkap Setan karya Ibnul Jauzy penerbit Al Kautsar |
| Syaichu El-jufry bangun+rumah 's link Ikhwan itu... tongkrongannya masjid atau mushala bukannya mall atau party-party Ikhwan itu.. duduk dari pengajian satu ke pengajian lainnya bukannya pacaran di cafe remang-remang Ikhwan itu.. hobinya baca Qur’an bukannya baca ramalan bintang Ikhwan itu... doyannya ngapalin Qur’an bukannya lirik lagu mellow yang isinya ratapan dan tangisan Ikhwan itu.. di playlistnya penuh sama muratal Qur’an atau rekaman kajian bukannya lagu-lagu yang bikin kepala manggut-manggut plus bejogetan Ikhwan itu.. berilmu dulu baru beramal bukan yang gayanya selangit dengan ilmu pas-pasan Ikhwan itu.. ilmunya gak dipendem sendiri di buku catatan tapi disebarkan biar ummat bisa tau kebenaran Ikhwan itu.. gak ragu amar ma’ruf nahi munkar bukannya nunggu lancar plus khatam bahasa Arab dan kitab2 dulu baru didakwahkan Ikhwan itu.. berani menerima kebenaran bukan sibuk mencari pembenaran Ikhwan itu.. sigap dan tanggap saat dibutuhkan bukan diem aja banyak alasan atau cari aman Ikhwan itu.. anti update status galau bukannya tiap hari menebar nestapa duka lara minta dikasihani Ikhwan itu.. isi status atau tweetnya menebar hikmah dan semangat bukannya mencaci, memaki ngajakin ribut Ikhwan itu.. mengadukan masalahnya pada Alloh Sang Pemilik kehidupan bukan mengadu di fesbuk, twitter atau BBM gan Ikhwan itu.. gak malu nangis akan dosa-dosanya di hadapan Alloh bukannya malu-maluin nangis gara- gara ditolak cewek gebetannya Ikhwan itu.. gak bangga dengan banyaknya pujian bukannya malah emosi cuman gara-gara satu celaan Ikhwan itu.. punya prinsip gan bukannya jadi follower pemikiran dan gaya hidup kebarat-baratan tanpa pegangan Ikhwan itu.. kalo liat cewek cantik langsung nunduk/ mlengos buat jaga pandangan bukannya dipelototin gak karuan Ikhwan itu.. gak demen obral janji dan sumpah serapah sama pasangan bukan yang enteng bilang “Aku gak bisa hidup tanpa kamu, sayang” Ikhwan itu.. gak berani ngajak jalan sebelum ijab qabul terikrarkan bukannya malah berduaaan pegang- pegangan sebelum halalan thayyiban Ikhwan itu.. berani dateng ke rumah buat ngelamar bukannya malem mingguan bawa lari anak orang padahal belum ada ikatan pernikahan Ikhwan itu.. dandannya kalo ke masjid mau menghadap Tuhan bukan buat tebar pesona cari mangsa buat hang out-an Ikhwan itu.. bangun malem buat tahajjudan bukan yang bangun kesiangan plus telat subuhan Ikhwan itu.. sibuk dengan aib dan dosanya bukan cari-cari kejelekan orang (eh, ada ya? kirain akhwat doang..oh no) Ikhwan itu.. berani keluar dari zona nyaman, berani gaul sama orang awam, gak cuma “jago kandang” Ikhwan itu.. nasihatin orang dengan hikmah, kesantunan dan kelembutan akhlak bukan emosi dan ngrasa paling bener sendiri Ikhwan itu.. gak takut dibilang kampungan gara-gara celana cingkrang Ikhwan itu.. gak takut dibilang berantakan gara-gara jenggotan Ikhwan itu.. gak takut dibilang kelainan gara-gara menundukkan pandangan sama perempuan Ikhwan itu.. gak takut dibilang banci gara-gara nolak rokok gratisan Ikhwan itu.. gak takut dibilang ekstrim gara-gara gak salaman sama cewek bukan mahram Ikhwan itu.. gak nunggu hidup mapan buat ngelamar wanita pilihan...yang penting mau usaha |
| Alex On Skype-sex bangun+rumah 's link |
| Alex On Skype-sex bangun+rumah 's link |
| Idola CilikSelamanya II bangun+rumah 's link Pagi guys gue bawa cerita Repost- an niih yg super duper keren abis karangan Teh Wida yg sarat akan makna guys di baca ya..!!! check this out guys HR Pagi mulai meninggi. Matahari mulai menarik paksa embun dari daun. Memisahkan mereka tanpa kepastian mereka akan bertemu lagi esok hari atau tidak. Hari mulai beranjak naik, namun lihatlah Ify. Gadis berkulit putih dengan lesung pipit di pipi kiri itu masih asik bergelung di tempat tidur. Merapatkan selimut Doraemon yang membalut rapat tubuhnya. Sesekali bergumam tidak jelas. “Fy, bangun Sayang. Hari sudah siang!” Gina – mama Ify – menyibakkan gorden kamar anak gadisnya, membuat sinar matahari menerobos setiap celah kamar. Ify tidak bergeming. “Ify bangun!” kali ini Gina mengguncang – guncang tubuh anaknya. “Emmhh,,” sang anak mendesah pelan, dilanjutkan dengan gerutuan tak jelas yang juga pelan. Gina tidak habis akal, ia mengambil gelas yang terisi penuh oleh air bening diatas meja – sebelah ranjang Ify. Mencipratkan isinya tepat diwajah Ify. Tangan Ify gelagapan menggapai –gapai udara, “MAMAAAAA….!!!!” Teriaknya kemudian. Gina tersenyum puas ketika melihat anaknya mengerjap – ngerjapkan mata dan kemudian menghadiahinya sebuah pelototan. Siapa yang akan takut melihat gadis semanis Ify, meski dengan mata melotot sekalipun Noura tetap terlihat sangat manis. Meski ada mendung diwajahnya, namun wajah itu tetap terlihat menggemaskan. Kali ini Gina tidak mampu menahan tawanya. “Ini udah siang Fy. Udah hampir jam 9, memangnya kamu mau tidur sampai jam berapa?” Gina menegur anaknya ketika ia sudah berhasil mengendalikan tawa. “Tapi Ify masih ngantuk, Ma! Lagian Ify nggak akan kemana – mana!” Ify merajuk. “Tidak kemana – mana bukan berarti boleh bangun siang, kan? Cepet kamu mandi sana! Anak gadis nggak boleh males, pamali!” Gina beranjak keluar dari kamaran anaknya. Ify mendengus sebal. Bangun tidur adalah waktu favorit Gina. Dimana dia dapat “mengenali” lagi anaknya yang lebih suka membatukan diri dalam diam beberapa waktu terakhir ini. Mengenali meski hanya sesaat, itu lebih dari cukup. Daripada tidak sama sekali. *** “Sarapan dulu Fy!” Gina menepuk pundak Ify lembut. Ify yang tengah memandang jalanan komplek yang lengang dari jendela kamarnya tersentak kaget. Mendung itu telah datang lagi. “Iya Ma,” Ify mengambil kruk disebelahnya. Menolak untuk dibantu mamanya. Kemudian ia berjalan tertatih menuju pintu kamar. Gina memandang Ify dengan tatapan prihatin. Gadis cantik berlesung pipit di pipi kiri itu harus kehilangan kaki kirinya dalam sebuah kecelakaan. Ia kehilangan kaki kiri sekaligus kehilangan Mr. Straight-nya. “Kenapa makanannya cuma diaduk – aduk begitu? Dimakan dong Fy,” Gina berkata pelan. Ify tersenyum semanis mungkin pada sang mama. Tapi sayang, senyum itu sedikitpun tidak mencapai matanya. Mata cokelat terang Ify sempurna tersaput mendung. Jangankan senyuman, satu denting cahaya pun tidak terlihat disana. Gina melihat kemurungan anak semata wayang-nya dengan sangat jelas. Bagaimana tidak, setelah kematian suami dan anak sulungnya 15 tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan pesawat, ia hanya tinggal berdua dengan Ify. Maka Gina sudah hafal mati semua tentang Ify, tanpa harus mendengarkan cerita dari yang bersangkutan sekalipun. “Masakan Mama nggak enak ya? Mau Mama pesankan pizza kesukaan kamu?” suara Gina memecah keheningan. Matanya sejak tadi terus memperhatikan Ify yang tengah mengaduk – aduk makanan di depannya dengan tatapan kosong. Tanpa memakannya sedikitpun. Ify menaikan kepalanya. Hingga mata keduanya sempurna menatap satu sama lain. Tatapan Ify tidak terlalu focus, jelas sudah ia sama sekali tidak mendengar pertanyaan mamanya. Gina menarik nafas pelan, “Mau mama pesankan pizza kesukaan kamu?” “Nggak usah Ma, masakan Mama yang paling Ify suka. Nih lihat Ify makan semuanya,” Ify mencoba bergurau. Ia mencoba tersenyun didepan mamanya, namun sayang senyuman itu lebih mirip dengan seringai duka cita. Sebenarnya makanan itu tidak berasa apapun dimulut Ify. Karena bukan hanya matanya yang meredup, mulut Ify-pun mati rasa. Ia sudah tidak bisa membedakan enak dan tidak enak. Jika tidak menghargai sang mama yang memasaknya, Ify tidak akan menyentuh makanan itu sedikitpun. Bagaimana ia akan merasa lapar dalam kesedihan yang teramat sangat karena kehilangan setengah dari hidupnya. *** Ify berkali – kali melihat penampilannya di cermin. Memastikan bahwa T-shirt ungunya sesuai dengan celana jeans hitam yang ia kenakan. Berkali – kali menyisir rambut yang sebenarnya sudah rapi, jika tidak ingin dikatakan sangat rapi. Gina tersenyum melihat kelakuan anak gadisnya. Ia berdiri diambang pintu kamar Ify sejak lima menit yang lalu, namun Ify sama sekali tidak menyadarinya. “Kamu sudah cantik Fy,” Ify terkesiap mendengar suara mamanya yang tiba –tiba. Gadis berlesung pipit satu itu berjalan menghampiri sang mama. Kedua kakinya masih lengkap, tanpa cacat sedikitpun. Ify merangkul sang mama, Gina tersenyum penuh pengertian. “Jadi siapa yang udah membuat anak Mama jadi centil kayak gini?” Tanya Gina. Wajah Ify bersemu merah. “Nanti juga Mama tau,” jawab Ify singkat. Lima menit kemudian terdengar pintu rumah mereka diketuk pelan tapi bertenaga. Tubuh Ify menegang, mukanya kembali memerah. Ia menoleh pada sang mama. Gina mengangguk pelan. “Biar Mama yang buka pintu,” Ify mengekor di belakang punggung mamanya. Langkahnya terhenti di ujung tangga. Gina berjalan lurus menuju pintu, sementara Ify membelokkan kaki menuju dapur. Menyiapkan minum untuk “tamu kehormatan”nya. “Fy, ada temennya nih. Bawain minum sekalian ya,” Gina setengah berteriak dari ruang tamu. “Iya Ma,” Ify berjalan menuju ruang tamu membawa nampan dengan dua Orange Juice diatasnya. Juga dengan degupan jantung yang tak menentu. Jika jantung Ify memiliki kaki, sepertinyaia sudah lari tunggang langgang sejak tadi. Ify menghela nafas panjang sebelum melangkahkan kaki ke ruang tamu. Mengusir gugup yang sejak tadi menderanya. Here we go! Sepasang mata hitam menatapnya, tatapan itu tidak setajam biasanya namun cukup untuk membuat wajah Ify memerah lagi. Ify tersenyum pada pemilik mata hitam itu. Si pemilik mata hitam itu balas tersenyum, setengah geli melihat kekikukan Ify. “Mama tinggal dulu, kalo mau pergi Mama di kamar ya,” Gina tersenyum ramah pada Rio, sebelum akhirnya berjalan menuju kamarnya di lantai atas. Berseberangan dengan kamar Ify. Kecanggungan kental terasa diantara Ify dan Rio. Keduanya tidak ada yang berniat membuka pembicaraan. Ify sibuk menata detak jantungnya, sementara Rio asik memperhatikan gadis yang duduk diseberangnya dengan wajah merah padam. “Mama kamu baik banget ya,” akhirnya Rio membuka pembicaraan setelah hampir 15 menit hanya keheningan yang mendominasi. “Hah?” Ify menatap Rio yang juga tengah menatapnya. Sial! Rutuk Ify dalam hati. “Mama kamu baik,” Rio mengulang pernyataannya. Ify mengangguk, lalu tersenyum kecil. Rio gemas melihat tingkah Ify, “Kamu mau diem aja? Kalo iya aku mending pulang deh,” “Eh? Em, emangnya aku harus ngomong apa?” Ify merutuki dirinya sendiri. Bagaimana mungkin pertanyaan bodoh itu yang justru keluar didepan Rio. Wajah Ify sudah lebih merah dari buah apel. “Mending kita keluar aja deh yuk, nyari angin. Kayaknya kamu kekurangan oksigen deh, kalo kamu pingsan aku yang repot!” Ify melongo mendengar ucapan Rio. *** Rio mengendarai Avanza-nya keluar dari rumah Ify. Kemudian dalam diam ia mengarahkan mobil itu untuk berbaur dengan kendaraan lain. Sebenarnya Rio sangat gemas dengan tingkah Ify yang kelewat pendiam. Bagaimana mungkin Ify dikenal cerewet dan aktif bertanya di kampus jika pada kenyataannya gadis itu sesunyi kuburan ketika dihadapannya. Tanpa sadar Rio berdecak gemas. Ify melirik Rio sekilas. “Kenapa?” Tanya Ify pendek. “Gapapa,” Rio menjawab tak kalah pendek. Akhirnya keduanya memilih diam. Sepanjang perjalanan mereka habiskan dalam diam. Hanya suara Mariah Carrey yang mengalun pelan dari kaset yang diputar Rio. Ify asik memperhatikan keluar jendela, sesekali gadis itu melirik kearah pengendara mobil. Dan beberapa kali tatapan keduanya bertemu, tanpa mereka sadari wajah keduanya bersemu merah. “Turun,” perintah Rio. Ify sempat kaget, namun ia cepat berhasil menguasai kekagetannya. Mereka berjalan berdampingan menuju sebuah café yang terlihat nyaman. Rio memilih tempat duduk di dekat jendela yang mengarah pada sebuah taman, Ify tidak berkomentar apapun. Mereka masih diam hingga seorang waiters menanyakan pesanan mereka. Setelah keduanya menyebutkan pesanan masing – masing mereka kembali diam hingga waiters itu kembali membawakan pesanan mereka. “Kamu mau nggak jadi pacar aku?” Rio bertanya tanpa basa basi. Ify yang tengah menyeruput Vanilla Latte tersedak kaget. Mukanya kembali memerah, namun kali ini bukan karena malu ataupun gugup. “A,, Apa?” tanya Ify terbata setelah ia berhasil meredakan batuknya. “Kamu mau nggak jadi pacar aku?” “Hot Chocolate kamu nggak bikin mabok kan?” Ify bertanya, seolah – olah ia telah disetrum dengan arus listrik bertegangan tinggi. Shocked! “Nggak,” Ify meneguk ludah, ia kehilangan kata – kata. Ia tidak habis pikir dengan cara Rio “mengatakan” cinta. Baru kali ini Ify melihat, mendengar bahkan mengalami langsung “ditembak” cowok tanpa kalimat pembuka, apalagi basa – basi (busuk –menurut Ify). Ify memang bukan penggemar basa – basi, tapi yang sudah dilakukan Rio memang jauh diluar bayangan Ify. Diajak jalan oleh Rio, Ify sudah menduganya. “Ditembak” Rio-pun, Ify sudah membayangkannya. Lebih tepatnya menunggu bukan membayangkan. Tapi “tembakkan” selurus ini?? Langsung pada sasaran tanpa tedeng aling – aling. Tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, bahkan tidak pada bayangan terliarnya sekalipun. “You are soooo straight,” ujar Ify. “Mean?” Rio bertanya. Bingung. “Ya, semua cowok lain atau,, ehm, cewek juga sih, emm, yang “nembak” calon pasangannya kan biasanya pake kalimat pembuka, emm,, pake basa – basi gitu. Nggak langsung dor ke sasaran. Nggak lurus, pasti belok– belok dulu kemanaa gitu. Emm.. Honestly, I’m shocked!” “Aku bukan cowok lain seperti yang kamu maksud, Fy! Jadi kamu nggak perlu shock, yang kamu perlu itu menjawab iya atau nggak. Mau atau nggak. Itu aja kok,” ujar Rio dengan wajah datar. Sumpah,datar banget! Hingga Ify harus sekuat hati menahan tangannya agar tidak melempar gelas vanilla latte kewajah Rio. “Kamu nggak bisa lebih romantis ya?” Ify bertanya setengah dongkol. “Aku bukan tipe cowok yang romantis, kalo kamu nyari atau mengharapkan cowok yang romantis itu pasti bukan aku. Dan berarti jawaban kamu nggak, kamu nggak akan mau jadi pacar aku. Karena aku nggak romantis! Yuk kita pulang,” Rio melambaikan tangan pada waiters, memberikan uang sesuai tagihan. Kemudian menarik tangan Ify pelan. Gadis itu terlalu kaget untuk menolak. Ia mengekor langkah Rio dengan patuh, pikirannya masih belum focus. Semuanya serba mendadak dan tidak terprediksi. Semuanya jauh dari bayangan Ify yang meskipun tidak begitu romantis, tapi cukup manis. “Aku kan belum jawab,” Ify protes ketika ia sudah dapat kembali fokus. “Kamu kan mau cowok yang romantis, berarti bukan aku!” Ify menaikan satu alisnya. Siap berperang argument. “Aku nggakbilang gitu,” “Terus?” “Aku cuma kaget,” “Terus?” “Aku maujadi pacar kamu?” “Terus?” “Riiooo?!!” Ify berteriak kesal. “Eh, apa yang kamu bilang barusan?” Rio tersentak. Ia menghentikan mobilnya mendadak. Untung mereka belum masuk jalan raya. Masih diarea parkir café. “AKU MAU JADI PACAR KAMU!!!! KEDENGERAN NGGAAAAAKKK!!???” Ify berteriak lantang. Security area parkir tergopoh – gopoh menghampiri mobil Rio. “Ada apa Mbak?” tanyanya dengan logat Jawa yang super medok. “Eh, nggak apa – apa kok pak, hehe,” Ify menjawab sambil menyeringai menahan malu. “Kalo mau berantem mbok ya jangan di tempat parkir tho Mas, Mbak. Tak kirain ada apa, bikin kaget saja!” security berlogat Jawa itu beranjak pergi. Mata Ify dan Rio bertemu. Rio melotot garang, sementara Ify terkekeh puas. “Gila kamu,” rutuk Rio. “Ngadepin orang gila, ya musti ikutan gila,” Ify menjawab enteng. Rio mendecak gemas. *** Mata Ify basah mengingat prosesi “penembakkan” yang menurutnya memecahkan rekor MURI sebagai “penembakkan” paling gila dan paling aneh di abad 21. Semua itu sudah berlalu lebih dari empat tahun, namun setiap detilnya masih tersimpan rapi dalam memory Ify. Gadis itu tergugu pelan, tangan putih itu meraih kotak kaca yang membingkai foto dirinya dengan Rio, dilatar belakangi sunset pantai Pangandaran. Ironisnya foto itu diambil satu bulan sebelum kejadian nahas itu terjadi. Ketika itu mereka tengah menghabiskan liburan semester bersama teman – teman fakultas Rio. Ify diundang sebagai tamu kehormatan. “Wah canggih ya si Mata Empat bisa punya cewek secantik ini,” gurau salah satu teman Rio ketika pertama bertemu dengan Ify. Mata Empat adalah julukan lain yang diberikan oleh teman satu fakultas Rio. Julukan itu karena Rio memang memakai kacamata setebal tutup toples – kata Ify. Teman – teman Rio– termasuk Ify –heran karena Riolebih memillih menggunakan kacamata daripada memakai softlens. Padahal Rio lebih dari mampu untuk membelinya. Sekedar informasi, bukannya sombong. Rio adalah putra dari pemegang saham tertinggi sebuah perusahaan seluler ternama. “Aku lebih nyaman pake kaca mata. Pake softlens nggak selalu aman, Fy,” begitu jawaban Rio ketika Ify bertanya tentang kaca mata. Kilasan kenangan datang silih berganti, seperti slide show yang ditayangkan tepat didepan mata Ify. Lebih tepatnya ditayangkan didalam pikiran Ify. Karena ketika gadis itu menutupi wajahnya slide show itu masih jelas terlihat. Padahal mata Ify terpejam rapat! Dibalik pintu kamar Ify, Gina mendesah pelan. Prihatin dengan keadaan anaknya, namun ia tidak dapat melakukan apapun. Karena ia tahu kesendirian adalah hal terbaik yang dapat ia berikan pada Ify. Sama seperti dulu ketika ia kehilangan suami dan anak sulungnya, hanya kesendirian yang ia inginkan. Meskipun lama kelamaan kesendirian itu juga dapat membunuh. Dan waktu yang akan membantu menyembuhkan semua luka. “Mama tau, Ify pasti kuat!” Gina berjalan menuju kamarnya. *** Sabtu pagi, saat takdir menyakitkan itu menuntut untuk dijalani. Ify terlihat lebih cantik dari biasanya pagi ini, gadis berlesung pipit satu itu tersenyum pada bayangannya di cermin. Ia mengikat rambutnya membentuk ekor kuda, memberikan efek segar pada wajahnya. Hari ini ditanggal yang sama –empat tahun lalu – Rio dan Ify resmi menjadi sepasang kekasih dengan cara yang sedikit nyentrik. “Kamu sudah cantik, Sayang!” Gina tersenyum pada bayangan anaknya di cermin. Ify balas tersenyum, sedikit salah tingkah. “Rio udah dateng tuh, Mama suruh dia nunggu di ruang tamu,” ujar Gina lagi. “Bentar lagi Ify turun Ma,” Gina beranjak keluar dari kamar anak gadisnya. Sementara Ify sekali lagi memandang bayangannya di cermin, memastikan ia sudah terlihat sempurna. Kemudian ia mengikuti mamanya beranjak keluar, menuju ruang tamu. “Udah lama?” Ify bertanya pada Rio yang tengah duduk berhadapan dengan mamanya. “Baru lima menit,” “Aku cantik nggak?” Ifybertanya jahil. Rio terlihat kikuk, sementara Gina berusaha menahan tawa demi melihat kecanggungan Rio. “Cantik,” jawab Rio singkat namun terdengar tulus. Ify tersenyum puas. “Berangkat sekarang?” “Aku mau ngobrol bentar, boleh?” Ify mengangguk pelan. Gina beranjak menuju kamarnya, membiarkan Ify dan Rio melanjutkan obrolan tanpa dirinya. “Ada apa?” Ify duduk di seberang Rio. Terpisah meja persegi yang tidak terlalu luas. “Emm, aku kesini bawa motor. Mobil aku dipake Mas Acel, mobilnya Mas Acel masuk bengkel. Emm, mau minjem mobil Papa tapi Papa sama Mama lagi keluar, jadi aku terpaksa pake motor,” Rio terlihat canggung. “Terus?” Ify bertanya polos. Sama sekali tidak melihat masalah dalam kalimat erik. “Emangnya kamu mau jalan pake motor?” “Memang menurut kamu apa yang ngebuat aku nggak mau?” Rio melongo memandang Ify, ia tidak dapat menyembunyikan kekagetannya. Tadinya iaberpikir bahwa Ify akan ngambek, karena selama ini mereka pergi kemanapun selalu menggunakan mobil. Jika tidak dengan mobil pribadi, maka mereka menggunakan taxi. Ify tertawa melihat ekspresi kekasihnya. “Rio, aku bukan cewek manja yang takut panas atau hujan. Buat aku mobil atau motor nggak ada bedanya, yang penting kita selamat dan aku pergi sama kamu. Kalo kamu kesini pake becak juga aku nggak akan protes, bahkan kalo jalan kaki juga aku tetep mau pergi sama kamu. Kan sehat, sekalian olah raga,” Ify menjelaskan tanpa sedikitpun tersirat nada keberatan dalam suaranya. “Bener?” Tanya Rio kaget. Sedikit tidak percaya. “Kamu udah kenal aku lebih dari empat tahun, Yo! Dan apakah selama itu kamu ngeliat aku sebagai cewek yang manja atau matre? Aku tau kok kamu dari kalangan orang kaya, kaya-nya pake banget malah! Tapi apa pernah sekaliii aja aku manfaatin harta kamu? Mobil kamu atau uang kamu? Nggak pernah kan?” “Maaf,” Rio mengusap wajahnya yang kebas. Ia tidak menyangka Ify akan semarah itu. Pertanyaan tadi reflex ia ucapkan, karena semua wanita yang pernah dekat dengannya akan merengek dan ngambek jika tidak pergi menggunakan mobil. Jangankan motor, pake taxi saja mereka ogah. Ify memang tidak seperti gadis lain, seharusnya Rio mengingat hal itu. Ia berjanji besok atau lusa tidak akan pernah sekalipun ia akan meragukan kesederhanaan Ify. Tapi sayangnya Rio tdak menyadari bahwa tidak akan pernah ada lagi esok atau lusa baginya. *** Motor besar yang dikemudikan Rio membelah lalu lintas Jakarta. Lihai meliuk meningkahi kemacetan Ibukota. Sesekali terhenti ketika lampu merah atau ketika lalu lintas terlalu padat hingga tidak menyisakan ruang untuk menyalip. Rio sempat terkaget – kaget karen Ify tidak takut akan kecepatan. Gadisnya malah berteriak – teriak menyemangati ketika ia memutar gas lebih dalam. Rio tidak bermasalah dalam mengendarai motor, sewaktu SMA dia adalah pembalap –liar – yang paling disegani oleh pembalap lainnya. “Ifffyyyyyy…!!!” Rio berteriak, mencoba mengalahkan deru angin yang “menyapa” mereka. “Apa??” Ify balas berteriak. “Aku sayang kamu,!!” “Apa??” “AKU SAYANG KAMU,,!!!” Rio menolehkan kepalanya pada Ify, dengan tidak memperlambat laju motornya. Naas, mereka telat menyadari bahwa dari arah yang berlawanan ada sebuah bus yang melaju dengan kecepatan yang jauh lebih gila daripada kecepatan motor Rio. Ify reflex berteriak, sementara Rio mencoba membanting stir kearah kiri. Namun sayang dari arah kiri melaju sebuah truk yang meskipun tidak dengan kecepatan gila, masih termasuk dalam kategori ngebut. Motor Rio terhantam badan truk, Ify merasakan sakit yang temamat sangat pada kaki kirinya. Setelah itu Ify hanya melihat gelap. *** Dua hari setelah kecelakaan,,, Gina berkali – kali menatap wajah Ify yang terbaring tak berdaya diatas ranjang putih, disebuah ruang rawat inap VIP. Sesekali Gina menoleh kearah jam yang tergantung di dinding yang berwarna putih, kontras sekali dengan jam yang berwarna hitam. Menurut perkiraan dokter Ify akan sadar siang ini, namun hingga sore anaknya belum sadarkan diri. Berbagai kecemasan mulai datang di benak Gina. Ditengah kecemasan yang semakin memuncak tiba –tiba jemari Ify bergetar pelan. Gina segera menekan bel, memanggil perawat atau dokter. “Keadaan anak ibu stabil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ujar dokter yang merawat Ify. “Ri, oo,” suara lirih terdengar dari bibir Ify. Gina dan Dokter Fuad saling bertatapan. “Fy, ini Mama sayang. Kamu sudah sadar?” Gina menggenggam tangan anaknya pelan. Seorang perawat menyodorkan gelas berisi air bening pada Gina. Gina membantu Ify untuk minum setelah sebelumnya membiarkan Ify beradaptasi dengan sekelilingnya. “Rio mana Ma?” lirih Ify. “Kamu istirahat dulu, Rio juga lagi istirahat,” untuk selamanya. Gina menambahkan dalam hati. “Ma, kok kaki kiri Ify mati rasa?” Dokter Fuad menjelaskan bahwa kaki kiri Ify terpaksa diamputasi karena lukanya sudah tidak mungkin dijahit atau diselamatkan dengan cara apapun. Lebih cepat Ify tahu, akan lebih baik. Ify shock mendengar berita itu, ia menangis lama sekali dalam diam. Dan Ify menangis jauh lebih lama setelah satu minggu kemudian ia diperbolehkan untuk pulang, dan ia mendapati satu fakta bahwa Mr. Straight-nya tidak tertolong. Ify menghabiskan waktunya lebih banyak untuk diam dan menangis. *** Hingga detik ini tangisan itu belum berkurang intensitasnya. Dunia Ify menjadi jungkir balik setelah kepergian Rio. Tidak ada lagi Ify yang ceria dan cerewet, yang ada hanya Ify yang setiap hari diam dan bengong memandang keluar jendela kamar. Hanya dengan mamanya Ify mau berbicara. Dengan orang lain mulut Ify sempurna terkunci rapat. Hari ini tepat satu bulan setelah kepergian Rio. Ify menghabiskan waktu berdua “bersama” Rio-nya. Sejak pukul 8 pagi Ify sudah berada didepan pusara kekasihnya, ia bercerita banyak. Menangis. Kemudian bercerita lagi. Bercerita sambil menangis. Menangis sambil bercerita. Pukul 7 malam Ify beranjak meninggalkan “rumah” baru Rio, setelah sebelumnya berdoa dan menyimpan bunga mawar putih diatas pusara Rio, kemudian ia mengecup nisan bertuliskan nama lengkap kekasihnya. Setelah itu Ify beranjak pergi, meskipun kepalanya masih sering menengok kebelakang. *** “Ma, boleh Ify masuk?” Ify berdiri diambang pintu kamar mamanya. “Masuk Sayang, Ify mau cerita?” “Ify mau tanya,,” Gina bertanya melalui tatapan mata, Ify melanjutkan perkataannya, “Apakah sesakit ini ketika Papa dan Kak Pras pergi, Ma?” Gina tertegun menatap Ify. Tatapan mata Gina berhenti pada mata cokelat terang anaknya. Mata yang diturunkan pada Ify oleh suaminya. Gina menghela nafas panjang. Berat. Sesak. Sarat dengan kenangan yang menyedihkan, menghancurkan! “Mama tidak tau Fy. Saat Papa dan Pras pergi, Mama mati rasa. Itulah kenapa kamu tiga tahun hidup bersama Eyang, Mama takut kamu akan terlantar jika tetap bersama Mama. Saat itu, tiga tahun Mama sempurna sendiri. Mama pikir kesendirian dapat membunuh kesedihan, ternyata Mama salah. Kesendirian tidak membunuh kesedihan, tapi kesendirian yang terlalu lama justru membunuh kita,,,” Gina menghela nafas panjang. “Saat itu Mama tidak punya tempat berbagi, Eyang-mu sudah terlalu tua. Padahal beliau satu – satunya orang tua yang Mama dan Papa punya, tapi Mama tidak ingin membuat beliau terbebani. Akhirnya Mama mencoba bertahan dalam kesendirian, tiga tahun belum cukup untuk mengobati semua luka atas kehilangan. Jangankan tiga tahun, seumur hidup-pun luka ini tidak akan pernah sembuh, Sayang..” Ify menggenggam lembut tangan mamanya, “Apa yang membuat Mama kuat untuk bertahan?” “Yang membuat Mama bertahan adalah kamu. Anak Mama yang bernama Ify yang membuat Mama berusaha bangkit. Mama punya kamu, malaikat Mama yang paling cantik. Dan sekarang kamu punya Mama. Mama tau kehilangan Rio membuat setengah hidup kamu tercerabut paksa. Tapi kamu maukan berusaha untuk bertahan demi Mama yang setiap harinya terus menua?” Ify menghambur kepelukan mamanya, tangisnya pecah disana. Tidak ada lagi topeng, tidak ada lagi sandiwara. Ify melepaskan semua sedihnya dalam dekapan sang mama. “Bantu Ify untuk kuat, Ma,” ujar Ify disela – sela isaknya. Gina mengusap punggung anaknya, “Mama selalu ada buat kamu, bahkan disaat semua orang sudah tidak ada buat kamu. Bertahanlah untuk tetap menjalani hidup, Mama yakin Rio menginginkan kamu menjadi Ify yg Rio kenal dulu,” Gina melepaskan pelukan anaknya, ia memegang Pundak Ify lembut. Mata ibu dan anakitu saling bersitatap. “Lepaskan Fy, ikhlaskan. Biarkan waktu yang membuat semua luka kita mengering, Rio sudah berbahagia disana. Suatu saat kamu akan menyusul ke tempat Rio. Sekarang yang kamu harus lakukan adalah menyiapkan bekal untuk pertemuan yang indah itu,” Gina menarik kembali Ify kedalam pelukannya. Keduanya berbagi tangisan, berbagi kesedihan yang tidak dapat mereka bagi kepada orang lain. Tamat Naah gimana menurut kalian guys makna apa yg kalian dpt dr cerita ini?? C n' L nya d tunggu looh... Thx.. (17) |
| Harrison Anyi Laeng bangun+rumah 's link Baca jangan tak baca... Kemalangan Dihadapan Tunang Sehingga Darah Terpercik Ke Bajunya Kisah yang sungguh menyayat hati apabila kita membaca apabila perempuan kehilangan tunangnnya di depan mata dan malang pula menimpa gadis itu. Berikut adalah kisahnya. Kawan aku ni seorang salesman kereta, bercinta dgn Seorang anakjutawan di Area Bukit Antarabangsa. Malangnya, percintaan ini ditolak kerana kawan aku ini seorang salesman kereta. Satu malam, mereka bercadang utk melarikan diri. Selepas berjaya melarikan diri, bapak perempuan ini sedar akan kehilangan anak perempuan kesayangan dan telah membuat laporan polis dan juga telah membuat iklan di akhbar tempatan dgn mengatakan dia akan menerima teman lelakinya itu jika dia balik ke rumah. Bila mendengar berita ini, perempuan itu balik ke rumahnya di bukit antarabangsa dan keluarga pihak permpuan itu pun menerima lelaki ini dengan seadanya. Enam bulan kemudian, mereka bercadang utk berkahwin dan persiapan utk majis perkahwinan itu sedang disediakan.Nak dijadikkan cerita, Semasa Lelaki ini pergi membeli KFC di Ampang Point, dia kena langgar kereta di hadapan perempuan tersebut dan keesokan harinya lelaki itu pun dikebumikan. Kejadian ini amatlah menyedihkan perempuan tersebut kerana tinggal beberapa hari sahaja lagi perempuan itu hendak berkahwin dengan lelaki kesayangannya. Pada satu malam, ibu perempuan ini mendapat mimpi, seorang nenek tua meminta untuk membersihkan percikan darah di baju pengantinperempuan itu, kalau tidak, sesuatu yang akan buruk akan berlaku. Tapi, ibu perempuan tersebut tidak mengendahkannya. Malam berikutnya, Ayah perempuan tersebut pula menerima mimpi yang sama iaitu seorang nenek tua meminta untuk membersihkan percikan darah di baju pengantin perempuan itu, kalau tidak, sesuatu yang akan buruk akan berlaku. akan tetapi, ayah perempuan tersebut jugak tidak megendahkannya. Malam ketiga, perempuan itu pula menerima mimpi yang sama sepertiayah dan ibunya dan diceritakan mimpi tersebut kepada kedua ibu dan ayahnya. Dalam ketakutan yang amat sangat, dia pun pergi membasuh baju itu dan macam mana kuat dia basuh pun, darah tetap ada. Malam keempat, dia mendapat mimpi yang serupa. Seorang nenek tua menyuruh dia membasuh darah itu bersih-bersih dan jika tidak, malang akan menantinya. Bila bangun, perempuan itu pun terus menyental baju tersebut sehingga kain tersebut menjadi haus, akan tetapi, darah itu tetap adaa. Keesokan harinya, perempuan itu terkejut apabila pintu belakang rumahnya di ketuk bertalu-talu dan muncullah nenek tua tersebut dan perempuan itu pun pengsan. Setelah terbangun dari pengsan, lalu nenek tua itu pun menghulurkan benda yang berwarna biru. Perempuan itu bertanya kepada nenek tua itu “apa ini…?” Ini lah Sabun Basuh Dynamo, letak kan sedikit dan kotoran akan hilang… err..yang ni adalah pakej percubaan aja, kalau nak yang besar, beli kat kedai..hehehehhhhehehehh……” |
| Xi Luhan D'Rp bangun+rumah 's link "Cinta itu Tidak pernah mengucapkan kata maaf karena cinta itu tulus." #Love Rain |
| Aiman D Ewahan Aiman D Ewahan shared Himpunan Cerita Lawak's photo. bangun+rumah 's image link |
| Ahmad Zaini Belajar bangun+rumah 's link Kegiatan ziarah kelas satu Madrasah Diniyah PP. Durrotu Ahlussunnah Wal Jamaah ke makam Sunan Kudus, Muria, Sultan Hadirin dan Kalijaga telah usai. Ada banyak hal yang ingin saya bagi kepada anda mengenai kegiatan ini. Mungkin nantinya bisa jadi bahan pelajaran buat anda di kemudian hari. Jujur saya akui dalam pelaksanaan banyak sekali kekurangan. Maklum lah, ini merupakan pengalaman pertama saya memimpin kegiatan seperti ini. Sesuai dengan teknis pelaksanaan yang kami sampaikan kepada peserta pada sabtu malam (18/5/13) jam sembilan, peserta bangun jam tiga. Oleh karena itu saya bangun jam tiga pagi kurang lima belas menit. Ada beberapa orang yang sulit sekali dibangunkan. Ada juga yang sudah bangun malah tidur lagi. Namun, alhamddulillah jam lima peserta sudah siap berangkat. Pukul 05:15 perserta sudah mulai jalan ke lapangan banaran. Abah Kyai Masrokhan memberi tahu saya bahwa ada masyarakat yang meminta beliau untuk menyembelihkan kambing. Pada waktu itu juga kang Reza dan Kang Alif yang saya kasih tugas mengecek bus melaporkan bahwa bis masih dalam perjalanan di ungaran. Rencana jadwal berangkat pukul 05:00 dengan target waktu maksimal pukul 05:30 jadi molor hingga baru bisa berangkat pukul 06:35. Objek pertama kearah makam Sunan Kudus. Kami sampai di terminal Kudus pukul 08:25. Sie acara, kang Cholil dan kang Sokib, laporan ke pihak terminal beserta saya. Bayar retribusi parkir Rp 35.000. Kemudian mereka dengan saya mencari kendaraan untuk menuju makam. Karena ada percekcokan antara sopir angkot dan andong berebut penumpang, jadi ada yang naik angkot, ada pula yang naik andong. Saya sendiri naik angkot yang terakhir. Maksud hati, saya, kang Sakhowi, dan kang Imam mau menunggu kang-kange dan mba-mbae yang naik andong di tempat kami turun dari angkot. Eh, setelah sekian lama ditunggu tidak muncul juga. Setelah sms salah seorang yang naik andong ternyata mereka sudah berada di makam sunan kudus. owalah...... Singkat cerita, kami berkumpul di tempat parkir angkot, ojek, dan becak. Nah, di situ ada kejadian yang cukup mengagetkan juga. Yaitu, ketika Abah memberi salah seorang peminta. Seketika itu pula Abah dikeroyok ibu-ibupeminta. Wuih... dengan sigap kang Pampam dengan dibantu kange yang lain dengan sigap mengamankan Abah. Tepok tangan dong buat kang-kange. Prok...prok...prokkk. Rombongan kocar-kacir. Ada yang naik angkot, becak, dan ojek. Ada yang bayar sendiri ada yang dibayarkan panitia. Usut punya usut, ternyata dalam satu rombongan harus ada yang naik ojek, becak, dan angkot. Tidak boleh naik angkot semua maupun becak semua. Hal itulah yang menjadikan sistem pembayarannya corat-marut. Selang beberapa menit sampai di terminal. Ada masalah lagi. Bunda Vivi bilang ada salah seorang mbae yang tidak kebagian tempat duduk. Ada kursi kosong satu tapi di sebelahnya di tempati kange. Untung saya tahu kalau kang Said dan mba Ulfa adalah saudara sepupu. Jadi tempat duduknya diatur sedemkian rupa. Saya tidak menyangka apa yang saya bicarakan sama kang Said dua hari sebelumnya benar-benar terjadi. Padahal tidak ada rencana. Persoalan sudah beres, pukul 10:31 bus berangkat menuju Makam Sunan Muria. Sekitar pukul 11:18 kami sampai di Muria. Di sinilah kekacauan dimulai. Jika merujuk pada jadwal, semuanya berkumpul di Masjid Muria. Sebelumnya dari pihak panitia menghimbau semua naik ojek untuk menuju puncak. Namun ada beberapa orang yang jalan. It’s ok. Sebenarnya tidak apa-apa asalkan kumpul dulu di masjid. Rombongan yang sudah di masjid nunggu yang lain dari jam dua belas sampai jam satu siang. Sekitar pukul 12:30 saya mengutus Kang Didik dan Kang Salis untuk mengecek apakah rombongan yang ditunggu sudah berda dimakam? Sinyal hp agak sulit di sana, maka komunikasi dengan Kang Didik dan Kang Salis sempat terputus. Sekitar setengah jam baru ada kabar bahwa memang benar, rombongan yang ditunggu sudah berada di makam. Rombongan yang di masjid akhirnya menuju makam Sunan Muria. Selesai ziarah, saya, Kang Didik, dan Kang Sokib turun belakangan. Ngecek peserta, terutama mba-mbae yang demen banget belanja. Kami turun dengan jalan kaki. Perasaan, mbae bentar-bentar berhenti untuk beli ini itu. Hmm... bikin gemes. Hehehe Sesampainya saya di sekitar pos ojek, berdirilah Mba Lailis berada di belakang mbae (saya lupa mbae yang mana) melambaikan tangang ke saya dengan muka pucat seakan mau bilang “kang, tulong aku wes gak kuat!”. Dan banar, selang beberapa detik Mba Lailis jatuh lemas, untung ada mbae yang megangin jadi tidak sampai tersungkur di tanah. Mba Lailis dibantu beberapa mbae yang datang belakangan untuk berjalan menuju tempat duduk di pos ojek. Setelah di kasih minum teh anget kelihatannya agak mendingan. Sebenarya kami yang berada di pos ojek sedang kebingungan di mana posisi bus. Jadi kang didik berinisiatif mencari di tanjakan tempat kami turun dari bis sebelumnya.Namun, lima menit kemudian kang Reza sms bahwa busnya berada di arah Pati. Gantian saya clingukan kaya orang hilang nyari kang Didik. Selang beberapa menit, tepatnya pukul 15:35 perjalanan dilanjutkan. Selama perjalanan ke Jepara, saya, kang Reza (sebagai wakil ketua), dan kang Cholil(sebagai sie acara) rembukan mengenai objek selanjutnya. Setelah diskusi panjang dan tanya-tanya sopir kami putuskan membatalkan kunjungan ke Pantai Bandengan. Dengan berbagai pertimbangan, pertama, perkiraan sampai Pantai Bandengan sekitar pukul 18:30. Terus mau ngapain malam-malam di sana? Kedua, waktu kegiatan akan molor. Kita juga harus bertamu kerumah Mba Salamah kalau kemalaman kan nggak enak juga. Saya tahu banyak yang kecewa akan keputusan itu, namun mau apa dikata kalau keadaan tidak memungkinkan. Akhirnya kami putuskan Pantai Bandengan diganti ziarah ke makam Sultan Hadlirin, Mantingan, Jepara. Selain itu, selama perjalanan ke Jepara Abah mengevaluasi kekacauan pelaksannan ziarah di Muria. Saya menangkap pesan beliau bahwa panitia kurang koordinasi, dan kurang memberikan penjelasaan secara lengkap mengenai target waktu pelaksanaan dan lainnya. Saya akui semua itu benar adanya. Justru kekurangan inilah yang akan jadi pengalaman berharga. Sampai di makam Sultan Hadlirin pukul 17:25. Di sana, saya dan kang Cholil laporan dan membayar parkir Rp 50.000 sera kas Rp 25.000. Kemudian, semua ziarah seperti biasa. Sehabis sholat dan foto-foto, perjalanan kami lanjutkan (18:50) menuju rumah mba Salamah. Sekitar pukul 19:05 sampai di tujuan. Di sana disambut kakaknya mba Salamah. Saya, kang Cholil, dan Cak Imin duduk di dalam bersama Abah. Di dalam bercanda melulu. Terutama tingkahnya kang Cholil yang dikit-dikit “bah, barokahe bah”. Keadaan kang-kange di luar pun nggak jauh beda. Ada kang Lubis yang bergaya bintang iklan roti roma, dan kang pampam bergaya bintang iklan Aguaria. Semua tingkah mereka direkam dengan Camdignya kang Wildan. Saat lihat rekamannya bikin ketawa cekakakan. Hahaha Setelah selesai bincang-bincang, doa pun di mulai. Saat berdoa, Abah sempat beberapa kali salah menyebut nama bapaknya mba Salamah. Namanya bapak Muhammad Ma’ruf (alm) namun Abah dengarnya Muhammar Ma’ruf. Kakaknya Salamah sudah mencoba membenarkan beberapa kali juga, tapi gagal. Saya yang melihat ekspresi wajah kakanya mba Salamah yang mau ngingetin lagi tapi g berani saya jadi malu karena g mengingatkan Abah. Akhirnya ketika pertengahan doa Abah menyebut bapak Muhammar Ma’ruf lagi, saya beranikan diri untuk menyela. Pukul 20:45 perjalanan kembali dilanjutkan. Namun, mba Lailis pingsan. Sempat ziarah ke Sunan kalijaga akan di batalkan. Namun, setelah minta pendapat Abah, ziarahnya tetap dilanjutkan. Sampai di Kadilangu pukul 22:12. Di sanalah waktu ziarahnya agak di percepat. Karena dari sopir dan kenek sudah gegeri bahwa bila lebih jam 12 malam akan kena denda. Karena saya khawatir bila kedenda akan memberatkan peserta dan panitia tentunya, maka saya umumkan tidak usah kebanyakan belok (dalamarti belanja dan sebagainya). Namanya juga cah enom, sudah dibilangin gitu ya tetap saja bandel. Apalagi mbae, wuihhh.. bikin jengkel! Sempat terlintas dalam fikiranku “Kenapa tidak ada yang memahami perasaanku?hiks...hiks..hiks”. Dengan sedikit reseh, akhirnya pukul 23:10 bisa pulang. Sampai di pondok sekitar pukul 01:30. SAYA MEWAKILI PANITIA ZIARAH KELAS SATU MADRASAH DINIYAH PP. DURROTU AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH MOHON MAAF ATAS SEMUA KEKURANGAN TERIMA KASIH SAYA UCAPKAN KEPADA SEMUA PIHAK YANG TELAH MEMBANTU JALANNYA PELAKSANAAN ZIARAH KELAS SATU. SEMOGA ALLAH MEMBALAS KEBAIKAN PANJENENGAN. Amin |
| Ibnu Yunus bangun+rumah 's link DIARI seorang AYAH Medan, 15 Juni 1975 Hari ini engkau terlahir ke dunia, anakku. Meski tidak seperti harapanku bertahun-tahun merindukan kehadiran seorang anak laki-laki, aku tetap bersyukur engkau lahir dengan selamat setelah melalui jalan divakum. Telah kupersiapkan sebuah nama untukmu; Qaulan Sadida. Aku sangat terkesan dengan janji Allah dalam surat Al-Ahzab ayat tujuh puluh, maknanya perkataan yang benar. Harapanku engkau kelak menjadi seorang yang kaya iman dan memperoleh fauzan'adzima, kemenangan yang besar seperti yang telah dijanjikan Allah dalam Al-Quran. Sungguh kelahiranmu telah mengajarkanku makna bersyukur... 1981 Tahun ini engkau memasuki sekolah dasar. Usiamu belum genap enam tahun. Tetapi engkau terus Merengek minta disekolahkan seperti saudarimu. Engkau berbeda dari keempat kakakmu terdahulu. Bagaimana engkau dengan gagah tanpa ragu atau malu-malu melangkah memasuki ruang kelasmu. Bahkan engkau tak minta dijemput. Saat ini aku mulai menyadari sifat keberanian yang tumbuh dalam dirimu yang tak kutemukan dalam diri saudarimu yang lain. 1987 Putriku, sungguh aku pantas bangga padamu. Tahun ini engkau ikut Cerdas Cermat tingkat nasional di TVRI. Dengan bangga aku menyaksikan engkau tampil penuh percaya diri di layar kaca dan aku pun bisa berkata pada teman-temanku; itu anakku Qaulan? Meski tidak juara pertama, aku tetap bangga padamu. Namun di balik rasa banggaku padamu selalu terbesit satu kekhawatiran akan sikapmu yang agak aneh dalam pengamatanku. Tidak seperti keempat kakakmu yang kalem dan cendrung memilik sifat-sifat perempuan, engkau justru sangat angresif, pemberani, agak keras kepala, meski tetap santun padaku dan selalu juara kelas. Jika hari Ahad tiba, engkau lebih suka membantuku membersihkan taman, mengecat pagar, atau memegangi tangga bila aku memanjat membetulkan bocor. Engkau lebih sering mendampingiku dan bertanya tentang alat-alat pertukangan ketimbang membantu ibumu memasak di dapur seperti saudarimu yang lain. Kebersamaan dan kedekatanmu denganku, membuatku sering meperlakukanmu sebagai anak lelakiku, dengan senang hati aku menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, membekalimu dengan pengatahuan dan permainan untuk anak lelaki. Tak jarang kita berdua pergi memancing atau sekedar menaikkan layang-layang sore hari di lapangan madrasah tempat aku mengajar. Putriku, sungguh kekhawatiranku berbuah juga. Engkau menolak bersekolah di tsanawiyah seperti saudarimu. Diam-diam tanpa sepengetahuanku engkau telah mendaftar di sebuah SMP negeri. Bukan kepalang kemarahanku. Untunglah ibumu datang membelamu, jika tidak mungkin tangan ini sudah berpindah ke pipimu yang putih mulus. Tegarnya watakmu, bahkan tak setetes airmata jatuh dari kedua matamu yang tajam menatapku. Putriku, jika aku marah padamu semata-mata karena aku khawatir engkau larut dalam pola pergaulan yang tak benar, anakku. Terlebih-lebih saat engkau menolak mengenakan jilbab seperti keempat kakakmu. Betapa sedih dan kecewa hatiku melihatmu, Nak... 1993 Tahun ini engkau menamatkan SMA-mu. Engkau tumbuh menjadi gadis cantik, periang, pemberani, dan banyak teman. Temanmu mulai dari tukang kebun sampai tukan becak, wartawan, bahkan menurut ibumu pernah anggota kopassus datang mencarimu. Putriku, di setiap bangun pagiku, aku seolah tak percaya engkau adalah putriku, putri seorang yang sering dipanggil Ustadz, putri seorang kepala madrasah, putri seorang pendiri perguruan Islam... Putriku, entah mengapa aku merasa seperti kehilanganmu. Sedih rasanya berlama-lama menatapmu dengan potongan rambut hanya berbeda beberapa senti dengan rambutku. Biar praktis dan sehat; berkali-kali itu alasan yang kau kabarkan lewat ibumu. Jika terjadi sesuatu yang tidak baik pada dirimu selama melewati usia remajamu, putriku maka akulah orang yang paling bertanggung jawab atas kesalahan itu. Aku tidak behasil mendidikmu dengan cara yang Islami. Dalam doa-doa malamku selalu kubermohon pada Rabbul 'Izzati agar engkau dipelihara oleh-Nya ketika lepas dari pengawasan dan pandangan mataku. Kesedihan makin bertambah takkala diam-diam engkau ikut UMPTN dan lulus di fakultas teknik. Fakultas teknik, putriku? Ya Rabbana, aku tak sanggup membayangkan engkau menuntut ilmu berbaur dengan ratusan anak laki-laki dan bukan satupun mahrommu? Dalam silsilah keluarga kita tidak satupun anak perempuan belajar ilmu teknik, anakku. Keempat kakakmu menimba ilmu di institut agama dan ilmu keguruan. Ya, silsilah keluarga kita adalah keluarga guru, anakku. Engkau kemukakan sejumlah alasan, bahwa Islam juga butuh arsitek, butuh teknokrat, Islam bukan tentang ibadah melulu? Baiklah, aku sudah terlalu lelah menghadapimu, aku terima segala argumen dan pemikiranmu, putriku..Danaku akan lebih bisa menerima seandainya engkau juga mengenakan busana Muslimah saat memulai masa kuliahmu. 1995 Tahun ini tidak akan pernah kulupan. Akan kucatat baik-baik... Engkau putriku, yang selalu kusebut namamu dalam doa-doaku, kiranya Allah SWT mendengar dan mengabulkan pintaku. Ketika engkau pulang dari kuliahmu; subhannalah! Engkau sangat cantik dengan jilbab dan baju panjangmu, aku sampai tidak mengenalimu, putriku. Engkau telah berubah, putriku.. Apa sesungguhnya yang engkau dapati di luar sana. Bertahun-tahun aku mengajarkan padamu tentang Kewajiban Muslimah menutup aurat, tak sekalipun engkau cela perkataanku meski tak sekalipun juga engkau indahkan anjuranku. Dua tahun di bangku kuliah, tiba-tiba engkau mengenakan busana takwa itu? Apa pula yang telah membuatmu begitu mudah menerima kebenaran ini? Putriku, setelah sekian lamanya waktu berlalu, kembali engkau mengajarkan padaku tentang hakikat dan makna bersyukur. 1997 Putriku, kini aku menulis dengan suasana yang lain. Ada begitu banyak Rasa tersimpan di hatiku melihat perubahan yang terjadi dalam dirimu. Engkau menjadi sangat santun, bahkan terlihat lebih dewasa dari keempat saudarimu yang kini telah berumah tangga semuanya. Kini, hanya engkau aku dan ibumu yang mendiami rumah ini. Kurasakan rumah kita seolah-olah berpendar cahaya setiap saat dilantuni tilawah panjangmu. Gemercik suara air tengah malam menjadi irama yang kuhafal dan pantas kurenungi. Putriku, jika aku pernah merasa bahagia, maka saat paling bahagia yang pernah kurasakan di dunia adalah saat ketika diam-diam aku memergokimu tengah menangis dalam sujud malammu.... Selalu kuyakinkan diriku bahwa akulah si pemilik mutiara cahaya hati itu, yaitu engkau putriku... 1998 Putriku, kalau saat ini aku merasa sangat bangga padamu, maka itu amat beralasan. Engkau telah lulus menjadi sarjana dengan predikat cum laude. Keharuan yang menyesak dadaku mengalahkan puluhan tanya ibumu, diantaranya; mengapa engkau tidak punya teman pendamping pria seperti kakak-kakakmu terdahulu? Engkau begitu sederhana, putriku, tanpa polesan apapun seperti lazimnya mereka yang akan berangkat wisuda, semua itu justru membuatku semakin bangga padamu. Entah darimana engkau bisa belajar begitu banyak tentang kebenaran, anakku... Jika hari ini aku meneteskan airmata saat melihatmu dilantik, itu adalah airmata kekaguman melihat kesungguhan, ketegaran, serta prinsip yang engkau pegang teguh. Dalam hal ini akupun mesti belajar darimu, putriku... 1 Agustus 1999 Putriku, bulan ini usiaku memasuki bilangan enampuluh tiga. Aku teringat Rasulullah mengakhiri masa dakwahnya didunia pada usia yang sama. Akhir-akhir ini tubuhku terasa semakin melemah. Penyakit jantung yang kuderita selama bertahun-tahun kemarin mendadak kumat, saat kudapati jawaban diluar dugaan dari keempat saudarimu. Tidak satu pun dari mereka bersedia meneruskan perguruan yang telah kubina selama puluhan tahun. Aku sangat maklum, mereka tentu mempunyai pertimbangan yang lain, yaitu para suami mereka. Sedih hatiku melihat mereka yang telah kudidik sesuai dengan keinginanku kini seolah-oleh bersekutu menjauhiku. Jika aku menulis di atas tempat tidur rumah sakit ini, itu dengan kondisi sangat lemah, putriku. Aku tak tahu pasti kapan Allah memanggilku. Putriku.... kutitipkan buku harianku ini pada ibumu agar diserahkan padamu. Aku percaya padamu... Jika aku memberikan buku ini padamu, itu karena aku ingin engkau mengetahui betapa besar cintaku padamu, mengapa dulu aku sering memarahimu.. maafkan buya, putriku... Kini hanya engkau satu-satunya harapanku...Aku percaya perguruan yang telah kubangun dengan tanganku sendiri ini padamu. Aku bercita-cita mengembangkannya menjadi sebuah pesantren. Engkau masih ingat lapangan tempat kita dulu menaikkan layangan? Itu adalah tanah warisan almarhum kakekmu. Di lapangan itulah kurencanakan berdiri bangunan asrama tempat para santri bermukim. Engkau seorang arsitek, anakku, tentu lebih memahami bangunan macam apa yang sesuai untuk kebutuhan sebuah asrama pesantren... Kuserahkan sepenuhnya kepadamu, juga untuk mengelolanya nanti. Sebab aku yakin, dari tanganmu, dari hatimu yang jernih, dari perkataan dan tindakanmu yang selalu sejalan dengan kebenaran akan terlahir sebuah fauzan'adzima, kemenangan yang besar, seperti yang telah Allah janjikan, yakinlah, putriku... Dalam diri dan jiwamu kini terhimpun beragama kapasitas keilmuan dunia dan akhirat. Kini kusadari engkau bukan saja sekedar terlahir dari rahim ibumu, tetapi juga lahir dari rahim bernama Hidayah. Semoga Allah menyertai dan memudahkan jalan yang akan engkau lalui, putriku. Amien Ya Rabbal 'Alamiin. 12 Agustus 1999 Rabbi, jika airmata ini tumpah, bukan karena aku tidak mengikhlaskan buyaku Engkau panggil, tapi sebab aku belum mengenali buyaku selama ini, seutuhnya. Sebab hanya seujung kuku baktiku padanya. Rabbi, perkenankan aku menjalankan amanah Buya dengan segenap radhi-Mu. Hanya Engkau.. ya Mujib... Nukilan, Hamba Allah |
| Keno Rizandi bangun+rumah 's link "I want to be loved, but you don't seem to love me. I'm wandering aimlessly within this repetition and the answer I found is only one; that even if I'm scared, even if I'm hurt I'll say "I love you" to the person I love." ―Sen no Yoru wo Koete (Aqua Times) M E L E P A S M U Naruto is not mine, you know well laaah #plak Kishimoto Masashi™ Melepasmu is purely mine! Kurousa Hime™ Warnings: AU, OOC, gaje, aneh, typo(s), SasuHina di sini cukup ada -_- Disarankan mendengar fanfic ini dengan Lagu Alexa yang mana aja :) Silahkan membaca! DLDR "Akhirnya tiba juga hari ini." Bisik seorang gadis yang masih berpakaian piyama putih polos menatap langit pagi hari yang masih berwarna putih keemas-emasan. Ekspresi wajahnya sangat sulit diartikan. Ada banyak rasa yang ingin dibuncahkan, namun pada akhirnya hanyalah wajah sedikit tanpa ekspresilah yang terlihat pagi itu. Dengan malas-malasan dia turun dari ranjangnya yang empuk. Melihat sekeliling kamarnya yang sudah polos hanya ada perabotan besar―seperti lemari, meja hias, dan meja belajar juga ranjangnya. Dengan langkah gontai, diayunkan kaki mungilnya menuju kamar mandi. "Perpisahan…." . . . Dentuman dari seorang pemuda blonde durian meniti nada-nada indah di setiap tutsnya. Sedikit berdenting ketika Naruto―si pemuda blonde durian―menyentuhkan jari kelingkingnya pada nada tinggi. Kelihaian tangan Naruto menari di atas hitam putih tuts yang mengeluarkan irama yang sejuk didengar telinga memang tak bisa dianggap remeh lagi. Ia kini sedang memainkan Fur Elise. Lagu gubahan yang lumayan lama ini sangat disukai Naruto. Sakura yang terkejut dengan kedatangan Naruto―tepatnya melihat Naruto sedang memainkan piano itu sangat mustahil―terutama di hari minggu pagi seperti ini. Hei, bukankah Naruto tidak bisa bangun pagi? Naruto melongokan kepalanya ketika mendapati sahabat merah mudanya tengah mengerucutkan bibirnya imut. "Pagi, Sakura-chan!" sapa Naruto riang sembari menutup kembali tuts piano milik Sakura. "Sesuai janjiku." Dia nyengir dengan lebarnya membuat Sakura tampak sebal. "Huh, ini mustahil!" Sakura menyilangkan tangannya di depan dada. "Pasti ini makhluk jejadian!" kemudian dia mencubit kedua pipi Naruto gemas. "Aduh!" erang Naruto kesakitan. "Teganya kau. Kalau aku sudah janji, aku pasti akan menepatinya Sakura!" "Ya, ya, ya aku tahu baka." Sakura mengelus-elus kedua pipi Naruto yang dicubitnya hingga memerah. "Kita sarapan dulu, yuk!" . . . Pertama suara yang didengar pemuda raven tersebut adalah suara sayup-sayup burung gereja yang berjajar di jendela kusennya―yang entah kapan sudah terbuka―ketika ia baru saja membuka kedua matanya dan menyingkap selimut biru langitnya, ia menggeliat sebentar dan menggaruk belakang lehernya, ketika tak didengarnya lagi suara burung yang biasa mencicit di taman bunga mini di bawah jendelanya, ia malas-malasan melirik jam wekernya, kedua matanya melihat jam berbentuk bola itu menunjuk pukul 7 pagi. Dengan malas pemuda tersebut turun menuju lantai bawah. Dimana saat Ia menjejakan kakinya pada tengah anak tangga sudah tercium aroma sedap masakan yang berasal dari arah dapur. Dengan sebuah senyum riang, pemuda tersebut berdiri di depan meja makan yang sudah tersaji makanan sekiranya seperempat dari ukuran meja tersebut. Menyadari ada seseorang selain dirinya yang berada di sana, dia mendekati wanita yang masih sibuk berkutat memotong-motong sayuran. "Selamat pagi, Ibu." Sapanya dengan wajah datar namun sarat akan kesenangan dalam ucapannya. Wanita yang dipanggil 'Ibu' oleh pemuda tersebut menoleh. "Pagi, Suke." Balasnya sembari mengelus kepala anaknya yang sudah jauh lebih tinggi darinya. "Kau bangun pagi sekali." "Hn." Pemuda itu mengangguk. Sasuke membuka pintu kulkan, mengambil sesuatu di sana yaitu sebotol susu putih lalu menegaknya hingga tandas. "Ayahmu dan kakakmu sedang berada di dojo." Walau Sasuke tidak bertanya, seorang Ibu pastilah mengerti apa keinginan anaknya. Sasuke langsung mengangguk mengerti sebelum menghilang di balik pintu, Mikoto―nama Ibu Sasuke―berseru, "Setengah jam lagi kalian datang ke ruang makan, ya!" . . . Tak terasa sudah hampir menuju angka 8 lewat 10 menit ketika Sasuke bersama kakaknya selesai mencuci piring bekas mereka sarapan pagi. Dengan sedikit perkelahian kecil antar kakak-beradik itu, rambut Sasuke tampak masih tersisa buih sabun―kakaknya iseng melakukan hal tersebut karena adiknya itu senyum-senyum sendiri dengan wajah yang bersemu. "Menyebalkan!" kesalnya sembari menendang kaki kakaknya yang masih saja asik menertawai adiknya. "Kubalas kau nanti!" "Salah sendiri saat mencuci piring kau bengong dengan mulut melongo begitu." Itachi memegangi perutnya yang serasa sakit akibat tertawa terbahak-bahak. "A-apa?" wajah Sasuke langsung memerah dan berusaha menutupi wajahnya dengan lengannya. Itachi bukannya berhenti tertawa dia malah melanjutkan tawanya lagi dan kini semakin besar. "Kau lucu sekali otouto!" Itachi menepuk-nepuk kepala adiknya. "Ciyee, yang sudah jadian sama Hinata." Sasuke mengernyit heran. "Tahu dari mana kau tentang Hinata?" Itachi menutup mulutnya. Ck, kelepasan berbicara ternyata dia. "Upsie. Itu bukan apa-apa." Baru saja Sasuke akan menanyakan kembali, Itachi sudah berlalu meninggalkan rumah dengan langkah tergesa-gesa. "Kenapa dia bisa tahu?" . . . "Kau mau pergi Suke?" tanya Ibunya ketika dilihatnya Sasuke tengah berdandan rapi di hari minggu pagi itu. Sasuke mengenakan jins hitam dipadu kemeja hitam kotak-kotak garis putih tebal yang tak dikancingi dengan dalam kaus berwarna putih dengan tulisan 'Handsome Enough'. Ck, narsis juga ya ternyata Sasuke ini. Alas kakinya cukup dengan sepatu kets kesayangannya yang berwarna putih bergrafiti garis putih dan kuning menyala. "Hn." Jawabnya biasa. "Cepatlah. Kau pasti akan mengantar Sakura-chan, bukan? Pesawatnya akan landas jam 9 ini." Mikoto tidak memerhatikan raut wajah anaknya yang kebingungan dengan maksud dari perkataannya. "Maksud Ibu apa?" tiba-tiba saja dada Sasuke merasakan ngilu mendadak. "Lho? Bukankah Sakura-chan akan pergi ke Suna jam 9 ini? Kau tidak tahu Suke?" Mikoto ikut mengernyit keheranan. "Kenapa Ibu tidak bilang?" "Kupikir Sakura-chan sudah memberitahumu." Mikoto baru saja akan mengambil telepon wirelesnya ketika dengan cepat Sasuke sudah pergi keluar rumah mengikuti jejak kakaknya yang tadi pagi terburu-buru juga. Mikoto mendesah pelan. "Apa tidak bisa berpamitan dengan Ibu dulu?" . . . Dengan kesal Sasuke melajukan motor sport berwarna dark blue tersebut dengan keecepatan penuh. Sesaat sebelum Ia kemudikan motornya dia mencoba menghubungi Naruto. Sayang sekali panggilan darinya tidak disahuti bahkan sudah beberapa kali Sasuke menghubungi sahabatnya itu tetap saja tidak diangkat panggilannya. Karena tidak mau membuang waktu Sasuke segera pergi menuju bandara langsung. Otaknya masih berjalan dengan cepat, kemungkinannya Sakura dan Naruto sudah berada di bandara. Dan dia butuh penjelasan Sakura kenapa dia akan berangkat ke Suna hari ini. . . . Itachi menyeruput ice vanilla latte pesanannya dengan santai sesekali melihat kelompok temannya yang berada di kanan-kirinya tengah asik dengan kegiatan masing-masing. Hari minggu ini Itachi sedang berkumpul dengan teman-teman yang sudah 4 tahun ini menjadi teman perkumpulannya, yang mereka sebut sebagai 'Akatsuki'. Anak-anak yang berasal dari daerah yang berbeda-beda itu bertemu dalam suatu sebuah SMA di Konoha yang cukup terkenal. Bahkan setelah mereka kuliah di salah satu universitas yang lagi-lagi ternama di Konoha dengan jurusan yang berbeda-beda pula mereka tetap dapat berkumpul setiap minggu atau jika ada waktu luang yang bersamaan. Seperti pada minggu pagi ini. Mereka hanya rutin bertemu tanpa memiliki rencana akan melakukan aktifitas apapun. Akatsuki ini beranggotakan sepuluh orang. Tak perlu berkenalanpun nanti satu persatu dari mereka pasti akan menyapa Itachi. Namun sepertinya kelompok yang berjumlah sepuluh orang termasuk dia mengapa jadi terasa ada yang kurang? Oh, tentu saja si baby face tidak menampakan batang hidungnya. Si pemuda dengan panggilan baby face itu merupakan salah satu teman yang cukup akrab dengan Itachi selain Kisame―si manusia mirip ikan yang duduk di sebelah kiri Itachi yang tengah asik memainkan permainan Angry Bird. "Kemana baby face itu?" tanya Itachi yang memecah keheningan. Delapan pasang mata langsung menatapnya sebentar dan kemudian berfokus kembali pada keasikan mereka masing-masing. "Sasori―baby face itu pulang ke Suna minggu ini. Katanya dia akan mendapatkan adik baru." Jawab salah satu―ah, tepatnya wanita satu-satunya yang hanya berada di kelompok tersebut. Wanita berambut ungu dengan jepitan bunga mawar disemat di pinggir rambutnya itu bernama Konan. Itachi mengernyit heran. "Ah, memang sejak kapan mamanya Sasori hamil?" "Mamanya tidak hamil. Orangtua Sasori akan mengadopsi seorang anak perempuan." Jelas Zetsu―pemuda dengan warna tubuh yang sedikit mencolok. "Katanya, anak perempuan itu sepupunya Sasori yang kehilangan orangtuanya sejak kecil." Imbuh Pein―pemuda dengan banyak piercing di mana-mana pada tiap anggota tubuhnya. Sesekali mata Pain jelalatan melihat kelompok gadis-gadis yang melewati meja mereka sembari mencuri-curi pandang. "Mengapa kalian tahu sedangkan aku tidak?" tunjuk Itachi pada dirinya sendiri. Dia mengaduk-aduk ice vanilla latte miliknya dengan sebal. "Karena kau dan dia―si anak autis," si pemuda berambut pirang panjang bernama Deidara―yang dikuncir berkuda―menunjuk salah satu anak yang memakai topeng disampirkan di atas kepalanya―Obito. "saat Sasori menceritakan masalah ini, kalian sedang ada acara keluarga Uchiha itu bukan?" Itachi mengingat-ingat kapan kejadian yang dituturkan Deidara. "Kau benar. Sekitar seminggu lalu aku memang tidak ikut berkumpul bersama Tobi." "Nah, disitulah dia cerita kepada kami." Ucap si pemuda yang sesekali mebacakan tasbih 'Dewa Jashin-nya' yang bernama Hidan tersebut. "Sepertinya dia sangat senang sekali medapatkan adik baru." Ucap Kakuzu sembari menyeringai senang. Tangannya masih saja menghitung-hitung segepok uang yang berada di tangannya. "Aku jadi penasaran dengan adik baru Sasori!" girang Obito atau yang kerap kali disapa Tobi itu. Obito adalah sepupu dari Itachi. "Aku juga jadi penasaran." Ucap Itachi tulus sembari melihat pesawat terbang yang saat itu membelah langit biru yang cerah tanpa setitik awan pun. . . . Pemuda raven itu tiba di bandara utama Konoha tepat ketika penerbangan dari Konoha menuju Suna baru berangkat. Dengan geram dia mengepalkan kedua tangannya. Ingin berteriak namun rasanya malu. Ini tempat umum tahu, dan dia cukup waras. Lagipula mengapa Ia terlihat kesal dan kecewa begitu? Tiba-tiba saja ponsel Sasuke bordering. Dilihatnya siapa yang meneleponnya. Hyuuga Hinata. Oh, bagus dia melupakan tujuan awalnya keluar rumah untuk berkencan dengan Hinata. Dengan perasaan was-was takut dimarahi, mau tidak mau Sasuke menjawab teleponnya. Di sisi lain, seorang gadis bersama dengan dua orang pemuda tengah menatap pesawat yang baru saja lepas landas. Gadis berambut Barbie-like ini menitikan air mata haru, sedang pemuda lainnya menguap bosan dan satunya lagi berwajah datar. "Ino kita pulang." Pemuda yang menguap itu menggenggam tangan kekasihnya. Ingin merasakan kesedihan gadisnya yang baru saja ditinggal pergi sahabatnya. "Jarak Suna dari Konoha dengan pesawat terbang hanya 15 menit. dengan mobil hanya memerlukan waktu 6 jam dan dengan kereta cukup 4 jam." Terang si pemuda Nara tersebut. Ino yang masih sesegukan mengangguk mengiyakan sebagai reaksi mengerti. "Lagipula dua minggu lagi kau akan ke Suna untuk bertanding senam aerobic bukan?" Naruto yang awalnya datar tanpa ekspresi kini menampilkan senyuman rubahnya kembali. "Aku juga akan ke Suna untuk bertanding sepak bola." "Benarkah?" tanya Ino terperangah. "Yap, ini kejutan untuk Sakura." Naruto mengacungkan jempolnya penuh keyakinan. "Senangnya!" Ino dengan gemas akan kabar ini memeluk Shikamaru dengan spontan hingga membuat Shikamaru menggulirkan matanya bosan. "Ayo pulang." Shikamaru melepaskan pelukan Ino yang kencang, cukup risih karena mereka diperhatikan orang-orang yang berlalu lalang. Baru beberapa mereka bertiga melangkah, satu langkah terhenti. Menatap sosok seseorang yang Ia yakini memang orang yang dikenalnya. Namun, beberapa pertanyaan bermunculan dalam benaknya. Mengapa pemuda yang posisinya saat ini sedang memunggungi dirinya sambil mengapitkan sebuah ponsel berada dalam tempat ini? "Itu Sasuke?" . . . Titik-titik air hujan membasahi tanah Konoha untuk kesekian kalinya. Dan perlahan menyapu jejak-jejak kaki yang tersisa pada senja hari kota kecil nan berkembang tersebut. Semburat kebiruan tanpa celah mulai menghilang digantikan awan kelam yang menggantung di langit. Gelegar guntur menggelegar menyapa telinga. Ditambah pula kilauan kilat menyambar-nyambar seolah ingin menelan segalanya dari bumi. Dan di teras ini, seorang gadis muda itu berdiri. Menatap setiap titik air yang jatuh menyapu jalanan dari awan-awan gelap yang menggantung di cakrawala itu. Baru satu jam berlalu sejak dia menunggu seseorang pada jam janjiannya, namun tidak ada lagi orang yang tampak batang hidungnya yang sedang ia cari atau tunggui. Bahkan gadis berambut indigo kelam yang selalu tampak anggun dan tenang kini mulai gelisah. Gadis muda itu perlahan meluncurkan serentetan kata-kata khawatir, merutuki kebodohannya yang tidak segera kembali ke kediamannya untuk beristirahat atau datang kelewat cepat hanya mengingat ini adalah kencan pertamanya. Namun hari itu dewi fortuna tidaklah berpihak pada sang gadis muda. Tak lama setelah ia mengucapkan kata-kata yang menimbulkan reaksi kekhawatiran yang berlebihan itu, hujan bertambah deras. Bulir-bulir air nampaknya bagai jarum raksasa berwarna bening yang menghujam bumi. "Sasuke-kun," Hyuuga Hinata bergumam cemas. Kini gadis muda itu terduduk lesu, merasa kesal juga cemas. Dan mungkin INI adalah salah satu hari terburuknya selama ia pernah berada di dunia. Padahal dikiranya ini akan menjadi kencan pertamanya yang sangat romantis. Boleh kan berharap seperti itu? Namun nyatanya langit yang sangat cerah mendadak menjadi petir. Tiba-tiba saja suara motor yang berdecit kencang berhenti tepat di depan halte yang Ia teduhi. Si pengendara motor dengan segera melepas helm miliknya dan bergegas menuju gadis muda tersebut. Segala pakaian yang pemuda itu kenakan telah basah kuyup. "Maaf." Ucap pemuda yang diketahui bernama Uchiha Sasuke tersebut ketika ia sudah berada di samping gadis muda tersbut. Cepat-cepat gadis itu mengaduk-aduk sisi tasnya. Mencari benda putih berbentuk segi empat dengan pinggiran yang berenda-renda. Setelah ditemukannya dia mengelap wajah Sasuke yang basah. "Tidak apa-apa." Dengan senyuman dia memberikan rasa nyaman pada Sasuke. Benar adanya, senyuman gadis di depannya yang tak lain adalah kekasihnya Hyuuga Hinata telah membuat perasaannya nyamman dan lega bukan main setelah sebelumnya Ia uring-uringan. Digenggamnya tangan putih Hinata yang masih melap wajahnya. "Kurasa kencan kita akan tertunda." Seringai Sasuke keluar membuat Hinata bersemu. . . . Deru motor berlomba dengan hujan yang mulai mereda. Sasuke memacu motornya dengan kecepatan tinggi yang menyebabkan Hinata di belakangnya mengucapkan kata-kata yang―lebih tepatnya mirip rintihan―sebelumnya tak terpikirkan oleh Sasuke. Sang pengemudi pun hanya tersenyum tipis, dan itu karena kedua tangan sang penumpang—kekasihnya tengah memelukanya dari belakang. Dan jangan pernah salahkan kalau sifat iseng Uchiha bungsu tersebut kemudian muncul. Ia memacu motornya dengan kecepatan yang lebih tinggi, dan detik berikutnya pegangan pada pinggangnya mengerat pelan. Hinata tidak lagi merintih ketakutan, melainkan tengah memejamkan mata sambil mengeratkan pegangannya pada tubuh Sasuke. Dan detik itu, Hinata begitu menginginkan waktu untuk berhenti karena istana tempatnya dibesarkan telah di depan mata Pintu gerbang berderit membuka, Sasuke memasukkan motornya hingga tiba di depan pintu dalam bagian samping yang tidak dijaga. "Sudah sampai, Hina." Sasuke menepuk lengan Hinata yang masih kencang memeluknya. Sontak Hinata kaget melepaskannya dengan segera dan turun dari motor sport Sasuke dengan gugup. "Ja-jangan ngebut-ngebut la-lagi!" wajah Hinata yang memerah entah karena kesal atau malu sangat kucu saat dilihat oleh Sasuke. "Ba-bagaimana ka-kalau kecelakaan?" Dan Sasuke hanya menyeringai senang. "Maaf. Lain kali tidak akan seperti itu lagi." Hinata gugup sekali. Baru kali ini dia diantar pulang ke rumahnya dengan seorang pemuda selain kakak sepupunya. Matanya menoleh ke sana kemari takut dipergoki oleh orang rumahnya karena dia diantar kekasihnya. "Baiklah, oyasuminasai Hime." Cup! Dan sedetik kemudian ciuman singkat mendarat di bibir Hinata di bawah hujan. "A-aaah?" Hinata kaget bukan main sambil memalingkan mukanya yang kini berwarna semerah tomat. "Kau manis, Hime…" kata Sasuke sambil menunjukkan seringaian khasnya—lagi, lalu menaikki motornya dan pergi. "Di-dia memanggilku Hime…" Hinata bergumam terbata, namun ekspresi semunya berubah jadi senyuman. "Arigatou, Suke-kun…" serunya setelah motor Sasuke menjauh. "Ternyata, hujan tidak buruk ya?" lanjutnya sambil menutup rapat pintu yang kini berada dibelakangnya sambil terus tersenyum-senyum. . . . Naruto menatap rintikan hujan yang mulai mereda dengan tatapan kosong. Pikirannya teralih sesaat sebelum Sakura pergi meninggalkan Konoha. Jam 8 pagi saat itu café di bandara masih cukup sepi pengunjung, Naruto dan Sakura baru saja menyantap hidangan di depannya dengan lahap. Dengan wajah yang blepotan akibat saus dari omelet Naruto menimbulkan kesan lucu di wajah imutnya dan Sakura terkikik pelan. "Ada yang salah?" Naruto tampak heran dengan tingkah Sakura yang tertawa cekikikan bak mak lampir. "Tidak," Sakura menggeleng kemudian mengambil selembar tisu dan membersihkan bagian sudut bibirku. "Ada banyak kotoran. Hihi…." "Thanks." Naruto mengelus puncak kepala Sakura sayang. "Hari terakhir ini aku senang menghabiskan bersamamu. Mungkin jika bersama dengan Sasuke hanya akan terasa sakit saja." Sekejap ekspresi Sakura mendadak menjadi muram. Garpunya masih didiamkan di mulutnya. "Sakura." Sakura menengok pada Naruto. "Bisakah kuralat ucapanku tempo hari?" Sakura mengernyit berusaha mengingat. "Yang mana?" "Perjuangan." Sakura membulatkan mulutnya. "Memang apa yang mau kau ralat?" "Perjuanganku belum habis." Naruto tersenyum percaya diri sekali membuat Sakura mau tau mau ketularan akan senyuman itu. "Kau tahu cinta itu ibarat bunga." "Bunga? Bunga apa?" "Entahlah. Kau inginnya bunga apa?" Naruto terkikik geli. Sakura menepuk kepala Naruto sebal. "Aku serius baka!" "Aduh! Iya, iya, monster." Naruto mengelus-elus kepalanya, sekilas saat ia mengucapkan kata 'monster' Sakura mendelik padanya. "Kau bisa mengibaratkannya dalam bunga apapun Sakura." "Jadi?" "Jika benih cinta telah datang di hatimu, maka pilihan itu ada di tanganmu. Apakah kau akan membuangnya, atau menyemainya. Bunga itu bisa saja mati kalau kau biarkan begitu saja. Tapi bisa jadi begitu kuat dan mengakar dalam kalau kau memberinya pupuk dan disirami dengan baik―dengan kata lain adalah ruang. Lalu ia akan berbunga dan merekah sedikit demi sedikit hingga penuh jikalau kau menyemainya―menjaganya dengan baik." Naruto mengaduk-aduk ice lemon tea miliknya yang kini telah mencair es batunya. "Tapi, pada kasusku dan kasusmu ini. Bunga itu akhirnya dicabut dengan pakasa." Naruto menyeruput minumannya sebentar. "Kau pernah mencabut bunga dengan paksa Sakura?" "Ya." Angguk Sakura yang mendadak serius. "Kalau bunga dicabut sedang si bunga telah mengakar dengan kuat apa yang tersisa di tanah itu? Akar bukan? Seperti itulah cinta. Sekalipun Ia telah tercabut tetapi masih ada akar pastilah suatu saat bunga itu akan tumbuh kembali." Sakura menyeringai, mengerti akan maksud perkataan Naruto. "Jadi? Kau tidak akan menyerah, heh?" Naruto mengangguk. "Tentu! Menyerah bukan nama tengahku!" Sakura tertawa nyaring. "Baguslah!" kemudian dia melanjutkan sarapannya yang tertunda. "Semangat untukmu Naruto!" "Terima kasih, terima kasih!" Naruto bersorak sorai. "Lalu bagaimana denganmu?" "Tetap akan melepaskannya." "Kenapa?" "Kau tahu Naruto. Melepaskan seseorang bukan berarti menyerah, melainkan tahu bahwa yang kamu perjuangkan itu tidak layak diperjuangkan." Sebuah kalimat sederhana yang mudah sekali diucapkan tanpa perlu berpikir lama, namun sarat akan makna. Kenapa hanya kalimat sederhana seperti itu saja mulutmnya tak mampu menyuarakannya? Dalam hati Sakura selalu takut. Dia takut jika dia mengatakannya, dia tak mampu mengekspresikannya dengan tepat. Dia tak ingin jika kalimat itu hanya keluar begitu saja kemudian kehilangan makna yang terkandung di dalamnya. Terlebih lagi suaranya membuat segala yang diucapkan tak pernah terdengar jelas. Jika dipaksa, rasanya nada bicaranya jadi terkesan tak peduli. Tentu saja dia tidak ingin membuat kata melepas yang diucapkan menjadi salah makna sedemikian rupa. Naruto hanya mengelus kembali puncak kepala merah muda Sakura. Terkadang tidak selalu perkataan untuk menjawab sebuah kata. TBC |
| Super junior fanfiction bangun+rumah 's link [Oneshoot] Special Gift #2 : Small Letter by : Opi tropika “Sayang, Eomma perhatikan gelang yang kau kenakan seprtinya sama dengan yang dikenakan Dae Hyun. Benarkah itu?” Cheon Sa memegang tangan Jasmine ketika Ia sedang menunggui Jasmine agar cepat tidur. “Ne Eomma,gelang ini sama dengan yang dikenakan Dae Hyun Oppa. Yesung Ahjusi yang membelikannya kemarin.” “Bagus ya.”Cheon Sa meletakkan kembali tangan Jasmine dalam selimut. Kemudian memeluk putrinya itu agar cepat tertidur. “Sekarang tidurlah.” “Eomma, Appa eodigayo?” Jasmine mendongak menatap Ibunya. “Appa sedang membantu Yesung Ahjusi berkemas. Kau tahu kan jika lusa Yesung Ahjusi akan berangkat?” “Lusa? Akutak tahu itu Eomma.” Jasmine tertunduk lesu. “Wae?” Jasmine kembali menatap wajah Ibunya. “Yesung Ahjusi berkata jika Ia akan pergi melakukan sebuah misi rahasia. Tapi yang aku dengar dari Ryewook Ahjusi jika Yesung Ahjusi akan pergi ke sebuah pelatihan tentara? Manakah yang benar Eomma?” Cheon Sa tersenyum dan membelai rambut panjang Jasmine. “Begini, yang di maksud Yesung Ahjusi melakukan sebuah misi rahasia itu adalah Yesung Ahjusi akan menjalani wajib militer. Jasmine tahu itu kan?” Jasmine mengangguk. “Nah, Yesung Ahjusi akan pergi selama dua tahun. Kemudian kembali setelah dua tahun itu.” “Wajib militer itu seperti Leeteuk Ahjusi kan Eomma?” “Pintarsekali!!” Cheon Sa tersenyum dan mencubit hidung Jasmine pelan. “Dua tahun bukankah sangat lama Eomma?” Cheon Sa mengubah posisi tidurnya agar lebih nyaman menatap wajah putri sulungnya itu. “Tidak sayang, dua tahun itu tidak lama. Dua tahun akan cepat berlalu jika kita menjalaninya dengan bahagia. Benar kan?” Jasmine kembali mengangguk. “Kenapa putri cantik Eomma ini sepertinya sangat sedih Yesung Ahjusi akan pergi?” Jasmine menatap langit-langit kamarnya yang dicat menyerupai warna awan. “Molla, hanya saja Yesung Ahjusi sangat baik padaku Eomma. Pada Lily, Dae Hyun Oppa juga Mi Cha. Jika lama tak bertemu, Yesung Ahjusi pasti datang ke sekolah untuk menjemputku. Jika tidak begitu, saat Yesung Ahjusi libur Ia pasti menyempatkan datang ke rumah untuk bermain bersamaku dan Lily. O iya, Yesung Ahjusi juga sering membelikanku es krim. Selain Eun Hyuk Ahjusi, Yesung Ahjusi yang paling sering membelikanku mainan. Bahkan Yesung Ahjusi lebih tahu dari Eun Hyuk Ahjusi jika aku menyukai Barbie.” Cheon Sa nampak berfikir sejenak. “Besok hari minggu, apa Jasmine mau menemui Yesung Ahjusi? Yesung Ahjusi tidak ingin diantar saat berangkat lusa. Jadi, besok kau bisa menemui Yesung Ahjusi.” “Jincha Eomma? Jincha?” Jasmine menatap mata Ibunya dengan sangat bahagia. “Tentu. Kalau begitu, sekarang Jasmine cantik harus cepat tidur. Arasso?” Cheon Sa menaikkan selimut Jasmine. “Ne, arasso Eomma…” Cheon Sa beranjak dari tidurnya dan membenahi selimut Jasmine saat Jasmine telah terlelap. Dikecupnya kening Jasmine. Cheon Sa beranjak ke luar kamar putrinya setelah sebelumnya mematikan lampu kamar itu. “Oh, kausudah pulang?” Cheon Sa mendapati Dong Hae tengah menonton tv. “Aku tak mendengar suara mobilmu tadi?” Cheon Sa ikut duduk di samping suaminya. “Anak-anaksudah tidur?” Dong Hae merebahkan diri di pangkuan Cheon Sa. Cheon Sa membelai rambut Dong Hae pelan. “Lily sudah tidur sejak tadi. Tapi Jasmine baru saja tidur.” Dong Hae mengangguk. ”Sayang…” “Hem..” DongHae hanya menjawab dengan bergumam kecil tanpa menatap istrinya. ”Aku merasa jika Jasmine adalah Clouds.” “Mwo? Clouds?” Dong Hae menengadah ke atas menatap wajah istrinya. “Dia ikut sedih Yesung akan pergi. Seperti kebanyakan fans Yesung.” “Ck, mereka memang dekat.” Dong Hae berbalik memeluk pinggang Cheon Sa “Pantas saja Jasmine pernah bertanya kepadaku tentang kepergian Yesung Hyeong.” “Dan kau tak menjawabnya kan?” “Waktu itu aku hanya memberinya sedikt pengertian. Tapi tak sempat menjelaskan tentang wajib militer.” “Jasmine sangat ingin tahu.” “Hem, begitu ya…” “Hey, kenapa ekspresimu seperti itu?” “Kenapa anakku bukan menjadi fansku malah menjadi fans Yesung Hyeong.” Cheon Sa tertawa kecil mendengar penuturen polos suaminya. “Hey, Appa cemburu dengan putrinya?” Dong Hae mengangguk masih dengan memeluk pinggang Cheon Sa. Perlahan Dong Hae memejamkan matanya dalam pangkuan Cheon Sa. “Sayang, ayo tidur di kamar. Jangan tidur di sini.” Cheon Sa yang menyadari jika suaminya sudah hampir terlelap segera menggoyang-goyangkan lengan Dong Hae dengan pelan. Dong Hae bangkit dari pangkuan Cheon Sa. “Hem, Kajja…” Dong Hae menggandeng lengan Cheon Sa. Setelah mematikan tv, Cheon Sa segera mengikuti langkah suaminya yang masih menggapit lengannya. ***** Matahari pagi ini sepertinya benar-benar mengusik Jasmine. Cahanya yang memantul pada dinding kamar melalui jendela kaca membuat sangat silau. Jasmine menggeliat dan membuka matanya. Ini hari minggu, itu artinya Appa maupun Eommanya tak akan membangunkannya sebelum jam 8. Jasmine terdiam seperti sedikit berfikir. “Aigo, aku hampir saja melupakan sesuatu.” Secepat kilat jasmine turun dari ranjang. Dilihatnya ranjang Lily sudah kosong, itu artinya adik semata wayangnya sudah bangun lebih dulu darinya. Jasmine bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa membuang waktu gadis kecil itu segera mengguyur tubuhnya. Setelah berpakaian rapi Jasmine segera keluar kamar. Saat Ia membuka pintu, Ia mendapati Ibunya tengah berdiri di depan pintu kamarnya yang juga hendak membuka pintu. “Oh, kau sudah bangun sayang? Baru saja Eomma ingin membangunkanmu. Dan, tunggu_” Cheon Sa menatap Jasmine dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Kau bahkan sudah mandi ya?” Jasmine menatap Ibunya dengan kesal. “Eomma, aku tahu ini hari minngu. Tapi kenapa Eomma tidak membangunkanku? Bukankah hari ini aku akan bertemu Yesung Ahjusi? Bahkan Lily juga sudah bangun lebih dulu dariku.” Jasmine beralih memandang Lily dan Appanya yang sedang bermain di depan tv. Cheon Sa menggandeng tangan mungil Jasmine untuk menuju meja makan. “Duduklah, kita sarapan dulu ya. Nanti kau bertemu Yesung Ahjusi akan diantar Appa. Eomma dan Lily akan menghadiri acara ulang tahun teman Eomma.” Jasmine hanya mengangguk. “Oh, putri cantik sudah bangun? Wah sudah rapi pula.” Dong Hae menghampiri Jasmine dengan menggendong Lily. “Appa akan mengantarku?” “Ne, Appa akan mengantarmu. Tapi sebelumnya kita sarapan dulu bagaimana?.” Dong Hae berkata kemudian mendudukkan Lily di kursinya. “Ne…” “Eonnie dan Appa akan pergi ke mana?” Lily menatap Dong Hae dan Jasmine bergantian. Dong Hae mengalihkan pandangannya pada Lily “Bukankah hari ini Lily akan pergi ke ulang tahun teman Eomma?” Lily mengangguk. “Sementara Eomma dan Lily pergi dan hari ini hari minggu, Appa akan mengajak Eonnie untuk bermain di luar. Setelah acara ulang tahun teman Eomma selesai, Appa dan Eonnie akan menjemput Lily dan Eomma. Bagaimana?” Dong Hae mendekatkan wajahnya pada Lily. “Katakan iya sayang..” Cheon Sa muncul dari dapur. Lily menatap Ibunya “Ne Appa. Tapi Appa dan Eonnie tidak boleh makan es krim tanpaku.” “Eonnie tak akan makan es krim tanpamu hari ini Lily-ya.” Jasmine mulai menyuapkan sandwich kemulutnya. Dong Hae tersenyum dan mengelus pelan rambut Jasmine dan Lily bergantian. ****** Setelah mengantar Cheon Sa dan Lily, kini Dong Hae mengendarai mobilnya menuju dorm. Hari ini para member mengadakan semacam pesta kecil-kecilan untu Yesung. Pesta yang hanya dihadiri para member Super Junior, manajer dan beberapa keluarga dekat Yesung saja. Tak memakan waktu lama Dong Hae dan Jasmine sudah sampai di dorm. Mereka turun dari mobil kemudian bergegas masuk. Dong Hae menggamit tengan putrinya itu. Di sana sudah sangat ramai, datang pula Jong Jin adik dari Yesung. Setelah saling menyapa Jasmine mendekat pada Yesung yang sedang berdiri di dekat meja makan dan memaki penutup kepala, mungkin rambutnya benar-benar sudah dipotong. Yesung yang sedang menuang minuman dalam botol itu menoleh menyadari keberadaan Jasmine. “Hai cantik… Kau datang?” Yesung membungkuk mensejajarkan tingginya pada Jasmine. “Ahjusi akan pergi besok?” Yesung tersenyum kemudian mengangkat Jasmine dan mendudukannya di kursi meja makan, Yesung ikut duduk di samping Jasmine. “Iya, kau benar. Besok Ahjusi berangkat. Kau mau titip salam pada Iron Man? Mungkin Ahjusi akan bertemu dengannya.” “Ahjusi…” “Wae?” “Ahjusi fikir aku tak tahu Ahjusi akan pergi ke mana? Ahjusi akan pergi untuk wajib militer kan? Seperti Leeteuk Ahjusi. Dan Ahjusi akan pergi selama dua tahun. Benarkan?” Yesung tersenyum lebar mendengar penuturan gadis kecil di depannya ini. “Kau pintar sekali Jasmine-ah. Apa Appamu yang memberi tahu?” Yesung mengacak rambut Jasmine pelan. “Anni, Eomma yang mengatakannya.” “Oh begitu ya?” Yesung menatap Jasmine semakin dekat. “Oh iya, apa gelangmu masih ada?” Yesung menggapai tangan Jasmine. “Tentu saja masih ada. Bukankah Ahjusi menyuruhku untuk selalu menjaganya?” “Ah ne..” Yesung kembali melepaskan tangan Jasmine. “Ahjusi..” “Wae?” Yesung dan Jasmine saling berpandangan. Jasmine membuka tas yang sejak tadi berada di punggungnya kemudian mengambil sebuah amplop dan menyerahkannya kepada Yesung. “Ige mwoya?” Yesung menerima amplop berwarna biru muda tersebut. “Jangan dibuka sekarang Ahjusi. Bacalah nanti saat Ahjusi sudah berangkat dan samapai di tempat tujuan Ahjusi itu.” Yesung sejenak terdiam dengan terus mengamati amplop yang ada di tangannya itu. “Gomawo Jasmine-ah.” Yesung seperti ingin menangis. “Bolehkah aku memeluk Ahjusi.” “Tentu,” Yesung segera merengkuh tubuh mungil Jasmine ke dalam dekapannya. “Dua tahun tidaklah lama. Asalkan kita menjalaninya dengan gembira.” Jasmine berbisik saat dalam pelukan Yesung. “Kau bener cantik. Gomawo...” Jasmine melepaskan pelukan Yesung, kemudian turun dari kursi tempa Ia duduk tadi. “Ahjusi fighting!!!!” Jasmine berkata kemudian bergaya hormat tentara dengan menghadap Yesung. Yesung pun membalas tingkah Jasmine dengan berdiri dan meletakkan telapak tangannya di depan wajah, hormat seperti seorang tentara. Jasmine tersenyum puas, dan sebutir air mata meluncur dari mata sipit Yesung. ***** Matahari sudah sepenggala tingginya. Yesung telah sampai di camp pelatihan militer. Ia benar-benar masuk camp tanpa sepengetahuan publik. Hanya kedua orang tua dan adiknya yng mengantar memasuki camp. Setelah beberapa saat berada di camp, Yesung mengingat amplop kecil pemberian Jasmine kemarin. Ia segera mencari amplop itu yang seingatnya Ia letakkan di dalam buku agendanya. Benar,Yesung menemukannya. Dengan hati-hati Yesung membuka amplop itu. Untuk Yesung Ahjusi… Anggaplah aku ini penggemarmu. Aku menginginkan Ahjusi selalu sehat. Aku menginginkan Ahjusi selalu makan dengan baik. Aku menginginkan Ahjusi cepat kembali. Saat Ahjusi kembali, aku pasti sudah bertambah tinggi. Ahjusi akan mengajakku membeli es krim lagi kan? Ahjusi harus belajar mengikat rambut Barbie. Ahjusi, cepatlah kembali. Eomma mengatakan jika dua tahun tidaklah lama. Jika kita menjalaninya dengan bahagia. Yesung Ahjusi harus selalu bahagia. Fighting!!!!. ~Jasmine~ Yesung tersenyum membaca surat kecil yang Jasmine tulis untuknya. Ia mengangguk-anggukan kepalanya, perlahan air matanya menetes. “Baiklah, Jasmine dan semua penggemarku, aku akan kembali dan aku akan baik-baik saja disini.” Yesung bergumam kemudian kembali melipat kertas itu dan memasukannya kembali ke dalam amplop. END |
| Bagus Pribadi |
Powered by WordPress SEO Tools
















